Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sengaja" poems
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
0
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
coklat panas
waktu itu kita jalan keluar malam-malam awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu saya setuju dengan kamu saya selalu setuju dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya saya sentuh pinggiran gelasnya hangat saya minum perlahan-lahan sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa sengaja karena tidak terlalu besar ukurannya kalau cepat habis bagaimana? lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis kehangatan kembali terkikis dan menipis kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin kembali bergelut dengan angin ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin tanpa suara, saya tahu kamu mendengar tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat tanpa kata, saya tahu kamu mengerti maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya. mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti Jakarta, 27 Desember 2012 (puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Continue reading...
37
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
0
Jul 31, 2014
Jul 31, 2014 at 5:52 PM UTC
Dear NAKAMA
Dear Nakama...       Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J Dear Nakama...       Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan? Dear Nakama...       Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L Dear Nakama...       Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu... Dear Nakama...       Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja... Dear Nakama...       Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’( Dear Nakama...       Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu... Dear Nakama...       Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu... Dear Nakama...       Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh... Dear Nakama...       Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita! Dear Nakama...       Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja... Semoga kau berkenan untuk memaafkanku... Sahabatmu : Haruna J
Continue reading...
24
Kini belum dipertemukan Aku dengan soulmate yang dinanti Teman ku menjauh Aku sendiri di sini Tapi biar Aku jalani sendiri hidup ini Toh di pulau seberang Ku cari lagi teman sejati Memang tak jodoh Aku berteman dengan semua Di Jakarta ini aku berbuat kesalahan Hingga tersakiti oleh mereka Mereka membuat ku cemburu Tapi aku rela asal mereka bahagia Biar aku diam di sini Agar mereka tak tersakiti Oleh sikap ku yang tak sengaja Melukai hati mereka Maaf aku teman, ku tak ingin menyakiti Asal kalian bahagia, siksa saja aku ini Created by Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:39 PM UTC
Mencari Teman
Kau ini siapa? Aku berbicara seakan sangat mengenalmu Menyebut namamu penuh kerinduan, seakan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu Aku serius bertanya, Kau ini siapa? Menceritakanmu ke teman-teman ku di sekolah, seakan kau ini seseorang yang ku kenal di dekat rumah Aku sekali lagi bertanya, Kau ini siapa? Tahukah kamu aku mencintaimu tidak sengaja, mengenalmu memandangmu hanya dari kata-kata Kau ini terbuat dari apa? Mencintaimu sungguh menyakitkan Ingin rasanya aku mati saja Terkubur bersama rasa ini Rasa sakit yang entah mengapa, sakit karena mencintaimu terlalu dalam
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 3:01 AM UTC
Kau Ini Siapa?
Jakarta Senin 7 Mei 2007 Suatu ketika tak sengaja Aku terbayang seseorang Yang indah dengan senyuman Sejak itu pun Aku mulai menulis kata-kata Dan aku rangkai Sehingga menjadi kalimat-kalimat yang indah Itulah puisi yang akan kupersembahkan Hanya untuk dirinya Di suatu tempat terindah di langit sana Betapa senangnya hati ku T’lah ku sampaikan isi hati ku Lewat puisi yang indah Yang tak pernah ku lupakan sepanjang waktu
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:49 AM UTC
PUISI
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Ini aku Gadis remaja yang sedang jatuh cinta Yang jatuh cinta kepada mu Yang bermimpi bisa memiliki mu Aku yang mengenal mu tak sengaja Yang mengagumi mu dengan seribu alasan Yang mengklaim mu sebagai makhluk istimewa Ciptaan Tuhan yang ku harap adalah jawaban Aku yang merasa bodoh di hadapan mu Yang salah tingkah ketika berbicara dengan mu Yang tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan mu Yang selalu gugup bertemu dengan mu Aku di sini.. yang berharap bisa lebih mengenal mu Yang berharap bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 9:49 PM UTC
Semua Tentang Aku
