Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2017
sebuah ingatan*

Aku tak mungkin mampu bersanding denganmu dalam segala warna dan wangi. Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, hanya dua warna yang dapat kukenali: Merah bara meranggas dan hitam abu mengapur. Sedang wangi yang membekas dan meracuni paruku tak jauh dari getir arang serta harum menyan di sekujur tubuhmu.

Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, lelehan baja akan tetap mengalir dalam nadiku—leleh baja pula yang telah membekukan
mematikan
menyayati
Segala rasaku padamu. Tanpa warna; tanpa wangi; tanpa harap; tanpa pinta; tanpa ampun—tanpa apapun.

Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya. Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Helai rambutmu yang menggantung dan perlahan terurai enggan meninggalkan benakku meski aku terus hidup melampaui waktumu. Kedua lenganmu yang tak tertutupi apapun dan bersimbah darah masih terus menorehkan noktah pada hidupku. Dan kedua tangan kecilmu, sesekali gemetar, menggenggam erat keris ciptaanku seolah hidupmu bergantung padanya.

Seolah hidupmu bergantung padanya, kau menghunuskan keris buatanku pada dirimu sendiri.

Aku bangkit dari semadiku karena tawamu yang tak hentinya bergema ketika aku mengosongkan diriku, seolah angin yang murung, entah darimana, meniru suaramu untuk memanggilku. Semenjak kematianmu aku tak lagi dapat melakukan tapa lebih dari tiga purnama lamanya. Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama karena aku hanya dapat melukai bukan mencintai meski sesakti apapun aku di matamu, di mata mereka, di mata yang menangis.

Walau di tanah ini akhirnya didirikan lagi sebuah Pakuwuan dengan akuwu yang dahulu merupakan jelata, dunia ini tak berubah lepas kematianmu. Aku mengira suara tak akan lagi terdengar dan warna akan sirna sepenuhnya—nyatanya, tak ada yang berubah. Hanya hatiku yang kian mengeras, mengeras, dan mengeras.

Gemeresak daun tak lagi mengantarkan tubuhmu yang menguarkan wangi menyan. Ranting-ranting yang berserak tak lagi bergemeletuk karena langkahmu yang sembarangan. Dalam alamku masih terukir bagaimana kau mengeluh karena tak dapat melihat dengan jelas dan akhirnya tersesat sampai ke gubukku yang dipenuhi oleh benda-benda tajam; bagaimana dunia bagimu hanyalah segumpal warna-warna yang buram, hingga kau berujung nyasar menuju gubuk tempat belati penumpah darah dihasilkan.

Kau begitu terkejut melihatku sosokku yang di matamu pasti tak terlihat seperti apapun walau dahulu aku lebih gagah dan rambut hitamku begitu tebal. Kau hanya terkejut, itu saja. Orang lain akan membungkuk karena mereka takut pada, menurut mereka, kesaktianku—yang hanya dapat membawa kengerian pun kematian. Kukira sahabatku Bango Samparan kembali mengunjungi, nyatanya yang datang hanyalah seorang gadis yang kesusahan melihat.

Lelah berjalan, kau meminta izin untuk rehat di gubukku sejenak saja yang tanpa peduli apapun aku kabulkan. Aku tak ambil pusing atas kehadiranmu dan kembali merapal mantra serta menempa keris. Sayangnya kau membuyarkan konsentrasiku dengan balas merapal mantra serupa sebuah kidung yang dilantuntkan dalam suara yang sama sekali tidak merdu sembari memahat sebuah arca kecil di tanganmu.

Kubiarkan sudah segala baja, timah, dan tungku yang menyala. Kuambil kendi dan gelas selaku tuan rumah yang baik. Di antara air yang tertuang dan kedua wajah kita aku dapat menangkap bagaimana matamu kau sipitkan sedemikian rupa demi menangkap wajahku. Aku yakin kau tidak tahu aku tua atau muda, kau hanya tau aku seorang laki-laki dari suaraku. Aku tak ingin memberitahukan namaku, tidak perlu. Saat itu aku cukup yakin kita tidak akan bertemu lagi.

“Rapalan mantra apa yang kau lantunkan?”
“Doa yang aku rapal sendiri kala memahat.” Dan kau menunjukkan sekeranjang penuh arca-arca kecil dan hewan-hewan pahatanmu di bawah matahari yang dalam beberapa hembusan angin saja akan tenggelam. Kau memahat begitu dekat dengan matamu, dan itu menyakitkanku kala melihatnya.

“Kembalilah, gadis.” Kau hanya terdiam dan menggendong keranjangmu, lalu meletakkannya kembali sebelum meraba-raba tanah di depan gubukku untuk mencari ranting yang lebih besar.
“Matur nuwun, Kanda—?”
“Kau tak perlu tahu namaku.” Mata yang disipitkan, lalu kau menghilang di antara pepohon dan semak begitu saja. Aku menyukainya—aku menyukai bagaimana kau tak ambil pusing atas siapa diriku raib begitu saja dalam petang. Orang-orang biasanya begitu menakutiku dan wanita-wanita menjauh dariku. Mereka datang bila menghendaki senjata dalam bentuk apapun itu atau jimat sembari memohon padaku “Mpu, Mpu, tolonglah Mpu. Buatkan sekarang juga.”

Apa yang membuatku begitu menjauhkan diri dari kerumunan? Apa benar karena kesaktianku? Kesaktian ini sungguhkah mengalir dalam nadiku?

Pada petang esok harinya aku tak menyangka kau akan datang lagi dan membawakanku beberapa buah pahatan untuk kupajang sebagai tanda terimakasih. Aku tak paham bagaimana kau dapat kembali ke gubuk lusuhku dengan mata yang kau katakan tak dapat melihat dengan jelas itu. Meski mata hitam legam itu tak dapat melihat guratan pun pola yang begitu kecil, kau berusaha keras untuk menatap dan menggaris bentuk wajahku sedemikian rupa.

Lambat laun setiap hadirmu di gubukku, segala rapalan mantra serta kesaktianku luruh seluruhnya.

Penempaan keris serta tombak-tombak terhambat hanya karena kehadiranmu. Sungguh kau sumber masalahku. Entah mantra apa yang kau rapal selama berada di sebelahku. Kau sendiri juga tidak menghalangiku dari pekerjaanku—tak banyak kudengar kisah terlontar dari mulutmu jika aku tak bertanya. Hanya saja kala kau duduk pada undakan di depan gubukku, aku tak ingin melakukan hal lain selain duduk di sebelahmu. Tidak ada orang yang akan betah duduk berlama-lama dengan seorang empu yang meski menguasai kesaktiannya di kala muda, membuat senjata dengan sebegitu mengerikan dan buasnya. Hanya kawanku Bango Samparan yang kini entah kemana, aku tak tahu.

Keadaan wilayah ini sedang buruk-buruknya. Pemberontakan dan penjarahan terjadi di berbagai desa. Wanita diculik dan pria dibakar hidup-hidup, para pemberontak yang jadi membabi-buta karena terlena itu membawa senjata yang mata pisaunya berwarna merah. Aku mendengar desas-desus itu dan menatap kedua tanganku—haruskah aku berhenti dan kupotong saja dua tangan keparat ini?

Tanah sedang merah-merahnya, dan bertelanjang kaki, kau terus datang ke gubukku.
Di luar rapalan mantramu kau terbalut dalam kesunyian. Aku tak menyebutkan namaku dan kau tak menyebutkan namamu pula. Aku memanggilmu Sunya atas kesunyianmu itu lalu kau sama sekali tak mengajukan keberatan. Kau tak tahu harus memanggilku apa, dan aku dengan enggan serta waktu yang lama membuka mulutku, menimbang-nimbang apakah aku harus melafalkan namaku di hadapanmu atau tidak. Hembusan nafasmu terdengar pelan lalu kau tersenyum,
“Gandring,” satu cukilan kayu,
“Mpu Gandring yang tinggal terpencil dalam gubuknya di hutan desa Lulumbangan. Mereka bilang kau empu muda yang sakti namun begitu gila. Seluruh bilah mata pisau yang kau hasilkan berwarna merah karena kau mencampurkan sendiri darahmu di dalamnya.”
“Kenapa tidak kau katakan sedari dulu bila memang mengenalku?”
“Aku tidak mengenalmu, empu, aku hanya tahu soalmu setelah bertanya selepas tersesat.”
“Kau tahu tentangku dan terus datang tanpa kepentingan. Lihat segala kerusuhan di luar sana karena sekelompok orang dengan mata pisau berwarna merah.”
“Aku punya kepentingan untuk berterimakasih atas kebaikanmu memperbolehkanku beristirahat, Gandring.” Kau tak menggubris peringatanku di akhir.

Kulihat kakimu yang penuh guratan merah serta telapak dan pergelangan tanganmu yang dipenuhi sayat, lalu kau meninggalkanku dengan arca-arca kecilmu yang kau atur sedemikian rupa.
“Untuk melindungimu.”
Dan kau mengukir sebuah mantra pada pintu gubukku, yang aku tak tahu ditujukan pada bathara atau bathari manapun. Aku tidak tahu apa kepercayaanmu, tapi saat itulah aku mengetahui bahwa aku mempercayai kesunyian yang ada padamu.

Dalam terpejamnya mataku aku dapat mendengar arca-arca kecilmu terus menyanyi dalam suaramu. Menyanyi, merapal, dan berdoa; menarikku dari keinginan untuk lelap dan menempa lagi sebilah keris merah yang kubuat sembari merapalkan ulang doa-doa yang terlontar dari ranum bibirmu.

Pada petang yang semestinya, kau tetap datang menemuiku dengan keranjangmu yang penuh pahatan. Kau tak peduli pada pemberontak dan dedengkot penjahat di luar sana, kau terus menemuiku dalam senandika sunyimu.
“Malahan tak ada yang akan dapat menemukanku selama aku bersamamu.”
Saat itulah pertamakali, dengan abu dan darah kering di sekujur tanganku serta helai kasar rambut terpapar panas yang menjuntai terjulur dari ikatannya, itulah kali pertama aku mendekapmu dan membawamu masuk ke gubukku. Aku tak akan membiarkanmu menjejakkan kaki telanjang di tengah api membara dan tanah tergenang darah.
Kau tetap diam dalam tawananku sampai nyaris dua purnama lamanya. Aku pun terheran bagaimana warga desa dikata hidup dalam kesengsaraan di bawah tangan dedengkot itu.

Kau menatap nyala api ketika aku masuk ke dalam gubuk, kau tak memperhatikanku dan tak dapat melihatku dengan jelas,

“Sunya,” dan seiring dengan tolehanmu kusodorkan sejajar dengan dadamu sebilah keris bermata merah yang sama dengan milik para pemberontak itu. Kau melindungiku dengan secara arcamu dan kini aku yang harusnya lanjut melindungimu dengan sebilah mata pisauku.
“Kita saling membalas rasa terima kasih, Gandring?”
kau merenggut keris itu dariku, membungkusnya dengan selendang yang tergantung di pinggangmu sebelum tanpa kata-kata kau undur diri.

Dalam tidurku dapat kudengar jeritan serta lolongan dan kepanikan yang jauh dari tempatku. Aku terbangun mengusap mata dan tak menemukanmu di manapun dalam gubukku. Untuk pertamakalinya aku tak memperdulikan tatapan ngeri orang-orang yang kulalui. Tubuhku yang tinggi dan rambut yang terurai saat itupun tak menanamkan rasa iba di hati orang yang berpapasan denganku atau permintaan untuk pertolongan, namun hanya kengerian, ngeri, ngeri, dan ngeri.

Aku sampai pada pemandangan di mana segala yang ada dijilati oleh api sedemikiannya. Di antara reruntuhan kau menunduk meraih-raih dua orang wanita yang diboyong pergi oleh sesosok pria bertubuh besar namun kurus. Pria yang di elu-elukan sebagai “Ametung!” oleh kanca-kancanya. Aku masih terus melangkah mendekatimu saat sesosok pria lainnya menjambakmu tanpa ampun tan menengadahkan paksa kepalamu. Kesunyianmu berubah menjadi kepedihan dan untuk pertamakalinya di depanku kau berteriak sejadinya.

Aku masih terus melangkah mendekatimu
Dan kau tak dapat melihatku.
Aku hanya bayangan buram di matamu.
Mungkin kau mengiraku sebagai salah satu dari mereka saat itu,
Karena yang kulihat selanjutnya adalah merah mata keris yang kuberikan padamu, kau tusukkan sendiri pada perutmu dan membuat merahnya makin gelap dengan darahmu.

Mereka semua, yang membunuh dan merampas, berlarian kala melihat sosokku mendekat. Kau tetap terkulai dengan rambut berantakan, gemetar dan kedua tanganmu berlumuran darah. Aku meletakkanmu di pangkuanku dan mendekapmu sembari menekankan tanganku pada perutmu untuk menghentikan darahmu.

Kesaktianku,
Kesaktianku tak ada artinya.
Kesaktianku hanya dapat mematikan.

Kau kembali dalam kesunyian setelah merapal namaku berulang kali dan terbata-bata berkata,
“Berhentilah beriman pada kehancuran dan kematian, gunakan kesaktianmu untuk kebajikan. Janganlah kau hidup dalam kesendirian dan kesengsaraan, Gandring.”
Dan sungguh kau telah kembali pada kesunyianmu.

Setelah itu tak ada lagi kesunyian tiap aku bertapa. Setelah itu tak ada sunyi pada sepi hidupku. Hatiku yang sempat membara laksana kobar api kembali padam dan mengeras sekeras leleh baja yang telah membeku. Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya.

Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Leleh baja akan terus mengalir dalam tubuhku, lalu membeku, hingga aku tak dapat lagi bergerak. Akan menjelma pisau dan dipotongnya diam-diam tubuhku dari dalam, akan dicabiknya segala kasih purbawiku padamu. Hingga ia tak lagi berbentuk dan mengeras dalam timbunan tanah yang merasuk melalui hitam kukuku. Dan timah serta mata pisau yang terlahir dari kedua tanganku, tak ada dari mereka yang akan peduli pada segala macam kesaktian di jagat raya ini.

Maka bila kelak aku bercermin pada ciptaanku, kesaktianku kusumpahi akan luruh seluruhnya.
Dan dengan itu, hidupku akan berakhir di liku keris yang kubentuk sebagaimana lelehan baja mematikan kasihku.


                                                      ­ //////////////////

“Empu, aku datang untuk mengambil keris yang aku pesan.”
“Arok, keris yang kau pesan masih jauh dari sempurna.”

Aku masih duduk bersila membelakangi pria muda yang mendatangiku, berusaha bertapa dan merapal mantra yang terukir pada pintu gubukku, sembari terus menggenggam keris yang dahulu pernah memasuki tubuhmu; merasakan hangatnya kedalamanmu.

Arok, menyambar kerismu dari tanganku,

“Empu tua bangka!”

Darahmu yang mengering pada keris itu
Bercampur dengan darahku.
Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama
Tapi kini darahku dan darahmu akhirnya dapat menyatu padu.
Aku tak perlu lagi hidup melampaui waktumu.


Januari, 2017
Untuk seseorang yang akan memerankan Mpu Gandring di pagelaran esok Maret.
Noandy Dec 2016
Sebuah cerita pendek

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.

                                                     ­            ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi. Tapi kau tidak selalu terbangun. Kadang hanya ragamu saja yang terbangun, sedang jiwamu entah di mana.  Kadang juga aku merasakan adanya dirimu, tapi kau tak dapat ditemukan di sekitarku. Aku dapat menemukanmu, sepertinya, dalam Wiegenlied milik Brahms yang biasanya mengantarmu menuju tidur yang lelap—sebagaimana acara anak-anak mengalunkan lagu itu menjelang pukul delapan malam.

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Kau ingin selamanya tertidur. Pernah suatu saat, di antara kepulan bau thinner dan cat kayu yang tak kunjung hilang, kau mendekatiku dan berkata,

“Aku tahu sekarang kenapa kau ingin mati.”
“Aku ingin mati?”
“Aku tahu, aku ingin mati—juga.”

Aku bergurau,

“Ya sudah. Nantinya juga kita semua akan mati.”

Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan biolamu dan lebih memilih tertidur, kenapa kau memilih meninggalkan kita semua dan mengunci dirimu, kenapa kau hanya terbangun sesekali di jam dan waktu yang tidak umum. Semua orang mencarimu, dan tak ada yang tahu apakah kau adalah kau ataukah sekedar tubuh tanpa jiwa—mayat yang hidup. Kurasa kau sudah menjadi mayat hidup sejak kau katakan hal itu padaku. Kuharap kau juga memberi tahu alasan mengapa kau ingin tak bertubuh dan tak berjiwa.

Kau menggerogoti dirimu dari dalam, Dis. Kau melantunkan nina-bobo yang mengerikan untuk dirimu sendiri. Sebuah lagu pengantar tidur yang musik dan liriknya berisi pemujaan pada kematian yang kau dambakan. Berapa kali harus kukatakan kalau kita akhirnya nanti mati juga?

Minggu lalu kita berbincang panjang—tak jauh dari perihal tubuh, jiwa, dan takdir. Kau terlarut pada sekumpulan cerita H.P. Lovecraft yang kau pinjam dariku, dan senantiasa kau bawa tidur karena baunya mengingatkanmu padaku. Sepertinya bukan hanya bauku yang meracunimu tapi kisah-kisahnya pula. Herbert West: Reanimator, dan Hawa Dingin. Kau berpikir dan berandai jika tubuh yang tak lengkap dan seluruh organnya tak berfungsi, masih memiliki kemungkinan untuk bertahan apabila diawetkan dan jiwanya ada. Bagaimana kita tahu jika jiwa itu ada, Dis? Apa bedanya dengan roh? Apa pertandanya?

Tapi aku tetap saja larut dalam lamunanmu. Lebih baik kau terus berbicara daripada tertidur atau teler karena hal-hal yang kau teguk sembarangan di malam sebelumnya saat tak dapat terlelap. Lebih baik kau terus berbicara, aku suka mendengarkanmu berbicara karena derap suara yang kau lantunkan berjalan selangkah sama dengan milikku.

Entah apa akhir pembicaraan kita tentang roh dan jiwa itu, aku tak dapat mengingatnya. Yang samar-samar kuingat adalah, kau secara tidak langsung mengatakan bahwa yang terpenting dari sebuah kehidupan bukanlah tubuh—selama jiwa itu ada.

Lalu semenjak itu aku tak melihatmu mendatangi latihan lagi. Memang aku tak selalu memperhatikan latihan aktor yang bukan merupakan porsiku dalam pagelaran ini, tapi saat istirahat menggarap properti dan menjelajah kantin atau intip-intip para aktor yang latihan, tak juga kutemukan ragamu di sana. Apa kau ada di sana, mengikuti latihan  tapi tak ada yang dapat melihatmu? Memangnya ini cerita supernatural dan kau sedang melakukan proyeksi astral?

Semua orang membutuhkanmu untuk terus melanjutkan peran yang kau mainkan, Dis. Tapi apakah mereka peduli padamu? Aku tak seberapa yakin. Aku merasa mereka hanya memperdulikanmu atas dasar kepentingan itu, dan tak sepenuhnya menelisik masalah yang menggerogotimu dari dalam. Memang beberapa kali kau merasa malas, tapi aku yang bekerja di belakang panggung dengamu sejak tahun lalu ini percaya kalau kau tidak ingin tidur karena malas. Kau ingin tidur karena ingin jiwamu saja yang hidup, tubuhmu sudah terlalu lelah atas luka-luka dan lebam yang sudah sejak lama bersarang padanya, dan atas sesuatu yang menghabisinya dari dalam.

Malam itu, saat semua orang mengutuk namamu dan ketidakhadiranmu, aku tertunduk dan menyembunyikan mata di bawah topi hitamku—sesekali mencuri pandang ke jendela. Ada perasaan yang menyiratkan padaku bahwa kau juga sedang menoleh ke arah jendela, dan entah kenapa, aku mendadak berdiri  menuju balkon lantai dua—tiba-tiba aku takut jika kau sedang memiliki pikiran untuk lompat dari jendela kamarmu.

Mereka terus mengutuk namamu dan bagaimana kau mengecewakan, serta menyulitkan mereka. Tapi mereka tak pernah berusaha menghubungimu. Mereka hanya mengandalkanku dan Erma untuk terus mencarimu. Tidak ada yang peduli, Dis, tidak ada. Semua menyendirikanmu. Kau pun seolah tak peduli dengan mereka, sulit dihubungi melalui apapun.

Itulah yang membuatku bergegas menuju tempatmu—menaiki tangga darurat yang pengap tanpa jendela itu sampai ke lantai sepuluh. 1007, kamarmu. Setelah beberapa kali ketukan lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras pintu kamarmu sampai akhirnya kau bukakan dengan enggan. Celana pendekmu, kaus merah tidak karuan, kakimu yang terluka dan matamu, membara merah menyambutku. Jendela terbuka, angin menyelonong masuk dan menghantarkan bau alkohol serta asap rokok yang tersisa sedikit saja. Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummu—parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.

Aku tidak tahu kau habis menangis atau tidak, tapi aku menangis. Dan aku juga tidak tahu jelas mengapa tiba-tiba menangis. Bisa jadi karena aku begitu lega bisa bertemu denganmu, mungkin juga karena semua beban untuk mencarimu dibebankan padaku serta Erma sehingga emosiku lepas begitu saja saat bertemu denganmu. Aku tidak tahu. Aku langsung mendorong pundakmu untuk menyingkir dari pintu dan masuk tanpa izin. Alih-alih menghentikanku karena masuk tanpa permisi kau membiarkanku dan mengikutiku. Aku melihat buku Lovecraft-ku tergeletak di samping bantalmu dan seantero ruangan kacau balau.

Kita saling terdiam, dan tanpa mengucapkan sepatah kata, aku mencari sapu dan membereskan tempat tinggalmu.
Aku tak keberatan, kita sesama orang berantakan yang terserak dan sudah diatur untuk menata satu sama lain.

Angin terus berhembus dari jendela  dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau ambil beberapa batang lilin dan nyalakan mancis sehingga deretan lilin itu terjejer membatasi kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah lilin dan kau lakukan hal yang serupa.

“Tubuh yang sempurna bukanlah hal yang berarti untuk kehidupan.”
“Tanpa roh dan jiwa tubuh tak akan bisa bergerak, begitu?”
“Ya. Makanya, yang terpenting adalah jiwa. Bahkan dalam tubuh yang tidak sempurna seseorang dapat hidup—seperti para penyandang disabilitas.”
“Lantas mengapa orang-orang meregang nyawa karena tubuhnya terluka hebat?”
“Karena tubuh itu memberi celah bagi jiwa untuk merembes keluar.”
“Berarti jiwa butuh tubuh untuk dapat terus bertahan, kan?”
“Tubuh ini bukanlah cuma badan. Bisa saja sebuah benda lain yang mampu menampung jiwa. Lagipula roh dan jiwa dapat mengembara kemanapun.”

