"demi" poems
Bila memang AKU BUKAN PILIHAN HATI MU
Biar ku pendam CINTA DALAM HATI ku
Sungguh, yang akan ku berikan UNTUKMU SELAMANYA
Pergilah kau SEJAUH MUNGKIN membawa LAGUKU
Ke TEMPAT TERINDAH di SURGAMU
RASA SAYANG ini hanya untukmu
Dan ku akan menunggu DI SINI UNTUKMU
Berharap kau bawa LAGU CINTA yang TERCIPTA UNTUKKU
WAKTU YANG DINANTI akankah datang?
DEMI WAKTU ku kan berubah
Tak akan SEPERTI YANG DULU
Yang hanya berkhayal melihat wajahmu
Di BAYANG SEMU
Sungguh indah kau bagiku
TIADA YANG SEPERTI DIRIMU
Yang ku kagumi sepanjang waktu
Ku rindu SAAT INDAH BERSAMAMU
Walau di mimpiku aku mencintaimu
Namun, APALAH ARTI CINTA tanpa hadirmu
Kumohon IZINKAN AKU
Member CIUMAN PERTAMA KU untukmu
Karna saat indah itu mungkin TAKKAN TERULANG
BERJANJILAH kau tuk selalu menghiasi ku
Karena tak satupun SAHABATKU yang indah seperti mu
Ku ingin terbang MELAYANG
UNTUK TEMUKAN dirimu yang SESUNGGUHNYA
Ku sadari memang BUKAN AKU untukmu
Tapi, aku hanya ingin kau BERIKAN AKU CINTA
Meski sedikit, walau terpaksa
Tak lelah SUARA HATI ku memanggilmu
Yang ingin menjalani CERITA BERSAMAMU
DOA ku panjatkan selalu
Memohon tuk bertemu kamu
Meskipun kamu punya CINTA YANG LAIN
Ku rela melepasmu untuknya
Kau TAK PERLU mengaku bahwa kau cinta aku
Memang, tak pernah kau cinta aku
Yang ku kenang kini adalah
Ku bahagia mengenal LAKI-LAKI seperti kamu
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:33 AM UTC
The Sight of Black Stockings on Pale white Legs
Framing and showing off the Thigh, That Begs
Softly to be touched, in gentle Admiration
Women in Silk, Lace, and Satin for Excitation
Camisoles of Lace, Garters and Penoirs
Corsets Laced up, and Short Babydolls
*Lace Demi Cup Bras, with ******* Adorned*
Without the Pleasure of this, life is Forlorn
*There is a Certain ****** Passion*
For these Fine Lingerie Fashions
Lust and Loved for Centuries
*It Brings forth ***** Sensuality*
Curve and Crevices tease the Eyes
Releasing ever Passionete Sighs
Until Entwined they Finally Find
The unyeildings of Motions Devine
All the Work here is licensed under the Name
®SilverSilkenTongue and the © Property of J.Flack
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 7:00 PM UTC
waktu itu kita jalan keluar malam-malam
awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram
lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram
sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam
malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam
lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu
sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu
saya setuju
dengan kamu saya selalu setuju
dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru
didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi
dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri
kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin
bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali
lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya
saya sentuh pinggiran gelasnya
hangat
saya minum perlahan-lahan
sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa
sengaja
karena tidak terlalu besar ukurannya
kalau cepat habis bagaimana?
lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis
saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris
tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis
kehangatan kembali terkikis dan menipis
kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin
kembali bergelut dengan angin
ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi
tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin
tanpa suara, saya tahu kamu mendengar
tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat
tanpa kata, saya tahu kamu mengerti
maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya.
mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti
Jakarta, 27 Desember 2012
(puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya .
rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah .
bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu .
Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
in the year 2462 those with nails protruding from their palms
will talk in ancient tongues
& sway the tribes of men to eternal love,
& endless ammunition
of the soul.
spiritus.
kin, galactic
& the golden fire.
throb the saga of man,
into hip ****** illusions and combustive color schematas.
we bury our dead in flower clippings
or skull bits.
