"paling" poems
Yank myself out of bed
Peel the film of sleep from 'round my head
It's 4:00 AM
And all the world is dead.
It's 4:00 AM and all the world is dead.
From the streets every man has fled.
But in hours it again shall be
Brimming with potential; energy set free.
I assemble my appearance.
Staring into the mirror,
I say to myself: "One last time.
"One final tour."
The door is open, before it I stand
To face morning's faint chill
Surrounded by paling blue.
There! The first bird's trill.
The air is sweet
And free of smog.
The faintest fog
Is draped on the trees.
The empty street beckons
And freely I obey.
I have things I need to do
Before the commencement of the day.
I pass the playground on the corner,
Where I wasted time as a child.
Where many a battle was fought
And we had adventures in the wild.
Past the playground and to my left
There is the river bank
Where I went fishing with my father
And my friends and I made our mothers mad:
Where we lit our little fires
And we had our first drinks.
Where we shared our first joint
And came to talk and think.
Our school is down the way.
We all can safely say
It's the place where we first learned
Classes and books have less to say than the real world.
We became:
Artists.
Athletes.
Academics.
Our achievements
Are scrawled upon
The stone walls
That lined that same river.
A little further on,
And there's the little store
Where I kissed my first fleeting love
Just outside the door.
I keep walking, I keep walking,
Until I reach the shore.
I put my back against a rock
And rest on that sandy floor.
The life that I'll soon be leaving
Lies behind me asleep
While I watch the sun lazily rise
Over the mysterious, unexplored deep.
I built myself in this town
And it built me as well.
But I cannot stay much longer:
In a few hours I will bid it farewell.
Will I ever make it back?
Will I ever return
To trace the scrawlings by the riverbank
With bare fingers full of nostalgia?
Nothing at all is sure.
Therefore I must take this last chance
To make my final tour.
May 8, 2015
May 8, 2015 at 8:25 AM UTC
Corpses proliferate in soaring violence; heirloom of franchise and eminence— perish in erosion.
Timid denizens of derision, cynicism in roaring silence — optimism’s paling vapor—commodity of Indecision, our halcyon days forgotten.
Chosen token of audacity; the onyx maladroit feigns, prevaricating beneath the Sacred canopy.
Etudes of apathy; attrition unlamented; streams of guile— quixotic squall conversely merge — veiled conceit, eloquent arrow of equivocation.
The policy of attenuation.
Treason’s vine obscured beneath the blind surf of consent.
© 2014 & 2016 W. S. Warner
Jul 20, 2014
Jul 20, 2014 at 3:12 PM UTC
The nakedness of winter lies heavy upon
the tolling Sunday quietude
Shed leaves perish into yesterday
and the dream of another
dawning someday wanes
The sun ― lay low
the drudging ashen skyline
Barerd emerald moss scaffolds
draw much more distantness
to the pallid shadowed horizon
The evergreens step forth,
roots grasping sacred heart,
soil and rock
In the swelling aloneness
you can feel the grain
of the heartwood
rooted in your soul
There are no hard feelings
but there's an enduring ache,
like a tree with a rotting limb
languishing within
its blackened bark sacrifice
It's not just the grinding time
that slips away begrudgingly;
more of the same takes a toll
as if another unrung belfry hour
in an empty bell tower
without a song rang out in vain,
peeling reflections
of reluctant hours c r a w l by
in the insensible apathy
A so called holiday passes ―
its footprint bears down
hard and deep
as if a paling winter rose
grieves its own passing
A dry wishbone unbroken
lay bare the poignant
truth it holds;
it takes two to make
this wish come true
.
Nov 26, 2017
Nov 26, 2017 at 12:33 PM UTC
voice over: narrator
Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka.
Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu.
Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang
gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama
gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia.
1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur.
2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak
3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang
pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua?
tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh
karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia.
Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih.
gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua.
cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia
meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba?
lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan.
*buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku.
jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu.
coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk
*buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu.
maapin aku
#sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya.
gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua
sangat.sangat btakut
Apr 19, 2012
Apr 19, 2012 at 5:16 AM UTC
In the dark, windy eve shines stark an orange light
Crisp and warm, caressing the wood curves gently; no fight,
The harsh burn breathes life to the embers, now shining bright,
A veil of smoke falls gently, hazy is the night.
Now traveling up the stock, whose polish: iridescent,
Up to the paling, rugged cheeks whose glow: florescent.
In the blue moonlight, his eyes shine pleasant,
Enjoying the taste, thought, life, love; vibrant.
Sitting in a weathered chair, creaking wood, rocking back to and fro,
He sat still, thoughtful, as pristine as wax, as delicate as snow.
Taking drags in the dark, the orange relax, a seedling starting to sow,
The stem broke the soil, words forming in his mouth, questions starting to sough.
He looked up from his stupor, sharp minded, clear and concise,
A solution to his problem, no matter its cause, had broken the ice.
Now he stood tall, elated, anxious, worried his words would suffice,
Then he sat back down, rewarded, confident his ideas would entice.
Apr 27, 2014
Apr 27, 2014 at 11:33 PM UTC
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.
Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.
Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja.
Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari..
Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat..
Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!!
Maka telah tertutuplah pintu taubat..
Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi..
Bismillahirrahmanirrahim.
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Aku tak mengerti apa arti dari Cinta Sejati
Yang ku tahu hanya cinta itu membuat kita sakit hati
Tapi, mengapa rasa ini lain, tak seperti yang lalu
Ku cemas bagaimana bila aku jatuh cinta dengan nya?
Jatuh cinta...
Cukup umurkah aku tuk mengenalnya?
Aku takut itu akan berujung penyesalan
Tapi, selama ini aku hanya diam tak ada gairah
Diakah yang akan membuatku bangkit dan berdiri?
Cinta... Cinta... Cinta...
Hanya cintakah yang paling mudah di dunia ini?
Mudah untuk mencintai, mudah tuk menyayangi
Mudah tuk melukai, mudah tuk menyakiti
Dan mudah-mudah lainnya...
Aku heran, mengapa aku harus kenal cinta
Bila ujung-ujungnya ku harus menyesal
Semoga cepat ku dapatkan jodoh ku
Supaya penyesalan, penantian, semuanya!
Tidak berlaku lagi dan ku hidup bebas
Cepat katakanlah cintamu
Mungkin itulah yang ku tunggu
Mungkin? Ya, bisa iya
Bisa juga tidak
I'm waiting all alone here
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 1:52 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya
Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam
Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya
Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan
Namun dia hanya sendirian
Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya
Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada
Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan
Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya
Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda
Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian
Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah
Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya
Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya
Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda
Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar
Semakin cepat
Semakin cepat
Semakin makin cepat
Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya
Ia memutar makin cepat dan sangat cepat
Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya
Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya
Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya
Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka
Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya
Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi
Oh kelamnya hidup ini
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
dalam soal perasaan dan cinta-cintaan,
satu saran dariku ialah
jangan kau gunakan banyak-banyak hatimu
kau tentu boleh merasakan,
asal tidak terlalu dalam.
jangan.
bahkan kalau kau mampu
biarkan orang lain menganggapmu
berhati beku soal itu
biar saja mereka menganggapmu begitu
asal dalam hati kamu tahu,
perasaanmu sesungguhnya hal yang paling murni untukmu.
