Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pilar" poems
Señor Garcia Marquez Whatever did you mean When you wrote of life And of death by family I'm in love with Prudencio Aguilar's ghost Roaming about the Buendía household Hole in his throat Washing out the wound But what did you mean?! I'm in love with Do it yourself chastity belts And Ursula's fear of *** But why is this even a theory Your concept behind biracial inbreeding And Señor do not get me started On Melquíades and José Arcadio Buendía Because that friendship was Fated to be doomed I mean no disrespect in all this I just want to know Why use Macondo as an allegory For the Angel Gabriel You're genius, really But your run on paragraphs Infuriate every ounce of my writing soul You're a Columbian Tolstoy I mean that as no insult Your works are tremendous and outstanding But what am I doing You're now just an old dead man "Under the ground" So now I belong to figure out Why Pilar needs to fill a void Opened by a ****** And why Colonel Aureliano Buendía Thinks of his fond memory of ice Just before being killed I've paid my respects to your work Please pay respects to my search
0
Jul 25, 2016
Jul 25, 2016 at 3:57 PM UTC
Gabriel Garcia Márquez
(this one is about a piece of cloth) The said attire is not common wear no suit and tie or gown needing no further introductions or additional instructions Its layers are abstruse It is of certain quality of tension resembling clumsy bodies trying to meet and greet each other   talk about belonging to someone   Reserved and refined restricted they cannot rewind Ornamental is what they are And you          you are judgmental  Ready to look at the attire again? One layer got lit by a precedent match which led to an arson you could not even start that with the fire you drew up your leg Everyone is promised to someone who lives in another country, and will break their heart and turn them into a pillar of salt for looking back to the tragedy Forever drawn too impulsively to those Daria is not supposed to look at She touches them as often as possible Only few times she's been able stop   Those times retain a repetitive pulse, same in its essence but, alternating on the patters and pace I can see you are listening to me right now, I  should probably want that Listening is a beautiful thing, a blessing in disguise and acting on the details of your acoustic research  is a physical translation of affection Tell me that you are not unable to translate I at least need to feel you again Laugh at you even though our situation is dead serious I scrutinize the piece of cloth for any signs of damage You see I wouldn't want it to get ripped off anytime soon Although I'd gladly tear off the rest of your clothes next time I see you
0
Apr 14, 2022
Apr 14, 2022 at 6:23 AM UTC
a pilar of salt
(this one is about a piece of cloth) The said attire is not common wear no suit and tie or gown needing no further introductions or additional instructions Its layers are abstruse It is of certain quality of tension resembling clumsy bodies trying to meet and greet each other   talk about belonging to someone   Reserved and refined restricted they cannot rewind Ornamental is what they are And you          you are judgmental  Ready to look at the attire again? One layer got lit by a precedent match which led to an arson you could not even start that with the fire you drew up your leg Everyone is promised to someone who lives in another country, and will break their heart and turn them into a pillar of salt for looking back to the tragedy Forever drawn too impulsively to those Daria is not supposed to look at She touches them as often as possible Only few times she's been able stop   Those times retain a repetitive pulse, same in its essence but, alternating on the patters and pace I can see you are listening to me right now, I  should probably want that Listening is a beautiful thing, a blessing in disguise and acting on the details of your acoustic research  is a physical translation of affection Tell me that you are not unable to translate I at least need to feel you again Laugh at you even though our situation is dead serious I scrutinize the piece of cloth for any signs of damage You see I wouldn't want it to get ripped off anytime soon Although I'd gladly tear off the rest of your clothes next time I see you
Continue reading...
46
Low and wide against the tide A partisan - a part of him un - fascistionable Poppa's boat - - Pablo's mujer Pilar - for us her story well told - For whom the bell tolls. r ~ 10/19/14
0
Oct 19, 2014
Oct 19, 2014 at 11:18 AM UTC
Hemingway's Boat
Crumble brothels sprout flesh peddlers collect their fees selling daughters in twos and threes Lopez or Diaz lazy or defiant escaped in polluted lagoons the virus spreads Dancing with the dead priests absolve the devils in their mist Pilar sold her virginity for a few bars of gold wrapped in an old ladies hatred she murdered her vows Mexico is a land of smiles the knife only glints in the Aztec sun as they bury you after eating your heart
0
Oct 6, 2018
Oct 6, 2018 at 3:38 AM UTC
Pillars of Mexico
Una vez pisado el suelo ya se ha comenzado a caminar con el miedo y las ganas de los que no se dejan engañar. No hay tiempo para esperar, que el momento es cuando aprendes a diferenciar tu verdad de la de los demás. Que sus miedos son de ellos y que tus ganas son tu pan, y los tuyos tu pilar.
