Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"luka" poems
Cinta bukan melulu soal siapa yang lebih dulu. Yang telah lama singgah bisa jadi sama rapuhnya dengan yang sekedar lalu-lalang. Cinta bukan melulu soal detak jantung yang berdegup kencang, bukan melulu soal pupil yang melebar. Yang telah kehilangan nafasnya bisa jadi yang semenjak dahulu telah menyimpan asa. Cinta bukan melulu soal hukum tawar-menawar. Saat sudah kehabisan apa yang ditawarkan, terkadang cinta dengan naifnya tetap menyambut dengan tangan terbuka. Persetan dengan hukum ekonomi, yang memberi kurang bisa jadi telah memberi seluruh yang mereka miliki. Cinta bukan melulu soal mengabaikan ketidaksempurnaan. Justru cinta menerima seutuhnya, segala kesempurnaan maupun ketidaksempurnaan. Setiap gores dan luka, bukalah mata dan terimalah mereka dengan utuh. Yang terlihat baik bisa jadi membuatmu menutup mata atas keburukan mereka. Cinta bukan melulu soal apa yang terlihat, karena bisa jadi indera kita dibuatnya luluh lantak di hadapannya.
0
Apr 6, 2016
Apr 6, 2016 at 11:13 AM UTC
Cinta Bukan Melulu Soal Cinta
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
0
Mar 27, 2015
Mar 27, 2015 at 5:20 AM UTC
Inallillahi
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita! Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi. 0 Menit Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen. 1 Menit Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin. 3 Menit Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir. 4 – 5 Menit Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah. 7 – 9 Menit Penghubung ke otak mulai mati. 1 – 4 Jam Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati. 4 – 6 Jam Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam. 6 Jam Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan. 8 Jam Suhu tubuh langsung menurun drastis. 24 – 72 Jam Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri. 36 – 48 Jam Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina. 3 – 5 Hari Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung. 8 – 10 Hari Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah. Beberapa Minggu Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas. Satu Bulan Kulit Anda mulai mencair. Satu Tahun Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya???? BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN..... Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
Continue reading...
36
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Sejak lama ku memulainya Mengotori kertas dengan sebercak tinta Menciptakan puisi yang amat indah Penuh makna akan liriknya Dengan goyangan tangan Jari-jari ku memegang tinta Melukiskan suara hati ku Yang menangis ditinggalkannya Hati ku merintih kesakitan Tergores luka dan tertusuk panah Mengaku hati ku masih mencintanya Meninggalkan puisi cinta hingga menutup mata Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:50 AM UTC
Puisi Cinta
*when the dawn flirty flicker on the horizon of the hill .. feels cool breeze wash the bitter wounds ... when the blazing sun dancing on the head burn jealous .. so graceful way you speak .. when the sun pull over and hide the east stretch of ocean .. so light up the dim dark brushed off behavior .. when the evening wading longing raft .. so beautiful the way you steal sank deep trough ..* ┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈ cara karammu saat sang fajar mengerlip genit diufuk bukit.. terasa sejuk  hembusan angin membasuh luka yang pahit... saat sang mentari menari terik diatas kepala membakar cemburu.. begitu anggun bertutur caramu.. saat sang surya menepi dan bersembunyi ditimur hamparan samudra.. begitu terang perilakumu menepis gelapnya temaram asa.. saat rakit kerinduan mengarungi malam.. begitu indah cara karammu menyuri palung yang dalam..
0
Jan 10, 2014
Jan 10, 2014 at 9:43 AM UTC
the way you drown
Palembang, Senin 7 November 2011 Bagaikan berharganya air mataku Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku Yang sangat berarti bagiku Yang sangat dekat dengan ku Bagaikan rapuhnya hati ini Terasa sesak setiap mengingat dia Serasa ingin mati saja Tak mau lagi hidup jika ada dia Doaku tak sering ku panjatkan Hanya bisikan hati yang sering terngiang Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu Toh orang pun tak mau tahu Selalu minta yang terbaik Sungguh aku menginginkannya Agar tak lagi aku menangis sepi Supaya tak perlu aku berpura-pura Bagaikan tak terjadi apa-apa Padahal hati ini penuh luka
0
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
Air Mata Ku
Terkadang raga ini lelah melangkah Berjalan tanpa tahu pasti kemana Apakah akan singgah sebentar di sudut itu Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur Malam itu aku tertatih Menahan perih dan luka Tanpa ada satupun yang sadar Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh Namun aku juga manusia Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar Walau harus merajut asa dalam sakit Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari Hingga raga ini tak sanggup Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
0
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Temaram Lampu
Kala malam tampakkan luka Terlapis kasih, beringsut malu Ia terbakar gugur lebur Dan tidak termaafkan Sesap tangismu sendiri, Relung jiwa telah berkeluh Sembahyang doakan maut Akan pilu cinta dursilamu Dengarlah tembang petaka Perlahan menggoda luhur Gapai lika-liku serapahnya Dan kenakan sebagai selambu senja kini Jika malaikat merasuk pada Sekuntum bunga di pelupuk mata Rimba ruak ini tak akan lebih Besar dibanding seuntai rindu durjana Maka dengan itu, Akan kuajak berpesta pora Sedu-sedan iblismu Di taman mahakama bersimbah dosa Lepaskan genggaman tangan itu Dari lentera di sunyi gulita Karena sinarnya yang rupawan Telah meleleh dalam lumrah darah getir Ikutlah denganku, Kita kan menari semalam suntuk Sampai yang tercium dalam hati Hanya bau anyir perpisahan
0
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Despondensa Amoris
bukalah samudra putihmu untuk sepenggal bayangan hitam ini Biarlah ia arungi pusaran ombak dahagamu Bawakan salam duka bahwa aku penuh luka Luka, yang ku balut sepenggal bayangan hitam itu. lukislah doa di pundak bayang hitam Biarpun itu kelam akan ku beri salam Akulah lukamu, di alam bukalah putihmu untuk sepenggal bayang hitam ini...
