Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
A Yorks  Jan 2018
Alkohol
A Yorks Jan 2018
Wir hoben ein letztes mal die Gläser
— die waren aber völlig leer
Und sagten unserer Sünde Lebewohl
— Warfen die ins reißendes Meer.

Auf dich, O Teufel, Alkohol!
— dachte mal, du warst mein Freund
Hätte ich denn besser gewusst,
— würde ich denn alles bereuen?

Du, O Dämon in der Nacht,
— der meine Jahre gestohlen hat,
Durch dich ist alles zum Verlust,
— hör mich jetzt wohl — ich hab es satt.

Nimm dein Abschied,
Kein Blick zurück,
Hier gibt es gar kein Platz für dich,
O Teufel, Alkohol.
Noandy  Dec 2016
Pengantar Tidur
Noandy Dec 2016
Sebuah cerita pendek

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.

                                                     ­            ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi. Tapi kau tidak selalu terbangun. Kadang hanya ragamu saja yang terbangun, sedang jiwamu entah di mana.  Kadang juga aku merasakan adanya dirimu, tapi kau tak dapat ditemukan di sekitarku. Aku dapat menemukanmu, sepertinya, dalam Wiegenlied milik Brahms yang biasanya mengantarmu menuju tidur yang lelap—sebagaimana acara anak-anak mengalunkan lagu itu menjelang pukul delapan malam.

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Kau ingin selamanya tertidur. Pernah suatu saat, di antara kepulan bau thinner dan cat kayu yang tak kunjung hilang, kau mendekatiku dan berkata,

“Aku tahu sekarang kenapa kau ingin mati.”
“Aku ingin mati?”
“Aku tahu, aku ingin mati—juga.”

Aku bergurau,

“Ya sudah. Nantinya juga kita semua akan mati.”

Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan biolamu dan lebih memilih tertidur, kenapa kau memilih meninggalkan kita semua dan mengunci dirimu, kenapa kau hanya terbangun sesekali di jam dan waktu yang tidak umum. Semua orang mencarimu, dan tak ada yang tahu apakah kau adalah kau ataukah sekedar tubuh tanpa jiwa—mayat yang hidup. Kurasa kau sudah menjadi mayat hidup sejak kau katakan hal itu padaku. Kuharap kau juga memberi tahu alasan mengapa kau ingin tak bertubuh dan tak berjiwa.

Kau menggerogoti dirimu dari dalam, Dis. Kau melantunkan nina-bobo yang mengerikan untuk dirimu sendiri. Sebuah lagu pengantar tidur yang musik dan liriknya berisi pemujaan pada kematian yang kau dambakan. Berapa kali harus kukatakan kalau kita akhirnya nanti mati juga?

Minggu lalu kita berbincang panjang—tak jauh dari perihal tubuh, jiwa, dan takdir. Kau terlarut pada sekumpulan cerita H.P. Lovecraft yang kau pinjam dariku, dan senantiasa kau bawa tidur karena baunya mengingatkanmu padaku. Sepertinya bukan hanya bauku yang meracunimu tapi kisah-kisahnya pula. Herbert West: Reanimator, dan Hawa Dingin. Kau berpikir dan berandai jika tubuh yang tak lengkap dan seluruh organnya tak berfungsi, masih memiliki kemungkinan untuk bertahan apabila diawetkan dan jiwanya ada. Bagaimana kita tahu jika jiwa itu ada, Dis? Apa bedanya dengan roh? Apa pertandanya?

Tapi aku tetap saja larut dalam lamunanmu. Lebih baik kau terus berbicara daripada tertidur atau teler karena hal-hal yang kau teguk sembarangan di malam sebelumnya saat tak dapat terlelap. Lebih baik kau terus berbicara, aku suka mendengarkanmu berbicara karena derap suara yang kau lantunkan berjalan selangkah sama dengan milikku.

