"buku" poems
*Berderap tegap nyaring bersuara
Saat pertama ku pajang jakun menutup pundak dan dada
**"Universitasku universitas Indonesia. "
"Terangkum dalam frasa 'buku pesta dan cinta'"**
Sayang hanya dalam nyanyian belaka
Isi kisahku hanya buku, tanpa pesta dan cinta
Jangan kurang jangan lebih jua
Pesta dan cinta punya takar unik pas tuk dicoba
Seperti kopi kelebihan kekurangan gula
Ada takaran pas 'tuk tiap lidah yg meminta
Kisah uiku kisah pesta
Pesta merayakan kebahagiaan, kejayaan, atau mungkin lepasnya keperjakaan
Kisah uiku kisah cinta
Cinta teman sebaya, cinta maba alat pelampiasan atau cinta kakak tingkat kece mempesona
Jika kisah uimu belum ada pesta dan cinta
Maka jangan paksa diri menyeret kaki lepas dari skripsi dan tugas yang ada
**Entah malang atau baik nasib akhir kisahnya
Jangan mau lulus jika belum mencoba***
Oct 24, 2016
Oct 24, 2016 at 1:09 PM UTC
Palembang. 24 Desember 2011
Ku panggil namamu
Kamu ucapkan Selamat Tinggal!
Aku raih tanganmu
Kamu terus berjalan melepaskan genggamanku
Aku menghampirimu di bangku taman
Kamu beranjak pergi tanpa sepatah kata
Ku bawakan buku favorit mu di perpustakaan
Kamu malah membeli buku yang sama
Kamu bagaikan kenyataan di masa depan
Sungguh tak sanggup aku tuk menebakmu
Tak mampu aku memenuhi semua kebutuhanmu
Kamu pun tak pernah angkat bicara
Apa mau mu?
Aku terjatuh, kamu diam saja
Apa yang ada di pikiranmu?
Aku bicara, kamu memalingkan wajah
Aku sakit, kamu tak tahu
Aku menjauh, kamu mengejarku
Aku menghilang, kamu mencariku
Oh sayang, aku tak tahu apa mau mu
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:47 AM UTC
"Cahaya redup itu umpama semesta alam."
birunya naungan langit fajar
ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun
pada hari itu kau berujar
"Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?"
yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu
gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku
sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara
ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya
"Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?"
pernah
taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban
kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu
sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang
"Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?"
"Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan."
matamu mengerling menerawang memandang langit Juni
apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
"Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham."
jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat
ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan
dalam gelap dalam redup
lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua
"Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku."
diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa
bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya
apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni
apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu?
lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras
seolah tak pernah ingin lepas.
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
Palembang, 31 Agustus 2014
Aku ingin segera menjadi dewasa
Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa
Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa
Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa
Aku ingin segera wisuda
Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba
Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka
Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca
Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku
Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku
Seseorang yang selalu setia di saat apapun
Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu
Aku ingin segera mengandung
Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang”
Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda
Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka
Aku ingin
Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
APA KAU TAK DENGAR ??
Sebuah nyanyian gerakan melingking lurus tajam
ke arah penguasa yang menusuk hati rakyat.
Para pemuda dan mahasiswa yang berada
dalam pusaran arus kerusakan
Maka tiada lagi, kita harus melawan !
Disaat buku hanya berada dikantong saku berdebu
Disaat pena tak lagi mengeluarkan goresan tajamnya
Disaat megaphonemu tak lagi bersuara karena usang
Disaat tongsismu membunuh sikap kritis !
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Mana raunganmu wahai Pemuda ?
Keluarlah dari barak kos dan sekretariatanmu Mahasiswa !
Apa kau tak dengar ??
Sungguh ibumu tak kan rela melihat dapur rumahnya
yang tak lagi mengepul
Apa kau tak dengar ??
Sungguh bapakmu tak kan rela melihat kau
menderita karena miskin tenaga
Apa kau tak dengar ??
Sungguh jalan raya merindukan berbagai aksi aksimu
disetiap hentakan langkah kakimu
Apa kau tak dengar ??
