Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pesan" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
Palembang, Rabu 26 Juli 2011 Aku sayang dia Aku jaga dia sejak pertama ku milikinya Ku genggam erat dia seakan tak ingin berpisah Ku selalu awasi dia tak ingin kehilangannya Dia selalu ada di setiap ku butuh Kawan terbaik mencurahkan inspirasiku Tak terbayang jika dia pergi tinggalkan ku Atau hanya hilang tanpa jejak atau pesan sekalipun Yang pertama, tak bisa terganti Sekali sayang, dan akan terus selamanya Perasaanku tak tercurah tanpanya Berhari-hari aku bersamanya dengan setia Namun di hari itu aku kecewa Yang aku sayang yang terus aku jaga Dia mati di kala waktunya belum tiba Aku kecewa ketika mereka membunuhnya Aku marah, aku kesal Aku minta mereka mengembalikannya Tapi yang ku dapat hanya heningan Tanda mereka tak mau berbuat apa-apa Aku sudah tahu jawaban mereka Meskipun belum terucap, hanya bahasa gerak Mereka tidak mengerti rasanya kehilangan Mereka tidak peduli dengan perasan orang Ku hanya ingin pertanggungjawaban Dan kembalikan dia kembali ke genggamanku Tolong sekali saja Kalian mngerti perasaan seseorang Dia adalah pena ungu yang paling ku sayang "Pena Ungu ku tinggal kenangan"
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:40 AM UTC
Pena Ungu
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
Hai... Kau mungkin tak akan tahu siapa aku Dan sejujurnya aku tak akan mengenalmu Namun kau dan aku memiliki suatu kesamaan Ia yang kau perjuangkan, yang kau sayangi hingga hatimu sakit Dulu pernah menjalani hari demi hari bersamaku Ia juga pernah ku perjuangkan hingga raga ini tak mampu lagi Ia yang selalu ku sayangi hingga hati ini tak merasa sakitnya Aku hanya ingin menitipkan sebuah pesan untukmu Sebuah pesan kecil yang bisa saja kau abaikan jika kau mau Jangan pernah merasa lelah untuk memperjuangkannya Jangan berhenti menyayanginya walau mungkin ia menyakitimu secara tak sadar Karena jika aku masih mampu dan ia masih membuka hatinya Aku pun tak akan berhenti melakukan kedua hal tersebut Apa yang bisa ku lakukan sekarang adalah menyisipkan namanya disela doa-doaku agar ia bahagia dengan hidupnya Dan agar kau tetap terus menjaganya sebagaimana aku akan menjaganya
0
Jan 3, 2016
Jan 3, 2016 at 8:23 AM UTC
Memo
*tidak semua pesan dapat kusampaikan langsung termasuk secarik puisi ini yang berisi sejuta rasa rindu akan hadirmu disamping walau itu adalah sebuah ilusi aku menerbangkan surat ini dengan angin berharap nanti kau menerimanya dan sadar akan hadirku disini dan rindu yang tidak dapat dibendung lagi*
0
Aug 4, 2014
Aug 4, 2014 at 6:27 AM UTC
angin
hembus aku nafas kelelahan membaca bait cinta yg ditulis para muda masing-masing melempar rasa namun siapalah aku mengatakan tidak pada rasa indah itu? resah kamu mungkin tenang untuk aku tatkala dunia goncang berebut harta aku disini masih keliru tentang rasa kemudiannya, aku melihat lirik mata anak muda yang sedang bebas teroka dunia indah dan segar matanya bersinar umpama harapan cerah sentiasa menanti mereka sempat aku pesan anak muda, teruslah berjuang demi rasamu sematkan cinta kepada setiapnya agar mudah kita kemudian hari kelak kerana aku pasti cinta yang tumbuh itu akan bersemi dan terus ramai... hingga satu hari, kan seluruh dunia tersenyum. maka, teruslah. teruslah...menulis.. 944pm oct 2nd 17
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 9:49 AM UTC
Kepada setiap hati
sudah kuceritakan pada senja tentang hari yang kulewati bersama mentari bahkan hujan dan aku merangkai kisahku tapi kadang aku bercerita pada malam malah, bulan dan bintang juga ikut bercengkrama iya, jika hari tak hujan mereka berani menemuiku aku mencoba mengerti bahasa mereka sama hal nya yang mereka lakukan tapi kuakui mereka pendengar yang baik aku masih berdiri didekat jendela memahami gestur dan menunggu jawaban mereka atas pertanyaan yang kuajukan  tentang seseorang dan menitip pesan rahasia untuknya
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:27 AM UTC
Rahasiaku