0
Oct 3, 2015
Oct 3, 2015 at 4:24 PM UTC
***
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
Maliwanag ang tanawin sa obrang larawan, naging aking durungawan - naroo’t buhay pa – lumilipad nang matayog ang mga saranggola ng libong mga Pepe at Pilar, tuloy-tuloy na abakada ng kinalimutang kasaysayan. Sa likod ng paanyaya ng luntiang bukirin, kung saan ang manunugtog ay tila may alay na lumang paulit-ulit na harana, pilit sumiksik sa tinataklubang ala-ala ang mapait na wakas ng isang sa himig ay kasama, sa panahon ng ating ngayon, wari ko ba’y kani-kanina.   Sa isang sulok ng pinutol na puno nakasilip – ang malungkot na kuwento Ang gitara ng isang bilanggong lider-obrero:           Tunay na marahas           ang kanyang naging wakas.           Pinaghinalaang droga isinuksok.           Sa narinig na kaluskos sa loob           ng iyong dibdib na kahoy, dinurog           ang lahat ng ala-alang kinukupkop           Labing-isang taon ka nang kanugnog,           kakosa sa pagtulog           sa isang iglap, daig pa ang binugbog           Pantugtog ay tinokhang ng mga tanod.           Sa ‘yong bagting na sumaliw sa koro           Kahit nilagot ng karahasan at maling akala           Lubos pa ring nagpapasalamat ang madla. Ako’y nagsusumamo sa kudyapi ng malayang ninuno Ang mga tula, awit at mga huni ng mga ibong katutubo, sabay sa tudyuhan ng mga kulilis at palaka sa ilog at puno. Ang ating kalikasan ay pamayanang may kalinangan nawa'y manatiling singsigla ng tapis na tinalak sa parang. May pangako ang mga bagong usbong sa pinutol na lauan. Ang noon at ngayon ay tila magkatipan – Sa tipang bagong tunog – na sa baybayin ay tinuran, para sa kinabukasan ng bayan. Halina’t kahit putulin ang kwerdas ng kalakarang malupit At nakakulong ang mga ibong marikit Kailanma’y hindi mapipigilan kahit saglit Patuloy tayo sa malayang pagtula’t pag-awit Hanggang Kalayaan ay ating makamit.
0
Oct 14, 2021
Oct 14, 2021 at 5:11 AM UTC
Parangal Sa Pinatay Na Gitara At Panalangin Sa Ninunong Kudyapi
Maliwanag ang tanawin sa obrang larawan, naging aking durungawan - naroo’t buhay pa – lumilipad nang matayog ang mga saranggola ng libong mga Pepe at Pilar, tuloy-tuloy na abakada ng kinalimutang kasaysayan. Sa likod ng paanyaya ng luntiang bukirin, kung saan ang manunugtog ay tila may alay na lumang paulit-ulit na harana, pilit sumiksik sa tinataklubang ala-ala ang mapait na wakas ng isang sa himig ay kasama, sa panahon ng ating ngayon, wari ko ba’y kani-kanina.   Sa isang sulok ng pinutol na puno nakasilip – ang malungkot na kuwento Ang gitara ng isang bilanggong lider-obrero:           Tunay na marahas           ang kanyang naging wakas.           Pinaghinalaang droga isinuksok.           Sa narinig na kaluskos sa loob           ng iyong dibdib na kahoy, dinurog           ang lahat ng ala-alang kinukupkop           Labing-isang taon ka nang kanugnog,           kakosa sa pagtulog           sa isang iglap, daig pa ang binugbog           Pantugtog ay tinokhang ng mga tanod.           Sa ‘yong bagting na sumaliw sa koro           Kahit nilagot ng karahasan at maling akala           Lubos pa ring nagpapasalamat ang madla. Ako’y nagsusumamo sa kudyapi ng malayang ninuno Ang mga tula, awit at mga huni ng mga ibong katutubo, sabay sa tudyuhan ng mga kulilis at palaka sa ilog at puno. Ang ating kalikasan ay pamayanang may kalinangan nawa'y manatiling singsigla ng tapis na tinalak sa parang. May pangako ang mga bagong usbong sa pinutol na lauan. Ang noon at ngayon ay tila magkatipan – Sa tipang bagong tunog – na sa baybayin ay tinuran, para sa kinabukasan ng bayan. Halina’t kahit putulin ang kwerdas ng kalakarang malupit At nakakulong ang mga ibong marikit Kailanma’y hindi mapipigilan kahit saglit Patuloy tayo sa malayang pagtula’t pag-awit Hanggang Kalayaan ay ating makamit.