Aku, belum sepenuhnya paham hubungan antara tubuh dan jiwa dan roh versimu, memilih diam dan mengalihkan topik dengan membujukmu untuk kembali ke kampus dan datang latihan untuk pagelaran yang akan kita tampilkan, semua orang mencarimu.

Kau mendorong jauh mancismu sehingga masuk ke kolong laci lalu mengangguk lemah. Melihat tubuhmu menjadi jauh lebih kurus, aku tak tega mendesakmu terlalu jauh. Aku berniat mengambilkan mancismu dan menyadari bahwa kau menyembunyikan tas biolamu di bawahnya sehingga aku turut mengambilnya. Kala aku merogoh, aku ingat mendengarmu berkata lirih “bagaimana jika kita hidup tanpa tubuh?” sehingga aku menyahut,

“Maksudnya tanpa tubuh?”
“Tubuh dan jiwa sebagai dua hal yang terpisah. Tapi jiwa dan roh tetap satu.”
“Tapi kalau terpisah, menurutku jiwa atau roh akan hilang sepenuhnya karena tidak ada yang menahannya. Seperti wangi yang lambat laun menguap.”
“Bagaimana jika kubilang  kita sedang dikerumuni oleh jiwa-jiwa tak bertubuh?”
“Hah, apa, Dis?”
“Seolah jiwa dan tubuh itu terpisah saat sedang tidur. Aku ingin tahu apa kondisi itu juga bekerja pada kematian. Aku ingin tahu mati itu seperti apa rasanya—apakah seperti tidur—dan lebih lagi, aku ingin membuktikan apabila yang dibutuhkan bukanlah tubuh yang sempurna. Jiwaku yang penuh sesal ini menggerogotiku dari dalam. Waktu demi waktu. Perlahan-lahan.”
“Sudah, Dis. Tidur saja, kamu terlalu penat. Jangan ingin mati dulu, nanti kita juga akan mati kok.”
“Bersama-sama?”

Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur. Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku.

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.
Aku mematikan perekam suara pada ponselku, dan entah kapan, aku tertidur. Jendela masih terbuka karena dapat kurasakan semilir anginnya. Langit hitam tak menyegarkan. Hitam bak tidurku tanpa mimpi.

03.40

Aku kedinginan dan terbangun. Lilin-lilin sudah memendek dan mati tertiup angin, kau tak ada di sebelahku. Jalan menuju jendela kuraba dengan memegangi perabot, aku memegangi jendela dengan kedua tanganku untuk ditarik ke bawah. Kepalaku otomatis kukeluarkan sejenak untuk melihat pemandangan sekitar dan apa yang sedang terjadi di dunia bawah.

Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak. Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun.

Bercucuran keringat dingin aku menyeka luka di dahimu agar tak lagi terlihat darahnya dan aku dapat naik kembali ke kamarmu tanpa perlu dicurigai.

Sesampainya di kamarmu aku terduduk dan menggerayangi lantai mencari mancismu. Aku menyalakan semua lilin dalam bentuk lingkaran mengelilingi kita. Kupeluk jasadmu dan kubiarkan darah dari kepalamu terus mengucur di tanganku.

Tuhan, jangan biarkan ia mati.
Aku tahu tak akan mungkin ia dapat kembali ke dalam tubuhnya yang telah memberi celah bagi jiwa untuk keluar ini.
Aku tak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Dan akhirnya tertidur kekal sebelum waktunya. Jangan tidur dulu, Dis,
Jangan tidur dahulu sebelum waktunya.
Sungguh aku tak paham apakah kau masih di dalam ruangan ini atau sudah hilang, sirna sepenuhnya. Seperti wangi seperti wangi seperti wangi.

Darahmu
Darahmu
Darahmu
Memenuhi tanganku.

Jangan pergi, jangan pergi.
Aku membersihkan lukamu dan membalut perban yang kudapat dari kotak P3K dengan meraba-raba wastafel di dekat dapur.
Aku membersihkan lukamu meski tak dapat rasakan nafasmu lagi.

Ponselku menyala, dan memutar sebuah rekaman tanpa aku menyentuhnya.

04.44

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Akhir rekaman.*
Aku tertidur memeluk jasadmu.

08.23

Angin masih masuk dari  jendela yang tak jadi kututup. Aku melepaskan jasadmu dan mengambil biola yang tergeletak dengan tangan berlumur darah. Memainkan Wiegenlied—Lullaby.

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan secara resah dan basah,

“Sudah kubilang, percepat temponya.”

Aku terkesiap, namun tak menoleh ke arah jasadmu. Kuteruskan bermain dengan peluh bercucuran dan gesekan tak karuan, menghapus darah yang mengering di tanganku.

“Ternyata memang sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku. Bahkan  setelah terlepaspun, ia masih saja merintih penuh sesal dan tanya.”

Not terakhir,
Aku menoleh,

Mulutmu menganga dan mengatup seolah mencari nafas, menganga, menganga
Matamu tak berkedip menatapku, terlentang, memandang lurus ke arahku.
Ke arah jendela, langit yang biru, angin, nyanyi,
Lalu kau kembali tertidur.

                                                      ­           ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi.
Untuk.. Kau tahu untuk siapa.
Noandy Jan 2017
Sebuah cerita pendek*

Saat itu mereka sering menonton Mak Lampir di televisi, dan mulai memanggil wanita yang merupakan nenek kandungnya dengan nama yang sama.

Nenek itu punya nama, dan jelas namanya bukan Lampir. Tapi apa pedulinya anak-anak itu dengan nama aslinya? Mereka tak pernah mendengar nama nenek disebut. Mereka sendiri yatim-piatu, dan dahulu, orangtuanya tak pernah mengajarkan nama nenek mereka. Tapi begitu melihat Mak Lampir di teve, mereka langsung mendapat ide untuk memanggil nenek sebagai Mak Lampir. Rambutnya nenek putih panjang dan tiap malam dibiarkan terurai, ia sedikit bungkuk dengan kedua tangan yang terlihat begitu kuat dan cekatan. Matanya senantiasa melotot—bukan karena suka marah, tapi memang bentuknya seperti itu. Yang terbaik dari nenek, meski giginya menghitam sudah, nenek selalu berbau harum karena suka meramu minyak wanginya sendiri. Mereka tidak takut melihat Mak Lampir—mereka justru kagum karena sosok itu mengingatkan pada nenek yang selalu menjaga mereka.

Si nenek sama sekali tidak keberatan dengan julukan itu, ia malah merasa nyaman. Disebut sebagai Mak Lampir membuatnya merasa seperti orang tua yang sakti, hebat, dan serba bisa. Nenek adalah Mak Lampir baik hati yang selalu mengabulkan permohonan cucu-cucunya, serta memberi mereka wejangan. Jenar dan Narsih sayang dan berbakti pada nenek. Nenek—yang sekarang berubah panggilan menjadi Mak—adalah dunia mereka. Dua gadis itu dapat menghapal tiap lekuk pada keriput Mak, menebak-nebak warna baju apa yang akan dipakai Mak pada hari mendung, bahkan mereka ingat betul kapan saja uban-uban Mak mulai bermunculan.

Mak awalnya tidak menyukai, bahkan hampir membenci, dua anak gadis yang harus diurusinya. Ia terlalu tua untuk melakukan hal ini lagi. Wanita  yang sudah tak ingat dan tak ingin menghitung usianya lebih memilih kembang-kembang di taman ketimbang Jenar dan Narsih.  Mak lebih memilih segala tanaman yang ada di rumah kaca sederhananya ketimbang dua cucunya.

Tapi saat sedang menyirami bunga matahari dan membiarkan Jenar serta Narsih bergulingan tertutup tanah basah, Mak merasa seolah ada yang membisikinya, “Sama-sama dari tanah, sama-sama tumbuh besar. Dari tanah, untuk tanah, kembali ke tanah.” Wangsit itu langsung membawa matanya yang sudah sedikit rabun namun tetap nyalang pada sosok dua cucunya yang sudah tak karu-karuan, menghitam karena tanah.

Sejak saat itulah Mak menganggap Jenar dan Narsih sebagai kembang. Sebagai kembang. Sebagai kembang dan seperti kembang yang ia tanam dan kelak akan tumbuh cantik nan indah. Harum, subur, anggun, lebur. Perlahan Mak mulai meninggalkan kebun dan rumah kacanya, perhatiannya ia curahkan untuk Jenar dan Narsih, yang namanya Mak singkat sebagai Jenarsih saat ingin memanggil keduanya sekaligus. Jenarsih dijahitkannya baju-baju berwarna, diberi makanan sayur-mayur yang sehat, diajarkannya meramu minyak wangi, bahkan diberi minum jamu secara terjadwal sebagaimana Mak menyirami bunga.

Kebun Mak perlahan-lahan melayu dan makin sayu. Saat matahari mengintip, tidak ada bebunga yang tergoda untuk mekar. Semuanya redup dan meredup, mentari pun meredup pula di kebun Mak. Karena sirnanya kembang dan embun, Mak tak lagi bisa memetik dari kebunnya untuk membuat wewangian khasnya. Mak jadi sering menyuruh Jenarsih untuk memborong bunga.

Tapi sebagaimana ada gelap ada terang, selepas kebun yang muram, kau akan memasuki beranda rumah di mana matahari tak henti-hentinya bersinar. Bagian dalam rumah yang ditinggali seorang nenek ranum dan cucu-cucunya itu melukiskan hari cerah di musim penghujan.

Di musim penghujan
Di musim penghujan
Musim penghujan
Membawa mendung dan kabut yang menyelubungi mentari.

Narsih jatuh sakit, ia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah
Darah merah
Darah
Merah
Jenar selalu di sisinya dan melarang Mak untuk mendekat karena takut tertular.

Mak, meski tak lagi dapat menghitung umurnya, mati-matian menawarkan Jenar agar mau digantikan oleh Mak saja. Umur Mak tak bakal sebanyak Jenar, mending Mak saja yang di sisi Narsih, katanya. Tapi Jenar tak mau tahu, ia lebih memilih berada di sisi kembarannya ketimbang menuruti perkataan Mak yang biasanya tak pernah ia bantah. Semenjak itu mentari tak lagi menyembul. Kebun telah mati, rumah kaca tak lagi rumah kaca, beranda dingin, dan setiap hari adalah penghujan yang tak pernah mau pergi.

Hijau dan jingga hangat berubah menjadi rona kehitaman dalam hijau pucat. Ranting-ranting serta daun memenuhi jalan. Sesekali Mak mengantarkan makanan ke depan pintu kamar Jenarsih, tapi sebagian besar usia senjanya kini dihabiskan mengurung diri di kamarnya setelah Jenar ikut membatukkan darah.

Di suatu sore Mak tidak memperdulikan apapun lagi. Ia menghambur masuk ke kamar Jenarsih dan bersimpuh di bawah kasur kedua cucunya. Jenarsih tak punya tenaga lebih untuk menghalangi Mak, mereka hanya punya satu permintaan. Satu keinginan yang kira-kira dapat membuat mereka merasa lebih baik.

Dengan tersengal-sengal,
“Mak Lam, Jenar dan Narsih ingin bunga matahari.”
“Akan Mak belikan segera di pasar kembang.”
“Ndak mau, Mak. Ingin yang Mak tanam seperti dulu.”
“Nanti menunggu lama,”
“Kami ingin itu, Mak.”

Mak tak membalas berkata. Hanya mengangguk lemas dan bergegeas meninggalkan kamar kedua cucunya, bunga yang telah layu. Di tengah hujan, dengan punggung sedikit bungkuk, tangan yang kuat, wanginya yang digantikan oleh bau tanah, dan gigi yang menghitam meringis menahan tangis, Mak Lampir berusaha menghidupkan kembali kebunnya yang mati. Mak Lampir seolah mau, dan dapat membangkitkan yang mati.

Tapi Mak Lampir tak dapat menyembuhkan.

Segera dibelinya bibit bunga matahari, dan di tanam dalam rumahnya yang kini sunyi.

Mak Lampir sudah tak dapat mengolah minyak bunga yang membuatnya selalu harum,
Sudah tak dapat meminta Jenarsih untuk membeli bunga yang mewarnai rumah mereka,
Sudah tak dapat melihat warna selain hijau, hitam, dan coklat.

Mak Lampir, menangisi kebun yang dahulu ditinggalkannya.

Apa untuk mendapatkan sesuatu selalu harus ada yang dikorbankan? Dan kini kebun, kembang, ranting, dan rumah kaca menuntut balas?
Diam-diam Mak menyelinap ke kamar Jenarsih, diambilnya darah cucu kesayangannya dan ia gunakan untuk menggantikan wewangian yang kini tak dapat ia buat lagi—salah satu cara yang ia gunakan untuk mengingatkannya bahwa Jenarsih masih ada bersamanya.

Mak Lampir sudah tak tahu berapa lama waktu berlalu selama ia hanya memperhatikan bunga matahari milik Jenar dan Narsih. Bunga itu, entah karena apa, tak dapat tumbuh. Mungkin Mak telah kehilangan tangan hijau dan kemampuannya untuk berkebun. Mak kembali ke rumah dan melihat Jenar serta Narsih masih terlelap tak bergerak, lalu ia ambil lagi sebotol kecil darah untuk menjaga wangi tubuhnya.

Ia tahu itu akan membuatnya sakit, dan hal ini akan dapat membuatnya merasakan penderitaan Jenarsih. Wanita tua yang rambut putihnya memerah karena darah kedua cucunya itu terheran-heran mengapa ia tak merasakan sakit di manapun kecuali di hatinya. Pedih di hati saat melihat Jenarsih.

Dibelinya lagi lebih banyak tanah dan bibit bunga matahari. Mak Lampir harus menemukan ramuan yang tepat untuk menumbuhkan bunga matahari yang sempurna. Bunga matahari hasil tanamnya sendiri yang akan membuat Jenarsih baikan. Mak tidak membawa jam, apalagi kalender. Mak hanya mengandalkan matahari untuk menyirami bunga mataharinya sendirian di rumah kaca kecil kumal sambil memakan dedaunan kering.

Di tengah malam, Mak yang kuat menitikkan air mata pada ***-*** bunga matahari di hadapannya. Berbotol-botol kecil minyak wangi dari darah Jenar dan Narsih perlahan ia teteskan pada *** yang tak kunjung berbunga juga. Perlahan, perlahan, perlahan. Lalu lambat laun menyesuaikan dengan jadwal menyiram bunga matahari yang seharusnya.

Dari tanah kembali ke tanah,
Dari tanah untuk tanah,
Dari tanah kembali ke tanah.

Desir angin menggesekkan dedaunan, membuat Mak mendengar bisikan itu lagi dan terbangun.
Mak mengusap matanya yang seolah mencuat keluar dan melihat bunga-bunga matahari berkelopak merah menyembul, mekar dengan indah pada tiap potnya. Hati mak berbunga-bunga. Bunga matahari merah berbunga-bunga. Matahari Jenarsih berbunga-bunga.

Tangan kuat Mak segera menggapai dan mencengkram dua *** tanah liat dan ia berlari memasuki beranda rumah yang pintunya telah reot. Dari jauh sudah berteriak, “Jenar, Narsih, Jenarsih!!”
Mak seolah mendengar derap langkah dari arah berlawanan yang akan menyambutnya, tapi derap itu tak terdengar mendekat. Maka berteriaklah Mak sekali lagi,

“Mak bawa bungamu Jenarsih! Bunga matahari merah yang cantik!”

Lalu Mak dorong dengan pundaknya pintu kamar Jenarsih yang meringkik ringkih,
Mak terdiam memeluk *** bunga,
Jenarsih terlelap seperti terakhir kali Mak meninggalkannya,

Sebagai tulang belulang semata.

                                                            ///

Aku menutup laptop setelah menonton ulang episode Mak Lampir Penghuni Rumah Angker yang aku dapat dari internet—episode yang membawaku kembali ke masa kecil saat Misteri Gunung Merapi masih ditayangkan di teve, dan aku menonton dengan takut. Di tengah kengerianku, ibu malah menceritakan kisah tentang Mak Lampir dan bunga matahari yang diyakininya sebagai kisah nyata.

Sekarang episode sinetron itu tak lagi membuatku bergidik, malah tutur ibu yang masih membekas. Kisah itu seringkali terulang dalam alam pikirku, terutama saat melirik rumah reot tetangga di ujung jalan yang dipenuhi dengan bunga matahari merah.


Januari, 2017
Noandy Jan 2016
Hotel Saudade*
Sebuah cerita pendek*

“Ceritakan padaku,”
Aku yakin semua orang pernah mendengar perintah, atau permintaan itu; diikuti dengan waktu senyap dan getir setelah diminta untuk bercerita dan mencoba menata tutur sedemikian rupa. Menata tutur untuk menyanyikan, dan menuliskan (jika dalam surat,)  pengalaman, senda gurau, romansa, kehilangan,
Rindu, yang entah bagaimana caranya,
Sepi.

Beberapa mengakui bahwa setelah bercerita, mencurahkan isi hati, mereka merasa lega seolah ada beban yang terangkat. Tapi, cerita tidak hanya dapat diutarakan hanya dalam bentuk sepatah kata, sepanjang tangis, pun dalam tawa. Pada sebuah perjalananku (pertamakalinya aku berpergian sendiri, menggantikan ayahku untuk merancang dan menggambar iklan salah satu perusahaan kenalannya.) Aku bertemu seseorang yang memutarbalikkan pandanganku mengenai cerita pengalaman pribadi.
Aku tak tahu siapa dirinya,
Aku belum tahu siapa dirinya—
Namun pria ini mengaku bahwa ia tak memiliki cerita,
Cerita apapun.

Inilah cerita yang kupunya untukmu, cerita yang aneh,
Bukan aneh dalam artian mengerikan.
Malam itu kereta sampai terlalu larut, dan niatanku untuk mencari penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota telah lenyap; aku sudah lelah. Sebenarnya aku dapat datang besok, tapi aku memilih untuk datang 2 hari lebih awal dari hari yang dijanjikan agar dapat bersantai.

Aku menjinjing tasku keluar stasiun dan membenarkan topiku, melihat kanan dan kiri dengan was-was sebelum bertanya pada orang-orang sekitar apakah ada penginapan di sekitar sini. Kau tahu betapa canggungnya aku bila bertanya ini dan itu, aku tak biasa berpergian sendiri! Namun karena keadaan mendesak, ya beginilah jadinya. Aku mendapat rujukan bahwa dengan berjalan kaki (sedikit jauh, tapi tak sejauh bila harus menjelajah malam atau menjadi angkutan untuk ke pusat kota) aku dapat sampai ke sebuah penginapan yang namanya terlalu puitis—Hujung Malam.
Apa maksudnya? Penghujung malam?
Apalah yang ada dalam sebuah nama, yang penting aku dapat tidur tenang malam ini, dan berganti penginapan keesokan harinya!

Dinginnya malam kala itu membuat mantel dan bajuku yang berlapis mejadi tidak berguna. Aku sedikit berlari melintasi trotoar yang digenangi beberapa kubangan air kecil, terlihat bak emas disinari pantulan lampu jalan. Sesekali menggosok lensa kacamata bulatku dengan sarung tangan hitam yang kukenakan. Ranting-ranting gemeretak, seolah merasakan juga dingin yang menusuk tulang. Setibanya di sana, aku tidak menyangka bahwa bangunan penginapan satu lantai ini terlihat lebih tua (tapi sangat terawat) dan lebih besar dari kelihatannya. Aku diantar ke kamarku yang terletak pada lorong yang tepat mengelilingi sebuah taman besar.

Setelah mempersilahkan keluar pegawai penginapan yang terlalu ramah bagiku, aku membuka pintu dan memperhatikan keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja kecil. Sebuah pohon besar berdiri gagah di sudut taman, pada bagian tengahnya terdapat air mancur yang dikelilingi patung-patung pualam kecil; malaikat, anak-anak, dan bidadari tak berhati.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekitar (yang tak biasanya kulakukan) dan barulah aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Tidak, tak ada hantu.

Hanya ada sayup-sayup suara harmonika tak sumbang, yang dimainkan dengan tepat dan sedih pada pedihnya malam dingin.
Aku tahu lagu ini,
Greensleeves.
Lagu zaman Tudor itu, lagu orang-orang yang ditinggalkan.

Aku menoleh seolah digiring oleh angin yang baru saja berhembus, beberapa kamar kosong (kupikir itu kamar kosong, lampunya dindingnya tak menyala) duduk seorang pria berambut panjang, digelung rapi ke belakang, hanya mengenakan kemeja dan rompinya.

Ia ramping, namun pakaiannya tidak lebih besar dari tubuhnya dan justru terpasang pas pada tubuhnya. Rambut bagian depannya yang panjang dan tak ikut terikat rapi ke belakang berjatuhan, membingkai tulang pipinya yang terlihat jelas. Pria itu sibuk dengan alat musiknya dan memejamkan matanya tanpa menyadari kehadiranku. Aku juga sibuk, sibuk memperhatikannya bermain dan mengingat bagaimana Greensleeves selalu menyayat hatiku. Ini kali pertamanya aku mendengar lagu itu dimainkan pada harmonika.

Setelah ia menyelesaikan musiknya, aku menyapa dari kejauhan sambil memegangi gagang pintu kamarku,
“Greensleeves?”
Ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh atau menjawab, duduk di kursi depan kamarnya dengan kaki kanan disila pada lutut kaki kirinya. Aku hanya dapat melihat hidungnya yang mancung dan matanya yang dibayangi gelap, ia terlihat cantik, dan sepi. Setelah menunggu sedikit lama dan masih tetap diabaikan, aku menghangatkan diriku di kamar. Aku akan berpindah penginapan besok siang.

Ternyata esok berkata lain.
Aku membuka pintu kamarku untuk sarapan dan mendapatinya lagi di tempatyang sama, seolah ia tidak beranjak semalam suntuk.
“Selamat pagi,” sapaku canggung.
“Kau selalu di sini?”
Ia tidak menjawab, hanya menatapku, dan saat itulah aku melihat matanya yang tidak lebih redup dari matahari senja di laut kala mendung.

Ia tidak menjawab, dan aku malah menggeret kursi dari depan salah satu kamar kosong untuk kutempatkan disebelahnya. Kami duduk bersebelahan dalam diam, hanya ditemani rintik hujan yang tak hentinya menghujat; ia mulai memainkan harmonikanya.

Aku beranjak untuk sarapan, dan memperpanjang masa sewa kamarku sampai beberapa hari ke depan.

Setelah aku kembali, ia masih tetap duduk disana, benar-benar tak berpindah dan terus memainkan harmonikanya. Aku tak dapat memperhatikannya lebih lama, aku harus beristirahat dan bersiap-siap untuk besok.

Hari berikutnya tidak banyak yang berubah, pagi masih tetap dirundung hujan dan pria itu masih duduk termenung menghadap taman. Aku bergegas untuk sarapan sebelum pergi ke kota dan menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pria yang tak beranjak dari tempatnya. Ada yang bilang bahwa ia dulunya buronan, teman pemilik penginapan yang lalu diberi tempat tinggal disini. Yang lainnya mengatakan bahwa ia dahulu pelancong yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam penginapan setelah diberi kamar oleh bapak pemilik penginapan yang terkesima olehnya.

