"piring" poems
Ang maikling kasaysayan ay pilit kinakalimutan
Nang nahulog sa bangin ng nakaraan
itinali sa leeg ng walang pag-aalinlangan
ang maiksi na lubid na pinanghahawakan
Kumikinang na perlas ng silangan
namumukod-tanging mutya sa dalampasigan
Nang makatakas sa karagatan
Di na bumalik sa kinagisnan
Papalubog na ang araw nang hindi namamalayan
Ang liham nito'y kanyang huling alab
Yugto ng masamang pangitain
kung kailan dadapo ang mga paniki
Nagsilbi na piring sa pagsapit ng Biyernes ang takipsilim
Sa walang pakundangan pugon
Nagliyab ang lunggati ng pangangalit
Marahas na pagbati nito ay pasakit
Ang simpatiya ay kumukupas
Sa trahedyang sumira
Nang wala na makakapitan sa pag-aagaw buhay
Walang paghikbi sa kapaligiran
Labis na kasawian
Dec 16, 2018
Dec 16, 2018 at 6:24 AM UTC
ilang hakbang pa ba ang dapat kong lakarin nang may piring sa aking mga mata para lamang makalapit sa iyo
patuloy na nasasabik sa mga araw na lumilipas ngunit hindi pa rin tanaw ang liwanag na magsasabing may pag-asa na
para mayakap at mahagkan ka ng walang kilometrong pumapagitan sa ating dalawa kundi tanging silakbo ng dalawang pusong tumangis ngunit pinagtagpo ng pag-ibig
Nov 12, 2018
Nov 12, 2018 at 11:56 AM UTC
titingnan ko kung may natira pa rin ba sa latak ng tinta ng 'yong alaala o ipinipilit ko lang na palabasin ang iyong anino sa lahat ng aking nakikita o nadarama.
sana makalimutan na kita, kahit pa mahal kita. sa totoo lang nagtapos ang lahat sa isang pagkakamali: ang iwan ka matapos makahanap ng iba. akala ko masyado na kitang mahal at pagkakataon namang ilaan ko ang pagal kong puso para sa iba, pero hindi 'yon nangyari. bumabalik lamang ako sa'yo sa tuwing nakikita ko ang ngiti nila mula sa'yo, o ang mahahaba **** pilikmata kung nakapikit ang mga mata at tangan ang iyong ulo sa balikat ko.
nagniningning ka kahit madaling araw. ang pagkaway ng buwan sa tuwing titingala ako ang nagkakanlong sa ating mga gunita. ikaw ang nakikita ko sa lahat ng aking mga inibig at susubukang ibigin. ikaw lang ang kaya kong balikan matapos layuan. ikaw lang.
ikaw lang ang hindi ko kayang hagkan o halikan kahit gusto ko man. nais kong hawakan ang 'yong kamay o hawiin ang mga buhok sa mukha at tuluyan nang halikan
sa noo.
ikaw lang ang kaya kong lubusang mahalin na hindi ko puwedeng gawin, dahil
takot ako.
lumipas na ang maraming taon ngunit nasasakin pa rin ang takot kong 'to. ang sabi nila matatakutin daw ako, oo pero hindi sa multo o engkanto, kung hindi sa pagmamahal na hindi totoo at mabilis maglaho. hindi ganoon ang pag-ibig ko, marahil ang pag-ibig mo, pero natakot din ako sa'yo. dahil gusto mo pang maglaro at malaki na ako para diyan.
ayaw kong maglaro pa ng habulan o mataya-taya.
hindi na ako bata.
tanggalin mo na ang piring sa mata dahil sa hanapan daga, ako lang ang tanging sasalubong sa'yo at magsasabing, "simula't simula pa lang, ako na ang talo, ako na ang taya."
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 2:21 AM UTC
Hindi lahat tayo, may dugong maharlika.
Hindi lahat tayo, iisa ang sinasamba.
Hindi lahat tayo, nais nang pantay na pag-asa.
Hindi lahat tayo, malinis at inosente tulad ng isang maya.
Batid kong alam mo, kung saan ka pupunta.
Batid kong alam mo, kung mayroon ka pang pag-asa.
Batid kong alam mo, kung sino ang nararapat sa kanila.
Si Juan, Si Pedro ba? O ang mapanlilang na si Luna?
Bagay na alam mo, pero nagbubulag-bulagan.
Mga maling turo, gawaing kinakalawang.
Kahit na may boses, nagdadalawang isip lumaban.
"Maririnig ba ako?", yan ang laging tanong mo kaibigan.