Continue reading...
41
You complient me in away I didn;t think  exist Cover me with kisses of friendship and bliss You shattered my wall my pilar of ice and make me feel confortable whening I;m rolling them dice I dream of you in darkness and meadows of light I vison you in circles like vultures of the night You make me plunge so deeply Into my morbid mind that there is nothing left but words that are to kind You cleverly force a smile when a snear is all I've known You make me resist the urge to run when the voices tell me go......
0
Jul 31, 2010
Jul 31, 2010 at 4:19 PM UTC
Completed
I once was a stone pilar in the middle of a plateau, And I was everything for everyone. But right now I’m at the top of a lighthouse, Stranded in the middle of the deepest ocean. And all those that care for me... Are ships lost at sea. But soon... soon, I promise I’ll find my way back to land. I’ll know what earth feels like again, Without being eroded by rough swell. I’ll be everyone’s everything. And I’ll stand strong and tall, As a beacon once more.
0
Mar 27, 2021
Mar 27, 2021 at 10:53 PM UTC
My heart aches.
Si alguna vez has pensado que los sentimientos humanos son pasajeros, déjame decirte que siempre hay una excepción, espero que no hayas olvidado que estos no son sentimientos artificiales. Aún tengo planeado que nos queramos hasta el infinito y, si se puede, más allá. Siempre querré todo contigo, acompañarte en tus días buenos en los que no puedes contener tu linda sonrisa y en los que solo te salen lágrimas. Contigo siempre me veré como ese único ser imparable venciendo la adversidad, con tu compañía el amor siempre será libertad. Quiero decir que serás mi todo, mi único cielo y me llenarás de paz. Quiero decir que serás mi universo y me mostrarás esa intensidad incomparable que amo en ti. Serás el único sueño que persiga, lo único que anhelo cuidar, serás esa persona que me recuerda que la vida tiene belleza, una que plasmas perfectamente. Pero si me permites, quiero ser ese refugio al que puedes volver siempre que el mundo te pese, cuando la duda te invada o cuando tu luz se apague, yo jamás te dejaré a oscuras, porque yo seré tu vela. Incluso cuando todo parezca derrumbarse, seré tu pilar más fuerte. Porque quiero amarte de la manera en que nadie te amará jamás. Porque contigo, cada día, cada momento es todo lo que deseo.
0
Sep 17, 2025
Sep 17, 2025 at 12:49 AM UTC
With You, Every Day, Every Moment.
Mujer, mujer, oh dulce mujer Mi amor, mi cuna, mi comienzo En mi cuaderno diario Cada día es tu día Tú eres mi alma, mi pilar Te aprecio todos los días Y te amo mucho, mucho mi amor. Mujer, mi amor, mi belleza Tú me sorprendes todo el día Tú ocupas el centro de mi vida Tú eres mi princesa, mi amiga Tú eres mi reina, mi envidia Mujer, mujer, oh dulce mujer Mi oxígeno, mi bella dama. Mujer, corazón de mi alma La estrella de mi cielo y de mi vida Tú eres la muñeca original, la mujer hermosa Tú eres ella que se mueve, que empuja y que rema ¡Guau! Tú eres una mujer bien realizada Mujer, dulce mujer, oh tierna mujer Tú eres el sol que ilumina mi palma. Mujer para mi, tú eres fundamental Mi angelita, mi santa, tú eres muy especial La vida no tiene sentido sin ti, sin tu sonrisa Tú eres mi faro, mi amor, mi esperanza Tú eres mi corazón, mi sueño, mi alma ¡Mujer, mujer, oh mujer misteriosa! PD.Traducción del poema de ‘Joyous Women's Day' Por Hébert Logerie Copyright © marzo 2019, Hébert Logerie, Todos los derechos reservados Hébert Logerie es autor de varios libros de poesía.
0
Mar 13, 2025
Mar 13, 2025 at 11:54 PM UTC
Feliz Día De La Mujer
El mar, el mar y tú, plural espejo, el mar de torso perezoso y lento nadando por el mar, del mar sediento: el mar que muere y nace en un reflejo. El mar y tú, su mar, el mar espejo: roca que escala el mar con paso lento, pilar de sal que abate el mar sediento, sed y vaivén y apenas un reflejo. De la suma de instantes en que creces, del círculo de imágenes del año, retengo un mes de espumas y de peces, y bajo cielos líquidos de estaño tu cuerpo que en la luz abre bahías al oscuro oleaje de los días.
0
308
Sonetos - ii