Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kulihat" poems
Palembang, Selasa 21 Juni 2011 Aku punya mimpi mulia Butuh seribu tahun tuk menggapainya Ku tak serius, hanya mengira Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya Hingga betisku biru Lututku lecet Bobot tubuhky berlipat Sampai pikiran ku sangat terbebani Hanya dapatkan phobia sesaat Saat api kulihat di mata tepat Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat Ingat hanya aku tahu semampunya Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat Sadar-sadar di hari nan senja Bahwa ku makan hanya sisa saja Ku terima karena ku akui aku memang suka Berharap perbaikan akan datang mangubah semua Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah Namun salahkah aku masih ingin dicinta? Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Short Story
Kepada Kamu. Kita terlalu sama. Suka menangis diam diam. Kelihatan tegar di luar, padahal hancur di dalam. Ketika kini kulihat tawamu yang terlalu keras, aku tahu bahwa kau sedang tidak baik baik saja. Kau memang ahli bermain peran, tapi tidak di hadapanku. Cobalah hidup jujur terhadap apapun yang kau rasa. Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sia-sia. Hidup tidak melulu soal bahagia, tapi juga sebaliknya. Itu kemutlakan yang tak bisa kau tolak. Seperti sekarang, jangan selingkuhi perasaanmu sendiri, menangislah. Sungguh, tidak ada yang salah dengan jatuhnya airmata. Airmata bukan penanda lemah, sebaliknya itu pertanda agar kau tidak lengah. Setiap kita memiliki lukanya sendiri sendiri. Juga, memiliki cara sendiri sendiri untuk memulihkannya. Airmata adalah cara lain kau berbahasa dan mengungkap rasa, ketika kau tak sanggup mengolah kata. Biarkan luka terbawa oleh setiap tetes airmata yang menitik sukarela. Terkutuklah mereka yang percaya ‘anak hebat tidak menangis’ lalu menurunkan kebijakan yang tidak bijak itu pada anaknya. Mereka pasti mati rasa. Izinkan aku menemanimu, tanpa banyak bicara, memberi petuah yang menjemukan, atau bertingkah konyol agar kau tertawa. Aku hanya akan duduk di sampingmu, menemani selama kau mau. Dan sesekali memberi genggaman, untuk menguatkan. Note: bahkan airmata adalah buah tawa, saat aku bahagia bisa menemanimu dan mendengar cerita kegiatanmu seharian.
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 2:40 AM UTC
Tear
Palembang, 5 September 2012 Aku melihatmu, sama seperti waktu pertama kali aku melihatnya. Bukan karena ketampananmu, tetapi karena kamu seorang Lelaki. Namun dia bukan kamu,,, dan kamu bukanlah dirinya,,, Tak pernah aku melihat jari-jemarinya, seperti aku melihat jemarimu. Bukan hazel green eyes dia juga yang kulihat, melainkan hitam bola matamu. Aku melihatmu, dari kursi belakang bus. Did you see me? Aku turun dari bus dan menghampirimu. Namun yang kulihat bukan senyumanmu, karena kamu tak pernah tersenyum kepadaku. Bukan senyumannya juga yang ku harapkan, melainkan senyumanmu.
