Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2016
Cerita Pendek Tentang Hantu*
Sebuah cerita pendek*

Anak-anak muda itu bilang bahwa Sundari cumalah hantu. Bagi mereka, Sundari sekedar cerita orang-orang tua zaman dahulu yang tak ingin anak lakinya pergi sampai larut malam. Parahnya lagi, mereka terkadang menganggap Sundari isapan jempol dan menggunakan namanya sebagai ejekan. Berbagai lelucon mereka buat untuk merendahkan Sundari,

Mereka pada saat tertentu menganggapnya seperti hewan kelaparan yang bersembunyi dan siap menerkam mereka,

Ketakutan sesaat.

Sayangnya, pada hari-hari berikutnya, Sundari malah terkadang lebih rendah daripada hewan.

Jika binatang buas dapat sewaktu-waktu muncul dan menyantap mereka dengan mudah, para pemuda justru berpikir bahwa mereka lebih tinggi dan mulia dibanding Sundari sehingga ia hanya akan menjadi segelibat penampakan.

Sundari cuma monster dan angan-angan, katanya, di zaman seperti ini mana ada hantu penculik jejaka. Pikiran anak muda memang berbeda dengan kebanyakan orangtuanya.

Padahal, Sundari sama seperti kita.

Sundari bukanlah siluman, hantu, atau makhluk mengerikan yang layak dijadikan lelucon semata.

Apalagi bahan cerita setan dan sarana menakut-nakuti bocah.

Dengar baik-baik, ia tidak terbang, ia tidak menghilang. Ah, Sundari bahkan tak punya kemampuan macam itu.

Sundari berjalan dengan dua kaki, melihat dengan dua mata, dan dapat memelukmu dengan dua tangan hangatnya. Yang mungkin berbeda adalah hati Sundari yang entah di mana sekarang. Inilah yang membuat ibu-ibu dengan anak lelaki begitu menakuti Sundari. Mereka yakin bahwa Sundari-lah yang akhir-akhir ini menculik buah hati mereka yang pergi malam, lalu menghilang selama satu minggu dan ditemukan gundul tanpa nyawa,

Tanpa hati,

Pada suatu sore yang hangat di padang ilalang dekat dusun.

Beberapa mengira bahwa Sundari adalah perwujudan pesugihan atau tumbal yang mengincar jawara-jawara muda, seperti andong-andong pocong yang dahulu sempat marak. Dahulu, pergantian kepala dusun di sini dilakukan dengan adu kekuatan. Para sesepuh percaya bahwa teh dari seduhan rambut pemuda dapat memperkuat diri dan meningkatkan kekebalan, ini menjadi salah satu spekulasi motif Sundari selain tumbal-tumbalan itu. Beberapa berpikir kalau Sundari menjual rambut lelaki muda di desa demi mendapatkan keuntungan baginya.

Kalau di antara gadis-gadis belia nan jelita yang bergelimang asmara, Sundari kerap digunakan sebagai sebutan untuk penyerebot kekasih orang. Terkadang huruf i di hilangkan, sehingga menjadi Sundar saja.

“Dasar, dia memang Sundari!”

“Padahal telah lama kita menjalin kasih, kenapa ia harus jatuh ke tangan Sundar macam dirinya!”

Apa Sundari begitu buruk hingga namanya lekat dengan orang serta kasih yang hilang?

Padahal dahulu Sundari hidup tenang,

Memang dahulu ia juga sumber perhatian,

Tapi ia hidup tenang dan dihujani kasih—

Yah, itu sebelum dusun ini akhirnya mengadili sendiri suaminya yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Menurut mereka, sangat tidak masuk akal seorang wanita pintar, seperti Sundari yang bekerja sebagai pendidik, memiliki suami yang lebih muda darinya. Pemuda berambut panjang itu hidupnya mungkin berkesan asal-asalan. Dandanannya serampangan, rambutnya berantakan dan panjang; padahal di dusun ini, sangat wajar bagi lelaki untuk memiliki rambut panjang. Banyak yang bilang tubuhnya bau tengik, dan ia jarang terlihat bekerja. Pada kedua tangannya, sering terdapat guratan-guratan warna. Berbeda dengan para petani pekerja keras yang terkadang tangannya diwarnai oleh tanah, warna-warna yang ada pada tangannya merupakan warna cerah yang tak mungkin didapatkan secara alami. Namun Sundari dan suaminya tetap dapat hidup dengan layak dan nyaman menggunakan upah mereka. Pasangan itu tak pernah meminjam uang, tak pernah mencuri.

Tak di sangka, orang-orang di dusun yang memandang bahwa agar dapat hidup berkecukupan harus digandrungi serta ditempa dengan kerja keras yang dapat dilihat oleh semua orang memandang bahwa dalam rumah tangga itu, hanya Sundari yang bekerja keras melayani suaminya. Sedangkan sang lelaki, menurut mereka, ambil enaknya saja dan kesehariannya sekedar leha-leha di teras rumah kayu mereka sambil merokok sebatang dua batang.

Mereka, terutama para bujangan, mencari-cari kesalahan pasutri bahagia itu.

Mereka kembali memanggil-manggil dan menggoda Sundari yang makin merapatkan kerudung hijau yang biasanya ia selampirkan apabila berjalan ke sekolah tiap pagi dengan kebaya sederhananya. Para bujang itu dipimpin oleh  Cak Topel yang istrinya lumpuh dan selalu ia tinggal sendiri dirumah. Mereka menungguinya tiap pulang, dan menghalangi jalannya kembali kerumah. Pernah sekali suaminya mengantarnya ke gedung sekolah reot itu, dan menungguinya sampai pulang. Sedihnya, ditengah perjalanan pulang ia babak belur dihajar  pemuda-pemuda berbadan besar itu—Setelahnya, Sundari melarangnya untuk sering menampakkan dirinya di depan warga dusun.

Yang harus dikagumi di sini adalah sifat pantang menyerah mereka. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjungkalkan Sundari dan suaminya dalam fitnah, sampai akhirnya mereka mencium sesuatu yang janggal dari rumah senyap mereka.

Bau tengik,

Ada yang bilang, jenis pesugihan macam tuyul sebagus apapun tetap akan mengeluarkan bau tengik atau busuk.

Mereka mulai menyambungkan hal ini dengan warna pada tangan suami Sundari,

“Itu tidak mungkin didapat dari bekerja di ladang.”

“Warna-warna itu pasti ramuan dukun.”

Dari situ, dapat dipastikan bagaimana Sundari dan suaminya dapat selalu hidup berkecukupan bahkan dengan uang mereka yang pas-pasan. Bujang-bujang berbadan besar itu segera menyebarkan cerita dan tuduhan-tuduhan yang membuat telinga panas. Sundari dan suaminya makin menarik diri dari warga dusun. Sundari bahkan berhenti mengajar setelah menemui kelas-kelas yang seharusnya ia ajar seringkali kosong, dan menemukan tatapan-tatapan sinis para ibu rumah tangga mengintipnya dari depan pagar kayu sekolah yang alakadarnya itu.

Entah kita harus bersyukur atau tidak, persembunyian itu tidak berlangsung lama. Pada sebuah malam bulan purnama yang lembab dan becek, Sundari melihat bola-bola cahaya dari jendela rumahnya yang ditutupi oleh anyaman jerami. Nyala api itu berasal dari berpuluh obor warga dusun yang berteriak-teriak dan menuntut Sundari dan suaminya agar mengaku bahwa mereka menggunakan pesugihan.

Sundari keluar sembari menyelampirkan kerudung hijaunya, diikuti suaminya yang rambutnya digelung tak rapih. Belum sempat mereka mengucapkan sepatah kata, para bujang menarik suami Sundari dengan menjambaknya dan melamparkannya ke tanah becek, menendangi pertunya, lalu menghajarnya seolah ia binatang peliharaan yang tak pernah patuh pada majikannya. Sundari hanya dapat menjerit dan menariki baju sejumlah laki-laki yang menghunuskan kepalannya pada tubuh kecil dan rapuh orang yang dicintainya. Setinggi apapun ia berteriak, suaranya seolah tenggelam dalam arus deras kebencian yang tak berdasar.