Sungguh engkau adalah Generasi yang diharapkan
ummat Muhammad !
Wahai Mahasiswa.. Kau pembebas dunia
Wahai Mahasiswa.. Kau penerus negeri
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
Wahai Mahasiswa.. Dikepalmu Khilafah !
#RinduPergolakan
Mar 18, 2015
Mar 18, 2015 at 12:15 AM UTC
*Mata biru tersinggung
Ia berputar berkali-kali
Bibir berucap tidak nyaring namun pasti
Bergetar, konstan
Gerak geriknya menandakan ada sesuatu
"Hari ini selesai," katanya
Aku lega beranjak dari kursi
Menatap lukisan mata biru sendu aku merintih
Ia menyalang berpihak
Katanya ingin mengemongku
Nian tak enak hari ini
Tidak cukup panas untuk berjemur
Juga tak cukup dingin tuk tidur
Seakan ini waktu yang sempurna untuk bekerja
Enaknya membaca buku atau menyanyikan lagu
Namun
Tetap saja
Kemanapun aku pergi
Sejauh apa aku melangkah
lukisan mata birulah kian kutuju*
Oct 8, 2016
Oct 8, 2016 at 11:43 AM UTC
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
Tahun lalu kita menyusun rencana
Menuliskannya pada setiap lembar catatan
Di antara selipan buku laporan
Meletakkannya secara berantakan
Hingga lupa mana tulisan
Mana struk belanjaan
Memang benar tolol aku kala itu
Membangun cinta di atas rasa penasaran
Dan selalu berakhir pada tempat pelarian
Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku
Untuk hadiah ulang tahunku
Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan
Setelah lepas habis cerita kau bacakan
Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan
Hujan kembali berderai dengan ringan
Malam pekat angin berhebus tak karuan
Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan
Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 7:41 AM UTC
mungkin akan menjadi cerita ter-lusuh yang pernah aku tulis
-----
ingat ketika aku dan kamu di padang rumput yang menguning?
lalu kita sama-sama terpukau dengan pemandangan di depan mata
waktu itu kita sama-sama tidak berusaha memotretnya
karena masing-masing kita hanya fokus mencari ide untuk memulai percakapan
mungkin saat itu aku sudah terpikir sesuatu untuk aku mulai
tapi lucunya, malah kamu yang memulai percakapan
waktu itu kamu bertanya tentang kehidupanku semester ini
baik atau tidak baik
seperti biasa aku mengumpat, sungguh, tidak baik hidupku satu semester ini
kamu tertawa, entah menertawakan nasibku atau reaksiku
kamu tertawa seakan aku baru saja memberi lelucon terlucu abad ini
mungkin kalau kamu bukan kamu, aku sudah marah
tapi aku justru suka
dan jujur, aku bisa saja bersyukur mempunyai nasib seburuk itu hanya untuk mendengarkanmu tertawa
setelah itu giliranmu bercerita
aku sudah bisa menebak, ceritamu pasti seputar hal yang tidak penting
dan memang benar.....
tapi aku tetap mendengarkan, karena pupil matamu melebar
tanda kamu suka dengan hal yang kamu ceritakan
dan aku suka ketika kamu semangat dalam meceritakannya
aku mendengarkan
-//-
waktu berjalan, obrolan kami mulai masuk dalam topik yang rumit
tentang penciptaan, tentang dunia, tentang alasan kami hidup
biasanya otakku mulai memanas ketika membicarakan hal ini
dengan lawan bicara yang lain
tapi denganmu, aku mengidamkan lebih
seperti perpustakaan yang disinari lampu kuning hangat
dan kutu buku yang tersenyum membaca tumpukan buku harum
setelahnya...
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 11:23 AM UTC
Ditarik, kami diarahkan membaca apapun yang tidak ada penjelasannya.
Dikodratkan harus paham isi kepala makhluk yang hanya sesekali berkata iya dan tidak.
Kami terpingkal, Puan.