Kemana kau tuan,hilang tanpa pesan Meninggalkan hamba dengan sejuta kerinduan Boleh hamba mengatakan? Bahwasanya kehilangan tuan,tidak pernah hamba inginkan Bahkan,sejak kepergian tuan Hamba masih berdiri disini,mempertahankan,berharap tuan akan merubah arah pijakan Dan kembali ke sisi di pangkuan Semenjak tuan pergi, Desau angin mulai menyepi, Kicau burung tak terdengar lagi Berganti dengan sesak nafas hamba,dan suara tangis yang kian menusuk telinga Hamba masih belum bisa menerima kenyataan, Bahkan,merelakan tuan pergi saja masih terasa menyakitkan
0
Jun 21, 2019
Jun 21, 2019 at 1:11 PM UTC
Cipta tuan
Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Biarkan aku bercerita, Tentang isak tangis sang wanita kala rindu menyergap. Penantian panjang pesan yang tak dibalas. Lagu yang tak lagi terdengar menyenangkan. Berbaring dengan harapan sang pujangga kembali datang.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 11:09 AM UTC
Biarkan aku bercerita
Kerap kali kita bertanya, Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua? Waktu, umur, nominal saldo, nilai, Jarak, kecepatan, durasi, ***** Apakah angka pengukur semua? Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan? Apakah angka mampu, Mengukur segala nikmat dan bahagia, Yang kita jumpai setiap harinya Lalu, bagaimana dengan ketepatan? Apakah waktu yang tepat untukku, Tentu tepat untuk orang lain? Kembali aku menoleh ke cermin Kadang aku berlari, Namun orang lain terhenti, Resah aku dibuat, Lalu aku ikut berhenti Orang lain mulai berlari, Aku masih nyaman di sini, Resah aku dibuat, Aku pun masih berhenti Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan? Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan? Mengapa aku selalu dituntut stigma, Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
0
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 11:48 AM UTC
Pesan untuk sahabatku.
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
Nos han abandonado en medio del camino. Entre la luz íbamos ciegos. Somos aves de paso, nubes altas de estío, vagabundos eternos. Mala gente que pasa cantando por los campos. Aunque el camino es áspero y son duros los tiempos, cantamos con el alma. Y no hay un hombre solo que comprenda la viva razón del canto nuestro. Vivimos y morimos muertes y vidas de otros. Sobre nuestras espaldas pesan mucho los muertos. Su hondo grito nos pide que muramos un poco, como murieron todos ellos, que vivamos deprisa, quemando locamente la vida que ellos no vivieron. Ríos furiosos, ríos turbios, ríos veloces. (Pero nadie nos mide lo hondo, sino lo estrecho.) Mordemos las orillas, derribamos los puentes. Dicen que vamos ciegos. Pero vivimos. Llevan nuestras aguas la esencia de las muertes y vidas de vivos y de muertos. Ya veis si es bien alegre saber a ciencia cierta que hemos nacido para esto.
0
1.1k
Destino alegre
Andaluces de Jaén, aceituneros altivos, decidme en el alma: ¿quién, quién levantó los olivos?No los levantó la nada, ni el dinero, ni el señor, sino la tierra callada, el trabajo y el sudor.Unidos al agua pura y a los planetas unidos, los tres dieron la hermosura de los troncos retorcidos.Levántate, olivo cano, dijeron al pie del viento. Y el olivo alzó una mano poderosa de cimiento.Andaluces de Jaén, aceituneros altivos, decidme en el alma: ¿quién amamantó los olivos?Vuestra sangre, vuestra vida, no la del explotador que se enriqueció en la herida generosa del sudor.No la del terrateniente que os sepultó en la pobreza, que os pisoteó la frente, que os redujo la cabeza.Árboles que vuestro afán consagró al centro del día eran principio de un pan que sólo el otro comía.¡Cuántos siglos de aceituna, los pies y las manos presos, sol a sol y luna a luna, pesan sobre vuestros huesos!Andaluces de Jaén, aceituneros altivos, pregunta mi alma: ¿de quién, de quién son estos olivos?Jaén, levántate brava sobre tus piedras lunares, no vayas a ser esclava con todos tus olivares.Dentro de la claridad del aceite y sus aromas, indican tu libertad la libertad de tus lomas.
0
799
Aceituneros
aku mengantuk sekali hingga kutahu ada venus di atas kepalaku yang kaku. Kaki dibanjiri hujan, pesan cukupkan bulan di bawah bantalku-maksimal. ×Tidak ada tuhan lagi kali ini.
0
May 28, 2022
May 28, 2022 at 4:20 PM UTC
OKLASASADU
Ahora me pregunto si es que toda la vida hemos estado aquí. Pongo, ahora mismo, la mano ante los ojos -qué latido de la sangre en los párpados- y el vello inmenso se confunde, silencioso, a la mirada. Pesan las pestañas. No sé bien de qué hablo. ¿Quiénes son, rostros vagos nadando como en un agua pálida, éstos aquí sentados, con ojos vivientes? La tarde nos empuja a ciertos bares o entre cansados hombres en pijama. Ven. Salgamos fuera. La noche. Queda espacio arriba, más arriba, mucho más que las luces que iluminan a ráfagas tus ojos agrandados. Queda también silencio entre nosotros, silencio               y este beso igual que un largo túnel.
0
739
Idilio en el café
"Libremente los besos desde los labios caen en el mar indomable como perlas inútiles" -de "Un río, un amor" por Luis Cernuda. Libremente desde mis labios caigo en el mar indómito cual ****** piedra. Ahogo mi amor en penas que pesan mi cuerpo y me hunden. Mi amor se pierde en la inmensidad del océano. Besos caídos, abrazos solitarios, caricias al viento. Tanto amor tenía por darte, a ti, a todos mas ahora se pierde en el abismo donde mi cuerpo perece. // "Freely from my lips the kisses fall in the unteamable sea like useless pearls" -from "One river, one love" by Luis Cernuda. Freely from my lips I fall into the untamed sea like ****** stones. I drown my love in pitties which weight my body and sink me. My love is lost in the inmensity of the ocean. Fallen kisses, lonely hugs, caresses to the wind. So much love I had to give,to you, to everyone but now it is lost in the abyss where my body perishes.
0
Jul 20, 2018
Jul 20, 2018 at 7:28 AM UTC
Sombras pálidas // Pale shadows
Jika Tuhan tidak pernah sampai Lalu aku ada dimana? Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan Lalu aku bercerita dimana? Pada kerumunan isi kota yang melenakan Padat, riuh semua ingin berbicara Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga Kemudian bagaimana dengan kebebasan? Ia ada, tanpa diminta. B_A 24 Agustus 2022
0
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Jika
Hexaedros de madera y de vidrio apenas más grandes que una caja de zapatos. En ellos caben la noche y sus lámparas. Monumentos a cada momento hechos con los desechos de cada momento: jaulas de infinito. Canicas, botones, dedales, dados, alfileres, timbres, cuentas de vidrio: cuentos del tiempo. Memoria teje y destejo los ecos: en las cuatro esquinas de la caja juegan al aleleví damas sin sombra. El fuego enterrado en el espejo, el agua dormida en el ágata: solos de Jenny Lind y Jenny Colon. "Hay que hacer un cuadro", dijo Degas, "como se comete un crimen". Pero tú construiste cajas donde las cosas se aligeran de sus nombres. Slot machine de visiones, vaso de encuentro de las reminiscencias, hotel de grillos y de constelaciones. Fragmentos mínimos, incoherentes: al revés de la Historia, creadora de ruinas, tú hiciste con tus ruinas creaciones. Teatro de los espíritus: los objetos juegan al aro con las leyes de la identidad. Grand Hotel Couronne: en una redoma el tres de tréboles y, toda ojos, Almendrita en los jardines de un reflejo. Un peine es un harpa pulsada por la mirada de una niña muda de nacimiento. El reflector del ojo mental disipa et espectáculo: dios solitario sobre un mundo extinto. Las apariciones son patentes. Sus cuerpos pesan menos que la luz. Duran lo que dura esta frase. Joseph Cornell: en et interior de tus cajas mis palabras se volvieron visibles un instante.
0
661
Objetos y apariciones
Hace año y medio que pienso en lo mismo. La mirada y los pasos los siento cansados, los hombros me pesan, y no sé si es la mochila o mi pasado. Estoy sobrepuesta, soy una pintura que colgaron para tapar un hoyo en la pared. Hay días buenos, no tan buenos y los malos, pero aunque me sienta alegre siempre en el trasfondo hay un pequeño duende apagando el interruptor, que le gusta estar a oscuras, y que el silencio lo aturde. Por eso mantiene mi voz activa desde atrás de mi cabeza. Y le gusta oír el latido de mi corazón agitado. Cómo quisiera estar de nuevo en el techo de Camilo, y mirar las luces de la ciudad en lugar de las estrellas. Vaciarme. Estoy como una casa abandonada, llena de cosas inservibles. De sueños que no son míos, de cansancio por cargar penas ajenas, y mis ojos lo único que quieren es cerrarse.
0
May 26, 2018
May 26, 2018 at 3:07 PM UTC
Diario parte II
El arado, el rastrillo y la luciente Reja, y el aguijón que al buey hostiga, Y la hoz que segó copiosa espiga Y cortó yerba en campo floreciente, Ya le pesan, y el sol, en el poniente, Los consagra a Cibeles, Diosa amiga, Porque vencido en terrenal fatiga, El brazo, al fin, desfallecido siente. Casi un siglo su arado, en paz el alma, Cruzó la era con tajante filo. Vivió sin goces y envejece en calma; Y piensa que cansado de su siega, Entre los muertos segará, tranquilo, Campos de sombra que el Erebo riega.
0
505
El labrador
Donde estuvo la nube ya no hay nube;                     los ojos, que la piensan. Absoluto celeste, azul unánime                     sin ave, sin su anécdota. Al célico sosiego otro marino                     sosiego le contesta. Las últimas congojas de la ola                     playa se las consuela. Tanto sollozo en leve espuma acaba,                     y la espuma en la arena. Le basta un color solo a tanto espacio,                     sin vela que disienta, El mar va por el mar buscando azules                     y a un azul los eleva. Está el día en el fiel. La Luz, la sombra                     ni más ni menos pesan. Dentro del hombre ni esperanza empuja                     ni memoria sujeta. El presente, que tanto se ha negado,                     hoy, aquí, ya, se entrega. ¡Presente, sí, hay presente! Ojos absortos                     felices le contemplan. El tiempo abjura de su error, las horas,                     y pasa sin saberlas. Aves, ondinas, callan, y de voces                     vacío el aire dejan. La dilatada anchura del silencio                     de silencio se llena. Es el vivir tan tenue, que no ata;                     la cautiva se suelta. Por las campiñas, ya, del puro ser                     viene, va, se recrea. Está el mundo tan limpio, que es espejo:                     la escapada lo estrena. Radiante mediodía. En él, el alma                     se reconoce: esencia. Segunda, y la mejor, surge del mar                     la Venus verdadera.
0
551
Variación viii
Donde estuvo la nube ya no hay nube;                     los ojos, que la piensan. Absoluto celeste, azul unánime                     sin ave, sin su anécdota. Al célico sosiego otro marino                     sosiego le contesta. Las últimas congojas de la ola                     playa se las consuela. Tanto sollozo en leve espuma acaba,                     y la espuma en la arena. Le basta un color solo a tanto espacio,                     sin vela que disienta, El mar va por el mar buscando azules                     y a un azul los eleva. Está el día en el fiel. La Luz, la sombra                     ni más ni menos pesan. Dentro del hombre ni esperanza empuja                     ni memoria sujeta. El presente, que tanto se ha negado,                     hoy, aquí, ya, se entrega. ¡Presente, sí, hay presente! Ojos absortos                     felices le contemplan. El tiempo abjura de su error, las horas,                     y pasa sin saberlas. Aves, ondinas, callan, y de voces                     vacío el aire dejan. La dilatada anchura del silencio                     de silencio se llena. Es el vivir tan tenue, que no ata;                     la cautiva se suelta. Por las campiñas, ya, del puro ser                     viene, va, se recrea. Está el mundo tan limpio, que es espejo:                     la escapada lo estrena. Radiante mediodía. En él, el alma                     se reconoce: esencia. Segunda, y la mejor, surge del mar                     la Venus verdadera.
Continue reading...
38
Pesan pada hati, jangan terlalu mengikut, takut nanti cepat berubah. Teruskan perjalanan yang separuh itu, habiskan cerita walaupun lelah. Mungkin di pengakhiran, ada kebahagiaan yang menanti. Datangnya ujian bukan satu bebanan, tapi satu jalan menuju kejayaan. Jika mampu, harunginya dengan jaya, jika tidak, cukuplah sekadar menerima takdir seadanya. Kau kawan, bantulah aku, bukan merenung mencari salahku.
0
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:10 AM UTC
Puisi Hati
Berhenti, Jangan mengejar terlalu jauh Kalau sudah lelah Berhenti saja, ya?
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 10:04 AM UTC
Pesan