Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"paling" poems
Yank myself out of bed Peel the film of sleep from 'round my head It's 4:00 AM And all the world is dead. It's 4:00 AM and all the world is dead. From the streets every man has fled. But in hours it again shall be Brimming with potential; energy set free. I assemble my appearance. Staring into the mirror, I say to myself: "One last time. "One final tour." The door is open, before it I stand To face morning's faint chill Surrounded by paling blue. There! The first bird's trill. The air is sweet And free of smog. The faintest fog Is draped on the trees. The empty street beckons And freely I obey. I have things I need to do Before the commencement of the day. I pass the playground on the corner, Where I wasted time as a child. Where many a battle was fought And we had adventures in the wild. Past the playground and to my left There is the river bank Where I went fishing with my father And my friends and I made our mothers mad: Where we lit our little fires And we had our first drinks. Where we shared our first joint And came to talk and think. Our school is down the way. We all can safely say It's the place where we first learned Classes and books have less to say than the real world. We became: Artists. Athletes. Academics. Our achievements Are scrawled upon The stone walls That lined that same river. A little further on, And there's the little store Where I kissed my first fleeting love Just outside the door. I keep walking, I keep walking, Until I reach the shore. I put my back against a rock And rest on that sandy floor. The life that I'll soon be leaving Lies behind me asleep While I watch the sun lazily rise Over the mysterious, unexplored deep. I built myself in this town And it built me as well. But I cannot stay much longer: In a few hours I will bid it farewell. Will I ever make it back? Will I ever return To trace the scrawlings by the riverbank With bare fingers full of nostalgia? Nothing at all is sure. Therefore I must take this last chance To make my final tour.
0
May 8, 2015
May 8, 2015 at 8:25 AM UTC
Final Tour
Yank myself out of bed Peel the film of sleep from 'round my head It's 4:00 AM And all the world is dead. It's 4:00 AM and all the world is dead. From the streets every man has fled. But in hours it again shall be Brimming with potential; energy set free. I assemble my appearance. Staring into the mirror, I say to myself: "One last time. "One final tour." The door is open, before it I stand To face morning's faint chill Surrounded by paling blue. There! The first bird's trill. The air is sweet And free of smog. The faintest fog Is draped on the trees. The empty street beckons And freely I obey. I have things I need to do Before the commencement of the day. I pass the playground on the corner, Where I wasted time as a child. Where many a battle was fought And we had adventures in the wild. Past the playground and to my left There is the river bank Where I went fishing with my father And my friends and I made our mothers mad: Where we lit our little fires And we had our first drinks. Where we shared our first joint And came to talk and think. Our school is down the way. We all can safely say It's the place where we first learned Classes and books have less to say than the real world. We became: Artists. Athletes. Academics. Our achievements Are scrawled upon The stone walls That lined that same river. A little further on, And there's the little store Where I kissed my first fleeting love Just outside the door. I keep walking, I keep walking, Until I reach the shore. I put my back against a rock And rest on that sandy floor. The life that I'll soon be leaving Lies behind me asleep While I watch the sun lazily rise Over the mysterious, unexplored deep. I built myself in this town And it built me as well. But I cannot stay much longer: In a few hours I will bid it farewell. Will I ever make it back? Will I ever return To trace the scrawlings by the riverbank With bare fingers full of nostalgia? Nothing at all is sure. Therefore I must take this last chance To make my final tour.
Continue reading...
72
Corpses proliferate in soaring violence; heirloom of franchise and eminence— perish in erosion. Timid denizens of derision, cynicism in roaring silence — optimism’s paling vapor—commodity of Indecision, our halcyon days forgotten. Chosen token of audacity; the onyx maladroit feigns, prevaricating beneath the Sacred canopy. Etudes of apathy; attrition unlamented; streams of guile— quixotic squall conversely merge — veiled conceit, eloquent arrow of equivocation. The policy of attenuation. Treason’s vine obscured beneath the blind surf of consent. © 2014 & 2016 W. S. Warner
0
Jul 20, 2014
Jul 20, 2014 at 3:12 PM UTC
Attenuation
The nakedness of winter lies heavy upon the tolling Sunday quietude Shed  leaves perish into yesterday and the dream of another dawning  someday wanes The  sun ― lay low the drudging  ashen  skyline   Barerd emerald moss scaffolds draw much more distantness to the pallid shadowed horizon The evergreens step forth, roots grasping sacred heart, soil  and  rock In the swelling aloneness you can feel the grain of  the  heartwood rooted in your soul There are no hard feelings but there's an enduring ache, like a tree with a rotting limb languishing  within its blackened bark sacrifice It's not just the grinding time that slips away begrudgingly; more of the same takes a toll  as if another unrung belfry hour in an empty bell tower without a song rang out in vain, peeling  reflections of reluctant hours  c r a w l  by in the insensible apathy A so called holiday passes ― its footprint bears down hard  and  deep as if a paling winter rose grieves its own passing A dry wishbone unbroken lay bare the poignant truth  it  holds; it takes two to make this wish come true .
