Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"buku" poems
*Berderap tegap nyaring bersuara Saat pertama ku pajang jakun menutup pundak dan dada **"Universitasku universitas Indonesia. " "Terangkum dalam frasa 'buku pesta dan cinta'"** Sayang hanya dalam nyanyian belaka Isi kisahku hanya buku, tanpa pesta dan cinta Jangan kurang jangan lebih jua Pesta dan cinta punya takar unik pas tuk dicoba Seperti kopi kelebihan kekurangan gula Ada takaran pas 'tuk tiap lidah yg meminta Kisah uiku kisah pesta Pesta merayakan kebahagiaan,  kejayaan,  atau mungkin lepasnya keperjakaan Kisah uiku kisah cinta Cinta teman sebaya,  cinta maba alat pelampiasan atau cinta kakak tingkat kece mempesona Jika kisah uimu belum ada pesta dan cinta Maka jangan paksa diri menyeret kaki lepas dari skripsi dan tugas yang ada **Entah malang atau baik nasib akhir kisahnya Jangan mau lulus jika belum mencoba***
0
Oct 24, 2016
Oct 24, 2016 at 1:09 PM UTC
Pesta dan Cinta dalam Kisah UI-ku
Palembang. 24 Desember 2011 Ku panggil namamu Kamu ucapkan Selamat Tinggal! Aku raih tanganmu Kamu terus berjalan melepaskan genggamanku Aku menghampirimu di bangku taman Kamu beranjak pergi tanpa sepatah kata Ku bawakan buku favorit mu di perpustakaan Kamu malah membeli buku yang sama Kamu bagaikan kenyataan di masa depan Sungguh tak sanggup aku tuk menebakmu Tak mampu aku memenuhi semua kebutuhanmu Kamu pun tak pernah angkat bicara Apa mau mu? Aku terjatuh, kamu diam saja Apa yang ada di pikiranmu? Aku bicara, kamu memalingkan wajah Aku sakit, kamu tak tahu Aku menjauh, kamu mengejarku Aku menghilang, kamu mencariku Oh sayang, aku tak tahu apa mau mu
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:47 AM UTC
Apa Mau Mu
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Palembang, 31 Agustus 2014 Aku ingin segera menjadi dewasa Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa Aku ingin segera wisuda Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku Seseorang yang selalu setia di saat apapun Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu Aku ingin segera mengandung Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang” Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka Aku ingin Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
0
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
Aku Ingin
APA KAU TAK DENGAR ?? Sebuah nyanyian gerakan melingking lurus tajam ke arah penguasa yang menusuk hati rakyat. Para pemuda dan mahasiswa yang berada dalam pusaran arus kerusakan Maka tiada lagi, kita harus melawan ! Disaat buku hanya berada dikantong saku berdebu Disaat pena tak lagi mengeluarkan goresan tajamnya Disaat megaphonemu tak lagi bersuara karena usang Disaat tongsismu membunuh sikap kritis ! Mana raunganmu wahai Pemuda ? Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa ! Apa kau tak dengar ?? Mana raunganmu wahai Pemuda ? Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa ! Apa kau tak dengar ?? Sungguh ibumu tak kan rela melihat dapur rumahnya yang tak lagi mengepul Apa kau tak dengar ?? Sungguh bapakmu tak kan rela melihat kau menderita karena miskin tenaga Apa kau tak dengar ?? Sungguh jalan raya merindukan berbagai aksi aksimu disetiap hentakan langkah kakimu Apa kau tak dengar ?? Sungguh engkau adalah Generasi yang diharapkan ummat Muhammad ! Wahai Mahasiswa.. Kau pembebas dunia Wahai Mahasiswa.. Kau penerus negeri Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah ! ‪#‎RinduPergolakan‬
0
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 12:15 AM UTC
ICMS 2014
*Mata biru tersinggung Ia berputar berkali-kali Bibir berucap tidak nyaring namun pasti Bergetar, konstan Gerak geriknya menandakan ada sesuatu "Hari ini selesai," katanya Aku lega beranjak dari kursi Menatap lukisan mata biru sendu aku merintih Ia menyalang berpihak Katanya ingin mengemongku Nian tak enak hari ini Tidak cukup panas untuk berjemur Juga tak cukup dingin tuk tidur Seakan ini waktu yang sempurna untuk bekerja Enaknya membaca buku atau menyanyikan lagu Namun Tetap saja Kemanapun aku pergi Sejauh apa aku melangkah lukisan mata birulah kian kutuju*
0
Oct 8, 2016
Oct 8, 2016 at 11:43 AM UTC
Lukisan mata biru
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
Tahun lalu kita menyusun rencana Menuliskannya pada setiap lembar catatan Di antara selipan buku laporan Meletakkannya secara berantakan Hingga lupa mana tulisan Mana struk belanjaan Memang benar tolol aku kala itu Membangun cinta di atas rasa penasaran Dan selalu berakhir pada tempat pelarian Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku Untuk hadiah ulang tahunku Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan Setelah lepas habis cerita kau bacakan Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan Hujan kembali berderai dengan ringan Malam pekat angin berhebus tak karuan Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
0
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 7:41 AM UTC
Rencana
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
catatan waktu itu1
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis ----- ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning? lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini baik atau tidak baik seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah tapi aku justru suka dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa setelah itu giliranmu bercerita aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting dan memang benar..... tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya aku mendengarkan -//- waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini dengan lawan bicara yang lain tapi denganmu, aku mengidamkan lebih seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum setelahnya...