Jakarta, Minggu 15 Mei 2008 Di sini hanya sesal Ku tak melangkah kepada mu Yang berdiri di padang rumput Tersilau cahaya di pagi hari Meski tak kulihat kamu Mata hati ku menyusuri Tak ingin ku kehilangan mu Walau harus terpisah jauh Tuhan mendengar doa ku Saat petunjuknya hadir untukku Ku hindari tak sengaja Karena dua pilihan menerkam ku Apakah jalan ini salah? Ku menangis penuh sesal Tak bisa melihat kamu yang indah Padahal, hanya satu langkah aku kan sampai
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:43 AM UTC
Sesal
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
Tuhanku pernah berbisik kepadaku *"Berbahagia orang yang sudah mati, karena tak ada beban untuk mereka.."* *"Namun ingatlah.. Lebih bahagia orang yang belum ada didunia ini, karena tak ada yang mereka berikan atau tinggalkan didunia ini.."* Aku terhentak dengan bisik itu Dengung nya masih terasa dikuping hingga petang ini Aku berfikir memang benar.. Semua yang hidup didunia begitu malang.. Mau atau tak mau mereka harus memilih// Jadi dermawan baik hati atau Penikam handal penghabis darah teman sendiri Hai, teman.. Apakah tidak lelah menutup mata? Berlagak bekerja.. Sengaja menyapu debu dan bangkai kedalam karpet "Lihat sayang, kotoran itu tetap ada.. Hanya saja memang tak terlihat Namun bekasnya terrcium jauh kesana" ***Lebih malangnya lagi Kita masih berharap Berharap menjadi pemenang Padahal ikut lomba pun tidak..***
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 12:06 PM UTC
Realita yang Ada
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Perjalanan di kereta selalu menarik. Masing-masing punya cerita, semua ada makna, Pernah ku bertemu orang asing secara tak sengaja di kereta, sekarang menjadi teman cerita. Pernah ku menangis, berontak, pusing, mual, homesick di kereta. Pernah ku melewati perjalanan ini dengan orang-orang berarti yang tak terganti. Pernah pula aku naik kereta, berbohong pada mama, hanya demi bisa bertemu. Kamu. Tapi yang pasti, aku sering menganalogikan perjalanan di kereta dengan keharusan memikirkan masalah. Cinta, terutama. Klise. Tapi nyata. Dan pada perjalanan ku yang kali ini, kamu orangnya. Yang dipikirkan masih sama, apakah harus bertahan atau berusaha lupa. Biarkan aku memikirkan mu sampai mabuk di kereta, malam ini. Karena selepasnya, aku akan mengubah statusmu menjadi bukan siapa-siapa.
0
Sep 9, 2015
Sep 9, 2015 at 3:48 PM UTC
Train
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Memamah Bangkai di Halaman
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya. Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman. Serreh, 2017
Continue reading...
3
lalu aku perlahan berjalan menjauh mencoba menjarak pada sepotong hati yang membiru luka tak pandang bulu, tak pandang rupa atau apapun sempat aku titipkan sepenuh hatiku kudapati sekarang tak berupa aku tak cukup mau untuk berlari sebentar..aku hanya ingin memastikan hatiku kembali baik ku tahu kamu tak sengaja membuat hatiku jatuh lalu memar sakit memang.. tapi lebih sakit jika aku tidak mencinta lagi karena aku percaya, hatimu baik..
0
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 8:37 AM UTC
perihal rasa..
Dalam kerlap kerlip dunia malam Debuman musik keras menggema dalam telinga Menggeliat diantara tubuh para adam Mengumbar buah dada Menebar wewangian erotis Menarik para lebah mendekat Jalang bukan sembarang jalang Mendesah indah hanya bermodalkan tubuh molek Selembar uang sengaja tersangkut dalam lingerine Senyuman diberikan Membuat libidoku tak terbendung lagi Mengoyak pakaian minim yang menghalang akses untuk menjelajah tubuhmu Kau mendesah lagi Melodi indah mengiringku menuju surga dunia Peluh yang menyatu malam itu menjadi saksi Betapa indahnya tubuhmu bak bidadari Kuhantam titik titik nikmat dalam tubuhmu Kau bernyanyi, nyanyian erotis terindah yang pernah kudengar Kutatap wajahmu, rona merah dan peluh menyatu Wajah sempurna Penglihatanku berkabut Sekelebat cahaya putih menyilaukan terlihat Ketika kita bersama menikmati indahnya surga dunia Benih benih janin tak sanggup kubendung lagi Kau pun mendesah lagi Ah, kau memang bukan sembarang jalang
0
Dec 30, 2016
Dec 30, 2016 at 10:38 PM UTC
MALAM
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
0
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Anagram Sirnaksit di Ruang Ujung Koridor
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Continue reading...
16
Diamku itu sebentuk kedewasaan hasil tempaan semesta Pura-pura rabunku itu sebentuk kedewasaan bisikan suruhan semesta Jarak tubuhku yang sengaja kujauhkan itu sebentuk kedewasaan kesadaran yang ditumbuhkan semesta Mungkin bumi terlalu banyak diputari bulan mungkin juga ini jawaban doamu sampai akhirnya membawaku padamu lagi aku bisa saja menghampiri & menhakimimu atau memuntahkan segala rasa & pikiran saat itu Kedewasaanku itu bukan hanya cerdiknya lidah bertutur manis kau saksikan sendiri matangku Memang masih sedikit perih hantu kenangan buruk yang terpanggil dadakan Kedewasaanku itu adalah sebentuk ikhlas adalah bentuk penepatan janjiku bahwa tidak akan kuganggu dirimu Kau tahu tidak?
