Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"redup" poems
Palembang, 14 Desember 2013 siapakah aku? yang bercahaya dikala senja tiba berlari mengepakkan kedua tangan, mencoba menggenggam udara mengijinkan peluh muncul membasahi seluruh tubuhku hingga mentari tepat di atas kepala aku berdoa, tuk menjadi cahaya bintang saat malam tiba siapakah aku? yang terus berlari kencang menapaki kerikil tajam tak peduli walau menembus hujan melawan badai ketika mentari sudah malu menampakkan cahayanya aku berdoa meminta, jikalau cahaya bintangku redup, mentari senantiasa menggantikan di pagi berikutnya siapakah aku? yang kehilangan cahaya senja berjalan menunduk, kecewa meski mentari bersinar seperti yang ku harapkan aku masih kan meminta cahayaku dikembalikan tak ingin membuka mata jika pagi berwajah gelap siapakah aku? yang tak lagi bersinar di langit malam tak lagi menjadi bintang kehilangan sinar senja tak lagi bebas berlari di bawah mentari tak lagi bernyawa siapakah aku?
0
Dec 14, 2013
Dec 14, 2013 at 8:01 PM UTC
Siapakah Aku?
Hari ku tak tenang Tanpa alun lagu terindah Di pantai sana Bagai tempat ku merana Jeritan ombak bagai mewakili Hati ku yang sedang menangis di sini Risauan burung tanpa henti Bagai raga ku yang terancam Tak akan melihatmu lagi Saat cahaya mentari redup Bagai mimpi ku yang telah berakhir Begitu menyesalnya aku Tak dapat cinta nya Yang pasti akan indah sampai ku mati Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:38 AM UTC
Nuansa Pantai
Jakarta, 31 Desember 2009 Dulu aku cinta kamu Kamu satu yang indah bagiku Dirimu yang ku rindu dalam tidur ku Tapi dulu… Hanya dulu… Entah… Ku tak paham rasa ini Alasan ku betapa cinta kamu Tapi, cinta ku memang tanpa alas an Sekarang, baying mu kabur Cahaya mu redup Tak tahu aku kemana mencari Engkau berubah liar… kejam! Tak sudi lagi air mataku Menangisi makhluk seperti mu Tapi memang, aku masih cinta kamu!
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:35 AM UTC
Masih Cinta
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
ada gelap, redup, lalu apa?
"Cahaya redup itu umpama semesta alam." birunya naungan langit fajar ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun pada hari itu kau berujar "Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?" yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya "Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?" pernah taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang "Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?" "Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan." matamu mengerling menerawang memandang langit Juni apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini? "Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham." jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan dalam gelap dalam redup lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua "Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku." diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini? satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu? lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras seolah tak pernah ingin lepas.
Continue reading...
31
Katanya langit akan berbintang malam ini, "Pulanglah dalam remangmu dan duduklah termangu. Berdoalah menghadap langit; jika sungguh kau berdoa, barulah ia akan berpijar." Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa jadi doaku yang kurang hening. Bisa jadi aku salah merapal namamu dalam doa. Katanya, langit akan berbintang malam ini. Katanya juga, kau akan pulang, kembali ke dalam remangku. Aku lihat langit. Aku intip karam malam dalam diriku. Di langit tak ada bintang. Di gelapku tak ada kau. Di doaku sajalah namamu disebut-sebut sekian kali. Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa saja mereka berbohong, dan aku tak akan pernah tahu. Seperti dahulu, kau beri aku bintang. Dahulu bintang cumalah batu.
0
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:15 AM UTC
Redup
Antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Aku tidak mendengarmu dalam Sonata Terang Bulan Kamu tidak meredam dan menelan Kesedihan, pun kepedihan Kamu tidak memantulkan Wajah remang bulan Kala gugurnya di Hilir redup sungai Kamu berteriak Terlalu lantang Di malam hari Sedang antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Kami menjalin kesedihan Berdua saja Aku dalam kata Beethoven, Dalam denting Kamu berteriak Terlalu lantang. Sayangnya Kami tidak mendengar Jeritanmu Kami tidak mau mendengar Amukmu Piano Sonata nomor empat belas, Kuhanyutkan surat tak berbalas. Di C kres minor, Aku takut ia terdampar, Opus dua puluh tujuh nomor dua, Karena kau jeritkan amuk tanpa duka.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:18 AM UTC
Antara Aku dan Beethoven
aku adalah bulan purnama yang ada di atas jalanmu. Menerangi dengan redup sehingga kau tak peduli. Namun ada dan menjaga. walau sedikit signifikansi bagi anda. Keelokan ku tak terlihat bagi siapa saja. sembarangan. Aku barang mahal. kau perlu congkak dan mendongak untuk melihat. Tenang saja, aku bukan seperti saudaraku yang satu itu. Terlalu membutakan sampai kau tak sanggup memandang. Agar bisa kau sawang aku redup. Sekarang kutanya Kurang sayang apa aku padamu?
