Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Aridea P Jul 2012
Palembang, 28 Juni 2012

Haruskah kita percaya pada mimpi?
Jika sebelum tidur malam tak bersahabat
Arah kanan atau kiri tak berlaku lagi
Dan mata yang tertutup tak benar-benar tidur

Haruskah kita tersenyum ketika bangun di pagi hari?
Mengingat mimpi semalam yang amat indah
Yang membawa harapan
Menjadi pikiran hingga malam selanjutnya

Haruskah kita menggapai mimpi itu?
Mimpi yang samar dan semu
Mimpi, pembawa harapan palsu
Apakah “Raihlah Mimpimu” masih berlaku?
breezeatdawn Jan 2016
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri
Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya.
Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya.
"Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu"
Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku.
Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal!
Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan.
Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam,
berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan.
Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk
Bukan! Bukan racun mematikan
tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu
Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun
Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali'
Tahun-tahun tak bernyawa
Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin
Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia!
Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu
Jangan! Jangan coba bangunkan aku
Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
#puisi #mimpi
Aridea P Oct 2011
Malam ku kemarin
Amat indah kan abadi
Terukir selalu di dalam hati
Nama mu walau hanya mimpi

Sungguh bahagia hati ku
Bila ingat akan mimpi itu
Lamunan ku berakhir
Saat mentari muncul di pagi hari

Tak dapat ku sebut nama mu
Di dalam mimpi ku malam itu
Karena gugup hati ku
Tergetar semua nadi ku

Kelak kita bertemu
Bertemu menjadi satu
Akankah kau campur cinta mu
Dengan cinta ku yang menunggu

Created by Aridea Purple
Ketika awan tak lagi biru
dan mawar tak nampak merah
Gemerlap neon di angkasa mengaburkan sisi moral serta logika
sinisme dan dosa duniawi tak lagi terhalau
dan pepohonan kering menyeruak
Angkasa menjadi saksi

Akan ada kesederhanaan
pemikiran kecil akan hidup di metropolis
belenggu takdir,
tangis serta tawa
larut dalam anggur hitam yang akhirnya luruh dalam hasrat memiliki

Menuju masa lalu,
berhenti,
angin pagi pun hilang,
bersama raja angkasa yang padam
langit membelah
turunlah tangga menuju puncak duniawi
merentang seluas tangan,
menggapai mimpi-mimpi sederhana yang hilang terbawa arus kering,
menusuk tanpa arti
Yang Terhormat
Pahlawan Yang Terkubur Derasnya Kapitalisme
Aridea P Oct 2011
Ku duduk di sini
Kaki ku membeku karena dingin
Mata ku kantuk karena larut
Malam ku gelap tanpa sinar bulan

Telinga ku sepi, tiada yang terdengar
Bibir ku rapat, tak ada yang terucap
Badan ku lelah serasa ingin roboh
Ingin ku pejamkan mata tuk sementara

Namun terlelap dalam mimpi
Takkan tersesat walau sendiri
Harap ku akan bermimpi lagi
Mimpi yang paling indah dari kemrin
Agar temani di malam sunyi ini
Hingga aku membuka mata esok hari

by.
Aridea Purple
sweetrevoirs Dec 2016
Relei ingat. Baju hangat kuning kecoklatan, 4 kerutan di tangan kanan dekat siku dan 5 lainnya di dekat bahu kiri. Rok kotak-kotak selutut yang untung dan sayangnya tak pernah terisngkap sedikit pun angin berkata tiup. Adalah pakaian yang melekat di badan Malia kali mereka bertemu tatap.
Udara dingin malam Sabtu sama sekali tidak membuat para pujangga mengurungkan niatnya untuk berteriak kata cinta. Atau cerita patah hati. Mungkin iya di tempat lain, tapi tidak di sini, di 8th Avenue, sebuah ruangan tak terpakai beberapa tahun lalu yang di percantik jadi sebuah tempat pertemuan para penyair dari berbagai penghujung kota. Dengan satu podium kecil –sekitar setinggi 1 meter dan selebar tiga dada- di sebelah barat, membelakangi dinding yang berwarna merah marun sedangkan tiga dinding lainnya adalah batu bata yang tidak dipoles.
Malam itu Relei seperti malam Sabtu lainnya, berjalan dari kamar loft ke tempat favoritnya, menyusuri 6 blok dalam suhu 21 derajat dengan tentu pakaian hangat.
Semua wajah yang berpapasan, tak ada satupun yang Relei lupa. Ada 13 wanita, 8 diantaranya bermata coklat, dan 6 pria, satu diantaranya memegang setangkai bunga mawar, yang sudah bertatap sapa selama perjalanannya menuju 8th Ave. 8 bunyi klakson mobil dan 4 suara orang bersin yang selalu di balasnya dengan “semoga tuhan memberkati”. Tidak, Relei tidak selalu menghitung seperti ini dalam sehari-harinya. Hanya saja Relei selalu ingat.
“ Lalu bulan masih saja datang, pun tak sepertimu, yang malam ke malam, masih saja semakin semu.” Seorang wanita paruh baya sedang membacakan barisan terakhirnya di atas podium dengan parau sangat menghayati. Penyair lain yang ada di ruangan itu menjentikkan jari mereka terkagum, ada juga yang bersorak kata-kata manis. Kode etis dalam pembacaan puisi di 8th ave adalah : tidak perlu bertepuk tangan terlalu kencang untuk berkata bahwa kau kagum akan satu puisi, cukup dua jari saja.
“ Biarkan aku datang ke mimpi buruk mu, lalu mimpi indah mu, lalu mimpi mu yang kau bahkan tak tahu tentang apa, atau pun mengapa,” Selanjutnya adalah giliran seorang perempuan muda yang naik ke panggung. Ia bercerita tentang buah mimpi, bahwa Ia ingin menjadi fantasi yang dibawa kemanapun sang pemimpi berjalan.
Baju hangat kuning kecoklatan, 4 kerutan di tangan kanan dekat siku dan 5 lainnya di dekat bahu kiri. Malia –atau seperti itulah tadi perempuan itu memperkenalkan dirinya sebelum memulai puisi- menyisir rambutnya kebelakang kuping sebanyak 3 kali sepanjang ia membacakan puisinya. Ia bergeliat di boots hitamnya, entah karena grogi atau tidak nyaman. Malia berambut coklat ikal sepinggang, dan memiliki bulu mata yang lentik bahkan dilihat dari ujung ruangan.
“ Untukmu, yang bersandar ke bata merah dengan tangan memegang kerah.” Malia mengakhiri puisinya sambal menatap ke arah Relei. Tangan Relei yang sedang membenarkan kerah baju otomatis langsung membeku. Ia sadar penyair lain sedang mengalihkan semua perhatian mereka kepadanya. Tapi hey, ayolah, pasti bukan, gadis di atas podium itu pasti bukan sedang membicarakan tentang Relei. Gadis yang sekarang sedang menuruni tangga podium dan berjalan ke arahnya itu pasti bukan sedang- Oh tuhan, atau mungkin memang iya.
Aridea P Jan 2014
Palembang, 11 Januari 2014

