Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
azrouss Jan 2022
I couldn't be silent as the train I was on sped all the way to a station I didn't recognize, I had no control over the engines screaming to be replaced, I couldn't catch up any longer, and the more I ran, the less I knew the speed to stop at.

How could I just stand there as the hands of time continued to swing, hurling me from one strange and unpleasant page to another? I'm not sure when everything will be finished, on which page this story will end in a long epilogue, or in whose hands this turmoil will be reconciled.

How could I be fine when my head was hit by blunt objects, my limbs were entangled by the weak and helpless, my heart was pumping nonstop, the heart was drained and empty space was left, my mouth was locked, and as much as I tried to free myself, I only increased the grip on my body, and the wound was getting worse? the situation will deteriorate

How can I just stand there and stare?
While stomachs demand that they be filled, notes demand that they be cleared, and people want that they be scheduled. The days torment me relentlessly; during the day, I am dark and color blind; at night, I stutter, and all colors beg to be painted tomorrow.

How can I be like this when the sky is endless, the rain falls on any cheek, other flowers grow and new buds form, the chess horse continues to gallop, or the pen and paper have reached the abyss of the book?

How am I supposed to...
Oh **** it!
I'm sick of sentences; I'm no longer strong.
This story has concluded.
gadisunja Aug 2021
Pagi sekali rombongan sayur sudah ada di dapur,
“Aih! Ada  konser kah hari ini?”, Babeh kutanya.
“Iya, tajuknya Bunda dan Nyanyian Wajan hahahaa”, katanya.
Dari banyak nada yang diperdengarkan,
seruan makan bersama adalah yang paling kusuka.
zahra ly Aug 2021
Kamu dan aku
Melipat jarak
Entah bagaimana caranya
Pada 2016 itu
Kamu dan aku gulungan
Benang-benang
Entah bagaimana bisa
Kau pintal
Lalu, kamu bertanya tentang
Lalu berkali-kali
Dan berkali-kali lagi
Dan berkali-kali lagi
Lalu, apa? Tanyaku suatu hari
Lalu? Mengapa harus lalu?
Kamu
Dan malam itu
Dan deretan kata
'Sepasang matamu adalah dua bait terindah dari seluruh puisiku'
Yang kau sadur dari Kasmaran

-end
khaila humaira Apr 2021
Besok matahari akan terbit lagi
dan aku sangat mencintai pagi hari.
Besok masih ada
dan aku akan suka esok hari.
Tahun lalu kita menyusun rencana
Menuliskannya pada setiap lembar catatan
Di antara selipan buku laporan
Meletakkannya secara berantakan
Hingga lupa mana tulisan
Mana struk belanjaan

Memang benar tolol aku kala itu
Membangun cinta di atas rasa penasaran
Dan selalu berakhir pada tempat pelarian

Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku
Untuk hadiah ulang tahunku
Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan
Setelah lepas habis cerita kau bacakan
Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan

Hujan kembali berderai dengan ringan
Malam pekat angin berhebus tak karuan
Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan
Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
Indonesia, 13 April 2021
Arif Aditya Abyan Nugroho
Favian Wiratno Oct 2020
tenggelam sudah hatiku saat melihatmu.
hanya perkara waktu, kapan dua hati kita menyatu?
khaila humaira Oct 2020
Pagi ini kugantung kemeja favoritmu depan pintu
Sambil menarik satu senyuman
Menahan apa yang tertahan di kerongkongan
Yang seakan jika kuhembuskan saja
Bisa sampai merobek paru-paru

Lalu aku memakai serba hitam
Merayakan kepergian ini sendirian
Atas dirimu yang tak lagi ada untuk menyapa.
Favian Wiratno Oct 2020
jiwa ini kembali meragu; terbeban pertanyaan memburu.
rasa tidak tentu,
entah apa yang ditunggu.
berawal dari sebuah tatap,
rasa ingin sekali menetap.
entah apakah diriku ini sedang kalap,
atau hati ini memang sedang berharap.
jiwa ini kembali meragu; sepertinya aku jatuh cinta padamu.
Favian Wiratno Aug 2020
Tiga tahun lamanya berlalu begitu saja,
Pertanyaanku masih sama;
Apakah cinta ini masih ada?
Atau sudah tertiban perasaan lara?
Next page