[skateboarding rises as the highest form of intellectual sport]
thrum and plum-bum the sewers of electric babylon.
hive city reaching past gasp and wasteland,
her lips ruinous.
cement slabs and coils of fault with
vast artistic possibilities.
these skate-lords from their heaps, their clans, augmenting
& rattling bone masks
grinding themselves into meat-bit heroics
& death.
their teeth are yellowy awoken.
this is all seen globally,
via tele-cast-com-core-mind-warp-tech.
or video.
dreams impact reality
impact dreams
in such
that the cathode cortex filter, invented circa 2222,
evolves into a demi-god, a solar charged demon of unlimited knowledge.
& it mutates the psychosphere of our mainstream public mind
with countless projected memories.
[streamed alternate realities]
fills the belly and the brain,
but all those unhooked are skating.
sweet meat market.
ghost harddrives.
poor leftovers called children of the once-was-men
& their poolside parties.
they leap the rubble of centuries old plastic icons,
their boards, their weapons, their seeds and spit.
they hang chains from their necks
& spew black flame from their sunshaded boot-click
lickings.
they drink from large bottlesof elixer distilled
on old flowers
& worship archaic cassettes.
cults of cyborg women with gem-tipped-blade-additions
carve wooden planks from
groves of great oaks.
great oaken powers.
their creators chew gummies and bend time
to uphold
a proposed history of perfection.
they master pong from their crystalline towers,
& hire mathematicians to write
conceptual skate-deck algorithms,
solely for fun.
non-profit.
Jul 18, 2014
Jul 18, 2014 at 5:49 AM UTC
I was once a young boy wizard, who saved the world with his friends.
I was once the Mockingjay, whose
adventures had no end.
I was once Divergent, and
one choice changed my life.
I was once a Demi-god, and
my pen was also a knife.
I was once a kid with a treehouse,
That travelled to anywhere in time.
I was once a young girl who
lived in the woods, in a small house, but that was just fine.
I was once a young German orphan, stole books and read them for fun.
I was once a hobbit who found the one ring, but still my exploits weren't done.
When I read a good book, I sail away,
To Hogwarts, The Factions, The Shire.
I am the characters I read,
I'm Leisel, I'm the Girl On Fire.
So sail me away, give me a book,
I promise you it won't bore me.
For when I am reading a well written tale,
Though I am me, I'm the story.
----------------------------------------------------
Jul 29, 2014
Jul 29, 2014 at 1:23 PM UTC
***Jika kau tanya siapa aku
Bagaimana harus kujawab?***
*Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini
Menebar senyum, canda, berpesta
Aku meraung sambil tertawa
Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna
Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok
Nanti orang tidak senang
Kau kan harus memuaskan setiap mata
Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal
Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga
Bagaimana jika terlalu pucat?
Ah ya orang tidak suka
Cakap nista kan menghardik
Memekik
Menghamun
Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku?
Namun jika terlalu mencolok
Jua hinaan berkunjung ada
Biar ku beritahu
Mereka tak suka kau lebih darinya
Aku benci dunia
Aku berantakan
Kecurian
Namaku hilang dimakan cacian
Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan
Aku mahkota yang hilang
Ah! Omong kosong semua!
Enyah kau kepala cemar
Umbi harus kembali didekat akar
Aku berkenan rujuk atas jasadku
Biar aku melalak tinggal abu
Aku enggan gemang
Aku punya Sembilan nyawa
Jika kau tanya siapa aku
Aku namaku
Jangan berani-berani hina nama itu!
Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua
Aku jijik serupa dengan dunia*
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi.
entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini.
tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu.
aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku.
aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak.
oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini.
sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia.
tapi apakah kamu tahu?
semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar.
kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu.
aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
Auntie Em is calling….
I was just getting to love my Emerald City
The shiny feel of it, its sweetly diverse demi-monde.
Its shimmering green beauty and tranquil sense of safety.
The heels of my ruby red slippers were well & truly dug in.
But no, the state fair balloon stands before me tied up & ready to go.
A grand exclamation mark in my way if ever there was one.
