Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
oshooney Apr 13
Keretanya melaju sangat kencang.
sampai-sampai, ia lupa cara untuk bernafas.
Matanya tertuju pada kesunyian yang tampak di luar jendela.
Otaknya terus menerus melontarkan tanya,
Apakah ia bisa beratahan dilajunya kereta ini?
Apa ia bisa untuk berdiri dan berjalan kemanapun yang ia mau?
Apa bisa?
kalau hatinnya mati, ia takkan kesepian lagi?
Tetap saja, ia tak tahu bagaimana cara menjawab pertanyannya sendiri.
Dan,
keretanya takkan pernah berhenti.
/ rembulan /
Loveeyta Jan 1
Bagaimana bisa,
Berjalan diselimuti keresahan,
Dibalut dengan beludru kekhawatiran yang cukup tebal,

Bagaimana bisa,
Berjalan dengan kaki beralaskan keserakahan,
Dan kaus kaki kemunafikan sebagai pelindungnya,

Bagaimana bisa,
Melanjutkan hidup
Dengan perjalanan penuh asap kebohongan?

Tentu kau bisa terus berjalan,
Tentu kau bisa terus hidup,
Walau harus memikul
Ketidaknyamanan dalam perjalanan,

Namun,
Siapa peduli?
Peduli dengan ketidaknyamananmu,
Kau bilang?

Mereka bahkan tidak sadar,
Mata mereka,
Buta akan kesengsaraanmu
Kecuali,
Dengan kekalahanmu
Loveeyta Nov 2020
Basah, ku lihat pipimu.
Katanya kau kelelahan,
Tapi yang ku lihat bukan keringat.
Kata nenekku, itu air mata,
Karena matamu merah.
Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak?

Lusuh, ku lihat mukamu.
Katanya kau tak menyentuh air seharian.
Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu.

Lusuhmu bukan karena debu,
Kata Ibuku, itu karena lapar.
Ternyata kau sudah berhenti makan,
Sejak dua hari sebelum kita bertemu.

Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja?

Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku,
Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya.

Kenapa memang?
Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik?

Ah benar saja,
Aku kan tidak pernah mampu,
Sebab, siapa aku?
Hanya tempat pelampiasan nafsu.
Michael R Burch Oct 2020
W. S. Rendra translations

Willibrordus Surendra Broto Rendra (1935-2009), better known as W. S. Rendra or simply Rendra, was an Indonesian dramatist and poet. He said, “I learned meditation and the disciplines of the traditional Javanese poet from my mother, who was a palace dancer. The idea of the Javanese poet is to be a guardian of the spirit of the nation.” The press gave him the nickname Burung Merak (“The Peacock”) for his flamboyant poetry readings and stage performances.



SONNET
by W. S. Rendra
loose translation/interpretation by Michael R. Burch

Best wishes for an impending deflowering.

Yes, I understand: you will never be mine.
I am resigned to my undeserved fate.
I contemplate
irrational numbers―complex & undefined.

And yet I wish love might ... ameliorate ...
such negative numbers, dark and unsigned.
But at least I can’t be held responsible
for disappointing you. No cause to elate.
Still, I am resigned to my undeserved fate.
The gods have spoken. I can relate.

How can this be, when all it makes no sense?
I was born too soon―such was my fate.
You must choose another, not half of who I AM.
Be happy with him when you consummate.



THE WORLD'S FIRST FACE
by W. S. Rendra
loose translation/interpretation by Michael R. Burch

Illuminated by the pale moonlight
the groom carries his bride
up the hill―
both of them naked,
both consisting of nothing but themselves.

As in all beginnings
the world is naked,
empty, free of deception,
dark with unspoken explanations―
a silence that extends
to the limits of time.

Then comes light,
life, the animals and man.

As in all beginnings
everything is naked,
empty, open.

They're both young,
yet both have already come a long way,
passing through the illusions of brilliant dawns,
of skies illuminated by hope,
of rivers intimating contentment.

They have experienced the sun's warmth,
drenched in each other's sweat.

Here, standing by barren reefs,
they watch evening fall
bringing strange dreams
to a bed arrayed with resplendent coral necklaces.

They lift their heads to view
trillions of stars arrayed in the sky.
The universe is their inheritance:
stars upon stars upon stars,
more than could ever be extinguished.

Illuminated by the pale moonlight
the groom carries his bride
up the hill―
both of them naked,
to recreate the world's first face.

Keywords/Tags: Rendra, Indonesian, Javanese, translation, love, fate, god, gods, goddess, groom, bride, world, time, life, sun, hill, hills, moon, moonlight, stars, life, animals?, international, travel, voyage, wedding, relationship, mrbtran
Loveeyta Sep 2020
Kerap kali kita bertanya,
Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua?
Waktu, umur, nominal saldo, nilai,
Jarak, kecepatan, durasi, *****,
Apakah angka pengukur semua?

Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan?
Apakah angka mampu,
Mengukur segala nikmat dan bahagia,
Yang kita jumpai setiap harinya

Lalu, bagaimana dengan ketepatan?
Apakah waktu yang tepat untukku,
Tentu tepat untuk orang lain?
Kembali aku menoleh ke cermin

Kadang aku berlari,
Namun orang lain terhenti,
Resah aku dibuat,
Lalu aku ikut berhenti

Orang lain mulai berlari,
Aku masih nyaman di sini,
Resah aku dibuat,
Aku pun masih berhenti

Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan?
Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan?
Mengapa aku selalu dituntut stigma,
Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
Ra Jul 2020
Hanya perkara waktu
mulut menyayat satu.

Mingiris
Meringis
Menangis
Mengais--

Mengubur manis.
Words are weapon. Use it wisely.
Ra Jul 2020
Salah apa cermin padamu
hingga kau membenci itu
Salah apa cermin padamu
padahal hati yang sedang biru
Salah apa cermin padamu
padahal ia hanya membisu
?
Used to be THAT insecure of my own self to the point where I just hate seeing my reflection on the mirror. For yall out there, please love yourself and treat'em with all the kindness that you can offer. Have a good life! :)
Ra Jul 2020
Dikatakan berdampingan
bagai langit dan laut.
Dibatasi garis,
mengiris miris.
Dipisahkan antara,
membawa lara.
Kemudian
akankah
diamnya langit dan laut
teralih dengan ramainya
ombak dan pasir?
Pada akhirnya mereka bedebur.
Akankah kita juga ikut melebur?
it is indeed ironic that some things are created to be put side by side but are not meant to be together as one.
kemudian
menyala kembali
keributan ombak laut
yang dirasa gaduh sangaAAAAAAT
di wajahmu
ketika
melihat
sesuatu yang
mengecewakan.
ramai sekali
seperti diskon akhir tahun
dimana lantainya berakhir kotor
diinjak-injak hingga
pukul 1 pagi
ricuh
dimana-mana hanya
gemuruh
hancur

ternyata cuma

pikiranku.
Next page