"lah" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu
Kau bagaikan menerangi hidupku
Ku tersenyum di setiap waktu
Ku selalu memikirkanmu
Kau menjauh entah mengapa
Ku tersadar bahwa ku yang memulainya
Kau tak sedetikpun berbicara
Ku hanya bisa menyesal
Ku mulai belajar tuk melupakanmu
Ku buka hati ini tuk yang lain
Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata
Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku
Kau menyentuh hidup ku, lagi
Kau buat aku menginginkanmu, lagi
Kau buat aku salah tingkah, lagi
Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi
Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu
Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu
Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan
Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku
Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku
Kau yang menerangi hidup ku
Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu
Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku
Kau...
Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku
Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu
Yang ingin sekali mengecup bibir mu
Kau...
Yang selalu membuat aku gelisah
Yang membuat aku berusaha lebih baik
Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki
Kau...
Tak pernah habis kata-kata untuk mu
Selalu ku puji dirimu
Ku ingin bisa mengatakan bahwa
Aku sangat mencintaimu
I LOVE YOU
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya .
rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah .
bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu .
Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
mana mungkin rindu aku terasa
jika diungkap dengan bait bahasa
sayang
dakaplah aku
rasakan rindu aku
kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini
andai kau rasa perit dan pahit ini,
lepaskan lah.
biar aku bebas terokai dunia
tanpa rasa sekat dalam raga
aku penat
-menunggu sesuatu yang tidak pasti
dalam hal ini, adalah kamu
jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi
dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran
entah
bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu
tapi
bagai aku tersekat
sayang
andai kau rindu
andai kau rasa perit dan pahit ini
lepaskan lah aku
agar aku bebas teroka dunia
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008
Dulu diary ku indah
Sekarang telah ku ubah
Tapi, saat gagal bertemu kau
Ku satukan diary yang terpisah
Sebagai bukti dariku
Yang kan ku berikan untukmu
Agar kau tau
Seberapa besar cintaku
Kasih ku t’lah tercurah
Berdetik-detik, berjam-jam
Bahkan berhari-hari lamanya
Semoga dapat kau terima
Meski terluka akhirnya
Biar ku pergi saja
Lupakan kenangan indah
Dan yang paling menyakitkan
Tapi, takkan ku biarkan
Diary ku berubah indahnya
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Jakarta
Senin 7 Mei 2007
Suatu ketika tak sengaja
Aku terbayang seseorang
Yang indah dengan senyuman
Sejak itu pun
Aku mulai menulis kata-kata
Dan aku rangkai
Sehingga menjadi kalimat-kalimat yang indah
Itulah puisi yang akan kupersembahkan
Hanya untuk dirinya
Di suatu tempat terindah di langit sana
Betapa senangnya hati ku
T’lah ku sampaikan isi hati ku
Lewat puisi yang indah
Yang tak pernah ku lupakan sepanjang waktu
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:49 AM UTC
Jumat, 13 Agustus 2010
Sekarang aku makin dewasa
Bapak... Mamak... Aku...
Anakmu kini 15 tahun
Ya Allah Terima Kasih atas Rahmat-Mu
Bapak, maaf bila esok ku tak berguna
Mamak, maaf bila esok ku gagal
Ya Allah, ampuni Hamba
Semakin dewasa, semakin ku berdosa
Tak sanggup aku melawan rasa itu
Aku telah bercinta...
Bercinta dengan nya
Ku tahu dia tak pernah di sini
Tuhan... Tuntunlah aku pada-Mu
Aku merasa hina di hadapan-Mu
Aku merasa hina di belakang orang tua ku
Ampuni Hamba Ya Allah...
