Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
W. S. Rendra translations

Willibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009), better known as W. S. Rendra or simply Rendra, was an Indonesian dramatist and poet. He said, “I learned meditation and the disciplines of the traditional Javanese poet from my mother, who was a palace dancer. The idea of the Javanese poet is to be a guardian of the spirit of the nation.” The press gave him the nickname Burung Merak (“The Peacock”) for his flamboyant poetry readings and stage performances.



SONNET
by W. S. Rendra
loose translation/interpretation by Michael R. Burch

Best wishes for an impending deflowering.

Yes, I understand: you will never be mine.
I am resigned to my undeserved fate.
I contemplate
irrational numbers―complex & undefined.

And yet I wish love might ... ameliorate ...
such negative numbers, dark and unsigned.
But at least I can’t be held responsible
for disappointing you. No cause to elate.
Still, I am resigned to my undeserved fate.
The gods have spoken. I can relate.

How can this be, when all it makes no sense?
I was born too soon―such was my fate.
You must choose another, not half of who I AM.
Be happy with him when you consummate.



THE WORLD'S FIRST FACE
by W. S. Rendra
loose translation/interpretation by Michael R. Burch

Illuminated by the pale moonlight
the groom carries his bride
up the hill―
both of them naked,
both consisting of nothing but themselves.

As in all beginnings
the world is naked,
empty, free of deception,
dark with unspoken explanations―
a silence that extends
to the limits of time.

Then comes light,
life, the animals and man.

As in all beginnings
everything is naked,
empty, open.

They're both young,
yet both have already come a long way,
passing through the illusions of brilliant dawns,
of skies illuminated by hope,
of rivers intimating contentment.

They have experienced the sun's warmth,
drenched in each other's sweat.

Here, standing by barren reefs,
they watch evening fall
bringing strange dreams
to a bed arrayed with resplendent coral necklaces.

They lift their heads to view
trillions of stars arrayed in the sky.
The universe is their inheritance:
stars upon stars upon stars,
more than could ever be extinguished.

Illuminated by the pale moonlight
the groom carries his bride
up the hill―
both of them naked,
to recreate the world's first face.

Keywords/Tags: Rendra, Indonesian, Javanese, translation, love, fate, god, gods, goddess, groom, bride, world, time, life, sun, hill, hills, moon, moonlight, stars, life, animals?, international, travel, voyage, wedding, relationship, mrbtran
Loveeyta Sep 1
Kerap kali kita bertanya,
Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua?
Waktu, umur, nominal saldo, nilai,
Jarak, kecepatan, durasi, *****,
Apakah angka pengukur semua?

Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan?
Apakah angka mampu,
Mengukur segala nikmat dan bahagia,
Yang kita jumpai setiap harinya

Lalu, bagaimana dengan ketepatan?
Apakah waktu yang tepat untukku,
Tentu tepat untuk orang lain?
Kembali aku menoleh ke cermin

Kadang aku berlari,
Namun orang lain terhenti,
Resah aku dibuat,
Lalu aku ikut berhenti

Orang lain mulai berlari,
Aku masih nyaman di sini,
Resah aku dibuat,
Aku pun masih berhenti

Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan?
Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan?
Mengapa aku selalu dituntut stigma,
Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
Ra Jul 8
Hanya perkara waktu
mulut menyayat satu.

Mingiris
Meringis
Menangis
Mengais--

Mengubur manis.
Words are weapon. Use it wisely.
Ra Jul 7
Salah apa cermin padamu
hingga kau membenci itu
Salah apa cermin padamu
padahal hati yang sedang biru
Salah apa cermin padamu
padahal ia hanya membisu
?
Used to be THAT insecure of my own self to the point where I just hate seeing my reflection on the mirror. For yall out there, please love yourself and treat'em with all the kindness that you can offer. Have a good life! :)
Ra Jul 7
Dikatakan berdampingan
bagai langit dan laut.
Dibatasi garis,
mengiris miris.
Dipisahkan antara,
membawa lara.
Kemudian
akankah
diamnya langit dan laut
teralih dengan ramainya
ombak dan pasir?
Pada akhirnya mereka bedebur.
Akankah kita juga ikut melebur?
it is indeed ironic that some things are created to be put side by side but are not meant to be together as one.
kemudian
menyala kembali
keributan ombak laut
yang dirasa gaduh sangaAAAAAAT
di wajahmu
ketika
melihat
sesuatu yang
mengecewakan.
ramai sekali
seperti diskon akhir tahun
dimana lantainya berakhir kotor
diinjak-injak hingga
pukul 1 pagi
ricuh
dimana-mana hanya
gemuruh
hancur

ternyata cuma

pikiranku.
ada yang lain di bibirmu
yang mekar ketika melihat
sesuatu yang indah
bukan— bukan kita.

ada yang lain di matamu
yang memanja nyawa-nyawa lainnya
seperti melihat kenyataan yang cantik sekali
bukan— bukan kita.

ada yang lain dari langkahmu
yang luar biasa kuatnya
seperti anak umur 5 tahun yang mengejar lenglayangan di ujung lapang—gembira.

ada yang lain dariku
kosong sekali
linu nya masih ada
namun ada yang tak kunjung kembali


kita

yang katamu sungguh berantakan.
Amira I Jun 5
Rumah joglo di tengah sawah.
Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini.
Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki.
Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu.
Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka.
Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur.
Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu.
Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya.
Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu.
Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana.
Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang.
Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku.
Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu.
Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
terinspirasi dari lagu Sal Priadi berjudul sama.
Amira I Jun 5
Jemariku bergetar saat menuangkan isi hati dan kepalaku kali ini.
Entah sudah berapa purnama ku lewatkan tanpa berada di bawah atap yang sama denganmu.
Bertukar suara via telepon genggam —yang hanya secuil dibanding dengan waktu duapuluh empat jam— pun ku sudah lupa rasanya.
Namun satu hal yang pasti, bagian darimu akan selalu jadi bagian dariku.
Akan ku bawa sampai ke ujung waktu.
Mungkin aku akan pergi lebih dulu, atau mungkin engkau? Tak ada yang tahu.
Semoga Tuhan tetap melindungi, di mana pun kau berada sampai nantinya kita akan bertemu kembali.

“Namamu jadi rahasia, dalam diam kan ku bawa; mendarah.”
–Mendarah, Nadin Amizah
Terinspirasi dari lagu Nadin Amizah berjudul Mendarah.
Next page