Continue reading...
32
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya. Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak. Kami terpingkal, Puan. Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu. Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati, Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami. Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya. Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan. Cemasnya puan ingin dilindungi, Lembutnya puan yang ingin dikasihi, Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi. Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini. Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan. Kami bisa tidur malam ini, Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara. Ah, engkau puan~ Buku pelajaran yang tak ada tamatnya. B_A 10 Mei 2019
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Ah, engkau puan~
Wanita berlapis kerudung Apakah lancang diriku untuk berbincang ? Perasaan yang terus menarik diriku untuk mendekat Pikiran yang terus menahan akan menghormati Apakah yang ada didalam hatimu? Seisi coklat dengan beraneka rasa? Atau Seikat bunga dengan sama warna? Rasa ingin tahu yang sangat besar Membuat diriku ingin memasuki dunia mu Dunia yang mengguncang Namun, tidak banyak yang merasakan Buku - buku yang disusun rapih Namun tidak satupun isinya mengenaimu Bayangan yang selalu hadir di mata Namun tidak ada pelaku bayangan itu Bolehkah diriku mendapatkan kehormatan Untuk masuk dan mempelajari hatimu? Maafkan diriku yang lancang ini Aku hanya ingin tahu tentang seorang putri berkerudung.
0
Oct 16, 2017
Oct 16, 2017 at 8:08 AM UTC
Dirinya.
Hari ini dia datang lagi Dengan gaun kuning tanpa lengan Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya Senyumnya manis sekali "Dasar anak cantik" Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa "Kemana saja kamu selama ini?" Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu Jelas bukan tempat makan favoritku Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini Dipenuhi oleh emosi-emosi semu Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti "Darimana kamu tahu aku ada di sini?" Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku Sial! Pasti dia mengawasi aku "Apa tujuanmu kesini?" Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku Dia masih saja menangis tanpa henti Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya "Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini" Entahlah, enyahlah Aku juga harus beranjak pergi dari sini Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
0
Jan 23, 2021
Jan 23, 2021 at 5:50 AM UTC
Sebuah Paradigma yang Diterima Begitu Saja
Hari ini dia datang lagi Dengan gaun kuning tanpa lengan Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya Senyumnya manis sekali "Dasar anak cantik" Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa "Kemana saja kamu selama ini?" Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu Jelas bukan tempat makan favoritku Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini Dipenuhi oleh emosi-emosi semu Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti "Darimana kamu tahu aku ada di sini?" Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku Sial! Pasti dia mengawasi aku "Apa tujuanmu kesini?" Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku Dia masih saja menangis tanpa henti Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya "Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini" Entahlah, enyahlah Aku juga harus beranjak pergi dari sini Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Continue reading...
32
Matanya yang kalap di kotak menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion. Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati. Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam menunggu henti nyanyian puan nun sumbang berkaca daku yang terpasung, itu di abu letupan yang mencandu hujam asam & melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu. Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap. Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah. Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam / tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram; di garis vertikal di persegi dua dimensi/ hitam pun segitiga/ jajar genjang & semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter /beringin di jiwa.
0
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
menggiling mesin-mesin
hari ini— kuputuskan untuk menghapus namamu dari lembar-lembar buku harian itu berhenti membuat puisi tanpa arti tidak ada lagi intuisi di sini dulu— aku pernah memberimu ruang paling indah dalam hatiku sebuah tempat yang tak pernah kuberi pada lelaki manapun sampai kau datang membawa badai membuatnya luluh lantak hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu aku bisa saja membuat ruang lain untukmu tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah dan aku tak mungkin menyembuhkannya hanya dengan berhenti memikirkanmu jadi, kuputuskan untuk berhenti mencintaimu bukan karena kenangan yang perlahan memudar aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit aku bukannya manyerah aku hanya mencoba bangkit dari ketidakmampuan memilikimu fri, 08/12/17; 04.39am//wib
0
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
Puisi Terakhir
antologi itu adalah aliran air deras dari puncak gunung manakala puisi adalah anak-anak alunan buih lunak di kaki terjunan.