And Toto for once has gone mute, no chance of a last minute hold up.
"Dorothy, Dorothy, where are you?"
I guess it must have been too fantastical a dream to be true.
A time for goodbyes.
I’m embracing the Lion telling him to always be proud of himself & not to walk unafraid.
The Tin Man’s gentle open heartedness I compliment him on as we both shed tears.
The Scarecrow I kiss and thank for his loyalty & grace under fiery pressure.
With a heavy heart, I climb that first tentative step on the block.
"We’re sick with worry over you"
I could be angry but the wise words of the mystic ring loudly in my year.
I do need to go back – My Auntie Em is really calling me.
Calling me back to the grey flatlands of home.
Back to the numbness of small town heteronormativity.
Where Twisters rarely every came by to sweep you away and save you.
I could only keep singing ‘Over The Rainbow’ in vain hope.
"Find yourself a place where you won't get into any trouble!
Unlike Dorothy Gale, this Dorothy left Kansas voluntarily
The long yellow brick road finally took me under the rainbow and on to my Emerald City
I no longer pined for home but knew all along that it would call me back one day.
And so here I am, drifting higher & higher away from my adopted home.
Perhaps I need to build a revolving door when I get there to pass through both worlds easily
Or perhaps bring something of the rainbow back to illuminate the grey-lands.
Or perhaps – in reality - some reconciliation between these worlds is in order.
Perhaps.
It’s time to slip on the ruby red slippers and prepare the way for Kansas.
Yes, this Dorothy has surrendered but
I always had the power to be me, my dear.
I just had to learn it for myself.
August –September 2018
Sep 16, 2018
Sep 16, 2018 at 10:46 PM UTC
The man in galoshes with the world on his back,
strolls along the broken track.
Weather beaten,
Fighting the rain.
It's lashing him.
He's tied to the kerb.
Anchored only by the weighty boots on his feet.
He's out there fair weather or foul.
Desperate to keep his public happy,
With a timely siren,
the arrival of an infants birth.
He is the performer up the garden path.
At least the rain's outside again.
So is he poor sod.
The postman, nearly demi-god,
or nearly dead.
He's tramping through the rain and the snow.
He had to let you know,
you know.
The latest news and hot reviews,
a little bit of useless information.
There's nothing better than a letter,
unless it's from the revenue.
Our fair weather friend he has so many uses.
A warrior, he fights wild dogs.
He's churning up the grass,
his only means of escape.
He's wearing an orange hat,
it's curled up at the edges.
He uses it to fight the rain.
The orange hat so luminous,
he's looking rather fruity.
He's forlorn and in pieces,
because he's getting washed away,
He has one every morning in his place,
each and every day.
Stacks and stacks of bits of paper,
Life and death wrapped up in his sack.
(C) Livvi
Oct 6, 2014
Oct 6, 2014 at 10:43 AM UTC
I hate your ********* skepticism.
You sit and look at me from across an
Empty expanse of blood-red tablecloth that might as well be
The divide between galaxies.
I try to stay calm when you ask if
"Alternative" pronouns are being used
As a "social experiment" in GSA.
I look away.
My heart pounds.
My face flushes.
It is only for the sake of the young kids present
That I do not mutter any obscenities.
I take a deep breath.
I tell you, slowly, carefully, that
No it isn't an experiment.
They have chosen to use plural pronouns
They, them, theirs,
Just as legitimate as the "normal" ones, male and female.
Why should anyone's name be tied to
What they were born with between their legs?
You answer back in a long drawl that is so full I skepticism
I could choke on it's ignorance.
"Okay then."
Two words, two words that make me rethink everything
I think about you, my father.
I was filled with hope when I listened to
Tales of love and life,
Freedom to marry who you want.
You support gay rights, Dad,
But I'm left wondering:
Do you support all my friends?
The pansexual and gender-fluid and bisexual and homosexual and demi-sexual and those who chose other pronouns?
What about the transsexuals and asexuals and third-gendered and pan-romantic and sapiosexual and queer?
I turn away before I reveal my hurt to you
I will not open up this can of worms again, I'm sure.
I thought I knew you.
