Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2016
Hotel Saudade*
Sebuah cerita pendek*

“Ceritakan padaku,”
Aku yakin semua orang pernah mendengar perintah, atau permintaan itu; diikuti dengan waktu senyap dan getir setelah diminta untuk bercerita dan mencoba menata tutur sedemikian rupa. Menata tutur untuk menyanyikan, dan menuliskan (jika dalam surat,)  pengalaman, senda gurau, romansa, kehilangan,
Rindu, yang entah bagaimana caranya,
Sepi.

Beberapa mengakui bahwa setelah bercerita, mencurahkan isi hati, mereka merasa lega seolah ada beban yang terangkat. Tapi, cerita tidak hanya dapat diutarakan hanya dalam bentuk sepatah kata, sepanjang tangis, pun dalam tawa. Pada sebuah perjalananku (pertamakalinya aku berpergian sendiri, menggantikan ayahku untuk merancang dan menggambar iklan salah satu perusahaan kenalannya.) Aku bertemu seseorang yang memutarbalikkan pandanganku mengenai cerita pengalaman pribadi.
Aku tak tahu siapa dirinya,
Aku belum tahu siapa dirinya—
Namun pria ini mengaku bahwa ia tak memiliki cerita,
Cerita apapun.

Inilah cerita yang kupunya untukmu, cerita yang aneh,
Bukan aneh dalam artian mengerikan.
Malam itu kereta sampai terlalu larut, dan niatanku untuk mencari penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota telah lenyap; aku sudah lelah. Sebenarnya aku dapat datang besok, tapi aku memilih untuk datang 2 hari lebih awal dari hari yang dijanjikan agar dapat bersantai.

Aku menjinjing tasku keluar stasiun dan membenarkan topiku, melihat kanan dan kiri dengan was-was sebelum bertanya pada orang-orang sekitar apakah ada penginapan di sekitar sini. Kau tahu betapa canggungnya aku bila bertanya ini dan itu, aku tak biasa berpergian sendiri! Namun karena keadaan mendesak, ya beginilah jadinya. Aku mendapat rujukan bahwa dengan berjalan kaki (sedikit jauh, tapi tak sejauh bila harus menjelajah malam atau menjadi angkutan untuk ke pusat kota) aku dapat sampai ke sebuah penginapan yang namanya terlalu puitis—Hujung Malam.
Apa maksudnya? Penghujung malam?
Apalah yang ada dalam sebuah nama, yang penting aku dapat tidur tenang malam ini, dan berganti penginapan keesokan harinya!

Dinginnya malam kala itu membuat mantel dan bajuku yang berlapis mejadi tidak berguna. Aku sedikit berlari melintasi trotoar yang digenangi beberapa kubangan air kecil, terlihat bak emas disinari pantulan lampu jalan. Sesekali menggosok lensa kacamata bulatku dengan sarung tangan hitam yang kukenakan. Ranting-ranting gemeretak, seolah merasakan juga dingin yang menusuk tulang. Setibanya di sana, aku tidak menyangka bahwa bangunan penginapan satu lantai ini terlihat lebih tua (tapi sangat terawat) dan lebih besar dari kelihatannya. Aku diantar ke kamarku yang terletak pada lorong yang tepat mengelilingi sebuah taman besar.

Setelah mempersilahkan keluar pegawai penginapan yang terlalu ramah bagiku, aku membuka pintu dan memperhatikan keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja kecil. Sebuah pohon besar berdiri gagah di sudut taman, pada bagian tengahnya terdapat air mancur yang dikelilingi patung-patung pualam kecil; malaikat, anak-anak, dan bidadari tak berhati.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekitar (yang tak biasanya kulakukan) dan barulah aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Tidak, tak ada hantu.

Hanya ada sayup-sayup suara harmonika tak sumbang, yang dimainkan dengan tepat dan sedih pada pedihnya malam dingin.
Aku tahu lagu ini,
Greensleeves.
Lagu zaman Tudor itu, lagu orang-orang yang ditinggalkan.

Aku menoleh seolah digiring oleh angin yang baru saja berhembus, beberapa kamar kosong (kupikir itu kamar kosong, lampunya dindingnya tak menyala) duduk seorang pria berambut panjang, digelung rapi ke belakang, hanya mengenakan kemeja dan rompinya.

Ia ramping, namun pakaiannya tidak lebih besar dari tubuhnya dan justru terpasang pas pada tubuhnya. Rambut bagian depannya yang panjang dan tak ikut terikat rapi ke belakang berjatuhan, membingkai tulang pipinya yang terlihat jelas. Pria itu sibuk dengan alat musiknya dan memejamkan matanya tanpa menyadari kehadiranku. Aku juga sibuk, sibuk memperhatikannya bermain dan mengingat bagaimana Greensleeves selalu menyayat hatiku. Ini kali pertamanya aku mendengar lagu itu dimainkan pada harmonika.

Setelah ia menyelesaikan musiknya, aku menyapa dari kejauhan sambil memegangi gagang pintu kamarku,
“Greensleeves?”
Ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh atau menjawab, duduk di kursi depan kamarnya dengan kaki kanan disila pada lutut kaki kirinya. Aku hanya dapat melihat hidungnya yang mancung dan matanya yang dibayangi gelap, ia terlihat cantik, dan sepi. Setelah menunggu sedikit lama dan masih tetap diabaikan, aku menghangatkan diriku di kamar. Aku akan berpindah penginapan besok siang.

Ternyata esok berkata lain.
Aku membuka pintu kamarku untuk sarapan dan mendapatinya lagi di tempatyang sama, seolah ia tidak beranjak semalam suntuk.
“Selamat pagi,” sapaku canggung.
“Kau selalu di sini?”
Ia tidak menjawab, hanya menatapku, dan saat itulah aku melihat matanya yang tidak lebih redup dari matahari senja di laut kala mendung.

Ia tidak menjawab, dan aku malah menggeret kursi dari depan salah satu kamar kosong untuk kutempatkan disebelahnya. Kami duduk bersebelahan dalam diam, hanya ditemani rintik hujan yang tak hentinya menghujat; ia mulai memainkan harmonikanya.

Aku beranjak untuk sarapan, dan memperpanjang masa sewa kamarku sampai beberapa hari ke depan.

Setelah aku kembali, ia masih tetap duduk disana, benar-benar tak berpindah dan terus memainkan harmonikanya. Aku tak dapat memperhatikannya lebih lama, aku harus beristirahat dan bersiap-siap untuk besok.

Hari berikutnya tidak banyak yang berubah, pagi masih tetap dirundung hujan dan pria itu masih duduk termenung menghadap taman. Aku bergegas untuk sarapan sebelum pergi ke kota dan menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pria yang tak beranjak dari tempatnya. Ada yang bilang bahwa ia dulunya buronan, teman pemilik penginapan yang lalu diberi tempat tinggal disini. Yang lainnya mengatakan bahwa ia dahulu pelancong yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam penginapan setelah diberi kamar oleh bapak pemilik penginapan yang terkesima olehnya.

Sepulang dari kota aku mengeringkan payungku yang basah kuyub dan mantel yang bagian depannya basah karena terkena air dari kereta kuda yang mendadak lewat didepanku. Bagian bawah gaunku penuh lumpur, dan aku tak tahu apa jadinya sepatuku ini. Aku tak ambil pusing dan kembali keluar kamar untuk sekali lagi mencari tahu tentangnya.
Entahlah, ada hal yang membuatku merasa tertarik. Mungkin karena lagu Tudor itu, mungkin karena ia sama sekali tidak berbicara dan beranjak dari kursi kecil itu. Hanya sesekali melepas ikatan rambutnya, dan membuka jam kantungnya.

Aku sekali lagi menduduki kursi yang kuletakkan di sebelahnya, dan langsung melontarkan pernyataan dan pertanyaan,
“Mereka bilang kau dulunya buronan,” ia terus memandangi jam kantungnya,
“Kenapa kau selalu duduk di kursi ini?”
Aku kira ia takkan menjawabnya, namun malah sebaliknya.
“Memangnya kau tahu kalau aku selalu di sini?”
“Karena aku selalu melihatmu di sini.”
“Itu hanya sebagian bukan keseluruhan.” Ia mengangkat bahunya. “Karena kau selalu melihatku duduk memandangi taman bukan berarti aku selalu melakukannya.”

Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik yang biasa kita lihat, jarum jamnya berputar secara terbalik.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” aku mencoba mengajaknya berkenalan.
“Aku membuatmu teringat akan apa?”
“Apa? Entahlah.”
“Bukannya kau berlagak seolah mengenalku? Mengatakan aku selalu di sini.”
“Kau mengingatkanku pada senja di laut saat mendung.”
“Kalau begitu, namaku Laut. Aku selalu di sini seperti laut, kan? Ia tidak berpindah dari tempatnya.”

Percakapan kami terhenti di situ karena hujan makin deras dan aku harus kembali ke kamar untuk menyegerakan gambarku. Aku tidak ke kota lagi esok hari, dan menghabiskan waktu menggambar iklan itu di kursi kecil yang menghadap taman tanpa sepatah katapun, disamping orang yang mengakui dirinya sebagai Laut dan dibawah lindung hujan deras. Kami tidak berbicara pun berbincang, tapi aku menikmati kesepiannya seolah ada rindu yang belum dilunasi.
Tapi entah mengapa aku justru memulai pembicaraan,

“Ada yang bilang kau pelancong, apa kau mau bercerita sudah pergi ke mana saja?”
“Kau jarang berpergian?”
“Sangat.”
“Kau jarang berpergian, dan aku tak punya cerita.”
“Tak punya cerita?”
“Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak akan ada yang merasakan sebuah cerita seperti penuturnya.”
Aku menyelesaikan gambarku, dan bersiap untuk menyetorkannya keesokan harinya.

Sore hari setelah aku kembali ke penginapan dengan keadaan yang sama, basah, terguyur hujan. Senja dalam hujan kembali ku habiskan bersamanya tanpa sepatah kata dan ia kembali memainkan nada-nada pada harmonikanya. Lagu yang sama dengan yang diputar oleh jam kantungnya. Lagu soal sunyinya malam ditengah laut, menunggu rintik dan bulan yang tak kunjung datang.

“Lagu apa itu? Sama seperti di jam yang kemarin.”
“Pesan Malam.”
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Aku yang membuatnya, wajar kau tidak tahu.”
“Sayang lagunya pendek, lagu yang indah.”
Ia hanya mengangguk,
“Aku akan pulang besok. Terima kasih telah menemaniku disini.”
Ia tak menjawab, dan terus memainkan harmonikanya tanpa menoleh. Seperti suara rintik hujan yang tak tentu, bingung akan apa yang ia tangisi, pria disebelahku tak memiliki cerita, tak bisa bercerita. Namun ia dapat berkisah, kisahnya tertuang pada lantunan nada dan lagu-lagu yang ia mainkan. Aku memejamkan mata, mendengarnya fasih menyihir suara menjadi sebuah fabel dan parabel, berharap dapat menyisihkan kisah-kisah yang tak diutarakan secara tersurat dan harfiah.