Ku tahu t'lah berdosa
Oh Tuhan, Aku bercinta dengannya di dalam khayal
Creates by. Aridea .P
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:38 AM UTC
Malam larut tak ku rasa kini
Hanya duduk merenungi sepi
Aku pun berdiri
Mendekati cermin di dekat ku
T'lah ku lihat kini
Bayang lain pengkejut hati
Namun, tak kuasa ku tahan tangis
Ingat-ingatmimpi yang lalu
Bintang-bintang kabur berkejaran
Bulan pun tak lagi berjanji pada ku
Untuk selalu menyinari aku
Malam larut hilang berganti pagi
Menusuk raga saat raga menyinari
Membunuh jiwa saat tak lagi kini
Ku rasakan malam yang hening
Di mana ku selalu teringat Belahan Jiwa
Yang dulu slalu mengiasi malam
Created by,
Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:56 AM UTC
Jakarta, 28 Mei 2009
Suatu malam aku gelisah
Menunggunya tuk hadir di sini
Dia yang sangat ku cinta
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Ya Tuhan
Maafkanlah aku
Aku t’lah mencintai orang yang salah
Tolong bangunkan aku
Aku diam seribu bahasa
Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!”
Lalu ku lihat seorang pria
Berdiri di depanku
“Ya Tuhan, aku bermimpi lagi”
Dia menyentuh tanganku
Sekali lagi...
“Ya Tuhan, ini nyata!”
Aku memeluknya
Dan kemudian aku benar-benar sadar
Inilah kenyataannya
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji"
Ke utara, selatan
kau ikut
kata kau, asal ada aku ada kau.
Ada waktu
naluri wanitaku meragui
setiap kata yang menari
di belahan mulutmu.
Namun
apalah daya kerak nasi
berlawan dengan air.
Dan saat aku
membuka seluas-luasnya pintu
kau jadi penghuni
setia
untuk sementara.
Sehingga tiba satu ketika
langkah kakimu dihayun
menapak keluar
dari ruang yang kau huni ini
Ingatlah
bukan aku yang menjemput kau
menghuni ruang ini
dan bukan aku juga lah
yang menghambat kau pergi.
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh?
Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia.
Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu.
Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta.
Created by. Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
Jakarta, Selasa 3 Februari 2009
Tahun baru t'lah berlalu
Tak ada rasa senang sedikitpun di hati ku
Terasa sedih awal kehancuran
Yang kan menimpa awal hidupku
Bulan pertama t'lah berlalu
Terlihat kesibukan dalam hidupku
Hingga ku lupakan kewajibanku
Amarah pun datang dari Ibu
Ku merasa bersalah..
Tapi... Tak terasa ada salah
Bulan ini penuh derita
Februari sumber derita
Ku harap di esok kelak
Ku bisa terlepas dari derita
Ku tak ingin menderita
Ku rela awal ini saja menderita
Created by. AP
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:39 PM UTC
Palembang, 31 Mei 2012
Maaf
Aku hanya bisa bilang maaf
Hanya itu yang tersisa
Maaf
Tlah ku ungkapkan cinta
Tak sanggup lagi ku jaga
Maaf
Aku kekanak-kanakan
Aku memang masih sangat muda
Maaf
Aku tak bisa menurutimu
Kau bilang ini bukan cinta
Maaf
Hidupku aku yang jalani
Kau lah yang aku cintai
Maaf lagi
Aku harus pergi
Tak ingin terjerumus lebih dalam lagi
May 31, 2012
May 31, 2012 at 12:24 AM UTC
sungguhlah rumah adalah tempatku
dan aku adalah tempat singgahmu
aku tinggal dirumah
rumah yang ku ciptakan
agar kau bisa terus singgah
aku tidak pernah lelah
menjadi tempat singgahmu
mendengar segala usahamu
keluh kesahmu
adalah hal yang kusuka
saat kamu semak hati
aku akan menjadi tempat bernaung
membantumu menggapai rasa
singgahlah jika sedang risau
aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu
pergi lah jika sudah merasa cukup
sungguh menunggu adalah hal biasa
datang semaumu pergipun begitu
aku adalah tempat singgahmu
dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
T'lah kumiliki nurani bopok dan renta
Warisan ibu ayah
Membungkus kasih, dengki, segan,
damai, resah, amarah
Begitu bancuh dan arau
Sang aku berbagi pada kekasihnya
Sosok gagah terpercaya
Aku dan gagah melanglang
Beriringan menggandeng nurani
Nurani amat bahagia
Demikian puas ceria
Hingga sosok gagah itu mulai muak
Jemu, bosan katanya
Menghempas jemari aku
Dan mencampakkan nurani serupa buangan
Cakapnya aku bersalah
Tak jago mengenyangkan
Tak tega setilik pun menengok nurani
Menepis muka, aku bertanya
"Apa nurani tak apa-apa?"