Sepulang dari kota aku mengeringkan payungku yang basah kuyub dan mantel yang bagian depannya basah karena terkena air dari kereta kuda yang mendadak lewat didepanku. Bagian bawah gaunku penuh lumpur, dan aku tak tahu apa jadinya sepatuku ini. Aku tak ambil pusing dan kembali keluar kamar untuk sekali lagi mencari tahu tentangnya.
Entahlah, ada hal yang membuatku merasa tertarik. Mungkin karena lagu Tudor itu, mungkin karena ia sama sekali tidak berbicara dan beranjak dari kursi kecil itu. Hanya sesekali melepas ikatan rambutnya, dan membuka jam kantungnya.

Aku sekali lagi menduduki kursi yang kuletakkan di sebelahnya, dan langsung melontarkan pernyataan dan pertanyaan,
“Mereka bilang kau dulunya buronan,” ia terus memandangi jam kantungnya,
“Kenapa kau selalu duduk di kursi ini?”
Aku kira ia takkan menjawabnya, namun malah sebaliknya.
“Memangnya kau tahu kalau aku selalu di sini?”
“Karena aku selalu melihatmu di sini.”
“Itu hanya sebagian bukan keseluruhan.” Ia mengangkat bahunya. “Karena kau selalu melihatku duduk memandangi taman bukan berarti aku selalu melakukannya.”

Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik yang biasa kita lihat, jarum jamnya berputar secara terbalik.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” aku mencoba mengajaknya berkenalan.
“Aku membuatmu teringat akan apa?”
“Apa? Entahlah.”
“Bukannya kau berlagak seolah mengenalku? Mengatakan aku selalu di sini.”
“Kau mengingatkanku pada senja di laut saat mendung.”
“Kalau begitu, namaku Laut. Aku selalu di sini seperti laut, kan? Ia tidak berpindah dari tempatnya.”

Percakapan kami terhenti di situ karena hujan makin deras dan aku harus kembali ke kamar untuk menyegerakan gambarku. Aku tidak ke kota lagi esok hari, dan menghabiskan waktu menggambar iklan itu di kursi kecil yang menghadap taman tanpa sepatah katapun, disamping orang yang mengakui dirinya sebagai Laut dan dibawah lindung hujan deras. Kami tidak berbicara pun berbincang, tapi aku menikmati kesepiannya seolah ada rindu yang belum dilunasi.
Tapi entah mengapa aku justru memulai pembicaraan,

“Ada yang bilang kau pelancong, apa kau mau bercerita sudah pergi ke mana saja?”
“Kau jarang berpergian?”
“Sangat.”
“Kau jarang berpergian, dan aku tak punya cerita.”
“Tak punya cerita?”
“Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak akan ada yang merasakan sebuah cerita seperti penuturnya.”
Aku menyelesaikan gambarku, dan bersiap untuk menyetorkannya keesokan harinya.

Sore hari setelah aku kembali ke penginapan dengan keadaan yang sama, basah, terguyur hujan. Senja dalam hujan kembali ku habiskan bersamanya tanpa sepatah kata dan ia kembali memainkan nada-nada pada harmonikanya. Lagu yang sama dengan yang diputar oleh jam kantungnya. Lagu soal sunyinya malam ditengah laut, menunggu rintik dan bulan yang tak kunjung datang.

“Lagu apa itu? Sama seperti di jam yang kemarin.”
“Pesan Malam.”
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Aku yang membuatnya, wajar kau tidak tahu.”
“Sayang lagunya pendek, lagu yang indah.”
Ia hanya mengangguk,
“Aku akan pulang besok. Terima kasih telah menemaniku disini.”
Ia tak menjawab, dan terus memainkan harmonikanya tanpa menoleh. Seperti suara rintik hujan yang tak tentu, bingung akan apa yang ia tangisi, pria disebelahku tak memiliki cerita, tak bisa bercerita. Namun ia dapat berkisah, kisahnya tertuang pada lantunan nada dan lagu-lagu yang ia mainkan. Aku memejamkan mata, mendengarnya fasih menyihir suara menjadi sebuah fabel dan parabel, berharap dapat menyisihkan kisah-kisah yang tak diutarakan secara tersurat dan harfiah.

Aku undur diri untuk tidur lebih awal, dan menulis sebuah pesan dalam secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mengingat dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Dalam hening tidur malamku, ada sebuah lagu yang berulangkali dimainkan tanpa henti. Lagu di penghujung malam, lagu sunyi laut. Aku terbangun, dan dentingnya masih berputar dalam kepalaku.
Sayangnya aku harus kembali sebelum jam 12 esok hari, dan ketika terbangun, aku sayup-sayup sadar akan ketukan halus di pintu kamarku. Aku membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata pada keadaan yang sama sambil meluruskan gaun malamku. Hujan masih rintik, malam masih gelap, lampu-lampu menyala beberapa saja, dan hanyalah satu perbedaan; pria itu tak duduk pada kursi kecilnya.

Aku kembali masuk, linglung. Siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Tanganku meraba gagang pintunya yang sudah menghitam dan saat itulah aku melihat sebuah jam kantung tergantung lesu pada lampu dinding didepan kamarku. Jam kantung yang selalu ia lihat, yang jarum jamnya berputar terbalik.

Tidurku tak kulanjutkan. Aku mengutak-atiknya sesperti yang ia lakukan tadi, dan menyadari bahwa bukan hanya ada satu lagu di situ, namun beberapa lagu pendek. Tiap lagu memiliki suasanya dan warna nada yang berbeda, membangkitkan berbagai macam bentuk ingatan dan kisah-kisah yang dapat kita bayangkan sendiri tanpa dipacu cerita dari siapapun. Hanya sebuah lagu, dan seuntai suasana.

Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan. Aku ingin berpamitan padanya dahulu, mengembalikan jam kantungnya, dan berterimakasih atas kisah-kisah yang ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman. Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari taman serta koridor untuk mencari tanda-tanda kehadirannya untuk hasil yang nihil.

Ketika aku menuju serambi depan penginapan barulah aku melihatnya lagi, di ujung koridor, menatap kosong kearahku lalu tersenyum simpul. Senyum yang tak lama langsung sirna. Ia dibalut jas yang biasanya hanya ia selampirkan di kursi kecil dan ia mengurai rambutnya. Aku menyematkan secarik kertas kecil pada telapak tangan kiri beserta jam kantungnya, namun ia enggan menerima jam kantung yang kukembalikan.
“Simpan, dan jaga baik-baik.”
“Aku akan kembali.”
“Kembali kemana?”
“Ke tempat ini.”
“Untuk apa?”
“Bertemu denganmu. Lagi.”
“Bagaiamana kalau aku sudah pergi?”
“Aku akan tetap datang kesini.”
“Terserahmu.”
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan.
“Aku tidak paham puisi.”

Aku tak menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Sebagaimana ia memberi pesan di malam hari, aku mengirimkan secarik surat dalam bentuk sajak;

Untuk pesan malammu,
Yang tiap barisnya menari
Perih dalam benak,
Biarkan tanyaku dirundung rindu
Dan menjadi alasan
Untuk tertawa pada angan yang terlalu luluh
Mereka berhantu,
Dan akan kembali—
Sebagai sesayat serpih
Untuk melabuhkan kisah yang lain
Dalam seuntai surat malam

Memang tidak ada perlunya aku kembali, sayangnya lagu itu berputar-putar terus di kepalaku. Seolah nada-nadanya nyata mengirimkan pesan dan kisah yang berubah pada tiap bunyinya; fana, hanya dalam benak.

Mungkin cerita memang tidak selalu harus diutarakan secara tersurat begitu saja; akan banyak emosi yang terkikis habis, tidak tersalur secara utuh dalam penyampaiannya. Kisah yang disampaikan akan mati. Namun dalam lagu-lagu yang ia pahat abadi dalam jam itu, dan yang ia lantunkan dengan alat musiknya, ia menggiring hati yang tersesat dalam imaji untuk menguraikan kisah-kisah sendiri berdasarkan benak serta pedih. Dan tiap lembaran kisah itu,
Mereka membara,
Dalam kasih dan hidup yang belum pernah kita jalani,
Bahkan sekalipun.

Aku akan kembali, setelah membawa kidung-kidungnya pulang bersamaku. Bukan kembali pulang, namun kembali menemuinya di kemudian hari. Aku yakin, percaya, ia akan tetap disana—Menatap taman dan hujan. Entah bermimpi, entah bercerita dalam asa. Karena ia seperti laut, yang selalu disana dalam gelagap rindu, selalu ada dalam dahaga dan dan sejuknya malam. Juga seperti hujan, yang datang kala sepi dan tak kunjung pulang jua. Menemani dengan gesit suaranya, dalam tiap rintih fana.

Aku akan kembali,
Dan ia akan ada di sana.
Noandy Jan 2016
Pondok Pancawarna*
Sebuah cerita pendek*

Apa aku harus menyesal pindah rumah? Tak ada anak seumuranku di sini. Tak ada penjual susu yang lewat tiap pagi, atau gelak tawa dari permainan sore hari. Aku sedih, tapi itu bukan masalah besar, mungkin. Toh tahun depan usiaku beranjak 15 tahun, aku tak punya waktu untuk banyak bermain. Rambut keritingku yang dipelihara ibu ini juga nantinya akan kupotong, aku tak mau berulangkali dikira sebagai perempuan di tempat tinggalku yang baru.

Tahun depan usiaku 15 tahun, dan aku takkan punya waktu untuk banyak bermain lagi. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku dengan bermain di jalanan sampai sore hari. Sayangnya lingkungan ini terlalu asing untukku. semua jalannya terlihat sama dan terlalu besar, terlalu banyak rumput liar dari rumah-rumah kosong yang jaraknya terlalu jauh, dan dedaunan pohon menjuntai bak rambut kasar nenek tua.

Sayangnya lingkungan ini terlalu asing,

Dan aku tak punya pilihan lain selain menjelajahinya
Dengan senang hati.
Jangan bilang ibuku.

Ibu dan mbah selalu melarangku berjalan sendirian di luar saat pagi-siang-sore-malam semenjak pindah ke rumah yang terlalu besar ini, terlalu sepi ini. Mungkin untuk alasan keamanan. Aku tidak sebodoh itu untuk harus bertanya kenapa. Dan karena aku tidak sebodoh itu, aku tidak menyukai cara mereka—Wanti-wanti dari mereka agar aku tak berkeliaran sendiri.

Mereka bilang dahulu jalan besar di depan sana adalah tempat tengkorak para jawara-jawara pembela negara dikuburkan, dan tiap sore akan terlihat pria-pria muda dengan baju berlumur darah merokok serta makan-makan daun sambil bermain catur di pinggiran jalan.

Mbah tambah berkata kalau di perempatan sebelah rumah ini, apabila aku bermain sendirian, aku akan dikejar-kejar oleh serdadu kompeni tak berkepala yang akan menebas kepalaku, atau membawaku untuk disembunyikan.

Aku tak takut pada hantu-hantu bekas perang itu, aku juga tak tertarik pada mereka.
Kesalahan ibu dan mbah, dalam menakut-nakutiku, adalah menceritakan sebuah kisah yang, entah benar atau tidak, justru membuatku tertarik untuk mendekati sumbernya.

Di ujung gang, yang jalannya sedikit menurun, terdapat sebuah rumah kayu yang dijuluki oleh warga sekitar sebagai Pondok. Padahal, menurutku bentuknya tidak seperti Pondok. Rumah itu tidak buruk, justru didepannya terdapat taman besa. Sebuah gerbang mawar besar memagarinya; di taman indah itu, hanya terdapat lima jenis bunga bermekaran. Aku tak tahu jenisnya apa saja, yang kuingat dari cerita itu, pokoknya terdapat warna merah, ungu, biru, kuning, dan yang paling aneh, sebuah mawar hitam. Aku tak tahu bagaimana mawar hitam dapat tumbuh di tempat seperti ini. aku bahkan tak tahu kalau ada mawar yang berwana hitam.

Mereka menyebut rumah itu Pondok,
Pondok Pancawarna.
Pondok milik seorang pelukis yang kata orang-orang kakinya buntung.

Karena tak memiliki objek untuk dilukis, dan tak bisa keluar mencarinya, mereka bilang pelukis itu menarik gadis-gadis kecil dengan bunga yang indah di tamannya, lalu menyekap mereka dalam Pondok itu sampai ia puas melukisnya. Hal ini diceritakan setelah aku mendengar pembicaraan ibu saat membeli sayur pagi hari 2 minggu lalu, setibanya dirumah aku langsung menanyakannya soal cerita itu.
Seram?

Aneh, bukan seram. Memangnya seorang pelukis baru bisa melukis bila ada objeknya?

Kalau ingin membuatku berhenti berkeliaran dan bermain sampai larut malam di daerah baru, seharusnya mereka memberi alasan yang bagus dan masuk akal. Bukan malah menakut-nakutiku dengan sesuatu yang ditakuti anak perempuan.

Nah, malam ini aku akan menyelinap. Aku ingin mencari tahu mengenai pelukis itu; lumayan, aku dapat mencari kesenangan disela malam-malam yang selama ini selalu jenuh.

Setelah aku yakin ibu dan mbah terlelap dengan memperhatikan apa semua lampu sudah mati, aku melepas baju tidurku dan mengambil kemeja lengan pendek putih yang kupakai tadi pagi, celana pendek hitam, dan suspender yang biasanya kupakai setiap hari. Aku keluar lewat—Ini sebenarnya jendela atau pintu, sih? Bentuknya seperti jendela, terlalu besar, dan memiliki gagaing pintu—Aku keluar lewat jendela-pintu di kamarku yang langsung mengantarku ke serambi kanan rumah yang terlalu besar ini. Tanpa sepatu, aku berlari-lari kecil ditemani lampu jalan yang remang-remang dan rambut pohon yang menjuntai menuruni jalanan lebar nan sepi, menuju Pondok Pancawarna di ujung jalan.

Aku sampai didepan pagaarnya. Pagar besi hitam yang ditengahnya terdapat gerbang dari semak-semak mawar. Aku mendorog pagar yang ternyata tidak terkunci itu, berderit pelan, dan perlahan masuk. Kenapa tidak dikunci? Apa memang ia bertujuan untuk menarik anak-anak yang penasaran kemari? Dan sekarang, sejauh mata memandang dibawah bulan sabit yang temaram, aku hanya melihat hamparan taman bunga yang indah didepan sebuah rumah kayu tua yang mulai berlumut. Seperti kata mereka, dalam remang aku dapat melihat bahwa bunga didalam sini hanya memiliki 5 warna—mawar, yang jelas, bunga sepatu, lavender, violet—Entah apa lagi, aku hanya mengenali itu. taman ini terlihat makin gelap karena tak ada bunga yang berwarna putih. Aku mengambil sebuah ranting panjang yang patah, dan mengibas-ngibaskannya seolah itu adalah pisau untuk memotong dahan-dahan yang menghalangi jalan, aku seorang penjelajah.

Aku melihat taman dari ujung-ke-ujung, sampai akhirnya berhenti ketika aku mencoba untuk mencari jalan menuju belakang Pondok—
Di sana lah aku melihatnya,
Dengan sebuah lampu ublik yang ia letakkan di sebelah cagak kanvasnya,
Ia duduk pada sebuah kursi roda kayu,
Sambil terus melukis dan menoleh ke arahku.
“Nak?”
Ia memutar kursinya,
Dan kakinya tak ada—Tak ada dalam artian, benar-benar tak ada. Seolah tak ada apa-apa lagi setelah bagian bawah perutnya.
“Sedang apa kau kemari? Tak ada yang berani kesini, lho.”
Ia tidak tua seperti yang kubayangkan, tidak setua mbah, dan mungkin hanya beberapa tahun di atas ibu. Kemeja biru bergarisnya terlihat kusam di bawah mata sabit rembulan.
Aku terus mengayun-ayunkan ranting yang kupegang.
“Tak apa, aku hanya penasaran. Kukira bapak cuma sekedar cerita. Ibu dan mbah biasanya menakut-nakutiku.”
“Apa menurutmu aku terlihat seperti orang jahat?”
“Tidak. Bapak terlihat seperti—”
“Ya?”
“Orang sedih, pak.”
“Lho, mengapa?”
“Karena bapak melukis  sendirian jauh dari orang. Aku punya teman yang selalu menggambar sendirian saat sedih.”
Bapak itu hanya tertawa. Dan memanggilku untuk melihat lukisannya lebih dekat.
“Ada apa dengan kakimu, pak?”
“Ini Memento Mori. Kau tahu apa itu?”
“Apa itu?”
“Pengingat kematian.”
Aku melihat lukisannya—Seperti tamannya, aku hanya mengenali lima warna pada lukisannya.
“Datanglah lagi bila kau mau. ”

Ketika aku datang esok pagi, setelah beli sayur bersama ibu dan mbah, (aku menyelinap setelah mereka masuk ke rumah) ia tak ada disana. Aku mencoba kembali malam hari, dan saat itulah aku sadar bahwa ia selalu melukis tiap malam, dan entah berada di mana saat pagi. Aku mulai mengunjunginya tiap hari, tiap minggu, sewaktu kesepian dan suntuk melandaku.

Aku mulai hafal pola-pola lukisannya, gurat-guratan garisnya yang abstrak. Ia tidak pernah menggunakan warna yang tidak ada pada tamannya, seolah cat yang ia dapat berasal dari bunga-bunga yang ia tanam. Yang ia hancurkan, dan renggut warnanya.
Pada suatu malam yang anehnya tidak dingin, justru sedikit hangat, ia bertanya,
“Apa yang kau lihat di lukisan-lukisanku, nak?”
“Hmm.. Apa ya.. Warna yang dicampur-campur.. Lima warna.. Garis putus-putus..”
“Ini warna-warna dan suara masa lampau.”
Aku menatapnya penasaran,
“Kau masih ingat Memento Mori?”
“Pengingat kematian?”
“Kakiku yang hilang ini bukan hanya pertanda agar aku selalu mengingat kematian. Tapi agar aku tak bisa melupakan, dan meninggalkan masa lampau.”
“Maksud bapak, agar tak bisa meninggalkan tempat ini juga?”
“Ya, ini tempat dimana aku kehilangan banyak hal, kehilangan orang-orang yang kukasihi. Aku ingin tetap bersama jiwa mereka di Pondok ini. Rumah tua reot kami yang sudah lumutan.”
“Apa ini ada hubungannya dengan bunga yang hanya memiliki lima warna?”
Ia meletakkan kuasnya dan memutar kursi rodanya menghadapku, lalu melonggarkan kerah kemeja putih lusuhnya; aku lebih suka kemejanya yang biru bergaris.
“Aku dahulu tinggal dengan empat orang anakku, dan istriku. Ia sangat suka berkebun, dan menanam enam bunga sesuai warna kesukaanku kami. Ia sangat cantik, tak banyak memikirkan soal dirinya. Pada suatu hari, nak, ketika ia pergi ke pasar pagi buta, mendung semilir, dan aku masih menemani anak-anak yang belum terbangun—Badai terjadi. Kami lindung didalam rumah sedangkan—Entah apa jadinya pada istriku dan ibu-ibu yang ke pasar pada pagi hari. Yang kutahu, ketika hujan mulai reda dan semuanya kembali seperti sedia kala, taman kami sudah tak berbentuk, kacau. Pepohonan semua tumbang, jalan-jalan dipenuhi lumpur, dan entah berapa lamapun aku menunggu,
Ia tak kembali dari pasar pagi itu.
Cuaca sangat buruk, dan untuk keluarga di daerah terpencil seperti ini, flu bukanlah penyakit yang mudah, nak.”
“Kau kehilangan keempat anakmu karena flu, pak?”
“Tepat sekali, dan setelahnya, aku mencoba menghidupkan mereka dalam warna-warna yang mereka sukai. Lima warna yang mereka gemari di pekarangan kasih ini. Tapi entah bagaimanapun, mawar putih yang kutanam untuk istriku, di tanah hitam yang sedih dan lembab ini, mendadak menunjukkan bercak-bercak hitam yang makin menyebar ke seluruh kelopaknya. Seolah alam bahkan tak mengizinkanku untuk mengenang dan bertemu lagi dengannya,
Seolah kami takkan pernah bersatu lagi.”
“Aku tak tahan, nak. Aku ingin pergi dari sini. Tapi jika aku pergi, siapa yang akan merawat bunga-bunga ini dan mengenang, mengasihi mereka di gelap sana? Aku berusaha keras mengurungkan niatku, dan untuk memaksa diriku agar tak pergi,
Aku memotong kedua kakiku.”
“Apa tetangga-tetanggamu tak berpikir kau gila, pak?”
“Tentunya. Hal terakhir yang kuingat dari mereka hanyalah kursi roda kayu ini.”
“Mereka menuduhmu menculik anak-anak.”
“Aku tak pernah menculik mereka, mereka datang sendiri, dan aku memperlakukan anak-anak itu sepantasnya.”
“Dasar, gosip ibu-ibu.”
Cerita mengerikan itu terus menghantuiku. Tapi aku tak dapat berhenti mengunjunginya. Aku kasihan padanya, bapak itu pasti kesepian;

Sama sepertiku.

Setahun hampir berlalu, dan minggu depan usiaku akan menginjak 15 tahun. Aku akan dikirim untuk tinggal bersama ayah di ibu kota, dan harus meninggalkan tempat ini.
Aku mengkhianati keinginanku untuk tidak banyak bermain dan mulai menjadi anak yang serius,
Aku tidak ingin kehidupan dewasa yang terlihat sepi dan penuh sesak serta hambar,
Aku masih ingin bermain.

Semalam sebelum ulang tahunku, aku melesat ke Pondok Pancawarna. Aku bersembunyi diantara semak bunga biru sampai pak pelukis menemukanku.
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Sembunyikan aku, pak! Sampai dua hari ke depan?”
“Apa? Mengapa? Mbah dan ibumu akan mencarimu!”
“Aku tak ingin jadi orang dewasa yang sedih dan membosankan, aku masih ingin bahagia dan bermain! Besok lusa ayah akan menjemputku, dan aku harus ikut dengannya untuk belajar di ibu kota—Dengan seragam yang pucat dan kehidupan yang ketat.”
“Bukannya kau pernah bercerita akan memotong rambut keritingmu itu dan berhenti bermain-main.”
“Itu hanya untuk menghibur sepiku—”
“Jangan membohongi dirimu, nak.”

Aku menoleh melihat lukisannya—Lukisan yang biasanya abstrak. Meskipun tidak jelas, aku dapat melihat bahwa itu adalah lukisan Pondok ini, dengan hamparan taman harum dan 4 anak yang bermain riang bersama orangtua mereka, berlarian di pekarangan.

