Hello Poetry is a poetry community that raises money by advertising to passing readers like yourself.

If you're into poetry and meeting other poets, join us to remove ads and share your poetry. It's totally free.
Hadiy Syakir Sep 13
terus
tenggelam
dalam
kisah silam
kekal
bertentangan
dengan
kisah hadapan
sudah
menjadi resam
penuh
dengan harapan
pencarian berterusan
mencari perlindungan

apakah erti
pendewasaan
apakah erti
kemerdekaan

satu batang tubuh
katanya penentu
jaya atau buntu
kekal tunduk patuh
menjarah sesuatu
diam membatu.
Hadiy Syakir Sep 13
bahawasanya
semua binasa
angkara
nafsu
tinggal sisa-sisa
hayat angkasa
dan masa
semakin jauh
meninggalkan
manusia
dengan angka
dengan strata
hikayat termaktub
bermaharajalela.
brenda c Aug 13
aku ingat
semua yang pernah kita lakukan
minum teh hangat
semua canda tawa ku lepaskan

aku ingat
apa yang pernah kau lakukan
perkara manis yang sudah lewat
kini lagi kau coba buktikan

aku ingat
apa yang aku lakukan
menelan akibat
diam terhanyutkan
Ketika hujan menangis
Merindukan kemarau panjang
Di manakah kita?
Di antara tetesan air mata yang terpejam

Sore itu kita membeku sedingin sunyi
Yang kau hanyutkan dari dekap
Menuju resah
Meninggalkan harap
Terombang-ambing sendiri
Lenyap dalam senyap
Ingin rasanya melayang jauh ke masa lampau
Takkan ku biarkan sosoknya hadir
Jauh ke masa lampau...
Takkan ku biarkan kebahagiaan tersingkir

Saat awan lahir ke peraduan
Kenangannya memanggil manja
Dengan menerobos dinding kenyataan
Nyatanya ia telah hilang tak membekas apa-apa

Perasaan semakin tinggi menjulang
Kamu - Senja - Aku akan selamanya satu

Kau benar telah memilih pergi
Aku benar telah memutuskan menunggumu kembali.
- Jovanka Marsha S
Awan | 11 Des 17 | 13.22
Tentang bagian-bagian kesukaan,
Baik itu laki-laki atau perempuan kesukaan
Adalah bagaimana dari mulut perempuan keluar mantra seperti :

"Aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu dengan tenang, tanpa banyak kekhawatiran"

Mantra itu diucapkan berulang ulang dalam hatinya di perjalanan pergi maupun pulang.
Ada udara dingin menyeruak, kedalam sepi yang tak mau beranjak.

Dan saya coba melawan rindu yang sulit jinak,
sebab diantara kita terbentang jarak.
Mengingatmu;
Sepi di luar mata
Gaduh di dalam kepala
Setelah kurasa lelahku butuh hiburan, aku ingin meredakan linu-linu dengan mencoba lancong ke kepalamu.

Membawa kangen yang tertumpuk penuh akhir akhir ini.
Merebahkan tubuhku disana,
dan bicara tentang senja yang memar di punggungmu.
Aku tak bisa mencintaimu dengan lemah.

Yang jorok membenci jarak.


Yang kubisa hanya percaya dan menuliskan puisi sebagai tanda;
Bahwa kata kata adalah tentara yang bergerilya, merambat ke semak-semak.
Membekuk musuh-musuh yang belum berhasil menuju pelukanmu.

Aku tak bisa mencintaimu dengan payah.

Yang aku bisa hanya menuliskanmu di jantung puisi
Membuat namamu berdenyut serindu sekali.
Next page