0
May 6, 2014
May 6, 2014 at 6:02 PM UTC
bayang hitamku
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji" Ke utara, selatan kau ikut kata kau, asal ada aku ada kau. Ada waktu naluri wanitaku meragui setiap kata yang menari di belahan mulutmu. Namun apalah daya kerak nasi berlawan dengan air. Dan saat aku membuka seluas-luasnya pintu kau jadi penghuni setia untuk sementara. Sehingga tiba satu ketika langkah kakimu dihayun menapak keluar dari ruang yang kau huni ini Ingatlah bukan aku yang menjemput kau menghuni ruang ini dan bukan aku juga lah yang menghambat kau pergi.
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Menabur Garam ke Luka
Setahun yang lalu kupikir kita akan bersama Menjadi satu persahabatan yang tak terkalahkan Walaupun jalanmu berbeda Aku tetap mengikuti dengan senyuman Berharap kita memang untuk selamanya Dua tahun yang lalu aku masih rabun Berjalan tanpa suara Berhenti hanya untuk menangis Tanpa istirahat, terus saja Menyalahi diri sendiri Tiga tahun yang lalu aku sendiri Meluapkan amarah Dan mau menangnya sendiri Masih buta akan siapa yang salah Masih berdarah luka di hati ini Dari semua jalan yang kutempuh Kehilangan seperti mati Tanpa rasa tanpa cahaya Kemarin tersenyum sekarang bisu Kemarin bersama sekarang sendiri Apakah adakah sedikit saja di pikiranmu keinginan untuk memelukku, sebelum kau pergi?
0
Mar 6, 2016
Mar 6, 2016 at 9:47 AM UTC
Proper Goodbye
Ketika malam berganti pagi Bintang-bintang berkelip sayu Menanti angan yang tak tiba Dua anak manusia Dibawah temaram sinar lampu Berbicara dari hati ke hati Merah ingin mencapai Mars Hitam ingin mencari yang hilang Satu berdiam Satu menangis Sebuah memori dan luka Datang mengambilnya Dalam hati terus ia berucap "Kembalilah... Kembalilah pada dirimu" Hanya isakan yang ia dapat Dan sebuah cerita Yang dilalui dengan tercabik-cabik
0
Sep 24, 2015
Sep 24, 2015 at 3:41 PM UTC
Luka Jadi Cerita
Sukarkah sekeping  hati seorang wanita itu di fahami? Is it too difficult To understand a woman's heart? Just her piece of heart Hati wanita A woman's heart Kadangkala keras membatu Sometimes too hard Bak kerikil di jalanan Just as hard as the stones in the streets Sekeuat  ketulan ais di Antartika as tough as an iceberg in Antartica.. Hati wanita A woman's heart Kadangkala dingin membeku Sometimes as cold as ice Kadangkala luka  merah berdarah Sometimes as red as it bleeds Kadangkala duka bungkam dan lara Sometimes too sad, almost grieving Kadangkala tenang putih suci bak salju Sometimes too calm, too pure as white as the snow Kadangkalanya selembut bulu pelepah Sometimes as soft the feathers Hati wanita A woman's heart Damai yang dicari Always Searching for a peaceful soul Langit tinggi ingin di gapai Searching in the sky so high Terbang jauh mencecah awan.. Flying up in the blue blue sky Bahagia yang didamba... Every woman seeks happiness Hanya tersemat di dalam hati Yet locking the desires  at heart Tersimpan seribu rahsia wanita misteri....... A woman's heart like an untold tales the safest place where secrets and mysteries are sealed.. Selamanya di hati seorang bernama wanita tightly sealed in a woman's heart forever.....