“Kuharap aku dapat bersenang-senang seperti yang lukisanmu itu.”
“Hei, ayolah, jangan murung. Kau harus senang dapat bersama orangtuamu.”
Aku hanya membenamkan wajahku dalam lututku.
“Baiklah, kau boleh menginap untuk dua hari ke depan.”

Pak pelukis menggiringku masuk sambil memutar roda kursinya; ia mempersilahkanku untuk tidur di kamar anaknya, dan minum teh malam sebelum terlelap. Aku biasa melakukannya dengan ibu, mbah, dan ayah; tapi semenjak pindah kemari dan ayah harus berada di ibu kota, ibu dan mbah tidak lagi mengajakku minum teh sebelum tidur

Keesokan harinya aku terbangun, cahaya matahari menyinari jendela kamar yang sedikit berdebu ini, namun terlihat lebih indah dan menarik daripada tadi malam. Mainan dan buku berserakan dibawahnya. Kakiku sedikt nyeri saat tak sengaja menginjak empat batang krayon yang tergeletak di karpet. Aku mencari pak pelukis, tapi sebelum menemukannya aku mendengar tawa riang anak-anak.

Aku berlari ke pintu depan yang letaknya kuraba-raba; aku tak tahu. Tadi malam kami masuk lewat pintu belakang. Pintu depan berhasil kucapai, dan dengan melindungi mataku dari sinar matahari pagi, aku beranjak keluar untuk melihat sebuah keluarga bahagia; empat orang anak dan sepasang suami istri bermain, berlari riang pada sebuah pelataran mengenakan mahkota bunga.
Sang ayah, dengan kemeja biru bergarisnya dengan mudah kukenali,
Itu pak pelukis, tapi ada yang berbeda dengannya.
Ia berdiri pada kedua kaki, dan berdansa dengan riang bersama istri serta anak-anaknya,
Tangannya terulur, ia mengajakku untuk bergabung dengannya,
Dan aku menyambutnya.

Kami berdansa, berdendang, dan makan enak sepanjang hari. Saat malam, aku mencoba untuk melewati gerbang mawar dan mengintip keadaan rumahku; tapi tak bisa. Yang kulihat selepas gerbang mawar adalah hamparan taman yang sama, lebih besar dan luas dari ini.

Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, tapi tak bisa.
Seolah ada kain kasar tebal yang membatasi antara aku dan taman selanjutnya.

Keesokan harinya kami masih bermain, bersenang-senang. Aku semakin akrab dengan empat orang anak yang pakaiannya berwarna sesuai dengan kesukaan mereka, dan dapat dengan mudah mengambil hati istri pak pelukis.
Tapi, malam ini,
Saat aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, di depan tirai kain tebal itu;
Yang kulihat adalah wajah ibu.
Wajah ibu, mbah, dan ayah yang panik serta berteriak seolah memukul-mukul tirai kain.
Aku menoleh ke belakang,
Istri pak pelukis memanggilku untuk makan malam.
Pagi hari setelahnya kami masih terus berdendang, dan berbahagia bersama. Tapi ini sudah esok lusa, dan aku harus pulang karena pasti ayah sudah kembali ke ibu kota dan tak akan ada yang mengambilku lagi.
Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, didepan tirai kain tebal itu;
Aku masih tak dapat melewatinya,
Tapi sekarang aku tak melihat taman bunga, ataupun wajah ibu dan mbah yang terlalu dekat—
Aku melihat ruang tamu rumahku,
Dengan ibu, mbah, dan ayah duduk termenung menundukkan kepalanya.
Aku menoleh ke belakang,
Pak pelukis mengajakku bermain lagi; empat anaknya, serta beberapa anak lain, berlari mengejar, menarik tanganku untuk tinggal bersama mereka.

Tinggal dan berbahagia di Pondok Pancawarna untuk selamanya.
Sorry for writing in my native language lately ^^
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
Noandy Jan 2016
Cerita Pendek Tentang Hantu*
Sebuah cerita pendek*

Anak-anak muda itu bilang bahwa Sundari cumalah hantu. Bagi mereka, Sundari sekedar cerita orang-orang tua zaman dahulu yang tak ingin anak lakinya pergi sampai larut malam. Parahnya lagi, mereka terkadang menganggap Sundari isapan jempol dan menggunakan namanya sebagai ejekan. Berbagai lelucon mereka buat untuk merendahkan Sundari,

Mereka pada saat tertentu menganggapnya seperti hewan kelaparan yang bersembunyi dan siap menerkam mereka,

Ketakutan sesaat.

Sayangnya, pada hari-hari berikutnya, Sundari malah terkadang lebih rendah daripada hewan.

Jika binatang buas dapat sewaktu-waktu muncul dan menyantap mereka dengan mudah, para pemuda justru berpikir bahwa mereka lebih tinggi dan mulia dibanding Sundari sehingga ia hanya akan menjadi segelibat penampakan.

Sundari cuma monster dan angan-angan, katanya, di zaman seperti ini mana ada hantu penculik jejaka. Pikiran anak muda memang berbeda dengan kebanyakan orangtuanya.

Padahal, Sundari sama seperti kita.

Sundari bukanlah siluman, hantu, atau makhluk mengerikan yang layak dijadikan lelucon semata.

Apalagi bahan cerita setan dan sarana menakut-nakuti bocah.

Dengar baik-baik, ia tidak terbang, ia tidak menghilang. Ah, Sundari bahkan tak punya kemampuan macam itu.

Sundari berjalan dengan dua kaki, melihat dengan dua mata, dan dapat memelukmu dengan dua tangan hangatnya. Yang mungkin berbeda adalah hati Sundari yang entah di mana sekarang. Inilah yang membuat ibu-ibu dengan anak lelaki begitu menakuti Sundari. Mereka yakin bahwa Sundari-lah yang akhir-akhir ini menculik buah hati mereka yang pergi malam, lalu menghilang selama satu minggu dan ditemukan gundul tanpa nyawa,

Tanpa hati,

Pada suatu sore yang hangat di padang ilalang dekat dusun.

Beberapa mengira bahwa Sundari adalah perwujudan pesugihan atau tumbal yang mengincar jawara-jawara muda, seperti andong-andong pocong yang dahulu sempat marak. Dahulu, pergantian kepala dusun di sini dilakukan dengan adu kekuatan. Para sesepuh percaya bahwa teh dari seduhan rambut pemuda dapat memperkuat diri dan meningkatkan kekebalan, ini menjadi salah satu spekulasi motif Sundari selain tumbal-tumbalan itu. Beberapa berpikir kalau Sundari menjual rambut lelaki muda di desa demi mendapatkan keuntungan baginya.

Kalau di antara gadis-gadis belia nan jelita yang bergelimang asmara, Sundari kerap digunakan sebagai sebutan untuk penyerebot kekasih orang. Terkadang huruf i di hilangkan, sehingga menjadi Sundar saja.

“Dasar, dia memang Sundari!”

“Padahal telah lama kita menjalin kasih, kenapa ia harus jatuh ke tangan Sundar macam dirinya!”

Apa Sundari begitu buruk hingga namanya lekat dengan orang serta kasih yang hilang?

Padahal dahulu Sundari hidup tenang,

Memang dahulu ia juga sumber perhatian,

Tapi ia hidup tenang dan dihujani kasih—

Yah, itu sebelum dusun ini akhirnya mengadili sendiri suaminya yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Menurut mereka, sangat tidak masuk akal seorang wanita pintar, seperti Sundari yang bekerja sebagai pendidik, memiliki suami yang lebih muda darinya. Pemuda berambut panjang itu hidupnya mungkin berkesan asal-asalan. Dandanannya serampangan, rambutnya berantakan dan panjang; padahal di dusun ini, sangat wajar bagi lelaki untuk memiliki rambut panjang. Banyak yang bilang tubuhnya bau tengik, dan ia jarang terlihat bekerja. Pada kedua tangannya, sering terdapat guratan-guratan warna. Berbeda dengan para petani pekerja keras yang terkadang tangannya diwarnai oleh tanah, warna-warna yang ada pada tangannya merupakan warna cerah yang tak mungkin didapatkan secara alami. Namun Sundari dan suaminya tetap dapat hidup dengan layak dan nyaman menggunakan upah mereka. Pasangan itu tak pernah meminjam uang, tak pernah mencuri.

Tak di sangka, orang-orang di dusun yang memandang bahwa agar dapat hidup berkecukupan harus digandrungi serta ditempa dengan kerja keras yang dapat dilihat oleh semua orang memandang bahwa dalam rumah tangga itu, hanya Sundari yang bekerja keras melayani suaminya. Sedangkan sang lelaki, menurut mereka, ambil enaknya saja dan kesehariannya sekedar leha-leha di teras rumah kayu mereka sambil merokok sebatang dua batang.

Mereka, terutama para bujangan, mencari-cari kesalahan pasutri bahagia itu.

Mereka kembali memanggil-manggil dan menggoda Sundari yang makin merapatkan kerudung hijau yang biasanya ia selampirkan apabila berjalan ke sekolah tiap pagi dengan kebaya sederhananya. Para bujang itu dipimpin oleh  Cak Topel yang istrinya lumpuh dan selalu ia tinggal sendiri dirumah. Mereka menungguinya tiap pulang, dan menghalangi jalannya kembali kerumah. Pernah sekali suaminya mengantarnya ke gedung sekolah reot itu, dan menungguinya sampai pulang. Sedihnya, ditengah perjalanan pulang ia babak belur dihajar  pemuda-pemuda berbadan besar itu—Setelahnya, Sundari melarangnya untuk sering menampakkan dirinya di depan warga dusun.

Yang harus dikagumi di sini adalah sifat pantang menyerah mereka. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjungkalkan Sundari dan suaminya dalam fitnah, sampai akhirnya mereka mencium sesuatu yang janggal dari rumah senyap mereka.

Bau tengik,

Ada yang bilang, jenis pesugihan macam tuyul sebagus apapun tetap akan mengeluarkan bau tengik atau busuk.

Mereka mulai menyambungkan hal ini dengan warna pada tangan suami Sundari,

“Itu tidak mungkin didapat dari bekerja di ladang.”

“Warna-warna itu pasti ramuan dukun.”

Dari situ, dapat dipastikan bagaimana Sundari dan suaminya dapat selalu hidup berkecukupan bahkan dengan uang mereka yang pas-pasan. Bujang-bujang berbadan besar itu segera menyebarkan cerita dan tuduhan-tuduhan yang membuat telinga panas. Sundari dan suaminya makin menarik diri dari warga dusun. Sundari bahkan berhenti mengajar setelah menemui kelas-kelas yang seharusnya ia ajar seringkali kosong, dan menemukan tatapan-tatapan sinis para ibu rumah tangga mengintipnya dari depan pagar kayu sekolah yang alakadarnya itu.

Entah kita harus bersyukur atau tidak, persembunyian itu tidak berlangsung lama. Pada sebuah malam bulan purnama yang lembab dan becek, Sundari melihat bola-bola cahaya dari jendela rumahnya yang ditutupi oleh anyaman jerami. Nyala api itu berasal dari berpuluh obor warga dusun yang berteriak-teriak dan menuntut Sundari dan suaminya agar mengaku bahwa mereka menggunakan pesugihan.

Sundari keluar sembari menyelampirkan kerudung hijaunya, diikuti suaminya yang rambutnya digelung tak rapih. Belum sempat mereka mengucapkan sepatah kata, para bujang menarik suami Sundari dengan menjambaknya dan melamparkannya ke tanah becek, menendangi pertunya, lalu menghajarnya seolah ia binatang peliharaan yang tak pernah patuh pada majikannya. Sundari hanya dapat menjerit dan menariki baju sejumlah laki-laki yang menghunuskan kepalannya pada tubuh kecil dan rapuh orang yang dicintainya. Setinggi apapun ia berteriak, suaranya seolah tenggelam dalam arus deras kebencian yang tak berdasar.

Jeritan untuk orang yang dikasihi itu lambat laun berubah menjadi jeritan untuk dirinya sendiri. Istri Cak Topel yang lumpuh rupanya merayap di tanah dengan sigap seolah laba-laba berkaki seribu, dan menarik bagian belakang kebaya Sundari sampai ia terjerembab ke tanah di mana ujung matanya menangkap sang suami yang rambutnya digunduli tanpa ampun dengan alat yang tak pantas. Saat menyaksikan adegan romansa sedih tersebut, wanita-wanita dusun menjambaki rambutnya, menampari pipinya dan menghajarnya tanpa ampun sambil menghujaninya dengan ludah-ludah mereka yang menasbihkan berpuluh hujatan menyayat hati. Setelah pasutri itu terkulai lemas di tanah musim hujan, barulah warga membumihanguskan mereka berdua yang tangannya tetap bergandengan.

Nasib naas, entah harus disyukuri atau tidak, menimpa suaminya yang terbakar hangus sepenuhnya. Sedangkan Sundari, dengan tubuhnya yang telah setengah terbakar, berhasil kabur dan hilang dari peredaran untuk beberapa saat.

Untuk beberapa saat,

Sampai lelaki yang menggoda, menghajar, membawa mereka pada keterpurukkan semuanya hilang satu persatu, termasuk Cak Topel.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau ronda, dan ditemukan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Orang-orang bilang bahwa ini Sundari yang menuntut balas. Meskipun entah di mana dirinya berada, ia masih tetap menghantui. Membayang-bayangi dengan perasaan bersalah yang menyakitkan bagi seluruh warga dusun,

Karena

Sundari dan suaminya tidak pernah melakukan pesugihan.

Dan, ah, itu cuma tipu muslihat para bujangan yang cemburu dan bersedih karena tak bisa mendapatkan Sundari dalam dekapan mereka sekeras apapun mereka berusaha. Entah sudah berapa lelaki dan lamarannya ditolaknya, ia justru jatuh hati pada pelukis bertubuh kecil yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

Bagaimana amarah mereka tidak tersulut?

Seandainya warga dusun lebih mengenal bau cat dan minyak untuk melukis, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk menuduh Sundari dan suaminya terkait pesugihan.

Ah, coba mereka masuk ke rumah kayu kecil itu sebelum main hakim sendiri. Mereka tak akan sekaget itu saat menemukan gubuknya penuh dengan cat dengan bau tengiknya, tumpukan kertas dan bahan bacaan, serta lukisan-lukisan yang masih dikerjakan.

Hilangnya para bujangan lalu diikuti dengan hilangnya murid-murid sekolah menengahnya, dan lelaki muda lainnya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ini.

Sundari tidak berhenti.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau berjalan di pematang sawah, saat menantang diri mengaku “tidak takut dengan Sundari itu!” lalu ditemukan dengan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Sundari menyukai kerudung hijaunya yang hilang kala malam,

Kerudung tipis indah yang digunakan untuk menutupi kondenya—Yang direnggut paksa darinya lalu hangus rata dengan tanah.

Tapi Sundari lebih menyukai kehadiran,

Kehadiran suaminya dan tangannya yang bekerja melukis diam, kehadiran kerudung hijau yang melindunginya dari tatapan tajam, kehadiran murid-murid lelakinya yang dengan polos melontarkan lelucon serta godaan-godaan untuk Ibu Guru Sundari mereka, kehadiran anak-anakmu yang sombong.

Sundari menyukai kehadiran, dan itu merupakan alasan lain mengapa ia menggundul habis lelaki yang diculiknya, lalu mengupulkan rambut mereka yang ia sambung, anyam, serta kenakan dengan nyaman bak kerudung dan mantel bulu.

Maka dari itu, orang-orang yang melihatnya terkadang bilang kalau Sundari cumalah hantu; bayang-bayangnya selalu muncul dalam bentuk segumpal rambut menjelang malam.

Sundari lebih suka kehadiran,

Keadilan.

Tapi apa membalas dendam seperti ini juga salah satu bentuk keadilan?

Entahlah, ini pilihan hidup Sundari. Sudah kubilang kalau hatinya entah di mana.

Sekali lagi, Sundari bukanlah hantu. Ia manusia yang teraniaya sama seperti kita. Manusia yang disalahi.

Kalau dipikir lagi, bukannya setan terkejam adalah manusia sendiri?

Yah, itu sih sudah berpuluh tahun lalu. Entah apa jadinya Sundari sekarang. Sekarang lelaki cenderung berambut pendek, tak seperti dulu. Bayang-bayang Sundari kemungkinan tidak se beringas waktu itu, dan telah berkurang frekuensinya. Namun wanti-wanti mengenai dirinya terus ada dan berubah seiring berjalannya waktu, bervariasi.

Itu sudah
Berpuluh tahun lalu.
Mungkin sekarang ia telah jadi hantu sungguhan, atau ada perwujudan Sundari-Sundari lainnya?

Tidak masuk akal, ya?

Aneh, omong kosong, isapan jempol.

Kalau dipikir lagi, bukannya dunia ini selalu penuh omong kosong dan tangis dalam gelak tawa?
Charm Yap Oct 2011
Dapat ba akong maghinala?
Kung noon malambing ka pero ngayon matamlay na?
Madalas magselos kahit wala pang ginagawa?
Pero nag-iba ihip ng hangin, bakit biglang nag-iba?

Dapat ba akong maghinala?
Kung ang mga bagay at gawain na ayaw mo noon
Ang siyang nais mo at pinag-uukulan ngayon ng panahon?

Dapat ba akong maghinala?
Ang mga personal **** bagay noon ay nakakalat lang
Ngayon naman, pinipilit itago kahit sa anong parte ng katawan.

Dapat ba akong maghinala?
Noon nagpapaalam pa kung sasama umalis ang barkada
Ngayon, nagsabi nga pero kung kailan wala ka ng magawa kasi paalis na.

Dapat ba akong maghinala?
Na ni minsan di mo ako pinakilala bilang karelasyon
Basta sinabi ang pangalan, tapos yun na yun.

Dapat ba akong maghinala?
Na ayaw **** ipaalam sa iba  na mayroon ka na
Tinanggal ang mga litrato, para di makita ng iba.

Dapat ba akong maghinala?
Na sa lahat ng nangyari, ikaw ang tama
Sasabihin lang na Mahala kita ..
Maririnig mo lang .. pag nalaman niyang... aalis ka na.
FADE Aug 2017
At sa pagkagat ng dilim
Kasabay ng pamamaalam ng araw sa'tin
Mahihimlay ko sa sulok ng apat na dingding
Huhubarin ang mga ngiti, ipapahinga ang bibig at ibababa ang hinlalaki kong kanina pa nangangawit
Sa kapapaalala sa mundo na ayos lang
Na makakatagal pa ko ng kahit sampung minuto

Sampung minuto---
Ito lang ang kailangan para tuluyan nang tapusin ang sinimulang kwento natin
At sampung minuto para dapuan ka nila ng tingin at sabihin sa'king
Kailangan na kitang talikuran
Ngunit di na ko inabot ng sampung minuto pa para pakingga't tupdin sila
Dahil sampung segundo lang---
Isa, dalawa, bitaw na, bitaw
Lima, anim, ayoko pa, ayoko pero
Siyam, sampu...ay nagawa na kitang bitawan
Ang sabi kasi ni nanay ay di ka nararapat para sa'kin
Sabi ni tatay pag-aaral ko muna ang atupagin
Ang sabi nila ay dapat ko silang sundin
Ang mga bumuhay at nag-aruga sa akin ay dapat na lagi kong susundin

Huwag mo nang gawin yan, ito ang mas bigyan **** pansin
Di yan makabubuti para sa'yo, bat di mo na lang tularan ang kapatid mo
Ang lalaki dapat ay matikas
Ang tanga tanga mo, wala kang mararating diyan
Kahit sino kayang makagawa ng ganyan, magsundalo ka na lang
Dinaig ka pa ng nakababata sa'yo?
Dapat pareho kayong tinitingala ng tao

Kaya't binigo ko ang nag-iisa kong pag-ibig at sumuong sa digmaang di ko kailanmang naisip
Dahil dapat lagi pa ring susundin ang mga bumuhay at nag-aruga sa'kin, mga bumuhay at nag-aruga sa'kin dapat kong sundin, ang sa'kin ay nag-aruga't bumuhay lagi pa ring susundin
Nay, yakapin mo ko't pahupain ang hapdi
Kaya, Tay, tapikin mo ko sa balikat at sabihin **** tama ang ginawa kong pagtupad sa pangarap mo
Dahil tapos na tapos na ko
Pagod na pagod na ko
Sa panonood sa pagkislap ng mga mata ni bunso
Mga kutikutitap na di mapapasakin dahil ang mga mata ko'y namumugto
Mga matang naniningkit na katatanaw sa sarili kong mga pangarap
Dahil ng mg paa ko'y habol ang bawat dikta't kagustuhan niyo

Sawa na kong pilit pantayan si bunso
Dahil kahit anong gawin ko'y di bubukal sa'kin ang kaligayahan
Di tulad niyang may malayang kinabukasan
Ako'y may busal ang bibig, may taling mga kamay, nakakulong sa ekspektasyon ng sarili kong mga magulang

Pagod na ko, ayoko na
Ayoko nang marinig ang "Tingnan mo siya,buti pa siya, mas magaling pa siya..."
Hindi ako binigay sa inyo para ikumpara niyo sa isa niyo pang anak at sa anak ng iba na hinihiling niyong meron din kayo

Gusto ko lang naman marinig na may tinama ako kahit papano, kahit kapiranggot
Gusto kong marinig ang "Salamat" at "Mahal kita" at "Ipinagmamalaki kita" dahil tapos na tapos na ko
Pagod na pagod na kong
Habulin ang liwanag ng talang matagal nang namatay sa kalawakan
Kaya Nay, Tay
Ako po muna
Ako naman ngayon...
Anna Apr 2016
Pagod na ako sa mga gawain na paulit-ulit lamang
Pagod na ako sa mga bagay na kailangan intindihin at tanggapin ko lang
Pagod na ako sa paggawa ng mga bagay na wala namang saysay
Pagod na ako sa araw-araw na pag-alalang kakayanin ko ang lahat ng bagay

Kaya ko... Kaya ko...
Kaya ko pang gawan ng paraan
Kaya ko pang remedyohan
Kaya ko pang isalba ang lahat

Hindi na dapat ako nag-papakulong sa gantong emosyon
Hindi na dapat ako nag-iilusyon
Hindi na dapat ako nagkakaganito
Hindi na dapat ako nagiisip ng ganito

Sa layo na ng narating ko dapat kaya ko na ito
Sa dami na ng pinagdaanan ko dapat sisiw nalang sakin ito
Sa dami ng hirap na naranasan ko sanay na dapat ako sa mga ganito
Ngunit higit sa lahat, sa dami na ng naipundar kong oras at pagod, alam ko sa sarili kong kayang-kaya ko 'to
seluring Aug 2017
nais kong simulan ang aking tula sa isang katanungan,
"bakit mo ako iniwan?"
dahil ba sa ugali kong hindi maintindihan?
dahil ba sa itsura kong hindi kagandahan?

bakit mo ako binitiwan?
bakit mas pinili mo ang lumisan?
bakit mga pangako mo'y iyong kinalimutan?
bakit ka lumihis ng daan?