0
Dec 26, 2018
Dec 26, 2018 at 2:26 AM UTC
buku itu
Aku suka kata-kata ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu tapi bukankah Seno pernah mengutuk kata-kata karena mereka sudah terlalu banyak di dunia?* .kata-kata tak punya makna apalagi jiwa kata-kata mudah menguap sampai kita harus (mengurungnya) sebelum terevaporasi entah-berentah tak lagi dipahami! Apa arti 'kita' jika kata-kata tak punya makna? Aku cukup payah mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku yang tak selesai kubaca. Kamu pernah bilang aku membiusㅡmembisukan tapi bukankah kata hanya sampai bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan? Kata-kata memang tak punya makna apalagi yang tak tersampaikan kata-kata mudah dilupakan meski kamu pandai meramu kata menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku: semua terasa getir, aku tak punya selera. Aku hanya bisa menelan perasaan penasaran yang tak kunjung habis. Hingga aku kepayahan merapal kata-kata 'kita,' entah-berentah Aku belum paham.
0
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
padam rasa
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Nama saya perempuan, begitu kata dokter, ulama, pendeta, ayah juga ibu. Nama saya perempuan, maka dari itu sejak kecil saya diajari memasak, mencuci piring, menyapu dan bertingkah lembut gemulai. Sebab katanya perempuan yang tak apik hanya menjadi barang tidak berguna atau orang-orang biasa menyebutnya dengan rongsokan! Mereka ogah, saya pun tersingkir. Nama saya perempuan, sebab saya di dandani bak putri raja, rambut saya dipelihara agar indah menggoda seperti putri-putri raja dalam buku dongeng. Nama saya perempuan, karena itu ia membutuhkan sanggahan lelaki yang akan membuatnya tegak berdiri. Tanpa lelaki ia rapuh, ia akan oleng bagai tertiup angin puyuh. Lagi-lagi “katanya”.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 4:13 AM UTC
Perempuan
Hal terindah yang akan kau kesali Sakit terperih yang akan kau rindui Tragedi yang akan kau ulangi Irama merdu yang akan kau benci Buku suci yang akan kau nistai Dosa besar yang akan kau tekuni Logika yang akan kau tinggali Emosi yang akan kau hamburi
0
Mar 9, 2020
Mar 9, 2020 at 2:26 PM UTC
Apa itu Cinta?
Dik, Pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan? Bukankah ia yang mengantar kita sampai ke ujung toko buku? Ntah sudah berapa buku fiksi yang kini bergelayut dipuncak pikiran Padahal ntah apa yang ingin aku ketahui di dalamnya Mungkin bait? Barangkali juga sesunggukan senyum kecil-kecil yang dibiarkan lepas Maka pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan, Dik? _BA (30 JULI 2018)
0
Dec 14, 2018
Dec 14, 2018 at 3:11 AM UTC
Siklus Oktober
tuan putri paduka rajanya pergi tuan putri buku dongengnya berenti waktunya tidur pergi bermimpi
0
Jul 12, 2017
Jul 12, 2017 at 10:39 AM UTC
Tuan putri
Ia adalah buku folklore berjalan ku Merengek agar dibaca di sela bab tentang romansa sedang tak klimaks Laun entah sudah bab berapa Laun aku mengerti Buku folklore ku akan ke haribaan nya Kesepian di rak nya
0
Sep 4, 2018
Sep 4, 2018 at 8:27 AM UTC
Buku Folklore Ku
Putih disela-sela huruf Mengabur jadi abu Berhambur diantara buku-buku Awan dan guntur menyuarakannya Manusia mengartikannya Menjadi suatu substansi Abadi.
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:29 PM UTC
Amerta
aku ingin lebih banyak lagi, lebih banyak menangis menangis oleh sekeping lagu yang melintas, komidi gambar dengan alur sederhana, buku dengan pancawarna cerita aku ingin lebih banyak lagi, mencecap segala rasa yang tak sempat kuarungi bukankah, seniman begitu hebat?
0
Aug 15, 2022
Aug 15, 2022 at 12:08 AM UTC
Menangis
lepas amarahku buyar ragaku semua kuhantam bagai buku kubaca hatam kaki menggigil bibir pucat apapun yang ku ambil akan ku catat lubang besar dadaku tembus hingga ke pungung apa yang datang padaku semua ku tangung kelakuanmu membuat pikiranku buntu aku dapat apa yang ku mau tapi bukan yang ku butuh memaafkan mu bukan perkara besar bagiku akan ku bayar dengan ragaku melawan laki-lakimu? hal yang paling mudah di hidupku...
0
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 12:31 PM UTC
lepas, amarah