"oktober" poems
Palembang, Senin 4 Oktober 2010
Oh, Shane...
How beautiful voice you have!
I always want to hear it one more time
I admire you from the start
When you sing a love song
I feel you touch my heart inside
When you say word by word
You makes me adore you too much
I want to take a rest
I can't close my eyes
Cause I always thinking of you
What a lovely smile you have!
You're beautiful everytime I see
You are great the way you are
Don't know, will I forget you?
I hope not.
Cause I can't live without your voice.
(edited Thursday, January 2nd 2014)
Jan 2, 2014
Jan 2, 2014 at 2:45 AM UTC
Jumat, 1 Oktober 2010
Alangkah gembiranya aku
Ingin ku tak henti tuk tersenyum
Tertawa, bahagia karena mereka
Terima Kasih Tuhan,,,
Kini banyak yang sayang pada ku
Mereka begitu berarti bagiku
Yang hiasi hari-hari di sekolahku
Terima Kasih Tuhan...
Mereka tidak kehilanganku
Mereka selalu memuat ku tersenyum
Dan selalu tersenyum untukku ku
Bersyukur aku atas yang ku dapat
Aku sayang kalian, Sahabat-Sahabat ku...
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:49 PM UTC
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010
Hari ini terjadi lagi
Kakak ku yang indah bertambah usia
Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin
Yang mana masih muda dan polosnya
Tak bisa ku berikan apa-apa
Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan
Supaya kakak ku panjang umur
Sehat selalu dan cepat menikah
Pesanku untuknya, adalah
Teruslah ciptakan lirik indah
Karena ku suka saat kau berkata
Dalam bentuk nada yang indah
Pesanku kan ku sampaikan
Melalui sinyal-sinyal batin kita
Semoga Allah SWT melindunginya
Dan biarkan ia hidup bahagia
Created By. Aridea Purple
To Arlonsy M.
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Palembang, 21 Oktober 2012
Aku berjalan,
menyusuri lorong gelap dan dingin
Menatap lurus pada satu tujuan
Pintu berukiran abstrak
Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya
Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan
Aku terus berjalan,
menapaki lantai yang lembap
Menuju suatu benda tinggi besar yang datar
Aku berhenti.
Berdiam diri cukup lama
Terpaku tanpa mampu berkata
Aku berdiri di depan cermin
Aku melihat diriku
Lihat Dia!
Dialah aku yang haus akan cinta
Dialah aku yang menadah kasih sayang
Aku berlutut dan meminta
Bawa dia ke sini Tuhan
Ke hatiku
Aku masih terdiam terpaku
Menyaksikan apa yang ada di hadapanku
Berpikir, betapa bodohnya aku
Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun
Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu
Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku
Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku,
sedikitpun
Aku akan berbalik dan melupakan semua
Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Palembang, 21 Oktober 2012
Kini aku menulis dari sudut kiri
Memalingkan mukaku dari hadapanmu
Tak ingin terlihat olehmu
Di sini, aku membaca sembunyi-sembunyi
Menahan kedip,
Tak ingin melewatkan membaca namamu
Di sini dingin,
hujan baru saja turun
Membasahi jalanan yang terlalu lama kering
Aku tak ingin pergi keluar
Hanya ingin di sini
Merasakan rasa ini lagi
Rasa seperti ini
Sekarang ini,
saat aku menulis ini
Rasa yang sulit tuk diungkapkan
Lebih sulit dari berjalan di atas bara
Lebih sulit dari mengingat namamu
Sangat sulit daripada menulis namamu
Sangat amat sulit daripada menyebut namamu
Rasa,
yang tak akan pernah berhenti membuatku menulis
Rasa,
yang tak mampu ku ucapkan sendiri
Rasa ini
Rasa yang sulit tuk dimengerti
Rasa yang tak akan pernah hilang
Rasa yang sulit tuk tak dibahas
Terima kasih tlah membuatku menulis dari kiri
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:22 AM UTC
(Palembang, 28 Oktober 2015)
Halo,
Halo??
Aku bilang, Halo
Lihat aku!
Aku sedang berkemas.
Kemas hati yang telah meleleh karena kata-katamu.