0
Nov 26, 2017
Nov 26, 2017 at 12:33 PM UTC
Dried Wishbone in an Empty Bell Tower ...
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
daydreaming part 2: tentang perpisahan
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Continue reading...
4
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang  gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia. 1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur. 2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak 3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang  pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua? tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh  karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia. Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih. gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua. cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia  meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba? lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan. *buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku. jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu. coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk  *buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu. maapin aku  #sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya. gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua  sangat.sangat btakut
0
Apr 19, 2012
Apr 19, 2012 at 5:16 AM UTC
curhatan gua
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang  gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia. 1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur. 2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak 3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang  pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua? tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh  karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia. Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih. gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua. cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia  meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba? lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan. *buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku. jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu. coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk  *buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu. maapin aku  #sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya. gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua  sangat.sangat btakut
Continue reading...
22
In the dark, windy eve shines stark an orange light Crisp and warm, caressing the wood curves gently; no fight, The harsh burn breathes life to the embers, now shining bright, A veil of smoke falls gently, hazy is the night. Now traveling up the stock, whose polish: iridescent, Up to the paling, rugged cheeks whose glow: florescent. In the blue moonlight, his eyes shine pleasant, Enjoying the taste, thought, life, love; vibrant. Sitting in a weathered chair, creaking wood, rocking back to and fro, He sat still, thoughtful, as pristine as wax, as delicate as snow. Taking drags in the dark, the orange relax, a seedling starting to sow, The stem broke the soil, words forming in his mouth, questions starting to sough. He looked up from his stupor, sharp minded, clear and concise, A solution to his problem, no matter its cause, had broken the ice. Now he stood tall, elated, anxious, worried his words would suffice, Then he sat back down, rewarded, confident his ideas would entice.
0
Apr 27, 2014
Apr 27, 2014 at 11:33 PM UTC
Deep Thought
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Aku tak mengerti apa arti dari Cinta Sejati Yang ku tahu hanya cinta itu membuat kita sakit hati Tapi, mengapa rasa ini lain, tak seperti yang lalu Ku cemas bagaimana bila aku jatuh cinta dengan nya? Jatuh cinta... Cukup umurkah aku tuk mengenalnya? Aku takut itu akan berujung penyesalan Tapi, selama ini aku hanya diam tak ada gairah Diakah yang akan membuatku bangkit dan berdiri? Cinta... Cinta... Cinta... Hanya cintakah yang paling mudah di dunia ini? Mudah untuk mencintai, mudah tuk menyayangi Mudah tuk melukai, mudah tuk menyakiti Dan mudah-mudah lainnya... Aku heran, mengapa aku harus kenal cinta Bila ujung-ujungnya ku harus menyesal Semoga cepat ku dapatkan jodoh ku Supaya penyesalan, penantian, semuanya! Tidak berlaku lagi dan ku hidup bebas Cepat katakanlah cintamu Mungkin itulah yang ku tunggu Mungkin? Ya, bisa iya Bisa juga tidak I'm waiting all alone here
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 1:52 AM UTC
Tentang Cinta 1
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
0
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Berdansa Lagu Sedih
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
Continue reading...
31
dalam soal perasaan dan cinta-cintaan, satu saran dariku ialah   jangan kau gunakan banyak-banyak hatimu    kau tentu boleh merasakan,     asal tidak terlalu dalam.       jangan.       bahkan kalau kau mampu      biarkan orang lain menganggapmu     berhati beku soal itu    biar saja mereka menganggapmu begitu   asal dalam hati kamu tahu, perasaanmu sesungguhnya hal yang paling murni untukmu.
