Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
soliana Apr 2018
ngano hilakan nimo ang wala?

kay naa paman koy paglaom na mobalik ang nawala.
elmo- 10:02 PM 4/18/18
ramon cayangyang Nov 2016
Bago ako magsimula , Gusto kulang sabihin sayong “kamusta?”
Parang kay tagal na simula nang huling tayo ay magkita
Hanggang ngayon hindi ko masabe kayat dadaanin kita sa
Maikli kong tula ….

Sa tulang halos buhay ko ang nilalaman , buong buhay na aking
Minahal at pinaglaban ng hindi man lang niya nalalaman . ..
Kahit na alam ko na sayo ay may nagmamahal at kayong dalawa
Ay nagmamahalan patuloy pa rin ako sa aking pakikipaglaban

Nakikipaglaban sa aking nararamdamang hindi ko alam kung bakit
Kinakailangan , bakit kailangan kong pagdaanan kasi hindi ko kayang
Iwaksi sa aking isipan at sa tuwing tatalikod ako sayo hindi ko
Mapigilang ilabas ang tunay kong nararamdaman …

Nararamdamang kalungkutan ngunit napapalitan ng kasiyahan sa
Tuwing ikay aking masisilayan , masilayan ang nagiisang dahilan ng
Tuwa at pasakit na aking nararamdaman

Pero kahit punong puno ng pasakit at pagdurusa ang dulot mo sa
Akin wala akong pakielam …
Kahit na sabihin ng iba na “TANGA KA BA ? MAHAL MO PERO MAHAL
KABA ?

Wala akong pakielam sa sabihin ng kahit na sino man , isa lang naman
Ang laman ng aking isipan

Ang oo at pero , OO ngat alam ko na sa puso niya ay hindi ako bagkus
Iba ang siyang nanahan ,
Pero sa puso ko , ikaw ang siyang nagturong magmahal ng totoo kahit
Na alam na walang dapat asahan

Na ang salitang “TAYO” sa panaginip kulang makakamtam

Pero kahit ganon paman ang kinalabasan , Masaya parin ako sa nagging resulta nang aking ginawa na tinatawag ng karamihan na “KATANGAHAN”

Kase hindi kuman nagawang makamtan ang taong laman ng aking isipan ,at kahit Alam Kong sa panaginip kalang mahahagkan

Atleast natutunan ko at nagawa kong lumaban at ipaglaban siya
Kahit na hindi man lang niya nalalaman
#hugot#filipino#tagalog
Sa akong paglatagaw daw akong kinabuhi wala pa natagbaw.
Nikamang, ninglangoy, nilupad ug nalakaw lakaw.
Aron tagamtamon ang katam-is sa gugma na akong gihanduraw.
Asa naman ka? Naara ko dali ayaw kaulaw.

Ningkuha ug kusog sa uban, nag too na dili sila mobiya.
Nangandoy sama nako na dili na meng duha moluha.
Naghinigugmaay, ug nagpasalig na mogunit sa matag takna.
Apan asa naman, wala na, nibiya na ug kalit ra na nawala.

Giloom ang kasakit niining dughan, kiagwanta ug gidawat ang tanan.
Na sa gugma wala koy swerte, malas maoy ingon sa uban.
Natingala, nangutana, na sa kadaghan sa tao niining kalibutan, nganong ako paman?

Naa ra man diay ka. Nagpaabot ba ka? O gihatag ka sa Ginoo para sa akoa?
Ginahandom na makit.an nako ang tinood na pasabot sa gugma.
Ginaampo, ug ako kanimo nagahangyo na akong paglantaw kanimo palihog dawata.
Tagaan unta ko nimog higayon na magkauban pa tang duha.
#bisaya
Anton Sep 2019
Sa dalan sa kinabuhi nga akong ginasubay,
kitang duha nag.abot ug nagkaila bisan dili angay,
sa kinabuhi ko miabot ug nihatag ug kalipay tinud.anay,
sa mubong panahon ang mga kasikas sa dughan nahupay,
bisan ug sa matag higayon na kitang duha mag.away,
muabot man sa panahon nga wala nay tingganay,

ayaw lang ug kabalaka oh akong inday,
kay ang gisinggit sa akong dughan ikaw ra gyud kanunay,
sa akong kasing kasing nga puno sa kasakit ug kalaay,
ikaw lang ang bugtong nakahatag ug kalipay,
bisan wala ako diha sa imong kiliran huna-hunaa ania rako nagabantay,
ug bisan si kamatayan pa man akong mamahimong kaaway,
laumi nga ako na imong taming kanimo manalipod kanunay,

nasayud ko nga ikaw dili sama sa uban nga bugay,
bisan pa tuod nga pirme nako makita sa imong hulagway,
ang dagway sa usa ka taw nga gilaay,
kahibalo ako nga bisan ug gamay,
nga ikaw anaa ra sa inyuhang balay,
kanunay nga ga bansay bansay,
sa mga dautang buhat ikaw nagalikay,
kay ikaw gusto ug kanunay nga hapsay,

ayaw lang ug kabalaka kay,
magahulat ako kanimo bisan unsa paman kadugay,
maningkamot nga na akong mhatag ang kaharuhay,
bisan pa kining kasin-kasing ko dugay mo ra nga gipatay.
Sa imo ra nipitik ning akong dughan
Buntag, udto, ug gabieng tanan
Na bisan ug namalandong ko sa makadaghan
Dinasaysay gihapon niini ang imong ngalan.

Sa imo ra nitotok ang akong mga mata
Sa matag pilok niini, imong nawong ang makita.
Ug bisan paman ug motan-aw ko sa ubang dalaga
Ikaw raman jud akong makit-an na gwapa.