Now I only know how much more I
Respect
Compared to you.
May 21, 2014
May 21, 2014 at 10:30 PM UTC
*Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melepas seikat rindu
Untuk seseorang berpandangan sayu
Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu
Seberat langit mendung yang sendu
Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan
Sembari menanti hentinya rintik hujan
Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah
Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah
Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melekatkan seikat harapan
Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan
Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi
Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi
Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri*
-------------------------------------------------------------------------------------------
Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat
Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah
Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah
Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah,
Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya,
Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku,
Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu,
Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu,
Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
They are so much cunning and cruel
Yet they possess, intelligence and smartness
Yes, they are filled with over confidence
They are absolutely shameless too
Don’t you feel my dear?
They don't have any sort of fear
They are beating us, hitting us
And we are helplessly watching them
They are neither allowing us to weep
Not they are letting us to cry loud
They are snatching our source of livelihood
They are looting our meagre savings too
They are boring bigger holes in our pockets
By their powerful invisible technological drills
Selling all sorts of stuff they use to produce
Drugs, sanitizers, hand washes and what not
They are asking to keep our ugly mouth fully shut
By putting beautiful, colourful and fancier masks
They are not letting us to meet our friends
They are not letting us to share our meals
They are not allowing us to share our views
They are not allowing us to share our thoughts
With any of our friend, relatives and fellow citizens
They are just telling us to follow whatever they say
They are throwing ******* and garbage on us
In the name of science, health and hygiene
There appears to be not much science
In their so call science and modern science
Shamelessly they proclaim to be our saviours
Saving us from the army of an invisible enemy
Although existence of any such army is doubtful
But their intentions are doubtful and doubtful
If any such invisible army of enemy really exists?
It may have been raised and owned by them only
To **** the lives of all the other fellow humans on earth
And to fulfil their greed and lust for power and money
They are planning to inject in our bodies
Some drugs, chemical or any such thing
They will even charge money for that
And try to fill their everlasting greed
I wonder, who they are?
God, Demi Gods or the Devils
Or they are just a band of inhuman
Resembling a band of nasty humans
Do they really have some superpower?
Or they are just a bunch of ugly parasites?
Trying to draw everything from our lives
Just to feed himself and to recreate his own life
Jun 16, 2020
Jun 16, 2020 at 6:41 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini;
Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan;
Di balik bulirnya seorang pujangga termenung;
Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya:
Wahai imaji hujan di masa lalu;
Pernah kulupa namun mengapa belum kurela?
Wahai melodi hujan di masa lalu;
Kembali kau ketuk palung paling dalam;
Kehalusan suara wanita yang pernah ada;
Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu?
Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama?
Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna;
Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan;
Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu?
Walau kesedihan menolak segala kefanaan;
Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian;
Yang menolak segala bentuk pengulangan;
Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal
Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya?
Mengapa masih aku mengaku yang tertabah;
Jika musibah tak mampu melenyapkan;
Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus?
Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada;
Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita?
Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran;
Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami;
Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya;
Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan;
Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka;
Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
you began a man in your uniform
uniformly lined in manhood
but unmanned in your last line of defense
the soldier, bleeding in his solidarity.
his head held down by the weight of his thoughts
and his heart held high by his idealism
in this century, he bleeds for your sins
and you, bleeding for the sinners.
bleeding for the sinners.
bleeding from the cinders; burning holes in your flesh from the fire you'd put out in a last-ditch effort to save the "smokey the bear" imagery from your childhood.
didn't you know it'd burn down too
as you dreamt of being an adult
in this distant, futuristic adulthood
where you'd be bleeding out again.
not forming in singular lines
not forming anything but time
in the singular exsanguination of a generation;
they're bleeding for your singing.
bled out and torn about, they die.
dreaded and thrown about in the last ditch efforts of life, they cry out again to the demi-gods and goddesses they believed in for your sins.
they bleed.
Purely.
Oct 1, 2012
Oct 1, 2012 at 3:07 AM UTC
Jakarta, Kamis 17 Mei 2007
Aku... yang selalu setia menunggu
Walau tiada harapan untukku
Namun... aku berharap semua terwujud
Demi... waktu yang terus bergulir
Adakah Engkau kasihan padaku... Tuhan
Setiap hari... settiap waktu....