Jeritan untuk orang yang dikasihi itu lambat laun berubah menjadi jeritan untuk dirinya sendiri. Istri Cak Topel yang lumpuh rupanya merayap di tanah dengan sigap seolah laba-laba berkaki seribu, dan menarik bagian belakang kebaya Sundari sampai ia terjerembab ke tanah di mana ujung matanya menangkap sang suami yang rambutnya digunduli tanpa ampun dengan alat yang tak pantas. Saat menyaksikan adegan romansa sedih tersebut, wanita-wanita dusun menjambaki rambutnya, menampari pipinya dan menghajarnya tanpa ampun sambil menghujaninya dengan ludah-ludah mereka yang menasbihkan berpuluh hujatan menyayat hati. Setelah pasutri itu terkulai lemas di tanah musim hujan, barulah warga membumihanguskan mereka berdua yang tangannya tetap bergandengan.

Nasib naas, entah harus disyukuri atau tidak, menimpa suaminya yang terbakar hangus sepenuhnya. Sedangkan Sundari, dengan tubuhnya yang telah setengah terbakar, berhasil kabur dan hilang dari peredaran untuk beberapa saat.

Untuk beberapa saat,

Sampai lelaki yang menggoda, menghajar, membawa mereka pada keterpurukkan semuanya hilang satu persatu, termasuk Cak Topel.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau ronda, dan ditemukan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Orang-orang bilang bahwa ini Sundari yang menuntut balas. Meskipun entah di mana dirinya berada, ia masih tetap menghantui. Membayang-bayangi dengan perasaan bersalah yang menyakitkan bagi seluruh warga dusun,

Karena

Sundari dan suaminya tidak pernah melakukan pesugihan.

Dan, ah, itu cuma tipu muslihat para bujangan yang cemburu dan bersedih karena tak bisa mendapatkan Sundari dalam dekapan mereka sekeras apapun mereka berusaha. Entah sudah berapa lelaki dan lamarannya ditolaknya, ia justru jatuh hati pada pelukis bertubuh kecil yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

Bagaimana amarah mereka tidak tersulut?

Seandainya warga dusun lebih mengenal bau cat dan minyak untuk melukis, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk menuduh Sundari dan suaminya terkait pesugihan.

Ah, coba mereka masuk ke rumah kayu kecil itu sebelum main hakim sendiri. Mereka tak akan sekaget itu saat menemukan gubuknya penuh dengan cat dengan bau tengiknya, tumpukan kertas dan bahan bacaan, serta lukisan-lukisan yang masih dikerjakan.

Hilangnya para bujangan lalu diikuti dengan hilangnya murid-murid sekolah menengahnya, dan lelaki muda lainnya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ini.

Sundari tidak berhenti.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau berjalan di pematang sawah, saat menantang diri mengaku “tidak takut dengan Sundari itu!” lalu ditemukan dengan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Sundari menyukai kerudung hijaunya yang hilang kala malam,

Kerudung tipis indah yang digunakan untuk menutupi kondenya—Yang direnggut paksa darinya lalu hangus rata dengan tanah.

Tapi Sundari lebih menyukai kehadiran,

Kehadiran suaminya dan tangannya yang bekerja melukis diam, kehadiran kerudung hijau yang melindunginya dari tatapan tajam, kehadiran murid-murid lelakinya yang dengan polos melontarkan lelucon serta godaan-godaan untuk Ibu Guru Sundari mereka, kehadiran anak-anakmu yang sombong.

Sundari menyukai kehadiran, dan itu merupakan alasan lain mengapa ia menggundul habis lelaki yang diculiknya, lalu mengupulkan rambut mereka yang ia sambung, anyam, serta kenakan dengan nyaman bak kerudung dan mantel bulu.

Maka dari itu, orang-orang yang melihatnya terkadang bilang kalau Sundari cumalah hantu; bayang-bayangnya selalu muncul dalam bentuk segumpal rambut menjelang malam.

Sundari lebih suka kehadiran,

Keadilan.

Tapi apa membalas dendam seperti ini juga salah satu bentuk keadilan?

Entahlah, ini pilihan hidup Sundari. Sudah kubilang kalau hatinya entah di mana.

Sekali lagi, Sundari bukanlah hantu. Ia manusia yang teraniaya sama seperti kita. Manusia yang disalahi.

Kalau dipikir lagi, bukannya setan terkejam adalah manusia sendiri?

Yah, itu sih sudah berpuluh tahun lalu. Entah apa jadinya Sundari sekarang. Sekarang lelaki cenderung berambut pendek, tak seperti dulu. Bayang-bayang Sundari kemungkinan tidak se beringas waktu itu, dan telah berkurang frekuensinya. Namun wanti-wanti mengenai dirinya terus ada dan berubah seiring berjalannya waktu, bervariasi.

Itu sudah
Berpuluh tahun lalu.
Mungkin sekarang ia telah jadi hantu sungguhan, atau ada perwujudan Sundari-Sundari lainnya?

Tidak masuk akal, ya?

Aneh, omong kosong, isapan jempol.