Entah apa akhir pembicaraan kita tentang roh dan jiwa itu, aku tak dapat mengingatnya. Yang samar-samar kuingat adalah, kau secara tidak langsung mengatakan bahwa yang terpenting dari sebuah kehidupan bukanlah tubuh—selama jiwa itu ada.

Lalu semenjak itu aku tak melihatmu mendatangi latihan lagi. Memang aku tak selalu memperhatikan latihan aktor yang bukan merupakan porsiku dalam pagelaran ini, tapi saat istirahat menggarap properti dan menjelajah kantin atau intip-intip para aktor yang latihan, tak juga kutemukan ragamu di sana. Apa kau ada di sana, mengikuti latihan  tapi tak ada yang dapat melihatmu? Memangnya ini cerita supernatural dan kau sedang melakukan proyeksi astral?

Semua orang membutuhkanmu untuk terus melanjutkan peran yang kau mainkan, Dis. Tapi apakah mereka peduli padamu? Aku tak seberapa yakin. Aku merasa mereka hanya memperdulikanmu atas dasar kepentingan itu, dan tak sepenuhnya menelisik masalah yang menggerogotimu dari dalam. Memang beberapa kali kau merasa malas, tapi aku yang bekerja di belakang panggung dengamu sejak tahun lalu ini percaya kalau kau tidak ingin tidur karena malas. Kau ingin tidur karena ingin jiwamu saja yang hidup, tubuhmu sudah terlalu lelah atas luka-luka dan lebam yang sudah sejak lama bersarang padanya, dan atas sesuatu yang menghabisinya dari dalam.

Malam itu, saat semua orang mengutuk namamu dan ketidakhadiranmu, aku tertunduk dan menyembunyikan mata di bawah topi hitamku—sesekali mencuri pandang ke jendela. Ada perasaan yang menyiratkan padaku bahwa kau juga sedang menoleh ke arah jendela, dan entah kenapa, aku mendadak berdiri  menuju balkon lantai dua—tiba-tiba aku takut jika kau sedang memiliki pikiran untuk lompat dari jendela kamarmu.

Mereka terus mengutuk namamu dan bagaimana kau mengecewakan, serta menyulitkan mereka. Tapi mereka tak pernah berusaha menghubungimu. Mereka hanya mengandalkanku dan Erma untuk terus mencarimu. Tidak ada yang peduli, Dis, tidak ada. Semua menyendirikanmu. Kau pun seolah tak peduli dengan mereka, sulit dihubungi melalui apapun.

Itulah yang membuatku bergegas menuju tempatmu—menaiki tangga darurat yang pengap tanpa jendela itu sampai ke lantai sepuluh. 1007, kamarmu. Setelah beberapa kali ketukan lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras pintu kamarmu sampai akhirnya kau bukakan dengan enggan. Celana pendekmu, kaus merah tidak karuan, kakimu yang terluka dan matamu, membara merah menyambutku. Jendela terbuka, angin menyelonong masuk dan menghantarkan bau alkohol serta asap rokok yang tersisa sedikit saja. Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummu—parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.

Aku tidak tahu kau habis menangis atau tidak, tapi aku menangis. Dan aku juga tidak tahu jelas mengapa tiba-tiba menangis. Bisa jadi karena aku begitu lega bisa bertemu denganmu, mungkin juga karena semua beban untuk mencarimu dibebankan padaku serta Erma sehingga emosiku lepas begitu saja saat bertemu denganmu. Aku tidak tahu. Aku langsung mendorong pundakmu untuk menyingkir dari pintu dan masuk tanpa izin. Alih-alih menghentikanku karena masuk tanpa permisi kau membiarkanku dan mengikutiku. Aku melihat buku Lovecraft-ku tergeletak di samping bantalmu dan seantero ruangan kacau balau.

Kita saling terdiam, dan tanpa mengucapkan sepatah kata, aku mencari sapu dan membereskan tempat tinggalmu.
Aku tak keberatan, kita sesama orang berantakan yang terserak dan sudah diatur untuk menata satu sama lain.