Aku... memohon... meminta pada-Mu
Dengan tetesan air mata mengalir
Apakah aku sanggup menunggu harapan
Bila Kau pun tak memperdulikan
Aku akan tetap menunggu di sini
Harapan yang tak kunjung menghampiri
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:45 AM UTC
Jumat, 27 Agustus 2010
Satu lagi momen tak terelakkan
Aku jatuh cinta lagi
Lebih dari seorang kali ini
Tak bisa aku memilih
Hanya bisa menjalani hingga henti
Menguap rasanya hatiku
Hingga kini ku tak mampu berdiri
Hanya terpaku dan terlarut dalam lamunan
Yang begitu tinggi dan tak pantas ku lamuni
Kini ragaku mulai mencair
Sedikit demi sedikit mulai bercerai
Mengarah sendiri tanpa tujuan
Meninggalkan jiwaku yang tersiksa
Jiwa ku sakit... sakit...
Ragaku lenyap, perih, perih
Datanglah... Sembuhkanlah...
Ku mohon, Ku tak mampu hidup sendiri
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:53 PM UTC
I read an account of a small girl today
"Crunching beneath her feet
Like a thousand stars twinkling in the faint light of Potsdamer Platz
Father holding her hand so tightly it hurt
Sick children chased over broken glass
The Jewish children's hospital ransacked
While staff beaten for tending to the unworthy sick"
You can feel the fear in her words
The darkest November
Hatered had now found a new form, a face, a sign
The ********
Men paraded and followed ******
Revered like a demi god
They worshiped an ideal.
MIEN KAMPF
It seems now implausible that one mans belief and struggle that he apportioned to a race could be bastardised into a purge of races that divided mankind and almost ended it
From that night to this there have been many acts that again raise that spectre.
Sarejavo Iraq to mention but a few.
Tonight Jews Gentiles and others will shine peaceful lights at Potsdamer Platz.
What have we learnt in 75 yrs
The world watched the **** machine grow
The world did not act
What do we now watch
Who are we now failing...
Nov 8, 2013
Nov 8, 2013 at 7:34 AM UTC
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main
- main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi.
Belajar dari 'hujan desember'
Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ?
Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ?
Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu ..
Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan "
Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati ..
Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ?
Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" ..
Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit ..
Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur .
Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal.
Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya ..
Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat ..
Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH ..
Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
Membinasakan, demi bertahan
Menindas, mencerca, demi jadi raja hutan (singa kali..)
Ganas dan bengis, mengingkari kawan seperjuangan
Memang, manusia sekarang banyak yang tak lebih dari binatang!
Aku juga ingin jadi binatang
Binatang semut..
Ulat dimakan ayam
Ayam dimakan elang
Elang dimakan harimau
Semut? Semut tak pernah masuk rantai makanan
Karena ia kedahuluan mati terinjak
Walau begitu
Semut menggemukkan tanah
Tanah gembur tempat tumbuh rumput dan pohon subur
Rumput dan pohon subur jadi pusat rantai makanan
Kalian lihat kan peran semut?
Cakap dan mulia urusannya
Saking jadi pahlawan
Semut tak layak dinamai binatang
Mereka tak pas jadi tandingannya
hehe
Makanya aku ingin jadi semut
Aug 4, 2016
Aug 4, 2016 at 1:18 PM UTC
Mon papa, c'est le plus fort des papas.
Mon papa, c'est le plus beau des papas.
Mon papa, même quand il est fatigué, on dirait Richard Gere.
Mon papa, même si il est carnivore, moi, je l'aime quand même.
Mon papa, quand il mange, on dirait qu'il a 5 ans, mais moi, je l'aime quand même.
Mon papa, il a des voitures super cool qui font vroom.
Mon papa, quand il conduit, on dirait Michel Vaillant, même pas peur.
Mon papa, quand il me dit bonne nuit, j'ai même plus peur.
Les monstres sous mon lit, eux, ils se désintègrent avec la force des bisous de mon papa.
