Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"lah" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu Kau bagaikan menerangi hidupku Ku tersenyum di setiap waktu Ku selalu memikirkanmu Kau menjauh entah mengapa Ku tersadar bahwa ku yang memulainya Kau tak sedetikpun berbicara Ku hanya bisa menyesal Ku mulai belajar tuk melupakanmu Ku buka hati ini tuk yang lain Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku Kau menyentuh hidup ku, lagi Kau buat aku menginginkanmu, lagi Kau buat aku salah tingkah, lagi Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku Kau yang menerangi hidup ku Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku Kau... Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu Yang ingin sekali mengecup bibir mu Kau... Yang selalu membuat aku gelisah Yang membuat aku berusaha lebih baik Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki Kau... Tak pernah habis kata-kata untuk mu Selalu ku puji dirimu Ku ingin bisa mengatakan bahwa Aku sangat mencintaimu I LOVE YOU
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Semua Tentang Kau
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Senja
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Continue reading...
4
mana mungkin rindu aku terasa jika diungkap dengan bait bahasa sayang dakaplah aku rasakan rindu aku kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini andai kau rasa perit dan pahit ini, lepaskan lah. biar aku bebas terokai dunia tanpa rasa sekat dalam raga aku penat -menunggu sesuatu yang tidak pasti dalam hal ini, adalah kamu jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran entah bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu tapi bagai aku tersekat sayang andai kau rindu andai kau rasa perit dan pahit ini lepaskan lah aku agar aku bebas teroka dunia
0
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
ada apa pada rindu pt2
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008 Dulu diary ku indah Sekarang telah ku ubah Tapi, saat gagal bertemu kau Ku satukan diary yang terpisah Sebagai bukti dariku Yang kan ku berikan untukmu Agar kau tau Seberapa besar cintaku Kasih ku t’lah tercurah Berdetik-detik, berjam-jam Bahkan berhari-hari lamanya Semoga dapat kau terima Meski terluka akhirnya Biar ku pergi saja Lupakan kenangan indah Dan yang paling menyakitkan Tapi, takkan ku biarkan Diary ku berubah indahnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
Diary
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya Berusaha untuk menahan segala rasa sakit Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana. Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?" Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit. "Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah" Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya. Suara hujan mengiringi gadis itu Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata "Aku sudah tak punya hati lagi"
0
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Hujan Desember
Jakarta Senin 7 Mei 2007 Suatu ketika tak sengaja Aku terbayang seseorang Yang indah dengan senyuman Sejak itu pun Aku mulai menulis kata-kata Dan aku rangkai Sehingga menjadi kalimat-kalimat yang indah Itulah puisi yang akan kupersembahkan Hanya untuk dirinya Di suatu tempat terindah di langit sana Betapa senangnya hati ku T’lah ku sampaikan isi hati ku Lewat puisi yang indah Yang tak pernah ku lupakan sepanjang waktu
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:49 AM UTC
PUISI
Jumat, 13 Agustus 2010 Sekarang aku makin dewasa Bapak... Mamak... Aku... Anakmu kini 15 tahun Ya Allah Terima Kasih atas Rahmat-Mu Bapak, maaf bila esok ku tak berguna Mamak, maaf bila esok ku gagal Ya Allah, ampuni Hamba Semakin dewasa, semakin ku berdosa Tak sanggup aku melawan rasa itu Aku telah bercinta... Bercinta dengan nya Ku tahu dia tak pernah di sini Tuhan... Tuntunlah aku pada-Mu Aku merasa hina di hadapan-Mu Aku merasa hina di belakang orang tua ku Ampuni Hamba Ya Allah... Ku tahu t'lah berdosa Oh Tuhan, Aku bercinta dengannya di dalam khayal Creates by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:38 AM UTC
