Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Diamku itu
sebentuk kedewasaan
hasil tempaan semesta

Pura-pura rabunku itu
sebentuk kedewasaan
bisikan suruhan semesta

Jarak tubuhku yang sengaja kujauhkan itu
sebentuk kedewasaan
kesadaran yang ditumbuhkan semesta

Mungkin bumi terlalu banyak diputari bulan
mungkin juga ini jawaban doamu
sampai akhirnya membawaku padamu lagi
aku bisa saja menghampiri & menhakimimu
atau memuntahkan segala rasa & pikiran saat itu

Kedewasaanku itu
bukan hanya cerdiknya lidah bertutur manis
kau saksikan sendiri matangku

Memang masih sedikit perih
hantu kenangan buruk yang terpanggil dadakan

Kedewasaanku itu
adalah sebentuk ikhlas
adalah bentuk penepatan janjiku
bahwa tidak akan kuganggu dirimu
Kau tahu tidak?
290220 | 18:53 PM, JIEexpo Kemayoran Jakarta, panggung mld spot. God is strategic. Di tengah kesibukan di bali, tiba2 pgn pulang ke bandung & tp krn gaada flight yg cocok di kertajati dipaksa turun di jkt kebetulan keluarga memang mau ke javajazz dr bdg jadi bisa ikut pulang. Sm sekali at all ga pengen ikut kmn2 cm mau di hotel, atau mau berkelana sendiri main ke mblock & museum macan. Taunya akhirnya tetep ikut, trs di dalam gw & bokap kepisah sm nyokap & adik. Gw udah cape nyusurin booths, jadilah nonton faris rm padahal bokap males tp gw paksa tanpa ada ekspektasi apapun, toh udah bbrp x jg nonton faris di bali, tp namanya cukup familiar. Abis maksa bokap buat duduk sila di karpet, dia point out agak teriak gitu ke gw kalau ada muka familiar, trs gw memang sama sekali ga peduli, ga ngecek & anggep dia delusi krn lg gelap juga lightingnya. Pegangan gw adalah bener/ga bener pun, chapter buku yg memang udah selesaiya udah ditutup dan udh gw buang ke kolong pikiran, udh ikhlas ga berasa apa2 juga, masa pedihnya udah cukup berlalu hampir setaun yg ilang memang udah gw anggap mati sekalian. Abis nonton, keluar mau makan smbil menenangkan panic attack krn tetep ketriggered, sambil nelpon kesayangan di pulau sebelah, ada figur yg cukup familiar bulak balik dpn gw. Tapi yasud memang gw anggap dia hanya hantu seliweran. Ya gitu, semarah apapun, gw udah naik kelas, ga perlu ada yg dijelaskan kalau dari sisi gw, toh udah gw perjuangin sampai titik penghabisan pun malah dulu dilemparin kata-kata menusuk hati & minta dirinya ga diganggu. Mungkin dari sisi hatinya beliau yg belum damai mangkanya bulak balik mondar mandir kaya setrikaan. I saw you, I froze a little, tp memang kini sudah bukan pada tempatnya lagi, I'm happy & in love with A. You're a closed book E, I still care but what I'm capable is to pray & wishes you all the best from a far.  Sejujurnya, ga ngerti kenapa semesta bikjn ada plot twist kejutan ini, tp gw percaya rencana Tuhan ya yg terbaik.
Deaneira Nov 2019
yang sering kali merasa tidak dianggap.
bahkan digubris eksistensinya.
yang sering kali merasa dirinya selalu dinomorsekiankan.
bahkan kadang dilupakan.
yang sering kali merasa dirinya terlalu lama jatuh, tak ada yang bantu, dan lupa untuk bangkit.
terlalu sering menanam harap dalam jiwa lain. yang mana seharusnya dipertanyakan;
pantaskah yang ia harapkan menampung harapannya?