Kalau dipikir lagi, bukannya dunia ini selalu penuh omong kosong dan tangis dalam gelak tawa?
entablature archetypal wrangle arguable arraign arrest ascribe arsenal article artificial artisan ascension austere askance obliquely aspire assail assault assay assert diligence obsequious assimilate stigma perspicacious astute asunder atman atrium attrition intrepid autonomous avarice avert avocation azimuth azure abbreviate aberrant abhorrent relinquish loathe abstinence abstention  abysmal accelerate accordance accoutrement accrue exasperate acquaintance baccalaureate bacillus backbite baggage ballistic baluster bandolier banister barrage barranca barrier bartizan basilica bastion batholiths bathyscaphe battalion batten battle bauble ***** beastly ******* beckon beacon bazaar bizarre Bedouin beguile behavior beleaguer belligerent belvedere berserk beseech bewilder bezant bicker bigamy bight bilk billet billiard billow biogenic biscuit bivouac blatancy blizzard bodacious boggle bollix bombardier boudoir bouquet butte boutique bower brassier mesa breach breech brochure brogue brooch broach bruise brusque buccaneer buffoon bureau buttress buxom caffeine cauldron calisthenics calligraphy callous camouflage campaign campanile cannery cannibal canny cantaloupe cantankerous cantilever capacity capillary capricious carbohydrate caricature carnivorous carouse carriage cartography casserole cassette cataclysm catastrophe cache categorical caterwaul cavalier cauliflower celerity alacrity cellophane cellulose cemetery centennial cereal cerebellum ceremonial cesarean cessation chaff challenge champagne chandelier changeable chaparral charade chargeable chassis chateau chauffer chauvinism Cheshire chiaroscuro chicanery chiffon chigger chrysanthemum cipher circuit citadel clairvoyant clastic clique coalesce coercible coincidental colloquial colossal column combustible communicable community commute complacency compulsory comradery conceit conceal concession confetti conglomerate conjugal connive connoisseur consensus constellation consummate continuity contrivance convalesce convenient convertible convolution copasetic copious corduroy coriolis cornucopia corollary corpse corpuscle correlate correspondent corridor corroborate corrosion corrugate corrupt costume counselor countenance counterfeit courageous courier courtesy covert covetous cranny crease credenza credulity crescent ******* criterion crochet crocodile croissant crotchety crucial cruel cryptic cuddle cuisine cul-de-sac culinary culpable culvert cumbrous cummerbund ******* cunning curare curiosity curtilage curtsy curvaceous custody cylindrical cymbal cynicism cyst dabble daffodil daiquiri damsel dastardly dazzle deceit debilitate debonair debris debutant decency decipher decimate deconcentrate decorum decrepit dedicate defamation defendable defensible deference deficient deficit definitive defoliate delectable deliberate delicatessen delinquent delirious demarcate dementia demolish demure denigrate dentil denunciation deplorable depreciate dereliction derisory derrick descent desirable despair desperate despicable despondent destine deterrent detonate deviance devisal devisor devour dexterous diabolicalness diagnosis dialogue diamond diaphragm diarrhea dichondra dawdle differentia difficulty diffuse dilapidate dilate dilemma diligent dilute diminutive dinghy dinosaur director  dirigible disadvantageous disastrous disperse disciplinary discomfiture discordant discotheque discreet discrete discrepancy disgust disguise dishevel dispersal dissect dissention dissertation dissident dissipate dissolve dissonant distillate distortion distraught disturbance divvy docile docket doctrinal dodder ***** eccentric linguistics domical dominate domineer dominion dossier doubloon douse drawl dreary dubious dulcet dungeon duodenum duress dwindle dynamism dynasty ebullition echinoderm eclectic ecliptic economist ecumenism edifice editor educe effervesce efficacious egalitarian elaborate elapsed eerie elegy eligible eliminate elite elixir elongate elucidate elusion eluviation emaciate embarrass embassy embellish embezzle embroidery embryo emissary emollient emphatic enchilada encore encumbrance endeavor endogenous endure engender ensemble enthusiast entourage entrepreneur epaulet epitome erratic erroneous escapade esophagus espionage esplanade etcetera ethereal etiquette eucalyptus eulogy exaggerate exacerbate excellency exhilarate expectant exquisite facetious Fahrenheit fallacy fanion fealty feisty frisky felicitous fenestration ferocious fertile fervent fickle fictitious fiery finesse finial fjord flaccid fledge flippant flirtatious flivver fluctuate follicle forbearance forbiddance forehand forebode forceps forfeit
forgo forlorn formidable foundry foyer fracas fraught frivolous frolic frontier funnel copious furrow fuselage fusillade futile forgone frivolity frolic galaxy galleon galoot galore galoshes gambit gangrene ganglion gargantuan gargoyle gardenia garret garrote gasolier gatling gawky gazebo gazelle gazette geezer geisha gendarme generosity genre genteel gentry genuine geodesic geranium gesticulate ghastly giggle ****** gimmick giraffe gizzard glacier glamour glimmer glimpse glisten glottis gluteus gluttony glyph gnarly gnaw goddess godling gorgeous gorilla gory gossamer gourd gouts gracious gradient granary grandeur granulation grapple gratify gratuitous gregarious grenade committee grievance griffin gristle grotesque gristly grotto grouch groupie grisly grovel grudge gruel gruesome gubernatorial guerrilla guffaw guidable guidon guile guillotine gullet gymnasium gyrate habitable hacienda haggard halibut halitosis hallelujah hallow halyard hammock harangue harass harried hasp hatred haughty hearth hedonism hegira heinous hegemony hemisphere hemophilia hemorrhage herbivorous hereditary heresy heritage heroine hesitate hibiscus hidden hideous hieroglyphic highfalutin high-rise hilarity hippopotamus hoarse holler holocaust holster homicidal horror hosiery hurricane hydrant hydraulic hydronic hyena hygiene hyphen hypnotize hypochondria hypocrisy hypocrite hypotenuse hysteria idiocy igloo ignoramus ignore illicit illiterate illustrate imbecile immaculate immaterial immature immersible immigrant immune impasse impeccable impedance impenetrable impervious imperfect implement implicate implicit important impressible innately inert impression impugn inadequate inanimate inauspicious incandescent incantation incarcerate incentive incinerator inclusion incoercible incompressible incontrovertible controversy indefatigable inconvertible inconvincible incorruptible indices indictment indigent indigestion digestible indignant indiscretion indiscreet indisiplined indiscernible inducible inebriate ineffable inefficacy ineludible inexorable inexpiable inextricable infallible infatuation inferior inflammatory inflexible infuriate inimitable iniquitous infuse infusion ingenuity ingratiate inimical innards innocence innovate innumerable inoculation insatiable insectivorous insincerity insinuation inspection inspirator instability installation insurance insufferable insufficiency insurrection insupportable integrity intellect intelligence intemperance intension interaction interception intercession interdiction interface interference interpolate interrogate interrupt intersperse intervene interstice intractable intergalactic intransigent intravenous intrepid intricate intrigue introductory introject intrude inundate invective invariable invertebrate investigate intuitive invertible investiture inveterate inviable invidious inviolate invigorate invincible invoke invocation invalidate involute invulnerable impregnable ionosphere ipso-facto irascible iridescent eradicable irrational irredeemable irrefragable irrefutable irregular anomalous irrelevant irreproachable irrepressible irresistible irrevocable irreverent irresponsible irritative irrigate irritability isolable isosceles isostasy  issuance isthmus italicize iterative itinerary interjection ******* jackhammer jackknife jackpot jackrabbit jaguar jai alai jalopy jalousie jamboree Japanese jacquerie Jacobin jargonize jaunt javelin jealous jehoshaphat jeopardy jocular jouncy journal jubilant jubilee judgment judicature judicious juggernaut jugular juke julep juncture junta jurisprudence juvenilia juxtaposition kahuna kalpa kamikaze kerf kangaroo karat ken katzenjammer katydid kempt kerosene kewpie khaki kibitz kibosh kilter kimono kinesiology kleptomaniac knell knowledge knuckle kook kowtow kulak kyrie labyrinth laccolith laceration lackadaisical laconic lacunar lacquer lagging laissez-faire lamprey languish lanyard lapidary laputan larceny lariat laryngeal larynx lascivious latent latter lattice latrine launderette lavatory laxity lechery legacy bequeath legend leister lei leisure lemming leniency lentic leopard lethal lethargy lettuce leviathan levitate lexical liable levity liaison libation liberate licentious lieutenant ligament lilac limnetic limousine limpid lineage lynchpin lineolate lingerie lingual liniment linoleum liquefy litany literacy lithesome littoral lizard loath local loiter longevous loquacity lottery louver lucidity lucrative ludicrous luminary lummox lurid luscious lyricism machinator machinelike machismo macrocosm besmirched machiavellian mackerel mademoiselle maelstrom maggoty magisterial magnanimous magnifico maintenance malaprop malarkey malediction malamute