Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pria" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Senja
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Continue reading...
4
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
0
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Berdansa Lagu Sedih
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
Continue reading...
31
Jakarta, Senin 14 Mei 2007 Seorang pria diciptaka hanya untuk seorang wanita Seorang wanita diciptakan hanya untuk pria Ketika mereka bertemu satu sama lain Akan tumbuh benih-benih cinta Mereka pun tak akan terpisahkan Cinta sejati tumbuh dalam cinta mereka Ketika badai cinta mengancam Mereka terpental jauh dengan terpisah Dengan kekuatan Cinta Sejati Mereka pun bersatu kembali Sambil berkata: Cinta Sejati
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:47 AM UTC
Cinta Sejati
Awal malam lewat sarapan     Lewat pagi mengawal diri Kata bujang tiada harapan     Namun cinta cuma mencuri Kayak ikan, sambal ditumis     Tebang kaktus tetap berduri Sakit hati, pria berkumis     Minah KL mana peduli
0
Feb 2, 2023
Feb 2, 2023 at 5:19 PM UTC
Pikiran Subuh
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Di suatu tempat, di suatu hari Kini ku beranjak dewasa Dan malam ini aku berfikir Hormonku telah mencapai puncak Aku butuh bercinta Ya... memang gila diriku ini Tapi... aku benar-benar dan sangat ingin Ku butuh pelukan seorang pria Di setiap malamku yang dingin Ku butuh ciuman mesranya Untuk menghangatkan tubuh ini Adakah pangeran yang mau melakukannya untukku? Setiap malam aku kesepian Hanya bermimpi... Bercumbu dengan bayangannya Memeluknya... menciumnya Begitu mesra menyentuh jiwa Gila! Gila! Gila! Memang gila fikiranku ini Tapi tak bisa ku hindari Saat nafsu ini melumuri jiwaku Pikiranku... dan cintaku Begitu jauh...rumah pangeranku Tak sanggup sendiri aku ke sana Sekali lagi... Pelukan... Sentuhan... Kecupan... Dan saat-saat bercintalah yang akan ku tunggu Hingga sang pangeran tiba
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:28 AM UTC
Di Suatu Tempat, Di Suatu Hari
Jakarta, 28 Mei 2009 Suatu malam aku gelisah Menunggunya tuk hadir di sini Dia yang sangat ku cinta Pangeran dari Kerajaan Inggris Ya Tuhan Maafkanlah aku Aku t’lah mencintai orang yang salah Tolong bangunkan aku Aku diam seribu bahasa Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!” Lalu ku lihat seorang pria Berdiri di depanku “Ya Tuhan, aku bermimpi lagi” Dia menyentuh tanganku Sekali lagi... “Ya Tuhan, ini nyata!” Aku memeluknya Dan kemudian aku benar-benar sadar Inilah kenyataannya Pangeran dari Kerajaan Inggris
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
Pangeran Dari Kerajaan Inggris
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI ISTRIMU... Ijinkan dia berdakwah... Berkumpul dengan akhwat seperjuangan.... Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu... Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu... Banyak suami salah prioritas... Istrinya boleh bekerja di luar rumah... Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang ekonomi keluarga... Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana... Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk ngaji, TIDAK BOLEH? Jangan egois, wahai saudaraku.. Suami memang punya "hak veto" dalam rumah tangga... Keputusannya adalah kewajiban istri mentaatinya... Larangannya adalah keharusan istri meninggalkannya... Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam PRIORITAS YANG BENAR... Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita... Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah... Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia bisa leluasa bergerak... Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu dengannya... Tapi, percayalah ini hanya sementara... Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan yang tercinta... Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus bergembira... ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ "Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". (QS. Az-Zukhruf, 43: 70) ‪#‎women‬ and sharia