Ini kisahku
Kisah mengharu biru
Tentang aku yang tak berkawan
Di pulau perantauan

Ini ceritaku
Cerita yang terekam waktu
Tentang seorang anak Hawa
Yang mati tapi bernyawa

Alarm berbunyi, memecah sunyi
Aku diam di sini, sendiri
Mencoba tuk menutup mata, tapi selalu terjaga
Menerawang masa depan, melukiskan kehidupan

Terdengar Ayam bernyanyi, berirama seni
Aku masih merenungi, siapa jati diri?
Mencoba tuk menutup mata lagi, meski ku pun tak yakin
Ku coba sekali lagi, berharap mulai bermimpi

Esok hari penting, tak ingin ku langkahi
Kemarin hari sendu, birkan berlalu
Sekarang hari biasa, cobalah terbiasa
Kenangan akan tercipta, berawal dari mimpi di kala senja
Joshua Soesanto Dec 2014
Kopi sore ini dengan langit senja mendung
Tidak melengkung
Tidak elok dengan warna merona
Seakan tidak berwarna

Kopi sore ini juga bercerita
Bahwa mungkin diatas awan kelabu
Masih ada sedikit warna rasa
Kenangan di balik embunnya hujan fantasi, terlihat abu-abu.

Rasanya ingin menghapus langit ini
Mencoba tahu, apakah masih ada warna dibaliknya?
Apakah matahari masih setia menemani?
Disaat semua kembali pada posisinya

Kamu pencuri mimpi
Mimpi yang sama-sama kita selami
Lalu dijualnya mimpi pada semesta yang kini tak menemani
Kamu..seperti awan sore ini
Entah kembali
Entah pergi
Lekaslah kembali, energi
Agar yang pergi..kembali pulang.
https://soundcloud.com/gardikagigih/di-beranda-banda-neira-cover
Maman Screams Jan 2014
Sebelum nafasku yang terakhir
Ku luar kan kepadamu
Engkaulah yang ku tunggu
Engkaulah bintangku

Dan kamu
Aku masih sayang kepadamu
Biarlah ini satu rahsia buatmu

Adakah ini suatu mimpi
Yang selama ini engkau menyelami
Menyinari
Menghiasi alamku dengan warna cinta pelangi

Engkau ada tetap dihatiku walau ku tiada
Engkau ada tetap dijiwaku walau bisa
Dan ku harap kau maafkanlah segala dosa
Sebelum ku pejamkan mata untuk selama-lamanya

Dan kamu
Aku masih sayang kepadamu
Biarlah ini satu mimpi indah bagiku

Apabila nadiku berhenti
Tamatlah sudah puisiku ini
Tapi ini bukanlah satu erti
Kuharap engkau kan terus bermimpi

Kubina cinta di alam mimpi
Bayanganmu ku kan salji
Selalu berada sentiasa disisi
Selamanya kepadamu
Aku..
Aku berjanji..


©2014 RevoLusi
©2014 Maman Screams
Taken and re-arrange with consent from my band "RevoLusi".
Lyrics were taken from my band upcoming latest single, "Mimpiku Yang Terakhir".
The whole lyrics have been re-arrange and some phrases are added in for this piece.
This is my first time writing up a song in my mother-tongue language, "Bahasa Melayu".
This is the poetry version for the song.
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
el Aug 2014
Di antara tumpukan bangau-bangau ini, terdapat satu harapan yang tidak akan pernah tercapai.

Di antara tumpukan bangau-bangau ini, tertoreh satu kesedihan yang tidak diketahui siapapun.

Di antara tumpukan bangau-bangau ini, aku mengubur semua mimpi indah bersama dengan setumpuk cerita pahit.

Dan di antara tumpukan bangau-bangau ini, terbesit satu keinginan yang mustahil untuk dijadikan nyata.

Biarkan mimpi tetap menjadi mimpi, biarkan aku tetap diam.

Biarkan seribu bangau menyampaikan kata-kata yang tersangkut di lidahku kepadamu
Karena aku yakin kamu tidak akan ingin mendengar suaraku lagi.
R Jun 2020
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi.

Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan.

Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya.

Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak.

Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung.

Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing.

Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah.

Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega.

Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada.

Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit.

“Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Joshua Soesanto Jun 2014
terlewatkan beberapa batang rokok pagi
untuk mencicipi sebuah kopi hitam lembab
di lidah basah seorang perempuan
indra pengecap bersama semesta lain

seorang pemberontak pada sebuah mata
mata dingin yang berkuasa atas semua puisi
rasa skeptis pun berkarat
lalu, bersembunyi pada tanaman yang sekarat

dia masih meredup di sebuah ranjang
bintik-bintik tumpah pada dada yang telanjang
dengan selimut dingin bintang kemarin malam
bakar sebatang melihat keluar jendela, dunia tenggelam

minggu pagi ini
terhiruplah kopi dingin dan anggur
lalu,
kapan kalian mabuk lalu lelah?
Illinois - Are You Coming With Me? #NowPlaying #Tracklist
Joshua Soesanto Jun 2014
aku ingin teriak
menghilangkan penat yang semakin memberat
sendiri tanpa wujud manusia bersama malam, mengelapkan bumi
titik terang seperti tidak berpihak di antara hati dan jiwa bergejolak
mimpi semakin jauh