malicious malign malinger malleable mandarin maneuver mange maniacal mannequin manure manzanita maquette maraca maraschino marauder marbleize marbly marionette marmalade marquee marquetry marrow marshal marshmallow martyr mascara masochism massacre matriarchy maudlin mausoleum maxillary mayonnaise meager meandrous medial medieval megalith mediocre Mediterranean megalomania melancholy melee membrane memorabilia menagerie mercenary mendacity meritorious mesmeric mesquite metallurgy metaphor meticulous metronome metropolitan mezzanine micrometer midriff mien demeanor millennium minarets minion minuscule minutia misanthropic miscellaneous mistletoe moccasin modus operandi monaural mongrel monotony morgue morose morsel moribund mortgage mosaic mosque mosquito motley mottle mucous membrane mucus mullion multifarious munificent museum musketeer mutable mustache mutineer myopic myrmidon mystique naïve narcissism narcosis narrate nausea navigable Neanderthal necklace needle nefarious negligible nemesis neophyte nertsy  nerve-racking nestle nether newfangled nocturnal nonchalant non sequitur normative Norwegian nostalgic nuisance nullify obedient obeisance obelisk obese objectify oblate oblique obliterate oblivious obsess obsolete obsolescence obstacle obstinate occupy occurrence ocelot odious oedipal officiate ogle ogre oligarchy omelet omnificent omniscient ontological argument oodles oomph opaque operable operative opossum optimal orangutan orchard orchestra ordinance oregano orgiastic oriel oriole ornery orphan osculate ostensive ostrich osteology oust overwhelm overwrought oyster pachyderm pacific pageant painstaking palate palaver libel palette pallet palomino pamphleteer panorama pantheism parapet paradigm papier-mâché paraffin paralyze parishioner parliament parody parquetry parsimonious pasteurize pathogenic payola ******* pediment pendant pendentives penicillin pennant pentathlon perception percussion perennial parameter perimeter peripheral peristalsis permissible pernicious perron perseverance persistent persona persnickety personnel persuasion petite pertinacious pessimistic pestilent pestle petticoat petulant phallus phantasmagoria pharaoh pharmaceutical peasant philander phenomenal philosopher phlegm phoenix phooey phosphoresce physique picayune picturesque piety pilfer finagle pilaster pillage pineapple pinnacle piquant pique piteous pitiful pittance pizzazz placate placenta plagiarism plaintiff plateau platypus plausible plinth plunderous pluvial poinsettia pollutant polygamy pommel ponderous portico portiere portentous prairie precipitous predecessor predicate predilection preeminent preempt preferential premier preparation preposition prerogative presumption pretentious preternatural privilege proclivity prodigious proffer progenitor progeny promissory promontory propellant propensity propound proselyte prospectus protégé protocol protuberant pseudonym  ptomaine pulchritudinous pursuant pygmy pylon python qualm quarrel quarry quash queer quell querulous quibble quitter quixotic rabbet rabbit rabbi radiant rambunctious rancor rankle raspberry rethink rebellion recant recital reconcile redundant referral reglet relevant reluctant remiss reminiscent remnant rendezvous renegade repartee reprieve repertoire repetitious reprehensive reprisal repugnant rescind reservoir resistant resurgence resurrect revelry reverie retaliate reticent retrieve retrograde reveille reverberation reversible reversion rhapsody rhetoric rheumatism rhinoceros rhinoceri rhubarb ribaldry ricochet riddance rigmarole risqué rive rollick Romanesque Rosicrucian rotisserie rotunda rogue roulette rubato ruminate rusticate sabotage sabbat saboteur sacrilege sadomasochist salacious salmon salutatory samurai sapphire sarcasm sarcophagus sardonic sarsaparilla sassafras sassy satiate satirical saturate saunter savoir-faire savvy scabbard scaffold scalawag scarcity scathe scenario scenic schism sciatic nerve ******* scintillate scissor scourge scrawny scrimmage scribble scruffy scrounge scrumptious scrunch scrupulous scrutiny scurry scythe sedition seethe seismic self-applause seltzer semiporcelain seniority sensible sensual separate sepulcher sequel sequin sequoia serape serenade sheaves serendipity  servant settee shabby shackle shanghai shanty shellac shenanigan Sherlock shirk shish kebob shoulder shrapnel shriek shrubbery shtick shush shyster Siamese sibyl significant simile simplicity simultaneous sinewy siphon skeptic skiff skillet skirmish skullduggery slaughter ****** sleeve sleuth slither slough sluice smart aleck  smidgen  smithereens  smolder  smorgasbord snazzy sneer snide snivel snorkel sobriety socioeconomic sojourn solder soldier solemn solicit soluble solvent sombrero somersault soothe soprano sophisticate sophomore sortie soufflé sousaphone ***** spiel souvenir sovereign spaghetti spandrel sparrow spatter sphinx spatula species specific spectacle spectral spelt sphincter spinach spinneret spiritual splatter splitting splurge spry  splutter sporadic sprawl sprinkler spree sprightly squawk spurious sputter  squabble squalor squander squeak squeal squeamish squeeze squiggle squinch squirrel stable squoosh stabilizer stagnant stagnate stalactite stalagmite stammer stampede stationary stationery statue statuesque statute staunch stealthy stein stellar stench stencil stoic steppe sterile stickler stifle stimulant stingy stirrup stolid strafe straggle strangulate stratagem strategy strenuous stretch strident stringent strudel streusel strychnine studious stultify stupe stupefy stupendous special stylus stymie styptic sublimate subliminal submergible substitute submersible subpoena subsequent subsidiary substantiate suburb subversion success succession succinct succor succulent succumb sufferance suffocate suggest suicidal sully sultry sumptuous sundae sundry superfluous superior supersede superstitious surreal supplicate surrender surrogate survey surveillance suspension suspicion sustenance swarthy ******* swath swear sweaty swelter swerve swindle swivel swizzle sycamore syllable symphony symposium symptom syndicate syndrome synonym synonymous synopsis synthetic syphilis syringe syrup suffrage tableau tabloid tacit tambourine tandem tangible tarantula tarot taunt technique telekinesis temperamental temperance thence temporal temporary tenuous tequila terrace terrain terrific terrify tetanus tether thatch thistle thither through though throat throttle thwack thwart ticklish tiffany timbre tirade titillate toboggan tolerant tongue top-notch topography  tortoise trauma tortuous torturous tourist tracery tournament tourniquet trachea traffic tragedy tragic traipse traitor tranquility transcend travesty transcribe treachery treatise trellis trepidation trestle trinket triplicate triumphant trivial troglodyte troubadour  trousers truncate tumultuous tundra turbid turpitude turquoise tutelage twixt twiddle twitter tycoon tyke typhoon tyrannical tyrannize tyranny umbrella unfulfilled unanimous usury undulate unequivocally unguent urethra unprecedented unscrupulous untenable unwieldy utterance vaccinate vagary valance valiant vandal variety vehement veldt veneer vendetta venetian vengeance vernacular versatile version vertebra vicinity victual vigilante villain vincible vinyl violate vitality vivacious volition voluminous voluptuous ****** vulnerable wahine waiver wallaby warble warrant wayfarer weasel wheedle wheezy weird whilst whistle whither whittle whoopee whoopla wistful whither wizen wont worse worst xanadu yowl yucca zephyr zeppelin zucchini extraversion embezzlement euthanasia extortion obscure carousing marauder aptitude ribaldry rigmarole chicanery shenanigans capers antics escapade crafty cunning cleaver connive furtive sneaky stealthy plunderous pillaging usurper pilferous wheedling finagler longevous loquacity derisory deplorable critical decimations tithe cynic frivolity frolic derriere easel emasculate emaciate linguistic depravity berate scold scorn scoff rail rebukeness  brawl vapid hamster spleen sequiter sequacious sequesterous flatulence impressible herbaceous impropriety veneration ignoble fatuous phatic journey acrid pungent fetid fiendness gamut ire irascible graffiti irk tedium diminutive minutia iota iterative reiteration self inductive interpolations objectified interstitial extrapolation trepidation tumultuous tortuous adjunct turpitude salient viable seethe conflagration lexical etymology idolatrous affectionate ****** caress craw swell surge flow flux amorous enamor endear ardent ardor cajole piquant poignant prescient puissant presage apex crux citadel pinnacle vertex vortex matrix ****** peak languishing lurid larcenous licentious lascivious squanderous squaloring wallow in the furrow confluence wretched infelicitous trajectory sordid warp strong raw war resume quirkness ***** tinker **** fink stink ******* eccentric pinky suit idiomatic cognate somatalogy virtuoso concurrent intemperance obsessive habitual addicts psychosomatic pathological psychopaths diabolically maniacal dementia panoramic tableau tediously meticulous laboriously beleaguering excruciating exacerbation autonomous avarice oscillating ostracism adrenergic analeptic adumbrate obdurate aberrance genocidal xenophobic prospectus personification of sartorial perfection visage picturesque vision of spectral grace picture of positive prosthesis protractive analysis cyborg ebullition