Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
zahra ly Aug 24
"Apa benar, khayalan bisa menjadi kenangan sekuat kenangan dari kenyataan?"
Aku berandai-andai menanyakan itu pada Tuan
Lalu sekiranya Tuan bertanya, "Puan, perihal apakah gerangan?"
Akan kujawab, "Tuan, tak sadarkah kita terjebak?"
Tuan bergeming.
"Tuan, jika saja kau tahu; perihal kita tiada sederhana”
Hearty Feb 14
Halo Tuan,
Masih ingatkah waktu kita tersesat?
Dilabirin Waktu bersama
Kau seolah paham dengan alurnya
Menuntunku

Aku tersenyum dari belakang
Mengikuti tapak kakimu

Ditengah jalan, kau berhenti
“Aku sadar” katamu.
Mari kita berpisah
Dan jika memang benar alurnya,
Kita akan bertemu di ujung labirin ini

Aku berhenti dan menabrak punggungmu
“Mengapa?”
“Apa?”
Aku masih tidak bisa berpikir jernih
Hanya kalimat tanya yang ku pikirkan
Kau tau aku tak paham dengan labirin ini kan?
Dan kau suruh aku berjalan sendirian,
Dengan hadiah “jika benar kita akan bertemu di ujung labirin”
Tidak



Tuan, lebih baik kita tak bersama dari awal
Akan sangat mudah bagiku untuk memahami alur ini jika aku sendiri saja
Terimakasih untuk setengah perjalanan ini
Dan untuk ujung labirin,
Ku harap aku menemukan ujung labirin lain,
Dan kau pasti tau alasannya.
Xoxo
Chris Slade Apr 1
Ladies of the Net… A warning to male adolescents everywhere…

“Hi Honey….I just got matched with your profile”… At least that’s what I think it said.
Brilliant I thought because I’m available and life round here is, well…it’s dead
“I’m looking for an experienced guy who’s good in bed…  been round the block, but not the clock…
One with plenty of experience and a huge…err…appetite…
for hooking up instead of these inexperienced boys…
They’re all excitable, probably all over too quick…
need someone with poise reserve and a twelve inch errr… Libido?… ego?
Click my pics kiddo and let’s get it on… you Stud!… Well I would!

*******! I’m overwhelmed but let’s not peak too soon…
There’s loads of stuff coming in as Spam that would probably make us all swoon.
So check it out…without fail, “eeeh!”  They’re all there - these ladies of the net - they crop up daily -
Sheila Blige… Tanya Hide… Mandy May,  Bette Sheedus, Lovinia ****…
I’m not sure if these are their real names... But - Phew -
with things like this going on round here we could all get *******!

She says she’s just round the corner, you know like Sompting, Steyning, LA (that must be Littlehampton)… Southwick…Little Haven Halt, Portslade.
We could meet in a lay-by and we’ll get laid… just an innocent little escapade.
It won’t be my fault if you miss this chance…
Just try it - I’ll handcuff you to the bed and lap dance.
Click on my pix, big boy, they all beckon.
Take a closer look at these sonny boy - now what do you reckon?

Well, you’d have to say they do look very alluring in the taster…
so why not just click...
to the next page… see the site… don’t waste-ya time…CLICK!
*******! The screen’s gone blank…
now I won’t even be able to have a __
Knock, Knock, Knock!

"Kevin!!!?"..."Mum?" "Is that you?" "Yes Mum!… Everything’s OK!… I’m just turning out the light… G’night!"
These days the temptations of the internet are many and varied... no longer restricted to top shelf magazines...It's all free and it's coming to gettya - Check out those parental controls!!
Erik Jan 18
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan.

tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia.

aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat.

bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa perduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku.

namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.”

namaku sederhana.
sederhana dan akan selalu nyaman.
setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak.
namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya.
aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati.

