Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"telinga" poems
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Saat waktu sedang berjalan menjemput, Aku akan mencintaimu untuk setiap detiknya.
0
Feb 6, 2018
Feb 6, 2018 at 2:29 PM UTC
Telinga, Terimalah Janjiku.
seluruh hidup, kau akan berdengung menyanyikan lagu selamat tidur ke telinga ini, dan di tempat tidur mati ini akan menjadi semua saksi.. suatu hari ku kan memuat sebuah memoar di dalam genggaman tanganmu..diiringi sebuah melodi terputus-putus dan bergetar.. mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..seperti sebuah daging yang diangkat dari sinar matahari mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..dan tulisan berakhir tanpa sebuah resolusi..sebuah revolusi sebuah kesudahan perlahan, meleleh, melebur melalui ruang dan waktu ke dalam diri lagi..kebutuhan sebuah realita akan menjadi hampa.. mereka berteriak kepada kehampaan “oh wahai kosmos, oh cahaya suci!”.. ia akhirnya belajar dari sebuah bayangan tidak hanya pada kegelapan dan kepada mereka yang tidak percaya pada sebuah proses, kelak akan menjadi akar yang busuk di dalam sebuah kandungan.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:47 AM UTC
Revolusi dalam Kandungan
Ku duduk di sini Kaki ku membeku karena dingin Mata ku kantuk karena larut Malam ku gelap tanpa sinar bulan Telinga ku sepi, tiada yang terdengar Bibir ku rapat, tak ada yang terucap Badan ku lelah serasa ingin roboh Ingin ku pejamkan mata tuk sementara Namun terlelap dalam mimpi Takkan tersesat walau sendiri Harap ku akan bermimpi lagi Mimpi yang paling indah dari kemrin Agar temani di malam sunyi ini Hingga aku membuka mata esok hari by. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:35 PM UTC
Mimpi
Jakarta, Senin 14 Mei 2007 Cinta tidak bisa dilihat dengan mata Cinta tidak bisa didengar dengan telinga Cinta tidak bisa diraba dengan telinga Cinta tidak bisa dirasakan dengan hati Cinta memang indah Cinta membuat orang yang merasakannya bahagia Namun... Cinta sering datang dan pergi Cinta membuat orang yang ditinggalkannya terluka Dan sakit hati Cinta... Jangan sakiti hatiku Jangan biarkan aku menangis Hatiku ingin Cinta ku... Abadi untuk selamanya
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:46 AM UTC
Heart and My Love
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh? Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia. Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu. Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta. Created by. Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
Usia
Kemana kau tuan,hilang tanpa pesan Meninggalkan hamba dengan sejuta kerinduan Boleh hamba mengatakan? Bahwasanya kehilangan tuan,tidak pernah hamba inginkan Bahkan,sejak kepergian tuan Hamba masih berdiri disini,mempertahankan,berharap tuan akan merubah arah pijakan Dan kembali ke sisi di pangkuan Semenjak tuan pergi, Desau angin mulai menyepi, Kicau burung tak terdengar lagi Berganti dengan sesak nafas hamba,dan suara tangis yang kian menusuk telinga Hamba masih belum bisa menerima kenyataan, Bahkan,merelakan tuan pergi saja masih terasa menyakitkan
0
Jun 21, 2019
Jun 21, 2019 at 1:11 PM UTC
Cipta tuan