Aku undur diri untuk tidur lebih awal, dan menulis sebuah pesan dalam secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mengingat dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Dalam hening tidur malamku, ada sebuah lagu yang berulangkali dimainkan tanpa henti. Lagu di penghujung malam, lagu sunyi laut. Aku terbangun, dan dentingnya masih berputar dalam kepalaku.
Sayangnya aku harus kembali sebelum jam 12 esok hari, dan ketika terbangun, aku sayup-sayup sadar akan ketukan halus di pintu kamarku. Aku membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata pada keadaan yang sama sambil meluruskan gaun malamku. Hujan masih rintik, malam masih gelap, lampu-lampu menyala beberapa saja, dan hanyalah satu perbedaan; pria itu tak duduk pada kursi kecilnya.

Aku kembali masuk, linglung. Siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Tanganku meraba gagang pintunya yang sudah menghitam dan saat itulah aku melihat sebuah jam kantung tergantung lesu pada lampu dinding didepan kamarku. Jam kantung yang selalu ia lihat, yang jarum jamnya berputar terbalik.

Tidurku tak kulanjutkan. Aku mengutak-atiknya sesperti yang ia lakukan tadi, dan menyadari bahwa bukan hanya ada satu lagu di situ, namun beberapa lagu pendek. Tiap lagu memiliki suasanya dan warna nada yang berbeda, membangkitkan berbagai macam bentuk ingatan dan kisah-kisah yang dapat kita bayangkan sendiri tanpa dipacu cerita dari siapapun. Hanya sebuah lagu, dan seuntai suasana.

Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan. Aku ingin berpamitan padanya dahulu, mengembalikan jam kantungnya, dan berterimakasih atas kisah-kisah yang ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman. Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari taman serta koridor untuk mencari tanda-tanda kehadirannya untuk hasil yang nihil.

Ketika aku menuju serambi depan penginapan barulah aku melihatnya lagi, di ujung koridor, menatap kosong kearahku lalu tersenyum simpul. Senyum yang tak lama langsung sirna. Ia dibalut jas yang biasanya hanya ia selampirkan di kursi kecil dan ia mengurai rambutnya. Aku menyematkan secarik kertas kecil pada telapak tangan kiri beserta jam kantungnya, namun ia enggan menerima jam kantung yang kukembalikan.
“Simpan, dan jaga baik-baik.”
“Aku akan kembali.”
“Kembali kemana?”
“Ke tempat ini.”
“Untuk apa?”
“Bertemu denganmu. Lagi.”
“Bagaiamana kalau aku sudah pergi?”
“Aku akan tetap datang kesini.”
“Terserahmu.”
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan.
“Aku tidak paham puisi.”

Aku tak menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Sebagaimana ia memberi pesan di malam hari, aku mengirimkan secarik surat dalam bentuk sajak;

Untuk pesan malammu,
Yang tiap barisnya menari
Perih dalam benak,
Biarkan tanyaku dirundung rindu
Dan menjadi alasan
Untuk tertawa pada angan yang terlalu luluh
Mereka berhantu,
Dan akan kembali—
Sebagai sesayat serpih
Untuk melabuhkan kisah yang lain
Dalam seuntai surat malam

Memang tidak ada perlunya aku kembali, sayangnya lagu itu berputar-putar terus di kepalaku. Seolah nada-nadanya nyata mengirimkan pesan dan kisah yang berubah pada tiap bunyinya; fana, hanya dalam benak.

Mungkin cerita memang tidak selalu harus diutarakan secara tersurat begitu saja; akan banyak emosi yang terkikis habis, tidak tersalur secara utuh dalam penyampaiannya. Kisah yang disampaikan akan mati. Namun dalam lagu-lagu yang ia pahat abadi dalam jam itu, dan yang ia lantunkan dengan alat musiknya, ia menggiring hati yang tersesat dalam imaji untuk menguraikan kisah-kisah sendiri berdasarkan benak serta pedih. Dan tiap lembaran kisah itu,
Mereka membara,
Dalam kasih dan hidup yang belum pernah kita jalani,
Bahkan sekalipun.

Aku akan kembali, setelah membawa kidung-kidungnya pulang bersamaku. Bukan kembali pulang, namun kembali menemuinya di kemudian hari. Aku yakin, percaya, ia akan tetap disana—Menatap taman dan hujan. Entah bermimpi, entah bercerita dalam asa. Karena ia seperti laut, yang selalu disana dalam gelagap rindu, selalu ada dalam dahaga dan dan sejuknya malam. Juga seperti hujan, yang datang kala sepi dan tak kunjung pulang jua. Menemani dengan gesit suaranya, dalam tiap rintih fana.

Aku akan kembali,
Dan ia akan ada di sana.
JJ Hutton Aug 2010
I am a miserable ****.

Traffic jam thoughts.
Aimless speech.
Fever dreams,
coffee with no cream,
love with no pulse,
alone at restaurants,
            at grocery stores,
            at parties.

I have no identity.

Shifting shape, black to blue,
trading girls, red hair for Persian skin,
parents and gods,
politicians and lost purpose mobs,
all asking me to be sacred,
                            to be loving,
                            to be trusting,
                            to be active,
                            to have no spine.

All I want is a bit of my own time.

A grenade of change,
to end the coagulation of my brain,
to leave me hungry for anything
other than me,
didn't somebody say I was promised something?
                                            I was going somewhere?
                                            I was unique?

I am the same miserable ****,

As every other miserable ****.

The ******* that cut you off on Highway 62,

The person that complained about too many pickles,
on his precious fast food,

The boy yelling at his baby sister for getting too much attention,

The girl sexting your boyfriend,

The boy sexing your girlfriend,

The generation divorcing everyone it knows so it can fall in love with

itself.

All different,
in exactly the same way.

Traffic jam thoughts. Traffic jam thoughts.
                   Traffic jam thoughts. Traffic jam thoughts.
            trafficjamthoughts. traffic. Traffic Jam Thoughts. Thoughts.
Traffic. Traffic. Traffic. Traffic. Traffic. Traffic. Jam.
thoughts. traffic. trafficjam. trafficjam. traffic jam thoughts.traffic.
traffic jam. traffic, traffic, traffic. I am a miserable ****. Traffic jam.
Copyright 2010 by Joshua J. Hutton
Fake Name Nov 2016
Blue Bacon and Mexican Swiss Cheese with Krusty Jam




My name is Bam Da Pam
Bam da Pam my name is


Dat Bam-da-Pam-I-am
Dat Bam-da Pam!
I like Dat
Bam-da-Pam-I-am


Do you like blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam


I like them,
Bam da Pam
I like
Blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam


Would you still like them
In or out
Would you not like them
In a spout


I would like them
In or out
I would like them
In a spout.
I do like
Blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam
I do like them,
Bam-da-Pam


Would you hate them
Up or down?
Would you hate them
All around?


I like them
Up or down.
I like them
All around.
I like them
In or out.
I would still like them
In a spout.
I like blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam
I like them, Bam-da-Pam-I-am.




Would you hate them
On a platter?
Would you hate them
with a splatter?


On  a platter.
With a splatter.
In or out.
With a spout.
I would eat them up or down.
I would eat them all around.
I would eat blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam.
I do like them, Bam-da-Pam-I-am.


Would you? Could you?
in a bar?
Hate them! Hate them!
Here they are.


I would,
I could,
in a bar


You may hate them.
You will see.
You may not like them
in a bee?


I would, I could in a bee.
In a bar! You let me be.
I do like them on a platter.
I do like them with a splatter.
I do like them in or out.
I do like them in a spout.
I do like them up or down.
I do like them all around.
I do like blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam
I do like them, Bam-da-pam


A train! A train!
Could you, would you
on a train?


“On a train! In a bee!
In a bar! Bam da Pam! Let me be!”
I would, I could, on a platter.
I could, I would, with a splatter.
I will eat them with a spout
I will eat them in or out.
I will eat them up or down.
I will eat them all around.
I do like them, Bam-da-Pam-I-am.




Bae!
Would you, could you, in the dark?


I would, I could,
in the dark.


Would you, could you,
in the rain?


I would, I could in the rain.
In the dark. On a train,
In a bar, in a bee.
I do like them, Bam da Pam, you see.
On a platter. With a splatter.
In a spout. In or out.
I will eat them up or down.
I do like them all around!


You do like
Blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam?


I do
like them,
bam-da-pam-I-am.


Could you, would you,
on a hippo


Would you cook it with a zippo


I could and would on a hippo
I will, I will cook it with a zippo
I will eat them in the rain.
I will eat them on a train.
In the dark! In a tree!
In a bar! Please let me be!
I do like them on a platter.
I do like them with a splatter.
I will eat them in a spout.
I do like them in or out.
I do like them up or down.
I do like them ALL AROUND!


I do like blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam


I really like them,
Bam-da-Pam


You do like them.
SO you say.
Try them! Try them!
And I will walk away
Try them and you may I say.


Bam-Da-Pam!
If you will let me be,
I will try them.
You will see.


Bae!
I hate blue bacon and mexican swiss cheese with krusty jam!
I do! I hate them, Bam da Pam
And I would not eat them on a hippo!
And I would not cook them with a zippo...
And I will not eat them in the rain.
And not in the dark. And not on a train.
And not in a bar. And not in a bee.
They are so bad, so bad you see!


So I will hate them on a platter.
And I will not eat them with a splatter.
And I will not eat them in a spout.
And I will not eat them in or out.
And I will not eat them up or down.
Say! I will not eat them ALL AROUND!


I do, I do, I hate
Blue bacon with mexican swiss cheese and krusty jam!
I HATE you!
I HATE you,
BAM DA PAM!
Feedback please, i am turning this in and would like some other peoples thoughts
I once knew a girl
called Sammy
And she would always
eat pieces of jam...
In the palm of her hand ...
was some sticky jam...
Sammmy always wore
a clean dress ..


But soon it became caked
in her favorite raspberry
Jam....
Her mother fret about the mess..
For she was always keen on keeping
Sammy clean......But soon She became
Messy caked in her favorite Jam...
One Day her mum stopped
Making her favorite raspberry jam..
Poor Sam's world fell apart

Little Sammmy pleaded her Mum to make her jam.
Mum said okay, if you wear a apron full of stings
At last Sammy tucked into her favourite jam...
Tea Talk (or Taking Tea)


Jam comes first
And then the cream
Said the scone from Cornwall
To one ‘n’ all
Taking tea

Milk jug blinked.
The teaspoon gasped,
Who would have linked
The layers of bliss that sweetly kiss
With their order between the halves of a scone
From Cornwall
Where one ‘n’ all
Know that the milk is churned
Until it’s solid
Then we say the cream is clotted.