rumah.
D Aug 5
“Tiga tahun dan kau tak pernah menulis tentangku.”
Katanya setengah bercanda, rambut hitam sebahu itu menutupi sebelah matanya. Bahkan saat berbicara tentang kecewa, dia tetap memilih untuk tidak menatap mataku.
“Tidak seperti pada si musisi itu, atau si perempuan yang kau bilang jahat.”
“Kau tahu aku hanya bisa menulis saat aku terluka, atau saat ada kafe baru di Jakarta — Namun itu tuntutan.”
Dia mendelik, tapi aku tahu dia sedang menahan tawa. Tawa yang kudengar hampir setiap hari setahun lalu. Selain bunyi tawa, terlalu banyak yang kita tahu akan masing-masing.
“Ya. Sepertinya seru kalau ada yang menulis tentangku.”
“Menulis tentangmu? Harus kumulai dari mana tulisan itu?”
Walau pemilihan kata “Seru” terdengar sangat remeh ditelingaku, pikiranku hinggap ke hal lain; mungkin harus kutekankan pada si konyol bersampul Rock and Roll ini bahwa ide tentangnya memang terlalu banyak dan terlalu dalam untuk digambarkan lewat satu atau seribu kata, setidaknya untukku. Di saat banyak yang mengagumiku karena lidah ini terlalu banyak berceloteh tentang film, sastra dan bercinta, laki-laki satu ini telah mendengar sinisnya makian yang terlontar dari lidahku — serta menjadi saksi akan terlemparnya makian tersebut ke sudut-sudut ruang. Selama dua tahun kedua bola mata coklatnya harus melihat ratusan lembar diri ini. Setiap hari lembaran yang berbeda. Namun aku tahu, dari sekian lembar yang ia baca, hanya beberapa yang betul-betul ia hafal - telaah - dan dia simpan di memori terdalamnya untuk suatu saat ia bolak-balik lagi. Setelah setahun berpisah dengannya, tubuh ini seakan tak mampu menghapus rasa yang begitu familiar, begitu kental, begitu erat, saat bersanding disebelahnya. Tidak pernah ada yang melihatku setelanjang ini.
“Kamu ingat saat kita hendak berangkat ke Bandung?”
“Untuk nonton konser Jazz?”
“Ya.”
Aku bisa merasakan nafasku berhenti.
“Aku melemparmu dengan handphone-ku.”
“Yang lalu retak dan mati.”
“Aku meneriakimu.”
“Aku juga.”
Terlepas persona beringasnya, suaranya hampir tidak pernah bernada tinggi, kecuali satu kali.
“Hari itu aku bertengkar dengan Ibu.”
Ada sesuatu dari dirinya yang sampai detik ini tak bisa kutemukan pada orang lain; ketidakmunafikannya.
“Kalian berdua sama sarapnya. Itulah yang bikin kalian begitu dekat.”


Dia tidak pernah berusaha menenangkanku dengan khotbah klise tentang kasih Ibu, atau tentang tanggung jawab seorang Ibu yang begitu berat — yang kadang membuatnya meledak membanjiri semesta dengan segala emosinya. Dia tidak pernah berpura-pura menjadi filsuf, menaruh tanda tanya kepada setiap kata dan kejadian, atau tidak pernah menjadi psikolog gadungan yang memaksaku bercerita saat otak ini masih melepuh belum waras. Jika banyak perempuan yang dalam hati berdarah-darah karena ingin diperhatikan, kekagumanku terhadap cuainya lelaki ini patut dipertanyakan. Sikap yang terlihat acuh tak acuh itu malah terlihat begitu natural di mataku. Ada perasaan nyaman yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata di saat aku tidak lagi mendengar rentetan omong kosong seperti; “Semua akan baik-baik saja.” “Tuhan akan membalas suatu yang baik dan buruk.” “Kamu perempuan yang kuat.”
Sebaliknya, lelaki nyentrik ini lebih memilih untuk menatap diam sebelum ia menyetel lagu pilihannya untukku keras-keras. Mengenal orang ini begitu lama, ada sedikit banyak hal yang kupetik dari hubungan kita yang lebih sering tidak jelas; mungkin cinta kasih tak harus repot.
Sayangku arjuna,
Kita tidak boleh bersama.
Bukan karena aku tak cinta.
Bukan karena kamu tak sempurna.
Atau aku tak bahagia.

Maaf arjuna,
"Tuhan kita berbeda."

Kata mereka sih begitu.
Padahal di agamaku, hanya satu.

Lalu aku bertanya tanya,
Memangnya Tuhan ada berapa ya?
Apakah hanya lima?
4200 allah, kata wikipedia?
Atau sebanyak bintang di sorga?

Tuhan yang lain itu apa?
Imajinasi fana?
Tahayul belaka?
Cerita mereka?

Arjunaku sayang,
Coba jawab aku yang tak paham.
Tuhanku yang gila?
Tuhanmu yang sinting?
Atau manusia yang sok waras?

Bukankah manusia mengelu-elukan sorga!
Kok enggan mati duluan?
Pernah ikut serta mini exhibition ReKreasi bersama kawan lainnya di Paviliun Puisi pada Januari 2018.
kudapati pecahan diri
terbenam dalam bayangan



masih



kisahmu terselip pada ingatan
berselimut kenangan
ku terhanyut
terdesak rindu  
didekap sepi
terkumpul segala rasa candu
atas hadirmu
wangimu
panas sentuhanmu yang membakar bahuku
perjalanan terjauh beratap bintang

banyak yang hendak kukatakan
bukan "singgah lebih lama"
ini perkara hilang arah lintasan
tak boleh ada yang disesalkan
biar sekejap aku berpijak pada memori
esok pagi kala fajar muncul
akan kusimpan dan kuhadapi
semua soal tanya jawab masa depan
selamat datang nyata
030619 | 22:22 PM lagu Monolog - Pamungkas nemenin malam ini, kata-katanya deep, jadi tergelitik buat nelisik ulang tentang motivasi sebuah hubungan  "alasan masih bersama bukan karena terlanjur lama, tapi rasanya yang masih sama, seperti sejak pertama jumpa dirimu di kala senja duduk berdua tanpa suara".
aziza Sep 28
ruang
pembatas
pendekam

membuat
kepalanya

menengadah
ke angkasa

melukiskan
seribu
tanda tanya.

Membubung ia pergi;
terbang meninggalkan pulang.

— The End —