Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
R Jun 23
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi.

Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan.

Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya.

Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak.

Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung.

Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing.

Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah.

Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega.

Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada.

Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit.

“Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Oka Apr 17
Tidurlah di sampingku
Dan izinkan aku memasuki mimpi indahmu
Karena ingin kutenggelam di dalamnya
Menghiasi ruang khayalmu selamanya
Lupa kalau aku butuh hiburan dari swakarantina, makanya nulis puisi
Deaneira Nov 2019
yang sering kali merasa tidak dianggap.
bahkan digubris eksistensinya.
yang sering kali merasa dirinya selalu dinomorsekiankan.
bahkan kadang dilupakan.
yang sering kali merasa dirinya terlalu lama jatuh, tak ada yang bantu, dan lupa untuk bangkit.
terlalu sering menanam harap dalam jiwa lain. yang mana seharusnya dipertanyakan;
pantaskah yang ia harapkan menampung harapannya?

sering kali ia luput dari apa yang dia ucap,
sering kali juga berselisih paham dengan orang terdekatnya.
kadang juga lupa diri untuk berterima kasih pada orang lain,
bahkan lupa untuk mengucap tolong.

selama hidupnya..
sering kali juga merasa bahwa ia bernafas hanya untuk melayani diri insan lain.
sampai ia lupa..
kalau dirinya juga pantas untuk mendapat yang setimpal dengan apa yang ia berikan.

ia selalu berpikir,
“bukan, ini bukan salah dunia. melainkan ini salahku karena aku terlalu tinggi hati terhadap sekitar.”
tapi ia lupa kalau tubuhnya juga harus dipikirkan.
kadang ia tak henti memikirkan seisi dunia.
bahkan tak henti memikirkan apa salahnya,
dimana letaknya,
hingga akhirnya kedua bola yang seharusnya dapat menikmati indahnya langit pagi..
berkantung hitam di sekitarnya.

paut wajahnya tidaklah sempurna.
dipipinya, keningnya, bahkan dagunya, ada bintik-bintik yang ia selalu juluki:
“hilang satu, tumbuh seribu”.

saat menatap refleksinya,
yang sering ia direndahkan adalah fisiknya.
sering kali ia marah karena merasa tak pantas dipandang publik.
ia juga sering marah karena merasa dirinya tak kunjung cocok dalam menata penampilannya.

lelah? sangat.
betul-betul sudah ingin angkat tangan jika ia ditanya akan perasaannya terhadap dunia dan sekitarnya.
pintanya hanya satu, sederhana, tapi sulit didapatkan:
bernafas lega.
tanpa beban dan tanpa kewajiban.
tapi ia tau seorang manusia takkan pernah lekang dari kedua hal itu.
banyak yang ingin ia capai, banyak yang ingin dia mengerti.
tapi ia merasa pintunya selalu dihalangi atau bahkan dikunci saat dia sedang berusaha membuka..

hal lain yang ia mau? pulang.
tentu pulang ke ‘rumah’ tapi bukan sekedar bangunan yang ia cari.
melainkan ia juga mencari suasana yang dapat membuatnya hangat dan nyaman..
sulit bagi dirinya untuk membangun rumah sendiri,
berat tanggung jawabnya,
besar pula modalnya.

ia juga sering mengingatkan dirinya untuk bertahan.  
ia selalu berkata,
“tahan.. sebentar lagi selesai.”
yang mana ia tahu bahwa sesungguhnya ini semua tak ada ujungnya.
hidup hanyalah untaian tali yang perlu ia selesaikan sendiri lika likunya.
walau seringkali badai menimpanya dan seringkali ia lupa kalau ia hanyalah sebuah ciptaan yang jauh dari kata ‘sempurna’..

tapi setidaknya ada satu hal yang ia syukuri:
ia masih bisa selamat diantara ombak keras yang menerjang.
wonderwall Aug 2019
Pukul 02.30
Aku terdiam tanpa berbahasa
Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan
Aku terbiasa bermimpi
Namun kini aku tak mampu

Pukul 02.30
Andai waktu adalah lomba
Maka aku selalu kalah
Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam

Pukul 02.30
Aku dan semua lamunanku
Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku
atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku

Pukul 02.30
Aku ingin berlari ke dalam lautan
Menantang ombak berderu kencang
Lalu terhempas oleh bayang-bayang

Pukul 02.30
Aku berurai air mata
Berusaha mengartikan rasa
Pencarian yang tak berujung

Pukul 02.30
Katanya Tuhan itu Mahakuasa
Maka aku percaya jawaban itu ada
Dan kupejamkan mataku
Harap semua ini sirna

-wonderwall-
oshooney Aug 2019
Bahkan, mimpi mu itu butuh ruang.
Ia lelah jika harus terus menggantung pada harap.
“Hai.”
“Hai.”
Tulisan ini datang dari mimpi tanggal 24 Mei 2019, setelah mimpi-mimpi lainnya.
NURUL AMALIA Jan 2019
deburan ombak bersatu dengan asa
namun tak memecah karang pengharapan
serbuk- serbuk pasir adalah partikel kecil impianku
tak apa diinjak- diinjak
karena untuk menjadi langit
aku masih terlalu awam
NURUL AMALIA Nov 2018
aku bersebrangan dengan angan dan mauku
sulit jika tak ada prantara
jatuh terperosok mungkin hal biasa
terjungkal aku tak mengapa
hanya jembatan asa yang dirajut harapan kuat
yang jadi kebutuhan dan kekuatan
Nurul Amalia 15 November 2018 19 .13
terkadang untuk menggapai apa yang kita harapkan tidaklah mudah..hanya berdoa dan keteguhan hati yang bisa membuat semuanya terwujud..tentunya dengan usaha dan ikhtiar juga..
KA Poetry Jun 2018
Tak pernah luput wajahmu yang selalu muncul di benakku.
Berkata " jemput diriku ".
Semakin mendekat, Semakin terasa mimpi.
Hingga kini, diriku memutuskan untuk bermimpi.
05/06/2018 | 20.51 | Indonesia | K.***
Moonity Jun 2018
Andaikata aku adalah seekor burung
Terbang membentangi praja
Menapaki ribuan ruang impian
Melekang langit senja nan dekat
Tak akan kulakukan

Andaikata aku adalah seekor burung
Yang tentu ialah
Aku rindu dengan potret otentikku
Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran

Andaikata aku adalah manusia
Menyandang kedua sayap putih bak malaikat
Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh
Peran satria menjaga fisik juga hati
Angan jauh sebab manusia itu aku

Andaikata aku berjaya nanti
Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku
Seraya senyum lagak hormat
Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
—untuk aku yang berusia 24 tahun, aku yang meninggalkan semua kenangan dan tumbuh menjadi sosok tegar dan kuat. Semoga sukses adalah takdirmu.
Next page