The teapot looked at the scone from Devon
Who knows that cream and jam is heaven
But only if the cream comes first
And then the jam . . . . .
My thoughts exactly said the ham
From between its sandwich fingers
Where it lingers
Until it’s time for tea.

‘Are you sure?’ the teacup said
To ham within its breaden bed.
Saucer asked the cucumber salad,
‘Should jam come first?’
‘But does it matter?’ said cucumber salad.
‘It’s a ballad
So red and white,
A symphony of taste
Into which to bite.
It is so right
For those who are taking tea,’

‘Jam then cream, is what you do,’
Insisted Cornwall’s scone who
As we know likes cream to be clotted.
But tomato blushed and quickly said,
‘With cream from Devon I am besotted
Because we know it’s clotted. . . . .
Too.

Onion, hearing Cornwall and Devon
Knows that cream and jam are heaven . . . . .
But jam and cream are bliss
Sealed with a kiss that is heaven . . . . .too.
The dilemma of order fuels onion’s frustration
And onion’s tears lead to prostration
For those who are taking tea.

What is to be done
To solve the question of order
Jam first . . . . . or cream?
The issue borders
On the ridiculous
As the layers sweetly intermingle
Like the lovers’ kiss
As those who are taking tea
Bite . . . . .
Ouch! said onion
The scone from Cornwall
And the scone from Devon
‘Either way is heaven.

David Applin

Copyright …David Applin (2015)
.....after visiting Reid's Hotel, Funchal Madeira
cheryl love Jun 2016
Red gingham on jam pots
Wax lids preserving the berry
Tattered lace and old spots
Labels for black cherry.

Strawberries with leaves left on
Cups of tea with cream in
All the nice jam has gone
But there are biscuits in the tin.

Crumbs left on top when cakes took
pride of place after they were made
There is jam around his face look
Do you think the evidence will fade?

No because he has jam all over his top
and there is a smile on his jammy face
He keeps eating them, no signs he will stop
when there are jam tarts all over the place.

Red gingham on the table cloth freshly laid
jam pots with strawberries now preserved.
All the sugar used up, jam for the year made
get your hands off, that *** is reserved!
Its 8:30 in the AM
The Corn Moon
is being routed by a
Manassas cloud bank

NPR be barking
Irma this, Irma that
my tremblin Rav4
stuck in the rush
is idling behind
a pair of gray hairs
spewing
leaded premium
out the back
of a big old black Buick
sportin Florida tags

inching north up I95
I’m relieved to be
a thousand miles
ahead of the
monstrous *****
denuding Barbuda
deflowering the
****** Islands
and threatening to topple
the last vestiges of
Castro’s Dynasty
by disrupting upscale
bourgeois markets
for cafe Cubanos,
cool Cohibas and
bold Bolivars

she’s a CAT 5
counterclockwise
spinning catastrophe
churning through
the Florida straits
bending steel framed
Golden Arches
shaking the tiki shacks
gobbling lives
defiling tropical dreams

the best
meteorological minds
on the Weather Channel
plug the Euro model
to plot a choreography
of Irma’s cyclonic sashay

they predict she’ll
strut her stuff
up a runway  
that perfectly
dissects the  
Sunshine State
ransacking
the topography
venting carnage
like battalions of
badly behaved frat boys,
schools of guys gone wild
sophomores, wreaking havoc
during a Daytona Beach
spring break
droolin over *******
popping woodies at
wet tee shirt contests
urinating on doorstoops
puking into Igloo Coolers
and breaking their necks
from ill advised
second floor leaps
into the shallow end
of Motel 6 pools

but I’m rolling north
into the secure
arms of a benign
Mid Atlantic Summer
like other refugees,
my trunk is
filled with baggage
of fear and worry
wondering
if there’re be anything
left to return to
once Irma
has spent herself
with one last
furious ****
against the
Chattanooga Bluffs of
Lookout Mountain

Morning Edition
Is yodeling a common
seasonal refrain
the gubmint is
just about outta cash
congress needs to
increase the debt limit

My oh my,
has the worm turned
during the Obama years
the GOP put us through a
Teabag inspired nightmare
gubmint shutdowns
and sequestration
shaved 15 points
off every war profiteers vig
it gave a well earned
long overdue
take the rest of the week off
unpaid vacation
to non essential
gubmint workers
while a cadre of
wheelchair bound
Greatest Generation
military vets get
locked out of the
WWII Memorial on the
National Mall

this time around
its different
we have an Orange Hair
in the office and there's
some hyper sensitivity
to raise the debt ceiling
given that Harvey
has yet to fully
drain from the
Houston bayous

the colossal cleanup
from that thrice in a
Millennial lifetime storm
has garnered bipartisan support
to  clean up the wreckage
left behind by a
badly behaved
one star BnB lodger
who took a week
long leak into the
delicate bayous of
Southeast Texas

yet we are infused
with optimism that our
Caucasian president
and his GOP grovelers
now mustered
to the Oval Office
will slow tango
with the flummoxed
no answer Dems
to get the job done

pigs do fly in DC
Ryan and McConnell
double date with
Pelosi and Schumer
get to heavy pettin
from front row seats
beholding droll  
Celebrity Apprentice
reruns

The Donald, Nancy and Chuck
slip the room for a little
menage au trois side action
transforming Mitch and Paul
into vacillating voyeurs
who start jerking their dongs
while POTUS, and his
new found friends
get busy workin
the art of a deal

rush hour peaks
static traffic grows
in concert with
a swelling  
frenetic angst
driving drivers
to madness
terrified
they won't
get paid if
the debt ceiling
don't rise
they honk horns
rev engines
thumb iPhones
and sing out
primal screams

unmindful drivers
piloting Little Hondas
bump cheap Beamers
start a game of
bumper cars
dartin in and out
of temporary gaps
uncovered by the
spastic fits and starts
of temporary
decongested
ebbs and flows

A $12 EZ Pass
gambit is offered
the fast lane
on ramp
has few takers
just another
pick your pocket
gubmint scheme
two express lanes
lie vacant
while three lanes of
non premium roadway
boast bumper to bumper
inertness
wasted fuel
declining productivity
skyrockets
the  wisdom of
the invisible hand doesn't
seem to be working

DOJ bureaucrats
In Camrys and Focuses
dial the office
to let somebody
know they’ll
be tardy

gubmint contractors in
silver Mercedes begin
jubilantly honking horns
NPR has just announced that
Pelosi and Schumer
joined the Orange team
the rise in the debt ceiling
will nullify their 15%
sequestration pay cut

NPR reports the
National Cathedral will
deconsecrate two hallowed
stained glass windows of
rebel generals R E Lee
and Stonewall Jackson
it's a terrible shame that
the Episcopal Church
will turn its back on the
rich Dixie WASPS
who commissioned these
installations to commemorate
the church's complicity
in sanctifying the
institution of slavery,
WWJD?

as I ponder
this Anglican
conundrum another
object arrests my
streaming consciousness
upsetting an attention span
shorter and less deep
than the patch of oil  
disappearing under the front
of the RAV as I thunder by
at 5 MPH

to the left I eye a
funny looking building
standing at attention
next to a Bob Evans

I’m convinced
Its gotta be CIA
a 15 story
gubmint minaret
a listening post
wired to intercept
mobile digital
confabulations
from crawling traffic
inching along
beneath its feet

this thinking node
pulsing with
intelligence
reeking with
counterintelligence
the tautological
contradiction
guarantees the
stasis of our
confused
national consciousness

strategically positioned to
tune into the
intractable Zeitgeist
culling meta code
planting data points
In Big Data
data farms
running algos
to discern bits
of intelligence
endeavoring to reveal
future shock trends
knows nothing
reveals less

the buildings cover
is its acute
conspicuousness
gray steel frame
silver tinted glass
multiple wireless antennas
black rimmed windows
boldly proclaim
any data entering
this cheerless edifice
must abandon all hope
of ever being framed
in a non duplicitous
non self serving sentence

the gray obelisk a
national security citidel
refracts the
fear and loathing
the sprawling
global anxiety
our civilization's
discontent
playing out
in the captive
soft parade
ambling along
the freeway jam
imobilized
at its stoop

Moning Edition jingle
follows urgent report of
FEMA scamblin assets
arbitraging Harvey and Irma
triaging two
tropical storm tragedies
and a third girl
just named Maria
pushed off the Canaries
and is on its way to a
Puerto Rico
homecoming

while
gubmint  bureaucrats
anxiously push on
to their soulless offices
the rush hour jam
has peaked
my WAZE
is having a
nervous breakdown

next lane over
a guy in a gold PT Cruiser
is banging on his steering wheel
don’t think this unessential worker
will win September's
civil servant of the month award

Ex Military
K Street defectors
slamming big civie
Hummers
getting six mpg
lobby for a larger
apportionment
of mercenary dollars
for Blackwater's
global war on terror

Prius Hybrids
silently roll on
politely driven by
EPA Hangers On
hoping to save
a bit of the planet
from an Agency Director
intent on the agency's
deconstruction
the third 500 year hurricane
of the season
is of no consequence

obsolete
GMC Jimmy’s
are manned by
Steve Mnunchin
wannabes
the frugal
treasury dept
ledger keepers
pour good money after bad
to keep the national debt
and there clanking
jalopies working

driving Malibus
DOL stalwarts
stickin with the Union
give biz to GMC

nice lookin chicks
young coed interns
with big daddy doners
fix their faces and
come to work
whenever they want

my *** is killing me
I squirm in my seat
to relieve my aching sacroiliac
and begin to wonder if my name
will appear on some
computer printout today?
can’t afford an IRS audit
maybe my house will
be claimed by some
eminent domaine landgrab?
Perhaps NSA
may come calling,
why did I sign that
Save The Whales
Facebook Petition?

The EZ Pass lane
is movin real easy
mocking the gridlock
that goes all the way
to Baltimore
a bifurcated Amerika
is an exhaust spewing
standing condemnation
to small “R”
republicanism  

glint from windshields
is blinding
my **** is hurtin and
gettin back to Jersey
gunna take a while
GPS recalcs arrival time

an intrepid Lyft driver
feints and dodges
into the traffic gaps
drivin the shoulder
urging his way to the
Ronnie Reagan International
I'm sure
gettin heat from
a backseat fare
that shoulda pinged
an hour earlier

Irma creeps
toward the Florida Keys
faster then the
glacial jam
befuddling congress

I think I just spotted
Teabag Patriot
Grover Norquist
manning a rampart
bestriding a highway overpass
he’s got a clipboard in hand
checking the boxes
counting cars
taking names
who’s late?
who’s unessential?

man
whatta jam we're in

Music Selection:
Jeff Beck: Freeway Jam

Orlando
9/21/17
jbm
written as im stuck in jam headin back to jersey
Bintun Nahl 1453 Mar 2015
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!
Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.
0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.
1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.
3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.
4 – 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.
7 – 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.
1 – 4 Jam
Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.
4 – 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.
6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.
8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.
24 – 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.
36 – 48 Jam
Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.
3 – 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.
8 – 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.
Beberapa Minggu
Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.
Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.
Satu Tahun
Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya????
BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN.....
Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
JR Rhine Jul 2016
Jam
Can we jam, brothers and sisters?