mahal, sana'y sagutin mo't huwag kang magalit,
kung marami akong tanong sayo na bakit,
hindi ko parin kasi talaga matanggap yung sakit,
sagutin mo naman, baka sakaling tumamis ang mapait.

hindi kita matanggal sa puso't isip ko,
at dahil sa takot ko na baka maulit ang pag-alis mo,
ipinagkatiwala ko ang puso ko sa ibang tao,
kaysa ang maniwala muli sa mga salita mo.

sa bawat paggalaw ng kamay ng orasan,
sa bawat pag-ihip ng hanging amihan,
sa bawat pagsilip ni haring araw,
tila puso ko'y nanatiling naliligaw.

paulit-ulit sa aking isipan,
tama ba ang aking napagdesisyunan?
kasiyahan sa iba ay dapat bang subukan?
nagbakasali na hindi ko ito pagsisihan.

sumubok ako, nagtiwala sa mga salitang naghatid ng panandalian ligaya,
nagpadala ako sa mga pangakong "ikaw lang at wala ng iba",
pero nagkamali ako, pare-pareho lang pala kayo,
sa una lang kayo pursigido.

mahal, nais kong alalahanin mo,
lingid sa kaalaman mo na makakalimutin ako,
pero inaamin ko, ni minsan hindi ka nawala sa isip ko,
oo mali 'to, pero masisisi mo ba ako?

bakit ramdam ko parin ang sakit ng iyong paglisan?
bakit hindi kita kayang bitiwan?
bakit sa bawat oras ng aking kalungkutan,
ikaw, ikaw ang nagsisilbing dahilan ng aking kasiyahan?

ang unan ko'y basang basa na ng luha,
mata ko'y tuluyan ng namaga,
alam ko na wala na akong dapat kapitan,
kung kaya't sanay matutunan ko ng ika'y bitiwan.

mahal, wala akong karapatan para sabihin na ako'y iyong balikan,
dahil minsan na kitang pinagtabuyan,
kaya hinihiling ko na sana sa iyong muling paglisan,
kasabay nun ay ang unti unti kong pagtahan.

patawad sapagkat hindi na tama ang aking nadarama,
patawad sapagkat alam kong tayo'y tapos na,
patawad sa mga salitang hindi na maibabalik pa,
patawad, patawad sa pagpili ko noon na lisanin ka at wag ng lumingon pa.

labis ang naramdaman kong lungkot,
labis din ang poot dahil hindi kita malimot-limot,
subalit sa mga panahong naghihilom na ang kirot,
saka ka naman muling susulpot.

lubos akong nagalak,
puso ko'y nabusog sa iyong salitang mabubulaklak,
nawala ang patalim sa puso ko na nakasaksak,
nang ikaw sakin ay kumambak.

subalit hanggang kailan kaya mayroong "tayo"?
hindi ko maalis ang takot sa puso at isip ko,
hindi ko maalis ang nadarama kong silakbo,
na ang dapat na "tayo" ay mapalitan muli ng isang "kayo"

hanggang kailan mo ako muling mamahalin?
hanggang kailan mo ako muling yayakapin?
hanggang kailan mo muling ipaparamdam ang apoy ng pag-ibig?
o papatayin na lamang ito muli ng malamig na tubig?

natatakot ako sa mga bagay na hindi inaasahan,
na baka magbago ang iyong isipan,
natatakot ako sa mga pwedeng maging dahilan,
dahilan ng iyong posibleng paglisan.

kasi minsan mo na akong isinantabi,
minsan mo na kong trinato na parang walang silbi,
minsan mo ng binasa ng luha ang aking pisngi,
at minsan mo na rin pinunit ang puso ko sa iyong mga sinabi.

natatakot ako mahal ko,
nais kong magtiwala muli sa mga salita mo,
paumanhin, subalit natatakot ako,
natatakot akong iwan mo ulit ako.

sana'y sa ating karanasan sa nakaraan,
manatili ka sa aking tabi at huwag lumisan,
sapagkat ikaw ang aking kalakasan,
subalit ikaw rin ang aking kahinaan.

ikaw, ang pumapawi sa aking uhaw,
ikaw, ang nagbigay direksyon sa puso kong ligaw,
ikaw, ang dahilan kung bakit ang puso mula sa bintana ng kaluluwa'y dumungaw,
ikaw, ang nagbibigay sigla sa akin araw-araw.

hinihiling ko na sana sa oras na magbago ang ihip ng panahon,
magbago ang direksyon ng mga alon,
tumaliwas ang lahat ng bagay sa dapat nilang posisyon at direksyon,
mag-iba man ang huni ng mga ibon,

sa oras na ikaw ay aking muling tanungin,
isa laman ang isasagot mo sa akin,
"huwag kang matakot at mangamba,
mahal na mahal kita"
ig: seluriing
twt: seluring
fb: seluring
follow meeeeee!
President Snow Dec 2016
Sampung rason kung bakit dapat mo akong balikan

Una, dahil ikaw  ay nangako
Sabi mo walang hanggan pero bakit may dulo?
Ang pangarap nati'y hindi dapat mawala
Pangalawa, dahil sa bawat pagpikit ng mga mata
Ikaw ang unang nakikita
Ang mga alaala ng iyong magandang mukha ang muling nasisilayan
Pangatlo, dahil ikaw ang laman ng bawat hiling ko
Sa bawat 11:11 na dumating ay ikaw ang hinihiling
Na sana'y muling mapasaakin
Pang apat, hindi na kita bibitawan.
Panglima, dahil sa bawat araw na wala ka ay parang mga gabing walang tala
Walang ilaw, walang ganda
Pang anim, dahil kasabay ng pagkawala mo ay ang pagkawala ng langit na dahilan ng pagngiti.
Ang langit na minsan kong nilipad kasama ka.
Pang pito, alam **** seryoso ako
Seryoso ako pagdating sayo, sa atin.
Sa mga bagay na sinasabi ko kaya ito ang
Pang walo, ayoko na ng laro
Hindi ako magaling maglaro
Hindi ko na kayang makipagsabayan sa mga laro mo dahil alam kong talo na ko
Talo ako sa lahat pagdating sayo.
Pang siyam,  nandito lang ako.
Naghihintay, nag aabang, ni hindi makausad
Sa sulok. Pira-piraso nagdurugo
Nagiintay na pulutin mo ang mga bubog
Nagiintay na bumalik ka sa bisig ko.
Pang sampu, balikan mo ako dahil mahal kita
Oo, mahal pa rin kita
Mula sa mga bubog ng nabasag kong puso
Ikaw parin ang nilalaman nito
Ayoko sa ng iba
Kaya mahal, Bumalik ka na
Balikan na kaseee
w Dec 2016
26
Ilang oras na akong nagsusulat
Ilang tinta at papel na ang nasayang
Pero hindi ko alam kung bakit hindi ko malabas ang nais iparating ng puso
Wala akong magawa kung hindi titigan ang mga nasayang papel na nasa gilid ng aking mga kamay
Ilang ulit na akong nagpalit nang kulay ng tinta ng bolpen, nagbabakasaling kung kulay pula ang gamiting pangsulat, mawawala ang lungkot na nadarama na may mahal kang iba
Baka kung kulay dilaw ang bolpeng gagamitin mawawala ang sakit na nagpapaala-ala na hindi ako ang dahilan ng mga ngiti sa iyong labi
Baka kung kulay berde ang bolpeng gagamitin maglalaho ang mga luhang hindi maubos-ubos tuwing nakikita kitang kapiling siya
Ano pa ba ang dapat gawin?
Ilang papel pa ba ang masasayang para sayo?
Ilang kulay pa ba ng bolpen ang kailangan masayang para malaman ang nais sabihin
Hindi ko alam kung ano at paano
Ano ba ang dapat gawin para mawala ka sa isipan?
Paano ba kita bibitawan kung alam kong sa pagtawid sa kulay pula ramdam kong ako lang nakakapit?
Paano ko hihigpitan ang paghawak sa daming tumatawid sa dilaw na dahilan para bitawan ka kung alam kong malayo ka na para abutin pa
Paano kita hahanapin sa huling kulay berde kung alam kong wala na, tapos na
Wala ng dahilan para magpatuloy
Dahil alam kong hindi tamang ipagpatuloy itong bugso ng damdaming na kahit saang anggulo, hindi tama, hindi nararapat
Kaya hayaan mo kong sayangin ang mga papel, bahala na kung magalit ang kalikasan
Hayaan mo akong maubos ang lahat ng kulay ng ballpen dahil dito ko nalamang masasabi ang mga salitang dapat iparinig sayo
Wala na akong magagawa kung hindi hayaan ang panahon
Hayaan ang sariling humilom
Hindi ko alam kung gaano katagal
Pero hayaan mo, makakapagsulat ulit din ako gamit ang isang papel at kulay itim na bolpen balang araw para sa tunay na nakalaan nito
Pero sa ngayon hayaan mo lang muna akong titigan ka sa malayo habang nakatuon ang iyong mata sakanya
Hayaan mo lang muna akong iyakan ka habang hindi mo mapigilan ang ngiti sa iyong labi kasama siya
Hayaan mo lang akong masanay sa sakit, baka sakaling magsawa ako at hayaan ang sariling sumaya ulit...kapiling ang iba
AUGUST Sep 2018
Sa pagibig....

Pwede kang magdala, o ikaw ang dadalhin
Pwedeng kang paasa, o ikaw ang paasahin
Pwede kang manggamit, o ikaw ang gagamitin
Pwede kang mabigo, bago mo sya bigoin


Bago magmahal, dapat bang handa ka?
Na Bago ka masaktan, kailangan ng anestesia, ano para manhid muna?
At dapat bang may pamunas? Bago ka lumuha?
Ahh, Bago pala ang lahat, ano ba magiging luma?

At Ganon ba ngayon pagnagmahal?
Para manalo ang taya, dapat **** isugal!
Pano kung lahat mo na ginawa? Kulang parin
Di ba masakit?
Kung Alam na nating masikip sa damdamin, pinipilit pang pagkasyahin

Lahat naman talaga pwede diba?
Tulad ng sinabi ko sa unang stanza

Pwede kayong dalaway magkatuloyan
Pwede ding tuluyan kang iwanan
Pwede ka nyang maalala, pwede ding kalimutan
Pwede ka rin nyang paalalahanan na wag mo na syang ligawan
Pero laging pakatatandaan....
Lahat ay nagtatagumpay lang kung naiiwasan ang kabiguan

Pero ako, di parin ako matatakot magmahal
Kasi alam kong darating ang araw di magtatagal
Na ang natagpuan ko man di sakin itinadhana,
May itinadhana para sakin na di ko pa natatagpuan
Dun ako naniniwala,


Ang puso ko di parin nakasara
hinihintay lang kita aking sinta
Hanggan sa panahon na tayoy magkita
Lahat ng pagtingin ko sayo na

Ngunit ngayon, sa paglipas ng panahon
Ang anyo ng pagibig ay nagbago, Lasa nagkaroon
Noong nanliligaw sobrang sweet,Naging bitter ng nabasted
Meron pa ngang iba, iba iba ang tinitikman ng di mo nababatid

Parang sa kape din, noon stick to one lang ang timplahan
Ngayon naimbento na ang 3 in 1

Parang tema ng pelikula din, noon may happy ending
Ngayon dapat happy lang walang ending
Noon ang poreber pinaniniwalaan
Ngayon ang poreber, walang ganyan
Noon may pagibig na wagas
Ngayon ang pagibig nagwawakas

Kaya naaalala kita sa Noon at ngayon
Kasi,,,,
Noon, saksi ang langit,nagsumpaan tayo
Ngayon, dahil sa galit, sinusumpa mo na ako
Noon, ang nadarama natin masaya lang
Ngayon, ang nararamdaman natin masasayang lang
Noon, hawak hawak pa kita,Ngayon, bakit bumitaw ka na
Noon, andito ka pa, Ngayon, bakit anjan ka na

Di ko mawari ang pagibig kung itoy biyaya bakit masakit
kung gaano katamis noon, ngayon walang kasing pait
kung gano kainit noon, ngayon napakalamig
Kung gano ka kinikilig noon ,ngayon naging manhid

Kung gano tayo kalapit noon, malayong agwat ngayon
Kung gano tayo nagaalala noon, biglang nagkalimutan ngayon
Kung gano tayo kasaya noon, walang kasing lungkot ngayon
Pangako **** di ka magbabago noon, ngunit nagiba ka na pala ngayon

Kung Ano man ang meron noon, lahat yun nawala ngayon
Marga Jul 2018
ako ay nakatulala
sa lugar kung saan walang madla;
at ang isipan ko'y binabaha
ng mga hindi ko nasabing salita.

ako ay nasa dagat pa rin,
at ang bawat ihip ng hangin
ay simbolo ng aking dalangin
na sana siya ay mapasa akin.

ang mga puno ng niyog
ay gaya ng pagmamahal kong matayog.
mataas at hindi makasarili,
spaagka't sakanya ay nawiwili.

ang bawat butil ng buhangin
ay parang pag-ibig kong hindi kapusin;
bilyon-bilyong damdamin,
pag-ibig para sakanya na hindi ko inamin.

ang bawat alon na humahampas,
ay parang mga sandaling aking ipinalagpas;
mga bagay na matagal ko na dapat sinabi,
ngayon ako'y ginagambala ng pagsisisi.
pag-ibig para sa'yo na hindi ko kinayang aminin.
Random Guy Oct 2019
Ang kwento natin ay binuo sa gitna ng maling sitwasyon at maling pagkakataon.

High school.

Magkaibigan tayo noon.
Nagsasabihan ng problema, umiiyak sa isa't isa.
Kabisado mo ako, at kabisado na rin kita.
Tantya ko ang birong magpapatawa sayo at tantya ko rin naman ang tamang kiliti upang mawala ang galit mo.

Nakahanap tayo sa isa't isa ng kanlungan at hingahan sa nakakasulasok na mundo.

Lumapit at patuloy pang napalapit ang loob ko sa'yo, at ikaw sa akin. Hindi ko na rin namalayan na mahal na pala kita. Taguan ng nararamdaman ang nilaro natin ng ilang buwan. Totoo, laking gulat ko rin sa sarili ko kung paano ako nahulog sa'yo. Dahil ang katulad mo ay isang dyosa na hindi ko dapat lapitan, hagkan, o kahit hawakan man lang. Hanggang ang simpleng tingin ay naging mga titig, mga haplos lang dapat sa kamay ay naging mga kapit, at magkatabi lamang ngunit iba ang dikit.

Napuno ang puso ko ng pagmamahal at umabot na ito sa pagsabog. Naglahad ng nararamdaman, nagbabakasakaling pareho ang 'yong nadarama.

Pero mas laking gulat ko nang sabihin **** mahal mo rin ako. At isa 'yon sa pinaka masayang araw ng buhay ko.

Simula noon ay araw araw nang hawak ang iyong kamay, inaamoy ang iyong buhok, nagpapalitan ng mga mensahe, kinakantahan; ginagawa ang lahat upang mapakita lang sayo.. na mahal kita. Pero higit sa mga pinakita natin sa isa't isa ay mas tumimbang ang mga hindi natin pinakita ngunit pinadama.

Hawak ko ang buwan at ang mga bituin kapag kasama kita ngunit bakit ba kapag tayo'y masaya ay talagang lungkot ang susunod.

Nalaman ng mga magulang mo kung ano ang meron tayo. Hindi ko noon inasahan na ang mga susunod na mga linggo at buwan ay ang pinaka madilim na parte ng buhay ko. Dahil ang kwento natin ay binuo sa gitna ng maling sitwasyon at maling pagkakataon.

Papasok ka sa eskwela ng mapula ang mata at may pasa sa braso. Ngunit ang mas pumapatay sa akin ay ang ngiti sa labi mo. Mga ngiting hindi ko masabing peke dahil totoo. Dahil ba masaya kang makita ako kahit na ang sakit na nararamdaman mo ay dahil sa pagmamahal ko? Hindi nanlamig ang pagmamahal natin dahil sa kung ano mang ginawa natin sa loob ng relasyon. Kundi ang lamig ng pataw ng galit ng mas nakatatanda sa atin. At ang mas masakit ay hindi pa natin kayang lumaban.

Ang hindi mo alam ay walang lumipas na araw na hindi rin ako umiyak sa harap ng ating mga kaibigan, sa harap ng salamin, sa harap ng isang ****, sa harap ng mga matang nangungusap at ang sabi ay...

"may isang pagmamahalan na naman ang namatay."

Pinatay sa gitna ng saya, pinatay sa gitna ng ligaya, pinatay sa gitna ng magandang paglago.

Pinatay tayo ng tadhana. Pinatay tayo ng mga taong walang tiwala. Pinatay tayo ng mga taong ang  tingin sa atin ay mga isip-bata. Oo, tayo'y mga bata pa noon ngunit alam ko, alam ko na ang pag-ibig na 'yon ay totoo.

Nagsimula ka ng hindi pumasok sa eskwela. At kung ilang oras kitang hindi nakita sa iyong upuan ay ganon ding haba ng oras ng aking pagiyak sa likod ng silid. Sinisisi ang sarili sa kung bakit ganito at bakit ganyan. Bakit ganito ang tadhana? Bakit ganyan ang pag-ibig? At makikita nila sa mga luha ko na lumuluha na rin ito dahil sa patuloy na pagpatak, bagsak sa kahoy na upuan. At mas lalong bumabagsak ang luha ko dahil hindi ko alam kung anong nangyayari sayo. Sinasaktan ka ba? Umiiyak ka rin ba? Mahal mo pa ba ako? Kung pwede lang hugasan ng luha ang mga tanong ay kakayanin, dahil sa dami ay kayang anurin ang mga ito.

Ilang linggo pa ay hindi na tayo nakapag usap, pumapasok ka ngunit ang kaya lang nating gawin ay maghawak ng kamay. Dahil kalakip ng mga salita ay patak ng luha. Kaya tinakpan natin lahat ng ito ng hawak sa kamay, patong ng ulo sa balikat, yakap. At hindi ko inasahan na huli na pala 'yon. Dahil tapos na ang taong 2011-2012 ng eskwela. At hindi na kita nakita; ni anino, ni bagong larawan mo, sa loob ng maraming taon.

Ang meron lang ako ay ang manila paper na binigay mo sa kaibigan natin para ibigay sa akin. Na nagpaisip sa akin na sana, sana man lang ay nakita kita bago mo inabot ang pinaka mahabang mensahe na nabasa ko, mula sa pagiibigang pinilit na pinapatay.

Pagkatapos ng mga tagpong iyon, nalaman kong lilipat ka na ng eskwela sa susunod na taon. At parang 'yon na ang nagpa manhid sa pusong meron ako noon. O kung meron pa ba ako non noon. Dahil sa ilang linggo at buwan ng pinaka madilim na parte ng buhay ko ay unti-unti na pala itong nabasag, nawala, at nadurog.

Ilang taon rin bago ito nabuo o nabuo nga ba talaga ito. Ilang taon din akong nagmahal ng walang puso, dahil utak ang ginamit ko. Doon ko nasabi na ang pagmamahal ko sayo ay ang unang pagmamahal ko sa una kong puso.

Ilang taon akong nagpagaling, nakahanap ng kanlungan sa iba, kasayahan, kakumpletuhan, kabuuan.

Sa likod ng aking isip ang tanong na, "Nasaan na kaya s'ya?"

Hindi naaalis sa mga inuman ng barkada ang mga tanong na, "Saan na s'ya? Nakita mo na ba 'yon ulit?" Alam kong ramdam din nila, na kahit ano ang isagot ko ay may marka 'yon sa puso ko.

"Nakita ko s'ya sa Fatima ah."

"Nakakasalubong ko 'yon ah."

At kahit ilan pang pahapyaw ng mga tropa ang magpaalala ng ikaw ay may sakit pa rin. Kahit hindi ko ipakita, ramdam.

Walong taon.

Walong taon ang lumipas ng muli tayong magusap.
Kamusta?
Maayos naman,
Ikaw?
Okay lang din.

At para bang binalot muli ang puso ko ng muling pagkawasak mula noong umpisa.

At tila ba hindi pa pala natapos ang istorya natin sa nakalipas na walong taon, hindi pa pala namatay ang 2012 na bersyon ng mga sarili natin.

Nagusap tayo. Pero 'yon pala ang mali natin. Na kaya pala hindi na tayo nagusap hanggang sa mga huling sandali ng pagkikita natin ay alam nating ang mga salita ay katumbas ng luha, at ang mga salita ay katumbas ng sakit, at ang mga salita ay katumbas ng muling pagwawakas.

Apat na libo tatlong daan at walumput tatlong milya ang layo natin sa isa't isa. Muli, ang parte ng kwentong ito ay nabuo na naman sa gitna ng maling sitwasyon at maling pagkakataon.

At ang pinaka masakit sa lahat at ang punit sa kwento nating dalawa ay meron na akong iba. Dahil alam kong hindi kita nahintay, at sana malaman **** hindi ka rin naman nagparamdam. Ang kwento nating dalawa ay masyadong naging komplikado dahil sa iba't ibang kamalian ng sitwasyon at pagkakataon.

At alam kong sa pagkakataon na ito ay hindi na dapat natin ito sisihin, dahil ang kamalian ay nasa atin nang dalawa. Kung paanong naging sobrang huli na pala, o sobrang aga pa pala.

Ang kwento nating dalawa ay maaaring dito na matatapos ngunit ayoko naman ding magsalita ng tapos, kagaya ng nangyari matapos ang walong taon, biglang nabuksan ang kwento. At hindi ko alam kung ilang taon ulit, o talagang tapos na.

Pero kagaya nga ng sabi mo, ito ang ang paborito **** kwento sa lahat, at oo, ako rin. Ang kwentong ito ay magsasalin salin pa sa inuman, sa kwentuhan, sa simpleng halinghingan, kwentong bayan; na may isang lalaki at babae na nagmahalan kahit pa pinilit itong patayin at makipag patayan. Isang kwentong puno ng kawasakan, at patuloy na pinaglaruan ng tadhana. Tapos na nga ba ang pahina? Muli, kagaya ng nakalipas na walong taon, ang sagot ay oo. Ngunit ang kwento ay buhay pa, at patuloy na mabubuhay pa sa puso ko.
giggletoes
AUGUST Sep 2018
margaret

Langit ang nagbigay biyaya nang ambon ay dinilig
Ang aking hiling sa panginoon ay biglang nadinig
Pinadala ang anghel na sa mundo ko’y yayanig
Tinawag ng ng kanyang tinig, at Napatulala sa mga Titig

Maari bang malaman ang yong pakay sa akin
Kung ikaw ba ay pasakit at tuluyan na akong wawasakin?
Laging kong tanong kung ano ba ang dapat kong gawin
Kung ang kahulugan mo ay kabiguan patuloy pa ba kitang iibigin?