May 13, 2016
May 13, 2016 at 8:15 PM UTC
Palembang, Rabu 26 Juli 2011
Aku sayang dia
Aku jaga dia sejak pertama ku milikinya
Ku genggam erat dia seakan tak ingin berpisah
Ku selalu awasi dia tak ingin kehilangannya
Dia selalu ada di setiap ku butuh
Kawan terbaik mencurahkan inspirasiku
Tak terbayang jika dia pergi tinggalkan ku
Atau hanya hilang tanpa jejak atau pesan sekalipun
Yang pertama, tak bisa terganti
Sekali sayang, dan akan terus selamanya
Perasaanku tak tercurah tanpanya
Berhari-hari aku bersamanya dengan setia
Namun di hari itu aku kecewa
Yang aku sayang yang terus aku jaga
Dia mati di kala waktunya belum tiba
Aku kecewa ketika mereka membunuhnya
Aku marah, aku kesal
Aku minta mereka mengembalikannya
Tapi yang ku dapat hanya heningan
Tanda mereka tak mau berbuat apa-apa
Aku sudah tahu jawaban mereka
Meskipun belum terucap, hanya bahasa gerak
Mereka tidak mengerti rasanya kehilangan
Mereka tidak peduli dengan perasan orang
Ku hanya ingin pertanggungjawaban
Dan kembalikan dia kembali ke genggamanku
Tolong sekali saja Kalian mngerti perasaan seseorang
Dia adalah pena ungu yang paling ku sayang
"Pena Ungu ku tinggal kenangan"
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:40 AM UTC
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008
Dulu diary ku indah
Sekarang telah ku ubah
Tapi, saat gagal bertemu kau
Ku satukan diary yang terpisah
Sebagai bukti dariku
Yang kan ku berikan untukmu
Agar kau tau
Seberapa besar cintaku
Kasih ku t’lah tercurah
Berdetik-detik, berjam-jam
Bahkan berhari-hari lamanya
Semoga dapat kau terima
Meski terluka akhirnya
Biar ku pergi saja
Lupakan kenangan indah
Dan yang paling menyakitkan
Tapi, takkan ku biarkan
Diary ku berubah indahnya
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
our kisses were as soft as our hearts & this must be the seed of all that came thereafter,
and all that didn't see light outside my mind.
perhaps our soft hearts led to my current introspection and my disposition when it comes to
pens, papers,
and all that lies
between them in truth,
in confessions by
soft tongues in shaky lips in scattered sheets in paling cheeks and blushing eyes,
in that which lies
between thought and its expression,
between brutal honesty in the heat of an oncoming summer,
in mosquito bites and my sweet blood which attracts this
violence, this heatstroke
sunshine;
it is divine,
like we imagined,
it is hectic like we desired,
it is nonsense and is madness and knows no explanation other than our
awkward silence,
our differences in imagined futures,
our various degrees of love/hate passive-aggressive
actions and feelings and resentments and appreciations;
we both are optimistic but you believe in that which counters my belief and it is
strange and unexpected and before you,
i needed someone,
and after you,
i need to be alone
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 2:02 PM UTC
Pada hari yang baik di bulan yang baik ini;
Hujan turun lagi membasahi segenap pertanahan;
Di balik bulirnya seorang pujangga termenung;
Menuliskan kembali lirik-lirik tersedih dalam puisinya:
Wahai imaji hujan di masa lalu;
Pernah kulupa namun mengapa belum kurela?
Wahai melodi hujan di masa lalu;
Kembali kau ketuk palung paling dalam;
Kehalusan suara wanita yang pernah ada;
Mengapa tak lenyap bersama kejatuhanmu?
Apakah lagi-lagi aku berdiri pada persimpangan yang sama?
Penuh kabut, memudar namun seyogianya belum sirna;
Tahun demi tahun telah berlalu bersama kejatuhan hujan;
Namun mengapa kesepian tak pernah berlalu?
Walau kesedihan menolak segala kefanaan;
Yang belum berubah menjadi sebuah kejadian;
Yang menolak segala bentuk pengulangan;
Apakah kekosongan merupakan bentuk realita tertunggal
Yang selamanya akan terus berbahasa dalam kebisuannya?
Mengapa masih aku mengaku yang tertabah;
Jika musibah tak mampu melenyapkan;
Segala terpaan angin rindu yang pernah berhembus?
Jika segala ketakuan masih menjadi ada dalam tiada;
Mengapa pernah juga kau lepas ikatan kita?
Perlahan kata-kata itu meresap kepada perakaran;
Sebolehjadinya ujung pena tak mampu memahami;
Segala makna yang tersirat dalam rampaian puisinya;
Bila kepergianmu adalah kesenduan dari berkat kehidupan;
Ajarkanlah aku berdamai dengan segala bentuk prasangka;
Yang datang bersama bayanganmu di kala hujan.