0
Mar 1, 2020
Mar 1, 2020 at 8:15 AM UTC
Bukan Tidak Bisa Bergerak
Maafkan aku air mata Seringkali kau jatuh sia-sia Maafkan aku air mata Yang selalu aku buang dengan sengaja Jangan salahkan aku Salahkan luka-luka itu Luka-luka yang tidak pernah kering Menganggap ia selalu penting Hingga selalu menetap di sini Membekas tanpa peduli Sesakit apa rasanya Hingga harus menjatuhkan air mata
0
Dec 9, 2016
Dec 9, 2016 at 8:19 AM UTC
Hurt and Tears (wrote in bahasa)
Rumah joglo di tengah sawah. Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini. Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki. Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu. Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka. Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur. Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu. Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya. Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu. Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana. Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang. Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku. Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu. Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Malam Malam, Ubud
Mungkin memang hanya diriku Yang terlalu dalam jatuh dalam godaan asmara Hingga membuatku terasa mati dibunuh diri sendiri Sengaja menyayat hati Menutupi bingar amarah ini Sakit yang membuatku terenyum Tersenyum dengan hati merintih pedih Bunda, tak ada tempat bagiku untuk kembali Siapakah diriku Dimanakah hati ini terbuang Hanya memandang kosong dalam angan tanpa buaian selayang pandang Meratap pada langit Berdusta pada tanah Kini tinggallah aku berdua dengan-Mu Masih adakah tempat bagiku di pangkuan-Mu?
0
Jun 6, 2017
Jun 6, 2017 at 11:54 PM UTC
Elegi Hati
Aku telah buat kesalahan. Kusebut itu kau. Kau; kesalahanku, yang dengan sengaja kulakukan hanya demi keegoisanku. Setiap kata 'aku sayang kamu' yang kau terima, tak pernah ada dalam ketulusan. Setiap peluk yang kau rasakan, tak pernah ada dalam kenyamanan. Semua kulakukan hanya agar kau percaya bahwa rasaku itu nyata. Brengsek! Aku mengutuk diriku sendiri. Meski kau hidup dalam kebohongan, aku selalu berupaya. Membuka hatiku sedikit demi sedikit, hanya agar kau tak terluka. Namun Tuhan Maha Adil, dan aku hampir melupa. Saat aku berupaya, kau menggores luka. Kau bertindak suka-suka, dan aku diam saja. Sesekali kuangkat bicara, dan kau tutup telinga. "Terserah" kataku. Dan kuakhiri semuanya. Kini, berulang kali kau memintaku tuk kembali, tetapi enggan untukku mengulangi. Kita hanya akan sama-sama menyakiti, Dan menyayangi diri sendiri.
0
Jun 11, 2017
Jun 11, 2017 at 3:55 AM UTC
Untitled
Tiiin. Lalu lalang kendaraan Aku masih disini berdiri, dengannya Apa aku menunggu sepi? Tidak Aku juga tidak tau sedang apa. Haha Tiba tiba kulitku tersengat Bukan. Bukan terkena listrik Ia memegang tanganku dan menarikku Mengikutinya Kami melangkah menyusuri jalanan Tiba tiba, dia melepas tanganku Dia terlihat.....kaget? Dia kaget, bagaimana denganku? Haha lucu sekali dia ini Aku jadi suka Tapi, tunggu.... Ini aneh Tanganku yang ditariknya, Namun mengapa seakan seluruh pusat perhatian ku yang ditariknya? Sengaja ya? Dia ini haus akan perhatian ya? Bilang saja padaku, biar aku perhatikan hehe
0
Aug 3, 2019
Aug 3, 2019 at 7:15 AM UTC
Bersama kecanggungan
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
0
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
Continue reading...
9
Mana mungkin aku marah Pada jalan-jalan yang memang telah kita lewati Untuk gunung-gunung dingin yang ditawarkan Sepatumu sudah sesuai, jaketmu sudah lengkap Mana mungkin aku mengeluh Pada jalan-jalan lain yang ada di hadapan Untuk lalu lalang siapapun yang akan datang menjemputmu, atau aku Tas mu sudah tersandang, bajumu sudah cantik Kita berangkat, tapi kali ini stasiunnya berbeda Sengaja, kataku Penutup jendela bus yang kutumpangi dibiarkan menutup, kau juga sama Kata penulisku untuk sesuatu, Kabar-kabar baik katanya Mana mungkin aku tak mengikutinya, besok kita bangun, sepagi mungkin Apakah kita berhenti di stasiun yg sama? BA 31 Mei 2022 18:19 WIB
0
May 31, 2022
May 31, 2022 at 7:20 AM UTC
Beberapa mungkin