satu cerita seperti gambaran perjalanan hidup
mengarah kepada kematian jiwa
keraslah
keringlah
seperti akar hasrat yang haus akan hujan nurani sebuah sosok

lalu makin penuhlah pikiran dengan kotoran suara "omong kosong"
puisi jingga yang kata banyak orang sebagai makna dari "hidup"
kapankah sebuah imajinasi berwujud nyata?
bertumbuh, bermutasi sebagai bagian dari mimpi yang pernah ada

sepertinya kopi dan rokok pun sudah bosan
mendengar celoteh sang pemberontak
tapi, mereka selalu ada
suntikan darurat adrenaline ke otak

disaat itulah..
aku membunuh tuan waktu
lupa reluk, remuk.
siraman spiritual kepada luka-luka nanah di masa muda

mungkinkah kopi berwujud manusia?
*apakah ia bidadari? *
dan
mengapa aku menanti dia mati?

ternyata benar
kematian adalah sebuah regulasi
ia menjadi bubuk mantra.. luruslah hidup katanya
seduh
delapan puluh derajat panasnya
sebuah bisikan kata-kata "pesona"
maka meronalah ia.. berbusa senyum
cairan itu.. damai

damai
selalu damai
lima huruf memukul ingatan akan senderan hangat dada yang empuk
detak jantungnya terdengar berdebar
kembalinya mantra halus jatuh dari bibir
kata-kata tertahan yang tak sempat kembali

akan kah kembali?
mungkin.
lullabies Mar 2017
Pagi ini aku menangis
Bukan karena ketakutan
Namun ini masalah mimpi yang mengecewakan
Bulanlah yang menjadi saksinya
Ketika kamu mengatakan yang selama ini ingin aku dengar
Kalimat yang cukup membanggakan
"Aku mencintaimu"
Aku lupa jika ini hanya mimpi
Mimpi jika aku mendengar kalimat itu dengan mulut kecilmu
Meski kuucap semua kata pinta
Kita punya hubungan tanpa pernah kamu mengucap kalimat membanggakan
KA Poetry Oct 2017
Pagi disemat dingin sejuk
Terbit matahari menghangatkan
Melihat senyum indah darimu
Apakah raga ini terbangun di surga ?

Memulai hari dengan imajinasi yang menghanyutkan
Memandang Sang Penerang bangkit dengan dirimu
Sungguh menyempurnakan elemen dunia ini
Khayalan di dunia nyata

Nyata atau mimpi
Dirimu sungguh sempurna di dua dunia
Satu yang memandang dekat
Lainnya yang memandang jauh.
28/10/2017 | 21.57 | Indonesia
Aridea P Oct 2011
Palembang, 22 Juni 2011

Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut

Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba

Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah

Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku

Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi

Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara

Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova

9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Aridea P Oct 2011
Palembang, Selasa 21 Juni 2011


Aku punya mimpi mulia
Butuh seribu tahun tuk menggapainya
Ku tak serius, hanya mengira
Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya
Hingga betisku biru
Lututku lecet
Bobot tubuhky berlipat
Sampai pikiran ku sangat terbebani
Hanya dapatkan phobia sesaat
Saat api kulihat di mata tepat
Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat
Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat
Ingat hanya aku tahu semampunya
Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat
Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa
Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat
Sadar-sadar di hari nan senja
Bahwa ku makan hanya sisa saja
Ku terima karena ku akui aku memang suka
Berharap perbaikan akan datang mangubah semua
Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa
Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah
Namun salahkah aku masih ingin dicinta?
Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
Aridea P Nov 2011
Kau datang di saat ku menginginkanmu
Kau bagaikan menerangi hidupku
Ku tersenyum di setiap waktu
Ku selalu memikirkanmu

Kau menjauh entah mengapa
Ku tersadar bahwa ku yang memulainya
Kau tak sedetikpun berbicara
Ku hanya bisa menyesal

Ku mulai belajar tuk melupakanmu
Ku buka hati ini tuk yang lain
Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata
Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku

Kau menyentuh hidup ku, lagi
Kau buat aku menginginkanmu, lagi
Kau buat aku salah tingkah, lagi
Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi

Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu
Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu
Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan
Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku

Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku
Kau yang menerangi hidup ku
Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu
Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku

Kau...
Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku
Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu
Yang ingin sekali mengecup bibir mu

Kau...
Yang selalu membuat aku gelisah
Yang membuat aku berusaha lebih baik
Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki

Kau...
Tak pernah habis kata-kata untuk mu
Selalu ku puji dirimu
Ku ingin bisa mengatakan bahwa
Aku sangat mencintaimu

I LOVE YOU
Surya Kurniawan Nov 2017
Tak tahu mengapa tiba-tiba Fatima terjatuh. Orang-orang pikir dia tertidur. Mereka mencoba membangunkan, namun sia-sia. Disentuh dengan hati-hati, tak juga berhasil.

Fatima dengan sepasang burka berkeliling di dunia ide. Mimpi-mimpi yang awalnya ilusi, kini nyata. Dia menari-nari diatas kesedihannya. Fatima mondar mandir mencari-cari sepasang burkanya. Burkanya yang satu dipasangkan di kepala pak Kucing.

Pak Kucing adalah teman yang baik. Artinya dia menemani Fatima dalam ide dan materi. Pak Kucing berkata bahwa Fatima adalah gadis yang cantik. Fatima terharu mendengarnya, tetes-tetes air matanya jatuh membasahi burkanya.
Pak Kucing menghibur, dengan membacakan teka-tekinya;

"Tiba-tiba, orang-orang merasa sia-sia berhati-hati. Mimpi-mimpi kini menari-nari, mondar-mandir mencari-cari tetes-tetes teka-tekinya"
Aridea P Feb 2012
Jakarta, 25 April 2009

Kampung halamanku
Di mana tempatku dilahirkan
Di pagi hari di bulan Mei
Tanggal 20 tahun 1995

Aku diberi nama Erika
Ku dibesarkan
Sampai aku berumur 7 tahun, aku pindah ke Ibu Kota
Dengan keluargaku
Ayah, Ibu, dan adik-adikku

Aku tumbuh menjadi seorang remaja
Dan mulai merasakan jatuh cinta
Jatuh cinta pada seorang remaja pria di sekolah
Dia sangat hebat dan pintar
Dia adalah motivatorku
Tuk meraih semua mimpiku
Noandy Dec 2016
Sebuah cerita pendek

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.