0
May 13, 2016
May 13, 2016 at 8:15 PM UTC
Hal Yang Murni Untukmu
Palembang, Rabu 26 Juli 2011 Aku sayang dia Aku jaga dia sejak pertama ku milikinya Ku genggam erat dia seakan tak ingin berpisah Ku selalu awasi dia tak ingin kehilangannya Dia selalu ada di setiap ku butuh Kawan terbaik mencurahkan inspirasiku Tak terbayang jika dia pergi tinggalkan ku Atau hanya hilang tanpa jejak atau pesan sekalipun Yang pertama, tak bisa terganti Sekali sayang, dan akan terus selamanya Perasaanku tak tercurah tanpanya Berhari-hari aku bersamanya dengan setia Namun di hari itu aku kecewa Yang aku sayang yang terus aku jaga Dia mati di kala waktunya belum tiba Aku kecewa ketika mereka membunuhnya Aku marah, aku kesal Aku minta mereka mengembalikannya Tapi yang ku dapat hanya heningan Tanda mereka tak mau berbuat apa-apa Aku sudah tahu jawaban mereka Meskipun belum terucap, hanya bahasa gerak Mereka tidak mengerti rasanya kehilangan Mereka tidak peduli dengan perasan orang Ku hanya ingin pertanggungjawaban Dan kembalikan dia kembali ke genggamanku Tolong sekali saja Kalian mngerti perasaan seseorang Dia adalah pena ungu yang paling ku sayang "Pena Ungu ku tinggal kenangan"
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:40 AM UTC
Pena Ungu
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008 Dulu diary ku indah Sekarang telah ku ubah Tapi, saat gagal bertemu kau Ku satukan diary yang terpisah Sebagai bukti dariku Yang kan ku berikan untukmu Agar kau tau Seberapa besar cintaku Kasih ku t’lah tercurah Berdetik-detik, berjam-jam Bahkan berhari-hari lamanya Semoga dapat kau terima Meski terluka akhirnya Biar ku pergi saja Lupakan kenangan indah Dan yang paling menyakitkan Tapi, takkan ku biarkan Diary ku berubah indahnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
Diary
our kisses were as soft as our hearts & this must be the seed of all that came thereafter, and all that didn't see light outside my mind. perhaps our soft hearts led to my current introspection and my disposition when it comes to pens, papers, and all that lies between them in truth, in confessions by soft tongues in shaky lips in scattered sheets in paling cheeks and blushing eyes, in that which lies between thought and its expression, between brutal honesty in the heat of an oncoming summer, in mosquito bites and my sweet blood which attracts this violence, this heatstroke sunshine; it is divine, like we imagined, it is hectic like we desired, it is nonsense and is madness and knows no explanation other than our awkward silence, our differences in imagined futures, our various degrees of love/hate passive-aggressive actions and feelings and resentments and appreciations; we both are optimistic but you believe in that which counters my belief and it is strange and unexpected and before you, i needed someone, and after you, i need to be alone
0
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 2:02 PM UTC
june
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini; Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan; Di balik bulirnya seorang pujangga termenung; Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya: Wahai imaji hujan di masa lalu; Pernah kulupa namun mengapa belum kurela? Wahai melodi hujan di masa lalu; Kembali kau ketuk palung paling dalam; Kehalusan suara wanita yang pernah ada; Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu? Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama? Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna; Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan; Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu? Walau kesedihan menolak segala kefanaan; Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian; Yang menolak segala bentuk pengulangan; Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya? Mengapa masih aku mengaku yang tertabah; Jika musibah tak mampu melenyapkan; Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus? Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada; Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita? Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran; Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami; Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya; Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan; Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka; Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
0
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Sabda Hujan di Musim Semi