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 1:35 PM UTC
Hati Wanita/ A Woman's heart
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Rasa ini terlalu abu-abu Tidak hitam Juga tidak putih Kau sungguh kelabu Tak tau kapan berlabuh Tak tau kapan luka sembuh Kau hanya kembali ketika butuh Hanya perasaanku yang utuh Tidak dengan dirimu yang rapuh Amarah dan rinduku kini menggebu
0
Jan 29, 2018
Jan 29, 2018 at 9:02 AM UTC
Abu-abu
Kerak dinding merapuh Menyapuh bata, menyangainya Alamat hujan atas gersang Laksana injil bagi pemeluknya ---------------------------------------------- Ngengat dan sesak beraduk Alasan bagi kuda putih yang tak lagi berlari Hari ini ia merangkak Kesakitan atas luka entah dimana Sakit tampak dari air matanya Tetesan berawai dan putus asa
0
May 28, 2016
May 28, 2016 at 12:28 PM UTC
Saksi kepahitan
dia berusaha meyakinkan aku salah dia mencintai apapun yang kulakukan mau itu benar atau salah―dia menganggapnya itu indah dia mencintai setiap inci sayatan di lenganku mau itu masih berbekas atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai seluruh buah ide di benakku mau itu akan berhasil atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai seluruh jiwa ragaku mau itu penuh dengan luka atau tidak―dia menganggapnya itu indah dia mencintai keadaan fisik dan mentalku mau itu sempurna atau tidak―dia menganggapnya itu indah dan dari sekian lama aku hidup tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 10:08 AM UTC
itu indah
Malam, kenangan, katanya ingin berlalu, mengapa masih tertinggal? Malam, masa lalu, katanya ingin dikenang, mengapa masih tak beranjak? Malam, hati yang terluka, katanya ingin sembuh, mengapa masih sibuk mengorek luka? Malam, jiwa yang tersakiti, katanya tak peduli lagi, mengapa masih menawarkan diri? Malam, air mata yang mengering, katanya telah tiada, mengapa masih membekas? Malam, pencipta semesta alam, katanya aku mencintaimu, mengapa aku masih suka kepada ciptaanmu? apakah aku jahat?
0
Apr 4, 2017
Apr 4, 2017 at 12:05 PM UTC
Malam
/1/ Merindu berarti meranggas Bak guguran detik demi detik Pada tangan pedih di petang hari Merindu berarti meradang Saat senandung semu Dari semua kisahmu Menorehkan luka Pada jejak lisanku Yang tak kunjung bermuara Karena kita yang bertualang Hanyalah jiwa dalam deru Jerit /2/ Siapa yang tinggal dalam gelap Jika bukan sekumpul hantu Dan kepulan sisa ragamu Yang denyut nadinya Sangat susah untuk kuraba Untuk apa membunuh diri Bila ternyata Tak pernah hidup Di cinta hingar bingar Di pilu tak berpijar Sumbu tubuhmu Akankah menyala lagi Apabila ku dekap dalam ratap? /3/ Terbitnya kabut Setelah fajar Takkan bisa Gantikan Kenanganmu dalam redup
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:43 AM UTC
Petuah Kuntum Kemarau
Palembang, 20 Januari 2013 Rasanya kalau sudah bicara denag-Nya, Seperti menempelkan goresan luka di hati dengan hansaplas Pedih, tapi lekas sembuh Tak berdarah, tak berbekas Rasanya kalau selesai mengadu pada-Nya, Seperti membersihkan darah yang menetes dari ujung jari Perih, dan darah kan berhenti Luka tertutup kembali Rasanya kalau belum menghadap-Nya, Seperti menunggu pengumuman juara kelas di sekolah Detak jantung berirama kencang Perut mual bak naik Halilintar Malah tangis memecah
0
Jan 20, 2014
Jan 20, 2014 at 10:02 AM UTC
Rasanya
Once you give yourself to me. There is no way that you are free. Mine are eyes that see my prey. Welcome night, and grieve the day. I've loved before, I'll love you more Than anyone who let you go. Don't move, don't blink, Don't cry, don't think - You can let your free will go. I love you like Ed. I love you like Jeffrey. I love you like John. I love you like Luka. Things are going to change for you. There is nothing you can do. There is nothing you can say. You can never get away. Don't be afraid. You're in my shade. I'm never gonna let you go. You're mine tonight, And all the nights - I'm never gonna let you go. I love you like Ed. I love you like Jeffrey. I love you like John. I love you like Luka. It rubs the lotion on its skin, Or else it gets the hose again. It rubs the lotion on its skin, Or else it gets the hose again. It rubs the lotion on its skin, Or else it gets the hose again. (Precious) It rubs the lotion on its skin, Or else it gets the hose again I've loved before, I'll love you more Than anyone who let you go. Don't be afraid. You're in my shade. I'm never gonna let you go. I love you like Ed. I love you like Jeffrey. I love you like John. I love you like Luka.
0
Jul 20, 2015
Jul 20, 2015 at 3:06 PM UTC
Love You Like Luka
Angin berbisik berita, Cerita satu baris kata, Disini berakhir segalanya, Senyum mu, Gelak tawa mu, Sedih dan Amarah Menghempas bumi, Kini tinggal di masa lalu, Luka yang telah mati, Tidak kembali berdarah, Coretan di hati ini, Kekal sebagai parut sesal, Kesilapan aku mencipta memori, Pada khayalan yang tidak pasti. Wahai dunia yang mengkhianati, Seandai aku tidak berdaya lagi, Izinkan teladan ini menjadi nukilan, Pada jalan yg tidak dijulang.
0
Mar 26, 2024
Mar 26, 2024 at 11:41 PM UTC
Luka
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan