"sajak" poems
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang,"
Begitu katanya
"Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang,"
Begitu pula katanya
Aku tetap tak mengerti
Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini
Terlalu sempit untuk diketahui
Terlalu sulit untuk dijelajahi
Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit?
Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri?
Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit?
Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip?
"Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku,"
Ujarnya kemudian
Secangkir teh diteguknya perlahan
"Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu,"
Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu
Tentu saja kami berdua tahu
Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu
Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu
Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya
Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya
Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak
Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak
Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu
Tentu saja kami berdua tahu
Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu
Yang meraup beribu untung tak kenal waktu
Diam-diam aku bertanya juga
Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu?
Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu?
Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu
Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu
Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya
Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya
Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa
Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa
Seperti yang saat ini banyak terjadi,
Seniman dan Koruptor.
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu.
Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini.
Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
Kekasihku telah meninggal
Tak ada lagi yang tersisa dari
Rambut panjangnya
Bahkan sekarang
Senyumnya berbau masam
Kekasihku telah meninggal
Sudah tak dapat lagi ia ucap
Sajak-sajak getir
Laut di ufuk
Apalagi senandung bintang atas kita
Kekasihku telah meninggal
Sentuhannya dingin
Tubuhnya kaku
Kelembutannya menjadi pisau
Dan gurauannya antarkan duka
Ia tetap tertawa dalam kematiannya
Karena jasadnya dapat terus hidup
Sebagai manusia lain
Yang bagiku, entah siapa
Yang bahkan tak kukenali danurnya
Jika bisa
Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
Akan kugali kuburan dalam hatinya
Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
Dalam sebuah peluk dan angan
Akan kubiarkan ia merasuk
Pada tubuh tak berhati
Tak berjiwa itu
Tubuh budak
Peradaban lama
Akan kubiarkan ia merasuk
Panjang rambutnya yang fana
Senyumnya yang binar
Hatinya yang murni
Harus ku kembalikan
Pada
Tubuh
Hidup
Gentayangan
Itu
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Ukir mimpi di balik jemarimu, lalu wujudkanlah.
Ukir kata-kata indah menjadi sebuah sajak, lalu bacakanlah.
Itu suara kalbumu yang menyanyi merdu.
Mengungkapkan suara hatimu penuh syahdu.
Coba lihat burung yang menari, lalu coba lihat hujan.
Mereka bernyanyi, tak ada yang disembunyikan.
Ada suara yang mengatakan,
"Kapan karyamu akan dibaca orang?"
"Mungkin nanti siang."
Tapi, karya itu selalu terasa hilang.
Selalu disembunyikan.
s.g.
Jun 2, 2014
Jun 2, 2014 at 10:51 AM UTC
Hallo
Ku tulis ini untuk rindu
Yg gejolaknya membara selalu
Tak henti henti merayu
Tuk membuat sajak-sajak mendayu
Mau apalagi
Aku tak ingkar hari ini
Sungguh rindu ku rasa kini
Tak penat hati tuk habiskan ini
Sajak bait pun terangkai kini
Dan saat itu pula rasa rindunya semakin menjadi
Dec 1, 2017
Dec 1, 2017 at 7:32 PM UTC
tidak semua yang tak bersajak
tidak layak dipanggil sempurna
karena disetiap penggalan kata nya
ada makna yang selalu disiratkannya
tidak semua yang tak berima
tidak layak dipanggil karya
karena disetiap spasi yang digunakannya
ada hati yang berusaha bicara
Dec 4, 2016
Dec 4, 2016 at 5:34 AM UTC
Disana,
Diantara bisingnya kerumunan kota,
Aku berdiri sejenak,
Mendengar alunan musik mengendus sajak.
Beberapa pasangan mata menoleh,
Menutur, menyinyir,
Mengikuti bayangan dosa lama
Yang telah tenggelam,
Dilahap oleh manisnya senyum
Dan tawa para badut malam.
Lepuh, rasanya.
Lilin-lilin yang menginduk di kulitku kian meletih
Teriak pedih tak kunjung hari
Terhambur sudah harapan palsu ini.
Jan 19, 2018
Jan 19, 2018 at 10:53 AM UTC
ada udara dingin menyeruak kedalam sepi yang tak mau beranjak
dan disini,
saya coba melawan rindu yang sulit jinak
sebab diantara kita terbentang jarak
sembari menulis sajak
May 14, 2018
May 14, 2018 at 5:13 AM UTC
Bersahut
Melontarkan kata
Bukan, ternyata kalimat
Bukan, tapi sajak
Kalau sajak,
Tak tercerminkan keindahan
Seperti nyanyian
Bukan, tak ada nada indah disana
Mempelai pria siap
Si Pitung bajakan muncul
Mempelai wania siap
Bapaknya datang
Hingga
'Aye terima pihak mempelai pria'
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Aku suka kata-kata
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu
tapi bukankah
Seno pernah mengutuk kata-kata karena
mereka sudah terlalu banyak di dunia?*
.kata-kata tak punya makna
apalagi jiwa
kata-kata mudah menguap
sampai kita harus (mengurungnya)
sebelum terevaporasi entah-berentah
tak lagi dipahami!
Apa arti 'kita'
jika kata-kata tak punya makna?
Aku cukup payah
mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku
yang tak selesai kubaca.
Kamu pernah bilang
aku membiusㅡmembisukan
tapi bukankah kata hanya sampai
bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan?
Kata-kata memang tak punya makna
apalagi yang tak tersampaikan
kata-kata mudah dilupakan
meski kamu pandai meramu kata
menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku:
semua terasa getir, aku tak punya selera.
Aku hanya bisa
menelan perasaan penasaran
yang tak kunjung habis.
Hingga aku kepayahan
merapal kata-kata 'kita,'
entah-berentah
Aku belum paham.
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
Semuanya berteriak dalam pikir
Mengutuk diri berulang kali
Menyalahkan atas yang terjadi
Dia menginginkan aku untuk pergi
Tuhan, aku ingin pulang
Rumah di sini tidak senyaman milikmu
Di sini berisik
Aku dicekik berkali-kali
Aku kedinginan
Aku ingin hangat yang menenangkan
Barangkali sajak ini sampai saat tak ada senyum merekah
Tuhan, maaf, aku sudah menyerah
Feb 22, 2025
Feb 22, 2025 at 11:08 AM UTC
Q: What did the nun say at about
midnight?
*A: "I am the Pat Sajak you *****
Feb 11, 2017
Feb 11, 2017 at 1:30 PM UTC
Hai, sudah lama rupanya diri ini tidak mencurahkan segala hal yang ada di kepala nya melalui platform ini..
Karena selama ini aku mempunyai diary berjalanku yang kini sudah berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa
Rupanya, dan ya memang aku kembali menemukan diriku yang berkelut dengan kata demi kata yang berisik di kepala nya
Sebagai bentuk coping mechanism nya aku menuangkan melalui untaian kata, dan mungkin aku mulai menulis lagi? Ntahlah
Aku mulai sajak ini dengan..
Mengisi takdir baik untuk diriku.
19/02/2024
Feb 19, 2024
Feb 19, 2024 at 10:37 AM UTC
tuanku telah meninggal
sudah tak dapat lagi ia ucap
sajak-sajak getir perlawanan atas tuhan
apalagi senandung bintang atas kita
tuanku telah meninggal
sentuhannya dingin
tubuhnya kaku
sajaknya menjadi pisau
dan gurauannya antarkan duka
ia tetap tertawa dalam kematiannya
karena jasadnya dapat terus hidup
sebagai manusia lain
yang bagiku, entah siapa
yang bahkan tak kukenali danurnya
jika bisa
aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya
akan kugali kuburan dalam hatinya
kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan,
dalam sebuah peluk dan angan
akan kubiarkan ia merasuk
pada tubuh tak berhati, tak berjiwa itu
pada tubuh hidup gentayangan itu
Dec 6, 2020
Dec 6, 2020 at 6:24 AM UTC