Ku duduk di sini Kaki ku membeku karena dingin Mata ku kantuk karena larut Malam ku gelap tanpa sinar bulan Telinga ku sepi, tiada yang terdengar Bibir ku rapat, tak ada yang terucap Badan ku lelah serasa ingin roboh Ingin ku pejamkan mata tuk sementara Namun terlelap dalam mimpi Takkan tersesat walau sendiri Harap ku akan bermimpi lagi Mimpi yang paling indah dari kemrin Agar temani di malam sunyi ini Hingga aku membuka mata esok hari by. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Mimpi
Three thousand miles navigating a storm without drop of bad weather Abacus odometer clicks rotating forward ―   spinning with the world go round Circling back down a long and winding road;   where unforgotten memories were once searchingly explored,   untrodden pathways coursing way up north of alone on the low highway    Now an aging shepherd wonders without a compass ; a vagabond deprived of light from an ever blurring north star Heart empty as a gas tank with a broke down gauge, running on fumes of hope for unpromised tomorrows Running from loneliness just to be on the run The gales of silence bellow No feelings I can see ― lay me low Wild-eyed daydreams of Full sails billow out through the windshield, only hearing the unspoken moments sigh restlessly ―     The dull droning road rumble re-sighs renunciatively, a tired monotone voice mimicking the loathe silent echo wallowing in an omnipresent hollow void deriding unspoken chaos between the passing centerlines ― A frost heave pothole erupts, with a leaf-spring rattling thud, as a fleeting cloud of dust arises, set adrift with the draught headed off the east side of the Alcan highway: blown way outside the lines,   towards the Alberta prairie White knuckled steering wheel held sway,  rolling down a beckoning wilderness           reincarnation;  default reset button paused ―  stuck in a moment ― until another jaw rattling frost-heave pothole in the highway,             jars it free Leaving it all behind like a sigh breathed in a silence a heart has outgrown; just a fleeting cloud of dissipating dust,..          a paling whisper the past seems to send forth   like a fading last breath Letting it all unfold to become what it is      harlon rivers ... May 2018        ... travelogue 2 of some
0
May 18, 2018
May 18, 2018 at 11:34 AM UTC
Finding lost rivers ― ( a travelogue )
Three thousand miles navigating a storm without drop of bad weather Abacus odometer clicks rotating forward ―   spinning with the world go round Circling back down a long and winding road;   where unforgotten memories were once searchingly explored,   untrodden pathways coursing way up north of alone on the low highway    Now an aging shepherd wonders without a compass ; a vagabond deprived of light from an ever blurring north star Heart empty as a gas tank with a broke down gauge, running on fumes of hope for unpromised tomorrows Running from loneliness just to be on the run The gales of silence bellow No feelings I can see ― lay me low Wild-eyed daydreams of Full sails billow out through the windshield, only hearing the unspoken moments sigh restlessly ―     The dull droning road rumble re-sighs renunciatively, a tired monotone voice mimicking the loathe silent echo wallowing in an omnipresent hollow void deriding unspoken chaos between the passing centerlines ― A frost heave pothole erupts, with a leaf-spring rattling thud, as a fleeting cloud of dust arises, set adrift with the draught headed off the east side of the Alcan highway: blown way outside the lines,   towards the Alberta prairie White knuckled steering wheel held sway,  rolling down a beckoning wilderness           reincarnation;  default reset button paused ―  stuck in a moment ― until another jaw rattling frost-heave pothole in the highway,             jars it free Leaving it all behind like a sigh breathed in a silence a heart has outgrown; just a fleeting cloud of dissipating dust,..          a paling whisper the past seems to send forth   like a fading last breath Letting it all unfold to become what it is      harlon rivers ... May 2018        ... travelogue 2 of some
Continue reading...
65
Palembang, 8 September 2011 Dia adalah.. yang mampu membersihkan fikiranku, membuatku tertidur di malam hari, menemaniku hingga pagi. Dia adalah.. yang berharga dari benda apapun, sangat suci dan terang, sumber hidup yang bermakna. Dia adalah.. penerang jalan selamanya, takkan pernah berubah, terkadang dilupakan. Dia adalah kitab milik Nabi ku Muhammad, yang abadi, indah, warisan paling mulia. Dia adalah Al-Qur'an, hal yang selalu ku baca sebelum tidur, ayat yang selalu bku ulang setiap sholat, nilai yang selalu ku aplikasikan di dalam kehidupan. Aku cinta Al-Qur'an.