Dare we meet at the impalpable chat room
that exists beyond our third heaven?
Dare we to speak in tongues and timbres,
our skin taut across hollow shells,
our veins strung across cadaverous bodies?

I'll grab my drumsticks if you grab the guitars,
and there's somebody on the bongos
slappin' the skins with zealous fervor--
where my tambourine girls at?

Don't worry, I haven't forgotten our forlorn hero
sitting behind the keyboards--
Tickle me those ivories with pious hands and aching fingers,
shake em down sweet Jerry Lee!

And so we begin--
I lay down the drum beat that bops heads and scatters feet,
and the bassman always on top of things
slaps and slides and skips and sizzles
hot diggity dog!

I hear that sweet guitar scream and moan,
praying for death under hazy lights
and we all coast with eyes rolled back into our skulls
and torpid lips drooped open over slack jaws.

Not a word is said from a human voice,
we speak through hands and feet,
basking in colors eking from every kick drum stomp
and the desperate wail bleeding from amplifiers.

Feedback sings and screams, fighting the silence we taunt
and hold at bay.

Around every corner the colors trail
coursing through our vesselious bodies
propelled along the dizzying venture.
We somehow spot every pothole and take detours,
embarking down backroads and backalleys--

We can turn the wheel,
but don't think for a moment we know where it's going.

And the mirror's have all vanished,
we know not from where we came.

Someone shouts from the discovery
as we exit a phrase to enter serendipity,
toying with destiny, clay in our hands,
stretching out the ****** perennially--
We laugh as the gods try to remind us we are Man.

And the screams and the moans
sensing the ****** is getting close
so there's a crescendo I ramp up the tempo
ahhhhhhhHHHhhhHhHhHhHHHHHhhhETERNITY IS NOW AND WE HOLD THE KEY TO HEAVENS GATES AND TIME STANDS STILL AT HIGH NOON IN THE TOWN'S SQUARE WHERE TRIGGER FINGERS TREMOR AND WE SPEAK TO GOD ON HIS PRIVATE CHANNEL COMING THROUGH WORN SPEAKERS CELESTIAL CREATURES IT WOULD BE SACRILEGE IF WE WEREN'T SUDDENLY SO HOLY HOLY HOLY HOLY HOLY HOLY HOLY HOLY HOLY

So I say again, brothers and sisters,
can we jam?

SO I SAY AGAIN, BROTHERS AND SISTERS,
CAN WE JAM?

SO I SAY AGAIN, BROTHERS AND SISTERS,
CAN WE JAM?

So I say again,
brothers and sisters,

can we jam?
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
Mateuš Conrad Oct 2018
.nie dotykaj ich kobiet... mowie ci... nie dotykaj ich kobiet... to nie twoje, to wprost obcze, i tym bardziej owcze...jak sam, zobaczysz... nie tykaj ich kobiet!

ja nie jestem tu, w ramach potrzeb
ich kobiet, mowić słowo: nie!
ale... ich kobiet "potrzeby"
mnie naj mniej... interesują...
kiedyś... może... nie teraz...
ja, tu jestem...
  po tą kurwe swe znaczą
tytułem: językiem...
ja, jestem tu, po ich             zór!
pizdy w ramach gnoju jedno,
ale jedno nad wszysto..
ich. jęzór?

                          jeniec?
taki jeniec? jaki może być
sam język sam w sobie?
no to jaki, jeniec?!

    to...            to!
a tu...

        tu? tu... teraz hymn.
i to słynne... sto lat!
no, panowie?
co? co kurwa jest?
sto lat sto lat niech
Dąbrowski żyje nam!

            to jest moje: salve regina!
ślepy bładzi, ale ten co pyta?
tym ja, jam tym ślepym...

jam ślepy i tym samym,
jam co błądze...

         kiedy kusić trza...
  to nie tym zorem...
             ale tym, o ile sto lat
zapuźno... jam sobą...
przy twym tronie
tym ten sam.

jam mówie swą krew!
   i tą krew! swą jam: przemówie!
nawet do tych bez
kraju, i fałszywego Pana;

oczy jak iskry,
i mowa jak lustro...

   nawet do bzdet kraju,
i fałszywego Pana:

rój! i cholera nad resztą!

nawet... owszem, Panu,
ale kraju,
ale kraju...
co Panu nic wart.
I once knew a girl
called Sam...
And she would always
eat pieces of jam...
In the palm of her hand ...
was some sticky jam...
Sam always wore
a clean dress ..
But soon it became caked
in her favorite raspberry
Jam....
Her mother fret about the mess..
For she was always keen on keeping
Sam clean..But soon She became
Messy caked in her favorite Jam...
One Day her mum stopped
Making her favorite raspberry jam..
What a shame for poor Sam.........  


© 2013 ROSALIND
David Nelson Jun 2010
Peanut Butter and Jam

I like peanut butter, I like toast with jam
don't care too much for brocolli on a stick
or a hunk of liver that's really thick
I really like swiss cheese on ham

dont like the spill of oil, don't like it one **** bit
like the smile of small young child with their mother
that is a smile that is like no other
hated wrestling getting my face in the arm pit

loved coping a buzz and hearing music from a live band
loved the feel of my loved ones soft lips on mine
its cool watching old movies about Franenstien
always liked everything I tasted with the Nestles brand

I hate wars and senseless killing it just makes no ******* sense
I don't like it when my jockey shorts ride up my crack
I get jealous of someones fame when I think they are a hack
I look at my final desitination with no false pretense

going to the moon would be such a spiritual thing
meeting my president would be such a special honor
it would be fun playing tennis with Jimmy Connor
how I would love to be on stage with friends and sing

wish I could have met Jesus Christ the man
his mistreatment on any level was way to cruel
if I drink to much I have a tendency to drool
hey remember the Nanny her name was Nan

the Little Rascals were such silly kids,
their Woman Haters Club was such a fake
now how long does it take to bake a cake
too sad when once famous people hit the skids

why does everything taste like chicken fried
will this world recover from the financial woes
will the hopes of all the poor ones in back rows
I thought of death and then I cried

now the words can flow freely for this is who I am
I will never be rich or famous my shoulder I will lend
I will always be here if you are in need of a friend
yes I really really love peanut butter and jam

Gomer Lepoet...
Alyssa Beddoe Aug 2012
The Jam Jar
Breakfast taught me a lesson this morning,
As I waited for my toast I watched my brother
Struggle with the jam jar,
He squeezed as hard as he could, he shook the
Bottle wildly, trying to get the jam out.  
The air bubble in side popped and the jelly pored out.
I watched as he smothered they jelly on his bread,
Just staring at the pile left that he didn't need.
He had more then enough but did not share with me
Instead he through it in the garbage.
It made me think of life when people work there
Buts off and get more then they need and they don't
Know what to do with it all so they just throw it away.
He handed me the jar that was now almost gone.
I shook and shook that thing I scraped the walls
Clean, but I didn't even have enough for one piece
Of bred. It made me think of all the poor people out
There that work there hardest and barley get anything
To survive on. I was about to give up when m mom walked
In and gave a full jar of jam. She reminded me that there are
Caring people out there watching out for us.
Paula Swanson Oct 2010
The sound of thick bubbling,
with the smell of fresh blackberries.
The stains upon our fingers and clothes,
all part of my homemade jam memories.

Growing wild along the roads,
the brambles tall and thick.
Pails and buckets overflowing,
eating our fill as we would pick.

The kitchen, busy as a beehive,
those tasty berries getting mashed.
The "Women" all worked together,
young or old, we each had our tasks.

Four generations, making jam.
"Puttin' back" as it was called.
I still remember the stories told
and the laughter from us all.

Not just a smile does it bring,
a calmness pours soft over me.
A giggle will well up time to time,
at my homemade jam memories.
"MARBLES...PYJAMAS AND JAM!"

wake up at 3 of the clock
eat jam in my pyjamas from the jar
play marbles with an imaginary friend

he wins...again
this the grown up world
of a four year old

acting like a grown up
time mine to play with

*

And then there was the childhood declension of sandwiches.

1. "Raw bread" Just as it was bread on bread....squashed flat and not...even air in between. I love bread me.

2. Bread and butter...your basic staple sandwich.

3. Bread and butter and sugar...now yer talking.

4. Bread and butter and banana...sprinkled with sugar.

5. And yer king of all sandwiches . the "Blood Sandwich!"
Bread, butter and Tomato Ketchup.

These were the sandwiches of my life. The kind even a child could make in the middle of the night when he wasn't supposed to be up and eating sandwiches.

"Marbles...pyjamas and jam!" I chanted to myself to announce the new me I have become.

I remember getting out of bed in my striped pyjamas and  going downstairs and eating the jam out with a spoon( forget the bread) and then having a game of marbles by myself...first taking one shot and then moving over and becoming my invisible opponent and taking his shot. My imaginary friend winning all the time.

This was at 3 in the morning and felt very scary and daring and so grown up because I was deciding what time and what to do for myself even if it was 3 O' ****** clock in the morning.

I had envied grown ups and their not having to go to bed by nine and be able to stay up and be themselves. I could hear them laughing downstairs...having I supposed....the time of their lives.

So now I sang myself into my four year old adulthood with "Marbles...pyjamas...and jam!"

Because that's the kind of kid I am.

Now the wind wails through the ruins of the house howling that "Home is...an absence." My new mantra.  And outside the house (that isn't there no more)( invisible to everyone but me) I would have ghost girls jump to a skipping rope chanting my "Marbles...pyjamas and jam!" as a rhyme. Skipping in time.

"And this one's OUT!" they all shout and scatter away like little marbles being hit by a sacred scared twa.
Elle Sang Mar 2016
Jakarta, 1986

Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. *sampah
, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang.

Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini?
Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu.

Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi.
**Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
you are calling from the kitchen

would I like
   strawberry jam on my toast

strawberry jam?

   I think
I forgot we had some

in the refrigerator
   between the peanut-butter

   the almost empty jar
of gloopy marmalade

I shout back yes

I will have jam on my toast
   why not

   I feel healthy
I am growing a smile

there’s you and there’s life
and it’s only Monday

   you know
Written: September 2015.
Explanation: A poem written quickly in my own time. A (deliberately) very simple piece, supposed to highlight how small things can cheer you up a little bit. A link to my Facebook writing page can be found on my home page here on HP.
NOTE: Many of my older pieces will be removed from HP in the coming months.
Sissy Gunawan May 2017
Hari itu hari Sabtu. Dan, aku sedang ulangtahun.

