"iblis" poems
Métis, Themis, Ma’at, their banter was for naught.
All the tides and tithings wisdoms and their teachings, Daemonium forgot!
But the heavens cry manna as Nix cried out reprieve!
An act that loosed the flood, the chaos of her sea.
Her pain arose a champion to tend to all her needs,
Formed of Celestial Ocean he bore down on the freed.
A giant wave of madness, thrusting mist of sadness eradicating gladness... One led the ruthless breed.
Opaque in their beginning, formless shapes in twining.
Conjoined but not together, accompanied the weather.
Thalassa’s stringy tether wrapped them all forever.
Come or go in seasons, live or die in age.
No Spring to Fall in reasons, travailing of the mage?
Black tentacles the streamers, rooted into wave.
Witness the all-wise and snaking phantom phage...
Chiron watches while he prances, his dressage on the shore.
Arising liminal of beings wettened ambiguity of yore.
Even Iblis is impressed, such black rotten to the core!
Merkabah or egg, mountain, belly, tree they squabble.
All elements do I cobble, such are actions of the wobble.
Jul 16, 2016
Jul 16, 2016 at 7:28 PM UTC
Yang mengutarakan salam pagi ini
Hanya sesayat keheningan
Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya
Riuh dirundung rindu
Perhatikan,
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung
Yang biasanya, tanpa kita sadari
Teralun lemas tiap pagi
Lembut tanpa gemericik
Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan
Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh.
Senandung itu, memang benar,
Sebatas bisikan-bisikan lantang
Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya,
Yang gemar menghantui sunyi agar terlelap sebelum terbit.
Mungkin,
kidung itu terlalu masokis
Bernyanyi sendiri tanpa ada yang
Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik
Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih
Terlelap saja. Bukan berdansa.
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung perih
Yang biasanya teralun malas tiap pagi
Menggerakkan setan-setan kecil
Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap.
Jangan berdansa.
Tak ada yang peduli, semua masih tertidur.
Dan itu bisa jadi salahmu sendiri.
Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu
Dengan sangat manusiawi.
Lagipula, seperti pagi ini,
Kesunyian kembali bersila pada permadaninya
Ditemani kicauan mencibir burung rohani.
Selamat pagi,
Senyap.
Anda yakin tidak ingin bangun
Dan menanggapi kidung yang terus memanggil
Untuk berdansa setengah jiwa?
Subuh hanya datang seterbit sekali.
Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Tak ada yang bergerak di luar jendela
Rahasia tersimpan rapi diantara bantal-bantal yang tersusun
Izinkan aku untuk masuk
Aku tak akan menyakitimu
Kita terjebak diantara Surga dan Neraka
Mencari tempat berlindung
Ketika rasa sakit mengalir turun seperti hujan
Mereka membagikan rasa itu secara cuma-cuma
Saat bagian tersulit berakhir
Kita akan terus berada disini
Kita bisa memberitahu Iblis untuk kembali ke tempat ia berasal
Karena kau dan aku telah melawati batas-batas ketakutan berdua.
Jun 5, 2016
Jun 5, 2016 at 10:01 AM UTC
Gelapku membisiki
Ada iblis
Dalam dirimu
Dan ia tidak bisa mati
Kau diikuti
Dari pekatnya malam
Di sela-sela lampu jalan
Kau lalu dirasuki
Kenapa iblis, bukan setan,
Tanyamu
Gelapku membisiki,
Karena ia kini kaujadikan raja
Kau tak yakin pada gelapku
Pada yang akan kau lakukan:
Akan mati, atau terus hidup
Kau tak merasa disusupi
Ada iblis dalam dirimu
Dan ia kekal rupanya
Sekarang yang mencintaiku
Kau atau iblismu?
Siapa nama Sang Iblis?
Tanyamu pada sayup gelap
Gelapku membisiki:
Namanya Harap, ia mengindahkan borok
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 3:40 AM UTC
My virginal shoulders could only support so much thought,
Before they succumbed to that virulent, green Iblis.
Sons will be what they are, and what they are taught:
A morality drawn to the image of Darwinian fitness.
Casted in His image, but then caught in the net,
Stretching chained hands towards freedom, just to see it sublimate.
Never a seat at the table, but always a back for the Debt.
And to be born of this blood is enough to incriminate.
Shoulder blades tremble, just at the sight,
Of the burden born from that first gasp.
Left with no map, friend, or eyes in the dead of the night,
But have no worries, He loves the first to the last.
Goddamnit! My knees have collapsed and split,
You sit unattached, removed, indifferent on my chest,
But it was you! You are the one who started all of it.
And when names were called, and the cards were down, you just up and left.
Jan 13, 2014
Jan 13, 2014 at 9:26 AM UTC
Was it a divine sign amongst the creation –
A revelation so lightsome and pregnant –
That a blanching feather’s unforeseen descent
Made my poetic soul blench for evocation?
Surely, t’was from some celestial spheres, –
Angelic wings of cherubs and seraphim –
So long been soaking in firmamental affairs
That human mental senses but morphine.
A feather if eatable, a matter of addiction –
Plucking and plucking without satiety –
If been drinkable, a matter of intoxication
Leading humans into ever inebriety.