ne plus ultra monad cybernetics prognosis prognostication clambering clamorous clangor hectic mayhem pulverize annihilate pompous bombastic query squash squawk squish squirm sprocket squeal squelch staunch statuesque steadfast steep stench stint strategic logistical tactician stratum stolid stoic stodgy viscid tumult stray streaky stretch strenuous striated strident stringent strive structural strut subjugate subjective substratum substantiate subterfuge subvert sultry sulk sundry superlative superfluous superficial syllogism soliloquy superovulation superfluity superfetation superfecundation suspicion swig superstratum sycophant ingratiating surrogate suspension swindle swallow swanky swath swill sympathetic symbolic synapse synchronous syncopate synoptic synectics syndrome synonym syntax systematic larceny lecher oligarchy ribaldry rigmarole intoxicate tangential tectonics tantamount telepathy tantalize throng tactile taint talisman talesman squabble brash torment temerarious terminus thrall torpid torpor torque tousle  traduce transform transubstantiate transpire transmute transmogrify transport trapezium traverse treason tremulous trendy trivia trifles trounce turgor truculent tuft turf turbid turgid tussle twain twang twinge twerp twit twitch tweak **** procedure vernacular posthumous spasmolytic propagate prolific proliferative profusion profundity proliferate profligate cogent fecund secund secular thick trick quick mystical silhouette sojourn excursion genre engender jaunt pilgrimage prophet trek waver wrought waxy waylay weave weary web wedge ***** wend whang whet whimsical whir whinny whereupon whish whisk whoosh whizbang whoop whorl wield wile wilco wild whence wingspread wiry wiseacre wherewithal rapacity wolf whistle wrath wraith wrack worship wrest wretch wring wriggle wry shyster shylock phone roan tone zone bone hone loan drone known own moan cone done groan koan gnome dream gleam cream seam beam          team serene ravine green gene careen tellurian terrene quaff query quiescent radishes reciprocate raunchy raspy rascal rampant rampage ravage ****** ravish rebuke rebuff rend reave recourse reconnaissance reconnoiter rectify recompense rectitude reconcile regime reintegrate relegate rejuvenate remission remonstrance reparation replication reprieve reprisal nocturnal emission repose remunerate resonant retort revelation revision grandiloquence cleft fissure crevasse rift rill robust rouge niche
crack tromp stomp chasm crevice trudge rostrum rout roust row ruckus sagacious salacious sapient satiric sarcastic sartorial sartorius scalawag screed scrutable contemptible scurvy scuttlebutt seditious seduction sect segregant sequacious psychic reverie subterfuge serenade sequiter serendipity shuck shylock sibilant shush signet simulation siren skeptic sleek slick slinky snare ****** sneeze sneer snide smug intrados loquacity spandrel iambic sonorous spatial spatiotemporal telemetry spectral spry spectrum speculate solicitor sprout spoof specular splendiferous sporadic spurt binge spree ***** squalid forte fortitude Gumby emit war  time raw umbrage ultraism ultimatum unary unbridled uncanny unanimous ambiguous biased unabated uncharted articulate deviating undertow congenial feint feign unity predicate unprecedented paradigm unscrupulous brash dire unfathomable unlimited urchin usurp utmost utilize fluctuate vague vacuous vanity vanquish vantage veer vast advent veracity verbatim vertex vortex vertigo vestige vex vigor vitalize virile vicissitude viscous visceral virtuous virulence vital virago vivacious vivid livid splurgeness stag vituperatively vociferous volition void voracity waft vulturine wacky waifs wainscot waive wallah itinerant wand wane lavish wanton wonderlust warrantee warn warp warlock warren wastrel wastage warranty dicker insidiously sinister flagrant verity maniac pack mendacity abscissa ordinate yacht yearn yaw yare yen yelp yin yonder yoni yore yours yolk zany zest zeal  zenith zingy zooid treatise hyperbolic lingam blasphemous farcical fugueness and estranged ensemble orchestration rendition various assorted forms of related stranger weirdness traveling down this obtusely overt contusion in my vehicular contrivance convection convolution abalone absolute acceptance accurately acquiesce acquire actually adamant additional adequately adherence affiliation affinity against aggressive allegiance although allusions amendable analogous analysis anchor ancient animation annihilation appeared approach appropriately archaic assembler assimilation assuage attain attempts attendant attribute audience aura auspicious authoritarian authoritative barbeque before belligerent binary blazing Buddha bulwark carousel ceaselessly ceremony chaos character charisma Christmas chronological cite classification classify clutter cocoon cognation cognizant comment communal complete conceive conceptual conclusion conducive conquered consciousness constituent construction continuum contrarily convenient corporeal collage creates credibility crystalline culture curious curriculum decadent decide deferred deified deity deliberately delineate deluded delusion demagoguery democratically descriptions desire destroy destructively develop dialectic dictates difficult diffuse disappeared ecstasy ecstatic efficiency elaborate elliptical empathy endeavor engaging equipment escape especially essence eventually evolutionally excellence excitement expectorant expedience experience extraneous extremity façade facet fashions fever flatten forgotten frailty framework gapping glimpse grandiose graphically groan growing hedonistically hierarchy hobby holocaust homogenous hovering ideology imagination immaturity immediate imperative impertinence important inadvertency inapplicable indispensable individually infancy initiate innate interpreters intervene intricacy intrinsic irrelevance jagged kaleidoscope lit literally lose ludicrous macabre minstrel meld mischievous model monstrous mores myriad mystic necessity negativity Newtonian normalcy nuance nullify obnoxious obscure obvious occasional officiate ominous omnipotent oppose optimizes oscillating ostracism paradoxically partially participants pebbles perceive pervasive phenomena portrayal posses preceding pretty prevalent pregnant primitive prism processional progress prominent proprietor psychic psychological purpose pyramid quandary rational receptacle recumbent redemption refused reiterate relatively relativity relevant reminiscent renaissance revere schemes schizophrenia separately sequence serious severe socially spontaneous stalwart stimulus stomach struggle stunned succession superimpose supplement suppose surround swimming switch symmetry sync taubla tapestry tenacious tendency tyrant terrestrial torrential totally tomorrow transient turbulence tyrannical ulterior ultimate universally unwarranted vicious weather yankee whether soliloquy amenity ambivalence ameliorate aggrandize aghast agrapha barnacle gerrymander jasper jasmine obfuscate obdurate castigate metaphysique cyborg appliance intrepid intrigue mystique impetus volition gumption motivation inspiration metaphor parable leprechaun leniency secund hefty endogenous exogenous lozenge irrefragable recalcitrance fecund jaded seal ordinand obdurate aberrance ignominious interface consent imbroglio embroilment lethargy impressionism agitator treacherous lurid allure obstreperously abstruse subconscious squanderous squalid anomalous punitive incendiary infrangible extemporaneous incognito (succubus , incubus) incongruous incredulous indemnify indigenous infernal infidel iniquitous secular funky spunky Rosicrucian epicurean phlegm levity levee lubricious loath loathe frigid **** ******* lick fenestration dire ****** brash crass rash aggrandize tactile acuity bridge rude crude bandy randy monad positive indenture obnoxious obtrusive obtusely overt indemnities annuities cavalier dawdling gallivant bought naught fought caught ought dribble rip zip gig blond entropy catalyst cohort cavort chronological sublime purvey pander meandrous extravagant exorbitance ***** vicarious endear eccentric cognate frolic frivolity fawn agnate aggregate junction function conjunction conjecture conjugation adjunct contiguous constituency cohesive coercion covert maestro maitre d mastoid newel minx murk monad muss muggy mull mirador bartizan musky meager demonstrative anarchy iconoclasm misnomer mimicry minaret mimetic monocracy pungent mordant mnemonics mangle maim mutilate mesomerism morpheme nepotism nurture vexation anxiety vindictiveness vendetta moot void null meringue laconic obliterate papaya proboscis podiatry polemist porcupine palindrome pandemonium presumptive procureness ploy **** paltry pander paphian pummel puny presage felicity parley parturient potpourri partisan peccavi verity goad penumbral platitude platonic proxy photic pharos perdurable preemptory posh perfunctory perilymph phoneme phenetic phantom permeate proximity phantasm phalanstry delusory apparition pietism oviparous expiate vindicate extricate  exonerate absolve posthumous prehensile prerogative presumptive prestissimo preterite retroactive primacy prevaricate equivocate primordium primeval puissance  pristine prescience prompt prodigious protagonist prurient pyre lurid pshaw guffaw purlin purloin quirk pith quark ***** tip put temerarious userp asymptote pirate tiny hat  thief tine slow slide slim hide me effigy infinitesimal slink slick paw