Sepi. Hanya terdengar suara tetesan air dari keran yang lupa ditutup rapat di wastafel dapur. Desiran angin yang menggesek dedaunan di halaman belakang. Bambu angin yang bersiul di teras rumah tetangga sebelah. Jalanan beraspal yang kosong. Terpaan sinar matahari. Mangkuk beling yang diketuk penjual makanan keliling. Suara jarum detik jam dinding.
Dalam diam aku menunggu. Mahesa belum juga datang. Duduk di atas sofa, perlahan kulahap sekantung keripik kentang, suara iklan di televisi kini menjadi musik latar yang mengisi siang terikku yang sepi ini. Lupakan fakta bahwa kakakku, Mas Kekar, adalah satu-satunya orang yang mengingat hari ulangtahunku. Ucapan ulangtahunnya tiba tadi pagi pukul tujuh lewat pesan suara. Kalau ada Nenek, ia pasti akan membuat kue tar dan nanti malam kami akan duduk melingkar di atas meja makan, menyantapnya bersama-sama sambil minum teh lemon. Sayangnya, sekarang rumahnya jauh; di surga.
Tiba-tiba, telepon genggamku berbunyi. Satu notifikasi baru, ada satu pesan masuk. Dari Mahesa, katanya ia akan sampai lima menit lagi. Baiklah, akan kutunggu dengan sabar. Walaupun ia bilang akan menjemput pukul setengah dua belas ― aku sudah menunggunya sejak pukul sebelas lewat, sekarang pukul satu, dan lima menit lagi ia akan datang. Menghabiskan waktu seharian bersama Mahesa selalu menjadi momen istimewa bagiku, membuat jantung jumpalitan tak karuan, dan berakhir tersenyum-senyum sendiri setiap kali sebelum memejamkan mata di atas tempat tidur pada malam hari. Singkatnya adalah orang ini selalu membuatku bahagia, sadar atau tidak sadar dirinya, ialah sumber kebahagiaanku. Bulan dan bintang bagi malamku.
OK. Kubalas pesannya, lalu kubuka pesan-pesan lain yang mungkin belum kubuka. Tidak ada pesan lain atau telepon. Belum ada telepon dari Ayah ataupun pesan singkat. Entah kapan ia akan pulang. Entah kapan ia akan menyempatkan diri membuka kalender, teringat akan sesuatu, dan mengucapkan, “Selamat ulangtahun.”.
Aku berjanji tidak pernah ingin jadi orang yang hidup tanpa memiliki waktu.
Bel berbunyi dan pintu diketuk. Spontan, aku merapikan rambut, memakai tas selempang, dan bangkit. Kusiapkan senyum terbaik untuk menyambut Mahesa. Setelah pintu kubuka, senyumku langsung sirna. Mang Ijang, tukang pos daerah kami yang malah muncul.
“Siang Mbak Maura, ada tiga surat buat Bapak,” dia menyerahkan tiga surat berbentuk persegi panjang yang sangat familiar bagiku. Sudah berpuluh, bahkan mungkin ratusan kali aku menerima surat macam ini sejak lima tahun terakhir. Kubaca nama perusahaan yang tertera di kop surat itu. Masih sama seperti biasanya; bank, perusahaan listrik, perusahaan telepon.
“Tandatangan di sini dulu, Mbak,” Mang Ijang menyerahkan pulpen dan sebuah kertas tanda terima surat. Setelah kutandatangani, ia pergi.
Kubuka surat itu satu per satu sambil duduk di kursi teras. Surat-surat tagihan, seperti biasa. Hampir dua bulan rupanya Ayah tidak membayar tagihan telepon. Aku bahkan tidak berselera lagi membaca nominalnya. Aku menghela napas dan memandangi jalanan kosong di depan rumah. Kuputuskan untuk memakai earphone, memilih playlist di aplikasi musik, menunggu Mahesa di kursi teras sambil ditemani angin semilir.
5 menit.
Everything is Embarrassing – Sky Ferreira.
10 menit.
Please, Please, Please, Let Me Get What I Want – The Smiths.
15 menit.
Love Song – The Cure.
Dua puluh menit kemudian, Mahesa datang. Senyumku seketika merekah, walaupun ia terlihat begitu lelah. Kaos polo abu-abunya basah oleh keringat, dahinya dibanjiri keringat, napasnya terengah-engah dengan ritme yang tak beraturan. Aku duduk di sampingnya yang memegang kemudi dan masih bisa mencium wangi parfumnya samar-samar, meskipun tujuh puluh persennya sudah bercampur dengan semerbak peluh. Tapi, siapa peduli? Menurutku, ia tetap mengagumkan.
“Maaf lama, Ra. Tadi ada urusan penting yang mendadak,” katanya sambil memilih-milih saluran radio. 19.2, saluran radio yang khusus memutarkan musik-musik indie dan jadul. Mungkin ini salah satunya mengapa sejak awal aku tertarik dengan manusia yang satu ini dan berujung benar-benar mengaguminya, kami menyukai jenis musik yang sama. “Jadi, ke mana kita hari ini? Dan, akan mengobservasi apa?”
Kubuka catatan jadwal terakhir kami, “Hmm. Hari ini jadwal kita ke galeri seni kontemporer yang ada di sebelah balai kota dan pameran seni di hotel Metropolite. Kita bakal mengobservasi lukisan kontemporer supaya bisa membandingkan dengan jenis lukisan yang lain.”
Kamu benar, sesungguhnya ini hanyalah sekadar tugas kelompok bahasa Indonesia. Mungkin bagi Mahesa begitu, tapi bagiku bukan sama sekali. Kuanggap ini sebuah kebetulan yang ajaib. Kebetulan kami sekelompok. Kebetulan kami berdua sama-sama tidak masuk di hari ketika guru Bahasa Indonesia kami membagikan kelompok dan kami masuk ke dalam kelompok terakhir, kelompok sisa. Kebetulan kami memilih tema seni lukis dan belum ada kelompok lain yang mengambil topik itu. Kebetulan dua anggota kelompok kami yang lainnya tidak bisa diandalkan, yang satunya sakit berat dan yang satunya lagi sudah dikeluarkan dari sekolah sejak bulan lalu. Kebetulan hanya aku dan Mahesa yang tidak bermasalah. Maka, hanya kami berdua yang selalu jalan ke tempat-tempat untuk mengobservasi. Sejak saat itu, aku percaya akan keajaiban.
---
Semuanya berawal dari pertemuan singkat kami di minggu keempat kelas sebelas. Oke, ralat, bukan sebuah pertemuan lebih tepatnya, melainkan hanya aku yang memandanginya dari jauh. Namun, itu satu-satunya kejadian yang mungkin dapat memberi jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana perasaan ini bisa muncul. Bukan secara tidak sengaja dan spontan seperti yang biasa kau dapatkan di adegan jatuh cinta pada film-film romansa norak, tetapi adeganku sederhana, penuh kehati-hatian, dan perlahan.
Kelas sebelas adalah tahun yang cukup sulit bagiku. My dad was busy more than ever—well, until now dan itu tahun pertama Mas Kekar menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dia diterima di salah satu universitas negeri ternama di Bandung, jadi hanya pulang ke rumah setiap akhir bulan. Aku punya waktu sendirian di rumah dengan jumlah yang berlebih.
In that year, my friends left me. Ghia pindah ke luar kota dan Kalista bergabung dengan anak-anak populer sejak mendaftar sebagai anggota baru di tim pemandu sorak. Kami hanya makan siang bersama pada beberapa hari di minggu pertama sekolah, setelah itu dia selalu dikelilingi dan menjadi bagian dari kelompok cewek-cewek pemakai lip tint merah dan seragam yang dikecilkan. Aku mengerti, barangkali dia memang menginginkan posisi itu sejak lama dan citra dirinya memang melejit pesat, membuat semua leher anak cowok melirik barang beberapa detik setiap ia berjalan di tengah koridor. Lagipula, jika ia sudah mendapatkan status sosial yang sangat hebat itu, mana mungkin dia masih mau berteman dengan orang sepertiku? Maura, the average one, yang selalu mendengarkan musik lewat earphone, yang lebih banyak menyantap bekal di dalam kelas pada jam istirahat. Aku hanya masih tidak paham bagaimana seseorang yang semula kau kenal bisa berubah menjadi orang lain secepat itu.
Tapi, hal lainnya yang cukup melegakan di tahun itu adalah aku bertemu dengan Indira. Kami berkenalan pada hari Senin di minggu kedua kelas sebelas, hari pertama dia masuk sekolah setelah seminggu penuh dirawat di rumah sakit karena DBD. Begitu melihatku duduk sendirian di baris paling belakang, dia buru-buru menghampiri sambil bertanya, “Sebelahmu kosong?”. Sejak itulah kami berteman.
Indira dan teman-temannya biasa menghabiskan makan siang di bangku koridor lantai satu yang menghadap ke lapangan, bukan di kantin. Walaupun secara harfiah aku bukan salah satu bagian dari kelompok pertemanan mereka, Indira selalu mengajakku bergabung dan orang-orang baik itu rupanya menerimaku.
Di bangku koridor itu kali pertama aku memerhatikan anak laki-laki yang bermain bola setiap jam istirahat kedua. Hanya ada dua-tiga orang kukenal, itu juga karena mereka teman sekelasku sekarang atau di kelas sepuluh, sementara selebihnya orang asing bagiku. Di antaranya ada yang berperawakan tinggi, rambut tebal, rahang yang tegas. Aku hanya belum tahu siapa namanya waktu itu.
Selanjutnya, aku bertemu dengan laki-laki itu di kantin, sedang duduk bersama beberapa cowok yang tidak kukenal, tertawa lepas. Mungkin karena aku jarang ke kantin, aku baru melihatnya di sana waktu itu. Pada acara demo ekskul, aku melihat dia lagi. Bermain bass di atas panggung. Anggota klub musik rupanya. Pemain bass. Pada hari-hari berikutnya, aku lebih sering melihatnya berjalan di koridor depan kelasku, kadang sendirian dengan earphone, kadang ada beberapa temannya. Anak kelas sebelas juga rupanya, jurusan IPS juga. Hari-hari berikutnya, selalu kutengokkan kepala ke jendela setiap kali ia lewat di depan kelasku. Aku penasaran, kenapa mataku tidak pernah melihat orang semenarik dia sebelumnya? Dan, kenapa dia hanya muncul di tempat dan saat-saat tertentu, seperti saat istirahat, masuk sekolah, dan jam pulang? Hari-hari berikutnya, berpapasan dengannya membuatku senang sekaligus semakin penasaran. Dia anggota klub fotografi juga, aktif, sering memimpin rapat anggota di kantin sepulang sekolah, dan ternyata karyanya banyak dipublikasikan di majalah sekolah. Dari situ aku tahu namanya, Mahesa.
---
“Geser ke kanan sedikit. Bukan, bukan, sedikiiit lagi. Sedikiiit, oke, pas!”
Sebagai dokumentasi, Mahesa memotret beberapa lukisan dari berbagai angle dan beberapa kali memintaku untuk berpose ala-ala tak sadar kamera. Tentu saja aku pasti bersedia, selalu bersedia. Dia juga merekam keadaan sekitar dalam bentuk video, yang katanya, bakal dia edit menjadi super artsy.
“Percaya sama gue, kita bakal jadi tim paling keren yang menghasilkan dokumentasi paling berseni, Ra,” kata Mahesa sambil tersenyum sendiri melihat hasil jepretannya.
Destinasi terakhir kami—pameran lukisan yang sedang digelar selama seminggu di hotel Metropolite—akan tutup sepuluh menit lagi, tepat pukul tujuh malam. Setelah terakhir kalinya Mahesa merekam keadaan pameran dan beberapa pengunjung yang masih melihat-lihat, baterai kameranya habis. Sebelum pulang, Mahesa bilang dia tahu tempat makan enak di sekitaran sini. Jadi, kami mampir untuk mengisi perut dengan soto ayam dan berbincang-bincang sebentar, setelah itu baru benar-benar pulang.
Di perjalanan pulang, derai hujan turun perlahan. Karena rumah kami terletak di pinggiran kota, jadi kami harus melalui jalan tol atau kalau tidak, akan lebih jauh. Mahesa memencet-mencet tombol radio, mencari saluran nomor 19.2, tapi setelah mendengar acara yang dibawakan penyiar radio, dia langsung mengganti asal saluran radio yang lain. Saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu pop kekinian yang sedang hits.
“Sekali-kali dengerin genre lain, ya, Ra,” katanya sambil menginjak rem. Jalanan seketika padat merayap di depan kami. Mungkin karena hujan mulai deras, jalanan mulai tergenang, orang-orang mengemudi dengan lebih hati-hati.

(bersambung.)
to be continued.
nish Aug 2018
when i was young
ammi packed me lunch
one strawberry jam sandwich
cut neatly into squares

as i grew older
and my tummy much bigger
(along with my appetite)
one turned into two
two to three
and finally
for some unknown reason
there were no strawberry jam sandwiches
but ammi still packed me lunch

it was tuna or chicken
maybe tomato and cheese
sometimes a pastry
i wasn't hard to please

and it never occurred to me
that my strawberry sandwiches
were gone

till one completely random day
i'm sitting with my friends
taking the first bite of my sandwich
a burst of strawberry fills my mouth
sweet, rich with sugar
it tastes red, good bright red
my strawberry jam sandwich came back
and i was bombarded by my childhood
playing on the swings sandwich in hand
red coated crumbs dotting my shirt
running out of class as soon as the bell rings
to munch munch munch
on my strawberry sandwiches

strawberry jam was never my favourite filling
but it filled me with memories
so occasionlly
when i'm feeling nostalgic
i'll pick up a slice, butter it up
spread my gooey, red friend
and share a sandwich with ammi.
I think that culture plays a huge part in any sort of creative work, in this case I decided not to use 'mom/mum' but 'ammi' which means mother in my language.
Something I remembered and wanted to share because I was eating strawberry jam with crackers just now.
Hope you enjoyed :)

'ammi' pronounced 'uhmmi'
Raegan Meyer Nov 2016
Traffic jam on the highway
cars stopped
one hundred percent gridlock
heat waves off the asphalt

people rushing to see relatives
holiday weekend; a few hours till they see them
two hundred engines humming
flies buzzing

five hundred people waiting
wondering what they're waiting for
waiting for their wheels to turn
waiting for someone they've never seen before

their lives inconvenienced
by a traffic jam
******* up their holiday plans

when their cars finally move
and they see what made them stop
"oh dear, look at all those cops"
and an overturned tin can of a car

telling their kids to look elsewhere
shielding their eyes from the array
of a wrecked life
of a blue tarp on the highway

Their lives inconvenienced
by a traffic jam
******* up their holiday plans

but who is beneath
the blue tarp on the ground?
nobody even thinks
about what could be found

and what a disgrace
to simply be
an inconvenience
lying in the street

because humans are heartless
whether they are young or old
when their lives are inconvenienced
by a little girl's body gone cold

and for these reasons
i pray to never, ever say,
"i wish we could hurry through this traffic
because it's ******* up my holiday."
and that's when you know you're just like everyone else
B Woods Dec 2009
The music's best on the dark
side of town, I heard. It seemed miles
from home, after waiting in a long traffic jam
But the lights finally changed
from glamorous shining to dull neon, covered in smoke
drifting up from drifters outside the Black Cat.

By the fluorescent green sign, a cat
was painted, its fur dark
as the alley I stood in, engulfed in smoke.
The cat perched atop Miles
Davis's trumpet. Bums hassled me for change
and a few drummed on buckets, jamming

with a harmonica player, synched as jam
and peanut butter. I stepped into the Black Cat,
and from the facade saw no change.
The lights turned low, the club dark
as the alley outside. A Miles
record hovered through the smoke.

The people chattered like bees, smoking,
waiting for the players to jam.
At last, the bass player laid down a line miles
long, the drummer chinked in, and the cats
began to groove. They chilled my bones with dark
melodies, pounding through spooky chord changes.

Soon sunbeams shone through the storm, they changed
to an upbeat swing tune. The horn smoked,
hitting riffs unheard, astounding the dark
faces gazing on in awe. They jammed
endless as the ocean. The cats
started to play a popular Miles

song.  The crowd hollered in Miles'
memory as the horn steered through the changes
with the skill of the legend of the Black Cat.
The band, nearly invisible through the haze of smoke
thick in the air, strawberry jam,
soon faded to dark.

Miles Davis’s ghost flowed through the smoke,
awakened by the chord changes, grooving to the jam.
The hippest cat alive or dead, now he plays in the dark.
David Nelson Aug 2013
Toe-Jam Football

here they all come now
they all come together
holding hands and laughing
being tickled by a feather

dreaming dreams of days gone by
or of children of the future nights
how many times have they reached out
marveling at the splendid lights

give me life send me love
waltz me around in circles small
hold me tight kiss me good night
tell me I am the prince of the ball

even with my imagined flattop
I can still be grooving slowly
reaching to score the final goal
my toe jam football, good looking and roller holy

Gomer LePoet...
come together - right now -
Claire Howes Apr 2014
Every day is the same; they wake up in the same bed, at the same ungodly hour, to the same monotonous ringing from the alarm clock.

They grumble their ‘good morning’s; whether they believe it is or not, rolling out of opposite sides of the duvet.

They dance around each other in the bathroom, the heat of the shower creating a fog through which neither of them can see; causing him to stub his toe on the toilet or the counter, and steaming up the mirror so she can’t apply her make-up.

They continue their ritual into the kitchen; flicking on the kettle, popping in the bread, pouring the orange juice; stirring the tea, catching the toast and spreading the butter and jam. Crunching and slurping together at the table, mumbling about what their days have in store; tapping texts on their phones, crinkling newspaper in their hands.

They peck each other a kiss goodbye and mutter a ‘see you later’ before going their separate ways.

But then Monday comes...

Mondays are different.

He knows she doesn’t like Monday mornings. It’s the very beginning of a new, long, tiring week. She never looks forward to Mondays.

So he changes that.

He sets the alarm on his watch a little earlier than other days; shutting it off before it can wake her.

He slips silently out of bed and tiptoes quietly into the bathroom to shower; leaving her smiley faces and love messages on the steamy mirrors.

He creates her favourite tea and makes her toast with raspberry jam; just the way she likes it. Picking a flower from the garden; whichever one looks the happiest and brightest, he places it all on a tray and pads back up to the bedroom to wake her.

She no longer sets her alarm on Mondays. She knows he’ll not let her oversleep.

He places the flower in her hair and drops delicate kisses; full of his love and affection for her, to the corner of her mouth, until she stirs gently.

She smiles on Monday mornings.

They eat breakfast in bed, covering the sheets in crumbs and giggling contentedly as the cat licks them up.

She hums in the bathroom while he clears away crockery, and always re-emerges with the flower tucked behind her ear.

It remains there ‘til night fall.

They never once look at their phones or the paper, far too focused on each other to pay anything else mind.

Their kiss as they part reminds them of their love for each other and of the good things in life; like strolls along the shore, strawberries dipped in dark chocolate, smiling sunflowers that open to a beautiful summer’s day, and of course, Monday mornings.
Terry Collett Jan 2016
Latte and scone please
Henry said

with jam and cream?
the barista said

no jam or cream
Henry said
just plain

the barista said
I like scones
but I love them
with cream and jam
she looked at Henry
plenty of cream

he smiled
yes cream has it's place
I guess
he said

she poured his latte
and placed a scone on a plate
and took his money
and gave him change

yes sometimes cream
makes it special
she said smiling

he carried his tray
to his table
and sat and stirred his latte
and spooned off
the top cream
and eyed her
as she served
the following customer

she was an Italian
(the barista)
who spoke good English
and had the darkest of eyes
and black curly hair

the scone was good
and he enjoyed each mouthful
without jam or cream
and he captured in mind
the barista
for his night-long dream.
HENRY AND HIS LATTE AND SCONE AND THE BARISTA AND CREAM.
jeffrey conyers Jan 2013
Yeah, you.
This day is going to be our day.
Yes, we.
We gonna jam until the morning comes.
Or until the cops knocks upon the door.

And when the lights goes down.
We're gonna be jammin' some more.

It's gonna be, a jam session of love.

With the Ohio Players playin' in the back ground.
I can't wait to see you get down.
With Earth, Wind and Fire followin' behind.
It's a clue for us to have some quiet time.

And any noise being made.
Don't worry.
We know the noise makers of the noise.

It might be mine.
It might be yours.

It's comin' from our jam session of love.

Listen to Kool and the Gang talkin' about Celebration.
Which we're doing without hestitation.
Listen to the Commodores singin' Just To Be Close To You.

As we enjoy the mood of one another.

We might throw in Chairmen of the Board in the end.
But then again.
It might be the Rolling Stones.

You'll never know.
When we're jammin' our way to love.

The music is just for easin' the situation.
For we aware of what we're doin' as the night passes

We're jammin'.
We're lovin'.
We're kissin'.
We're huggin'.
Jamie Lee Aug 2013
It was mid day,
When I went home for lunch,
Walking down the street,
The five of us in a bunch.

Hungry I was,
A girl in grade four,
I couldn't wait to eat,
Excited to step through the door.

Behold--it was ready,
A sandwich with peanut butter,
Little did I know,
It came with another.

Jam there was,
And I began to cry,
Forced to eat it,
I screamed why.

I don't like it I said,
As I sat down,
"Too bad then, starve",
I began to frown.

I threw a fit,
In front of the stairs,
And I checked the lock,
Although I didn't care.

