Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"utara" poems
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji" Ke utara, selatan kau ikut kata kau, asal ada aku ada kau. Ada waktu naluri wanitaku meragui setiap kata yang menari di belahan mulutmu. Namun apalah daya kerak nasi berlawan dengan air. Dan saat aku membuka seluas-luasnya pintu kau jadi penghuni setia untuk sementara. Sehingga tiba satu ketika langkah kakimu dihayun menapak keluar dari ruang yang kau huni ini Ingatlah bukan aku yang menjemput kau menghuni ruang ini dan bukan aku juga lah yang menghambat kau pergi.
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Menabur Garam ke Luka
Ya Langit ini terlalu indah untuk dilihat saja Tanah ini terlalu luas sebagai sebuah pijakan Bisakah aku melihat sisi langit lainnya? Bisakah aku mengenal sudut pijakan lainnya? Aku juga ingin bertemu dengan senja di langit utara Apalagi saat fajar mengintip di langit selatan Aku tidak dari timur Ataupun barat Aku ditengah. Ditengah tengah kebingungan Aku hanya ingin mengenal tanah di sudut barat daya Di sisi tenggara Menyapa tanaman dan makhluk hidup lainnya Salahkah aku? Aku hanya makhluk yang serba ingin tahu Tolong, jelaskan padaku mengapa ini salah Mengapa ini dilarang?! Aku juga ingin menikmati sinar sang surya dari sisi yang berbeda Apakah aku terhukum? Aku bukan peminta Apalagi pengemis Tapi kali ini, bisakah kau jelaskan padaku? Apa? Mengapa?
0
Nov 7, 2018
Nov 7, 2018 at 12:35 PM UTC
Mohonku
[Untukmu di Langkawi, 26 Jun 2018] Beratus-ratus retakan kaca tidakkan pernah imbang neraca betapa berat hatiku menunggu detik-detik tak berpenghujung beribu-ribu detakan hati takkan pernah akan ku lari biar Bukowski dengan kebuntuan biar Rimbaud dengan ketidaktentuan akan hanya ada dirimu dalam laci yang penuh dengan kepastian. Berbatu-batu kau ke utara begitulah rasa ini terawang-awang di udara.
0
Jun 27, 2018
Jun 27, 2018 at 7:21 AM UTC
Penuh Kepastian
Ibarat bintang, mungkin kau adalah polaris bagiku. Sang petunjuk arah, kala aku sedang tersesat. Sebagai pelipur lara akan harapan dan impian yang telah tergerus keadaan. Bagiku, polaris juga sebuah tuntutan untuk mencapai impian dan harapan yang masih tersisa. Namun, polaris tidak selamanya akan jadi bintang utara. Akan ada masanya, kau digantikan oleh bintang bintang yang lain. Aku terlalu terhanyut dalam pesona mu. Hingga aku lupa, tidak akan ada yang abadi. Bahkan polaris sekalipun.
0
Nov 20, 2018
Nov 20, 2018 at 3:36 AM UTC
Polaris
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati. Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu. Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
0
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC
Sudah
Biar rintik tangis langit membawa ceritaku ke awan dan dijatuhkannya di depan matamu. Sampai basah tersimpan pada kelamnya aspal Gudang Utara malam ini. Sudah berendam pada firman-firman Bapa, untuk pudarkan namamu dari jiwaku. Pikiranku bulat, doaku tegak. Jadi, sampai disini saja pementasanmu, kamu bukan lagi lakon utama ataupun lakon pendukung ceritaku. Koper ini kutinggalkan, terlalu lelah pundakku menanggung beban pikiran atas kemungkinan yang fana. Biar bumi berkisah tentang kekosongan yang pernah tak kupahami. Memoriku telah lalu, kini terisi dengan yang baru.
0
Mar 6, 2020
Mar 6, 2020 at 10:46 AM UTC
Baggage.