Mon papa, parfois, il ronfle et je l'aime quand même.
Mon papa, quand on est dans la piscine, il joue au crocrodile avec nous.
Mon papa, quand il porte des choses, les manches de sa chemise se déchire sous les muscles.
Mon papa, avec une barbe, on dirait un homme des caverne, c'est trop cool.
Mon papa, quand il fait des câlins, on disparait sous ses couches d'amour.
Mon papa, quand il nous emmène faire du shopping, il supporte des heures et il sourit.
Mon papa, il nous laisse faire des trucs qui lui font peur, mais il veut nous faire plaisir, alors il dit oui.
Mon papa, il m'a laissé faire du saut en parachute, et je suis même pas morte.
Mon papa, il râle parfois mais on sait qu'en fait, c'est parce qu'il nous aime.
Mon papa, même quand il voyage, il pense à nous.
Mon papa, il nous emmène en voyage avec des photos tout le temps quand il travail.
Mon papa, il nous emmène en voyage tout le temps quand il est en vacances.
Mon papa, il fait des trucs de papa trop génial.
Par exemple, il connait nos restaurants préférés, et il sait ce qui nous fait plaisir.
Alors il nous y emmène.
Mon papa, même quand il est en colère, il est beau.
Mon papa, quand il sourit il est comme Thor, le dieu du tonnerre, il est puissant.
Du coup, parfois, ma maman elle fait un nervous break down.
Parce que mon papa il est trop beau c'est même pas normal.
Mon papa, il a un double menton pour que si un jour Game Of Thrones arrive dans la vraie vie, on pourra pas lui trancher la gorge.
Mon papa, il fait du vélo plus vite que le Tour de France. La preuve, ca fait des années qu'ils sont en France, mon papa, lui, il est déjà à Dubai.
Mon papa, parfois il oublie notre anniversaire quand on lui demande au pif, mais il oublie jamais de le souhaiter, donc on lui pardonne.
Mon papa, il voyage en first class.
Mon papa, il connait les aéroports mieux que James Bond.
Mon papa, il regarde des series TV de jeunes.
Mon papa, il porte des costards.
Mon papa, il nous emmène manger des dans endroits incroyables.
Mon papa, il nous emmène dans des hôtels de luxe.
Mon papa, il devrait être président du monde.
Mon papa, il est mieux que les autres papa parce que c'est le mien.
Mon papa, il est irremplaçable.
Mon papa, si on m'en donnait un autre, j'en voudrais pas.
Mon papa, je veux que celui la.
Mon papa il est pas toujours là, mais c'est pas grave, parce qu'il est jamais ****
Mon papa, il traverse le monde mais après il nous raconte, alors c'est cool.
Mon papa, il fait une super vinaigrette. Dommage que j'aime pas la vinaigrette.
Mon papa, quand il fait un barbeque, ca fait beaucoup de fumée et pas beaucoup de feu, mais c'est pour mieux nous impressioner quand il fait rôtir la viande.
Mon papa, il parle Anglais.
Mon papa, c'est le meilleur papa du monde.
Mon papa, je l'aime, même si maintenant, il a presque un demi siècle.
Mon papa, c'est comme un druide.
Ca meurt jamais.
C'est trop cool.
Mon papa, c'est comme une mode indémodable, tu veux jamais le remplacer, il est toujours tendance.
Mon papa, on peut pas le comparer a une mode fashion, parce que c'est un humain.
Mon papa, c'est le meilleur humain que je connaisse.
Avec ma maman et ma soeur et mon chat, mais chuuuuut.
C'est un secret.
Mais ce que je préfère à propos de mon papa, c'est que dès que je le vois, je peux lui dire:
"mon papa, je l'aime."
Sep 19, 2014
Sep 19, 2014 at 12:08 PM UTC
Safe in my watery church,
I quietly watch warm water-drops
gather on every bit of my thin, scarred flesh.
My eyes become moons, the demi-globes
of water on my skin become moons,
my heartbeats become moons, the moon
becomes an even nearer moon
and I pale in all that sacred bright.
Aug 25, 2015
Aug 25, 2015 at 1:48 PM UTC