Nagtatanong kay Bathala, Paano ko ba mapapaliwanag ang  hiwaga
Nitong pagmamahal na kung bakit sa puso kumapit ka ng kusa
Ako’y nagtataka’t di maka paniwala Bakit ito ang yong ginawa
Sa bigay **** biyaya, Ano ba ang kasalanan ko  para isinumpa

Gaano ba kita pinapahalagahan? Alam mo ba ang dahilan?
Hiling ko lang ay sanay iyong maunawaan itong nararamdaman
Kaya ang paliwanag ko ay simple nalang
Masikip dito sa loob ko, kaya ang kasya ay ikaw lang

Alaalang bitbit pano ko makakalimutan
Kung Sa puso koy nakaukit  ang yong pangalan
Ibinalot ng tatag ng loob para ika’y ipaglalaban
Di kita hahayaang lumuha lagi kang aalagaan.

Nagaabang ng sasakyan para dalhin sa langit, iwan ang mundo
Nakikiusap Pagbigyan sana Hiling makamit, Anghel na sundo
Saan nga ba tayo patungo? Byaheng langit sa impyerno,
Sa isipan kong magulo, Kasinungalingan ka ba o Totoo?

Linalaro sa panaginip ang dakilang pagsuyo
Tuluyang Hinamon Ang matapang na puso
Sayo napalapit at ayaw nang lumayo
Ang silakbo ay di na kaya, kayang isuko

kahit ano dito sa lupain ay handa kong ialay
Pagkat ang langit sa akin ay una mo nang binigay
Ang halaga mo sa akin ay Walang katumbas na materyal
Dahil Di kayang sukatin kung gano kita kamahal
Para sa taong minahal ko ng minsan, ito ang tulang di ko naiparating sa kanya.

Ngayon alam ko na kung gaano siya kahalaga, kung kailan wala na.
Karl Allen Nov 2015
(On love by Kahlil Gibran ; A Translation)
Kung magkataon na tawagin ka ng pag-ibig, sumunod ka,
Kahit pa ang daan niya'y mahirap at matarik.
At kung yakapin ka ng kanyang mga pakpak ay magpaubaya ka,
Kahit pa ang mga punyal na nakatago sa kanyang mga balahibo ay kaya kang sugatan.
At kung mangusap siya sa iyo ay maniwala ka,
Kahit pa ang kanyang tinig ay kayang durugin ang iyong mga pangarap
Tulad ng pagsira ng hanging habagat sa mga halamanan.

Sapagkat kung paano ka parangalan ng pagibig ay ganoon ka din niya ipapako sa Krus.
‘Pagkat kahit pa siya'y para sa iyong paglago ay ganun din siya para sa iyong pagka-bulok.
Kahit pa pinayayabong ka nito sa iyong pinaka-mataas at hinahaplos ng liwanag nito ang iyong mga sanga,
Ganoon din niya huhugutin ang iyong mga ugat mula sa pagkakabaon nito sa lupa.

Tulad ng mga butil ng mais ay itinatali ka nito sa kanyang sarili.
Binabayo ka niya upang mahubdan
Ginigiling hanggang sa kuminis.
Minamasa hanggang sa lumambot
At ika'y kanyang isasalang sa kanyang banal na apoy, upang ika'y maging banal na alay na ihahain sa banal na pista ng Panginoon.

Ang lahat ng ito'y gagawin ng pagibig upang malaman mo ang mga lihim ng iyong puso, at sa kaalamang iyon ay maging bahagi ng puso ng buhay.

Ngunit kung sa iyong pagkatakot ay hanapin mo lamang ang kapayapaan at kasiyahan ng pagibig,
Ay mabuti pang ika'y magbihis at lumiban sa kanyang giikan,
Sa isang mundong walang kulay kung saan ikaw ay tatawa, ngunit hindi
lahat ng iyong kasiyahan, at iiyak, ngunit hindi lahat ng iyong luha.
Walang ibinibigay ang pagibig kundi ang kanyang sarili at walang tinatanggap kundi ang galing din sa kanya.
Ang pagibig ay hindi nang-aangkin at nagpapa-angkin ;
Sapagkat ang pagibig ay sasapat lamang sa pagibig.

Kapag ika'y umibig hindi mo dapat sabihing, “Ang Diyos ay nasa aking puso,” kung hindi, “Ako ay nasa puso ng Diyos.”
At 'wag **** isipin na kaya **** diktahan ang pagibig, 'pagkat ang pagibig, kung matantong ika'y karapat-dapat, ay ididikta sa iyo ang iyong landas.

Walang kagustuhan ang pagibig kung hindi tuparin ang kanyang sarili.
Ngunit kung ikaw ay umibig at mangailangan, maging ito ang iyong kailanganin:
Ang matunaw at umagos na parang batis na umaawit sa gabi.
Ang malaman ang sakit ng lubos na pagaaruga.
Ang masugatan sa iyong sariling kaalaman ng pagibig;
At masaktan ng kusang-loob at may ligaya.
Ang gumising sa bukang-liwayway ng may pusong kayang lumipad at magbigay pasasalamat sa isang bagong araw ng pagibig;
Ang magpahinga sa tanghali at magnilay sa sarap ng pagibig;
Ang umuwi sa hapon ng puno ng pasasalamat;
At matulog nang may panalangin para sa minamahal sa iyong puso at awit ng papuri sa iyong mga labi.
Sy Lilang Mar 2017
090316 #AlphabetsOfLove #SpokenWords

Nag-aral ako't rumolyo ang panahon
Nagbilang ng taon, nabihag ng pag-ibig Niyang pabaon.
Naghalungkat ako ng mga mumunti Niyang Katha
Sa tarangkahang puno
Ng higit pa sa dalubhasang mga Salita.
At heto --
Heto ang Bukas na Liham
Ng pag-ibig ng isang tunay na Mandirigma.
Para sa lahat ng nanghihina't nasawi ng tadhana,
Para sa lahat ng humuhugot
Sa sandamakmak na nagdidilimang mga eskima
Heto, heto nga pala ang ABAKADA ng Pag-ibig.

----

A-alalayan Kita't baka mahulog ka't masaktan pa ng iba. Baka magpasalo ka na naman sa mga bolerong nanunungkit ng pag-ibig -- silang susungkit ng mga bituin para sayo, silang haharana sayo ng kilig, silang magsasabing maghihintay sayo kahit pa sa magkabilang mundo -- silang magdudulot lamang ng matinding pait sa puso mo pag hindi ka pa handa, pag hindi ka pa nahilom at pag hindi pa panahon. Oo, silang muling gugusot ng pagkatao mo.

B-abalikan Kita, hindi dahil Ako ang nang-iwan. Pakiramdam mo kasi'y wala ka nang halaga; yung tipong iniwan ka na ng lahat sa ere't kaunti na lamang ay pabagsak ka na -- yung wala ka nang matakbuhan pa, yung paikut-ikot na lang, yung takbo ka na lang nang takbo -- hanggang sa mapagod ka na lang. Mapapagod at kusa kang hihinto -- yung bibitiw ka na, yung aayaw ka na, yung titigil ka na, yung wala ka nang pakialam. Kaya't --

K-akalingain Kita, di gaya ng pag-ibig na minsang nagpaluha sayo. Nang nasisilayan Kitang magdamagang umiiyak. At kasabay ng bawat teleseryeng pinapanood mo ay luluha ka't hahagulgol ka sa isang sulok. Paulit-ulit sa bawat alaala, parang lirikong sinasabayan mo sa bawat hugot na pasan-pasan mo. Na lahat na lang, tila ba'y konektado sa kanya. Na wala ka nang mapanghawakan pa. Iiyak ka na naman ba? Pero --

D-aramayan pa rin Kita, hindi lang sa mga pagkakataong sawi ka; pero pati sa mga oras na gusto mo siyang balikan. Doon ay papagitna Ako at pipigilin Kita. Gusto kong makita yung totoong ikaw, yung dapat sanang ikaw -- yung ikaw na kahit wala siya'y buo ka pa rin. Yung hindi mo malilimutang mahal -- mahalaga ka para sa Akin.

E-h nasasaktan ka na. Ganyan ba ang pag-ibig na gusto mo? Na siya na ang nagiging mundo mo? Na halos wala ka nang kibo sa roletang dapat sana'y para sayo? Ganyan ba, ganyan ba ang totoong nagmamahal? Na hahayaan **** malugmok ka't madungisan ang sarili ng paulit-ulit at miserable **** nakaraan? Na hindi ka na kikilos, na parang wala ka nang balak bumangon at salubungin ang araw. Na parang hahayaan mo na lamang manlamig ang kapeng itinimpla sayo ng mga higit pang nagmamahal sayo. Pero --

G-agamutin Kita. Lahat ng mga sugat at pasang idinulot sayo ng nakaraa'y pawang aalisin Ko. Ako mismo ang kukuha ng bulak at Siyang papahid at dadampi sa bawat kirot at hapding naiwan sayo ng minsang ipinaglaban mo. Ako mismo ang iihip sa bawat nangigitim at sariwang mga pantal at peklat na bumabalot at kumukubli sa dapat sanang ikaw. Handa Ako at kaya Ko -- kaya kong alisin ang lahat --

H-anggang sa makabangon kang muli't maranasan mo ang pagbabagong ganap. At mapagtanto **** hindi naman siya kawalan sa pagkatao at pagkatawag mo. Masakit man pakinggan pero oo, hindi siya ang buhay mo. Uulitin ko: hindi siya ang buhay mo. Tumingin ka sa mga mata Ko. Pagkat oo, buo ka pa rin at walang nagbago sa paningin Ko sayo.

I-iyak ka paminsan pero ang lahat ay mananatiling alaala na lamang; luha mo'y sasaluhi't pupunasan Ko. Bibilangin Ko ang bawat butil na walang humpay na dumarampi at darampi pa sayong mga pisngi, higit pa sa matatamis na pangako niyang napako na rin kalaunan. Oo, napako ang lahat -- napako ang lahat sa Akin.

L-umaban Ako at patuloy Kitang ipinaglalaban. Tiniis ko ang bawat matitinik na hagupit sa mga balat Ko; maging mga pangungutya ng mundo. Para sayo -- para sayo, lahat ay ginawa Ko na; lahat ay tinapos Ko na at lahat ay iginapos Ko na. Pagkat --

M-ahal Kita at hindi Ako magsasawang patunayan yan sayo. Walang anumang bagay sa mundo na makapagtitibag at makahihigit sa pag-ibig Kong laan sayo. Mahal Kita at mas mamahalin pa -- higit sa mga araw na bilang, higit sa mga oras na ninakaw ng dilim pagka maaga ang takipsilim, higit sa kaibuturan ng dagat na wala pang nakalalangoy -- higit sa mga panahong pipiliin **** mahalin na rin Ako.

N-i hindi Kita iiwan, ni hindi pababayaan. Kaya -- wag ka sanang matakot na buksang muli ang puso mo, pagkat ni minsan -- ni minsa'y hindi Ko naisip na biguin ka. At hindi Ko naisip na paasahin ka gamit lamang ang mga salita, pagkat kalauna'y darating Ako para sunduin ka. Totoo ang bawat pangako Ko at lahat ay para sa ikabubuti mo, kaya't panghawakan mo ito -- hindi gaya ng pagsalo ng tubig gamit ang mga kamay mo. Pero hindi, hindi masasayang ang pag-ibig mo.

O-o, naiintindihan Kita, na nahihirapan kang magtiwalang muli dahil sa sobrang nasaktan ka na. Hindi Kita minamadali at hindi Ko ipipilit ang pag-ibig Ko sayo. Hahayaan Kita -- hahayaan Kita kasi gusto kong kusa ang pagtitiwala't pagmamahal mo. At --

P-apasanin Kita. Gaya ng isang Inahing naglilimlim sa kanyang mga inakay, gaya ng isang Inahing hahagis sa kanila sa himpapawid gamit ang sariling mga pakpak. At Gaya ng isang Inahing sasalo at papasan sa kanila pag nahulog silang muli -- hanggang sa makalipad sila -- hanggang sa makalipad kang muli. At buhat sa ereng pinagtambayan, buhat sa ereng pinagkatakutan mo'y, ngayo'y makakaya mo na. Kahit na sabi mo'y naputulan ka na ng pakpak; kahit pa sabi mo'y hindi ka na muling makalilipad pa. Mali, mali ang paniniwala **** yan pagkat --

R-aragasa ang pagpapala't ibubuhos Kong ganap ang Sarili Ko sayo. Ayokong iniisip **** hindi mo na kaya ang buhay; ayokong mawalan ka ng pag-asa dahil lang umasa ka sa maling tao o maling mga bagay o mga sitwasyon. Sabi mo pa nga, wala nang saysay ang buhay mo. Sabi mo nga, hindi mo na kaya. Oo --

S-asabayan Kita -- sasabayan, hindi lamang sa pag-abot ng mga pangarap mo. At sa bawat lubak na madarapa ka, tandaan **** narito Ako't aagapay sayo, kahit ilang beses ka pang matisod sa pagtalikod o pagkatalisod ay handa pa rin Akong saluhin ka -- sasaluhin at payayabungin.

T-atayo Ako sa harap mo at Ako ang magsisilbing harang sa bawat balang ikaw ang puntirya. Manatili ka lang -- manatili nang may buong pananampalataya at Ako -- Ako ang gagawa ng mga bagay na imposible sa paningin mo -- mga bagay na mistulang imahinasyon mo lang; mga bagay na binaon mo na sa limot pagkat huminto ka, huminto ka dahil napagod ka. Pero tapos na, tapos na ang panahon ng kapaguran. At ngayo'y --

U-nti-unti **** mararamdamang kusa na ang pagyapak mo kasama Ako. Na kaya mo na pala, na nakahawak ka na rin sa mga kamay Ko; na hindi ka na bibitaw pa. Pagkat, kailanma'y hinding-hindi Kita binitawan. Oo, hindi Kita hinila noon pagkat ayokong napipilitan ka pero matagal na -- matagal na akong nakahawak sayo; hindi mo lang napapansin o hindi mo Ako nagagawang tingnan.

W-ag kang mag-alala't alam ko ang kapasidad mo - kung kailan mo kaya at kung kailan hindi. Alam kong minsan mahina ka, pero maging mahinahon ka.

Y-ayakapin Kita, Anak; at kung iiyak kang muli, pwede bang sa mga bisig Ko na lang? Ikaw ang tanging Yaman ko't alay Ko sayo ang lahat. Mahal Kita, at ito'y walang hanggan.

---
Ngayon, magtatapos Ako
Magtatapos ako kahit na sarado pa ang puso mo
Kahit na may iba ka pang mahal sa ngayon
Kahit tila naririndi ka na sa pagkatok Ko
Kahit pa pinagsasarudahan mo Ako
Kahit pa ayaw mo pa Akong tanggapin
Kahit pa sabi mo'y hindi ka pa handa
Kahit pa sambit mo'y sa susunod na lang
O kahit pa sigaw mo'y tumigil na Ako
Pero hindi, ayokong magtapos ng ganito.
Magtatapos Ako't maghihintay sa sagot mo
At sana, sana'y dugtungan mo ang liham ng paanyaya
Dalawang letrang magkatulad lang
Dalawang letra lang ay sapat na
At ito -- ito na marahil ang pagtatapos
Na Ikaw ang Simula.
alvin guanlao May 2013
piktyuran mo ako ng ganyan
bidyohan mo't mejo hubaran
dapat kita yung buong katawan
gawin natin ito sa ibat ibang paraan

galit ako sayo, dito tayo magaway
sa kita ng madaming tao ngunit di ni nanay at tatay
subukan niyong magcomment at kayo'y madadamay
gusto naming dito mag away at walang sasaway

dapat nilang makita ang aking agahan
dapat nilang makita ang aking tanghalian
dapat nilang makita ang aking hapunan
dapat ulit nilang makita ang aking hapunan
wag kayong maoffend, tula ko to, kung naooffend kayo, ******* ka
Allan Pangilinan Dec 2015
Disoras na naman ng gabi,
At ‘di ko alam kung saan ako aabutin ng kahangalang ito.
Andaming sabi-sabi sa mga tabi-tabi,
At naisipan kong isulat ang ilan sa mga ‘to.

Kung mabasa ito ng iba kong kakilala,
Siguradong pagti-tripan ako ng mga tangina.
Pero ayos lang, ano pa bang mawawala?
Sanay na ako’t sobrang kapal na ng aking mukha.

Nais ko lamang ibahagi ang isang kwento,
At marining kung ito’y naranasan na din ba ng iba.
Pagkat sa ikot ng ating mundo,
Ang kwentong magkapareho’y anong ginhawa.

Hayskul ako noon nang una kong masabi na, “Shet, gusto kita.”
Ano pang mga ka-kornihan ang ginawa ko’t sumulat ng tula.
Napainom pa ako ng energy drink para lang masabi,
Na sa tuwing nakikita kita’y abot langit naang aking ngiti.

Ngunit ayun lamang at ako’y ‘di pinalad.
Sa mga rasong tila dapat ay batid ko naman.
Paano nga ba ang sarili’y mailalakad,
Kung sa mga simpleng salop ako’y walang mailaman.

Naging mabuti naman pagkat ika’y minahal ng isang tunay na kaibigan,
‘Wag niyo na lamang akong imbitahan sa inyong kasal.
Sa ngayo’y ang alaala na ito’y dumaraan na lamang,
Tuwing napag-iisa’t ubod ng pagal.

Limang taon ang nalipas at muli kong sinubukan,
Sa ibang babae naman binuksan ang kalooban.
Akala ko ay pwede na,
Ngunit, puta, ‘di rin pala.

Ang hirap mo maging kaibigan,
Lahat ng tao sa paligid mo’y ako’y sinisiraan.
Batid kong may pagkakaiba ang ikot ng ating kaisipan,
Ngunit inakala kong posible ang pagkakasunduan.

‘Di ako ng tipo ng madalas magkagusto,
Lalo na din siguro sa mga pangyayaring nasulat rito.
Tingin man ng iba’y dapat maataas ang aking tiwala sa sarili,
Mga taong ‘may kaya niyan’ ay sadiyang pili.

Sa totoo lang, marami akong ayaw sa sarili ko,
Kaya’t malalim na takot ang nararamdaman ko.
Kahit na sabihin ng iba noon na gusto nila ako,
Dagli kong iisiping, “Sino niloloko mo?”

Nanay ko lang tumawag sa aking gwapo,
At sa mga manininda at drayber ko lang narinig ang, “Uy, pogi!”
Ngunit sa katotohanan pala’y iba-iba talaga ang pagtingin ng tao,
At minsa’y may mga tunay sa magkakagusto sa’yong mga ngiti.

May mga lumapit na rin,
Babae at lalaki, nagparamdam ng pagtingin.
Ngunit ayaw ko ring lokohin sila at ang aking sarili,
Kung ‘di naman tunay ang magiging pagpili.

Kaya siguro ako tumatandang ganito,
Malakas ang loob at mukhang masungit,
Dahil sa loob ng 20 taon ay kinaya ko ang sarili ko,
Mag-isa akong bumabangon at pumipikit.

Kinaya kong mamuhay ng mag-isa,
Kaya mahirap hanapan ng lugar ang para pa sa iba.
Ngunit ‘di tayo nawawalan ng pag-asa,
Na merong ‘siya’ na darating nga.

Andami nating hinarap na mga problema,
Iniyakan ‘to, uminom dahil dun at kung anu-ano pa.
Ngunit kung iisipin, masa madali **** malalampasan yan,
Kung may isang taong tunay kang pakikinggan.

Sa lahat ng ‘di buong nabiktima ni kupido,
Na sa’yo lamang lumipad ang palaso,
‘Wag kang bibitiw kapatid ko,
Ang araw ng iyong kasiyahan at ligaya’y pinapangako ko.

Patuloy na managarap at managinip,
Tadhana’y nariyan at unti-unting sisilip.
Malay mo bukas paggising mo,
Kayakap mo na ang taong pinapangarap mo.
Nasa banyo ako nang maisip ko ang ilang mga taludtod para sa likhang 'to.
Hiory May 2017
Malam

Belahan rindu memebelai malam sunyiku..
Tak dapat kutolak..
Bagai tetes hujan yang hanay dapat ditunggu hingga selesai
tak dapat ku hentikan..hanya dapat kunikmwaktu yang hanya
Pagi

Malam tadi aku ingin secepatnya menyelesaikan..
Menyelesaikan segala kesunyian yang dialandasi oleh
malam penuh kerinduan..
Berharap pagi dapat menopang rindu ini..
tapi ternyata pagi pergi meninggalakanku bersama rindu-rindu
yang menyiksa..
Dan melimpahkan segala kerinduan ini kepada siang..
Siang yang membakar hampa sunyiku...

pagi..
Tak dapat menyelesaikan rindu ini..
Siang pun begitu..
waktu hanya membuatku kecewa melewatinya..

Sore..
membawa pelangi indah nan menyejukkan mata..
Tanpa hujan yang mendahuluinya..
Sy Lilang Jan 2017
011717 #SpokenWords

Sabi ko noon, hindi na ako magsusulat pa -- na hindi na ako mag-aalay ng tula para sayo. Na ang huling piyesa ng tula ay ipinalipas ko na rin noong isang taon, ipinatikom sa dagat na bumubura ng bawat larawang binigkis sa buhanginan -- noong isang taong napagmasdan ko ang pagbagsak ng bawat dahon ng alaalang dinumog at pinunit ng hangin.

Akala ko yun na ang huli, nang bigkasin ko sa mismong harapan mo ang bawat malayang mga tugmang naikatha buhat sa lalim ng sugat nang palihim na pag-ibig -- ngunit walang lihim na hindi nabubunyag kaya marapat na rin sigurong mailathala ang damdamin sa bawat dahong muling pausbong bagamat hindi ko pa rin alam kung aabutan ba ito ng taglagas.

Akala ko yun na ang huling pakikipagtagisan ko sa bawat salitang may mensahe ng pagbitaw. Akala ko kakayanin kong bumitaw agad, bumitaw nang kusa at tuluyan nang maihihimlay ang bawat tula sa mismong pinagtuyuan ng bawat dahong bumabagsak.

Ilang beses na kitang ipinaubaya sa Kanya pero paulit-ulit kang bumabalik -- ni hindi ko alam kung dapat bang sisihin ko ang tadhana o talagang kailangang kong tanggaping parte ito ng pagpapasakop at pagpapaayos ko sa Kanya. Paulit-ulit kitang kinatatagpo sa panaginip na halos magtaka ako kung bakit.

Napuno ng listahan ng ngalan mo ang mga petsa sa kalendaryo kung ilang beses kang naging bisita sa aking pagtulog at paghimbing. Hindi naman ako kumakatok sa aking unan at kumot para masilayan ka -- masilayan kung posible bang maharap kita at hindi na ako urong-sulong pa.