                                                     ­            ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi. Tapi kau tidak selalu terbangun. Kadang hanya ragamu saja yang terbangun, sedang jiwamu entah di mana.  Kadang juga aku merasakan adanya dirimu, tapi kau tak dapat ditemukan di sekitarku. Aku dapat menemukanmu, sepertinya, dalam Wiegenlied milik Brahms yang biasanya mengantarmu menuju tidur yang lelap—sebagaimana acara anak-anak mengalunkan lagu itu menjelang pukul delapan malam.

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Kau ingin selamanya tertidur. Pernah suatu saat, di antara kepulan bau thinner dan cat kayu yang tak kunjung hilang, kau mendekatiku dan berkata,

“Aku tahu sekarang kenapa kau ingin mati.”
“Aku ingin mati?”
“Aku tahu, aku ingin mati—juga.”

Aku bergurau,

“Ya sudah. Nantinya juga kita semua akan mati.”

Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan biolamu dan lebih memilih tertidur, kenapa kau memilih meninggalkan kita semua dan mengunci dirimu, kenapa kau hanya terbangun sesekali di jam dan waktu yang tidak umum. Semua orang mencarimu, dan tak ada yang tahu apakah kau adalah kau ataukah sekedar tubuh tanpa jiwa—mayat yang hidup. Kurasa kau sudah menjadi mayat hidup sejak kau katakan hal itu padaku. Kuharap kau juga memberi tahu alasan mengapa kau ingin tak bertubuh dan tak berjiwa.

Kau menggerogoti dirimu dari dalam, Dis. Kau melantunkan nina-bobo yang mengerikan untuk dirimu sendiri. Sebuah lagu pengantar tidur yang musik dan liriknya berisi pemujaan pada kematian yang kau dambakan. Berapa kali harus kukatakan kalau kita akhirnya nanti mati juga?

Minggu lalu kita berbincang panjang—tak jauh dari perihal tubuh, jiwa, dan takdir. Kau terlarut pada sekumpulan cerita H.P. Lovecraft yang kau pinjam dariku, dan senantiasa kau bawa tidur karena baunya mengingatkanmu padaku. Sepertinya bukan hanya bauku yang meracunimu tapi kisah-kisahnya pula. Herbert West: Reanimator, dan Hawa Dingin. Kau berpikir dan berandai jika tubuh yang tak lengkap dan seluruh organnya tak berfungsi, masih memiliki kemungkinan untuk bertahan apabila diawetkan dan jiwanya ada. Bagaimana kita tahu jika jiwa itu ada, Dis? Apa bedanya dengan roh? Apa pertandanya?

Tapi aku tetap saja larut dalam lamunanmu. Lebih baik kau terus berbicara daripada tertidur atau teler karena hal-hal yang kau teguk sembarangan di malam sebelumnya saat tak dapat terlelap. Lebih baik kau terus berbicara, aku suka mendengarkanmu berbicara karena derap suara yang kau lantunkan berjalan selangkah sama dengan milikku.

Entah apa akhir pembicaraan kita tentang roh dan jiwa itu, aku tak dapat mengingatnya. Yang samar-samar kuingat adalah, kau secara tidak langsung mengatakan bahwa yang terpenting dari sebuah kehidupan bukanlah tubuh—selama jiwa itu ada.

Lalu semenjak itu aku tak melihatmu mendatangi latihan lagi. Memang aku tak selalu memperhatikan latihan aktor yang bukan merupakan porsiku dalam pagelaran ini, tapi saat istirahat menggarap properti dan menjelajah kantin atau intip-intip para aktor yang latihan, tak juga kutemukan ragamu di sana. Apa kau ada di sana, mengikuti latihan  tapi tak ada yang dapat melihatmu? Memangnya ini cerita supernatural dan kau sedang melakukan proyeksi astral?

Semua orang membutuhkanmu untuk terus melanjutkan peran yang kau mainkan, Dis. Tapi apakah mereka peduli padamu? Aku tak seberapa yakin. Aku merasa mereka hanya memperdulikanmu atas dasar kepentingan itu, dan tak sepenuhnya menelisik masalah yang menggerogotimu dari dalam. Memang beberapa kali kau merasa malas, tapi aku yang bekerja di belakang panggung dengamu sejak tahun lalu ini percaya kalau kau tidak ingin tidur karena malas. Kau ingin tidur karena ingin jiwamu saja yang hidup, tubuhmu sudah terlalu lelah atas luka-luka dan lebam yang sudah sejak lama bersarang padanya, dan atas sesuatu yang menghabisinya dari dalam.

Malam itu, saat semua orang mengutuk namamu dan ketidakhadiranmu, aku tertunduk dan menyembunyikan mata di bawah topi hitamku—sesekali mencuri pandang ke jendela. Ada perasaan yang menyiratkan padaku bahwa kau juga sedang menoleh ke arah jendela, dan entah kenapa, aku mendadak berdiri  menuju balkon lantai dua—tiba-tiba aku takut jika kau sedang memiliki pikiran untuk lompat dari jendela kamarmu.

Mereka terus mengutuk namamu dan bagaimana kau mengecewakan, serta menyulitkan mereka. Tapi mereka tak pernah berusaha menghubungimu. Mereka hanya mengandalkanku dan Erma untuk terus mencarimu. Tidak ada yang peduli, Dis, tidak ada. Semua menyendirikanmu. Kau pun seolah tak peduli dengan mereka, sulit dihubungi melalui apapun.

Itulah yang membuatku bergegas menuju tempatmu—menaiki tangga darurat yang pengap tanpa jendela itu sampai ke lantai sepuluh. 1007, kamarmu. Setelah beberapa kali ketukan lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras pintu kamarmu sampai akhirnya kau bukakan dengan enggan. Celana pendekmu, kaus merah tidak karuan, kakimu yang terluka dan matamu, membara merah menyambutku. Jendela terbuka, angin menyelonong masuk dan menghantarkan bau alkohol serta asap rokok yang tersisa sedikit saja. Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummu—parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.