Angin terus berhembus dari jendela  dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau ambil beberapa batang lilin dan nyalakan mancis sehingga deretan lilin itu terjejer membatasi kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah lilin dan kau lakukan hal yang serupa.

“Tubuh yang sempurna bukanlah hal yang berarti untuk kehidupan.”
“Tanpa roh dan jiwa tubuh tak akan bisa bergerak, begitu?”
“Ya. Makanya, yang terpenting adalah jiwa. Bahkan dalam tubuh yang tidak sempurna seseorang dapat hidup—seperti para penyandang disabilitas.”
“Lantas mengapa orang-orang meregang nyawa karena tubuhnya terluka hebat?”
“Karena tubuh itu memberi celah bagi jiwa untuk merembes keluar.”
“Berarti jiwa butuh tubuh untuk dapat terus bertahan, kan?”
“Tubuh ini bukanlah cuma badan. Bisa saja sebuah benda lain yang mampu menampung jiwa. Lagipula roh dan jiwa dapat mengembara kemanapun.”

Aku, belum sepenuhnya paham hubungan antara tubuh dan jiwa dan roh versimu, memilih diam dan mengalihkan topik dengan membujukmu untuk kembali ke kampus dan datang latihan untuk pagelaran yang akan kita tampilkan, semua orang mencarimu.

Kau mendorong jauh mancismu sehingga masuk ke kolong laci lalu mengangguk lemah. Melihat tubuhmu menjadi jauh lebih kurus, aku tak tega mendesakmu terlalu jauh. Aku berniat mengambilkan mancismu dan menyadari bahwa kau menyembunyikan tas biolamu di bawahnya sehingga aku turut mengambilnya. Kala aku merogoh, aku ingat mendengarmu berkata lirih “bagaimana jika kita hidup tanpa tubuh?” sehingga aku menyahut,

“Maksudnya tanpa tubuh?”
“Tubuh dan jiwa sebagai dua hal yang terpisah. Tapi jiwa dan roh tetap satu.”
“Tapi kalau terpisah, menurutku jiwa atau roh akan hilang sepenuhnya karena tidak ada yang menahannya. Seperti wangi yang lambat laun menguap.”
“Bagaimana jika kubilang  kita sedang dikerumuni oleh jiwa-jiwa tak bertubuh?”
“Hah, apa, Dis?”
“Seolah jiwa dan tubuh itu terpisah saat sedang tidur. Aku ingin tahu apa kondisi itu juga bekerja pada kematian. Aku ingin tahu mati itu seperti apa rasanya—apakah seperti tidur—dan lebih lagi, aku ingin membuktikan apabila yang dibutuhkan bukanlah tubuh yang sempurna. Jiwaku yang penuh sesal ini menggerogotiku dari dalam. Waktu demi waktu. Perlahan-lahan.”
“Sudah, Dis. Tidur saja, kamu terlalu penat. Jangan ingin mati dulu, nanti kita juga akan mati kok.”
“Bersama-sama?”

Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur. Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku.

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.
Aku mematikan perekam suara pada ponselku, dan entah kapan, aku tertidur. Jendela masih terbuka karena dapat kurasakan semilir anginnya. Langit hitam tak menyegarkan. Hitam bak tidurku tanpa mimpi.

03.40

Aku kedinginan dan terbangun. Lilin-lilin sudah memendek dan mati tertiup angin, kau tak ada di sebelahku. Jalan menuju jendela kuraba dengan memegangi perabot, aku memegangi jendela dengan kedua tanganku untuk ditarik ke bawah. Kepalaku otomatis kukeluarkan sejenak untuk melihat pemandangan sekitar dan apa yang sedang terjadi di dunia bawah.

Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak. Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun.

Bercucuran keringat dingin aku menyeka luka di dahimu agar tak lagi terlihat darahnya dan aku dapat naik kembali ke kamarmu tanpa perlu dicurigai.

