Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tepi" poems
Semusim ini ku jalani dengan bebas Hingga suatu hari di musim berikutnya aku tersesat Menanggung sakitnya duri kehidupan akibat perbuatanku sendiri Di saat begitu siapa yang ada bersamaku di jalanan sepi? Kalian bisa lihat sendiri betapa kehilangannya diriku Kehilangan akal sehatku Kalian tidak mengerti, kalian tidak mau mengerti Aku memang terlalu rumit Musim ini aku ditemani sepi Melanglang buana sendiri Mencoba tuk temukan ketenangan yang pernah aku miliki Aku duduk lama di tepi sungai dan menatap ke air seraya lirih Menggoyangkan kaki-kakiku yg beralas sepatu usang Merasakan angin sore menusuk hingga ke telapak kaki Aku menunggu mentari jatuh di ufuk barat Kemudian pulang berjalan kaki berharap pamrih Hari ini aku masih sendiri Musim masih lama berakhir
0
Nov 20, 2013
Nov 20, 2013 at 8:12 AM UTC
Musim Ini
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
jangan amuk datang di sela hening, hujan resah masih melaut di tengah jalan jangan angin bisikkan hina, hujan pijak hawa kenyang makan terpaan burung tak bisa terbang jadi makanan hewan atap masjid berhamburan masih kumandang azan jangan rintik sendiri di atas pasang cari sampai gersang tak dapat sayang deras tepi jalan teduh sendiri linang sampai malam ditinggal mati
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:53 AM UTC
senandung hujan
Tahukah kamu, di tepi jendela itulah Cinta dan kasih kusimpan Lalu kau terbang semilir dan mencuri Setiap tak ku tutup jendelanya Tahukah kamu, berembun juga kaca Jika di tepi jendela kau tiup rasa Menjadi buram, dan tak sejernih air pula Pandangan matanya? Jika nanti ku kunci engselnya Engkau tak bisa meluncur seenaknya Meniup gundah keluar kamar Hingga sinar senja membayang pudar Jika nanti kau masuk Sebagai kupu-kupu lembayung Yang terhuyung hinggap di tepi jendela Temani aku, sebentar saja Ditepi jendela aku kehilangan Cinta kasihku, ketika Kau bersemilir masuk Dan mencuri keduanya
0
Sep 12, 2016
Sep 12, 2016 at 1:21 PM UTC
Di Tepi Jendela
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
twinkle wrinkles, seen close up they are the tracks of wind driven tears on a sunburned face, at the edges of the eye, past the per if ery of what perfidy* made you think you saw. come see how come we saw too far and fell from grace to glory. That is the story. The good new on the old new built bottom up, like Gobekli-Tepi. --- horizons past the lusters after wisdom's arcane quarry --- we live, we learn, we die to know why and we do as soon as forever starts it never stopped, hence, forever is what we agree it is. This, now we remain in until we die, moments from now, then, now breathe or don't ultimately, whence comes the will to breathe? go on, answer. or ignor, innocence is no excuse, you know. these quest ions all have positive and negative points, anionics seek cationics, OHOH, what if cathode rays never got past the atmosphere, those are causing all the static-info-friction Bad vibe waves corrupting the qualcommsplitfreqs, left from millions of hours of I love Lucy and Dobie Gillis. Mr. Kruschev, build a wall. Show our boys their counterparts failing to escape, crucified on barbed wire west of the Brandenburg Gate, Bel's gate, arche de tri'umph, eh? Confusion won the war, but war won't work here. NULL ified it, we did, into the NULL with all its lies each time we catch one. As good as never was. *Poet's Policy of acknowledging previous ignorances, acts of ignoring resulting, effectively, in wasted years perfidy (n.) means since 1590s, from Middle French perfidie (16c.), from Latin perfidia  "faithlessness, falsehood, treachery," from perfidus"faithless," from phrase per fidem decipere  "to deceive through trustingness," from per "through" (from PIE root *per- (1) "forward," hence "through") + fidem (nominative fides) "faith" (from PIE root *bheidh- "to trust, confide, persuade"). [C]ombinations of wickedness would overwhelm the world by the advantage which licentious principles afford, did not those who have long practiced perfidy grow faithless to each other. [Samuel Johnson, "Life of Waller"] From <https://www.etymonline.com/word/perfidy#etymonline_v_12685>
0
Oct 23, 2018
Oct 23, 2018 at 5:03 PM UTC
Smile Lines
twinkle wrinkles, seen close up they are the tracks of wind driven tears on a sunburned face, at the edges of the eye, past the per if ery of what perfidy* made you think you saw. come see how come we saw too far and fell from grace to glory. That is the story. The good new on the old new built bottom up, like Gobekli-Tepi. --- horizons past the lusters after wisdom's arcane quarry --- we live, we learn, we die to know why and we do as soon as forever starts it never stopped, hence, forever is what we agree it is. This, now we remain in until we die, moments from now, then, now breathe or don't ultimately, whence comes the will to breathe? go on, answer. or ignor, innocence is no excuse, you know. these quest ions all have positive and negative points, anionics seek cationics, OHOH, what if cathode rays never got past the atmosphere, those are causing all the static-info-friction Bad vibe waves corrupting the qualcommsplitfreqs, left from millions of hours of I love Lucy and Dobie Gillis. Mr. Kruschev, build a wall. Show our boys their counterparts failing to escape, crucified on barbed wire west of the Brandenburg Gate, Bel's gate, arche de tri'umph, eh? Confusion won the war, but war won't work here. NULL ified it, we did, into the NULL with all its lies each time we catch one. As good as never was. *Poet's Policy of acknowledging previous ignorances, acts of ignoring resulting, effectively, in wasted years perfidy (n.) means since 1590s, from Middle French perfidie (16c.), from Latin perfidia  "faithlessness, falsehood, treachery," from perfidus"faithless," from phrase per fidem decipere  "to deceive through trustingness," from per "through" (from PIE root *per- (1) "forward," hence "through") + fidem (nominative fides) "faith" (from PIE root *bheidh- "to trust, confide, persuade"). [C]ombinations of wickedness would overwhelm the world by the advantage which licentious principles afford, did not those who have long practiced perfidy grow faithless to each other. [Samuel Johnson, "Life of Waller"] From <https://www.etymonline.com/word/perfidy#etymonline_v_12685>
Continue reading...
47
dua jiwa, berdiri di tepi bukit kehidupan tidak pernah menyatukan mereka bukan, bukan masalah cinta hanya kenangan itu egois, kenangan tidak mau hilang ingatan
0
Sep 2, 2017
Sep 2, 2017 at 4:59 AM UTC
Tahun Keempat
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku, kemana masa depan membawaku? sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi ini hanya untuk sementara. aku tahu impian ini cukup besar, maka perkecil ekspetasi akan hal itu tentang menjadi ayah yang baik rumah yang luas dan nyaman, kacamata coklat gagang yang patah, itu tidak bertahan selamanya. Aku keras seperti batu tebing, aku melihat daun yang layu hingga mekar mudah percaya dan naif tentang banyak hal, banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan. dihantui perasaan kehilangan berlebihan dan perasaan bersalah tentang banyak hal, dan aku benci film romance yang berkendara di tepi pantai, anak kecil yang nakal, berita hoax, kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras, sate yang belum matang, semut, dan wanita yang menari di tempat umum, tabel - tabel membuatku bingung, drama tentang pria ideal juga membuatku muak, Netanyahu keparat dan pembunuh. 2025 reydmh
0
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Dari kekacauan sampai {KEDAMAIAN}
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
OMAR SELALU MENGELUH
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
78
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
MEREKA MEMANDANG BULAN
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
42