I thought it was closed,
Turns out it was not,
Back flipped into the basement,
A mean cut I got.

I split open my head,
All because of the Jam,
But I came up laughing,
So funny I am.
Written on 2009-02-12 // Copyright ©2013 Jamie Johnson.
Hooflip Aug 2014
Jam
And it’s groovy ****
The way my words maneuver it
A user but I won’t be used
By all the drugs I’m doing
Shiiitt
They talk abusive ****
Like they’re the one’s that using it
And usually I’d be busy on my timone and pumba bizz
Ness is what it’s all about
They’ll tell you anything to reassure the cash come out
To their hands
You gotta fight em with your bare hands
n realize a workaround to their plan
And on another note
I be kickin flows with a dopeness
Thinkin I’m the one
Yeah
I been thinking I’ve been chosen
Cold, I flow frozen
Shows, the vibe golden
Ghost the most smoke, I got casper choking
Actors be pulling mad guap and holding chart topping spots
Well they had a soul, sold it.
We don’t like change
Boy they’ve got us all brainless
You prolly changed this for a song about some ****
This ain’t it,
Re-spray it
Re-paint it
Rekindle
The vibe is alive, revive your minds sizzle
It is you, you are a god you are a ******* goddess
How the hell on earth could they stop us.
They cannot, we got this,
Positive is progress
We taking it *******
Don’t know where the top is
We Jam.
Like, this is your brian,
This is your brain on drugs
Well this my brain when I let it just

JAM
Some of my Hip-hop ****.
Check the song here:
https://soundcloud.com/thehumbleloud/jam-flapjack
Bintun Nahl 1453 Mar 2015
Hinanya Kematian Mustafa Kemal Attatürk yang Dikenal sebagai ‘Bapak Modernisasi Turki’ dari perspektif Barat, dia sebenarnya adalah tokoh yang meng’sekuler’kan dan ‘membunuh’ syiar Islam di Turki. Siapa lagi jika bukan Mustafa Kemal Attatürk yang diberi gelar Al-Ghazi (orang yang memerangi). "Attatürk" berarti "Bapak Orang Turki". Attatürk adalah orang yang bertanggung jawab meruntuhkan Khilafah Islam Turki pada tahun 1924. H.S. Armstrong, salah seorang pembantu Attatürk dalam bukunya yang berjudul Al-Zi’bu Al-Aghbar atau Al-Hayah Al-Khasah Li Taghiyyah telah menulis: "Sesungguhnya Attatürk adalah keturunan Yahudi, nenek moyangnya adalah Yahudi yang pindah dari Spanyol ke pelabuhan Salonika". Golongan Yahudi ini dinamakan dengan Yahudi "Daunamah" yang terdiri dari 600 keluarga. Mereka mengaku beragama Islam hanya sebagai identitas, tetapi masih menganut agama Yahudi secara diam-diam. Ini diakui sendiri oleh bekas Presiden Israel, Yitzak Zifi, dalam bukunya Daunamah terbitan tahun 1957. Attatürk mengubah ucapan Assalamualaikum menjadi Marhaban Bikum (Selamat Datang), melarang menggunakan busana Islam dan sebaliknya mewajibkan memakai pakaian ala Barat. Dalam tempo beberapa tahun saja, dia berhasil menghapuskan perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha serta melarang kaum muslim menunaikan ibadah Haji, melarang poligami dan melegalkan perkawinan wanita muslim dengan non muslim. Dia membatalkan libur pada hari Jum'at, melarang adzan dalam bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa Turki. Tindakan yang dilakukan oleh Attatürk ini nyata sekali telah memisahkan budaya Turki dari akar agama Islam dan menghapuskan Islam sebagai agama resmi negara Turki. Attatürk berusaha keras untuk menghancurkan para penentangnya. Dia membakar majelis-majelis, menangkap para pimpinan majelis dan juga mengawasi para ulama. Attatürk pernah menegaskan bahwa “negara tidak akan maju kalau rakyatnya tidak cenderung kepada pakaian modern”. Dia menggalakkan minum arak secara terbuka, mengubah Al-Quran yang kemudian dicetak dalam bahasa Turki. Bahasa Turki sendiri diubah dengan membuang unsur-unsur Arab dan Parsi. Attatürk mengubah Masjid Besar Aya Sofia menjadi gereja dan setengahnya untuk musium, menutup masjid serta melarang shalat berjamaah, menghapuskan Kementerian Wakaf dan membiarkan anak-anak yatim dan fakir miskin. Dia membatalkan undang-undang waris, faraid secara Islam, menghapus penggunaan kalendar Islam dan mengganti huruf Arab ke dalam huruf Latin. Attatürk mengganggap dirinya tuhan sama seperti firaun. Ketika itu ada seorang prajurit ditanya “siapa tuhan dan di mana tuhan tinggal?” karena takut, prajurit tersebut menjawab "Kemal Attatürk adalah tuhan”, dia tersenyum dan bangga dengan jawaban yang diberikan. Saat-saat menjelang kematiannya, Allah mendatangkan kepadanya beberapa penyakit yang membuatnya tersiksa dan tak dapat menanggung azab yang Allah berikan di dunia, diantaranya penyakit kulit dimana dia merasakan gatal di sekujur tubuh. Dia juga menderita penyakit jantung dan darah tinggi. Kemudian rasa panas sepanjang hari, tidak pernah merasa sejuk sehingga pompa air dikerahkan untuk menyirami rumahnya selama 24 jam. Attatürk juga menyuruh para pembantunya untuk meletakkan kantong-kantong es di dalam selimut untuk membuatnya sejuk. Maha Suci Allah, walau telah berusaha keras, tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mengusir rasa panas itu. Oleh karena tidak tahan dengan panas yang dirasakan, dia menjerit sangat keras hingga seluruh istana mendengarnya. Karena tidak tahan mendengar jeritan, para pembantunya membawa Attatürk ke tengah lautan dan diletakkan dalam kapal dengan harapan beliau akan merasa sejuk. Maha Besar Allah, panasnya tak juga hilang!! Pada 26 September 1938, dia pingsan selama 48 jam disebabkan panas yang dirasakannya dan kemudian sadar tetapi dia hilang ingatan. Pada 9 November 1938, dia pingsan sekali lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Ketika itu tidak ada yang mau mengurus jenazahnya sesuai syariat. Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuannya datang meminta ulama-ulama Turki untuk memandikan, mengkafankan dan menshalatkannya. Tidak cukup sampai disitu, Allah tunjukkan lagi azab ketika mayatnya akan dimakamkan. Sewaktu mayatnya hendak ditanam, tanah tidak menerimanya (tak dapat dibayangkan bagaimana jika tanah tidak menerimanya). Karena tidak diterima tanah, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke dalam musium yang diberi nama EtnaGrafi selama 15 tahun hingga tahun 1953. Setelah 15 tahun mayatnya hendak dikuburkan kembali, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Sampai akhirnya mayat Attaturk dibawa ke satu bukit dan disimpan dalam celah-celah marmer seberat 44 ton. Lebih menyedihkan lagi, ulama-ulama yang sezaman dengan Attatürk mengatakan bahwa jangankan bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak akan menerimanya. Naudzubillah.
Montana Dec 2016
Sticky sweet memories
cling to the side
of my mason jar mind

Like blackberry jam.

Berries plucked
and kisses stolen
beneath a sultry summer sky.

Nothing but sweat and
white teeth and
purple stained finger tips.

But now it's cold--
too cold
for blackberries.

I spread what's left
of the jam
on some dry toast

And savor the taste.
Mary Gay Kearns Jan 2019
Lemon drops and Jam face
Were two rather unusual little girls
They spent their days in a tree house
In their rather small garden
With a single white rose
And an upturned flower ***
With a plant called the ‘Bride’
An unwanted Christmas present
Yet to be planted by their father.

The two old cats had recently died
Which created a few weeks of sadness
And a house without paws or biscuit
Trays and an empty end of the couch.
Christmas now over the girls took
Some toys to the tree house
Including their iPads and drawing paper,
Pens etc...

Lemon drops had long fair bunches
And was very thin with big blue eyes
She did not like new foods and spat
Them out sometimes she was always
Drawing funny people and loved fluffy
Animals. She had a papier mâché
Enormous ladybird on her bedroom wall
She wanted to be an artist when older
Like her two grandparents.
Grandma Mary had bought her a Sasha
Doll which she had dressed once
In silver pixie boots and a red school
Dress, blue hat and cardigan.
They both loved each other.
Daddy was her best toy.

Jam cheeks bounced about with
Long golden ringlets and a big happy
Smile. She wore baby suits and a striped
Floppy hat in yellow and black.
Mummy was getting
Her some shoes to wear to avoid
Wet feet in the garden.
She loved eating her food
And made people laugh
Including mummy who she
Kissed and cuddled a lot.

To be continued...

Love Mary Grandma xxxx
Ady Sep 2014
There is a blood clot in the center of Imagination Street,
I can feel it.
It blocks the path that follows through Creative Avenue
where cars horn, roar and protest, curse and smother with
a simple look of “Move the **** on!”
And yet no paramedic can remove the jumper that
lays from austere insipid life.
It's a victim of routine they say, jumped from the nearest skyscraper
hoping to touch the sky but fell miserably on to the streets.
There is an aberration stretched over the streets, I can feel it
because it's me.
Apologies for such a long absence many things have happened above all a **** writer's block asdfd!
So er what to do? Write away the ******* block
zebra Sep 2018
have you ever seen beauty in a silky nightmare
have you  ever seen the monster of deprivation in heavens promise?

