Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"terbawa" poems
Hidup dengan segala problematikanya sejenak senang sejenak tenang sejenak buram sejenak suram Matahari bawaku cahaya Tapi aku kepanasan Hijab bawaku perlindungan Tapi aku tertutup Pohon bawaku udara Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi Ini baik tapi ini buruk. Lalu hadir kerutan ditengah keningku Melengkapi lipatan hitam mata ini Hasil semua akar-akar pikiran Bola matapun sekarang berfilter Kuingat mawar pemberiannya Gambar persembahan mereka Seluruh tumpahan merah muda itu Tapi tetap saja kabut dari belakang datang Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali - - - Mengapa begini? Terlalu banyak tapi Mengindahkan kebingungan Terbawa kelelahan
0
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Kontradiksi
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Andai aku seindah mu Rasa hati ku kan bahagia Lekuk senyum ku tak seindah mu Oh, sungguh berbeda antara kita Namun, ku tak peduli Semua akan hilang terbawa angin Yang akan tercipta rasa cinta, terus membuat ku bermimpi Merpati terbang melayang Indah tak kan hancur sedikitpun Rusa berlari kencang Akankah menggapai kebahagiaan? Luapan cinta tak tergapai Dalam hati ku berkata Inikah takdir hidup ku? Creates by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:33 AM UTC
A.R.L.O.N.S.Y M.I.R.A.L.D.Y
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
kulantunkan - lembut kunyanyikan - kesenian kukumandangkan - religi kuikrarkan - formal kulafazkan - detail kuucapkan selamat malam duhai..... hahay.. :D mana nih yang pas ya.. *kukumandangkan maklumat yang merindu.. oleh sanubari yang tersenyum kelu.. dari iman penghapus birahi dalam kalbu.. membangkitkan cinta yang menggebu..        hingga ranting direlung hati tak sempat betanya..        akan kemana gundah dalam jiwa terbawa..        mungkinkah hanya sebuah nestapa...?        yang tersingkap oleh nafsu dunia fana.. nurani yang kian membangkang.. bertanya pada tubuh yang terkekang.. merebahkan raga dihamparan angan yang tak lekang... adakah keikhlasan yang terjengkang..            tutur bijakmu sering tak terhiraukan..           seluas samudra perhatian kau berikan..       dalam kasihmu tersandar persahabatan..*
0
Jan 21, 2014
Jan 21, 2014 at 10:30 AM UTC
draft 1
membingkai itu ada tujuannya dilapisi kaca biar tidak terkotori aku mengamplas ingatan yang sempat luntur terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku kamu memintaku, namun hatiku berprasangka itu rancangan induk bukan asli pemintaanmu kupilih menepikan diri diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam tapi nihil, malah indukmu maju aku mau, tapi apa keputusan ini benar pepetan restu, tekanan waktu dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh orang, siapa? tetangga? saudara? keengganan bersepaham kuuji kamu dari belakang menantang setara, seimbang, sejajar lontaran kata pengundang debat berlindung atas wejangan duda muda yang baik "dua jenis prinsip tujuan pernikahan" satu, untuk memulai keluarga baru dua, untuk menyatukan keluarga dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu karena saat itu aku belumuran ragu sejauh mana kedewasaanmu? kamu gagal pada tesmu, tapi aku tetap bertahan kala itu, setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main kubedah diriku, ada setitik kekecewaan seumpama semesta menghajarku dengan keras tapi Ia tidak melepaskanku pada maut disadarkanNya pula, inilah jawaban doa "jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik" jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
0
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Wejangan Duda
Namanya Ulfah, Setengah hidupnya ia mencoba menahan sendu dibalik tawa Berusaha melupakan masa lalu tanpa harus berkata Semuanya ia sudah coba, Lalu sekarang ia bisa tersenyum tanpa terbeban rasa. Namanya Vian, Setengah hidupnya ia merasakan penyesalan Berusaha diam-diam memperbaiki masa lalu tanpa terbawa khayalan Semuanya ia sudah simpan, Lalu sekarang ia hanya bisa diam terbawa perasaan
0
Jun 26, 2019
Jun 26, 2019 at 10:11 AM UTC
Aku;Dia
Senyummu, tersimpan manis di benakku. Tatapmu, terkenang indah di pikiranku. Gerikmu, terbayang di memoriku. Tetapi, Hatikku, kosong tersimpan di ragamu. Perasaanku, terbawa oleh sosokmu. Memoriku, hanya kamu.
0
Mar 19, 2019
Mar 19, 2019 at 1:43 AM UTC
Rindu
Jemari mulai gemulai Dikala ia mulai melambai Bahasa tubuhku tidak diragukan lagi Lika likunya sudah tertebak dari haluan pertama bapak satpam Dia mulai menyapa Aku teriak keras hatiku yang teriak Hawa panas tubuh beriringan membara bersama Peluh terbawa jatuh dipipi bisa bayangkan, bagaimana wujudku waktu itu.... Kini, segala fana itu harus di nikmati, entah menarik, suram, dan basi Aku pikir, kapan lagi akan bertemu dan beradu argument sedekat itu Kapan lagi berdialog serius dengan elokan tubuh cukup dekat Kapan lagi aku bisa pandangi wajahnya 4 cm lebih dekat dengannya.... Jadi kupikir, aku harus syukuri, jika nanti tak bisa lagi. Yasudah ku kenang saja.... Nanti senja jadi pelengkap saat mulai mengenang moment itu, sudah ku jadwalkan
0
Apr 14, 2018
Apr 14, 2018 at 5:25 AM UTC
Fana asmara
kulihat warna dedaunan begitu indah melayang di udara begitu kuat namun rapuh hingga terbang terbawa angin begitu rindang namun sekejap hilang ditelan pergantian bumi apakah benar yang kulihat adalah dedaunan? ataukah hanya hatiku menipu sang mata yang telah lama merindukannya biar biarlah tetap aku abadikan indah yang kulihat malam itu tersimpan jelas dalam hati dan mataku apapun itu dedaunan tetaplah dedaunan akan selalu indah walau sudah jauh pergi bersama angin
0
Jul 25, 2018
Jul 25, 2018 at 8:02 AM UTC
Dedaunan
ketika itu langit tidak begitu cerah hanya ada awan kehitaman aku tak mau memperhatikan orang-orang kecuali seseorang, yg berambut lurus, bermata kecil, pakaian berwarna melankolis dgn tangan memegang kuas yang sibuk menari di atas canvas sesekali matanya terpejam seakan sedang berimajinasi ingin mewarnai langit kala itu menjadi lebih berwarna menambahkan pelangi dan aura langit pagi ingin dunia yang diimpikanya itu terjadi sementara aku.. terus memperhatikannya pikiranku terbawa arus olehnya dia dgn dunianya sendiri dan aku pun... mulai merasa ingin menjadi bagian dari dirinya
0
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:12 PM UTC
Seseorang