sering kali ia luput dari apa yang dia ucap,
sering kali juga berselisih paham dengan orang terdekatnya.
kadang juga lupa diri untuk berterima kasih pada orang lain,
bahkan lupa untuk mengucap tolong.

selama hidupnya..
sering kali juga merasa bahwa ia bernafas hanya untuk melayani diri insan lain.
sampai ia lupa..
kalau dirinya juga pantas untuk mendapat yang setimpal dengan apa yang ia berikan.

ia selalu berpikir,
“bukan, ini bukan salah dunia. melainkan ini salahku karena aku terlalu tinggi hati terhadap sekitar.”
tapi ia lupa kalau tubuhnya juga harus dipikirkan.
kadang ia tak henti memikirkan seisi dunia.
bahkan tak henti memikirkan apa salahnya,
dimana letaknya,
hingga akhirnya kedua bola yang seharusnya dapat menikmati indahnya langit pagi..
berkantung hitam di sekitarnya.

paut wajahnya tidaklah sempurna.
dipipinya, keningnya, bahkan dagunya, ada bintik-bintik yang ia selalu juluki:
“hilang satu, tumbuh seribu”.

saat menatap refleksinya,
yang sering ia direndahkan adalah fisiknya.
sering kali ia marah karena merasa tak pantas dipandang publik.
ia juga sering marah karena merasa dirinya tak kunjung cocok dalam menata penampilannya.

lelah? sangat.
betul-betul sudah ingin angkat tangan jika ia ditanya akan perasaannya terhadap dunia dan sekitarnya.
pintanya hanya satu, sederhana, tapi sulit didapatkan:
bernafas lega.
tanpa beban dan tanpa kewajiban.
tapi ia tau seorang manusia takkan pernah lekang dari kedua hal itu.
banyak yang ingin ia capai, banyak yang ingin dia mengerti.
tapi ia merasa pintunya selalu dihalangi atau bahkan dikunci saat dia sedang berusaha membuka..

hal lain yang ia mau? pulang.
tentu pulang ke ‘rumah’ tapi bukan sekedar bangunan yang ia cari.
melainkan ia juga mencari suasana yang dapat membuatnya hangat dan nyaman..
sulit bagi dirinya untuk membangun rumah sendiri,
berat tanggung jawabnya,
besar pula modalnya.

ia juga sering mengingatkan dirinya untuk bertahan.  
ia selalu berkata,
“tahan.. sebentar lagi selesai.”
yang mana ia tahu bahwa sesungguhnya ini semua tak ada ujungnya.
hidup hanyalah untaian tali yang perlu ia selesaikan sendiri lika likunya.
walau seringkali badai menimpanya dan seringkali ia lupa kalau ia hanyalah sebuah ciptaan yang jauh dari kata ‘sempurna’..

tapi setidaknya ada satu hal yang ia syukuri:
ia masih bisa selamat diantara ombak keras yang menerjang.
Megitta Ignacia Apr 2019
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku.
Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap.
Sama seperti pelukanmu kala itu,
yang terus mengunciku,
berontak tiada artinya
sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu.

Kita pernah bahagia,
Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air,
Mengintip manisnya pantulan diri air biru.

Yang lama terasa singkat.
Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik.

Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak,
Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya.
Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku.

Namun arus laut begitu kuat,
begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan.
Semesta punya ceritanya,
berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus,
namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan.
Mungkin itu cara semesta beritahu
bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku.

Aku menyerah.
Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut,
satu per satu rontok,
aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air
dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air.
Itulah kau.

Laut punya caranya.
Semuanya akan terjadi alami.
Semesta poros pengaturnya.
Biarlah laut hapuskan kau.

Tenang saja,
aku akan kembali baik-baik saja.
Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin.

Bagai tapak kaki di basahnya pasir,
berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
060419 | 9:38 AM | Kost Warmadewa
ditulis sebelum berangkat kerja,setelah kukirimkan teks panjang padamu.

"are we done?"
"

— The End —