we speak of private things
we should never talk about
about vailed women
and their terrible secrets
and about myself who remains no longer a secret to myself

somewhere i went off the track
like a  daisy chain saw of honesty
to ensure you knew i was sick
a sick **** with a trick
as if i ate some ****** up hallucinogenic' s
making me spill my obsessions all over you
like some weird perfumed *****
down a swirling rainbow toilet
that turns out to be only jelly and whipped cream
wrapped in colored ribbons on cellophane tampons

i feel like  having *** or going to the toilet in public
while waving my hands up in the air
screaming yahoo i'm free
to blow to kingdom come
the temple of normalcy
you know
the church of rose gardens, cemeteries and deprivations
except of course for the sneers, smears
and self loathing vanilla demons
who wear long see through dresses and crosses
like dash board plastic virgins
with bobbing heads
that make hissing sounds about sin

i confess
i'm attracted to the darkest women
strange *******
and  ******
the stranger the better
who shake their butts
like hoodoo enchanted show girls
doing what they shouldn't do
crying and scrying like cooing moons calling
"drink me like ****** Mary
daddy **** lollypop"
all inky tats and razorblade ouchies

or
you can join those
covered in white collared black as death habits
begging the invisible *** cake in paradise
waiting for mercy and a little ****
that never comes
stuck in an empty
loveless bar of crucifixes that only serves up theology

oh baby
***** dreams do come true
pink ****** ***** gladly widen their haunches
like **** without boots
not caring if they go to hell
playin
like a joy ride of fiddle **** sticks
all freaky tongues and tingling licks
thick saliva multi lingual blow jobs
lathering flashing lipped saliva for the squirt  
with fiery wet hypodermic kisses
that make screams
like creamed upleaping lava and ash
for a million hungry sexed up twisting tongues
in occult ecstasy
fecundating shrouds of steamy clouds
in stained red black lighted rooms
with cherub crowned *****
and their drooling snatches buttered ****

eat quivering
like fowl mouthed piranhas
crying more raw meat please
while you drag your perfect person visage
into hollow caves of despair
cold and lonely

so you forlorn love struck weeping
horney pathetic scarecrow
socially engineered robots
if you want love
like heated buttery waffles with sweet jam
just give your self away like slutty putty
to lust criminals and *** addicted pervs  
until
you feel someone swallow you whole
soul and all
and lick their lips
like your their cherry pie

then look passed your
rats nest of pride and exhaustive approval list
and love them back
like free beer
bang their brains out
be their slave and make them yours
in the mad house of love
of warped shimmering mirrors, straight jackets, and squeezy insertions

and if one day they don't appreciate your imperfect perfection
if they weaponize like critic's
teach them respect
shove it where they breathe
lick your wounds
be brave
throw them in the trash bin of history
and move on

Eros and Venus
take a million forms

look around
your swimming in a giant bowl of broken hearts
hungry mouths, drenched ***** and hard *****

you whimpering little beasts
dress to ****
undress to live

its a movable feast
advice to the lovelorn young
thank you to Lora Lee for the line
" swirling toilet rainbows"
Obadiah Grey Dec 2013
Sphincter factor nine approaches
food for the fish n roaches
methinks its time for me perhaps
to open up the rearward *****.


------------------------------------
AAChoo !!

Oh, liddle sister, Josephine,
you sure don't keep your
nose real clean.
got stalactites
o' pure pea green
my infectious sibling
snot machine.
----------------------------------------
I thought that I might shoot the breeze
with God or Mephistopheles
and ask them please to ease my wheeze
of my bad back and dodgy knees
---------------------------
Croak with the raven
bluff with the crow
the urchin
the field mouse
beneath the hedgerow
in a flurry they scurry
away away go.
Yelp with the *****
howl with the hound
and bay at the moon
till the sun comes around.
------------------------------------------
Gino's bar and grill.

Away, away afore Bacchus
doles out befuddlement
and Morpheus has his way,
lest I awake to find myself
in the company of
sodamistic bedfellows
with buggery in mind.
---------------------------------
Harry Potter has grown a beard
he lives alone and turned out weird.
Dumbledore, Albus, no more
turned his toes and 'ad a snore,
Voldemort, who's *** is taut
has no nose with which to snort.
====================

Ahem !!

Behind two Lilies- sits Rose,
then Daisies
for two and a bit rows.
with Poppy, and *****
Petunia, Primrose.
and Bryony - who gets up
- my nose.
----------------------------------------------
Amen.
God bless the Cows - for beef burgers.
God bless the Pig - for their bacon.
God bless the wife n her sharp knife
for the slice of their **** she's taken.

-------------------------------------------------
We can, no more fetter the sea to the shore
nor the clouds to the sky
or tether the glint
in a lovers eye,
As sure the shore loves the sea
so shall I love thee, together,
together for eternity,

-----------------------------------

It bends for thee
sweet chevin,
the cane thats cleaved
by three,
wilt thou now
sweet chevin
yield, my friend ,
for me.
-------------------------------------------------
There's Marmalade then Marmite
and Jams thats jammed between
the buttered bread of bard-dom
a poets sweet cuisine.
---------------------------------------------
I took up campanology
and fired up my ****.
I rang that bell
to ******* hell
till the busies
came along.
--------------------------------------------
so, I've been whittling away
at a buoyant ****-
fashioned something approximating
a poo canoe-
in it, I intend to
surf the **** tsunami of old age
to-- death;
I have named it Public - Service - Pension.


----------------------------------------------

A surreptitious delightful tryst,
with my honey, my sebaceous cyst.
she's my pimple, my wart,
my gumboil consort.
she's the zip, in which
my *******, got caught.
--------------------------------------
Frayed at the bottoms
ripped at the knee.
baggy and saggy
big enough for three.
faded and jaded
and stained with ***
but I'm due for a new pair--
Yippeeeee!!

---------------------------------------

Ther­e's Cockerel in my ear
and he bills and coo's for you
whenever you are near
goes - **** a doodle doo !!!!!,,,,,,,,

---------------------------------------------

Oh,­ for the snap shut skin
in the blue twang of youth
and to un-crack the spine
on the book of love.
now the gulping years
have flown away
we take sips of the night
and are spoon fed the day.

-----------------------------

Zeus made the Moose to be somewhat obtuse,
a big deer- rather queer- I fear.
then God gave him the nod to look funny and odd
the spitting image of you - my dear !!!

---------------------------------------

Knobbly Nobby.

Nobby has a great big nose
a great big nose has he,
and nobby knows
that his big nose,
is big, as big can be,
nobby has two knobbly knees
two knobbly knees has he,
his knobbly knees,
are as knobely
as knobbly knees can be,
don’t pity dear old nobby
for soon it’s plain to see,
that nobby has a great big ****
as big, as big as three !
now nobbys **** is knobly,
as knobly as a **** can be,
so nose and knee and ****
make three,
and we - are ****- ely.

----------------------------------

The Woman that wouldn't eat meat,
had reeaally, reeaally big feet,
her **** was as big as an hermaphrodite brig
and her **** were as hard as concrete….


--------------------------------

Hearken the clarion call of the crows
afore the snow-
they caw,
hey, get your **** into gear lads-
we gotta feckin go !!!

-----------------------------

Gods pad

I took a peek within
your house
wherein on pew, I spied
a mouse,
and in his hand,
a Bible clasped,
and out his mouth,
a parable rasped,

---------------------

I'd say she had
a pigeon loft in
her eyes and
bluebells up
her nose.

But then again
I wear a flat cap

and stroll through meadows.

----------------------------

Would you care to buy our house?
It's minus Mouse n devoid o' Louse,!
Spiders, Roaches, Bugs or other,
have all been eaten by my brother,
snaffled up n swallowed down
then jus' crapped out a - yellowish brown.
so would you care to buy our house?
from an oddly pair -- devoid of nous

-------------------------

Though the Crows got her eyes
and the Worms got her gut.
comes as no surprise
death can't keep her mouth shut.

-------------------

Bevelled slick edges
and reeaal eeaasy slopes.
Chilli dip wedges
with fresh artichokes.
Wanton loose wenches
and swivel hipped ******
Daft dawgs and dentures
and granddad - who snores.

-------------------

Been whittling away at a buoyant ****
and fashioned something approximating a canoe,
in it, I intend to surf the **** tsunami of old age;
I named it, "Public service pension"

-------------------------------

.
Well,
     I could wax on the wings of a butterfly
but, I ain't that kind o' guy.
rather kick the nuts off ******* squirrels
pluck the wings off - blue assed fly.
I'm the stuff that flops off dog chops
when he's up for it and high.
an infection in your sphincter,
a well
that's jus' run dry.

----------------------------------------------

befeathered­ and bright scarlet
is my ladies bonnet,
jauntily askew and -
lilting on a paramours
grin.

"- Gladlaughffi -"

I'm reliably informed that dear ol' Muma
sported a goatee around his **** sphincter,
now, whilst this is merely educated speculation
from my esteemed friend his "groom of the stool" ! 
who was in fact required to wear a mask,
ear muffs and a blindfold whilst he went about his business,
He did possess reeaaally sensitive fingertips
somewhat akin to a blind man reading brail,,
and, swore blind that said "**** sphincter' spoke him in Arabic
and asked him for a quick trim, (short back and sides)
I myself being a practising proctologist of some repute
am inclined to believe my friend the "groom of the stool"
as I've come recognise -- Arsolian when I hear it !!!!!!!!
-------------------------------------

In a Belfast sink by the plughole
where hair and gum gunk meet
'erman the germ-man  and toe jam
bop the bacillus beat.

________

Doctor this I know as fact
that I have a blocked digestive tract,
I'm all bunged up and cannot go
my trump and pump is - somewhat slow.
I need unction jollop for junction wallop
some sorta lotion to give me motion.
If you could please just ease my wheeze
then I needn't grunt and push and squeeze.

-----------------------------

They are breaking out the thwacking sticks
and sparking Godly clogs
pulling tongues through narrowed lips
at the infidel yankee dogs.

------------------------------------

As a paid up member of the
lumpen bourgeoisie poetry appreciation society
I can confirm without fear of contradiction
that poetry is indeed baggy underwear
with ample ball room, voluminous in the extreme
and takes into account
the need for the free flow of flatulent gassiness
that is the want of a ****** up poet.

-----------------------------------------------

She's a rough hewn Trapezoidal gal
a gongoozler o' the ol' canal.
She's copper bottomed n fly boat Sal.

I'll have thee know that
that there hat
is a magic hat,
it renders me invisible
to the arty intelligentsia
and roots me firmly
in the lumpen proletariat .
-------------------------------------------------------
Said the sneaky Scotsman, Jim Blaik.
if the pension, you wish to partake,
bend over my son, lets get this thing done
and cop for this thick trouser snake !!

I met my uncle Albert,
down at Asda, in aisle three;
he got there in a Mazda,
jus' a smidgen after me,
said he'd traversed Sainsburys,
Tesco Liddle n the Spar,
but not one o' them flogged Caviar
Truffles or Foie gras.


He sidled past the pork pies
streaky bacon turkey thighs
a headin for the french fries
n forsaken knock down buys,
shimmied 'round the ankle biters;
expectant mums to be,
popin pills for bloated ills
in the haberdashery.

Fandango'd o'er the cornflakes
and the spillage in isle four

-----------------

I'm linier and analogue,
a ribbon microphone man
mired in the dust of the monochromatic,
the basement, the attic.

------------------------------

Simple simon met miss Tymon going to the fair,
said simple simon to miss Tymon - "pfhwarr what a luverly pair"
of silken thighs and big brown eyes and scrumptious wobbly bits,
Said simple Simon to miss Tymon---------- shame about you **** !!!

So sad sweet Shirl thought she'd give a whirl to clubbercise n pound

Squat, slightly,
tilt head 45°
and squint.
See the shimmering blurry
dot in the distance?
That, timorous ****,
is ME !
Fast twitching my
narrow white ****
to the pub.

There was a young lady named Sue.
whose ***** and **** was askew,
whilst taking a ****
she'd aim it and miss
and she lifted 'er hat when she blew.


Oh Mon Dieu !!

Obi.

— The End —