Dengan terisak, nurani menyinyir menjawab
"Terlihat nestapa dan pilu dari matamu
Aku tak seberapa
Pikirkan saja dirimu"
Jul 1, 2016
Jul 1, 2016 at 2:21 PM UTC
Every dawn is a nexus, /
Every twilight is a beckoning; therefore, /
Embrace the fickle future /
Ensconscing within the sacral oath /
Of a thousand words: /
These utterances shall envelop you /
When upon Triumphal Arcadian Skies /
We meet again. /
Save your tears, /
For love shall reign /
From the empyreal aethers above /
To the Gaian epidermis of /
The Magnanimous Matriarch; moreover, the mellifluous kisses /
Of The Sovereign of Songbirds /
Will burgeon within, /
Will descend upon you as The Holy Dove. /
Unfurl your third eye, /
See with an indefatigable clarity /
All that you were meant to be: /
Strong, Wise, Just; /
Love; /
A luminary fulminating /
Radiantly, resplendently upon /
The Denizens of the Terrene. /
(—Se' lah)
Sep 9, 2021
Sep 9, 2021 at 12:00 AM UTC
Palembang, Jumat 13 Januari 2012
Dia tidak mengenalku
Karena dia tinggal sangat jauh
Tetapi aku mengenalnya
Karena dia selalu muncul di televisi
Aku selalu tersenyum ketika menonton dia di televisi
Aku terpesona akan Moon Walk nya
Dan aku menangis ketika mengetahui bahwa dia t’lah tiada
Lagunya selalu terdengar di telingaku
Dia sangat fenomenal
Aku ingin bertemu dia, tetapi aku tak bisa
Ku harap dia akan datang menemuiku, malam ini
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:40 AM UTC
Jakarta, Rabu 8 Juli 2009
Meskipun kau t’lah tiada
Dan semua orang di dunia menangisimu
Kami tahu kau tak benar-benar mati
Karena kau akan selalu berada di hati kami
Jasadmu mungkin bisa mati
Tetapi jiwamu akan selalu bersama kami
Kami percaya kau akan terus menjadi bintang
Bintang yang bersinar dan tak pernah hilang
Selamanya ... selamanya... dan selamanya
Kami percaya itu
Damailah kau , Ayah
(Untuk Almarhum Michael Joseph Jackson)
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:15 AM UTC
Ayah,
Ayah nampak penat, rehat Ayah.
Cukup lah bertahun Ayah membanting tulang,
Sakit penat tak pernah Ayah mengadu mengeluh.
Rehat Ayah, Ayah sudah penat.
Biar aku yang membantu Ayah.
Apr 18, 2017
Apr 18, 2017 at 11:18 AM UTC
Tempus Fugit:
Nought is eternal,
Nox is ephemeral,
And
The Charred Canvas
Of
The Night Sky
(Noctis Lucis Caelum,
Scala Ad Caelum)
Bedarkened & besmirched, bespeaks
A
Love-Worn Wayward, Wayworn.
In the
Citadel
Of mine
Temporal Heart
Time
Streams infinitely
As an
Exhalation of The Ethereal One.
The Chronology of
The Arbiter of Fates
Shalt Destine,
Herald Eternitas
Upon
The Phantasmagoric Horizon
Of
Mine Mind's Sky
Wondering
Upon
Days of Yore.
(The Hither,
The Thither,
And
The Morrow.)
These
Luminescent Children are
Are born
To wax Luminaries
Then,
Wax Nebulous
For all eternity.
O, Metempsychosis;
Born of
Edicts Unseen,
Of that
Which was,
Is,
&
Will Be.
(For
All things
Are
Circular & Cycling,
Existentially.)
We were conceived
Infinitely
To
Infinity
And beyond.