0
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Ya Akhi
Jakarta, 25 April 2009 Kampung halamanku Di mana tempatku dilahirkan Di pagi hari di bulan Mei Tanggal 20 tahun 1995 Aku diberi nama Erika Ku dibesarkan Sampai aku berumur 7 tahun, aku pindah ke Ibu Kota Dengan keluargaku Ayah, Ibu, dan adik-adikku Aku tumbuh menjadi seorang remaja Dan mulai merasakan jatuh cinta Jatuh cinta pada seorang remaja pria di sekolah Dia sangat hebat dan pintar Dia adalah motivatorku Tuk meraih semua mimpiku
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:48 PM UTC
Mimpi Ku
Tik tok tik tok Suara jarum jam menggema dalam ruangan kosong tanpa makna Menggerogoti memori memori lampau Menghadirkan sebuah kenangan Tik tok tik tok Sunyi, sepi tanpa kehadiranmu Senyumanmu Kerinduanku Menjalar disetiap nadiku Tik tok tik tok Engkau pria ku Tegakah kau membuatku menunggu Menunggu hal yang tak pasti Bagai matahari dan bulan yang berdampingan Tik tok tik tok Bahkan eksistensimu melebihi suara jarum jam Yang selalu menggema direlung hati ku Yang bahkan kosong melompong Tik tik tik tik Kini tak terdengar lagi Jarum jam sudah lelah Waktu sia sia Terkelupas bersamaan dengan hujan yang membasahi hati
0
Jan 26, 2017
Jan 26, 2017 at 5:31 AM UTC
Tik Tok
V Per certo i bei vostr’occhi Donna mia Esser non puo che non fian lo mio sole Si mi percuoton forte, come ci suole Per l’arene di Libia chi s’invia, Mentre un caldo vapor (ne senti pria) Da quel lato si spinge ove mi duole, Che forsi amanti nelle lor parole Chiaman sospir; io non so che si sia: Parte rinchiusa, e turbida si cela Scosso mi il petto, e poi n’uscendo poco Quivi d’ attorno o s’agghiaccia, o s’ingiela; Ma quanto a gli occhi giunge a trovar loco Tutte le notti a me suol far piovose Finche mia Alba rivien colma di rose.
0
1.9k
Sonnet 05
Bersahut Melontarkan kata Bukan, ternyata kalimat Bukan, tapi sajak Kalau sajak, Tak tercerminkan keindahan Seperti nyanyian Bukan, tak ada nada indah disana Mempelai pria siap Si Pitung bajakan muncul Mempelai wania siap Bapaknya datang Hingga 'Aye terima pihak mempelai pria'
0
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Gurindam
Silvia, rimembri ancora quel tempo della tua vita mortale, quando beltà splendea negli occhi tuoi ridenti e fuggitivi, e tu, lieta e pensosa, il limitare di gioventù salivi? Sonavan le quiete stanze, e le vie dintorno, al tuo perpetuo canto, allor che all'opre femminili intenta sedevi, assai contenta di quel vago avvenir che in mente avevi. Era il maggio odoroso: e tu solevi così menare il giorno. Io gli studi leggiadri talor lasciando e le sudate carte, ove il tempo mio primo e di me si spendea la miglior parte, d'in su i veroni del paterno ostello porgea gli orecchi al suon della tua voce, ed alla man veloce che percorrea la faticosa tela. Mirava il ciel sereno, le vie dorate e gli orti, e quinci il mar da lungi, e quindi il monte. Lingua mortal non dice quel ch'io sentiva in seno. Che pensieri soavi, che speranze, che cori, o Silvia mia! Quale allor ci apparia la vita umana e il fato! Quando sovviemmi di cotanta speme, un affetto mi preme acerbo e sconsolato, e tornami a doler di mia sventura. O natura, o natura, perché non rendi poi quel che prometti allor? Perché di tanto inganni i figli tuoi? Tu pria che l'erbe inaridisse il verno, da chiuso morbo combattuta e vinta, perivi, o tenerella. E non vedevi il fior degli anni tuoi; non ti molceva il core la dolce lode or delle negre chiome, or degli sguardi innamorati e schivi; né teco le compagne ai dì festivi ragionavan d'amore. Anche peria tra poco la speranza mia dolce: agli anni miei anche negaro i fati la giovanezza. Ahi come, come passata sei, cara compagna dell'età mia nova, mia lacrimata speme! Questo è quel mondo? Questi i diletti, l'amor, l'opre, gli eventi onde cotanto ragionammo insieme? Questa la sorte dell'umane genti? All'apparir del vero tu, misera, cadesti: e con la mano la fredda morte ed una tomba ignuda mostravi di lontano.
