Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"empat" poems
Waktu aku kecil Dunia adalah kubus empat belas inci Yang menayangkan gambar warna-warni Penuh imajinasi Waktu aku kecil Dunia adalah permen loli warna pelangi Merah jingga kuning hijau biru nila ungu menari Rasanya manis seperti senyum mentari Waktu aku kecil Dunia adalah bulir-bulir air hujan Yang jatuh mengaliri selokan Disambut riang tawa kawan-kawan Waktu aku kecil Dunia adalah daun-daun kering Tertiup angin ketika fajar menyingsing Lalu berputar seperti gasing Waktu aku kecil Apalah arti politik dan ekonomi Tak mengerti sengketa dan perang sana-sini Yang aku mau boneka Barbie! Sekarang.. Waktu dan Aku sudah tidak kecil lagi Waktu tambah berisi Aku bertambah tinggi Harus lalui gejolak emosi Tak bisa bicara seenak hati Harus menyadari Banyak tanggung jawab masih menanti Waktu.. maukah berputar bersamaku? Biarkan angin bertiup Kembali ke masa itu
0
Jul 17, 2013
Jul 17, 2013 at 10:13 AM UTC
Waktu Aku Kecil
Diawali dengan udara pukul setengah empat sore yang hangat dan suasana hati yang sedang bagus, aku melihat perempuan itu berada di tamannya yang berantakan. Ya, berantakan kataku. Tamannya, bukan dirinya. Ia duduk di sana, dengan anggun dan cantiknya membibiti bunga bakung dan menyirami bunga krisan. Di sekelilingnya terdapat semak bunga mawar liar dan pohon pinus tua. Pohon itu berbatang tebal dan tampak kukuh, kini ia duduk menyila di bawahnya, berbincang dengan semak lavender di sebelahnya. Ia tidak gila, tapi tampak penyayang dan sangat lembut. Rambutnya yang berwarna gelap itu diterpa angin senja, di atasnya secerah sinar matahari menyeruak dari balik dedaunan membuat wajahnya tampak berkilau. Lihat bagaimana cara matanya mengerling dan lihat bagaimana caranya tersenyum; manis sekali. Itu dia, Qinaani. (Mahesa)
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 1:53 AM UTC
Bagian I: Bunga Kertas
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
‘Tis time to bid Winter adieu. Make way for purple hollyhocks, while crocus are just peeking through last summer’s row of garden rocks. Bulbs warm, thankful for frozen days. ‘Tis time to bid Winter adieu. Rime frost replaced with morning haze, writing it’s own Spring song haiku. Buds, blooms and fledglings hatching through with colors for our hearts to swell. ‘Tis time to bid Winter adieu at the sway of the first bluebell No more snow's argent glitter gleam, the Season’s bold promise rings true. With the last broken ice downstream, ‘tis time to bid Winter adieu. *Empat Empat Early form of rhyming verse from Malaysia. 8 or 10 syllables per line. A. b. a. b. c. A. c. a. a. d. A. d. e. a. e. A.*
0
Mar 21, 2013
Mar 21, 2013 at 10:21 PM UTC
‘Tis Time To Bid Winter Adieu (an Empat Empat)
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
Antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Aku tidak mendengarmu dalam Sonata Terang Bulan Kamu tidak meredam dan menelan Kesedihan, pun kepedihan Kamu tidak memantulkan Wajah remang bulan Kala gugurnya di Hilir redup sungai Kamu berteriak Terlalu lantang Di malam hari Sedang antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Kami menjalin kesedihan Berdua saja Aku dalam kata Beethoven, Dalam denting Kamu berteriak Terlalu lantang. Sayangnya Kami tidak mendengar Jeritanmu Kami tidak mau mendengar Amukmu Piano Sonata nomor empat belas, Kuhanyutkan surat tak berbalas. Di C kres minor, Aku takut ia terdampar, Opus dua puluh tujuh nomor dua, Karena kau jeritkan amuk tanpa duka.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:18 AM UTC
Antara Aku dan Beethoven
Cinta aku walau mati Masih hidup Dalam tulisan ku Dalam setiap bibit kata cinta Melalui dakwat air mata Dan setiap barisan lara Cinta aku walau sudah lama pergi Masih bernafas Dalam bait bait permata Sulaman nafas cinta pertama Di atas sehelai selendang Yang dulu mengikat erat akal dan nyawa Cinta aku tetap hidup dan bernafas Di atas empat penjuru putih batasan terakhir nyawa cinta ini Yang jasad sudah lama hilang Ditelan masa manusia
0
Jun 9, 2018
Jun 9, 2018 at 12:54 PM UTC
Masih (Still)
jakarta jumat malam pukul satu lebih empat puluh tiga, aku menyusuri sejuknya kota jakarta sehabis hujan. semua tenang seakan-akan sepi menyelimuti lembabnya jalanan, seakan-akan semuanya sepi dan dinginnya menusuk, seakan-akan semuanya tidak pernah cukup, seakan-akan semuanya tidak akan pernah terjadi, aku egois, sampai-sampai aku tidak pernah memberi tahu mu tentang ini begini, bagiku kau adalah nirwana terindah. sayangnya, kau bukan rumah yang aku cari.