#>Umur;>Dosa#
Malam larut tak ku rasa kini Hanya duduk merenungi sepi Aku pun berdiri Mendekati cermin di dekat ku T'lah ku lihat kini Bayang lain pengkejut hati Namun, tak kuasa ku tahan tangis Ingat-ingatmimpi yang lalu Bintang-bintang kabur berkejaran Bulan pun tak lagi berjanji pada ku Untuk selalu menyinari aku Malam larut hilang berganti pagi Menusuk raga saat raga menyinari Membunuh jiwa saat tak lagi kini Ku rasakan malam yang hening Di mana ku selalu teringat Belahan Jiwa Yang dulu slalu mengiasi malam Created by, Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:56 AM UTC
Malam Yang Hilang
Jakarta, 28 Mei 2009 Suatu malam aku gelisah Menunggunya tuk hadir di sini Dia yang sangat ku cinta Pangeran dari Kerajaan Inggris Ya Tuhan Maafkanlah aku Aku t’lah mencintai orang yang salah Tolong bangunkan aku Aku diam seribu bahasa Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!” Lalu ku lihat seorang pria Berdiri di depanku “Ya Tuhan, aku bermimpi lagi” Dia menyentuh tanganku Sekali lagi... “Ya Tuhan, ini nyata!” Aku memeluknya Dan kemudian aku benar-benar sadar Inilah kenyataannya Pangeran dari Kerajaan Inggris
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
Pangeran Dari Kerajaan Inggris
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji" Ke utara, selatan kau ikut kata kau, asal ada aku ada kau. Ada waktu naluri wanitaku meragui setiap kata yang menari di belahan mulutmu. Namun apalah daya kerak nasi berlawan dengan air. Dan saat aku membuka seluas-luasnya pintu kau jadi penghuni setia untuk sementara. Sehingga tiba satu ketika langkah kakimu dihayun menapak keluar dari ruang yang kau huni ini Ingatlah bukan aku yang menjemput kau menghuni ruang ini dan bukan aku juga lah yang menghambat kau pergi.
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Menabur Garam ke Luka
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh? Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia. Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu. Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta. Created by. Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
Usia
Jakarta, Selasa 3 Februari 2009 Tahun baru t'lah berlalu Tak ada rasa senang sedikitpun di hati ku Terasa sedih awal kehancuran Yang kan menimpa awal hidupku Bulan pertama t'lah berlalu Terlihat kesibukan dalam hidupku Hingga ku lupakan kewajibanku Amarah pun datang dari Ibu Ku merasa bersalah.. Tapi... Tak terasa ada salah Bulan ini penuh derita Februari sumber derita Ku harap di esok kelak Ku bisa terlepas dari derita Ku tak ingin menderita Ku rela awal ini saja menderita Created by. AP
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:39 PM UTC
Awal Februari Derita
Palembang, 31 Mei 2012 Maaf Aku hanya bisa bilang maaf Hanya itu yang tersisa Maaf Tlah ku ungkapkan cinta Tak sanggup lagi ku jaga Maaf Aku kekanak-kanakan Aku memang masih sangat muda Maaf Aku tak bisa menurutimu Kau bilang ini bukan cinta Maaf Hidupku aku yang jalani Kau lah yang aku cintai Maaf lagi Aku harus pergi Tak ingin terjerumus lebih dalam lagi
0
May 31, 2012
May 31, 2012 at 12:24 AM UTC
Maaf Lagi
sungguhlah rumah adalah tempatku dan aku adalah tempat singgahmu aku tinggal dirumah rumah yang ku ciptakan agar kau bisa terus singgah aku tidak pernah lelah menjadi tempat singgahmu mendengar segala usahamu keluh kesahmu adalah hal yang kusuka saat kamu semak hati aku akan menjadi tempat bernaung membantumu menggapai rasa singgahlah jika sedang risau aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu pergi lah jika sudah merasa cukup sungguh menunggu adalah hal biasa datang semaumu pergipun begitu aku adalah tempat singgahmu dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