Jun 19, 2017
Jun 19, 2017 at 6:45 AM UTC
Ku duduk di sini
Kaki ku membeku karena dingin
Mata ku kantuk karena larut
Malam ku gelap tanpa sinar bulan
Telinga ku sepi, tiada yang terdengar
Bibir ku rapat, tak ada yang terucap
Badan ku lelah serasa ingin roboh
Ingin ku pejamkan mata tuk sementara
Namun terlelap dalam mimpi
Takkan tersesat walau sendiri
Harap ku akan bermimpi lagi
Mimpi yang paling indah dari kemrin
Agar temani di malam sunyi ini
Hingga aku membuka mata esok hari
by.
Aridea Purple
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Three thousand miles
navigating a storm
without drop of bad weather
Abacus odometer clicks
rotating forward ―
spinning with the
world go round
Circling back down
a long and winding road;
where unforgotten memories
were once searchingly explored,
untrodden pathways
coursing way up north of alone
on the low highway
Now an aging shepherd
wonders without a compass ;
a vagabond deprived of light
from an ever blurring north star
Heart empty as a gas tank
with a broke down gauge,
running on fumes of hope
for unpromised tomorrows
Running from loneliness
just to be on the run
The gales of silence bellow
No feelings I can see ― lay me low
Wild-eyed daydreams
of Full sails billow out
through the windshield,
only hearing the unspoken
moments sigh restlessly ―
The dull droning road rumble
re-sighs renunciatively,
a tired monotone voice
mimicking the loathe silent echo
wallowing in an
omnipresent hollow void
deriding unspoken chaos
between the passing centerlines ―
A frost heave pothole erupts,
with a leaf-spring rattling thud,
as a fleeting cloud of dust arises,
set adrift with the draught
headed off the east side
of the Alcan highway:
blown way outside the lines,
towards the Alberta prairie
White knuckled steering wheel
held sway, rolling down
a beckoning wilderness
reincarnation;
default reset button paused ―
stuck in a moment ― until another jaw rattling
frost-heave pothole in the highway,
jars it free
Leaving it all behind
like a sigh breathed
in a silence a heart has outgrown;
just a fleeting cloud of dissipating dust,..
a paling whisper
the past seems to send forth
like a fading last breath
Letting it all unfold to become what it is
harlon rivers ... May 2018
... travelogue 2 of some
May 18, 2018
May 18, 2018 at 11:34 AM UTC
Palembang, 8 September 2011
Dia adalah..
yang mampu membersihkan fikiranku,
membuatku tertidur di malam hari,
menemaniku hingga pagi.
Dia adalah..
yang berharga dari benda apapun,
sangat suci dan terang,
sumber hidup yang bermakna.
Dia adalah..
penerang jalan selamanya,
takkan pernah berubah,
terkadang dilupakan.
Dia adalah kitab milik Nabi ku Muhammad,
yang abadi,
indah,
warisan paling mulia.
Dia adalah Al-Qur'an,
hal yang selalu ku baca sebelum tidur,
ayat yang selalu bku ulang setiap sholat,
nilai yang selalu ku aplikasikan di dalam kehidupan.
Aku cinta Al-Qur'an.
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 6:21 AM UTC
It's telling looking through
the window’s eyes ;
a room with a paling grey glass view
befogs the clouds reign inside the storm
Often feeling misbegotten regret
for the unfiltered passing glimpses,
whetstone honed and splayed ;
raw hues of a latent life exposed
There's an uncertain hidden shame
in the unheard truth
starving out in the cold;
dwelling in a petrifying silence
of a common hunger
the lonely do ache
Merciless hunger pangs
manifest and shake
with an unrelenting bitter taste ;
loneliness grapples and grips
like a silent earth quake
rattling a rib caged heart — writhing
as Autumn bares the trees
A jagged ambiguous fault line
ripples through the hollow echo ;
a bolt of lightning caught in a bottle
strikes — silently contained
swallowing the unspoken words
in a greater good
This broken merry-go-round
keeps turning round and round;
the great mandala spinning on
like a worn out hamster-wheel
without a conscious trace
of going anywhere out there
The place you come from
is gone when you leave it —
even if you really never
feel you were from anywhere
but a thousand unmarked mileposts
from out here somewhere adrift;
a pilgrimage towards understanding
why sometimes I don’t know
if I know who I am — or could have been —
waiting on a threadbare prayer
One-day the winds of change
will shapeshift — bye and bye ...