0
1.6k
A Silvia
Silvia, rimembri ancora quel tempo della tua vita mortale, quando beltà splendea negli occhi tuoi ridenti e fuggitivi, e tu, lieta e pensosa, il limitare di gioventù salivi? Sonavan le quiete stanze, e le vie dintorno, al tuo perpetuo canto, allor che all'opre femminili intenta sedevi, assai contenta di quel vago avvenir che in mente avevi. Era il maggio odoroso: e tu solevi così menare il giorno. Io gli studi leggiadri talor lasciando e le sudate carte, ove il tempo mio primo e di me si spendea la miglior parte, d'in su i veroni del paterno ostello porgea gli orecchi al suon della tua voce, ed alla man veloce che percorrea la faticosa tela. Mirava il ciel sereno, le vie dorate e gli orti, e quinci il mar da lungi, e quindi il monte. Lingua mortal non dice quel ch'io sentiva in seno. Che pensieri soavi, che speranze, che cori, o Silvia mia! Quale allor ci apparia la vita umana e il fato! Quando sovviemmi di cotanta speme, un affetto mi preme acerbo e sconsolato, e tornami a doler di mia sventura. O natura, o natura, perché non rendi poi quel che prometti allor? Perché di tanto inganni i figli tuoi? Tu pria che l'erbe inaridisse il verno, da chiuso morbo combattuta e vinta, perivi, o tenerella. E non vedevi il fior degli anni tuoi; non ti molceva il core la dolce lode or delle negre chiome, or degli sguardi innamorati e schivi; né teco le compagne ai dì festivi ragionavan d'amore. Anche peria tra poco la speranza mia dolce: agli anni miei anche negaro i fati la giovanezza. Ahi come, come passata sei, cara compagna dell'età mia nova, mia lacrimata speme! Questo è quel mondo? Questi i diletti, l'amor, l'opre, gli eventi onde cotanto ragionammo insieme? Questa la sorte dell'umane genti? All'apparir del vero tu, misera, cadesti: e con la mano la fredda morte ed una tomba ignuda mostravi di lontano.
Continue reading...
63
Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria berdasi merah Yang mencintai perempuan berambut coklat Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria bertopi hitam Yang hanya ingin merasakan cinta Aku bukanlah siapa-siapa Hanya seorang pria menyedihkan Yang masih terjebak masa lalu kelam Aku bukanlah siapa-siapa, Hanya seorang pria yang masih mencintaimu Yang tidak akan pernah bisa melupakanmu
0
Sep 10, 2018
Sep 10, 2018 at 12:29 PM UTC
Aku bukanlah siapa-siapa
Palembang, 27 Maret 2017 Aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta Jatuh cinta pada seorang Pria
0
Mar 27, 2017
Mar 27, 2017 at 12:01 AM UTC
Aku Lupa Bagaimana Rasanya Jatuh Cinta
Quale in notte solinga sovra campagne inargentate ed acque, là 've zefiro aleggia, e mille vaghi aspetti e ingannevoli obbietti fingon l'ombre lontane infra l'onde tranquille e rami e siepi e collinette e ville; giunta al confin del cielo, dietro Appennino od Alpe, o del Tirreno nell'infinito seno scende la luna; e si scolora il mondo; spariscon l'ombre, ed una oscurità la valle e il monte imbruna; orba la notte resta, e cantando con mesta melodia, l'estremo albor della fuggente luce, che dinanzi gli fu duce, saluta il carrettier dalla sua via; tal si dilegua, e tale lascia l'età mortale la giovinezza. In fuga van l'ombre e le sembianze dei dilettosi inganni; e vengon meno le lontane speranze, ove s'appoggia la mortal natura. Abbandonata, oscura resta la vita. In lei porgendo il guardo, cerca il confuso viatore invano del cammin lungo che avanzar si sente meta o ragione; e vede ch'a sé l'umana sede, esso a lei veramente è fatto estrano. Troppo felice e lieta nostra misera sorte parve lassù, se il giovanile stato, dove ogni ben di mille pene è frutto, durasse tutto della vita il corso. Troppo mite decreto quel che sentenzia ogni animale a morte, s'anco mezza la via lor non si desse in pria della terribil morte assai più dura. D'intelletti immortali degno trovato, estremo di tutti i mali, ritrovar gli eterni la vacchiezza, ove fosse incolume il desio, la speme estinta, secche le fonti del piacer, le pene maggiori sempre, e non più dato il bene. Voi, collinette e piagge, caduto lo splendor che all'occidente inargentava della notte il velo, orfane ancor gran tempo non resterete: che dall'altra parte tosto vedrete il cielo imbiancar novamente, e sorger l'alba: alla qual poscia seguitando il sole, e folgorando intorno con le sue fiamme possenti, di lucidi torrenti inonderà con voi gli eterei campi. Ma la vita mortal, poi che la bella giovinezza sparì, non si colora d'altra luce giammai, né d'altra aurora. Vedova è insino al fine; ed alla notte che l'altre etadi oscura, segno poser gli Dei la sepoltura.