0
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 10:21 PM UTC
sayangnya
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
kadang-kadang tensi kerana aku ada tiga puluh tiga sebab menyayangi engkau. susah nak lupa. tapi nasib baik akhirnya aku jumpa tiga puluh empat sebab untuk berhenti. tapi bukan membenci.
0
Oct 11, 2013
Oct 11, 2013 at 8:26 AM UTC
matematik
Much sooner comes the Winter now, the racing clock tics on my wall. Another wrinkle on my brow, another Summer, Spring and Fall. I try to hold the moment's peace, much sooner comes the Winter now. So I find solace in release, and throw away the holly bough I’m no longer reined to the plough, and time is not my enemy. Much sooner comes the Winter now, but fonder is the memory Of breaths I take, how many more? What e'er the seasons will allow. Adrift am I towards any shore, much sooner comes the Winter now. *Empat Empat Early form of rhyming verse from Malaysia. 8 or 10 syllables per line. A. b. a. b. c. A. c. a. a. d. A. d. e. a. e. A.*
0
Nov 23, 2013
Nov 23, 2013 at 3:50 PM UTC
Much Sooner Comes The Winter Now (an Empat Empat)
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
kadang, waktu yang panjang pun tak cukup untukku menceritakan kepadamu apa-apa yang terjadi padaku waktu yang tak cukup atau kadang bibir yang terasa kelu? entah apa alasannya, aku buuh waktu yang lebih panjang! dua, satu, empat, sembilan jam saja tak cukup untuk ku. seberapa jahatnya engkau terhadapku, terhadap orang yang menyayangimu, aku selalu memiliki kata 'nyaman' sehingga aku selalu suka bercengkrama bersamamu.
0
Dec 10, 2016
Dec 10, 2016 at 9:13 AM UTC
bercengkrama
Jemariku bergetar saat menuangkan isi hati dan kepalaku kali ini. Entah sudah berapa purnama ku lewatkan tanpa berada di bawah atap yang sama denganmu. Bertukar suara via telepon genggam —yang hanya secuil dibanding dengan waktu duapuluh empat jam— pun ku sudah lupa rasanya. Namun satu hal yang pasti, bagian darimu akan selalu jadi bagian dariku. Akan ku bawa sampai ke ujung waktu. Mungkin aku akan pergi lebih dulu, atau mungkin engkau? Tak ada yang tahu. Semoga Tuhan tetap melindungi, di mana pun kau berada sampai nantinya kita akan bertemu kembali. “Namamu jadi rahasia, dalam diam kan ku bawa; mendarah.” –Mendarah, Nadin Amizah
0
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:56 PM UTC
Surat Tersirat
Setetes, dua tetes, tiga tetes, empat tetes Air hujan akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya Ke tanah kering, Berisi hamparan debu dan keluhan para penghuni kota yang melebur jadi satu Melagu, menyelimuti atmosfer kota yang dihinggapi kebosanan dan ketergesaan Kemajemukan dan kesamaan-kesamaan Kebebasan dan keterbatasan Kesempatan dan hambatan-hambatan Jalan panjang menuju rumah Dihuni sepi, tetesan hujan di jendela bus, dan pikiran-pikiran tak lumrah Trotoar basah dan langit gelap Berhenti di satu halte, Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak datang menghampiri Tanyanya, “Hai, di sini kosong?” Perempuan itu diam, mengangguk. “Kosong.” Laki-laki itu duduk di sebelahnya, memangku tas ransel hitam, dan bertanya lagi, “Tahu kenapa langit tiba-tiba menangis?” Perempuan itu menggeleng. “Kenapa?” Laki-laki itu bicara lagi, mendekatkan kepalanya, “Karena langit sedang mencari rumahnya yang lama hilang.” Tepat saat itu, Si perempuan tersadar, Terlalu lama ia tenggelam, Dalam percakapan yang hanya hidup di ruang imajinasinya.
0
Aug 26, 2019
Aug 26, 2019 at 7:30 AM UTC
Rumah
Dalam ke-tiga ratus empat puluh empat meter per detik kecepatan suara, ternyata tak ada bibirmu didalamnya. Sebab kabar tak lebih cepat dari suara, dan tak lebih lambat dari jatuh cinta. Apakah mungkin, suara dapat merasuk lebih cepat jika dia merangkak di dalam air mata? Mungkin juga sebaiknya kita perhatikan bagaimana suara merambat melalui dua puluh satu derajat selsius suhu udara, menjadi sebuah rangkaian gelombang kata-kata yang melambat dan merangkai dengan sendirinya. Apakah mungkin getaran suara dapat lebih cepat, jika kulitku tidak menjadi sehangat ini? Jika kamu bukan getaran suara, lantas mengapa sepersekian detik nama mu bergaung dalam kenangan?
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:31 PM UTC
Kecepatan Suara
Hari ini tadi, dokter bantu keluarkan empat buah batu dari empeduku. Suatu hari nanti, mana tahu dokter atau entah siapa itu akan bantu keluarkan sebuah nisan dari tubuhku?
0
May 31, 2024
May 31, 2024 at 11:33 AM UTC
Batu di Tubuhku