Paulit-ulit tayong ipinagtatagpo kung saan una tayong nagkita at nagbitaw ng mga pangakong uunahin natin Siya at doon din natapos ang bawat panimulang may matatamis at mabubulaklak na pagsasalarawan ng mga salitang "kung tayo'y tayo talaga." Pero paulit-ulit kitang hindi ipinagkakait sa Kanya kasi alam kong para sa Kanya ka naman at hindi ako ang makapagsasabing ang bukas ay laan para sa atin ng may iisang pintuan.

Hindi ko maaaring ilibing nang buhay ang bawat alaalang naging parte ng kung sino ako ngayon, mga nakaraang sabi nila'y dapat daw ay daanan ko lang at wag pagtambayan. At kung hihimayin ko ang bawat yugto, hindi ko alam kung kaya bang paluputan ang mga ito ng metaporang pampalasa sa bawat linya ng tula.

Hindi ko alam kung magkakasya ito sa puso **** ni minsa'y hindi mo nagawang pagbuksan. Inilatag ko na sa Kanya ang lahat kasama ang pagpapatawad ko sayo, kasama ang bawat panalangin ko para sa ikatataas Niya sa buhay mo -- mga panalanging para sa ikatatag ng pananampalataya mo, para sa ikalalalim ng relasyon at pundasyon mo sa Kanya.

At hindi, hindi ko lubos maisip na ganito ang paraan Niya para sa paghilom ko -- na mismong pinagtatagpi-tagpi niya ang bawat tauhan sa paligid ko para lang maharap kita.

Ilang beses akong umiwas na may sumbong sa kalangitan na sana nga dumating na ang panahon -- yung panahon na kaya ko na at kaya mo na rin. Nag-iwasan tayo na waring naglalaro ng Patintero at nakakapagod nga -- nakakapagod makipaglaro kasi hindi naman natin ninais na makipaghabulan sa wala na.

Pinili kong bitiwan ka pero hindi ko binitiwan ang paghihintay ko sayo -- naghihintay akong marinig lang mula sayo na ayos ka lang.

At oo, ayokong nakawin ang mga oras at sandali na laan para sa paglago mo sa Kanya. Noon pa man, yun na rin ang tanging dasal ko sa Kanya. At kahit sa pagbitaw natin nang paulit-ulit, mas minamahal ko Siya. Oo, mas matimbang ang pag-ibig Niya para sating dalawa kaya nga't mas mainam na mag-ipon na lamang hindi ng mga pangamba, bagkus ng mga panalanging kalugud-lugod sa Kanya pagkat iisa lang ang ating Ama.

At kahit pa, kahit pa hindi ko masuri sa aking sarili kung ito na ang huling piyesa, hindi pa rin ako bibitaw sa pagsusulat. Maubusan man ng pagdanak ng tinta ng aking pluma'y patuloy akong makapagsusulat.

At hindi matatapos ang mga tula na may ganitong pangwakas. Hindi ko rin alam kung kailan ito madudugtungan at kung dapat bang ihanay ko na sa ibang istilo ang bawat katha.

Gayunpaman, ang bawat tinta ng bawat kataga'y iisa lang ang diin -- isang mensaheng hindi ko kayang sambitin, hindi kayang sambitin nang harapan kaya't katulad ni Rizal, mas nanaisin kong ganito ang maging istilo ng mapagdamdaming paghihimagsik. Isang mensaheng hindi ko kayang bigyang pamagat at mananatiling isang alamat --- alamat na hindi ko wari kung makakarating ba sayo o hindi.
Sasarhan ko na ang plumang may umaapaw na pagbulong ng lahat, pagkat ngayon: ikaw naman sana ang magsulat. Ngayon, ikaw naman sana ang magbigay ng pamagat -- isang pamagat kung may "tayo" pa nga ba sa huling mga linya o tutuldukan na lang ba natin ito at lilikha ng panibagong kabanata.
Kelly Bitangcol Nov 2016
Noong Nobyembre 8 2016, magandang araw ang aking naranasan. Lahat ng tao ay naging mabait sa akin, masaya ang mga pangyayari at nakangiti ako buong araw. Nang sumapit ang hapon at ako ay pauwi na galing sa eskwelahan, mayroong ibinalita sa akin ang aking ina. At dahil sa balita na iyon, nasira ang aking mabuting araw, at napalitan ng pagiging miserable. Isang pangyayari na tumatak sa isip ng madaming Pilipino,  isang pangyayari na naghimok sa akin upang magsalita at lumaban. Noong Nobyembre 8 2016, pinayagang ilibing ang dating presidente at diktador na si Ferdinand Marcos sa libingan ng mga bayani.


          Bayani ba si Marcos? Siya ay naging presidente ng Pilipinas sa loob ng dalawampu’t isang taon. Alam nating lahat ang kanyang mga nagawa, dahil sa kanya mayroong NLEX, at iba pang mga imprastraktura at gusali. One is to one ang peso at dolyar noong kanyang panahon. Madami siyang nagawa para sa ating bansa. At sabi nga ng maraming Pilipino, ginawa niyang mayaman ang Pilipinas. Pero ano nga ba ang katotohanan? Noong ako ay bata, nasa isip ko rin na si Marcos ay naging magaling na Presidente at pinaganda niya ang Pilipinas. Pero nang ako ay tumanda, nalaman ko ang mga katotohanan na ayaw tanggapin ng karamihan. Bago pa maging presidente si Marcos, mayroon ng malaking oportunidad na magkaroon ang Pilipinas ng economic bloom, at yuon ay dahil sa administrasyon ng mga dating Presidenteng si Magsaysay at Macapagal. Kung mayroong dapat ikredito kay Marcos yuon ay ang pagpapayag niya ng paghiram ng malaki at ang ginawa niyang malalaking utang sa mga dayuhan na dapat kanyang gamitin para sa industrialization at pagpapaunlad. Ngunit sinayang ng rehimeng Marcos ang lahat ng perang ito sa pamamagitan cronyism at katiwalian. Ang hindi alam ng nakakaramihan ay isa siyang kurakot na lider, at ang kanyang mga utang ay babayaran natin magpahanggang sa taong 2025. Oo, madami siyang naipatayong mga imprastraktura at may mga nagawa siya sa bansa, pero hindi ba galing sa mga Pilipino ang pera na iyon? Nasa kapangyarihan siya sa loob ng dalawampu’t isang taon, malamang sa malamang ay madami siyang magagawa. At hindi ba responsibilidad iyon ng isang presidente? Na paglingkuran ang bansa? Bakit kailangang isumbat iyon? Ang daming bagay na hindi alam ng mga Pilipino at lubos na nakalulungkot ito, ang mas nakakalungkot pa ay ang mga nakalimot sa Martial Law. Pinili ng mga tao na kalimutan ang mga totoong bayani, na nagbuwis ng buhay nila para sa bansa na ito. Nakalimutan nila ang mga libo libong tao na namatay at nasaktan. Nakalimutan nila ang dami ng dugo, at sakit na dinanas ng Pilipino noong panahon ng Martial Law. Ang demokrasyang binura ng administrasyong Marcos ay pilit na kinalimutan ng mga mamamayan ngayon dahil sa kadahilanan na ginawa naman nitong maganda ang bansa. Ang kalayaan na ipinaglaban ng mga Pilipino noon, ang kalayaan na dahilan upang makapagsulat ako ngayon, ay hinding hindi ko makakalimutan. Mga perang ninakaw,  mga Pilipinong lumaban pero namatay at nasaktan, mga karapatan na nayurakan, gaanon nalang ba kadaling kalimutan? P167.636 bilyon na ninakaw, 3,264 na namatay, 34,000 na tinorture at 70,000 na nakulong. Hindi bayani si Marcos, at kahit kailan hindi siya magiging bayani.


       Ang pangyayaring ito ay isang malaking bahagi sa ating kasaysayan at bansa. Sinasabi nila na tayo ay mag move on at magpatawad, pero paano natin ito mabibigay kung wala namang nanghihingi nito? At wala sa kanila ang desisyon kung kailan tayo magbibigay ng tawad. Habang ang mga Pilipino ay pinatay ay ninakawan, ang pamilya niya ang nagsasaya dahil sa kanilang yaman at dahil sa pagiging bayani ni Marcos. Sa pangyayari na ito, parang nabura ang ating kasaysayan. Para nating kinalimutan lahat ng nangyari. “Buti pa si Marcos may bangkay.”, sabi ng isang pamilya na hindi pa nahahanap ang bangkay ng isang Martial Law victim. Paano tayo magmomove on sa isang pangyayari na hindi pa naman nagkakaroon ng maayos na wakas? Ito ay parang paglagay ng asin sa sugat na hindi pa naghihilom. Ang nangyayari sa ating bansa sa kasalukuyan, sa katunayan, ay sobrang nakakatakot. Nakikita ko na simula ito ng panibagong panahon na walang demokrasya at pagapak sa mga karapatan. Baka masyado tayong takot sa kasaysayan, pero hindi tayo takot na maulit ito. Pero hindi ako titigil, hindi dapat tayo tumigil, upang ipaglaban ang tama. Tayo ay magsalita, at lumaban para sa ating bansa. Huwag tayong susuko para makamit ang tunay na hustisya.  Hahayaan ba natin na maulit ang madilim na nakaraan? Hindi na muli.

*(k.b)
ESP May 2015
Hindi ako marunong tumula

Hindi ako marunong tumula
Kahit tinuruan ako ng **** ko sa wika
Ng tamang pagsulat
Ng may tamang sukat
Ng may tamang sukat ng salita
Ng may tamang salita

Hindi ako marunong tumula
Dahil iniwasan kong gumawa ng isa
Dahil ayoko ng konbensyunal
Dahil ayoko ng sukat-sukat
Dahil ayoko ng bilang-bilang
Dahil ayokong nahihirapan
Kung paano ko ipapahayag ang sarili ko

Hindi ako marunong tumula
Dahil alam kong ang mga makata lamang
Ang may kakayanang makapagsulat
Silang mga nakapag-aral ng wika
Silang mga matagal nang nagsusulat
Silang walang sawang nagsusulat ng mga salitang
Kasing bango ng mga bulaklak
Kasing tingkad ng langit
Kasing linaw ng mga tubig sa dagat
Kasing sarap ng paglanghap ng sariwang hangin

Hindi ako marunong tumula
Kahit naririnig ko sa radyo
Ang mga kantang binibigkas
Ng mabibilis na mga bibig
Ng mga magagaling na mang-aawit ng tula

Hindi ko inibig ang tumula
Dahil alam ko sa aking sarili
Na marunong lang akong magsulat ng kung anu-anong kwento sa buhay
Mga kwentong binibigyan ko ng buhay
Na akala ko sa isip ko lang maninirahan

Ngunit dumating ang araw
Natulala sa isang bagong kwaderno
Blangkong kwaderno
Ni hindi ko alam
Kung ano ang isusulat
Walang maisip ni isa
Maliban sa isa
Ikaw
Ikaw lang ang laman ng isip ko

Nakapaglakbay patungo sa unang pahina
Ang salitang aking hinahanap
Hanggang sa nagtawag siya ng mga kasama
Ng ka-tropa
Ng ka-barangay
Sunod-sunod silang nagsisidatingan

Ikaw lang ang laman ng isip ko
Ikaw na lagi kong kasa-kasama
Ikaw na lagi kong gustong kasama
Ikaw lang
Pero sunod-sunod ang salitang naisulat ko
At nagulat ang nanlalabong mata ko
Tula na pala ang naisulat ko

At nagsulat ako
Nang nagsulat tungkol sa mga ngiti mo
Tungkol sa kung paano kita nagustuhan
Tungkol sa kung kelan lahat nagsimula lahat ng nararamdaman ko
Tungkol sa kung paano ko nilalabanan 'to
Tungkol sa pagkagusto na akala ko hindi dapat
Dahil magkaiba tayo ng gusto
Nagsulat ako nang nagsulat
Hanggang naisulat ko na pala
Na mahal kita

Hindi ako marunong tumula
Ayaw kong gumawa noon ng tula
Pero dahil sa'yo
Marunong na akong gumawa ng tula

Gumawa ako ng maraming tula
May maikli
May mahaba
May hindi tapos
May walang kwenta lang
Halos lahat ay patungkol sa iyo
Minsan sa buhay ko
Pero sa'yo lang umiikot ang buhay ko
Totoo

Ang sarap palang gumawa ng tula
Akala ko mahirap
Akala ko laging may batayan
Akala ko laging may sukat
Tulad ng itinuro sa akin ng **** ko sa wika
Pero hindi pala
May iba palang paraan
Basta't may emosyon kang nararamdaman
Mahalaga na may emosyon tulad ng
Malungkot kasi hindi kita nakasama
Mahalaga na may emosyon tulad ng
Masaya kahit na tinititigan lang kita nakikita ko na mangiyak-ngiyak ka na sa tawa
Mahalaga na may emosyon tulad ng
Pagkasawi kasi alam kong walang patutunguhan 'tong lahat

Katulad mo ako
Isinusulat mo kung anong nararamdaman mo
Ang nararamdaman **** hindi katulad ng nararamdaman ko
Ikaw na siyang nagmamahal ng taong
Hindi ka gusto
Katulad mo ako na
Nagsusulat ng laman ng puso mo

Kung pwedeng ako na lang na ang tinutukoy mo

Marunong akong gumawa ng tula
Ikaw ang may dahilan ng lahat
Nasabi ko na sa'yo lahat
Hindi pa pala lahat

Marunong akong gumawa ng tula
Pero hirap na hirap ako ngayon
Dahil wala na akong maramdaman
Wala na ang pinanghuhugutan
Wala na yatang dapat paglaanan
Wala na

Habang isinisulat ko ito
Wala akong emosyon
Walang emosyong nararamdaman
Sa'yo
Tapos na ata ako sa'yo
Wala na rin akong masulat para sa'yo
Pero marunong akong magsulat ng tula
Kaya
Maghahanap na lang ulit ako
Ng taong paglalaan ng mga salitang
Hindi makatotohanan sa pangdinig kapag isinambit
Hindi makatototohan habang binabasa ng mga mata
At hindi makatotohanang isinulat ng isang hamak na katulad ko
Maghahanap ako
Ng isang tulad mo

Mahaba-haba na ang aking naisulat
Napatunayan ko na atang marunong akong magsulat


Pero hindi ako marunong tumula.
J Feb 2018
Kaibigan, halika at makinig,
Sa storyang dapat **** marinig,
Sana ako’y paniwalaan,
Dahil hindi ito kathang-isip lamang.

Habang ako’y nag-iisa,
Habang hindi mo ako kasama,
Dumidilim ang mundo,
Sa pagdilim nito kasama pati buhay ko.

Sa tuwing nakatingin sa mga tala,
May mga boses na laging nang-aabala,
Gusto ko silang tumahimik,
Maalis ang mga aninong umaaligid.

Tama na.... tama na... ayoko na,
Patahimikin mo na sila.
Tama na.... Nakikiusap ako,
Tulungan, tulungan mo ako.

Sa gabi man o umaga,
Lungkot na hindi mawari ang nadarama,
Noong araw na ako ay nawala, (sa aking pagkawala)
Kasabay nito ang katahimikan nila.

Sa pagtatapos ng aking kwento,
Sana maunawaan mo,
Na hindi ito kasabay ng panahon na lilipas din,
Ito ay importante at dapat intindihin.

Sa pag kupas ng mga larawan,
Sa bawat kumpas ng alon sa dalampasigan,
Kaibigan, ako’y lumisan sa mundo hindi dahil ginusto ko,
Pero para sa ikatatahimik ko.

Saklolo.
Stop the stigma of Mental Illness. Mental disorders are not adjectives.
AUGUST Oct 2018
Ang paligsahan ay nagumpisang magbukas
Ng mga piling kalahok kung sino ang pinakamalakas
Pinagtipon tipon sa labanang may mataas na antas
Ang gantimpala sa mananalo ay ang kapalaran ng bukas

Wari bang hamon ng buhay na tayong lahat ay kalahok
Sa paligsahang paunahang makarating sa tuktok
Kung sino ba ang makakalagpas sa mga pagsubok
At kung sino ba ang matatag at tunay na di marupok

Kaya wag hayaang tumiklop ang tuhod
Kahit sa panghihina ay dahandahang mapaluhod
Dapat kalimutan ang nararamdamang pagod
Dahil ang laban ay dumarating nang sunod sunod

Ibigay ang lahat ng makakaya
Magtiwala sa sarili, may magagawa pa
Wag mawawalan ng pagasa
Manatiling nakamulat ang mga mata

Sabay ibukas ang munting palad
Ano mang oras darating ang hinahangad
Tulad ng manlalarong naghihintay ng pasa
Nakasalalay ang puntos, kapag nahawakan ang bola

Ganun kahalaga ang bawat panahon
Di dapat pinalalagpas ang bawat pagkakataon
Yan ang aral na ipinapaalala nitong kompetisyon
At ang disiplinang nakapaloob sa isang kampeon

Sumigaw kahit gaano kaliit ang tinig
Di maglalaon ay tuluyan ka nilang maririnig
Habang ang tao’y may taglay na pagibig
May lakas na di padadaig kahit pang buong daigdig

Bumangon ilang beses man madapa….

Walang tagumpay sa pagsuko
Kaya laban lang ng buong puso
Ipakita **** ikaw ang nararapat
Sino man ang makatapat, bumalakid man ang lahat

Ang mundo ay isang parang laro
May panalo at may pagkabigo
Ngunit may karamay na kupunang sumasaiyo
Na magsasabing “Magkasama tayo, sila ikaw at ako”
By August E. Estrellado
Team 4 “Rendu”
HYA Nov 2018
Habang ako ay naglakad-lakad sa iskinita,
Nakakita ako ng isang marikit na lumuluha
Ang perpektong mukha ay hindi maipinta
Ang mga mata ay palihim na nagmamakaawa

At sino ba naman ako upang tanggihan
Ang hiling ng isang dalagang luhaan?
Dahan-dahan, siya ay aking nilapitan
At tinanong kung ano ang kailangan

"Gusto ko ng sorbetes," saad ng maganda
Ang sagot ay hindi inasahan kaya ako'y napatawa
Tumango ako at inalay ang aking kanang kamay
Kung tutuusin, hindi lamang iyan ang dapat ibigay

Kinabukasan, sinimulan ko ang aking paglalakbay
Susungkitin ko ang buwan at mga bituin nang sabay
Itatali ko sila na para bang mga lobong malalaki
Siguradong maipapakita ng mga ito ang kanyang ngiti

Sa gitna ng aking biyahe, natanaw ko ang hindi gawi
Ang plano sa pagsungkit ay kanilang nasaksi sa dagli
Sila ay buong tapang kong nilabanan para sa marikit
Hanggang sa aking mga kamay, ang mga bituin ay dumikit

Ang buwan nalang ang kailangan at ako ay babalik na
Ang aking mga isinungkit ay para sa likom ng kanyang mata
Buong kalawakan kung saan ang mga planeta'y sumasayaw
Iba't ibang kulay kung saan sa bahag-hari ay humahataw

Sa hindi inakala, dumayo ang buwan at nagpabihag
Ayon sa kanya'y tutulong siya upang magbigay liwanag
Sa kaluluwa ng dalagang labis ang tulo ng mga luha
Dagdag pa niya'y sa marikit, hindi na dapat ako mabahala

Kaya itinali ko na sila na para bang mga lobong malalaki
Sa pagtanggap ng mga ito, sana'y hindi siya mag-atubili
Sapagkat handa akong sungkitin ang lahat lahat
Kung ang saya niya ang kapalit, lahat ay sulit at sapat

Binalikan ko ang eskinita kung saan ko siya unang nahagilap
Ang espasyo kung saan ako dinala ng araw at ng ulap
Nandoon pa rin siya subalit hindi na umiiyak
Nang suriin ko ang kanyang mukha, siya ay nagagalak

Ako ay tumakbo nang mabilis at tinawag si marikit
Ang lobong buwan at bituin ay hindi magkasiya sa sikip
"Marikit, narito na ang pasalubong ko sa'yo; ang buwan at tala.
Sila ang gagabay sa iyo kapag naubusan ka na ng bala."

Lumayo ang kanyang tingin at yumuko nang kaunti
Ang mga kanyang mga salita ay nagbigay ng pighati,
"Ginoo, hindi ko tatanggapin ang iyong mga handog
sapagkat isang maginaw na sorbetes lamang ang gusto kong alindog."
Minsan, kahit ginawa mo na lahat, kapag hindi para sa iyo, hindi para sa iyo.

hindi gawi - alien
---
I'M BACK!

I suffered from a writer's block for months. Months, pipol, months. Ugh. I never thought I'll be back with writing again. Thank my friend, Danielle for giving me an inspiratioooon. Gah, I'm so happy.

I'm learning to write narratives sooo I hope you liked it and sorry if it's disappointing tho. I'm trying, swear.
JOJO C PINCA Nov 2017
Ang makamtan ang maliliit subalit makabuluhang layunin sa loob ng maiksing panahon. Sa maiksing panahon lang, ‘hwag mo’ng sakupin ang lima hanggang sampung taon na paparating pa lang. Ituon mo sa ngayon at sa mga darating na araw o buwan ang pagkamit sa iyong mga layunin. Hindi totoo ang long term plan, tangina baka nga hindi mo na ito ‘datnan kaya hindi mo ito dapat na saklawan. Ang tagumpay ay hindi sinusukat sa haba ng paghahanda para ito makamit, ang totoong tagumpay ay dapat na lasapin sa bawat sandali, minuto, oras at araw ng buhay mo. Oo, ganun lang dapat, kasi maiksi lang ang buhay baka sa sobrang abala mo para paghandaan ito ay makalimutan mo ang maging maligaya.

Ito ang pinaka malaking trahedya ang kalimutan ang kasalukuyan para lang paghandaan nang todo-todo ang bukas na iyong hinihintay. Ok lang na mangarap, na magsumikap at pangarapin ang magandang bukas subalit hindi mo dapat na ipagpalit kung ano man ang kaligayahan na meron ka ngayon para lang dito. Enjoy your life today while preparing for the future ika nga. Kung bata ka maglaro ka, sige lang makipaghabulan ka sa mga tutubi o di kaya ay  magtampisaw sa ulan. Kung binata ka sige lang manligaw ka at makipagkaibigan mag-invest ka sa pakikisama at matutong makipagkapwa tao. Kung nagtratrabaho kana gawin mo nang may pagibig ang ano mang giangawa mo, ‘wag lang nang dahil sa pera.

