Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"memaksakan" poems
dua insan yang risau akibat memaksakan lupa akan adanya sebab akibat di butakan oleh rasa menghikayatkan sebuah perpisahan membiarkan sang waktu bekerja di tengah hingar bingar kehidupan
0
Mar 4, 2019
Mar 4, 2019 at 11:51 AM UTC
•Batas•
ingin punya teman, tapi kadang menyebalkan ingin ditemani, tapi sering menjauhi. ingin jadi diri sendiri, tapi mayoritas memandangnya jijik. lantas ia menjadi banyak elemen mencoba cocok pada semua hal memaksakan diri untuk pantas tapi tetap saja, lihat saja ikan dan sapi sama sama milik sang empuNya sama sama Rabb yang menciptakan sama sama Ia yang memberi ruh ikan diletakan di daratan rumput sapi diletakan di laut lepas bagaimana ? mau seruwet apa kamu mengatur jika memang tidak pantas yasudah cari yang disuruhNya pantas untukmu toh, kualitas lebih diminati daripada kuantitas. itu kalo aku gak tau kalo kamu.
0
Dec 7, 2018
Dec 7, 2018 at 9:22 AM UTC
siapa ?
ada yang berkata untuk urusi urusanmu sendiri ada juga yang menganjurkan kita saling bantu oiya, kita juga disalahkan karena apapun yang kita pilih semuanya akan selalu berjalan seperti itu oiya sebenarnya disini; tidak ada yang benar benar salah tidak ada yang benar benar betul jika dilihat dari banyak sudut pandang jika memang berkata; biarlah, orang itu sendiri sendiri ya harus konsisten tidak usah memaksakan kehendak suatu makhluk. tuhannya ? tidak usah ditanya. tidak sopan.
0
Jan 29, 2019
Jan 29, 2019 at 3:07 AM UTC
iya juga ya
Malam hari kau berteriak 'tolong' dari matamu aku tahu kau butuh sesuatu untuk kau jadikan alasan untuk terus berjuang Malam hari itu, kau bungkam kau memaksakan diri untuk tersenyum tertawa alunan suara tak pernah berbohong, sayang matamu yang sayu itu menangis, sayang... Ada apa? Malam hari itu aku berpikir Ada apa? Ada apa? Kamu tahu? Kesedihan seseorang yang disayang itu menular bak penyakit yang arogan mengerogoti badan? Kamu tahu? Aku tertular? Dan aku bahagia, setidaknya aku masih punya hati untuk merasakan duka bersama.
0
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 1:18 PM UTC
Aku dan Pemuda itu Bungkam
Ternyata benar, jarak dan ketidakhadiran fisik adalah alasan mengapa kita menyukai apa yang tidak disukai. Terkadang paksaan adalah bagian dari hal terindu yang diinginkan manusia; Bagaimana tidak? Sejak kapan kau menyukai teh hangat? Tumis sawi-sawian, bahkan sayur berkuah santan? Jawabannya sejak kita memiliki jarak dengan ibu. Saat ketidakmampuan kita untuk melihatnya megiris bawang setiap pagi sehabis subuh Suaranya yang memekik dari ujung ke ujung. Kita tidak benar-benar menyukai beberapa hal diatas, kita hanya memaksakan momen agar kita merasa berada pada masa lalu. Kemudian semakin bertambahnya angka-angka, kita lupa Jengukan anak-anak adalah vitamin yang ia perlukan Karena pulang yang sebenar-benarnya adalah saat kita melihat ibu. B_A 14-15 Mei 2013
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:00 PM UTC
Balada
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati. Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu. Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
0
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC
Sudah