Aku tidak tahu kau habis menangis atau tidak, tapi aku menangis. Dan aku juga tidak tahu jelas mengapa tiba-tiba menangis. Bisa jadi karena aku begitu lega bisa bertemu denganmu, mungkin juga karena semua beban untuk mencarimu dibebankan padaku serta Erma sehingga emosiku lepas begitu saja saat bertemu denganmu. Aku tidak tahu. Aku langsung mendorong pundakmu untuk menyingkir dari pintu dan masuk tanpa izin. Alih-alih menghentikanku karena masuk tanpa permisi kau membiarkanku dan mengikutiku. Aku melihat buku Lovecraft-ku tergeletak di samping bantalmu dan seantero ruangan kacau balau.

Kita saling terdiam, dan tanpa mengucapkan sepatah kata, aku mencari sapu dan membereskan tempat tinggalmu.
Aku tak keberatan, kita sesama orang berantakan yang terserak dan sudah diatur untuk menata satu sama lain.

Angin terus berhembus dari jendela  dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau ambil beberapa batang lilin dan nyalakan mancis sehingga deretan lilin itu terjejer membatasi kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah lilin dan kau lakukan hal yang serupa.

“Tubuh yang sempurna bukanlah hal yang berarti untuk kehidupan.”
“Tanpa roh dan jiwa tubuh tak akan bisa bergerak, begitu?”
“Ya. Makanya, yang terpenting adalah jiwa. Bahkan dalam tubuh yang tidak sempurna seseorang dapat hidup—seperti para penyandang disabilitas.”
“Lantas mengapa orang-orang meregang nyawa karena tubuhnya terluka hebat?”
“Karena tubuh itu memberi celah bagi jiwa untuk merembes keluar.”
“Berarti jiwa butuh tubuh untuk dapat terus bertahan, kan?”
“Tubuh ini bukanlah cuma badan. Bisa saja sebuah benda lain yang mampu menampung jiwa. Lagipula roh dan jiwa dapat mengembara kemanapun.”

Aku, belum sepenuhnya paham hubungan antara tubuh dan jiwa dan roh versimu, memilih diam dan mengalihkan topik dengan membujukmu untuk kembali ke kampus dan datang latihan untuk pagelaran yang akan kita tampilkan, semua orang mencarimu.

Kau mendorong jauh mancismu sehingga masuk ke kolong laci lalu mengangguk lemah. Melihat tubuhmu menjadi jauh lebih kurus, aku tak tega mendesakmu terlalu jauh. Aku berniat mengambilkan mancismu dan menyadari bahwa kau menyembunyikan tas biolamu di bawahnya sehingga aku turut mengambilnya. Kala aku merogoh, aku ingat mendengarmu berkata lirih “bagaimana jika kita hidup tanpa tubuh?” sehingga aku menyahut,

“Maksudnya tanpa tubuh?”
“Tubuh dan jiwa sebagai dua hal yang terpisah. Tapi jiwa dan roh tetap satu.”
“Tapi kalau terpisah, menurutku jiwa atau roh akan hilang sepenuhnya karena tidak ada yang menahannya. Seperti wangi yang lambat laun menguap.”
“Bagaimana jika kubilang  kita sedang dikerumuni oleh jiwa-jiwa tak bertubuh?”
“Hah, apa, Dis?”
“Seolah jiwa dan tubuh itu terpisah saat sedang tidur. Aku ingin tahu apa kondisi itu juga bekerja pada kematian. Aku ingin tahu mati itu seperti apa rasanya—apakah seperti tidur—dan lebih lagi, aku ingin membuktikan apabila yang dibutuhkan bukanlah tubuh yang sempurna. Jiwaku yang penuh sesal ini menggerogotiku dari dalam. Waktu demi waktu. Perlahan-lahan.”
“Sudah, Dis. Tidur saja, kamu terlalu penat. Jangan ingin mati dulu, nanti kita juga akan mati kok.”
“Bersama-sama?”

Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur. Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku.

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.
Aku mematikan perekam suara pada ponselku, dan entah kapan, aku tertidur. Jendela masih terbuka karena dapat kurasakan semilir anginnya. Langit hitam tak menyegarkan. Hitam bak tidurku tanpa mimpi.

03.40

Aku kedinginan dan terbangun. Lilin-lilin sudah memendek dan mati tertiup angin, kau tak ada di sebelahku. Jalan menuju jendela kuraba dengan memegangi perabot, aku memegangi jendela dengan kedua tanganku untuk ditarik ke bawah. Kepalaku otomatis kukeluarkan sejenak untuk melihat pemandangan sekitar dan apa yang sedang terjadi di dunia bawah.

Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak. Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun.

Bercucuran keringat dingin aku menyeka luka di dahimu agar tak lagi terlihat darahnya dan aku dapat naik kembali ke kamarmu tanpa perlu dicurigai.

Sesampainya di kamarmu aku terduduk dan menggerayangi lantai mencari mancismu. Aku menyalakan semua lilin dalam bentuk lingkaran mengelilingi kita. Kupeluk jasadmu dan kubiarkan darah dari kepalamu terus mengucur di tanganku.

Tuhan, jangan biarkan ia mati.
Aku tahu tak akan mungkin ia dapat kembali ke dalam tubuhnya yang telah memberi celah bagi jiwa untuk keluar ini.
Aku tak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Dan akhirnya tertidur kekal sebelum waktunya. Jangan tidur dulu, Dis,
Jangan tidur dahulu sebelum waktunya.
Sungguh aku tak paham apakah kau masih di dalam ruangan ini atau sudah hilang, sirna sepenuhnya. Seperti wangi seperti wangi seperti wangi.

Darahmu
Darahmu
Darahmu
Memenuhi tanganku.