Maging bubuyog ka na laging handang sumimsim ng bango ng mga bulaklak. Gayahin mo ang ibon na laging umaawit at lumilipad. Umawit ka at tumula kahit walang tagahanga. Ipagdiwang mo ang bawat ngayon. Ang maiksi subalit makabuluhan na panahon ito ang mga ginintuang sandali na hindi mo dapat na ipagpalit, hawakan mo ito nang hindi mawaglit.
Yule Feb 2017
matagal ko na rin 'tong iniisip
hangga't maaga pa, ako'y bibitaw na
dahil alam ko una pa lang
sa huli ako'y masasaktan

masakit man para sa akin
pero bakit ba hindi ko kayang tanggapin?
na ako at ako lamang ang nagmamahal
na ako lamang ang maghihintay ng ka'y tagal

alam kong dapat hindi ko 'to iisipin
dapat wala na akong dapat hangarin
na higit pa sa dapat kong damdamin
dahil kahit kailanman
alam kong hindi mo ito maibabalik

pilit man kitang layuan
ako yung mas nahihirapan
bakit ba ganyan ang iyong mga titig?
lalo tuloy akong nasasabik...

bakit nga ba hindi ka pwedeng maging akin?

eng trans:
I've been thinking about this for a while
As soon as possible, I should let go
Cause from the start, I know
I'll get hurt in the end

It hurts for my part
but why can't I accept it?
that it is me, and only me that keeps on loving you
that it is only me that will have to wait for too long

I know I shouldn't be thinking of this
I shouldn't even yearn for more
for something greater than I should feel
Because I know that you'll never return it

I tried to keep my distance
But it is me that's suffering
Why are your stares like that?
I'm getting more eager...

**why isn't it possible for you to be mine?
I am yours but you're never mine
Ako'y sayo pero hindi *ka sa akin*

*kita pagmamayari* is a better translation for this...
also, translating this is kinda hard

{nj.b}
Ako ang nandito.
Bakit binabalewala mo?
Ano?
Ano ang dapat na gawin ko para ako ay mapansin mo?
Ano ang meron siya na wala ako?
Ano ang kailangan kong gawin para makita  mo na ako ang nagmamahal sayo?
Ilan?
Ilan na tula ang dapat kong gawin para mapahanga ka?
Ilan na taon pa ang kailangang lumipas para malaman mo na mahal kita?
Ilan beses ba dapat ako tumulong sayo para maliwanagan ka?
Ilan beses ba dapat ako masaktan para lang sayo?
Ilan beses ko ba dapat ipakita sayo na mahal kita?
Ilan beses ba dapat ako magpakatatag at lumaban sa isang pagmamahal na ako lang yung nagmamahal?
Kahit tumingin ako sa iba. Ikaw pa rin talaga. Sana malaman mo :)
aennij Jul 2019
kung walang tatayo para sa bayan, sino?
ikaw na takot at naniniwala sa kuro-kuro?
ikaw na sanay na sa sistemang pabago-bago?
kung hindi tayo lalaban, sino?

sino bang dapat lumaban at makiaklas?
sino bang nandyan hanggang bukas?
sino bang nais humamon upang maging patas?
sino ba dapat ang kailangang tinitingala at tinitingnan sa itaas?

hindi ba't ikaw ang dapat gumawa ng paraan?
hindi ba't ikaw na mamamayan?
hindi ba't ikaw na Pilipino sa dugo at laman?
hindi ba't ikaw na anak ng bayan?

sa bawat siglong dadaan ay nanatili ang rebolusyon,
ang tanging kailangan ay pagmamahal sa nasyon.
mga aksyon natin dapat iayon,
kaya lumaban ka para sa sarili, sa bayan at sa susunod na henerasyon.
para sa bayan.
Aisyah Adler Mar 2016
Perasaan ini terus bergelung
Bersembunyi di dalam relung.
Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung.
Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya
Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya
Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama.
Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah,
Ia tak pernah bosan untuk membendungnya
Dan menunggu,
Menunggu datangnya hujan.
Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya.
Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang.

Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit,
yang dengan setia mendengar celotehannya.
Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami.
Mendongak menatap langit, dan bercerita.
Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar
dan menemukan ketenangannya sendiri.
Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan.

Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya.
Ia tersenyum.
Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat.
Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras.
Inilah kebahagiaannya.
Namun juga kesedihannya.
Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis.
Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka,
namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya.

“Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Hindi ko alam kung ano ang aking gagawin.
Pilit ko pa rin iniisip na meron kang gusto sa akin.
Ewan ko ba kung bakit ako nag gaganito.
Dahil sa aking nararamdaman ako'y litong-lito.

Ano pa ba ang aking dapat gawin para masabi 
Itong lihim na pagtingin ko kung may pagkakataon ikaw ay aking makatabi
Hindi mo ba alam na ang aking puso tumitibok para lang sayo.
Kaya ngayon ako'y nanghihina ng loob kung patuloy kang lumalayo.

Dinadaan ko na lang ito sa tula para mabasa mo
Kahit mabasa mo ito huwag kang titigil maging kaibigan ko
Sana'y rin ako maging masaya at malungkot sa piling mo
Kaya sana huwag kang makakalimot sa babae na ito.
Kaibigan ko at naging no label zone ko rin.
Sana mabasa mo ito yung tula na to, dahil alay ko to sa iyo.
Gusto pa rin kita pero parang malabo na talaga, E.
Sana rin magkita ulit tayo.
George Andres Mar 2018
Isang-libo, siyam na raan, siyamnapu't-siyam
Nang una nilang marinig ang pagtangis

Dalawang libo't labing-walo
Napakarami kong gustong bigkasin
Pero nauutal ako't lumalabas pagiging utak alipin
Para sa'yo sana, gusto ko pa ring sabihin,
Na, patawad Felipe, kung kay hirap **** mahalin

Wala ako nang tumangis ka kay Macoy
Huli kong nalaman ang tungkol kay Luisita
Masyado pa ba 'kong musmos upang ibigin ka?

Lubha lamang daw akong bata
Nagpupuyos ang damdamin
Walang pang kaalaman magdesisyon ng tama
Mapusok at madaling matangay
Manatili na lamang daw ako sa klase,
at kinabukasan ko'y sa mataas na marka ibase

Kaya't pinilit kong hindi pakinggan ang pagdaing mo
Ano bang alam ko upang magalit, maghimagsik?

Batid ko man ang kasaysayan mo sa mga prayle, kano't hapon, labis ko pa ngang inidolo si Luna't Bonifacio noon

Hindi ba't namatay rin sila sa kasibulan nang dahil sa'yo?
Natatakot ako, na balang araw iyon rin ang sapitin ko sa piling mo
Mainit ang puso ko, pero malamig ang paa't kamay
Hindi ko kayang palayain ka
Tipid ang boses ko upang ipagsigawan ka
Nagtagpo tayo sa panahong akala ko malaya ka na

Hindi ka pa pwedeng umiyak
Hangga't hindi pa tapos ang lahat
Ano bang alam mo upang magalit, maghimagsik?

Ngunit hindi ko kayang lumingon pabalik
Hindi ko kayang matulog muli nang wala ang 'yong halik
Hindi ko kayang mahimbing nang wala ang mga gunita

Dekada Sitenta.
Bungkos ng namumuong nana
Nilalapnos ng kumukulong tubig
Dumaranak ang dugo sa sarili **** balat
Tumatalilis at tinatanggalan ng bayag

Paiikutin ang roleta't ipuputok sa sintido
Ihihiga ang katawan sa bloke ng yelo
Papasuin ng upos ng sigarilyo
Ibabalanse ang katawan hangga't may lakas pa ang kabayo
Hindi ito mga metaporang naririnig ko lang sa mga kwento

Hindi na ako magtataka kung may diyos pa ba
A kung kahit isang beses nilingon ka man lang niya



Kung ang nakikita ng mata ay dumudurog ng puso
At ang mga salita ay pumapainlalang

Silang 'di nakaririnig ay dapat kalampagin
Hampasin ang higanteng pintuan at sipain
Ang pader na marmol na walang bintana
Galit na sumusunog ng patay na tala
Hindi kumakalma, pilit nagbabaga, nagtatangka

Ano bang alam ko upang magalit, maghimagsik?
Maaari ko bang palitan ng paglilingkod ang iyong biyaya?
Mas madali naman siguro magsalita
Kung 'di mo batid ang paghangos ng maralita


Mainit ang puso ko, pero malamig ang paa't kamay
Hindi ko kayang palayain ka
Tipid ang boses ko upang ipagsigawan ka
Nagtagpo tayo sa panahong akala ko malaya ka na

Nang masulyapan ka nang unang mabuksan ang aking paningin
Gusto ka lang naman palaging kita ng mata
Wala pa man natatakot na akong makitang umiiyak ka
Mas mapalad ba ang mga bulag o tulad kong piring ang mata?
Hinayaan mo akong maging alipin
Itinatatwa ko ang araw na namulat ako
Ang hirap naman kasing maka-usad mula sa'yo
Matapos mabura ang mga kasinungalingang sa'yo'y ibinabato
Kumbaga, ikaw 'yung maraming sakit na pinagdaanan, dadagdag pa ba 'ko?
Patawad
Oh, Felipe, kay hirap **** mahalin

Habang binabasa ko ang kasaysayan ****
Nagaganap pa rin hangang sa ngayon
Parang itinutulak ang aking sikmura
At ang balat ko'y nagsisiklabo
Hindi tumitigil ang mga luha

Ilang taon matapos maghalal ng bagong pangulo
Pinaulanan ng bala ang mga humihingi ng reporma


Dalawang-libo't apat
Matapos ang tatlong dekada
Mga batas na pabor lang sa mayama't may kaya

Gusto lang naman namin mabuhay
Nang hindi inaagaw ang aming kabuhayan
Nagtatanim ng bala't hindi binhi
Umaani ng bangkay hindi punla

Lupa mo'y hinulma ng dugo
Parang imbes na pataba ay pulbura ang inaabono
Para bang ang buhay ko sa'yo'y Walang katapusang pakikibaka
Para bang ang inaani ko'y dusa sa Buong buhay na pagsasaka


Dalawanlibo't-siyam
Matapos ang apat na taon

Kinikitil nila isa-isa ang mamamahayag
Nilibing ng traktora't patong-patong ang buto't balat
Pinagkanulo mo at hayagang pumayag
Mga berdugong hinayaan mo lang lumayag

Dalawang libo't labing-lima
Nangingisay sa walang habas na pangraratrat
Hanggang huling hininga'y maubos, mawala sa ulirat
Apatnapu't-apat **** mandirigma
Lumusong sa mapanganib na kagubatan na walang dalang sandata o pananggalang man lang
Malupit ka, hanggang saan ipagtatanggol ang laya mo?
Hindi pa ba sapat ang lahat ng luha?
Nagsasakripisyo para sa hindi siguradong pagkakakilanlan bilang Pilipino


Ikalawang Milenya.
Ngayon naririnig ko na ang pagpapatahimik laban sa karapatan **** magpahayag
Nagsasakripisyo ng dugo ng mga tupa
Para sa huwad na pag-unlad
Pinapatay ng bala ang uhay
Habang matapos tapakan ang upos ng sigarilyo,
Pagtatalunan ang dilaw at pula
Kung sino ba ang mas dakila
Aastang **** na tagapagligtas
Na siyang hawak ang lahat ng lunas
Napakarami nang diyos sa kasaysayan
Pawang dinikta, ibinigkis ang kalayaan

Ninais kong mahiga na lamang at hintayin ang bukang liwayway
Na pinangarap din noon ng mga ilustrado't rebolusyunaryong mararangal
Wala nang lunas ang sumpa ng edukasyon
Magpalaya ng isipang noo'y nakakahon

Wala sa akin noon ang lakas ng bagyo
Hanggang sa nabatid kong malulunod na rin ako
Wala akong nagawa kundi tumangis

Felipe, lumuluha ka rin ba? nasasaktan ka pa ba o manhid ka na?

Gayunpaman, tahan na, Felipe, tahan na.
112718

PoemsForE
japheth Aug 2018
Minsan mapapaisip ka na lang
kung ikaw ba ay nagkulang
o siya yung di lumaban.

Mapapaisip ka na lang
kung tama bang ikaw ang nahihirapan,
patuloy na lumalaban,
gulo’y subok na iniwasan,
upang di lang siya masaktan.

Mapapaisip ka na lang
kung kaya ka ba iniwan
kasi kahit gaano mo ipaglaban
— na lahat ng problema niya ikaw na pumapasan
umuuwi ka paring luhaan.

Tama ba na tratuhin ka ng ganito?
na parang laruan na pag sawa na sa iba,
ikaw naman ang gusto?

Tama ba na maramdaman mo
ang sakit na nasa iyong puso
kasi pinili mo siya
kahit alam ng utak mo
na di siya nakakatulong sayo?

Tama ba na sa dinami dami ng taong
araw araw na kumakausap sa’yo,
dito ka pa nahulog
sa taong di ka naman isasalo?

Ang dami kong sinasabi sa ibang tao
na maraming gago sa mundo
na di dapat sila papaloko.
Pero sa dulo din pala,
ako yung magmamahal ng tulad mo.

Pasalamat ka,
ako na yung nagparaya
siguro kasi di ko na rin kaya
lalo na’t nakita kitang may kasamang iba.

Tinago mo pa,
sinabi **** kaibigan mo lang siya
ngunit ang totoo pala,
pag di tayo magkasama
tumatakbo ka pabalik sa kanya.

Di na rin siguro ako magtataka
kung bakit mas pinili mo siya
baka dahil ang puso nyo’y nagtugma
o mas magaling lang siya sa kama.

Bakit nga ba ako nagpakatanga?
Nadaan mo nga lang ba ako sa iyong matatamis na salita,
mga pangakong di ko alam kung matutupad ba
o sadyang uhaw lang ako sa pagmamahal
kaya nung nakita mo ako’t nagpapakahangal
nasabi **** “pwede na ‘to, di rin naman ako tatagal.”  

Sinabi ng mga magulang ko
na lahat ng tao pinanganak ng may puso
na kailangan mo lang intindihin at mahalin
dahil sa dulo, pagmamahal niya’y iyong aanihin.

Pero akalain mo yun,
may mga tao palang tulad mo
na di mo alam kung wala ba siyang puso
o ipinaglihi sa demonyo.

Nakakatawa ka,
na lahat ng dugo, pawis, pati narin oras
sayo ko lahat nawaldas
buti sana kung nababalik mo ’to
pero wala, ginawa mo akong uto uto.

Isa kang patunay
na may mga taong
na kahit lahat ng pagmamahal sayo ay ibigay
nag hahanap ka parin sa iba
ng wala kang kamalay malay.

Ngayon,
tapos na ako.
Di ko kailangan ang isang tulad mo.

Sa lahat ng gago sa mundo,
ikaw pa ang pinili ko,
ikaw pa ang minahal ko,
ikaw pa ang pinagubusan ko ng oras ng ganito,
ikaw pa ang sumira sa’king utak at puso.

Pero salamat din sa’yo
dahil kung hindi sa pang-gagago mo
hindi ko mapapansin na ang pagmamahal di ko lang makukuha sa’yo
hindi ko mapapansin na marami rin palang masasama sa mundo
na ang gusto lamang ay makitang mawasak ang sarili ko.

Andami kong natutunan
di lang tungkol sa mga tulad mo
kundi pati na rin sa sarili ko:
na kaya ko palang magmahal ng ganito
na kaya ko palang lumaban ng husto
na kaya ko palang ibigay ang lahat pati narin aking puso.

Ngayong,
mag isa na ulit ako,
mas masaya na ako.

Kaya sa susunod na darating sa buhay ko,
tandaan mo
nagmahal ako ng gago
kaya ayusin mo ang buhay mo
kung ayaw **** sulatan kita ng ganito.
it’s basically means “To All The Douchbags In The World”

first spoken word piece i’ve ever attempted to write and will record soon

to all the filipinos out there, hope you enjoy it.
to everyone else, a translation will come out soon, let’s just pray my anxiety won’t get the best of me.
Eugene Jan 2016
Kaibig-ibig ka, katangi-tangi, at hinahangaan,
Alindog mo at kagandaha'y hindi matatanggihan,
Ng sino mang taong handing-handa kang ligawan.


Kinahuhumalingan ka ng mga lalaki sa ating pamayanan.
Kinaiinggitan ng mga babae sa iyong kaseksihan,
Bakit hindi kita magawang magustuhan?



Ilang lalaki na ang umakyat ng ligaw sa iyo,
Ni isa ay hindi mo sinipot, hindi ka kumibo o nakihalubilo.
Ang sabi ng nakararami? 'Ako' ang gusto mo.


Nang ako'y iyong lapitan sa aming tahanan,
Ang mga ngiti mo'y nag-uumapaw sa kasayahan,
Nang masilayan ka, mukha ko'y walang bakas na kaligayahan.


Ako'y iyong sinisinta, higit pa sa kaibigan.
Ika'y tahasang nagsabing, ako ang iyong napupusuan.
Sinabi **** ako'y liligawan at iyon ay iyong paninindigan.


Subalit, ayoko kong ikaw ay masaktan.
Kaibigan lang ang aking masusuklian,
Sa kaaya-aya **** ngiti at kabaitan.


Hindi ako karapat-dapat na iyong ligawan,
Hindi kita mahal, 'yan ang aking nararamdaman.
Hindi na hihigit pa ang iyong pagkakaibigan.

Kaya, pakiusap, pawiin mo ang iyong kalungkutan.
Ibaling mo sa iba ang iyong isip at damdamin,
Ako'y magpapaalam, mahal kong kaibigan.
21st Century Aug 2018
Babalik si Jesus at alam kung hinding hindi niya tayo bibiguhin. Babalik ulit siya para pagtakpan ang ating mga kasalanan. mag bibilang Ako ng hanggang Sampu. isa,dalawa. dalawang hakbang ang inialay niya  tatlo,baka tatlong beses ulit siyang ipagkakaila Apat,Lima hindi siya tumigil sa paghakbang para sa atin
Anim,pito,wallo,siyam,sampo
Hinding hindi ako titigil sa pagbibilang hanggang sa maramdaman niyo na tayo ngayon ay nawawala.At patuloy parin si Jesus sa paghakbang para lang mahanap niya at maipakita niya ang tunay na mukha ng Pag-ibig. Pag ibig na nagdala sakanya sa kapahamakan. Pag ibig na siyang dahilan sa paghihirap niya at sa  sugatan niyang Katawan. Pag ibig na kung saan nag simula ang lahat. At dahil sa sakripisyo niya tayo ngayon ay nandito. Kapatid hindi pa huli ang lahat may mga panahon kapang itama ang iyong nga nagawang kasalanan. maniwala ka. Hinding hindi ka niya pababayaan. Dahil siya ang Diyos at siya ang Diyos ng sangkatauhan.At ito ang sinabi. "Ako si Jesus ang simula ang at katapusan. Ako ang Buhay ang Daan at ang Katotohanan"
Marahil nagtataka ka kung bakit.bakit naging ganyan ang takbo ng buhay mo bakit naging ganyan bakit naging ganito. Kapatid uulitin ko hindi pa huli ang lahat. Tandaan ang balita ng Diyos na mas dapat pakinggan. isa puso, mahalin at higit sa lahat mas dapat tuparin. Wag kang mawalan ng Pag asa. At wag na tayong maglokohan pa. Dahil palagi siyang Nandiyan at hinding hindi siya mawawala para gabayan ka. Alam kung naniniwala ka. At alam kung didinggin niya ang iyong mga panalangin. Kapatid manalangin ka. Kayat hindi na natin kailangam pang humiling dahil matagal na niyang binigay ang ating Kagustuhan at iyon ay ang pagkakaligtas natin mula sa ating mga kasalanan. Alam kong alam mo na. Babalik at babalik si Jesus para sa atin. Ibabalik niya ang kapayapaan sa iyong mundo. Dahil siya ang ating Diyos wala nang iba.
HYA Nov 2017
Dinggin ang hininga ng may alikabok
Unawain ang kamay pagkatapos ng suntok
Mahalin ang pait sa matamis na mansanas
Tignan ang pagbuhos ng tubig mula sa itaas

Obserbahan ang lahat ng ito, mahal
Sapagkat kahit kamay mo'y hindi mahawakan
Bumalik ka sa ating munting tagpuan
At punasan ang luha sa aking pagtahan

Ngunit hindi pwede ang pag-iibigan sa aking piyesa
Kagaya nalang sa iyong pagngiti ay hindi dapat gawan ng malisya
Ang simpleng pagtawa ay nakakahumaling
Kaya dapat ikaw din ay magbighani sa akin

Hindi nga, hindi ito pwede
Kahit ang magustuhan kay napakaposible
Ako'y natukso sa magarbong panganib
At ikaw, sinisinta ko, ay nasa kanilang panig

Tayo'y pinagtagpo ngunit hindi para sa isa't isa
Kagaya ng isang mundo at ng kometa
Sa kanyang paghulog, marami ang nahalina
Kasabay nito ang pagwala ng kanyang presensya

Kagaya ng mismong puno at ang mga dahon nito
Pagkatapos ng kasaysayan ay mahuhulog din sa pinto
Na para bang ikaw at ako
Ikaw ay nakatayo habang ako'y nahuhulog papalayo sa iyo

Bumalik sa ating munting tagpuan
Kahit ikaw naman talaga ang sariling tahanan
At doon ko tatapusin ang aking panaginip
Kung saan ikaw ay naging akin kahit na saglit
written with wis dedicated to Mhaye Louisse hehe♡
Vincent Liberato Oct 2018
Ang tauhang ito ay kung lumisan sa mundo—mananatili na lamang ang mga salita, ngunit walang kahulugan ang buhay o hindi alam ang kahulugan ng buhay.

'Walang pag-iral ang tao sa lipunan hangga't 'di kailangan ng lipunan ang tao.' Ang bulong ng tauhan kasunod ang buntunghininga na nasa kawalan na. Tumigil lamang ang tauhan upang pagmasdan ang kumukurap-kurap na liwanag sa rurok ng poste. 'Kahit anong tatag at tibay nito, kung ang liwanag nito sa rurok ay pawala na—wala rin.' Ang bulong muli ng tauhan sa sarili.

Biglang bumuhos ang lakas ng ulan habang pinagmamasdan ng tauhan ang poste. Sa lakas ng lagatik ng ulan, ngumiti lamang ang tauhan. Ngumiti lamang sa kabila ng buhos ng ulan sabay tumawa. Sa mga sandaling iyon nasa kawalan ang tauhan—nasa kawalan ng ngiti—nasa kawalan ng ulan.

Umuwi lamang ng may ngiti ang tauhan sa kabila ng buhos ng ulan. Madilim at liblib ang kuwarto ng tauhan katulad na lamang ng damdamin at pag-iisip ng tauhan. Sa pagitan ng bintana't pinto. Kumuha ng lubid at upuan ang tauhan. Inilagay sa pagitan ng bintana't pinto ng liblib na kuwarto ang upuan. Tumungtong ang tauhan habang hawak ang lubid, itinali kung saan dapat itali. Itinali sa sarili—iginapos ang katapusan sa leeg—ipiniid ang mga mata. Tumalon na lamang ang tauhan sa upuan sa pagitan ng bintana't pintuan ng liblib na kuwarto. Pumanaw na lamang ang tauhan ng buhay, ngunit may taning.

Sa ganoong paraan, nalaman ng buong lipunan na kabilang sa lipunan ang tauhan. Nalaman muli ng lipunan ang pag-iral ng tauhan, ngunit nang pumanaw na ito. Kabilang na muli ang tauhan sa lipunan, ngunit kabilang sa mga pumanaw.

— The End —