0
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
Tempat Singgah
T'lah kumiliki nurani bopok dan renta Warisan ibu ayah Membungkus kasih, dengki, segan, damai, resah, amarah Begitu bancuh dan arau Sang aku berbagi pada kekasihnya Sosok gagah terpercaya Aku dan gagah melanglang Beriringan menggandeng nurani Nurani amat bahagia Demikian puas ceria Hingga sosok gagah itu mulai muak Jemu, bosan katanya Menghempas jemari aku Dan mencampakkan nurani serupa buangan Cakapnya aku bersalah Tak jago mengenyangkan Tak tega setilik pun menengok nurani Menepis muka, aku bertanya "Apa nurani tak apa-apa?" Dengan terisak, nurani menyinyir menjawab "Terlihat nestapa dan pilu dari matamu Aku tak seberapa Pikirkan saja dirimu"
0
Jul 1, 2016
Jul 1, 2016 at 2:21 PM UTC
Sang Aku yang Bodoh
Every dawn is a nexus, / Every twilight is a beckoning; therefore, / Embrace the fickle future / Ensconscing within the sacral oath / Of a thousand words: / These utterances shall envelop you / When upon Triumphal Arcadian Skies / We meet again. / Save your tears, / For love shall reign / From the empyreal aethers above / To the Gaian epidermis of / The Magnanimous Matriarch; moreover, the mellifluous kisses / Of The Sovereign of Songbirds / Will burgeon within, / Will descend upon you as The Holy Dove. / Unfurl your third eye, / See with an indefatigable clarity / All that you were meant to be: / Strong, Wise, Just; / Love; / A luminary fulminating / Radiantly, resplendently upon / The Denizens of the Terrene. / (—Se' lah)
0
Sep 9, 2021
Sep 9, 2021 at 12:00 AM UTC
The Celestial Swansong (Originally penned on Monday, September 6th, 2021)
Palembang, Jumat 13 Januari 2012 Dia tidak mengenalku Karena dia tinggal sangat jauh Tetapi aku mengenalnya Karena dia selalu muncul di televisi Aku selalu tersenyum ketika menonton dia di televisi Aku terpesona akan Moon Walk nya Dan aku menangis ketika mengetahui bahwa dia t’lah tiada Lagunya selalu terdengar di telingaku Dia sangat fenomenal Aku ingin bertemu dia, tetapi aku tak bisa Ku harap dia akan datang menemuiku, malam ini
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:40 AM UTC
Dia T'lah Tiada
Jakarta, Rabu 8 Juli 2009 Meskipun kau t’lah tiada Dan semua orang di dunia menangisimu Kami tahu kau tak benar-benar mati Karena kau akan selalu berada di hati kami Jasadmu mungkin bisa mati Tetapi jiwamu akan selalu bersama kami Kami percaya kau akan terus menjadi bintang Bintang yang bersinar dan tak pernah hilang Selamanya ... selamanya... dan selamanya Kami percaya itu Damailah kau , Ayah (Untuk Almarhum Michael Joseph Jackson)
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:15 AM UTC
Ayah
Ayah, Ayah nampak penat, rehat Ayah. Cukup lah bertahun Ayah membanting tulang, Sakit penat tak pernah Ayah mengadu mengeluh. Rehat Ayah, Ayah sudah penat. Biar aku yang membantu Ayah.
0
Apr 18, 2017
Apr 18, 2017 at 11:18 AM UTC
Ayah, rehatlah.
Tempus Fugit: Nought is eternal, Nox is ephemeral, And The Charred Canvas Of The Night Sky (Noctis Lucis Caelum, Scala Ad Caelum) Bedarkened & besmirched, bespeaks A Love-Worn Wayward, Wayworn. In the Citadel Of mine Temporal Heart Time Streams infinitely As an Exhalation of The Ethereal One. The Chronology of The Arbiter of Fates Shalt Destine, Herald Eternitas Upon The Phantasmagoric Horizon Of Mine Mind's Sky Wondering Upon Days of Yore. (The Hither, The Thither, And The Morrow.) These Luminescent Children are Are born To wax Luminaries Then, Wax Nebulous For all eternity. O, Metempsychosis; Born of Edicts Unseen, Of that Which was, Is, & Will Be. (For All things Are Circular & Cycling, Existentially.) We were conceived Infinitely To Infinity And beyond. Let He, Let She Whose Ears & Eyes Of The Unuttered Anima Be unstopped, unfurled To resonations: Deep within. The Emerald Lifestream Anew Dost begin. The Sovereign of Songbirds sings Esprit d' amour To those who wait. (Se' Lah.)
