Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"siap" poems
Palembang, 16 September 2012 Pagi ini cerah. Tak tahan tuk ku sembunyikan senyum ini. Semalam aku memimpikanmu. Dan sekarang aku merindukanmu. Aku duduk, di sampingku jendela terbuka lebar. Cahaya mentari hangat menyentuh kulitku. Di depanku ada tempat pensil, aku siap menulis. Ada penghapus, pena, stapler, lem dan kertas. Untuk sedetik ada image mu di sekelilingku. Kreatifitasku muncul untuk memvisualkan dirimu. Penghapus. Andai aku bisa terbang, akan ku hapus awan. Dan ku ambil pena, tuk menuliskan “Aku mencintaimu” besar-besar. Lalu akan ku stapler rasa ini di otakku. Kemudian ku ambil lem tuk merekatkan wajahmu di hatiku.
0
Sep 16, 2012
Sep 16, 2012 at 1:42 AM UTC
ATK
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Hari ini aku seneng banget Aku sedang dekat dengan seseorang Dan aku tak yakin menyebutnya cinta Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta Cinta memang indah sih Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih, sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta Lebih baik tunggu saja hingga aku siap Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi Aku berjanji tuk mengambilnya Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu Sungguh aku berjanji Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya Karena ku takut rasa itu akan berubah Dan yang ku rasa akan berbeda Pasti itu akan menyakiti hatiku Sangat Dan yang manusia tahu Mereka tidak mau tersakiti Apalagi oleh cinta :)
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
12 Rasa Cinta
Kudengar adzan berkumandang Ah! Subuh datang Membangunkanku dari istirahat malam Mengecoh mimpi indah malam itu Belum, kubelum siap bangun Tapi semesta mendoktrinku Kuharus bangun dan terjaga Kuiyakan saja mereka Sesaat pagi tiba Kelembutan angin memuaskanku Segar aroma udara memenuhiku Pipit mericau ramai Sesal tak ada dalam benakku Hanya puas dan sentosa Kutak menyesal bangun subuh Aku ingin pagi ini bujur Tiba-tiba sengat datang Tolong! Tolong aku Siang datang mencuri pagiku Aku mulai belingsatan Panas matahari mengantup Aku bergidik Meratap Siang jahat! Aku kutuk siang Namun ia tak mau pergi Ia malah semakin menjadi-jadi Aku hilang kendali Aku marah Kembalikan pagiku! Aku memohon pada siang Aku menangis Bahkan aku bersujud "Siang, aku rindu pagiku" Aku rindu ricauan pipit pagi itu Aku kehilangan angan-angan Novita Olivera.
0
Apr 30, 2016
Apr 30, 2016 at 1:19 PM UTC
Selamat Tinggal Pagi
INFO NYA DISINI GAN n’ SIST : PIN BB: 262878A6 Ukurannya 40×60 cm / Order 1-2 Pcs = Rp. 70.000,-…Order 5 Pcs Ke atas Rp. 65.000,- Bantal Nama Murah Bandung - Untuk menambah koleksi bantal kamu yang unyu-unyu, kayaknya ga cukup kalo cuma punya bantal donat, bantal Nama dan bantal leher aja. Nah, biar koleksi kamu tambah lengkap, siap siaga bikinin kamu Bantal Nama Bantal dengan tulisan nama kalian, nama pacar, nama sodara atau nama orang-orang yang kamu sayangi. Kamu bisa pilih warna warni kesukaan kamu dengan tulisan yang artistik banget. Buat kamu-kamu yang pada galau nyari kado yang cocok buat temen ultah, ponakan, adik atau pacar, pas banget deh kalo kamu pilihin kado Bantal Nama buat mereka. Mau tahu spesifikasi teknisnya? - Bahan dasar velboa - Tulisan velboa (bukan flanel jadi lebih lembut) - Isi silikon (bukan dacron jadi lebih kenyal dan ga kempes) - Waktu pengerjaan normal 14 hari kerja (Kalo lagi banjir order bisa molor dikit) - Ukurannya 40×60 cm (Yang mau panjang bisa request ukuran 40x90cm) - Berat sekitar 600 gram Ok bro and sist, yang blom jelas (ngacung!) invite aja PIN BB marketingnya 262878A6. Harga blom termasuk ongkir dari Bandung. Incoming Search Terms: Bantal Nama handmade Bantal Nama online Bantal Nama murah Bantal Nama Bantal Nama baby Bantal Nama lucu Bantal Nama bayi Bantal Nama bandung
0
Jan 7, 2015
Jan 7, 2015 at 8:49 PM UTC