Berantakan,
Berceceran di lantai hingga menghalangi perasaan ini tuk hilang.
Halo~~~
Aku cukup gagal memperbarui hati yang pernah bahagia.
Hati yang pernah merona-rona ketika dekat denganmu.
Hati yang selalu merindu ketika jauh darimu.
Coba lihat hatiku sekarang ini!
Rusak,
Parah~ !!
Tak bisa ku perbaiki.
Halo lagi,
Tanggung jawab atau kau akan aku lupakan selamanya!
Tak percaya lagi denganmu.
Halo, ini yang terakhir kali.
Aku pergi tanpa membawa hati.
Jan 6, 2016
Jan 6, 2016 at 9:31 AM UTC
Palembang, 21 Oktober 2012
Maaf kalo aku masih cengeng
Maaf kalo aku belum bisa mengontrol emosi
Tapi aku bener-bener ga kuat
Di kala hati ingin berhadapan dengan dia
Jemariku tak kuasa tuk menari di atas keyboard
Mengetik namanya, melihat fotonya
Menahan rasa malu yang ku bangun sendiri
Menahan rasa kembali ingin mencintai
Melawan pikiran yang berusaha tuk melupakan dia
Tetapi aku mengikuti rasa yang sangat ingin
Keinginan yang mustahil
Keinginan yang seharusnya tak ada di hati
Keinginan yang seharusnya aku sudahi
Keinginan yang sudah sepantasnya tuk mati
Tetapi, malah semakin kuat setiap hari
Aku menangis lagi,
dan itu sering
Maaf sekali lagi
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:35 AM UTC
31 Oktober 2016
Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45
30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku,
"apa yang membuatmu bahagia?"
secangkir kopi, malam dan hujan jawabku
lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya,
"kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu"
"Karena aku menyukai kejujuran pada kopi,
Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya.
Karena aku menyukai kesederhanaan malam,
Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang.
Karena aku menyukai keikhlasan hujan,
Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang."
kau termenung kembali,
dahimu berkerut memikirkan sesuatu
"apakah hanya itu?" tuturmu lagi
dan aku hanya tersenyum,
"aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan."
kau tersenyum mengejek
"Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak,
seperti itulah aku, jawabku
pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku
menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Jumat, 1 Oktober 2010
Terima Kasih Opa...
Kau luangkan sedikit waktumu
Untukku di sela waktu istirahatmu
Terima Kasih Opa...
Tak pernah engkau marah padaku
Meski ku pulang terlambat
Atau terlambat bangun di pagi hari
Terima Kasih telah menjaga ku
Selama ku di perantauan ini
Ku pikir hanya mengandalkan raga ini
Namun ku pasti tak mampu tanpa bantuan mu
Beribu-ribu Terima Kasih untuk mu... Opa
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:45 PM UTC
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008
Ku terlahir di dunia
Untuk hidup dan berusaha
Ku kira, aku akan bahagia
Namun ternyata tidak
Ku berdoa . . .
Ya ilahi … akulah dia
Yang malas bekerja
Yang tak mengejar masa depan
Yang hanya duduk dengan lamunan
Ku iri dengan gunung dan langit
Lirik dengan melodi, hati dengan perasaan
Karang dengan laut, angin dengan pohon
Dan … kini ku sadari
Akulah Manusia Bodoh
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Jumat, 1 Oktober 2010
Aku punya banyak teman dekat
Mereka semua baik pada ku
Tapi ada saat aku bingung
Bingung akan saran yang mereka beri
Yang ini bilang ACD
Yang satu kembali ke ABC
Yang itu bilang jangan
Ada lagi yang bilang coba dulu
Semua membuat ku bingung
Aku berkata, dibilang salah
Aku diam saja, dibilang tambah salah
Ku ambil keputusan sendiri
Tapi aku tak yakin
Oh... Hidup memang sulit
Penuh pilihan dan tantangan
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:48 PM UTC
Palembang, 1 Oktober 2010
Kemerdekaan t'lah diraih
Indonesia bebas dari penjajah
Tiap tahun mari kita rayakan
'Tuk mengingat jasa para Pahlawan
Pahlawan Kemerdekaan
Yang tak kenal balas jasa
Hanya harap akan kejayaan bangsa
17 Agustus yang bersejarah
Di 65 tahun lalu yang menguras darah
Created by. AP
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:41 PM UTC
Smilende, glad og fuld af energi
Blomstende og fantasifuld, - narrer jeg dem til at tro at jeg er glad.
