Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"ketakutan" poems
Tak ada yang bergerak di luar jendela Rahasia tersimpan rapi diantara bantal-bantal yang tersusun Izinkan aku untuk masuk Aku tak akan menyakitimu Kita terjebak diantara Surga dan Neraka Mencari tempat berlindung Ketika rasa sakit mengalir turun seperti hujan Mereka membagikan rasa itu secara cuma-cuma Saat bagian tersulit berakhir Kita akan terus berada disini Kita bisa memberitahu Iblis untuk kembali ke tempat ia berasal Karena kau dan aku telah melawati batas-batas ketakutan berdua.
0
Jun 5, 2016
Jun 5, 2016 at 10:01 AM UTC
Selisih
Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai memberi nasihat, kau tak melakukan apa yang kuminta. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau mulai bilang aku tak perlu merasa begitu, kau menginjak-injak perasaanku. Ketika kuminta kau mendengarkanku dan kau merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalahku, kau telah mengecewakanku, memang aneh kelihatannya. Dengar! Yang kuminta hanya kau mendengarkan bukan bicara atau berbuat—hanya dengarkan aku. Nasehat itu murah; 60 sen akan memberimu rubrik nasehat yang ada di koran. Dan itu bisa kulakukan sendiri. Aku bukan tak berdaya, mungkin kecil hati dan bimbang, tapi bukan tak berdaya. Ketika kau lakukan sesuatu untukku yang bisa dan perlu kulakukan sendiri, kau menambah ketakutan dan kelemahanku. Tapi saat kau terima kenyataan bahwa aku merasa apa yang kurasa betapapun tak masuk akal, aku bisa berhenti mencoba meyakinkanmu dan memahami apa di balik perasaan yang tak masuk akal. Dan ketika semuanya jernih jawaban menjadi jelas dan aku tak butuh nasehat. Perasaan-perasaan yang tak masuk akal menjadi sebaliknya saat kau memahami ada apa di balik semuanya. Mungkin karena doa itu manjur, terkadang, untuk sebagian orang karena Tuhan tak bersuara, dan tak memberi nasehat atau mencoba memperbaiki sesuatu. Tuhan hanya mendengarkan dan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri. Jadi, tolong dengar dan hanya mendengarkanku. Dan bila kau mau bicara, tunggulah giliranmu, dan aku akan mendengarkanmu.
0
Mar 5, 2015
Mar 5, 2015 at 3:22 AM UTC
Dengar
Pagi ini aku menangis Bukan karena ketakutan Namun ini masalah mimpi yang mengecewakan Bulanlah yang menjadi saksinya Ketika kamu mengatakan yang selama ini ingin aku dengar Kalimat yang cukup membanggakan "Aku mencintaimu" Aku lupa jika ini hanya mimpi Mimpi jika aku mendengar kalimat itu dengan mulut kecilmu Meski kuucap semua kata pinta
0
Mar 16, 2017
Mar 16, 2017 at 9:53 AM UTC
Kalimat Cukup Membanggakan
Suatu hari saya akan bertanya kepada kamu, apa yang menjadi ketakutan terbesar kamu? Saya sadar, kamu terlalu idealis. Saya tidak berpikir kita akan menjadi hebat bersama karena kita sempurna tetapi karena kita cacat. Anehnya kita masih saling mengerti satu sama lain. Suatu hari saya akan bertanya kepada kamu, apa itu cinta? Dan kata-katanya akan membuat tubuhku kaku, mengapa kamu begitu takut mencintaiku? Suatu hari kita akan bertemu lalu saya akan bertanya kepada kamu, apakah kamu ingin tahu apa yang selama ini saya pikirkan? Kamu ketakutan lalu mengacaukannya. Suatu haru saya akan menemui kamu lalu saya akan bertanya, mengapa kamu meninggalkan saya? Kamu tidak bisa menjawab lalu kembali bersembunyi.