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 6:21 AM UTC
Dia adalah Al-Qur'an Ku
It's telling looking through the window’s eyes ;  a room with a paling grey glass view befogs the clouds reign inside the storm Often feeling misbegotten regret for the unfiltered passing glimpses, whetstone honed and splayed ; raw hues of a latent life exposed There's an uncertain hidden shame in the unheard truth starving out in the cold; dwelling in a petrifying silence of a common hunger the lonely do ache    Merciless hunger pangs manifest and shake with an unrelenting bitter taste ; loneliness grapples and grips like a silent earth quake rattling a rib caged heart — writhing as Autumn bares the trees    A jagged ambiguous fault line ripples through the hollow echo ; a bolt of lightning caught in a bottle strikes — silently contained swallowing the unspoken words in a greater good This broken merry-go-round keeps turning round and round; the great mandala spinning on like a worn out hamster-wheel without a conscious trace of going anywhere out there The place you come from is gone when you leave it — even if you really never feel you were from anywhere but a thousand unmarked mileposts from out here somewhere adrift; a pilgrimage towards understanding why sometimes I don’t know if I know who I am — or could have been — waiting on a threadbare prayer One-day the winds of change will shapeshift — bye and bye ... "When the light that's lost within us reaches the sky" Jesse Stillwater November 2018
0
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 2:16 PM UTC
As Autumn Bares the Trees
While the west is paling Starshine is begun. While the dusk is failing Glimmers up the sun. So, till darkness cover Life's retreating gleam, Lover follows lover, Dream succeeds to dream. Stoop to my endeavour, O my love, and be Only and for ever Sun and stars to me.
0
3k
While The West Is Paling
Dear Heart. Janganlah kamu terlalu berharap Cinta itu bukan harapan tetapi kepastian Jangan pula kamu terlalu menyimpan rasa Rasa itu bisa saja tak tepat bahkan salah Bersikaplah seperti akal, yang mengalah Tidak mengharap pada kebahagiaan cinta Tetapi senantiasa waspada jikalau terluka Akal menjagamu, Heart Dari sakitnya dilukai cinta Dari perih kejamnya perasaan Dear Heart, jiwa ini tahu kau mencintainya Tetapi akal ini yang paling tahu mana yang tepat Jangan gegabah, Heart Jangan terlalu senang dulu, kau bisa saja salah Kau bisa saja terluka Kau bisa saja jatuh Akal akan terus melindungimu Dear Heart, Simpan saja rasamu untuknya Jangan sekali-kali kamu membongkarnya Maka akal akan bertindak Ia akan berbohong untuk melindungimu Ia akan menutupi kebenaranmu Itulah yang akan dilakukan akal untuk melindungimu, Heart (Palembang, 12 Januari 2015)
0
Jan 12, 2015
Jan 12, 2015 at 12:59 AM UTC
Dear Heart
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
Angkasa jauh tak kan sampai Rindu pun ada selalu datang Itukah tanda bahwa aku sayang Dia seorang penghias hati cinta paling dalam Ejaan lagi terhias di angin-angin Penghias hati ku selamanya Untuk temani aku menghadapi dunia Rasa rindu berkurang karenanya Peluh terasa dingin menyegarkan jiwa Lukisaan indah wajahnya Embun pagi hari yang menyimpannya
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:04 AM UTC
A.R.I.D.E.A P.U.R.P.L.E
voice over: Atlas Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku? Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah." Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
daydreaming part 1: keajaiban seni yang paling nyata
Clearly the blue river chimes in its flowing Under my eye; Warmly and broadly the south winds are blowing Over the sky. One after another the white clouds are fleeting; Every heart this May morning in joyance is beating Full merrily; Yet all things must die. The stream will cease to flow; The wind will cease to blow; The clouds will cease to fleet; The heart will cease to beat; For all things must die. All things must die. Spring will come never more. O, vanity! Death waits at the door. See! our friends are all forsaking The wine and the merrymaking. We are call'd--we must go. Laid low, very low, In the dark we must lie. The merry glees are still; The voice of the bird Shall no more be heard, Nor the wind on the hill. O, misery! Hark! death is calling While I speak to ye, The jaw is falling, The red cheek paling, The strong limbs failing; Ice with the warm blood mixing; The eyeballs fixing. Nine times goes the passing bell: Ye merry souls, farewell. The old earth Had a birth, As all men know, Long ago. And the old earth must die. So let the warm winds range, And the blue wave beat the shore; For even and morn Ye will never see Thro' eternity. All things were born. Ye will come never more, For all things must die.
0
2.8k
All Things Will Die