Let He, Let She
Whose
Ears & Eyes
Of
The Unuttered Anima
Be unstopped, unfurled
To resonations:
Deep within.
The Emerald Lifestream Anew
Dost begin.
The Sovereign of Songbirds sings
Esprit d' amour
To those who wait.
(Se' Lah.)
Jan 6, 2019
Jan 6, 2019 at 5:21 PM UTC
I would understand the meaning culture if it wasn't presented in an electronic box
Maybe I would understand the Mexican culture if it wasn't taught in
Seven minute intervals by a middle aged Caucasian
Who has never been to Mexico.
Online Spanish dictionaries have gotten me no where
And only dig my job applications deeper in the pile of "to be considered"
After more than a year, I still need fluent Spanish speakers to take my test for me
I'm only cheating the system because being "Tech Savvy" means they're
Cheating my education.
The lesson on food told me to pronounce it
"case-ah-dil-lah"
Because we are in America and "that's how we say it"
Typing two r's in a row will not teach me how to roll them.
Jan 26, 2013
Jan 26, 2013 at 1:01 AM UTC
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya.
Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman.
Serreh, 2017
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
aku suka dia
salah
emm aku cinta dia
tak tau alasannya apa
dia tidak terlalu tampan
tak terlalu pintar
bahkan ada yang menganggap nya tidak menarik
tapi aku tertarik dengan dia
aku tertarik dengan dia sejak pertama kali teman ku menyebut nama nya
menceritakan hal-hal konyol akan dirinya
yang membuat ku jatuh lebih dalam kepadanya
mata nya biasa saja
manik hitam yang keliatan coklat saat terkena sinar matahari
tapi bagi ku
mata itu bisa memberikan kebahagiaan
kebahagiaan ku
hanya aku yang boleh merasakan kebahagiaannya
kalian tidak boleh
sudah lah, aku lelah
jika aku terus menulis tentang betapa aku mengagumi nya
kurasa tangan ku akan lepas.
Nov 20, 2016
Nov 20, 2016 at 6:49 AM UTC
No. I write against.
(Aihmeanlike, against it.)
No, against it.
Like this.
[The point is pressing
A dark circle down down down.]
So (Djiuknowhatuhmean?)
I clash on this. After doing that
All day, on air! With conscious
Breath, (which is just force myself
Breath!) out of the glued muck
Moss in my sere bellum. My
Me do lah. Oblong god. Duh.
How long, these fractured
seams of seemlessness around?
In the meantime, here’s
some words, an image of a
Stream, and I’ll say: “Like a dead
Man(’s passing.)” Look at it.
And you thought infinity
Could be brushed off like a fly!
Wring your wet sloppy self!
Undried, then sundried!
Well. Now, you are one-eyed.
But what about that cry
Of true voice swishing lost
And found in the growing
Concrescent infundibular
Abyss?
Oh, that might be the Sublime
Sadness! (That one mentioned
once.) Keeping the Eternal
Walker out in the dwindling
Afternoons, closer than tears
To littered ponds of cold light.
Will he pull out the solidified
Spirit, or precipitate his freedom
As indistinguishable from the
Mystery? Oh. Please. Then the
Self would be (the question).
And there. Would be. No.
Need for the asked king.
Mar 27, 2012
Mar 27, 2012 at 7:58 PM UTC
Di antara lukisan itu ada matamu
Mengejek keji debu seronoh
Yang tutupi keabadianmu
Tanpa sewujud tubuhpun
Di antara lukisan itu ada matamu
Mencoba lupakan rasanya
Haus ratapan
Tanpa air mata
Di antara lukisan itu ada kasihku
Tercampur dengan bebatuan
Yang menghamburkan diri
Tanpa rasa malu
Diantara lukisan itu ada rambutmu
Yang terlihat indah dalam diam
Membungkam derita
Tanpa sepatah hati
Di antara lukisan itu, tangismu lah
Yang kugambar dalam tawa
Sisanya kuumpat dalam mimpi
Tanpa secercah harap
Dec 22, 2015
Dec 22, 2015 at 12:00 AM UTC