0
Jan 6, 2019
Jan 6, 2019 at 5:21 PM UTC
Nigh' In Wishing & Ne'er In Love (Originally Written on Sunday, January 6th, 2019)
I would understand the meaning culture if it wasn't presented in an electronic box Maybe I would understand the Mexican culture if it wasn't taught in Seven minute intervals by a middle aged Caucasian Who has never been to Mexico. Online Spanish dictionaries have gotten me no where And only dig my job applications deeper in the pile of "to be considered" After more than a year, I still need fluent Spanish speakers to take my test for me I'm only cheating the system because being "Tech Savvy" means they're Cheating my education. The lesson on food told me to pronounce it "case-ah-dil-lah" Because we are in America and "that's how we say it" Typing two r's in a row will not teach me how to roll them.
0
Jan 26, 2013
Jan 26, 2013 at 1:01 AM UTC
offline classes.
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
aku suka dia salah emm aku cinta dia tak tau alasannya apa dia tidak terlalu tampan tak terlalu pintar bahkan ada yang menganggap nya tidak menarik tapi aku tertarik dengan dia aku tertarik dengan dia sejak pertama kali teman ku menyebut nama nya menceritakan hal-hal konyol akan dirinya yang membuat ku jatuh lebih dalam kepadanya mata nya biasa saja manik hitam yang keliatan coklat saat terkena sinar matahari tapi bagi ku mata itu bisa memberikan kebahagiaan kebahagiaan ku hanya aku yang boleh merasakan kebahagiaannya kalian tidak boleh sudah lah, aku lelah jika aku terus menulis tentang betapa aku mengagumi nya kurasa tangan ku akan lepas.
0
Nov 20, 2016
Nov 20, 2016 at 6:49 AM UTC
Tentang dia yang dulu ada, sekarang dia hanya menjadi arsip dalam kumpulan catatan ku.
No. I write against. (Aihmeanlike, against it.) No, against it. Like this. [The point is pressing A dark circle down down down.] So (Djiuknowhatuhmean?) I clash on this. After doing that All day, on air! With conscious Breath, (which is just force myself Breath!) out of the glued muck Moss in my sere bellum. My Me do lah. Oblong god. Duh. How long, these fractured seams of seemlessness around? In the meantime, here’s some words, an image of a Stream, and I’ll say: “Like a dead Man(’s passing.)” Look at it. And you thought infinity Could be brushed off like a fly! Wring your wet sloppy self! Undried, then sundried! Well. Now, you are one-eyed. But what about that cry Of true voice swishing lost And found in the growing Concrescent infundibular Abyss? Oh, that might be the Sublime Sadness! (That one mentioned once.) Keeping the Eternal Walker out in the dwindling Afternoons, closer than tears To littered ponds of cold light. Will he pull out the solidified Spirit, or precipitate his freedom As indistinguishable from the Mystery? Oh. Please. Then the Self would be (the question). And there. Would be. No. Need for the asked king.
0
Mar 27, 2012
Mar 27, 2012 at 7:58 PM UTC
Muck Moss
Di antara lukisan itu ada matamu Mengejek keji debu seronoh Yang tutupi keabadianmu Tanpa sewujud tubuhpun Di antara lukisan itu ada matamu Mencoba lupakan rasanya Haus ratapan Tanpa air mata Di antara lukisan itu ada kasihku Tercampur dengan bebatuan Yang menghamburkan diri Tanpa rasa malu Diantara lukisan itu ada rambutmu Yang terlihat indah dalam diam Membungkam derita Tanpa sepatah hati Di antara lukisan itu, tangismu lah Yang kugambar dalam tawa Sisanya kuumpat dalam mimpi Tanpa secercah harap
0
Dec 22, 2015
Dec 22, 2015 at 12:00 AM UTC
Pada Lorong Sepi Galeri