Jangan pergi, jangan pergi.
Aku membersihkan lukamu dan membalut perban yang kudapat dari kotak P3K dengan meraba-raba wastafel di dekat dapur.
Aku membersihkan lukamu meski tak dapat rasakan nafasmu lagi.

Ponselku menyala, dan memutar sebuah rekaman tanpa aku menyentuhnya.

04.44

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Akhir rekaman.*
Aku tertidur memeluk jasadmu.

08.23

Angin masih masuk dari  jendela yang tak jadi kututup. Aku melepaskan jasadmu dan mengambil biola yang tergeletak dengan tangan berlumur darah. Memainkan Wiegenlied—Lullaby.

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan secara resah dan basah,

“Sudah kubilang, percepat temponya.”

Aku terkesiap, namun tak menoleh ke arah jasadmu. Kuteruskan bermain dengan peluh bercucuran dan gesekan tak karuan, menghapus darah yang mengering di tanganku.

“Ternyata memang sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku. Bahkan  setelah terlepaspun, ia masih saja merintih penuh sesal dan tanya.”

Not terakhir,
Aku menoleh,

Mulutmu menganga dan mengatup seolah mencari nafas, menganga, menganga
Matamu tak berkedip menatapku, terlentang, memandang lurus ke arahku.
Ke arah jendela, langit yang biru, angin, nyanyi,
Lalu kau kembali tertidur.

                                                      ­           ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi.
Untuk.. Kau tahu untuk siapa.
Sissy Gunawan Oct 2013
Orang-orang bilang
Burung hanya datang untuk bernyanyi,
Membangunkan setiap jiwa dan menghancurkan alam mimpi,

Tapi bagiku
Nyanyian burung menandakan kebahagiaan tersendiri,
Mereka datang untuk menyambut pagi,
Bukan sebagai alarm alami,
Bukan juga untuk menghancurkan alam mimpi,
Tapi untuk menyambut pagi,
Memanggil mentari

Cahaya pun datang menyingsing
Senyum mentari lantas menari-nari,
Menghiasi langit bumi,
Secercah senyum penuh cinta tiba mengawali,
Ada sebuah lembaran baru yang menanti kami,
Yaitu hari ini.

*s.g.
Aridea P Oct 2011
Jakarta, Rabu 2 Mei 2007


Suatu malam menghampiriku
Menjadi malam yang indah bagiku
Dihiasi taburan bintang di malam itu
Tiada bisa ku lupakan hal itu
Malamku penuh mimpi
Terlihat  manisnya wajahmu
Yang menghiasi mimpi burukku
Yang menghilangkan rasa takutku
Joshua Soesanto Jun 2014
called "Papaver Somniferum"

perempuan seperti bunga *****
mempesona juga mematikan
di ekstrak di murnikan
di setubuhi di suntikan
konteks itu rasa
kohesi dalam pembuluh darah

serasa terbang tak menapak
ternyata aku overdosis kata

jangan penjarakan!
teriak pemadat rasa
jarum sajak masih menempel di tangan
"aku ini hanya pemakai kata"
kata yang ku tulis diam-diam
lalu kau membaca, merekahlah analogi rasa

aku ingat hari itu
kau berpakaian penuh warna
aku mulai gila
inikah suntikan pada kepala? pantas..
beringas

aku mulai sadar
saat kau bersenandung tentang orang lain
menjelang mentari tenggelam
aku bungkam

mungkin kali ini jarum terisi racun
suntik kemana?
"aku tidak akan memilih nyawa"
hanya memilih nadi yang pernah berwarna
kini melabuh mencapai titik jenuh

sesungguhnya sang pemberontak ingin bicara
tentang kopi tentang mimpi
tentang pantai tentang ombak
tentang terik tentang hujan
tentang candu tentang perjalanan
tentang rencana tentang pergi lalu menghilang
tetapi kau mengokang senjata

kembali aku bungkam
angkat kaki..
pergi dengan kutukan.
Banda Neira - Esok Pasti Jumpa #NowPlaying #Tracklist
Sissy Gunawan Jan 2017
Aku tahu mengapa dari jutaan perempuan yang ada di dunia ini, matamu memilih hanya untuk memandangi satu perempuan berambut gelombang sedada dengan kaos polos berbahan nyaman berwarna abu-abu muda yang kamu sebut ia sebagai perempuan indie.

Dia perempuan yang kau beri label indie karena ia mendengarkan musik-musik aneh yang tidak masuk di telinga pendengar musik-musik mainstream yang biasa mendapatkan lagu kesukaannya diputarkan di radio mobil. Bukan jenis selera musik yang biasa ada di playlist tim pemandu sorak. Selera musiknya ialah tak lain sejenis musik rock yang ringan, lagu-lagu dari tahun 90-an, lagu-lagu dengan sentuhan retro beat tahun 80-an, dan musik elektro santai yang biasanya kamu dengar di toko baju. Selain selera musiknya, kau beri perempuan itu label indie karena ia bersifat eksentrik, tak terduga dan penuh kejutan, sedikit tertutup, dan bersemangat. Ia jenis seseorang yang bisa kamu dapatkan dirinya menatapi permukaan jendela yang basah dihinggapi bulir-bulir rintik hujan, sibuk memikirkan sesuatu. Ia juga jenis perempuan yang bisa kamu dapatkan kadang menarik diri dari keramaian, lebih suka membaca atau menulis seorang diri. Juga, ia seorang perempuan yang bisa kamu temukan sedang tertawa lepas bersama teman-temannya, mengobrol dengan terbuka dan hangat, menebar senyum sambil menyapa ramah, berteman baik dengan semua orang. Ia jenis perempuan yang tak akan kau sangka-sangka, apalagi dapat kau tebak tindak-tanduk akan ia perbuat selanjutnya. Kau pikir ia jenis perempuan yang kuat, sesungguhnya ia katakan bahwa dirinya cengeng. Setelah itu, kau pikir selanjutnya ia bukan tipikal perempuan mandiri yang mampu membawa dirinya sendiri ke mana pun, tapi nyatanya kau lihat kadang ia berjalan sendiri – ke kantin, ke mushola, bahkan kadang kau mendapati dirinya berjalan pulang seorang diri dengan kedua telinga ditancapi earphone putih. Ia perempuan berperawakan kecil dan seorang pemimpi besar, yang mimpi-mimpinya membuatnya bekerja keras demi menghilangkan ketakutannya akan pikiran ketidakmampuan mewujudkannya. Ia dianggap secerah mentari bagi orang-orang di sekitarnya, selalu tertawa dan melisankan kata-kata positif, tapi sesungguhnya, ia hanyalah mentari bagi dirinya sendiri. Setiap kali ia jatuh, ia yang membuat dirinya kembali bangun − hingga akhirnya, ia tanamkan pada benaknya bahwa begitulah proses dari kehidupan. Kehidupan adalah siklus yang adil. Kehidupan berbuat tidak adil pada semua orang dan itulah saat yang paling tepat di mana ia harus bangkit dan mekar, hanya untuk dirinya sendiri.