Bilder mig selv det samme ind.
Tror, føler og mærker glæden vælte ind over mig.
Ikke hele tiden, glimt af lykke. Men i en melankolsk og sentimental tilstand dybest.
Desperat for at komme ud, bryde kæden op og vælte ud med sol-strålende sprudlende livsglæde.
Jeg kommer ovenpå, jeg er ovenpå, jeg er i sommerhumør selvom vi er i oktober.
det lykkedes mig, min lykkefangst
Jeg er OK.
Oct 18, 2015
Oct 18, 2015 at 6:36 AM UTC
du har brugt to år på at fortælle mig
at regnen på din rude, lyden af dråberne, der faldt tungt,
lød som mit grin; beroligende og uendeligt
at bladene, der falder til jorden, midt i oktober, så sørgelige ud, og du svor på
at sådan en sorg, den mangel af glæde og lys, sådan skulle jeg aldrig føle
og smagen af kaffe, dit yndlings drug, var præcis som du så mig;
varm, stærk, vedvarende og efterlod dig med tanken om, hvornår du kunne få mere
tre uger har jeg nu været foruden disse ord
din berøring
dit nærvær
tre uger fyldt med kaffe, regn og efterår, men intet har jeg hørt
måske du skulle have brugt mindre tid på at snakke
og mere tid på at elske mig
Jun 14, 2014
Jun 14, 2014 at 3:59 AM UTC
Endnu en aften
hvor jeg sidder med glasskår på mine øjenvipper.
Jeg tror ikke på tårer.
Nuancer af glæde tegnes i dine øjne.
Sideeffekter af jalousi og smerte.
Du siger, at månen dør og dine stemme splintres
- som var det os.
Alle vores løgne og billig *****
under beskidte, isblå negle.
Dine hænder på mine ribben sender stød igennem min krop og
knækker min krogede rygsøjle som var den af vinyl.
Jeg kysser din nøgne hals til live.
Vores vener lyser natten op.
Trætoppene over os; er det eneste, der holder os nede.
De siger, at blå øjne er farlige,
og jeg lovede ikke at blive afhængig.
men det er anderledes nu.
Her står vi så.
Med kindben lavet af begær som var det ******
Men verden har sit greb om os.
Der er ingen EXIT ZER0.
Vi er tvunget til at blive stående. I koma.
Under trætoppene i oktober-regn.
Det er vores eskapisme.
Vi har intet andet.
Når vi går hjem,
kan jeg spejle mig i blank kaffe og drømme.
Tankespind af brandsår og stjerneregn.
til vi ses igen.
Dec 20, 2014
Dec 20, 2014 at 4:04 PM UTC
da vi først mødtes
plantede du liljer
på min altan
og roser
i mit sind
og over sommeren
kom du gerne forbi
for at pleje og vande dem
og elskede
at se dem vokse
men det blev oktober
og ikke alle blomster
kan klare kulden
og langsomt visnede alt
nu
er liljerne
faldet sammen
og jeg går ikke ud
på min altan længere
rosenbladene
er faldet af
der er kun torne
tilbage i mit sind
og jeg kan mærke
at jeg slår rødder
Oct 10, 2014
Oct 10, 2014 at 2:17 AM UTC
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman.
Kadang sendiri, kadang bersama kawan.
Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa.
"Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman.
Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan.
Luka bekas sayatan menganga lebar di dada.
Ia bermandikan darah dan air mata.
Gadis kecil berpipi bulat terkesima.
"Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran.
Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas.
Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya.
"Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?"
Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan.
Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap.
Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.
Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya.
[Jakarta, 17 Juni 2019.]
_________
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka.
Tuan Singa pandai bersandiwara!
Sesekali tertawa di selipan duka.
Gadis kecil berpipi bulat melihat.
Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita.
Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan.
Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa.
Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa.
Gadis kecil berpipi bulat terdiam.
"Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa.
Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau.
Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur.
"Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya.
Selamat tidur dan bermimpi.
Semoga mimpi malam ini indah."
Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas.
[ Jakarta, 22 Juni 2019 ]
——
Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak.
Gawat.
Raja hutan mempermainkan teka-tekinya.
Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri.
“Tuan singa. Tuan singa.
Apa yang tuan inginkan?
Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?”
[5 Agustus 2019]
——
Raja Singa sedang terluka.
Ia gelisah.
Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati.
Atau,
bukan dia, yang sang raja cari ?
[19 September 2019]
____
Cukup.
Waktunya telah tiba.
Gadis kecil berpipi bulat harus pergi.
Semoga kamu bisa tidur.
[04 Oktober 2019]
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Dit navn smager af efterår, og dine læber udstråler sommer
Din glød viser forår, mens dit hår er formet som vinter
Dine øjenvipper mod min kind er august, og dine fingerspidser er februar
Dine fregner er juni og dine øjne er klart oktober
Dine blodårer er marts, men dit hjerte er maj
Din hud er januar, og dit smil er juli og de lidt for tydelige kraveben er da helt sikkert april
Linjerne i dine hænder er september, og de sorte rander om øjnene minder mig om november
og nu forstår du vel, at jeg ikke kan svare på, hvilken af månederne der er min yndlings.
Sep 29, 2014
Sep 29, 2014 at 2:13 PM UTC
Palembang, Senin 4 Oktober 2010
Mom, I know you know that I love you
Although I never say that in front of you
But I believe you feel the same with me
That we both are never be apart
We are always be together, Forever
Until the end of time, And the age is die
Jan 2, 2014
Jan 2, 2014 at 2:47 AM UTC
Ich bin ein Dichter
Ich besprenkle Herzen
Mit Versen, Blumen
Reimen und Küssen
Vor dieser stummen
Schönheit
Die sich entfernt
Und die ich anstarre
Oh! Frau
Madam
Gott hat den Himmel geöffnet
Um uns zu treffen und zu begrüßen
Zwei Kelche mit Honig
Sind in der Nähe der Oase
Du und ich gehen schwimmen
Mitten im Sommer
Und danach, auf dem schönen Bürgersteig
Werden wir spazieren gehen
Was für ein Abend der Schönheit
Der Liebe, des Friedens
Der Freude und Fröhlichkeit
Vor der Bucht!
Copyright © Oktober 2024, Hébert Logerie, Alle Rechte vorbehalten.
Hébert Logerie ist Autor zahlreicher Gedichtsammlungen.
Nov 10, 2024
Nov 10, 2024 at 11:36 PM UTC
Oktober
In September.
My world collapses
Amid the loamy stench of portaloos and stale spilled *****
Indecency caught
Betrayal unearthed
Catastrophe birthed.
I enter Hell
A husk,
A shell.
Oct 11, 2013
Oct 11, 2013 at 6:14 AM UTC
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008
I am trying to forget you
But I couldn’t
You’re always in my heart
That is special thing, that’s my love
How can I have you in my life?
No, I couldn't.
How can I think about you?
Why you always here?
Why you’re not go away?
Go so far away!
From my life
Why?? Why??
(edited Thursday, January 2nd 2014)
Jan 2, 2014
Jan 2, 2014 at 2:52 AM UTC
I had never seen
A single soul
Fly away as quickly
As yours.
It was almost as if
Your 280 pounds
Of muscle, blood,
Calluses, and scars
Broke all the way down
To their atoms
And dissipated
To the east
With February winds.
I feel your atoms
Creeping up the nape
Of my neck,
Raising hairs
And wrapping
Around my waist-
They still find
Their way
To the warmth
Of my heart.
October in Oklahoma
Keeps heating me up
With gusty touches
Of you
And I'm terrified
You're the cherry
On my tobacco body-
Slowly burning down
With each inhale
Until all that's left
Is a stained shell
Making it's way
Across oiled grounds.
Oct 6, 2014
Oct 6, 2014 at 12:25 AM UTC