Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
anna 3d
Jam 5.30 sore hari itu kau tiba-tiba pulang ke kota tanpa memberitahuku,
aku yang sangat antusias lari dan langsung memelukmu
kau tersenyum lembut kepadaku dan mengatakan, "aku pulang."
sejak saat itu, kalimat itu adalah kalimat kesukaanku.
terimakasih sudah pulang,
Besok matahari akan terbit lagi
dan aku sangat mencintai pagi hari.
Besok masih ada
dan aku akan suka esok hari.
Sarapan bubur pukul 7 pagi
Memanaskan air dalam teko
Mengucap salam tiap beranjak pergi
Mendoakanmu agar hari ini baik-baik saja
Dan besok kita akan melakukan semuanya lagi dari awal.
sad sad cat Feb 6
Kenapa diam?
Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan?
Kamu masih diam.
Kenapa menjauh?
Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa mengelak?
Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan?
Kamu diam lagi.
Kenapa menyerah?
Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca.
Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu.
Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
You desire the things that you want, not you need.
sad sad cat Feb 2
Aku pernah diajak pulang.
Senyumnya seperti figura kecil di ujung ruang,
Sentuhannya familiar seperti mainan usang.
Aku tidak mau diajak pulang.
Tangannya hangat seperti teh yang baru dituang,
Tatapannya halus seperti selimut yang sudah dibuang,
Tapi sekarang belum saatnya pulang.
Aku ditinggal pulang oleh mama.
Katanya dia tidak bisa berlama-lama,
Katanya dia masih orang yang sama,
Yang walaupun raganya sudah tidak bisa diajak bercengkrama,
Balut hangat cintanya akan selalu jadi rumah.
Homesick is never for a place, it’s for memories and the people inside it.
Valencia Jan 23
Hari ini dia datang lagi
Dengan gaun kuning tanpa lengan
Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya
Senyumnya manis sekali

"Dasar anak cantik"

Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon
Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan
Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong
Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa

"Kemana saja kamu selama ini?"

Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu
Jelas bukan tempat makan favoritku
Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya
Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini
Dipenuhi oleh emosi-emosi semu
Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti

"Darimana kamu tahu aku ada di sini?"

Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer
Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi
Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku
Sial! Pasti dia mengawasi aku

"Apa tujuanmu kesini?"

Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat
Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam
Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna
Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku
Dia masih saja menangis tanpa henti
Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya

"Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini"

Entahlah, enyahlah
Aku juga harus beranjak pergi dari sini
Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Valencia Jan 23
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila
Di saat kewarasanku sedang ambruk
Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa
Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya
Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini
Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini

Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu
Dengan bunga berwarna kuning di telinga
Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri
Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu
Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku
Aku tak pernah berburu air mata
Cacatnya tindak-tanduk
Dambaan-dambaan fana
Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini

Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku
Tak paham raut lukaku
Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya
Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat
Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan
Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya?
Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini

Si Manis, yang tutur kata nya lembut
Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu
Ruam pada tubuhmu
Bukan salahmu
Masihkah kau berdiam mematung?
Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat
Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan
Dan kaki-kaki yang kau pijat
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Nabiila Marwaa Oct 2020
"percayalah kita hanya ujian bagi diri masing-masing. tuhan hanya ingin tahu kita lebih mencintai penciptanya atau ciptaannya"

"hanya ujian?  sekali pun aku tidak pernah melihatmu sebagai ujian"

"... maaf"
dan kita tidak pernah berbicara lagi
Nabiila Marwaa Oct 2020
cara tuhan menguji ciptaannya memang ada saja
harta
takhta
kuasa
dan aku; kamu
khaila humaira Oct 2020
Pagi ini kugantung kemeja favoritmu depan pintu
Sambil menarik satu senyuman
Menahan apa yang tertahan di kerongkongan
Yang seakan jika kuhembuskan saja
Bisa sampai merobek paru-paru

Lalu aku memakai serba hitam
Merayakan kepergian ini sendirian
Atas dirimu yang tak lagi ada untuk menyapa.
Next page