"surabaya" poems
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu
Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana
Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas
Yang sama putihnya dengan kulitmu
Tak lupa kubakar ujung rokokku
Yang namanya sehangat pelukanmu
Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau
Menguar sama harumnya dengan tubuhmu
Sepekat nikotin di pembuluhku
Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua
Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu,
dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku
Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah *****
Dirimu ku lukis dalam surat ini;
"Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada?
Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh?
Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari
Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan
Mungkin, aku disitu mencari dan mencari
Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh
Menadah air matamu, jika itu memang tercecer.
Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia"
Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning
Menerawang di bohlam remang-remang.
Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku
Saat api ini padam, redup juga jiwaku
Pukul tiga aku beranjak,
Bayar dan pergi
Surat itu kutinggalkan di atas meja.
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
31 Oktober 2016
Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45
30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku,
"apa yang membuatmu bahagia?"
secangkir kopi, malam dan hujan jawabku
lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya,
"kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu"
"Karena aku menyukai kejujuran pada kopi,
Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya.
Karena aku menyukai kesederhanaan malam,
Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang.
Karena aku menyukai keikhlasan hujan,
Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang."
kau termenung kembali,
dahimu berkerut memikirkan sesuatu
"apakah hanya itu?" tuturmu lagi
dan aku hanya tersenyum,
"aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan."
kau tersenyum mengejek
"Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak,
seperti itulah aku, jawabku
pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku
menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
It happened early one morning.
It happened like it always does,
times 3.
Strapped, armed, holding hands
what every loving mother
shouldn't do.
Word of it traveled
like the winter flu,
by noon everybody had heard
of maniacal faithers
who took home her children
lighting up fireworks.
The sun blazed dazedly
evaporating 3 crosses,
not quite melting the ice.
Until it reached my porch step,
it were but distant voices.
now it's here
and real. like it always is of course
but now it's closer than ever
bursting at my door.
Sliced up like a juicy tomato
his screams are muffled by
a screen screening bright information
into the heads of mouths
who offer surreal commentary
disguised as jokes.
We're terrified.
We're hypochondriacs fearing
contamination of a rampant
plague.
A plague we've never seen before.
Our ****** eyes.
So many have already
been ***** by fate.
Faith in fatherly beards
granting wishes to
obedient children
who go tarnishing other fathers' gardens.
What an absurd world
where IS is ice that
cannot melt.
What an absurd world
where children weep
at mothers' debt.
What an absurd world
where faithful supremity
reigns unchecked.
May 27, 2018
May 27, 2018 at 10:07 AM UTC
"Senja dan jingga kembali bertemu,
aksara tentang rindu terlantun hingga senja kembali ke peraduannya.
Ada jeda diantaranya yang tak bisa dieja, gelap meleyapkan, bulan menggantikan.."
Surabaya, 31 Juli 2019
Nov 5, 2019
Nov 5, 2019 at 9:59 PM UTC
I bet the sounds inside my head were noisier than the sounds of cars that jammed in the middle of traffic in Surabaya.
Especially when it comes to rush hour.
I often caught myself were slowly dying.
And I'm not even sure who the hell I am.
But I'm always like this, isn't it?
Isn't it a tragedy?
For being someone who watches me with misery.
That's why I made this poetry.
But someone out there is despising this part of me.
I wrote this because my capability with words that I put and I spend to think are well composed than the words that I never been able to say out loud.
So please, honks by all means.
So I wouldn't hear the sound inside my head was talking about.
Feb 5, 2021
Feb 5, 2021 at 9:23 AM UTC
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza
Saat bangun tidur badanku terasa lemas.
Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur.
Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal.
Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif.
Memposting apapun yang sedang dia alami.
Omar mengeluh susah tidur.
Kedinginan berselimut kain tipis usang.
Banyak nyamuk masuk ke tendanya.
Sementara di luar suara zanana mengganggu.
Diselingi ledakan bombardir pesawat jet.
10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza
Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai.
Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh melihat banyak belatung.
Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.
Dia tak bisa lagi membuat roti.
11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza
Aku menunggu ojek online di tepi jalan.
Sambil merokok kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo.
Sementara air untuk mandi dan mencuci.
Hanya tersisa setengah ember.
01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza
Aku sedang makan siang di Peneleh.
Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh saat mengantri di toko.
Menghabiskan waktu dan tenaga.
Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti.
04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza
Saat sore aku nongkrong di Wonokromo.
Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah belanja di pasar.
Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai.
Harganya semakin naik tak terjangkau.
06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza
Aku sedang duduk di beranda masjid.
Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah berjalan jauh.
Merasakan kepanasan dan kelelahan.
Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai.
08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza
Aku masih makan malam di Tunjungan.
Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar.
Ternyata di Gaza sedang hujan deras.
Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran.
Barang barangnya basah terkena air hujan.
09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza
Temanku mengajak minum kopi di kafe.
Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam.
Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam.
Lalu menaruhnya di atas piring kosong.
10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza
Aku sedang menonton sepakbola.
Saat jeda kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme.
Hampir seminggu tak mendapat donasi.
Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel.
01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza
Tengah malam aku bersiap tidur.
Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar.
Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir.
Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi.
Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah.
03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza
Aku merasa kesulitan tidur.
Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar.
Ternyata dia masih tetap mengeluh.
Merasa lelah terus menerus mengeluh.
Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh.
Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh.
Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh.
Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh.
Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan.
Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh.
November 2024
By Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
Bulan tampak besar dan terang.
Aku memandangnya pada saat tengah malam.
Sambil berdiri di tepi sawah yang sepi.
Dekat rel kereta pinggiran Surabaya.
Kukeluarkan ponselku dari saku celana.
Lalu kupotret bulan yang kupandang.
Setelah itu langsung kuunggah fotonya.
Pada akun Instagramku.
Kulihat ada banyak postingan foto.
Dari akun Instagram orang orang Gaza.
Ternyata mereka juga sedang memandang bulan.
Bulan yang sama dengan yang kupandang.
Maha sedang duduk di atap rumah.
Dia memandang bulan sambil minum kopi.
Tanpa peduli bombardir pesawat jet.
Meledakkan pemukiman di Deir El Balah.
Omar sedang nongkrong dengan temannya.
Dia memandang bulan sambil merokok.
Melepas lelah setelah membantu relawan.
Membagikan makanan di Khan Yunis.
Mariam sedang termenung di depan tenda.
Dia memandang bulan sambil mengenang.
Kehidupannya yang hilang tak tersisa.
Terkubur puing puing rumahnya di Tel El Hawa.
Malak sedang menangis sedih.
Dia memandang bulan sambil mengingat.
Seorang teman akrabnya yang telah tiada.
Tewas terkena tembakan ******
Dr Abraham sedang duduk di balkon.
Dia memandang bulan sambil mengeluh.
Kelelahan mengurusi orang orang terluka.
Memenuhi rumah sakit Al Nasser.
Saleh sedang melihat sekumpulan anak muda.
Mereka gembira menari dabke dan bermain oud.
Di atas puing puing reruntuhan bangunan.
Sementara bulan bersinar terang di belakang.
Begitulah bulan yang besar dan terang.
Menjadi penghias malam orang orang Gaza.
Yang masih terjebak kekacauan panjang.
Tanpa tahu kapan akan berakhir.
October 2024
By Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:21 PM UTC
Sore hari setelah hujan reda.
Temanku mengajak keliling Surabaya.
Dia menyetir mobilnya yang usang.
Melewati jalanan kota yang ramai.
Kami melewati beberapa restoran Amerika.
Mc D , KFC , Burger King dan Pizza Hut.
Semuanya tampak ramai dipenuhi orang.
orang orang itu masih tetap makan di sana.
Tanpa peduli dunia sedang memboikot.
Lalu kami berhenti di minimarket.
Temanku ingin membeli rokok dan jus buah.
Tapi di dalam ada banyak orang berbelanja.
Membeli produk produk P&G , Nestle , Mondelez dan Unilever.
Tanpa peduli dunia sedang memboikot.
Tak jauh dari minimarket ada taman bunga.
Kami nongkrong sebentar sambil merokok.
Ada banyak juga orang yang sedang nongkrong.
Sambil meminum Coca Cola atau Pepsi.
Tanpa peduli dunia sedang memboikot.
Kami merasa heran dengan semua orang.
Apakah mereka tidak tahu atau tidak mau tahu ?!..
Bahwa produk produk Barat yang mereka konsumsi.
Berlumuran darah dan bercampur serpihan tubuh.
Orang orang dan anak anak Gaza.
October 2024
Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:33 PM UTC