Aku tahu kemudian mengapa perempuan yang kamu sebut sebagai perempuan indie itu menarik perhatianmu, bahkan sampai membuatmu rela melakukan apapun untuknya. Ia benar-benar membuatmu seolah bangun dari tidur lama di ruang kedap cahaya, pandangan matamu seolah mengatakan bahwa perempuan itulah matahari baru dalam kehidupanmu. Tentang bagaimana tindak-tanduknya yang tak mampu kau reka dan kau prediksi, perempuan itu membuatmu seperti melihat sebuah misteri dan keajaiban yang melebur jadi satu.

Sebut saja, sederhananya,
kamu benar-benar (akan) mencintainya.
Elle Sang Feb 2016
Lantunan lagu sendu mengiringi malam
Ketika mereka lelap dalam senyap
Mata yang tak tertutup itu menangis
Memandang bintang-bintang di angkasa
Berharap bisa tenggelam di dalam gelapnya
Namun semesta sedang bercanda
Seakan-akan mereka mengutuknya untuk selalu ingat
Tanpa henti sehingga mata itu tak bisa lagi tertutup
Bagaimana bisa tertutup
Ketika malam tiba ia selalu ada
Aridea P Oct 2011
Jakarta, 10 Mei 2008

Lirik lagu tentang cinta itu
Buatku seakan dia ciptakan untukku
Padahal dia ciptakan untuk yang lain

Tapi kenapa harus dia
Yang indah buatku luluh
Angin bawakan sejuk untukku
Karenanya suara lirik itu terdengar

Aku pun menangis
Begitu indahnya sampai ku bermimpi
Tak henti mimpi sampai saat ini
Yang tak ingin ku akhiri

Percuma, dia takkan tahu aku di sini
Meski ku kuras s’luruh air mata
Ku ucapkan seluruh kata cinta
Hingga tak tersisa lagi

Berulang kali angin bawakan lagu itu
Sekali lagi untukku, dari dia yang indah
Selamanya sungguh ku cinta
Karna sampai kini tak pernah ku lupa
Joshua Soesanto Jun 2014
sebuah tatapan kosong
teriak! harapan perlahan hilang
lalu, lahirlah sebuah manusia tanpa wajah
di hujani batu demi batu rasa asa

jangan kalungkan pelangi di lehernya
karena akan di curi dan di hancurkan orang
seperti timbangan keruh dan pergulatan gelap

"bahagiakan saja aku!"
terdengar suara perempuan seperti letusan
di sebuah lorong sempit, sepi tak bertuan

apakah salah tuhan menciptakanmu?
dengan senyum yang menawan
dengan hidup yang penuh warna
dengan hidup secercah matahari pagi
dengan hidup yang bersinar seperti bintang
dengan hidup yang kata orang penuh arti

lantas, salah siapa?
kalau pada akhirnya dia hanya di hujani rasa sakit
seperti anjing liar dalam tubuhnya
mengonggong sampai hati padam,
lalu lupa akan sinarnya

dulu dia pernah mengecap manisnya hidup, dulu..
di hujani sejuta kata rayu
sekarang dia jatuh, tergeletak
bersama matahari menggantikan rembulan

lalu, biarkan langit tampak mencolok
setelah kurvanya kehabisan mekar
dan biarkan langit tak lagi elok
sebab kini mimpi terlihat samar

ingatan pada sebuah kotak
berdebu dan usang
tentang dambaan seseorang yang lewat
dengan wajah kemarin

mungkin, mengingatmu seperti pagi
selalu sederhana.
ingatan..sebuah ingatan

tentang dirimu yang hancur, di sia-siakan
di peluk lalu di injak-injak orang, di buang

tentang tegarnya dirimu menjalankan alur cerita
cerita naskah sang pencipta

tentang dirimu yang berjalan dalam kelabu
karena jejakmu lupa warna
tentang dirimu..yang penuh arti tapi bukan untuk dia

seperti pisau bermata dua
seperti senapan berpeluru dua
salah satu harus mati
atau
kita berdua, mati.
Erik Indarto - A Kite On The Darkest Night #NowPlaying #Tracklist
Saman Apr 2011
Ara
Payudaramu
Masih menatapku dengan murung
Entah sudah berapa lama kupegang
Mungkin ratusan ribu kali.

Temaram yang dibentang
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Ranjang yang bermain melodi sendu
Poster kusam mimpi hari depan
Dan radio tua yang tak henti-henti
Menabuh genderang yang telah hilang
Semangat.

Ah, siluetmu
Yang bergoyang-goyang di tiup
Angin asmara.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun,
Bilang pada bulan
Jangan berhenti bersinar
Dan taburilah wajahnya
Banyak-banyak cahaya bintang.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk.

(Batam, 17 Mei 09)
Aridea P Oct 2011
Sifat jahat kembali lagi
Hancur hidup ku saat ini
Karena ucapan kali ini
Dan aku pun menangis

Gerah rasanya hidup ini
Aku di sini hanya lirih
Apa yang bisa aku akhiri
Bila semua takkan terakhiri

Akankah ku pergi lagi?
Diam tanpa harus bicara lagi?
Menangis di malam  lagi?
Dan mendengar lagunya kembali?