Dalam kerlap kerlip dunia malam Debuman musik keras menggema dalam telinga Menggeliat diantara tubuh para adam Mengumbar buah dada Menebar wewangian erotis Menarik para lebah mendekat Jalang bukan sembarang jalang Mendesah indah hanya bermodalkan tubuh molek Selembar uang sengaja tersangkut dalam lingerine Senyuman diberikan Membuat libidoku tak terbendung lagi Mengoyak pakaian minim yang menghalang akses untuk menjelajah tubuhmu Kau mendesah lagi Melodi indah mengiringku menuju surga dunia Peluh yang menyatu malam itu menjadi saksi Betapa indahnya tubuhmu bak bidadari Kuhantam titik titik nikmat dalam tubuhmu Kau bernyanyi, nyanyian erotis terindah yang pernah kudengar Kutatap wajahmu, rona merah dan peluh menyatu Wajah sempurna Penglihatanku berkabut Sekelebat cahaya putih menyilaukan terlihat Ketika kita bersama menikmati indahnya surga dunia Benih benih janin tak sanggup kubendung lagi Kau pun mendesah lagi Ah, kau memang bukan sembarang jalang
0
Dec 30, 2016
Dec 30, 2016 at 10:38 PM UTC
MALAM
Kau duduk dalam diam Segaris senyum kau tebar Aku yang lemah menyerah kalah Membakar omong kosong Menciptakan bara apiku Aku terpaku, pertama kalinya bagiku Suara renyah bergairah Menggelitik daun telinga Mendarat indah di relung hati Tak perduli yang kau katakan Aku hanya ingin mendengarkan Ingin rasanya kugenggam tanganmu Menculikmu dengan gagah berani Layaknya ksatria dan kau sang putri Menyibak rambut ombakmu Kusematkan bunga Yang kita petik bersama Namun... Aku bukanlah ksatria Dan kau sendirilah pemilik kastil itu Tak ada bunga mekar yang bisa kupetik hari itu Namun di lain hari kuharap kita bertemu lagi
0
Sep 29, 2017
Sep 29, 2017 at 4:58 AM UTC
Pertama Kalinya
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
0
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Suratan dan Imbalan
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Continue reading...
32
Aku telah buat kesalahan. Kusebut itu kau. Kau; kesalahanku, yang dengan sengaja kulakukan hanya demi keegoisanku. Setiap kata 'aku sayang kamu' yang kau terima, tak pernah ada dalam ketulusan. Setiap peluk yang kau rasakan, tak pernah ada dalam kenyamanan. Semua kulakukan hanya agar kau percaya bahwa rasaku itu nyata. Brengsek! Aku mengutuk diriku sendiri. Meski kau hidup dalam kebohongan, aku selalu berupaya. Membuka hatiku sedikit demi sedikit, hanya agar kau tak terluka. Namun Tuhan Maha Adil, dan aku hampir melupa. Saat aku berupaya, kau menggores luka. Kau bertindak suka-suka, dan aku diam saja. Sesekali kuangkat bicara, dan kau tutup telinga. "Terserah" kataku. Dan kuakhiri semuanya. Kini, berulang kali kau memintaku tuk kembali, tetapi enggan untukku mengulangi. Kita hanya akan sama-sama menyakiti, Dan menyayangi diri sendiri.
0
Jun 11, 2017
Jun 11, 2017 at 3:55 AM UTC
Untitled
Dia sering mengetuk pintu : sebanyak lima kali dalam sehari tetapi di saat-saat itu, telinga kita mendadak tuli dan mata kita mendadak buta atau barangkali, kita tak berada di dalam rumah (kanya, 2017)
0
Aug 11, 2017
Aug 11, 2017 at 10:33 PM UTC
Lima Kali
satu tangan menutup mata satu tangan menutup telinga belikatku bertahan kaku tiap pijakan pelan, terseok belum leluasa ku berlari terpaan gelombang yang sudah-sudah masih meninggalkan goresan dalam daging dibantu merangkak, tapi dipaksa berlari caramu mengenyahkan biru yang masih menyelubungiku takut pada lidah sangkalan beradu bukankah lancang mencipta imaji semu lalu menggantungnya pada tiang-tiang garam berharap keras, tak begitu meleset pada manusia sadar, tak se-Esa namun jika Bapa memberi siapa yang bisa menutupnya? target apa, begitu mendesakkah? soal pembendaharaan rasa apalagi rancangan telah kuserahkan padaNya aku dungu & tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat Bapa. Tetapi aku tetap didekat Bapa; Ia memegang tangan kananku.