---
O’ glorious feathers who hover with mystery –
Over skyey dreams and unearthly visions –
Which land on the earth with vice and misery,
Lending the haver only vain aspirations.
O’ one-time ornaments of the seven heavens –
Brightness and whiteness of all times –
Have you no shame on the dirt of your pens
Writing worldly prose and heretic rhymes?
By-the-way, your heaven is no heaven but a sky –
As well as not every brightening is holy –
Just as Icarus has fallen from and by your high
As others are mystified by your fake glory.
---
Whether art thou the sinister poker of Iblis –
Leading by a dancing feather in the hand –
Human arts like the one that let fall Ibn Idris
Calling with fair words to the Fallen’s land?
Whether divine inspirations in form of an aura –
Blown on the poor’s brow as enlightenment –
Art thou as the freshening science of soul and soma
Kindling the minds’ muscles as a tea of mint?
Oh, Only God knows of Ma’at’s Hall of gloom –
If one’s deeds worth a feather morrow –
So, I seek only Deus’ forgiving, life-giving plume
To pardon my feather on the mortal pillow.
Oct 5, 2019
Oct 5, 2019 at 1:13 AM UTC
Pahlawan
Terima kasih
sudah menyelamatkan aku
dari kesedihan ini
Pahlawan
Terima kasih
sudah membangkitkan aku
dari keterpurukan tiada henti
Pahlawan
Kau sungguh hebat
Hanya dengan suara dan karya mu
Berjuta orang sorak bergembira
Pahlawan
Kau sudah mati
Karena kau bukan malaikat
Sama seperti diriku
Manusia hina
Pahlawan
Kau sudah mati
Akan ku kubur jasad mu dalam jiwa ku
Akan ku peluk erat arwah mu
Jika orang bertanya tentang dirimu
Akan ku bisikan
Pahlawan ku sudah mati
Iblis memanggil nya
Bukan Tuhan
Jul 31, 2019
Jul 31, 2019 at 3:54 AM UTC
Hembusan angin sayu, menyapa rumput sendu
Rintik hujan turun segan, basah ranting kerontang
Seolah bersatu padu, gambarkan kecewaku
Mereka kata "lihat mata si bodoh keluar tangis"
Kubilang "pergi jauh dasar iblis"
Sendiri kini kau disana
Gantung diri hilang kecewa
Jatinangor, 21 Desember 2017
Dec 21, 2017
Dec 21, 2017 at 9:05 AM UTC
Di negara mana, negara mana yang rakyat kecilnya menyumbang tanpa imbalan! sedangkan ia saja menahan lapar, haus, terik & dingin. Tak beratap, tak berselimut.
Begitu tulus hatinya, begitu besar harapannya utk kemajuan bangsa & negrinya, hingga-hingga mereka lupa istri & anaknya tak makan hari ini.
Wakil rakyat bau amis! kau suruh kami memilih, kau janjikan kami surga. Kau hadirkan kami neraka. Dasar pengecut Tak tahu malu, tak tahu diri, penjilat berlidah iblis, mati kau di hantui dendam.
Jun 24, 2021
Jun 24, 2021 at 12:28 PM UTC
Pahlawan
Terima kasih
sudah menyelamatkan aku
dari kesedihan ini
Pahlawan
Terima kasih
sudah membangkitkan aku
dari keterpurukan tiada henti
Pahlawan
Kau sungguh hebat
Hanya dengan suara dan karya mu
Berjuta orang sorak bergembira
Pahlawan
Kau sudah mati
Karena kau bukan malaikat
Sama seperti diriku
Manusia hina
Pahlawan
Kau sudah mati
Akan ku kubur jasad mu dalam jiwa ku
Akan ku peluk erat arwah mu
Jika orang bertanya tentang dirimu
Akan ku bisikan
Pahlawan ku sudah mati
Iblis memanggil nya
Bukan Tuhan
May 5, 2021
May 5, 2021 at 6:24 AM UTC
dağınık günler için
armut şarabı
iyi bir toparlayacı
iliklenmekten
imtina eden yıldızların
mozerella sohbeti altında
çileğin dudak çatlağına
iyi geldiğini anlatır
dalgakıran şarapçıları
nevi şahsına münhasır
eski aşklar
genç bir martının kanatlarında
süzülür plastik bardaklara
büyük kayalıkların
altında tur atan fümegillerin
dudakları uçuklar
iyi görünümlü, iğdiş edilmiş
aşk masalını solumaktan
her
aşkta devamlılığı olan
şeytan bir dişil
müdavim
ya da
eril bir iblis
hazır ve nazırdır
vuslatı hicranlamaya
filhakika
karşılar sabahı horoz
ses olur keşe
işte o anda
düetler ayeti giderayak
göğün kızları
aca-pella
ateş etme Joe, arabada köfte var...
Mar 30, 2019
Mar 30, 2019 at 5:43 AM UTC
Burung malam yang mengaku pagi.
Lampu dimatikan.
Aku melihat Venus begitu terang, Mars di bawahnya redup.
}}} Tiga anak Iblis terlelap.
Tanaman-tanaman dibinasakan.‰
Tidak ada satu, se, ataupun tuhan.
Hawa begitu kejam. Dingin*
Jun 27, 2020
Jun 27, 2020 at 5:46 PM UTC