[BOOMING NOW!!]Bantal Nama Murah | Bantal Nama Unik | Handmade in Bandung
Palembang, 11 Juni 2012 Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra Angin sudah terlanjur tertiup Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup Petir sedari tadi mengamuk Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut Banjir belum juga surut Hujan tak pernah berhenti sedetikpun Lampu belum juga padam Padahal lilin dan api telah aku siapkan Aku sudah siap menekan tombol Stop Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan Aku belum juga tertidur Padahal aku sudah menentukan mimpiku Aku masih terjaga menunggu pagi Meskipun malam belum akan berakhir
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Menyesal
Biar ku sendiri Ku rela semua hilang Dari pada ku sakiti Biar aku yang menderita Lirik indah idolaku Cukup sejuk melindungi aku Dari panas ocehan semua Atas salah ku kepada mereka Ku tutupkah mulut ini Agar sepatah kata menyakiti Tertahan bahkan mati Haruskah ku sendiri Memang tiada teman untuk ku YAng baik dan mengerti Kekurangan pada diri ini Jika memang tidak ada Ku siap hidup sendiri Dengan merantau ke pulau seberang Ku jalani hidup yang tenang Created by Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:44 PM UTC
Derita Hati
Jakarta, Jumat 31 Agustus 2007 Ya Allah … Segala puji bagi-Mu Untuk hamba sujud kepada-Mu Berdoa meminta ampunanmu Dari khilaf yang terus muncul Ya Allah … Bila hamba berdosa Tunjukkanlah jalan-Mu Bukan hamba yang kau siksa Namun, syaitan-syaitan yang terkutuk Ya Allah … Hamba ingin hidup kekal Menikmati dunia hingga akhir hayat Merasakan indahnya kebahagiaan Sekalipun hamba berdosa Hamba siap menuju akhirat
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:15 AM UTC
Doa Hamba (Manusia)
Jakarta, 9 April 2009 Cintanya tercipta untukku Aku siap memberikan cintaku padanya Aku sangat mencintainya Ini hatiku berbicara Tolong dengarkan... Aku kehilangan akal Aku menjadi hilang Karena hidupku terlalu rumit Gadis malang, hidup yang malang
0
Jan 20, 2012
Jan 20, 2012 at 8:52 AM UTC
Malang
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku Tapi berbeda tempat dan aroma tanah Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni yang siap memanjakan mataku seketika Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami Tempat itu seperti kanvas Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang kuning, oranye, merah dan coklat Lukisan yang begitu indah Biarkan aku memakai jaket hari ini Sebab udara membuatku cukup dingin Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku Ini sudah waktunya panen Aku menyukai labu di ladang Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy Prancis seperti harta karun emas Paris di musim gugur bulan ini Menara Eiffel sudah menungguku kali ini aku berjalan di atas dedaunan Begitu renyah di bawah kakiku Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar Mengirim mereka untuk menari di udara Sangat romantis Aku sedang duduk di bangku kayu Ah jika September tiba...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Jika September tiba
#‎Seringkali‬ saat bersama 'kekasih palsu(pacar)', kita merasa nyaman, Padahal itu bukan kenyamanan tapi ketertawanan. Bersama 'kekasih' tlah sering dijadikan tolak ukur kenyamanan, maka makin matematis mengukur kesenangan. Sadari, ini kepalsuan. Krna makin matematis, kita makin tidak puas dan makin tinggi standar hidup. Saat itulah dalam diri sinyal keberadaan Allah telah meredup. Mendengar kata 'putus' seperti kilat menyambar di siang hari. Tidk pernah siap dan tak pernah menyiapkan diri. Keterlanjuran yg mendalam dengan 'kekasih' mnjadikan buta. Tak pernah lagi bisa menghadirkan Allah dalam hati. ‪#‎YUK‬ MOVE ON
0
Feb 24, 2015
Feb 24, 2015 at 10:09 PM UTC
Apalah