"When the light that's lost within us
reaches the sky"
Jesse Stillwater
November 2018
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 2:16 PM UTC
While the west is paling
Starshine is begun.
While the dusk is failing
Glimmers up the sun.
So, till darkness cover
Life's retreating gleam,
Lover follows lover,
Dream succeeds to dream.
Stoop to my endeavour,
O my love, and be
Only and for ever
Sun and stars to me.
3k
Dear Heart.
Janganlah kamu terlalu berharap
Cinta itu bukan harapan tetapi kepastian
Jangan pula kamu terlalu menyimpan rasa
Rasa itu bisa saja tak tepat bahkan salah
Bersikaplah seperti akal, yang mengalah
Tidak mengharap pada kebahagiaan cinta
Tetapi senantiasa waspada jikalau terluka
Akal menjagamu, Heart
Dari sakitnya dilukai cinta
Dari perih kejamnya perasaan
Dear Heart, jiwa ini tahu kau mencintainya
Tetapi akal ini yang paling tahu mana yang tepat
Jangan gegabah, Heart
Jangan terlalu senang dulu, kau bisa saja salah
Kau bisa saja terluka
Kau bisa saja jatuh
Akal akan terus melindungimu
Dear Heart,
Simpan saja rasamu untuknya
Jangan sekali-kali kamu membongkarnya
Maka akal akan bertindak
Ia akan berbohong untuk melindungimu
Ia akan menutupi kebenaranmu
Itulah yang akan dilakukan akal untuk melindungimu, Heart
(Palembang, 12 Januari 2015)
Jan 12, 2015
Jan 12, 2015 at 12:59 AM UTC
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan.
tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia.
aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat.
bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku.
namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.”
namaku sederhana.
sederhana dan akan selalu nyaman.
setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak.
namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya.
aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati.
rumah.
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Angkasa jauh tak kan sampai
Rindu pun ada selalu datang
Itukah tanda bahwa aku sayang
Dia seorang penghias hati cinta paling dalam
Ejaan lagi terhias di angin-angin
Penghias hati ku selamanya
Untuk temani aku menghadapi dunia
Rasa rindu berkurang karenanya
Peluh terasa dingin menyegarkan jiwa
Lukisaan indah wajahnya
Embun pagi hari yang menyimpannya
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:04 AM UTC
voice over: Atlas
Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku?
Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah."
Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
Clearly the blue river chimes in its flowing
Under my eye;
Warmly and broadly the south winds are blowing
Over the sky.
One after another the white clouds are fleeting;
Every heart this May morning in joyance is beating
Full merrily;
Yet all things must die.
The stream will cease to flow;
The wind will cease to blow;
The clouds will cease to fleet;
The heart will cease to beat;
For all things must die.
All things must die.
Spring will come never more.
O, vanity!
Death waits at the door.
See! our friends are all forsaking
The wine and the merrymaking.
We are call'd--we must go.
Laid low, very low,
In the dark we must lie.
The merry glees are still;
The voice of the bird
Shall no more be heard,
Nor the wind on the hill.
O, misery!
Hark! death is calling
While I speak to ye,
The jaw is falling,
The red cheek paling,
The strong limbs failing;
Ice with the warm blood mixing;
The eyeballs fixing.
Nine times goes the passing bell:
Ye merry souls, farewell.
The old earth
Had a birth,
As all men know,
Long ago.
And the old earth must die.
So let the warm winds range,
And the blue wave beat the shore;
For even and morn
Ye will never see
Thro' eternity.
All things were born.
Ye will come never more,
For all things must die.
2.8k