Sesampainya di kamarmu aku terduduk dan menggerayangi lantai mencari mancismu. Aku menyalakan semua lilin dalam bentuk lingkaran mengelilingi kita. Kupeluk jasadmu dan kubiarkan darah dari kepalamu terus mengucur di tanganku.

Tuhan, jangan biarkan ia mati.
Aku tahu tak akan mungkin ia dapat kembali ke dalam tubuhnya yang telah memberi celah bagi jiwa untuk keluar ini.
Aku tak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Dan akhirnya tertidur kekal sebelum waktunya. Jangan tidur dulu, Dis,
Jangan tidur dahulu sebelum waktunya.
Sungguh aku tak paham apakah kau masih di dalam ruangan ini atau sudah hilang, sirna sepenuhnya. Seperti wangi seperti wangi seperti wangi.

Darahmu
Darahmu
Darahmu
Memenuhi tanganku.

Jangan pergi, jangan pergi.
Aku membersihkan lukamu dan membalut perban yang kudapat dari kotak P3K dengan meraba-raba wastafel di dekat dapur.
Aku membersihkan lukamu meski tak dapat rasakan nafasmu lagi.

Ponselku menyala, dan memutar sebuah rekaman tanpa aku menyentuhnya.

04.44

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Akhir rekaman.*
Aku tertidur memeluk jasadmu.

08.23

Angin masih masuk dari  jendela yang tak jadi kututup. Aku melepaskan jasadmu dan mengambil biola yang tergeletak dengan tangan berlumur darah. Memainkan Wiegenlied—Lullaby.

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan secara resah dan basah,

“Sudah kubilang, percepat temponya.”

Aku terkesiap, namun tak menoleh ke arah jasadmu. Kuteruskan bermain dengan peluh bercucuran dan gesekan tak karuan, menghapus darah yang mengering di tanganku.

“Ternyata memang sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku. Bahkan  setelah terlepaspun, ia masih saja merintih penuh sesal dan tanya.”

Not terakhir,
Aku menoleh,

Mulutmu menganga dan mengatup seolah mencari nafas, menganga, menganga
Matamu tak berkedip menatapku, terlentang, memandang lurus ke arahku.
Ke arah jendela, langit yang biru, angin, nyanyi,
Lalu kau kembali tertidur.

                                                      ­           ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi.
Untuk.. Kau tahu untuk siapa.
Bintun Nahl 1453 Mar 2015
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!
Sesaat sebelum mati, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.
0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.
1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.
3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.
4 – 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.
7 – 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.
1 – 4 Jam
Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.
4 – 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.
6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.
8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.
24 – 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.
36 – 48 Jam
Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.
3 – 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.
8 – 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.
Beberapa Minggu
Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.
Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.
Satu Tahun
Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa lagi yg mau disombongkan org sebenarnya????
BAGUS UNTUK DIRENUNGKAN.....
Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini..
ungdomspoet Jan 2015
to rødgrønne flasker med et indhold af 6.4% kærlighed
hvide tænder der bed i hvide lagner
varme kroppe der dansede med en illusion af lykke
sorte lunger der slugte mørke tanker
korte arme med en mørkegrå himmel malet på sig
hullede stemmer som blev syet sammen af undskyldninger
disfunktionelle hjerter der prøvede at slå
tomme skeletter og blå shilouetter
kold januar-regn der vaskede alt hvad der mindede om tåre væk
knive med smilende ansigter risede ar på rygsøjlen
spredte ben og lukkede øjne
to rødgrønne flasker med et indhold af 6.4% kærlighed flød i synlige åre
6.4 % kærlighed blev optaget i menneskekroppe
6.4% kærlighed er væk
pigeungdom er sprukne læber, fugtige øjne, blege hænder, rystende ben, grønne sind, papmache-hjerter, neglebidning, rifter på håndledene, blå mærker på halsen, tabt alkohol og knækkede cigaretter i tasken, makeuprester, ***** mod rug tunge, maveknurren, ar på hoften, varme radiatorer, gratis drinks, tunge øjenlåg, kortvarig lykke, falske grin, personlighedsspaltning, pengestress, ligegyldige kys, søgen efter tryghed, gåsehud, spildt kaffe, brandsår, våde cigaretter, dybe vandpytter, natbusser, angstdæmpende medicin, fællesdepressioner, et kor af gråd, irrelevante samtaler og et sløret omrids af et ansigt, der smadrer din nattesøvn, og gør det svært at stå op
Within each and every one of us
is a unique culture:

Ethnocentrism
reaches just as far inward
as it does outward:

Just because
academia
has imposed it's own
fascist, totalitarian, absolute
definitions
does not mean
that it has final say:
i postulate
such adacemic-fetishism
is merely a byproduct of
propaganda
pushed by Big Money
rather than
a genuine insitution
of respectable edification:
that is
i see it as
a mere appeal
to authority;
a well-known logical fallacy
to those who are in the know.

Tread lightly.

Modern Academics
seems to be
yet another
corrupt branch
of Business;
little more.

Academic achievement
is not equivocal
to intellectual worth:

a graduate's degree
is moreso
a status symbol
than it is
a credential
anymore.

'T'is vile idolatry
in lieu of
an individual's personal philosophy;
that's not to say it's
absolutely worthless,
but it may as well be
in today's job market
(unless it's a business degree!)


Then again,
that's just my opinion.
i guess i oughtta shut up
before Edu-nazis shut me down.

Oops, did i type that out loud?
I'm so sorry, you see,
vhat i meant to say vas:
Heil Stanford!
Heil Harvord!
Heil Berkley!
Heil vhat i am told zu heil!
Heil zhe publishing companies!
Heil zhe holders of student loans!
Heil egredious student debt
in lieu of philosophical discourse,
let alone progress!

Heil vhat i see on TV!
Heil *******!
Heil alkohol!
Heil gasoline!

Do not qvestion zhe dogma;
go back zu sleep, you sheep!
Yet another write intended to be easily digestible by the masses, without any sort of difficult, contentious, or otherwise thought-provoking material so as to preclude any sort of discomfort or disagreement.
Written solely to be popular and to reinforce the status-quo.

Maybe I should stick to music. Y'know, something everyone can agree on. ;)


-
llcb Dec 2016
Når man renser et sår udenpå med alkohol
Når man renser et sår indeni med alkohol
Nanna Gregersen Apr 2015
Og vejen flyver
alkohol i blodet
dig i hovedet
ikke en god blanding

flere mennesker
bare forbipasserende
stjernerne falder
og bladene ligeså

knæene ryster
kuldegysninger
nærmest forfrysninger

alkohol i leveren
dig i hjertet
en blanding lavet i helvede

følelserne begraver sig selv i jorden
Og vejen flyver stadig
danish
Frederik B  Aug 2014
Vokseværk
Frederik B Aug 2014
Mit astmamedicin er blevet skiftet ud med cigaretter, der får mine lunger til at hyle når jeg trækker vejret.
Mit fredagsslik bliver nu købt af en rockerbande i en skummel lejlighed.
Min sutteklud er af det fineste silke, der koster mere end en månedsløn.
Mine drømme er blevet slettet fra min hukommelse.
Min livsglæde er druknet i et hav af alkohol.
Tilbage er der kun:
Fremtidstrusler
Ensomhed
Længsel
Sult

*(f.b)
Josephine Lnd Aug 2013
so here I sit alone in our apartment
while he is in his childhood town, cleaning out his dads
cleaning out the drunken chaos and the remains of a life
and tries to air out the smell of death
he is forced to clean out the remains of
a periodic alcoholic's liqour soaked period which ended in the definite end of it all
i'm stuck at work while he is forced to run to the funeral agency, the bank
  and an apartment whose walls could tell a story
that would make the ancient greeks' tragedies fade in comparison

he is forced to clean up after his absent dads' death,
a dad who was never there, whose resumé not only includes
the leaving of a son, but also the leaving of life,
all this while i'm looking for washing machines online


