"bau" poems
Palembang, 11 Januari 2015
Aku jatuh cinta lagi
Benarkah ini cinta?
Mengapa rasanya begitu berbeda?
Tak ada rasa takut saat aku menatap matanya
Tak ada rasa sungkan untuk menyentuh kulitnya
Dan aku sangat menyukai bau tubuhnya
Aku suka bersandar di punggungnya
Menyandarkan keningku di tengkuknya
Memainkan jemariku menyentuh punggungnya
Mencium aroma parfumnya
Aku suka berjalan di belakangnya, menunduk
Memandangi langkah kakinya ketika berjalan
Sangat lebar dari langkah kakiku
Aku tak mampu menyusulnya
Di saat seperti itu aku membutuhkan tangannya
Tuk menggenggam tanganku
Menuntunku tuk berada di sampingnya
Agar aku tidak tertinggal
Apa benar aku mencintainya?
Tapi tunggu dulu
Apa itu cinta?
Bagaimana rasanya mencintai seseorang?
Apa yang akan aku lakukan ketika mencintai seseorang?
Inikah cinta?
Jan 10, 2015
Jan 10, 2015 at 12:34 PM UTC
Kala malam tampakkan luka
Terlapis kasih, beringsut malu
Ia terbakar gugur lebur
Dan tidak termaafkan
Sesap tangismu sendiri,
Relung jiwa telah berkeluh
Sembahyang doakan maut
Akan pilu cinta dursilamu
Dengarlah tembang petaka
Perlahan menggoda luhur
Gapai lika-liku serapahnya
Dan kenakan sebagai selambu senja kini
Jika malaikat merasuk pada
Sekuntum bunga di pelupuk mata
Rimba ruak ini tak akan lebih
Besar dibanding seuntai rindu durjana
Maka dengan itu,
Akan kuajak berpesta pora
Sedu-sedan iblismu
Di taman mahakama bersimbah dosa
Lepaskan genggaman tangan itu
Dari lentera di sunyi gulita
Karena sinarnya yang rupawan
Telah meleleh dalam lumrah darah getir
Ikutlah denganku,
Kita kan menari semalam suntuk
Sampai yang tercium dalam hati
Hanya bau anyir perpisahan
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Palembang, 24 November 2013
Suara itu
Suara yang tak terdengar, suara yang membeku
Menyentuh dalam kalbu
Miris, suara itu
Bau itu
Bau yang tak tercium, bau yang melebur
Menyayat hatiku
Kasihan bau itu
Pandangan itu
Pandangan yang terpaku, hanya diam membisu
Mengabaikanku
Tak menoleh sedikitpun
Sentuhan itu
Senyuhan palsu, yang tak tersentuh
Memukulku, di sini
Di arah sini, dekat hatiku
Pikiran ini
Pikiranku, yang tak berujung
Memikirkanmu
Membuat aku ragu
Nov 24, 2013
Nov 24, 2013 at 10:15 AM UTC
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya.
Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman.
Serreh, 2017
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
rasa-rasanya sudah mati,
namun raga tetap berwujud,
jika sudah mati kenapa tidak dikubur jauh-jauh?
kenapa malah menyiksa manusia lain dengan jiwa yang sudah mati dan membusuk hingga menusuk dan menyakitkan hidung orang lain dengan bau busuk?
sekarang kami yang perlahan mati dengan bau busuk kalian,
lalu,
salah siapa jika kita semua mati?
lalu,
siapa yang akan mengubur kita jauh-jauh?
Jan 16, 2019
Jan 16, 2019 at 8:57 AM UTC
The Black Queen of
The Hacker Scene
Blood Goth Style
And Silent Screams
Her Coding Skills
Were yet Unseen
Many were 'pwned'
By her Data Schemes
'Til she tried to crack
The Encrytion on the
Pentagons firewall
It was Her Down Fall
She got the Option
Prison Time or
Work for them
Fighting this crime
She ended up meeting
Darren who was her
Carmel Candy Joy
Their chats dripped with Cloy
She started with the FBI BAU
Cracking info and Flirts with Darren
She tracked signals world wide
Till the IP was Enprisoned
Cracking Data to Criminal Minds
What ever they ask she can find
And she's anticipated like a digital
Reader of Minds, A Fashion Fatale'
Bright pink Pigtails and
Blue Cats Eyed Glasses
With Glitter Lashes
She's a Digital Data Diva
All the Work here is licensed under the Name
®SilverSilkenTongue and the © Property of J.Flack
Apr 4, 2015
Apr 4, 2015 at 7:11 PM UTC
Rumah joglo di tengah sawah.
Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini.
Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki.
Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu.
Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka.
Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur.
Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu.
Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya.
Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu.
Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana.
Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang.
Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku.
Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu.
Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi.
Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan.
Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya.
Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak.
Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung.
Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing.
Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah.
Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega.
Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada.
Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit.
“Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
☆
silver
tinsel wrap
ped around the
christmas tree in the
living room and glass bau
bles hanging from the branch
es with white lights woven in be
tween such a soothing sight to see as
i start my early morning with some pepp
ermint coffee and i just love these december
days
with
the
tree
Dec 3, 2019
Dec 3, 2019 at 10:33 PM UTC
Di negara mana, negara mana yang rakyat kecilnya menyumbang tanpa imbalan! sedangkan ia saja menahan lapar, haus, terik & dingin. Tak beratap, tak berselimut.
Begitu tulus hatinya, begitu besar harapannya utk kemajuan bangsa & negrinya, hingga-hingga mereka lupa istri & anaknya tak makan hari ini.
Wakil rakyat bau amis! kau suruh kami memilih, kau janjikan kami surga. Kau hadirkan kami neraka. Dasar pengecut Tak tahu malu, tak tahu diri, penjilat berlidah iblis, mati kau di hantui dendam.
Jun 24, 2021
Jun 24, 2021 at 12:28 PM UTC
o tut de lun u zgiqbu
je dza sua *** kai zgilen tak te zon
i qdu qe xek nau tepzi tek o ***
je zuk bau *** nau zal po sli de ple
i sli bau *** xai daltep. i nefu lo sinpok
je plo qe txitup le za xak de zok.
i lan lo xilpok sondal xle de papkin gu
ke xel de lit pe sin je dzo le kai papkit
fi no vol fai dan pe xil. i nak lo lupko
pe qippli kai ben je sku le zgi fi zetfu
peu tu lot pe lia gelúp. i xek ne lutnik
sku de qak xik je xnukek le kai xta
i lutfu peu zanxo je pindal qe xne peu luttak
je sik le po zan do ple de notlen
vou nau zal do ple de pel. i lan lo vipnik
je xle le *** sai xel de txixo bon
i kul lia lot je bel lia xnu pe gul
i xel le sui kep ze skuxo bon qe sin
je slizuk le fi ti. i xen o liofu
e xalzen xle de nokfuk pap
i vit le so fo tul je xle le kin
je zni sai dal lia *** gexpá qe lal
za lia qla xal je lia takson dqi qe dal zoi
xen go zno e son pe sin je ***
go e pe zgitul kon. i nak to del
ke fin de skuxo xik qe xel de ske
i zno po sinpokfu je qdu do sua ke bon
i sak xto i sak lot i sak ska i sak zat
Jan 31, 2024
Jan 31, 2024 at 2:26 PM UTC