0
1.2k
Il tramonto della luna
Quale in notte solinga sovra campagne inargentate ed acque, là 've zefiro aleggia, e mille vaghi aspetti e ingannevoli obbietti fingon l'ombre lontane infra l'onde tranquille e rami e siepi e collinette e ville; giunta al confin del cielo, dietro Appennino od Alpe, o del Tirreno nell'infinito seno scende la luna; e si scolora il mondo; spariscon l'ombre, ed una oscurità la valle e il monte imbruna; orba la notte resta, e cantando con mesta melodia, l'estremo albor della fuggente luce, che dinanzi gli fu duce, saluta il carrettier dalla sua via; tal si dilegua, e tale lascia l'età mortale la giovinezza. In fuga van l'ombre e le sembianze dei dilettosi inganni; e vengon meno le lontane speranze, ove s'appoggia la mortal natura. Abbandonata, oscura resta la vita. In lei porgendo il guardo, cerca il confuso viatore invano del cammin lungo che avanzar si sente meta o ragione; e vede ch'a sé l'umana sede, esso a lei veramente è fatto estrano. Troppo felice e lieta nostra misera sorte parve lassù, se il giovanile stato, dove ogni ben di mille pene è frutto, durasse tutto della vita il corso. Troppo mite decreto quel che sentenzia ogni animale a morte, s'anco mezza la via lor non si desse in pria della terribil morte assai più dura. D'intelletti immortali degno trovato, estremo di tutti i mali, ritrovar gli eterni la vacchiezza, ove fosse incolume il desio, la speme estinta, secche le fonti del piacer, le pene maggiori sempre, e non più dato il bene. Voi, collinette e piagge, caduto lo splendor che all'occidente inargentava della notte il velo, orfane ancor gran tempo non resterete: che dall'altra parte tosto vedrete il cielo imbiancar novamente, e sorger l'alba: alla qual poscia seguitando il sole, e folgorando intorno con le sue fiamme possenti, di lucidi torrenti inonderà con voi gli eterei campi. Ma la vita mortal, poi che la bella giovinezza sparì, non si colora d'altra luce giammai, né d'altra aurora. Vedova è insino al fine; ed alla notte che l'altre etadi oscura, segno poser gli Dei la sepoltura.
Continue reading...
68
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku, kemana masa depan membawaku? sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi ini hanya untuk sementara. aku tahu impian ini cukup besar, maka perkecil ekspetasi akan hal itu tentang menjadi ayah yang baik rumah yang luas dan nyaman, kacamata coklat gagang yang patah, itu tidak bertahan selamanya. Aku keras seperti batu tebing, aku melihat daun yang layu hingga mekar mudah percaya dan naif tentang banyak hal, banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan. dihantui perasaan kehilangan berlebihan dan perasaan bersalah tentang banyak hal, dan aku benci film romance yang berkendara di tepi pantai, anak kecil yang nakal, berita hoax, kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras, sate yang belum matang, semut, dan wanita yang menari di tempat umum, tabel - tabel membuatku bingung, drama tentang pria ideal juga membuatku muak, Netanyahu keparat dan pembunuh. 2025 reydmh
0
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Dari kekacauan sampai {KEDAMAIAN}
Trotoar yang basah karena es yang mencair, Ungkapan penyesalan beserta cacian terlontarkan. Seseorang memilih hidup di masa lalu, Seseorang yang ingin merubah semuanya, Seseorang yang ingin mencari tujuan, Kita semua punya dosa masing-masing bukan "Kami tertawa kami sepakat ini semua baru permulaan." Beberapa pria sulit menceritakan hal buruk yang terjadi pada dirinya, Beberapa dari kita terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah kita sukai, Pola yang berulang setiap pekan. 21 yang menyebalkan, namun penuh pelajaran Kami melempar dadu yang sama berkali-kali dan menebak angka yang salah, Kami anggap ini skakmat kehidupan Menunggu dimakan atau membalas menyerang. 2025 reydmh
0
May 19, 2025
May 19, 2025 at 3:23 PM UTC
Pagar besi & botol hijau
Walk down the road towards the café, not wanting a coffee Collect some icing sugar, not wanting any frosting. Go to the grocery store, with no kitchen to cook in. Dress every day, when no one is there to look. Living in the desert, when I want to dance in the rain everyday Hanging on to the sands of time, while wanting to hang off tree branches Playing monopoly, while making words for scrabble Caring for my sister, while the love of my life falls in love with her. Trusting the parents , while they doubt me every second. Trying in a relationship even when love isn’t between us. PriA
0
Feb 17, 2016
Feb 17, 2016 at 8:46 AM UTC
No- where!