//


så här sitter jag ensam i vår lägenhet,
medan han är i barndomsstaden och rensar ur sin pappas
städar bort fyllekaoset och resterna av ett liv
och försöker vädra ut lukten av död
han tvingas städa bort resterna av
en periodares alkohol-indränkta period som slutade i det slutliga slutet på allt
jag är fast på jobbet när han tvingas springa till begravningsbyrån, banken
och en lägenhet vars väggar skulle kunna berätta en historia
som skulle få de gamla grekernas tragedier att blekna i jämförelse

han tvingas städa upp efter sin frånvarande pappas död,
en pappa som aldrig var där, vars cv inte bara innefattar
ett lämnande av en son, utan också lämnandet av ett liv
medans jag letar tvättmaskiner på nätet
ARealMansMan  Jul 2014
forstad
ARealMansMan Jul 2014
vælg at passe ind
vælg at slukke gløden
og tænde for fjernsynet

vælg et trygt miljø
med pænt friserede veje
med anlagte børn
der både kan bukke og neje

vælg labrador til konen
og fjerdreaflukkede omgivelser
fadøl med drengene
og en kattelem til at snige igennem
når det hele blev FOR trykt

vælg at fylde stilheden og stemme hende videre
som et metaforisk "tak"
for at gøre fredagen mere
meningsfuld, og for at have
noget at længes efter

vælg at græde til begravelser
vælg at mumle sympatisk med
stå og stirre på kisten
og undre dig over
"hvor blød den mon er?"

vælg fredagshygge, fælleskonto, dansetimer, rugbrødsmadder på jobbet, smurt af skilsmissehungrende kløer, vælg nabokonen og hendes ynge (og mere livlige) køkkenhave

vælg bagdøren, vælg fordøren, vælg køkkenbordet, sofaen, kontoret, chaiseloungen, solsengen, trampolinen, barnesengen - både af hendes og af dit

vælg at skændes til fodboldturningen
vælg "pastasalat",
"nej frikadeller",
"nej pastasalat"
til fællesspisningen på skolen

vælg det perfekte liv, og vælg de diskursnæssige resultat af dine GRUSOMME handlinger.
vælg at bortforklare det hele
og fortæl hende
hvordan alkohol flyder igennem
familien, som gondolen fra bryllupsrejsen til venedig

vælg at tage hjem tidligt
vælg at betvivle din funktion og eksistens igennem
den stille
9 timers lange køretur
"hjem"

vælg de svedige håndflader ved alteret
at betvivle vægtskålenes indhold
føl det blide og lette pres
fra de stirrende øjne
det overdøvende orgel
mens lugten af trygge rammer og boliglån
får dig til at gylpe et surt "ja"

vælg halvdelen af sofaen, det ene barn,
singelfyrslivet i en 33m2 kælderlejlighed
vælg at drukne tårene i endeløs *******
og nyd alle kampene på fjernsynet
vælg at bombadere telefonsvaren
vælg at smadre spejlet
vælg at kæmpe for det søde forstadsliv
ja jeg har set trainspotting
- nej jeg har ikke oplevet det der
Annesofie Olsen Nov 2015
hylder mig selv for, at **** mit liv op
for at gøre ting jeg ikke burde, men gør det alligevel
for jeg er jo bare ung og dum
for at prøve at være ligeglad, og leve ud for "YOLO"
for at ikke at være falsk, men igen det er jeg jo alligevel
for at ødelægge ting
for at kunne skjule det ene og det andet
for at bruge mine penge på røg, alkohol og andre ting, jeg ikke har behov for.

— The End —