Bagaimana tidak?; Kain yang kau gunting sendiri dan pintal dengan rajut sedari subuh sudah cantik--tapi kau merasa kurang, dan kami adalah penyebabnya katamu.
Duduk kami melingkar bersama dengan gelas gelas berisi teh melati,
Hangat membaur aroma kebingungan kaum kami.
Sekali beberapa menit kami terpingkal lagi, berusaha terus membaca setiap halaman kosong dan beberapa titik saja di sudut kiri kanannya.
Tidak ada barang satupun buku yang mengerti keinginan puan.
Cemasnya puan ingin dilindungi,
Lembutnya puan yang ingin dikasihi,
Ah, apalagi tangisan yang tiba-tiba terisak di malam sehabis mimpi.
Tersenyum kami menahan tawa dan kantuk, sembari melihat-lihat wajah puan yang tertunduk mengharap ditanya mengenai hari ini.
Semenit dua menit kami lihat lekat-lekat wajah puan.
Kami bisa tidur malam ini,
Jawaban kebingungan lelaki bukan tertulis pada buku-buku; tapi dua bola mata yang senantiasa banyak bercerita setiap ia duduk hening tanpa berbicara.
Ah, engkau puan~
Buku pelajaran yang tak ada tamatnya.
B_A
10 Mei 2019
May 10, 2019
May 10, 2019 at 12:23 AM UTC
Wanita berlapis kerudung
Apakah lancang diriku untuk berbincang ?
Perasaan yang terus menarik diriku untuk mendekat
Pikiran yang terus menahan akan menghormati
Apakah yang ada didalam hatimu?
Seisi coklat dengan beraneka rasa?
Atau
Seikat bunga dengan sama warna?
Rasa ingin tahu yang sangat besar
Membuat diriku ingin memasuki dunia mu
Dunia yang mengguncang
Namun, tidak banyak yang merasakan
Buku - buku yang disusun rapih
Namun tidak satupun isinya mengenaimu
Bayangan yang selalu hadir di mata
Namun tidak ada pelaku bayangan itu
Bolehkah diriku mendapatkan kehormatan
Untuk masuk dan mempelajari hatimu?
Maafkan diriku yang lancang ini
Aku hanya ingin tahu tentang seorang putri berkerudung.
Oct 16, 2017
Oct 16, 2017 at 8:08 AM UTC
Hari ini dia datang lagi
Dengan gaun kuning tanpa lengan
Rambutnya dibelah dua dan dikepang dengan dua warna karet rambut yang berbeda pada tiap-tiap ujungnya
Senyumnya manis sekali
"Dasar anak cantik"
Dia tersenyum semakin lebar sambil menawarkan aku setangkai balon
Sepertinya balon itu baru saja digelembungkan
Aku menggeseknya dengan kuku yang baru saja kupotong
Aku pikir dia akan mengernyit, entah kenapa dia malah tertawa
"Kemana saja kamu selama ini?"
Tertulis sebuah nama restoran yang kukenal pada balon itu
Jelas bukan tempat makan favoritku
Karena aku tak terlalu antusias saat melihat namanya
Sebuah tempat yang sering didatangi anak bini
Dipenuhi oleh emosi-emosi semu
Hanya untuk terlihat intim—setidaknya bukan tempat untuk anak gadis yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti
"Darimana kamu tahu aku ada di sini?"
Dia memberikan aku kepingan lakban yang ternyata masih tercecer
Saat itu aku memperapikan koleksi buku harian, ya, dengan upaya untuk tidak melihatnya lagi
Supaya aku tak jatuh kepada rasa ingin membaca ulang semua tulisanku
Sial! Pasti dia mengawasi aku
"Apa tujuanmu kesini?"
Air mata berderai dari kedua matanya yang bulat
Seolah akan mengujarkan sesuatu dari mulutnya, dia hanya diam
Mungkin bukan diam, tapi mengoceh dengan kata-kata yang tak dapat kucerna
Kugenggam telapak tangan nya—sungguh kecil dibanding milikku
Dia masih saja menangis tanpa henti
Untuk segala tenggang rasa yang aku tahan kepada anak-anak, kali ini cukup iba rasanya
"Ayo, lah, aku hanya ingin merokok di sini"
Entahlah, enyahlah
Aku juga harus beranjak pergi dari sini
Lapangan tenis kosong yang dihiasi dedaunan repih
Jan 23, 2021
Jan 23, 2021 at 5:50 AM UTC
Matanya yang kalap di kotak
menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion.
Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini
sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati.
Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam
menunggu henti nyanyian puan nun sumbang
berkaca daku yang terpasung, itu di abu
letupan yang mencandu hujam asam &
melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu.
Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap.
Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah.
Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam
/ tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram;
di garis vertikal
di persegi dua dimensi/ hitam
pun segitiga/ jajar genjang
& semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada
di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter
/beringin di jiwa.
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
hari ini—
kuputuskan untuk menghapus namamu
dari lembar-lembar buku harian itu
berhenti membuat puisi tanpa arti
tidak ada lagi intuisi di sini
dulu—
aku pernah memberimu ruang paling indah
dalam hatiku
sebuah tempat yang tak pernah kuberi
pada lelaki manapun
sampai kau datang membawa badai
membuatnya luluh lantak
hingga tak ada lagi tersisa tempat untukmu
aku bisa saja membuat ruang lain untukmu
tapi aku tau kau tak akan lagi singgah di dalamnya
lagi pula, aku sudah terlanjur berdarah
dan aku tak mungkin menyembuhkannya
hanya dengan berhenti memikirkanmu
jadi,
kuputuskan untuk berhenti mencintaimu
bukan karena kenangan yang perlahan memudar
aku hanya berusaha terlepas dari rasa sakit
aku bukannya manyerah
aku hanya mencoba bangkit
dari ketidakmampuan memilikimu
fri, 08/12/17; 04.39am//wib
Dec 7, 2017
Dec 7, 2017 at 4:40 PM UTC
antologi itu
adalah
aliran
air deras
dari puncak
gunung
manakala
puisi
adalah
anak-anak
alunan
buih lunak
di kaki
terjunan.
Dec 26, 2018
Dec 26, 2018 at 2:26 AM UTC
Aku suka kata-kata
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu
tapi bukankah
Seno pernah mengutuk kata-kata karena
mereka sudah terlalu banyak di dunia?*
.kata-kata tak punya makna
apalagi jiwa
kata-kata mudah menguap
sampai kita harus (mengurungnya)
sebelum terevaporasi entah-berentah
tak lagi dipahami!
Apa arti 'kita'
jika kata-kata tak punya makna?
Aku cukup payah
mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku
yang tak selesai kubaca.
Kamu pernah bilang
aku membiusㅡmembisukan
tapi bukankah kata hanya sampai
bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan?
Kata-kata memang tak punya makna
apalagi yang tak tersampaikan
kata-kata mudah dilupakan
meski kamu pandai meramu kata
menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku:
semua terasa getir, aku tak punya selera.
Aku hanya bisa
menelan perasaan penasaran
yang tak kunjung habis.
Hingga aku kepayahan
merapal kata-kata 'kita,'
entah-berentah
Aku belum paham.
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman.
Kadang sendiri, kadang bersama kawan.
Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa.
"Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman.
Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan.
Luka bekas sayatan menganga lebar di dada.
Ia bermandikan darah dan air mata.
Gadis kecil berpipi bulat terkesima.
"Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran.
Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas.
Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya.
"Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?"
Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan.
Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap.
Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.
Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya.
[Jakarta, 17 Juni 2019.]
_________
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka.
Tuan Singa pandai bersandiwara!
Sesekali tertawa di selipan duka.
Gadis kecil berpipi bulat melihat.
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan.
Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa.
Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa.
Gadis kecil berpipi bulat terdiam.
"Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa.
Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau.
Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur.
"Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya.
Selamat tidur dan bermimpi.
Semoga mimpi malam ini indah."
Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas.
[ Jakarta, 22 Juni 2019 ]
——
Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak.
Gawat.
Raja hutan mempermainkan teka-tekinya.
Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri.