Bersahut Melontarkan kata Bukan, ternyata kalimat Bukan, tapi sajak Kalau sajak, Tak tercerminkan keindahan Seperti nyanyian Bukan, tak ada nada indah disana Mempelai pria siap Si Pitung bajakan muncul Mempelai wania siap Bapaknya datang Hingga 'Aye terima pihak mempelai pria'
0
Apr 22, 2016
Apr 22, 2016 at 7:01 AM UTC
Gurindam
Diantara waktu pergi dan pulang Selamat pagi sapanya dan demikian juga balasku Segar melihat senyum dipagi yang kelabu Mendung mengantung seolah siap untuk terjun Silahkan wahai hujan basahi bumi ku tercinta ini dengan kesegaran tapi kalau bisa jangan terlalu banyak kasihan mereka yang selalu susah dengan kehidupan banjir dan kuyup Sore kembali pulang juga dengan hujan seolah mau berkata Tidak ada yang dapat menahanku kecuali Tuhan Sang Khalik
0
Dec 2, 2016
Dec 2, 2016 at 5:21 AM UTC
Hujan
Aku adalah sang waktu Pejalan klise dari masa lalu Aku adalah sang waktu Tak pernah terbayang apalagi tersentuh Aku adalah sang waktu Hujan dan badai tak pernah hentikan laju Aku adalah sang waktu Sering dilupakan namun tak kenal pilu Aku adalah sang waktu Langkah tak berdaya siap membunuhmu Aku adalah sang waktu Menggerus detik yang kian rapuh Aku adalah sang waktu Tak diharapkan namun seketika membelenggu
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 9:39 AM UTC
Sang Waktu
teruntuk bulan Juli, walaupun aku selalu membenci hujan dan bagaimana air turun dari langit, bagaimana hujan menghancurkan segala hari-hariku dan lembab tanah yang mengganggu, dan yang pada akhirnya bulan Juli, mataharimu bersinar cerah, dan saking teriknya, panasmu menusuk jiwa bagaikan aku tidak siap untuk segalanya, aku jatuh sendirian dan sejujurnya, naif. aku rindu, langit gelap dan aroma basah tanah saat air hujan turun, aku rindu, kamu memegang tangan eratku pada tengah hujan di kota itu teruntuk bulan Juli, maukah kamu untuk terakhir kali menjatuhkan hujan dari langitmu itu? bukan, bukan untuk mengenang hal indah, tidak, tidak, untuk apalagi? hujan di bulan Juli, aku mohon, hanya untuk membasuh semua luka sakit.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 12:40 PM UTC
hujan di bulan Juli
rindu itu termometer cinta semakin panas temperaturnya tanda dilanda demam ingin bersua bila tak jua reda halusinasi gejala selanjutnya siap siap diopname dalam bangsal duka dengan infus air mata
0
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 8:59 PM UTC
harus dirawat, darurat !
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
0
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Lahir Matinya Perempuan
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
Continue reading...
39
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
0
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Suratan dan Imbalan
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Continue reading...
32
Menuju Maret, pagi-pagi matahari meninggi sambil menyeduh minuman penolak kantuk. Sesekali ia aduk minuman di gelas melawan arah jarum jam. Katanya agar berbeda, Padahal sedari dulu ia sudah berbeda. Pagi-pagi matahari cepat meninggi Mungkin membawa kabar dari Bapak menyertakan terimakasih. 'Terimakasih' suara bapak dari ponsel genggam buatan negara berkelopak mata monolid. Menuju Maret hati yang disini berduka. Menolak umur ditambah dengan satu angka, Belum lagi kalau dia ingat suara pintu pagar besi yang dimainkan anak-anak tetangga. Rindu katanya, Ia belum pulang, sebagian jiwanya sedang bermain pasir di masa lalu. Tapi ia malah lari mengejar lagi. 'Sudah cukup, aku mau ikut' katanya Sekarang ia siap, menuju Maret dan segala kebaikan di dalam dan setelahnya. B_Art 07-Feb-2019
0
Feb 6, 2019
Feb 6, 2019 at 10:36 PM UTC
Khatam
mungkin ini alasannya mengapa Tuhan belum mempertemukan saya dan Anda sekarang:                                          saya yang belum siap                                                       atau                                         Anda yang belum siap untuk menghadapi saya.