flaw craw claw heuristic swum cuckold climb locuna live **** sly **** sequacious expeditious sequesterous glove glaive glade
don’t dale  otter glue equestrian gog rift cog gone lean had good gold ride ode *** house pine low law earth *** guilty slime negligent torrentially torrid tortuously tempestuous einzeln function truckness presumptive procureness ploy **** off the line cyborg cylon live antonym exogamous dimorphism pry rap gape homogeny gap dudely cruel incredulity ergo apropos ipso-facto pith tip push where keeky geek peek peep glib jive gawk talk dudely cruel off the line but off it !  pit ego colossal incredible fantastic great outrageous amazing fabulous terrific stupendous splendiferous glorious God grandiose orgiastic magnificent ne plus ultra astounding astonishing bodacious marvelous exuberantly ecstatic subliminal nostalgic allusions subordinate ancillary conjectures similar analogous configurations exotically ****** quixotic render proof orchestration rendition unicorn railway mainsail ebullition monad girdle thigh spasmolytic heuristic sartorious sartorial discrepancy amendment rip reave rive tear rend esoteric erudite beleaguer hype synch torque your ringer occipital sync ubiquitous eucharistic oblation obeisance oblate obelisk ubiquitous edifice ******* efficacious salacious lubricious sagacious expeditious grief  orgiastic paroxysmal orthogenesis overture repertoire quagmire quandary poshly plush lushly lustful longevous loquacity hunky-dory harbinger guzzle gyro gyre exult heuristic awkward humph haberdashery hauberk huarache bourgeoisie dichotomy greave zealot goatee cavalier humerus gumption hors d’oeuvres coalescent hysterically delirious coercion nullify correspondence corral coral architrave archaeology ardent ardor arduous awry askew asinine altruistic allure allude alluvium aloof egress effulgence ephemeral apathetic anxiety antonym existential exigency exodus expiate esoteric exacerbate evoke exact exult excerpt exorbitance cajole argent apriori arbitrate appliqué aqueduct presumptuous prestige precocious precursor preempt predilection premises premonition preoccupy preponderance prescient pretentious perineum peristyle perpetuity pervade pertinent portent elicit pursuance putrid quasi queasy quaver quarrel rampart ransack voracious rapport ratchet raucous ravenous reciprocal rectitude emanate imminent perdition erudite erogenous scarp lambent reticent vehement auspicious austere consternation construe contingent convection convolution convenient cocoon coerce collaboration collude vacuum vacillate vestibule vicarious recalcitrant repudiate resend resilient resonance purvey wreak writhe wreath fortuitous fulminate fuscous cudgel futurity gable gallivant gallant embellish gauntlet scavenge scandalous scarify scatter schlieren scholarly scoundrel scowl unmelodious scramble scrabble scraggly craggy cephalic fallacious fallible absurd cutaneous synthesis commission extreme  conscientious adherent proponent subtlety diligent receive interesting abhorred exorbitant arrangement intelligence surprisingly important encompass contributes asymmetrical excellent elliptical collaboration straddled collapsible spanned feasible oriented pervasive artistry instructor precursor innovate adrenergic adumbrate queasy acclimatize accommodate acceptive accordant accrue accusation acrimony actuarial acuity adduce adjective adjunct admonish adroit aerobic aesthetic prosaic affiliate affluence aggravate aggregate agnate agonize airy albeit alchemy allege allegiance allegorical alleviate allocution ambience ambivalence amenity amenable anaclitic analgesia anacrusis analeptic anathema subordinate ancillary anecdotist animism animosity annulet announce anomaly anonymity antagonize antecedent subsequent antefix antenna anterior pathos antipathy antithesis aperture appall adorn pertain appreciate aquifer arbiter arbitrage arboreal frantic pedantic febrile fanatic quixotic hegira to xanadu frenetic zealot zeal eucharistic oblation occipital ubiquitous omnipresence opulent effluent affluence larcenous overture orgiastic paroxysmal ornithology orthogenisis gleam sheen English bird treacherous lecherous asinine dumb foolish stupid inane ignoramus absurd idiotically imbecilic silly unintelligent dense dingy crazy insane quasi slow epos epitomize epochal era gemma schema lemma jargon idiom colloquialism vernaculars peer quay pier pair appearance insipid vapid insidiously insolent pompously bombastic blatant flagrant chaparral epopee pseudopodia actuator militantly mercenary covert adumbrate intimate obfuscate abet abeyance proxy fugue edict advocate détente anticipate angary amentia terse inabsentia expurgation imputation impugn exculpate eugenic euphenics incumbent incipient accidence acoustics acquittance amore malign asperse amok amuck allegorist pervert aspect aorist wrist expiate asylum epigynous anovulant antenatal antidote antiquity antitrust antithetical argufy apartheid apocalyptic apologist apothecary apomixis appreciate aposteriori apostrophe protractive analysis parabola avidity liberty concise tine albeit life still arrogance coherent abandon abate abash abase abdicate abduction abject abominable abominate abomination abound abrogation absolution absorption accentual accession accede accessible accommodate accomplice accomplish accrual accursed acerbity acrimony accredit accustomed actuality actuate addle adamant adjutant adventive adultery adulterate adventure adversity advertent adulteration venturesome advocacy eyrie aerie aerial affix affront aggressive agile acuity tactile nimble agnostic agog agonist aghast avid avarice agrarian curtilage Arian airhead peterbrain alacrity alchemize alibi allegation allegory gorge ally allocate aloof altercation ambition amatory prelude amaze amateur  ambidextrous ambient amble amiable amicable amorist amulet analeptic analgesia analytics anathema android amalgamated anemometry animism annals chronicles annex annul annoy anonymity antecedent arcade armature arson articulate ascension assiduity asperity asynchrony augmentation audible auger aural areola auspice austerity authenticate autonomic astronomical enumeration auxiliary avenge avert economist autonomist autonomy aviatrix axiom avow avouch bifurcate bigamy bend bind bent bisexual berate bereft hype due behave behaviorism ******* behest bereave beholden biologism bureaucratize circumvent conscribe bacchae backslide backswept badland baddy bagnio baize balky ball hawk balmy bambino bamboozle banal bandwagon baneful banishment bankruptcy banter bandy barbarism barbarous barratry base pay bang bash bastardy bawdry lewd obscene ***** bawl beamish beatitude ****** beat beautiful bedlam beggary begrudge befuddle perplex behalf beleaguer beneficiary benevolence benighted bequeath bequest berth betroth bevy birth bitchery bivouac blabber blandish coax blah blither blare blazon bleak blear blighter bliss bloomy blot blunder blotch blooper bludgeon gag blurt blush bluster bonkers bosh boulevard bout brat browse brunt brute buck passer buffet bungle bungalow bunk bunt buoyancy burglarize burnish burp belch burlesque bureaucratize sorrowful lamentation baleful caterwaul
true clench closet queen constitution provocative soap menagerie melee cirrus camorra caboodle cabotage cabriole cacophony
cadge cahoots cagey cairn calamitous calculate calibrate  caliginous caliper calyx callet cameo campestral canard candid candidacy candelabra candor canker can’t canter canteen canoe capitation captivate capture carapace caribous carnal carnival carny cartomancy casque castellated caste castle catacomb catatonic phonics caustic cavernous celibate censor centric centrifugal centripetal certify cervixes cestus chalet chalice chameleon changling chaperone charlatan chary chaste chastise chastity cheeky cherish chesty chide ***** chintzy chivalrous chinch chomp choose chortle chromatic chronic intrinsic chroma chump chutzpa chute cinch conciliatory ciliary ciliate citadel citation civility clank clammy clang clairaudience taciturn reticent classify inveterate claudication cloven cleft cliché click clinch clement clip clique ******* cloak & dagger clobber clog clone clonk cloth clothe clothier cloture redolent clout cluck clump clumsy clunk coadunate coalition coadjutor coaster brake coax cochlea chronology inundate **** coexist anachronism coercive coitus coincide collinear collateral collegiate collision collusion coma combinatorics comfy  commandeer  commensurate comensal commend commerce commence commodious commotion compatible compensatory competitive compile complexional complicity comply connotation compost composure compunction compulsory concatenate concoct catenary concubinage condolence condemn condescending conducive cavalcade confidant confession confirmatory confiscate conformity confrontation congruence congeal congenial conjure connection connivance connote conquest conscript consequence conservatism consistent console consolidate consort conspire contagium contention continuity controvert conveyor copulative cordial cordon cornucopia coup couth coy crag cranky craven cringe crud culminate cumulate cursive credulity credulous infidel gullible diatonic perturbed derogate edict delict rage tirade irate vehemence denouement denounce tire dervish dictatorial diction proof desolate deontology Kant indenture defray detinue