0
Sep 6, 2012
Sep 6, 2012 at 7:59 AM UTC
Aku Melihatmu
*Hujan hari ini begitu deras Dan selepasnya tak kulihat pelangi Tak seperti dongeng-dongeng malam Atau ayat-ayat motivasi penguat hati* *Hujan hujan sebelumnya juga begitu Ku lihat ikan-ikan kesakitan terkena derai siram hujan Lelaki tua peminta kedinginan kebasahan Listrik menyambar, tiang jatuh, seorang anak tertimpa* Buruk, buruk, buruk "Hei ayo bermain!" *Lamunanku terjerat Segerombolan bocah kecil menari dibawah derasnya hujan Bernyanyi gembira nyengir tak terkira Aku menjeling, aku mempelajari, aku mulai tersenyum Agaknya aku yang lupa Tak kupandang rumput kehausan bersorak menanti tibanya air minum mereka Sisi pandangkulah salah Aku menyalahkan pelangi Tak kulihat bahwa petani begitu bahagia dan menanti Ini semua bukan tentang pelangi warna warni itu Pelangi yang sesungguhnya ada disekelilingmu Jangan merana Jangan sepertiku Yang kulihat hanya aku dan segala kesepian ini*
0
Oct 15, 2016
Oct 15, 2016 at 8:52 AM UTC
Pelangi Ucapan Syukur
Jakarta, Minggu 15 Mei 2008 Di sini hanya sesal Ku tak melangkah kepada mu Yang berdiri di padang rumput Tersilau cahaya di pagi hari Meski tak kulihat kamu Mata hati ku menyusuri Tak ingin ku kehilangan mu Walau harus terpisah jauh Tuhan mendengar doa ku Saat petunjuknya hadir untukku Ku hindari tak sengaja Karena dua pilihan menerkam ku Apakah jalan ini salah? Ku menangis penuh sesal Tak bisa melihat kamu yang indah Padahal, hanya satu langkah aku kan sampai
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:43 AM UTC
Sesal
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
0
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Anagram Sirnaksit di Ruang Ujung Koridor
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Continue reading...
16
Suatu saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa Karena perupa adalah aku. Warnai kanvas kosong biar tak nelangsa Karena perupa adalah aku. Kelak di lain saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa; merupai hal baru Lantas kubuang rupa lampau Kulupakan tanpa mengindahkan Kulupakan selupa-lupa Karena pelupa adalah aku. Menghapus kanvas berhuni biar nelangsa Karena pelupa adalah aku
0
Nov 11, 2014
Nov 11, 2014 at 7:24 AM UTC
Perupa dan Pelupa
memang aku tak pantas aku bukan yang bisa dimiliki memiliki pasangan jiwa yang bisa yang mampu.. selalu kuingat kamu malam ini yang penuh dengan hati gegana.. aku sekarang percaya kamu adalah bisa.. berbohong bukanlah pilihanku hati ini berteriak seolah berkata ..bahwa memang tidak ada yang layak setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada.. tidak ada dan tidak ada aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak.. seolah tidak ingin tidak ada kamu disini hati memang membutuhkanmu hati memang tidak bisa menolak ..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku takkan ada yang bisa takkan pernah.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
takkan pernah (wouldn't ever) // [bahasa]
berhenti sebentar amati tangga kehidupan beberapa melesat kencang beberapa berleha-leha beberapa meronta terpenjara bersandiwara mencengkram erat muslihat beberapa berhenti berkoar betah hanya memandang 1 arah acuh membangun bata perbatasan agar ujungnya jiwa tak lagi rapuh kulihat semuanya budak diantara kerumunan manusia golongan batasnya pendapatan pengeluaran semua saling bertukar jerit "memangnya kau siapa?"
0
Jul 21, 2019
Jul 21, 2019 at 9:52 PM UTC
Perhitungkan Aku
1:50 AM, 29 Oct 2017 dunia kadang suka melucu entahlah aku sedang diambang bahagia bisakah aku sebut diriku sedang bahagia? ingin rasanya mengecup semesta merangkul ufuk timur dan memeluk ufuk barat selagi memandang eloknya fajar yang berputar lalu berucap sukur yang sebesar-besarnya entahlah semenjak keberadaanmu disisiku aku jadi selalu ingin berucap syukur dengan tulus dan mendalam kulihat lagi langit malam sekarang kuingin meresap kedalamnya dan ingin berkata kumohon jangan biarkan dia pergi ternyata aku memang bahagia
0
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 9:54 PM UTC
bahagia;
Tak sepeserpun lirih iba singgah Apa yang seadanya, Kabur! Kata batin Persimpangan demi persimpangan Masih kuikatkan Nyatanya, Adakah kita bertukar rasa Atau hanya terperangkap Biarkan aku menari dengan cahaya Erang perihmu Gema tangisamu Menyulam keraguan Palsu palsu palsu Kulihat buram me-muak-kan
0
Sep 20, 2025
Sep 20, 2025 at 1:42 PM UTC
Arah
Apa yang akan orang katakan Kala melihat kasihku mendorong air? Dimana kukira itu karang Walaupun ternyata air tergenang Dan batu tetap bergeming Lalu kulihat dia mengambang Di atas beling-beling berkilauan Kusangka samudra atau genangan lainya Namun tetap saja riak matanya berkeluk-keluk Bagai gelombang yang ada di kakinya Kulihat jemari kecilnya tak kuasa menahan buih dan deru Jika tak pelak aku yang terhempas Kalau saja kasihku menolak ombak Kasihku mendorong air Aku mencampak karang Kasihku menolak ombak Aku menghenyak batu Bergeming, dan tergenang Diantara citra atas gelombang
0
Oct 16, 2017
Oct 16, 2017 at 9:57 PM UTC
Kasihku Mendorong Air
Yang kulihat adalah senja, tapi yang kurasa adalah sendu.