0
May 13, 2016
May 13, 2016 at 9:32 PM UTC
Sudah Siap?
Penghujung hari tiba Kau menutup tirai panggung Mengganti naskah dan cerita Siap untuk kau mainkan kembali Penghujung hari tiba Hangat sentuhanmu menguap Kecupanmu memudar Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna Dua tokoh utama dalam naskah drama Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan Kaulah sang pandai kaca Malam akan segera berlalu Kau tutup tirai, siapkan panggung baru Rias kembali wajah serta tubuhmu Aku siap melupakan hari semalam
0
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
Kaca Ujung Hari
Nyatanya aku masih terjaga Disaat kuucapkan selamat tidur untukmu Setiap jengkal serat tubuhku tak ingin berpisah darimu Sekalipun malam telah membelaimu dengan lembut, siap sedia menyanyikan lagu tidur untukmu Aku tak rela Nyatanya aku masih bermimpi, di pagi hari kau membangunkanku Tak ingin kulepaskan genggaman tanganku Tak ingin kusudahi wajah kita yang saling menatap Takkan kubiarkan hangat tubuhmu menguap Aku tak ingin terjaga Nyatanya aku merindukan dirimu Saat aku mengurungkan niat untuk berkabar Saat amarah memberi mata pada cinta, hingga ia tak lagi buta Ketika tawa tak lagi terdengar Ketika kata tak mampu terucap Aku tak ingin berpisah Nyatanya kau tetap setia Sekalipun cintamu berlayar dalam diam Kala sumpah serapah yang membabi buta, mengawali malam kejam yang tak membiarkanmu terlelap Meskipun air mata telah menggantikan suara Dan dua surga yang tak bisa bersatu Maafkan aku
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 9:21 PM UTC
Nyata Kita
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak peduli waktu yang terus memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya.. hidup tak bisa sesederhana itu Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Bersandar kapanpun yang ku inginkan tak perlu lebih dulu mengundang temaram, Mendekat kapanpun bibirku rindu di kecup, Memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya terpuaskan. Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Siap sedia di sampingmu membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian, Kamu tak akan ku biarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti. Maka sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku Aku berusaha tetap mencintaimu Dengan keberadaanmu yang jarang aku jadi menghargai setiap pertemuan, Dengan temaram yang menyenangkan aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada aku berusaha setia Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa Kamu tak merantai kaki-kakiku, Kamu tak menutup mataku, Aku bisa pergi kapanpun yang aku inginkan. Namun lihatlah sayang, aku tetap tinggal di sisimu.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 7:46 AM UTC
Untitled
Terang bulan, padahal ini tertulis di pukul enam yang masih berembun setelah fajar Ntah bagaimana yang muncul adalah terang bulan. Bukan mengenai kisah anak-anak yang dipaksa meminta-minta, menjual kerupuk tiga ribuan. Hari ini terang bulan muncul lebih awal, dua belas jam lebih awal. Siapa yang tau isi kepala yang ditutupi rambut hitam orang-orang? Seperti apa terang bulan yang ada di dalam pikirannya? Terang bulan diisi dengan ketakutan-ketakutan bertambahnya angka pada umur. Merasa ada yang salah dengan putaran waktu, Ia belum siap ternyata. Sementara hari tidak menunggu apapun, bahkan detiknya. Terang bulan tidak benar-benar ada, ia hanya muncul saat orang-orang sedang bahagia yang serupa. Selebihnya adalah sabit di ujung bulan yang kadang muncul sekadarnya. B_A 11 Maret 2020
0
Mar 10, 2020
Mar 10, 2020 at 8:11 PM UTC
Bukan Terang Bulan