Aku kangen Arlonsy lagi
Aku ingat Arlonsy lagi
Aku menangisi Arlonsy lagi
Dan aku mimpi Arlonsy lagi

Aku dengar suara dia
Aku dengar melodi dia
Aku dengar detak jantung dia
Dan aku dengar segala tentang dia

Aku menangisi dia lagi
Aku rindu dia lagi
Aku kenang dia lagi
Dan aku ingin dia kembali
Kudengar adzan berkumandang
Ah! Subuh datang
Membangunkanku dari istirahat malam
Mengecoh mimpi indah malam itu

Belum, kubelum siap bangun
Tapi semesta mendoktrinku
Kuharus bangun dan terjaga
Kuiyakan saja mereka

Sesaat pagi tiba
Kelembutan angin memuaskanku
Segar aroma udara memenuhiku
Pipit mericau ramai
Sesal tak ada dalam benakku
Hanya puas dan sentosa
Kutak menyesal bangun subuh
Aku ingin pagi ini bujur

Tiba-tiba sengat datang
Tolong! Tolong aku
Siang datang mencuri pagiku
Aku mulai belingsatan
Panas matahari mengantup
Aku bergidik
Meratap
Siang jahat!
Aku kutuk siang
Namun ia tak mau pergi
Ia malah semakin menjadi-jadi

Aku hilang kendali
Aku marah
Kembalikan pagiku!
Aku memohon pada siang
Aku menangis
Bahkan aku bersujud
"Siang, aku rindu pagiku"
Aku rindu ricauan pipit pagi itu
Aku kehilangan angan-angan

*Novita Olivera.
Silahkan mengartikan sendiri puisi diatas! Ada beberapa persepsi mengenai puisi "Selamat tinggal pagi." Puisi ini saya tulis setelah menonton AADC-2 yang sangat menginspirasi untuk terus menuliskan puisi. Dan sebenarnya puisi ini agak berkaitan dengan kisah AADC-2. -pipi
Zharfa Zhafirah Mar 2018
di dalam kata-kata yang hilang
di dalam mimpi-mimpi yang kelam
di dalam benak yang terdalam

tak ku temukan jiwa yang hidup
yang kutemukan hanya sisa-sisa harap
aku merasa hilang
Aridea P Oct 2011
Hari ku tak tenang
Tanpa alun lagu terindah
Di pantai sana
Bagai tempat ku merana

Jeritan ombak bagai mewakili
Hati ku yang sedang menangis di sini
Risauan burung tanpa henti
Bagai raga ku yang terancam
Tak akan melihatmu lagi

Saat cahaya mentari redup
Bagai mimpi ku yang telah berakhir
Begitu menyesalnya aku
Tak dapat cinta nya
Yang pasti akan indah sampai ku mati


Created by Aridea Purple
Joshua Soesanto Jul 2014
Sepertiga rasa
jatuh pada botol kecupan asa
mimpi berkelap-kelip berbias cahaya
kamu selalu indah, mengikat semesta.

Satu persatu melankolis tertawa
mengeja satu puisi
jatuhnya pun tiba-tiba
seperti cinta, mudah terisi.

Mengelukanmu seperti bidadari
menulis berbaris-baris puisi
tentang dirimu
hingga terhipnotis sampai lupa diri
kini rasa sendiri.. hinggap lagi
kembali menagih janji.

Ternyata rasa suka itu..
tidak pernah satu paket dengan kata "bersama"

Rasa pun akan mati nantinya
aku selalu penasaran
mengapa rona pelangi suka mempermainkan pikiran dan hati?
di ujung perjumpaan
oleh sebab ketiadaan ia menghilangkan jejak ini.

Sudah cukup perjumpaan ini?
aku kira kita masih bisa bersama untuk bermimpi


Mungkin sudah waktunya
aku kembali lagi
berangkat mencari sepotong daging yang terpisah dari jiwa
dan anggur-anggur memabukkan jati diri.
https://soundcloud.com/keithkenniff/to-be
ga Aug 2018
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut
Menghangatkan malam yang dingin
Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku
Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu
Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir
Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan,
setiap detik yang kulewatkan,
setiap nafas yang kuhembuskan,
setiap detak dari jantungku,
Untuk kau kuasai

Malam-malam yang membelaiku dengan lembut
Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman
Namun kau datang meretas mimpiku
Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur,
menggema dalam kepalaku
Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku
Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar
Memaksaku terbangun seketika dan menyadari
Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi

Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku
Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku
Kau memutar badai pada lautku yang tenang
Kau memancing senyum saat hari-hari kelam

Kau bara apiku yang terus meradang
Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi
Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam
Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
12/08/2018
Mimpi yang tak ingin kusudahi,
Angan yang selalu ingin kuandaikan.
NURUL AMALIA Aug 2017
Untukmu selembar kertas
Tidakkah kamu pernah berpikir
Ini tak semudah ketika aku menggambar garis atau titik
Ini lebih rumit dari pada gulungan tali
Aku bahkan tidak bisa membuat sketsanya
Tapi aku coba merangkai kata demi kata
dengan pena kesukaanku
Itu semua adalah mimpiku
mungkin hanya Dia dan kau saja yang paham
aku menulis semuanya, sederhana saja
namun ku tahu itu tak akan cukup
selalu kuselip dalam doa semua harap
Aku hanya percaya..
suatu hari, suatu saat
mimpiku yang pernah ku pahat akan terwujud
Aridea P Oct 2011
Aku menangis, padahal tak ada yang harus ditangisi
Aku tertawa, padahal tak ada yang harus ditertawai

Aku berjanji...
Tanpa tahu akankah ku tepati
Aku bersumpah
Tanpa tahu azab apa yang akan ku dapati

Keinginan hati hanya mimpi
Hati munafik padahal baik
Mangapa jiwa ku terbagi?
Selalu hadir bergant-ganti

Jiwa keras hadir, terluluhkan oleh dia
Sesal pun menghampiri
Air mata curahan hati

Jiwa lembut hadir, tertegur perkataan "MUNAFIK"
Mengucap kata meyakini
Inilah aku yang asli

Mengapa jadi serba salah?
Hati ku keras, hati ku lembut
Selalu berakhir air mata
Bertanya, dosakah aku pada Tuhan?

Created by Aridea Purple

— The End —