Sa imo ra nilupad ang akong hunahuna
Nagahandom na makauban ka sa matag takna
Nahigam ko, lisod jud ning mahigugma
Magpanikad sa adlaw na makaanha ko sa imoha

Ug sa imo ra iukit ang akong ugma
Hugot sa pagtoo na dili ko sa imo mawala
Ubanan teka sa kasakit, hilak, ug pagmaya
Hangtod kitang duha husgahan na niining kalibotana.

Sa imo ra.
Unom ka bulan na ang nilabay
Sa unang pag wave nako sa imo ug pag HI
Akong kasakit, kagool, ug kalaay
Napulihan sa ngisi, pagkakita nako sa imong reply

Nakahinomdom pako sa una
Moving on ko; naay nagparamdam sa imoha
Abi jud nako ug kamo nang duha
Apan sa dihang gi-ghosting ra diay ka niya.

Mao to, niulpot akong kasingkasing sa kalipay
Paramdam dayon ko, wala nako nagdugay-dugay
Nagahamdom na mapansapin nimo ko bisan gamay
Ikaw naman gud ang gipangita sa akong kasingkasing kanunay

Dalawampu, baynti, o twenty
Bisan paman ug unsay tawag nato niini
Para sa ako adlaw ni na naay dakong bili
Sa atoang panaghinigalaay, mao ni atong monthsary.

Karon, boot nako isulti sa imoha pag usab
Na ako, dili magbag-o sa akong mga saad
Dili teka biyaan, tinood ni walay sagol ilad
Ubanan teka ug dili nako buhian ang imong mga palad.
Marthin Sep 2018
Magising ka sa ganda ng umaga ba
Pero babe, mas maganda ka parin,
Tara kain gud tayo, kainin ko yang
ngabil mo at inumin ko katas mo,

At kung gutom ka rin, pwede mo man
kainin tung pandesal ko,
kung gusto mo samahan mo na rin
konti ng bear brand ko,

Labas tayo mamaya, ang kinis ng ulap
pero mas kinis man kamay mo babe oy,
Gusto ko tikman talaga ba
yung mala marshmallow mo gung kutis,

Pero, hintay muna tayo ha
hindi paman gud lunch,
Pag alas dose na ay pwede na kita kainin
ay este pwede na tayo kumain,

Ano gusto mo kainin?
Yung mga egg meal o yung akin?
San rin tayo magkain?
Sa lamesa or sa bed natin?

Mahirap man mag pili babe oy
Gusto ko sa sala pero bad man gud ba,
Di man gud yan tinuro nila mama
Dapat man daw na kainin kita sa lamesa,

Baka gusto mo dessert?
Busog ka na ba babe?
Baka pwede na tanggalin yang skirt?
Naka feel pa kasi ako ng crave,

Kain tayo ng pina sosyal-sosyal sa dinner
Yung may pa wine-wine tayo,
Yan lang gud kailangan natin
Basta bukas ha ikaw naman ang cleaner.
Davao-Tagalog poem.
It's a bit sensual
Llanerarjay Oct 2018
Alam ko tong daan na to,
Daang patungo sa'yo.
Daang paulit ulit na lalakarin,
Makita ka lang, ang laging hangarin.

Paa'y di mapapagod sa paglakad,
Hindi mapipigilan na kahit na sino man.
Ako sana'y iyong mapatawad
Sa mga pagkukulang ko noon paman.

Hinahanap-hanap ang mga ngiti mo
Ngiti **** nagbibigay ng saya sa katulad ko.
Gustong-gustong marinig yung boses mo.
Boses **** tila magandang awit sa mga tenga ko.

Kaya't kahit gaano man kalayo, gaano man katagal
Hindi mapapagod ang pusong magmahal.
Kahit ano pang pagsubok ang harapin sa daan,
Makita ka lamang, mahawakan at mahagkan.

Gustuhin man nila akong lumakad palayo sa'yo.
Lagi ko paring tatahakin ang daang patungo sa'yo
Jo Organiza Feb 20
O Titser! My Titser!

Dughan kong naglatagaw sa tibuok adlaw
nahibalik sa paglantaw sa agtang **** hayag kaayo musinaw,
Ug sa dihang nisulod kas eskwelahan, ikaw ra gayod ang nag inusarang kahayag na akong nakit-an.
Pangalan mo palang, mupitik na'g kadali ang akong dughan.
Kung gali magleksyon ka dira sa atubangan, sa'kong hunahuna, hagbay na tikang gipakaslan.

O Titser! My Titser!
Pinalangga kong katingalahang maestra
Hangtud kunus-a paman ko maghulat
na ikaw gayod ma-akoa?

Tagda ning kasingkasing sa usa ka magbabalak
Paminawa kining mga hilak sa akong mga gitagik na mga balak
gugmang tinuod, 'di gayod kini bakak.

Isa ko ka estudyanteng bugoy, pero ayg kabalaka, apil nakas akong mga pangandoy.
Dira sa simbahan, sa fuente, sa mango, ug bisag asa maabot, nganli ko'g lugar, atoa nang isuroy.

O Titser! My Titser!
Pinalangga kong gwapang maestra,
nganong 'di man jud tika ma akoa?
andam ko pang abton mga bituon,
mamupo'g tambis sa kabuntagon,
unsa pamay laing dapat nakong buhaton?
aron ang tam-is **** paghigugma ako dayung maangkon.
I wrote this one para sa akong crush sauna hHAHAHHAA
Balak - A Bisaya Poem.
Jo Organiza May 27
Mapalong man ang adlaw ug bulan
magpadayon gihapon ug dagan
ning gugma kong wa'y padulngan
Tul-id na unta ang gidaganan
apan nganong niliko paman sa laing dalan?
Balak bahin sa gugma :))

Balak - A Bisaya Poem.

— The End —