0
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 4:39 PM UTC
Kepada Kamu
membingkai itu ada tujuannya dilapisi kaca biar tidak terkotori aku mengamplas ingatan yang sempat luntur terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku kamu memintaku, namun hatiku berprasangka itu rancangan induk bukan asli pemintaanmu kupilih menepikan diri diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam tapi nihil, malah indukmu maju aku mau, tapi apa keputusan ini benar pepetan restu, tekanan waktu dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh orang, siapa? tetangga? saudara? keengganan bersepaham kuuji kamu dari belakang menantang setara, seimbang, sejajar lontaran kata pengundang debat berlindung atas wejangan duda muda yang baik "dua jenis prinsip tujuan pernikahan" satu, untuk memulai keluarga baru dua, untuk menyatukan keluarga dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu karena saat itu aku belumuran ragu sejauh mana kedewasaanmu? kamu gagal pada tesmu, tapi aku tetap bertahan kala itu, setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main kubedah diriku, ada setitik kekecewaan seumpama semesta menghajarku dengan keras tapi Ia tidak melepaskanku pada maut disadarkanNya pula, inilah jawaban doa "jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik" jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
0
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Wejangan Duda
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
Dapatkah kamu merasakannya? Bisakah kamu melihatnya? Kamu memiliki monster di dalam diri kamu. Setiap hari, dan setiap malam kamu tidak bisa lengah dari monster itu. Bisakah kamu mendengarnya mengetuk di depan pintu ketakutan kamu? Memberitahu kamu untuk membiarkannya masuk, dan kamu tidak perlu takut. Menunggu dengan sabar dalam bayang-bayang kebahagiaan kamu, Yang akan menyerang setelah kamu dikuasai oleh kesedihan kamu sendiri.
0
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 4:20 PM UTC
Alter ego
Terang bulan, padahal ini tertulis di pukul enam yang masih berembun setelah fajar Ntah bagaimana yang muncul adalah terang bulan. Bukan mengenai kisah anak-anak yang dipaksa meminta-minta, menjual kerupuk tiga ribuan. Hari ini terang bulan muncul lebih awal, dua belas jam lebih awal. Siapa yang tau isi kepala yang ditutupi rambut hitam orang-orang? Seperti apa terang bulan yang ada di dalam pikirannya? Terang bulan diisi dengan ketakutan-ketakutan bertambahnya angka pada umur. Merasa ada yang salah dengan putaran waktu, Ia belum siap ternyata. Sementara hari tidak menunggu apapun, bahkan detiknya. Terang bulan tidak benar-benar ada, ia hanya muncul saat orang-orang sedang bahagia yang serupa. Selebihnya adalah sabit di ujung bulan yang kadang muncul sekadarnya. B_A 11 Maret 2020
0
Mar 10, 2020
Mar 10, 2020 at 8:11 PM UTC
Bukan Terang Bulan
✫  ·    + . ✵    . ·    .•°•Trepidation•°•. .      ˚  *           .  . ⋆ *   ˚     .  ⊹ Bunga-bunga menjauh dari jalanku Membiarkanku seakan kehilangan ragaku Duri menghiasi setiap jalan Sinar matahari memudar di sela-sela dedaunan Burung-burung merintih dalam pedih Biarlah ketakutan mengambil kesempatanku Kesempatan untuk kembali ke jalanku Jalan yang tak mungkin kutemui lagi Di kegelapan aku mencoba menyisir cahaya Menyisir cahaya dan kudapati rontokan bintang Aku takut.. Aku takut pada malam Malam yang semakin pekat Kemana aku akan berlari? Lututku berdarah menapaki jalan tanpa arah Semua ini tampak seperti ilusi bagiku Menemukan jalan yang benar adalah delusi Tak ada rasa sakit, tak ada kesenangan Namun kesenangan itu hanyalah angan-angan Aku tak ingin menyerah Walau kurasa hatiku berdarah Bila dunia ini berhenti Siapapun takkan bisa mengunciku lagi Selamatkan aku... Keluarkan aku dari sini Seperti apa akhir dari jalan ini? Aku takut... Keluarkan aku dari sini Ku mohon peganglah tanganku Di dalam hatimu, di dalam mimpimu Bangunkanlah kembali bintang-bintang -Kediri, 17 Maret 2018
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:23 PM UTC
Trepidation
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:19 PM UTC
SETAHUN LEBIH
Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih tak percaya. Jaman modern terjadi pembantaian besar besaran. Terus dipotret dan direkam oleh orang orang Gaza. Mengguncangkan normalitas seluruh dunia. Setahun lebih aku lupa rasanya hidup normal. Yang kulakukan tiap hari hanya membuka sosial media. Terus melihat pertunjukan horor harian di Gaza. Pembantaian demi pembantaian yang tak ada habisnya. Setahun lebih aku terus berpura pura normal. Dari luar terlihat baik baik saja tapi dari dalam terus menderita. Penderitaan orang orang Gaza yang berkepanjangan. Juga menjadi penderitaanku. Setahun lebih.... Setahun lebih aku kehilangan kenikmatan. Soto , rawon , bakso dan makanan apapun tak lagi terasa nikmat. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka sering kelaparan hingga kurus kering kekurangan gizi. Setahun lebih aku kehilangan kesenangan. Film , musik , game dan hiburan apapun tak lagi menyenangkan. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu ketakutan terancam kematian yang menyakitkan. Setahun lebih aku kehilangan ketenangan. Tidurku tidak pernah terasa nyenyak. Aku teringat terus dengan orang orang dan anak anak Gaza. Mereka selalu kedinginan saat malam tanpa punya apapun untuk kehangatan. Setahun lebih.... Setahun lebih aku tak lagi punya semangat. Segala macam urusanku jadi berantakan. Rasanya aku kesulitan berkonsentrasi penuh. Setiap hari pikiran dan jiwaku terus tertuju pada Gaza. Setahun lebih aku terus mengkhawatirkan mereka. Orang orang Gaza yang telah kukenal hingga kuanggap saudara. Jika mereka terlalu lama menghilang tanpa kabar. Rasanya aku benar benar sangat khawatir. Setahun lebih aku merasa seperti orang mati. Terlalu sering melihat kematian demi kematian yang menyakitkan. Darah terus bertumpahan , serpihan dan potongan tubuh terus berceceran. Angka statistik para martir terus bertambah setiap hari. Setahun lebih.... Setahun lebih aku masih merasa heran. Melihat orang orang tetap menjalani kehidupan normal. Bersenang senang atau sibuk urusan sendiri. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap heran. Melihat orang orang muslim yang tampak religius. Hanya sibuk beribadah siang malam. Tanpa peduli apapun tentang Palestina. Setahun lebih aku masih tetap terheran heran. Melihat gerai dan restoran Amerika masih tetap ramai. Produk produk Barat masih tetap dibeli. Tanpa peduli apapun tentang boikot. Setahun lebih.... Setahun lebih rasanya benar benar memuakkan. Melihat para pemimpin Barat terus beretorika. Bicara perdamaian dan kemanusiaan. Tapi terus mendukung pembantaian. Setahun lebih rasanya semakin memuakkan. Melihat para pemimpin Arab terus membual. Pura pura peduli dengan Palestina. Tapi diam diam mendukung Israel di belakang. Setahun lebih rasa muakku semakin tak tertahankan. Melihat media media Barat dan buzzer buzzer zionis. Terus menerus menyangkal dan membenarkan pembantaian. Tak peduli seluruh dunia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Setahun lebih.... Setahun lebih aku telah putus asa. Kehilangan harapan yang tampak terlalu sulit diwujudkan. Seluruh dunia terus melakukan aksi protes menentang Israel. Tapi tak terjadi perubahan apa apa. Setahun lebih aku telah kecewa. Tak percaya lagi dengan tatanan dunia. Yang tak lebih sekedar ilusi kemunafikan. Bentukan Barat yang merasa berkuasa atas dunia. Setahun lebih aku telah lelah. Menunggu keajaiban yang tak kunjung terjadi. Seluruh dunia terus bertanya tanya. Kapan dan bagaimana semua ini akan berakhir ?!.. Setahun lebih.... November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
81
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah. Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua. Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya. Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa. Terus berjalan di belakang waktu. Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya. Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih. Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh. Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya. Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim. Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti. Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang? Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi. Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC
Musim-Musim Yang Selalu Kita Tangisi.