douceur amuse disseminate eustachian daft dainty damnify dapper dastardly dauntless daymare dead heat dead horse debauch debacle decadent debauchee decamp declamatory declension decorticate deductive default defeasance defenestration defunct defrock deformacy degeneracy deft deforce hipster mesmeric deification deist deleterious delimit deltoid delve deluge delusion delirious demimonde demesne demiurge demoniac demonetize demonstrable denizen denegation denigration demur demure despot desperation destine despise detect determinative determinism detersive deterrent detest determinacy detectaphone devout devoid detract desultory detrimental detour deviate deviant devastate devotion devious devisee devolution devolve developer dialectic dharma diagnosis prognosis matriculate diacritical differentia diffraction digenesis dignitize dignitary dilly diligence ***** dilemma dilapidate diminution **** ding diphtheria diphthong dent dirge dirk disaffirm discontinuity disclaim discern discord disconsolate discourteous discredit discontinuance discretion discriminate distain disenfranchise disenchant disencumber disenthrall disembody disgorge disgrace dishonest disguise disengage disinfestant disjunct disillusion disinfectant dislodge dismal disloyal disoblige disobey disparity disparage dismantle dismay dispatch dispel dispersive disproof dispute disrupt dissertation disrepair dissipate distillate distort distract ditto ditty diverge divaricate divert divest divulge dominion doohickey dormer doss dowdy doughty dowry drastic douse drat dray dread drawl dreary drippy drifty drivel droll drown drowsy drudge plan dubious dude dudgeon dulcify duct ductile drakeness ducky duel dull dusky tawny dynamic dwelling dwindle derisive bombastic primordial integumence parenthetically pragmatically prosaically practically protractively portion premise portent pervasive perpitude phenomena hierarchy predicate metaphysique endoskeleton ectomorphic dour droll dismal dank dreary bleak stark Electra complex lore epigone epigraph epsilon epistaxis epilation earnest earthshaker earthward earwitness eclectic ebonize electroacoustics ciphony ebullience eccentricity echelon echoic eddy edgy edify edit educe edition eerie edacious effectuate effeminate effete efficient efflux effrontery effluent effusion ego defense eidetic ejecta elaborate elapse electioneer curtail elocution elucidate elegant eloquence Elysium emancipation manumission detinue osteopathy elucubrate emasculate emaciate embark embargo emanate emblazon emote embellish elusive enhance embracive embouchure emergent emendator embryology emit emissary emitine jacquerie empathy empennage emphasis emphatic emigrant empirical emulate emunctory encephalic enclitic yuck junk funky junkies enchant enchain enclosure encroach encrustation encumber endergonic endorse endowment enduro enfetter enforce energetic enemy enema enervate engender engage propensity preternatural proclivity prestidigitation gesticulation equilibrate equilibrium equilibrist preterite rendition retroactive engross engulf enhance enjoin enlightenment enlist impressed enormous ennoble enrich  ensheathe enshroud ensnare ensnarl entanglement enthrall enthusiasm entice entity enthuse entrap entreat entrance enunciate envoy envy envisage epigynous epigraphy cipher epilogue episodic epitaph epistolary epithet equate equestrian equity equivocal equivocate eradicate erosion eroticism errancy erratic erroneous ersatz erumpent erudition erythron epistemology espalier essentialism progressivism esprit espy estimator estrus estuary etcetera ethnic ethos ethic eternal ethereal eugenic euphenics eustachian tube salpinx euthenics euthanasia evacuate evaluate evasive eventuate evaporate evict evident evil evert evolve exact exaction exult exaggerate exasperate excel excerpt exception exclaim exclude exculpate excursion excuse execration execution exempt exhume exile exhaustive exhibitionism exhilarate exegesis exert exonerate expense expletive explicit exploitation exponent export exposition exserted exposure expound expurgate ubiquitous extemporize extenuate exterminate extensive externalize extinct extort extradition extrasensory extraordinary extol extract exuberate extrude foible fasciculation twitch flinch fenestra Fabian falchion falangist Phillip felly ferro falsie **** fess fink out festinate ***** bustle fourragrere fimbria feduciary fabricant fable fabulist façade facile facilitate facsimile facture faena fain fairing fallopian fallow fascinator fash fatalism fastidious fastuous fatidic fatigue Faustian fatuity faux pas feasible faze ******* facilitate feline feeler ferocity fertile fervid fervor fetor fetus fetology fetish feverish fester fetation fetch fiat fief fiasco feticide obnoxious fiacre figment fickle fictitious fiddling fidelity fidgety fierce fiesta  filch filly filthy finale finesse fingertip finicky fang finite firmament flabbergast fixation flak flashy flagitious ******
flashpoint paroxysmal retrograde flaunt flasher flask flat flap flaw fledge flee fleece fleet fleshy flighty flick flexible flimsy  
flimflam fling flinty florid flora ****** flourish flotsam  flub fluke flurry flush focalize foist footing foray forfeiture forgery foreign
forensic formalize format formica formulate fornication forsooth forswear perjurious fortify forte fortissimo fortuity forum abjure
abnegation fossil fosterling four flush frame up freaky frazzle frenulum fret frigidity frigate frill fringe fritter frontal fructify fruition frump frugal fuel fulcrum fulgurous fulham sable furor furring brazen furtive fustigate future perfect fuchsia find roan gauntlet gamut gatecrasher havoc glass jaw glare glass eye gabber gadzooks gaff gaga gage gaggle gag rule gainful gainsay gait gala gale gall gallery gallivant gallop galvanic gambrel roof gander gammon garb garish garble garnishment garrulous garter gasp **** gaudy gauge gaunt gavel gear fad gee haw gemma gender genealogist geotropism germinate gestation ghost writer ghoul gig gigantic gill gimmick gimp girlish gist gizzard glaive glamorize glance glaze glean glint glitch gloat globe gloomy glitter glom glob glop glorify gloss glower glutton glum slum glue hue gluteal gnash aphorism adage gnosticism gnome goggle gnomic gold digger psychic golem gore gorge gown gossipy gouge grasp greedy frigid gremlin greave grieve grin grime grim grind gripe ***** groom gross grit groin grove grout growl grumpy grunt guck gruntle guide guile guild guilty guise gull gulch gully gunk gushy gust gussy up gulp gusset gush gustatory gung ** gusto gutsy gyne gyre gynecocracy gyve guy  aceimnorsuvwx  bdfhklt  fgjpqyz atheist goblin Godiva grog hang up disinter gamet zygote hunks hunkers haunches black white life death lithe heart rending miserly greedy stingy frugal habitation propinquity habituate hackamore hagride hairbreadth halftrack hallucinosis hamstring handicapper handless hangin hand woven hanker hanky panky haphazardry hari kiri **** harangue harass harbinger harem oviparous residual harmonic harpy harsh hast hassle haggle hasty pudding haugh haunt haversack haversian canal hawk hazard heady heal headway heap hearing hearty heave heathen heavenly heavy duty heft heir heinous heifer heist helix enliven glue hellion helm hemlock hence heredity primitive anachronistic hangover heretical heritage hermit recluse heresy primordial integumence skull hernia hue hex heuristic hirsute hireling ally hint **** hoard hoax hitch hoist hokey hoot horizon hornswoggle horologist hostile hostage housebreak huckster hovel huff humeral hurtle hustle hutz pah homage homogeny exogamy hone honesty honkies hooky hutch hypercritical hypotaxis hysterics incoercible idiosyncrasy impugn idolatry ileum imagism idempotent ides ichor icky icon ics ictus ideational identity crisis matrix idea iffy ignescent illustrious immaterialize imitation inextremis immanentism immolation mollify impeach impedance impecunious impassion immutable retrograde recumbence inabsentia impious impenitence impinge implore impotent paroxysm impressment impute impromptu impoverish improvident imprudent improvise imputation inanely inanimate inauguration incorrigible inappreciative inconsequential irreverence inconsolably disconsolate irreparably irreconcilable incorporeity ideally ideogram inferential illicit incarnate incestuous inch incident converse incipient incite incognita incommodious incompliant incommunicado indagate incursion incus incumbent indecorous indecent exposure indecipherable indefeasible indenture indictable  indicative indignant indiscrete indite indolence indubitable induce indulgent industrious ineffectual inane inert inertia infamy infanticide infest infinitesimal inflect inflict infringe encroach infrastructure inflation influential informant inimical iniquitous innumerable innuendo inquisitor injunction injudicious inkling innocuous insolent insidious insipid inept phatic volatile instigate insinuate instinct intangible interdict intentional interject intimate intimidate intricacy intrigue intrinsic intrepid introspection introvert intrusive intuitive inviolate invade inundate invalid inventive inveigh inure defeasance foist isomorphic isthmus fistula jabber jackal jackleg jag jaunt jeer jerkin jest jetty jettison jiffy jig jilt jive job jack jolt josh jostle joust jovial judicious juggernaut jugglery jumble jumpy junctural jungle junk ****** jurisdiction justice