0
Jul 23, 2015
Jul 23, 2015 at 3:01 PM UTC
Bulan Purnama
melihat matamu kerap kau basahi bibir pipi kamu kemerahan tatkala aku sahut namamu redup hari itu tenang kamu kelihatan indah, indah seperti hari biasa cuma hari ini aku rasa lain hati aku berbisik tangan lembut ini yang menyamankan yang sentiasa ada tatkala aku gusar gelisah aku tentang kamu cuma satu --andai aku tidak layak untuk kamu tanpa segan perlahan kau dekati aku sambil itu kau belai tangan aku, seperti meletak harapan "--aku tahu, fikiran kamu dalam tentang aku. namun sayang ingatan kamu tentang aku adalah salah. apalah rasa ini, andai tiada yang ikhlas untuk memegangnya? telah aku pilih kamu untuk jadi ratu maka, jangan kau gentar pimpin aku akan selalu tanganmu" dia itu adalah bijaksana sentiasa tahu dan selalu tahu resah aku yang tiada habis lalu Tuhan pinta aku mahu dia sentiasa selamat -f 1048pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:48 AM UTC
Untitled
/1/ Merindu berarti meranggas Bak guguran detik demi detik Pada tangan pedih di petang hari Merindu berarti meradang Saat senandung semu Dari semua kisahmu Menorehkan luka Pada jejak lisanku Yang tak kunjung bermuara Karena kita yang bertualang Hanyalah jiwa dalam deru Jerit /2/ Siapa yang tinggal dalam gelap Jika bukan sekumpul hantu Dan kepulan sisa ragamu Yang denyut nadinya Sangat susah untuk kuraba Untuk apa membunuh diri Bila ternyata Tak pernah hidup Di cinta hingar bingar Di pilu tak berpijar Sumbu tubuhmu Akankah menyala lagi Apabila ku dekap dalam ratap? /3/ Terbitnya kabut Setelah fajar Takkan bisa Gantikan Kenanganmu dalam redup
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:43 AM UTC
Petuah Kuntum Kemarau
Ketika sore mengayunkan cahaya terakhirnya Kutahu saatnya akan tiba Kusiapkan diriku menyambut malam, Sang tirai gelap selimut jiwaku Hitam membentang sunyi meresap Cahaya-cahaya dipadamkan, disisakan yang redup Kumainkan kenangan-kenangan lampau di atas panggung pekat Kulantunkan kisah-kisah dalam alunan bisu Anganku berkelana dalam diam Khayalku liar bercabang-cabang Dengan tenang malam menemaniku Kesunyiannya memberanikan diriku Ratusan kisah dan kenangan kupentaskan dalam ribuan malam yang selalu kunikmati Walau tanpa bintang, ditemani sang rembulan Aku berkawan dengan malam
0
Aug 28, 2017
Aug 28, 2017 at 1:48 PM UTC
Nyaman Dengan Malam
Aku lihat wajah sugul dia Yang sedang duduk di sofa empuk kegemaran arwah abah Tengah merenung nasib tuanya Terkenangkan sikap anak-anak yang endah tak endah terhadapnya Terngiang-ngiang lagi suara tua itu berkata pada aku ' Tak kisah lah orang nak campak mak ke mana, Mak ikut aje ' Begitulah ayat yang keluar dari mulut si nenek tua itu sambil ketawa perlahan Riak mukanya begitu sedih Sayu dan redup wajah tua itu
0
Sep 20, 2014
Sep 20, 2014 at 4:43 PM UTC
Saerah
coba lihat pukul berapa ini? coba lihat kemana jarum jam menunjuk? ini sudah larut malam bahkan, sudah menjelang fajar tapi kenapa aku belum tidur? entah apa yang kupikirkan entah apa yang membuatku tetap terjaga oh rembulan, jangan redup dulu tunggulah aku sampai tertidur maukah kau menungguku jika sampai esok pagi aku belum tidur juga?
0
Sep 1, 2017
Sep 1, 2017 at 12:20 PM UTC
Belum Tidur
Aku ingin menulis puisi untuk pacarku. Tapi penaku mati. Tintaku tidak cukup untuk kata-kata rasa. Jadi aku mulai mengisi penaku dengan air mata. Kutulis rasa dengan huruf tanpa warna. Tapi kau tidak bisa membaca. Kau tidak pernah bisa membaca, sayang. Antara warnaku redup, atau matamu yang memilih buta. Namun, aku terus menulis kata. Belum cukup juga. Sebelum patah, Kuputuskan ganti tinta. Mungkin dengan darah.
0
May 9, 2019
May 9, 2019 at 3:00 AM UTC
Menulis untuk Kekasih yang Buta
Burung malam yang mengaku pagi. Lampu dimatikan. Aku melihat Venus begitu terang, Mars di bawahnya redup. }}} Tiga anak Iblis terlelap. Tanaman-tanaman dibinasakan.‰ Tidak ada satu, se, ataupun tuhan. Hawa begitu kejam. Dingin*
0
Jun 27, 2020
Jun 27, 2020 at 5:46 PM UTC
OKLASASADU
Hati dirantai sepi Sedih tertata rapi Jiwa dipasung waktu Pilu makin membiru Gelap menggrogoti batas imaji Cemas memeluk diri Melihat yang mulai redup Sirna kini tujuan hidup Tergopoh... Jelas langkah kian lelah, kian lemah Tersungkur raga sepertinya kalah Bersamanya putus asa Tangis menyatakan sesal Ingatan meremuk dada Hening memeluk semesta Ada yang mati di ruang hampa Barangsiapa enggan merayakan kehilangan Bersiaplah abadi dalam ketiadaan
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 9:35 AM UTC
NELANGSA ADALAH TAKDIR