“Tuan singa. Tuan singa.
Apa yang tuan inginkan?
Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?”
[5 Agustus 2019]
——
Raja Singa sedang terluka.
Ia gelisah.
Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati.
Atau,
bukan dia, yang sang raja cari ?
[19 September 2019]
____
Cukup.
Waktunya telah tiba.
Gadis kecil berpipi bulat harus pergi.
Semoga kamu bisa tidur.
[04 Oktober 2019]
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Nama saya perempuan, begitu kata dokter, ulama, pendeta, ayah juga ibu.
Nama saya perempuan, maka dari itu sejak kecil saya diajari memasak, mencuci piring, menyapu dan bertingkah lembut gemulai. Sebab katanya perempuan yang tak apik hanya menjadi barang tidak berguna atau orang-orang biasa menyebutnya dengan rongsokan!
Mereka ogah, saya pun tersingkir.
Nama saya perempuan, sebab saya di dandani bak putri raja, rambut saya dipelihara agar indah menggoda seperti putri-putri raja dalam buku dongeng.
Nama saya perempuan, karena itu ia membutuhkan sanggahan lelaki yang akan membuatnya tegak berdiri.
Tanpa lelaki ia rapuh, ia akan oleng bagai tertiup angin puyuh. Lagi-lagi “katanya”.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 4:13 AM UTC
Hal terindah yang akan kau kesali
Sakit terperih yang akan kau rindui
Tragedi yang akan kau ulangi
Irama merdu yang akan kau benci
Buku suci yang akan kau nistai
Dosa besar yang akan kau tekuni
Logika yang akan kau tinggali
Emosi yang akan kau hamburi
Mar 9, 2020
Mar 9, 2020 at 2:26 PM UTC
Dik, Pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan?
Bukankah ia yang mengantar kita sampai ke ujung toko buku?
Ntah sudah berapa buku fiksi yang kini bergelayut dipuncak pikiran
Padahal ntah apa yang ingin aku ketahui di dalamnya
Mungkin bait?
Barangkali juga sesunggukan senyum kecil-kecil yang dibiarkan lepas
Maka pada bagian mana Oktober tidak menyenangkan, Dik?
_BA (30 JULI 2018)
Dec 14, 2018
Dec 14, 2018 at 3:11 AM UTC
tuan putri
paduka rajanya pergi
tuan putri
buku dongengnya berenti
waktunya tidur
pergi bermimpi
Jul 12, 2017
Jul 12, 2017 at 10:39 AM UTC
Ia adalah buku folklore berjalan ku
Merengek agar dibaca di sela bab tentang romansa sedang tak klimaks
Laun entah sudah bab berapa
Laun aku mengerti
Buku folklore ku akan ke haribaan nya
Kesepian di rak nya
Sep 4, 2018
Sep 4, 2018 at 8:27 AM UTC
Putih disela-sela huruf
Mengabur jadi abu
Berhambur diantara buku-buku
Awan dan guntur menyuarakannya
Manusia mengartikannya
Menjadi suatu substansi
Abadi.
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:29 PM UTC
aku ingin lebih banyak lagi,
lebih banyak menangis
menangis oleh sekeping lagu yang melintas,
komidi gambar dengan alur sederhana,
buku dengan pancawarna cerita
aku ingin lebih banyak lagi,
mencecap segala rasa yang tak sempat kuarungi
bukankah,
seniman begitu hebat?
Aug 15, 2022
Aug 15, 2022 at 12:08 AM UTC
lepas amarahku
buyar ragaku
semua kuhantam
bagai buku kubaca hatam
kaki menggigil
bibir pucat
apapun yang ku ambil
akan ku catat
lubang besar dadaku
tembus hingga ke pungung
apa yang datang padaku
semua ku tangung
kelakuanmu
membuat pikiranku buntu
aku dapat apa yang ku mau
tapi bukan yang ku butuh
memaafkan mu
bukan perkara besar bagiku
akan ku bayar dengan ragaku
melawan laki-lakimu? hal yang paling mudah di hidupku...
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 12:31 PM UTC