0
Mar 14, 2020
Mar 14, 2020 at 7:48 AM UTC
Seperti Hewan
Nak Ibumu lahir saat gawat ekonomi seluruh semesta Saat gawat sebumi memikirkan nilai Saat dunia ditimpa wabah tak ternampak Tapi dunia masih cantik Nak Ibumu saksi dunia sedang gusar Saksi pemimpinan goyah Rebutkan yg tak pasti Matanya buta Telinga nya tuli Tak terdengar rintihan kasta bawahan Tak terpeduli dan lari meninggalkan hakiki Ibumu tegak ditengah Saat mereka berkelahi Bercemuhan Hai, ibu saksi saat mereka tak waras Nak, Ibumu saksi peninggalan ramai org Mata kepala ibu melihat org rebah tak bermaya Ibumu saksi bapak menangisi anak Bayi lahir tak bersusu ibu Adik pergi tak berpeluk abang Dan Ibumu saksi org tak bisa menjamah nasi Bukan kerna tak upaya Tapi kerna rakus ahli prejudis Dan anjing ditaktor . . Nak Ibumu saksi saat propaganda dilaungkan "Demokrasi ini adalah kita semua Suara kamu kami dengar" . . Anakku Dengarlah Ibumu saksi saat dunia tak adil tapi dihias indah Ibumu saksi saat negeri kita kacau tapi dirai aman Ibumu saksi nak... Ibumu saksi perit itu tak cuma kehilangan Tapi rindu yg bakal tak terubatkan Salam yg takkan tersampaikan Dan sebelum kau hingga ke saat itu Harus lah kau tau Setiap sisi kita tertanam secebis sedikit hati Maka harus kau cari yg baik baik sentiasa . Kerna mmg sifat dunia begitu Rebut yg tak pasti Bertelinga dan tuli Bergeliga tapi rakus Dan punyai mata tapi buta Dan harus kau ingat yg merbahaya sekali Punyai iman tapi tak berTuhan
0
Oct 23, 2021
Oct 23, 2021 at 12:00 PM UTC
Anak
Hiruk pikuk kebencian Menjadi bagian dari malam ini Suara-suara lantang itu Berhasil memenuhi gendang telinga ini Atas dua insan yang berkecamuk Penantian keadilan serta merta Aku bersembunyi dalam doaku yang terburu-buru Sabar, katamu. Bagai asupan yang bahkan aku tidak lapar sekalipun
0
Dec 19, 2019
Dec 19, 2019 at 10:47 PM UTC
Dua Insan
Menikahi berarti menenun siap dengan siapa, membangun kesiapan dengan segala persiapan. Tapi darimana mulainya? Dari mata yang mengeja teduh Dari telinga yang belajar tabah Dari hati yang mengejar teguh Dari situ, kita tahu artinya biduk ialah bicara dan duduk. Dari sini, bisakah kita mulai, Abadi?
0
Nov 5, 2023
Nov 5, 2023 at 7:44 PM UTC
Dari Sini Mulanya Abadi
KAMU MENGAKU CINTA AKU-Oklasasadu, yang seisi ruh berdiri melamun. Oklasasadu, yang biasanya menaruh tangan kananmu di telinga kiriku. Oklasasadu, pendek pun kali luas menguap berbisa tubuh bukan lagi ruh. Oklasasadu, mana guna jika mungkin tersisa iri, ruh ini sebagai bukti, HANYA tuhan YANG MEMBENCIKU. Tadi adalah mimpi, saat Oklasasadu terdapat sapa. Keluar masuk tanpa rasa, Oklasasadu di saat masa yang hening lagi menyapa dia. Melihat Oklasasadu sepertinya berubah mentega diantara saya. Setahuku Oklasasadu hanya benci padanya. Dia pikir Oklasasadu tidak pernah sadar, adanya dia berulah saja. Bangun siang di tengah malam, ada Oklasasadu berbunyi (a ku la mu nan mu) diulang hingga benar-benar tenang dalam dirinya. Him. Membunuh dengan halusnya empati.
0
Apr 9, 2020
Apr 9, 2020 at 12:00 PM UTC
OKLASASADU, BANGUN SIANG DI TENGAH MALAM
Aku terdiam Di balik suara yang terus menggema Mengeja tanya Yang tak lahir dari mata mereka. Kupungut satu per satu kebingungan Yang tak pernah diminta Sambil menyelipkan rasa kesal Di antara hela napas. Tak ada telinga Hanya dinding yang berdiri tegak Menampung gema tanpa makna. Dan ternyata Lelah juga Menjadi penjaga sunyi Yang mereka sebut guru.
0
May 14, 2025
May 14, 2025 at 9:17 AM UTC
Penjaga Sunyi