0
Jan 5, 2020
Jan 5, 2020 at 2:30 AM UTC
Aku, Senja dan Sendu
kursi panjang atau sofa panjang? lebih ke kursi panjang deh, tidak empuk soalnya tapi masih nyaman sembari ditemani kamu dan boba dari pagi sampai petang masih betah saja berbicara tetapi kamu teringat kewajiban sudah lewat ashar, hampir magrib lalu segera kamu pamit, takut ketinggalan lalu punggungmu adalah hal yang kulihat terakhir kali terimakasih, dan maaf ya dari aku yang melamun dan menimbun banyak pertanyaan
0
Jul 12, 2020
Jul 12, 2020 at 2:25 PM UTC
bingung
kulihat warna dedaunan begitu indah melayang di udara begitu kuat namun rapuh hingga terbang terbawa angin begitu rindang namun sekejap hilang ditelan pergantian bumi apakah benar yang kulihat adalah dedaunan? ataukah hanya hatiku menipu sang mata yang telah lama merindukannya biar biarlah tetap aku abadikan indah yang kulihat malam itu tersimpan jelas dalam hati dan mataku apapun itu dedaunan tetaplah dedaunan akan selalu indah walau sudah jauh pergi bersama angin
0
Jul 25, 2018
Jul 25, 2018 at 8:02 AM UTC
Dedaunan
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
MEREKA MEMANDANG BULAN
Bulan tampak besar dan terang. Aku memandangnya pada saat tengah malam. Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi. Dekat rel kereta pinggiran Surabaya. Kukeluarkan ponselku dari saku celana. Lalu kupotret bulan yang kupandang. Setelah itu langsung kuunggah fotonya. Pada akun Instagramku. Kulihat ada banyak postingan foto. Dari akun Instagram orang orang Gaza. Ternyata mereka juga sedang memandang bulan. Bulan yang sama dengan yang kupandang. Maha sedang duduk di atap rumah. Dia memandang bulan sambil minum kopi. Tanpa peduli bombardir pesawat jet. Meledakkan pemukiman di Deir El Balah. Omar sedang nongkrong dengan temannya. Dia memandang bulan sambil merokok. Melepas lelah setelah membantu relawan. Membagikan makanan di Khan Yunis. Mariam sedang termenung di depan tenda. Dia memandang bulan sambil mengenang. Kehidupannya yang hilang tak tersisa. Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa. Malak sedang menangis sedih. Dia memandang bulan sambil mengingat. Seorang teman akrabnya yang telah tiada. Tewas terkena tembakan ****** Dr Abraham sedang duduk di balkon. Dia memandang bulan sambil mengeluh. Kelelahan mengurusi orang orang terluka. Memenuhi rumah sakit Al Nasser. Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda. Mereka gembira menari dabke dan bermain oud. Di atas puing puing reruntuhan bangunan. Sementara bulan bersinar terang di belakang. Begitulah bulan yang besar dan terang. Menjadi penghias malam orang orang Gaza. Yang masih terjebak kekacauan panjang. Tanpa tahu kapan akan berakhir. October 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
42