Mahirap nang sabihin, di pa kayang panindigan.
Mga bakal na kamay at piring na ginto sa karamihan.
Madalang na may tumayo, at isigaw ang prinsipyo ni Juan.
Hanggang dito na lang ba? Ang laban natin kaibigan.
Feb 18, 2019
Feb 18, 2019 at 2:05 AM UTC
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila
Di saat kewarasanku sedang ambruk
Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa
Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya
Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini
Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini
Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu
Dengan bunga berwarna kuning di telinga
Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri
Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu
Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku
Aku tak pernah berburu air mata
Cacatnya tindak-tanduk
Dambaan-dambaan fana
Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku
Tak paham raut lukaku
Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya
Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat
Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan
Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya?
Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini
Si Manis, yang tutur kata nya lembut
Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu
Ruam pada tubuhmu
Bukan salahmu
Masihkah kau berdiam mematung?
Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat
Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan
Dan kaki-kaki yang kau pijat
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Rumah joglo di tengah sawah.
Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini.
Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki.
Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu.
Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka.
Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur.
Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu.
Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya.
Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu.
Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana.
Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang.
Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku.
Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu.
Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Nama saya perempuan, begitu kata dokter, ulama, pendeta, ayah juga ibu.
Nama saya perempuan, maka dari itu sejak kecil saya diajari memasak, mencuci piring, menyapu dan bertingkah lembut gemulai. Sebab katanya perempuan yang tak apik hanya menjadi barang tidak berguna atau orang-orang biasa menyebutnya dengan rongsokan!
Mereka ogah, saya pun tersingkir.
Nama saya perempuan, sebab saya di dandani bak putri raja, rambut saya dipelihara agar indah menggoda seperti putri-putri raja dalam buku dongeng.
Nama saya perempuan, karena itu ia membutuhkan sanggahan lelaki yang akan membuatnya tegak berdiri.
Tanpa lelaki ia rapuh, ia akan oleng bagai tertiup angin puyuh. Lagi-lagi “katanya”.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 4:13 AM UTC
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza
Saat bangun tidur badanku terasa lemas.
Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur.
Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal.
Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif.
Memposting apapun yang sedang dia alami.
Omar mengeluh susah tidur.
Kedinginan berselimut kain tipis usang.
Banyak nyamuk masuk ke tendanya.
Sementara di luar suara zanana mengganggu.
Diselingi ledakan bombardir pesawat jet.
10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza
Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai.
Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh melihat banyak belatung.
Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.
Dia tak bisa lagi membuat roti.
11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza
Aku menunggu ojek online di tepi jalan.
Sambil merokok kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo.
Sementara air untuk mandi dan mencuci.
Hanya tersisa setengah ember.
01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza
Aku sedang makan siang di Peneleh.
Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh saat mengantri di toko.
Menghabiskan waktu dan tenaga.
Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti.
04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza
Saat sore aku nongkrong di Wonokromo.
Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah belanja di pasar.
Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai.
Harganya semakin naik tak terjangkau.
06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza
Aku sedang duduk di beranda masjid.
Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah berjalan jauh.
Merasakan kepanasan dan kelelahan.
Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai.
08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza
Aku masih makan malam di Tunjungan.
Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar.
Ternyata di Gaza sedang hujan deras.
Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran.
Barang barangnya basah terkena air hujan.
09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza
Temanku mengajak minum kopi di kafe.
Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam.
Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam.
Lalu menaruhnya di atas piring kosong.
10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza
Aku sedang menonton sepakbola.
Saat jeda kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme.
Hampir seminggu tak mendapat donasi.
Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel.
01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza
Tengah malam aku bersiap tidur.
Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar.
Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir.
Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi.
Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah.
03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza
Aku merasa kesulitan tidur.
Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar.
Ternyata dia masih tetap mengeluh.
Merasa lelah terus menerus mengeluh.
Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh.
Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh.
Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh.
Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh.
Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan.
Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh.
November 2024
By Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
like a sonorous bird on a wire, his lyrics delivered with/in, a gravelly impish grinning wink, with a high voltage current currency that makes you cry, why did I not write that, godfamn it, which rhymes doncha ya know
so pickup your electronics, grumpy and
cursing, compelled to start versing, bested by
the best, reminder to self you are an also ran, you be back of the pack, and the love out there, freely given to the artists we aspire to be makes me,
an ass-piring foolish man, who kicks up
beach sand into his owned eyes, them two
regular betrayers… and that’s a rap and a
wrap of another baddie po~em
Sep 14, 2024
Sep 14, 2024 at 8:46 AM UTC