justification jute jutty juvenile delinquency juxtaposition kale kalimba kangaroo court kaput karate karst kayo keel keep kempt kept keynesianism kick in **** kindle kinetic kink kist **** kleenex kismet kirtle kith kithe kitsch klaxon knack knavery **** knout kobold koan kneed king cogent adroit lollygag lummox languorous lanyard limbus lotic loquacious lesbian lam labial lambaste lampoon landmark bilk lang syne languish languid languor larder larky larvicide larynx lascivious lateral latent recumbent lapel laud lavish layette lecher leeward leer leech legacy legate lefty lest lewd avant-garde levant avaricious liaison libido libertarian lien ligature lilt list lisp liturgy livid loiter loom loophole lubricity lubric lucent lugubrious yuck lunkhead dolt lurk luscious luster luxury lynch lysis legerity lemma lickspittle limnetic ankh maverick mare liberum marabou machete machinate machiavelianism magniloquent macroevolution macrogamete Magdalene mantis mantra maniacal manubrium mare’s nest maenad majuscule maladjustive malfeasance maleficent malefactor malevolence mash malm malocclusion manipular manifesto mastectomy maw manacle manifest Manitou mana marrow pith manumission constitution marsupial mare nostrum masseur pervade perpitude quark master plan master race mastoid glitch exiguous skimpy scanty sparse masticate matriarchy matriculate escutcheon nombril mere mathematics matrix matinee impetus maxim axiom meatus minimax mediation mediocre medley metabolic meddle ménage a trios menagerie mendacity meroblastic menial meiosis meliorate memorandum memoir memento mori menace mesne menarche menorrhagia meninx mesh mesomerism mesne lord metal methodical meticulous mettle miasma microcosm militia mingy minion koan mirage mire misnomer modality mockery ****** mongrel monstrance morbid morose mortify mortise martingale motivity musky mushy murky muse mutuality muzzle myopia mystique mesomorphic nabob nadir narcosis nark native natty navaid necking pilaster neigh neuter neutrino nexus ****** nihilism nimbus nimiety nitty gritty noisome nominalism nonconformity non sequiter nooky noose nostalgia nostrum notch notion notorious noumenon nous nuance nubile nymph nympholepsy numinous ***** obliquity oblivion ubiquity eucharistic oblation obligee oasis oath obbligato obligatory obliterate obnoxious obscene obstreperously abstruse exude obviate ochlocracy odium odalisque ominous awesome omnivorous onerous onus opprobrium opprobrious optimal opulence orifice ornate orotund ostensible osteopathy oust outlier overawe overt **** ozone procurator pagan palingenetic pallid pallor paragon pagoda palpitate pander pandemic panhandling paraphrase paternoster pathetic paunch pavilion pawky peachy peculiar pedagog pedal pedantic peart peccant peeve perception intuition peremptory perdition perdurable detinue perfective
perfidy perforce periphery perjure perk permeate permute perorate perpetual perpetrate perpetuity perplexity persecute
perspicacious perspiration pertinent perturb ******* pesky perky pester pestilence petrify petrous phalanges juggernaut              
phenomenal phylogeny phobic phony photosensitize phrenic physicality ***** physicalism pick pictorial pious piety piffle pilgrimage pinion pithy placate placid plaint planetoid plasma platitude platonic plenipotentiary plucky plunderous poach plenary plummet polemic polyphonic postulate pouch polyandry polygamy populist pounce popsicle potentate pout practicable chatter prattle precarious precedence precess precious predetermined predicament preen prelusive premonition prefix preposterous prevail prevalent presumptuous **** prim priority depravation probity prodigious profane promulgate proffered prohibitive projective promiscuity propagandize propagate prophetic prosthetic propinquity prophylaxis protocol proprietous propitious haggard proxemics prosecutor prospectus protensive proximity pummel pundit prejudice piranha punitive purgatorial purificatory putschist kitsch quag quantum jump quarrelsome quarterstaff Quetzalcoatl quickie quirt quoit rescind reverb revile mnemonics retuse rabble rachis raconteur ratification radial radix raffish raft ragamuffin railroad raiment rake ramify ramet ramus rank rancid **** rapper rapt rapture rarefy rarified rave ravel raw raze razzle-dazzle razzmatazz realm ream reap rebuttal rebuff rebuke receptaculum recital recess reconcile recondite recourse recriminate rectilinear rectify rectitude recumbent recuperate recursive redeem redolent refer reek reeve reflective reflex refraction refulgence refuge refuse relativistic reliquiae remedy remorseless remnant repertory replicate reproach reptilian repugnant repulse repulsion rescissory residue resignation resolute restitution retraction restriction restraint resuscitate reticent retentive retinue retreat retribution revel reverberation reversal revert revulsion rhapsodic rhombus rhomboid rictus ridgy rifle riff rigorous ritzy rival roan roam roar rive robust rodent rodeo roguery rollick frolic romp rote rouge rout ******* rubble rubric rumpus rumor rural ruse rustle Ruth sitzkrieg superciliary supercilious surfeit suture bravo bravado seminal vesicle sacerdotalism sacroiliac sagacious saga safari saguaro salpinx salubrious salvo salve sanction sanctify sanguine sashay satchel satiate saucy savory scads scalpel scandalize scapula **** schmaltz schlep schnook scorn scour scoff scowl scow scram scrounge screak scud **** scuz seclude ****** seer selfish seminiferous senility sedition smear sycophant sensitize sensorium sentiment sequester sequential servile sham shindig shoddy singular screech situate skedaddle skew sketchy skittish skivvies slang slight slogan slovenly slouch sneaky snub soffit solvency sophistic spangle spar spawn spew squall squamous steeple logistical tactician strategy stupor subjunctive suborn subvert the clarity of criticism can create credibility comprehension can cause conducive consciousness supremacy surly burly squirrelly schema temporize tai pan tup trochlea ulna taboo taciturn tacit tacky tact talus tamper tang tamp tangible tangential tank tankard tassel tawny ****** telepathic temerity telos tenable tenet ternary terra-cotta testy topos tiercel theocracy tempting thew tizzy trite thirl throng thundering tantrum tonic torso topsy-turvy torus tour de force touristic **** tout tragus tractive trance tranquil traject transcend trample transducer transfix transgress transition transposition transude transpire treasure treason trek trenchant tremendous tributary trigeminal  trollop triumph tropic tropism troth trough tractable tract strumpet trove trump trustless tribunal twang tweeze twinge twirl twaddle tunic typecast tyrannical tyrannosaur traction padness tyrant tympanum twist ukase ultraism ultima ratio ultrastructure uglify umbilicus umbra umbrage unabridged unconditional unambiguous unanimity uncanny unceremonious uninucleat union unique unison unity farce sham unmannered unremitting unspeakable upsurge upstage urchin urbanist usherette usufruct travesty usury utensil ****** utmost ut uvea utter uvula utility uxorious usurp surreptitious vagabond vagarious vagile vagrant vagrancy vale valor validate vampire vanguard vas deferens vast vaunt vector venery venial veranda venture verbalist verboten verdant verdict verge vertebration verve vexatious fierce vigil vigorous vile vilify villainous vindicate violent virtue vitalist ***** vituperative vogue vomitus volunteer vouch vulcanization vulturous vulgarism weld **** volume decimate wahoo waive wangle wee weepy welch whammy war wharfage whereof whereupon wherein wherefore whereon wherewithal whine whopper wild goose chase wishy washy wisp woeful wrathy wrought wrong xenophile ******* fornication phantasmagoria fluent voluble yammer yelp yes man yummy zany zealotry zilch zing zombie zooidal zoom zounds zygomatic contiguous constituency confluence contiguity continuum concurrence conjunction conjugation métier quintessential
There was a motion on the floor for the nomination of a proxy to be my epigone.  I feared I didn't have enough votes to challenge so I filibustered.
ZZ  Mar 2018
DARI MANA MERAH
ZZ Mar 2018
Dari mana kau tahu mawar itu merah
Dan melati itu putih?

Dari mana kau tahu ruby itu merah
Dan kapur itu putih?

Dari mana kau tahu api itu merah
Dan awan itu putih?

Dari mana kau tahu berani itu merah
Dan suci itu putih?

Darimana kau tahu darah itu merah
Dan tulang itu putih?

Dari mana aku tahu hatimu merah
Jika tiada hitam diatas putih?
3 Februari 2015

juga diterbitkan di https://tintaqabila.wordpress.com/2015/02/03/dari-mana-merah/
Noandy  Jan 2017
Gandrung
Noandy Jan 2017
sebuah ingatan*

Aku tak mungkin mampu bersanding denganmu dalam segala warna dan wangi. Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, hanya dua warna yang dapat kukenali: Merah bara meranggas dan hitam abu mengapur. Sedang wangi yang membekas dan meracuni paruku tak jauh dari getir arang serta harum menyan di sekujur tubuhmu.

Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, lelehan baja akan tetap mengalir dalam nadiku—leleh baja pula yang telah membekukan
mematikan
menyayati
Segala rasaku padamu. Tanpa warna; tanpa wangi; tanpa harap; tanpa pinta; tanpa ampun—tanpa apapun.

Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya. Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Helai rambutmu yang menggantung dan perlahan terurai enggan meninggalkan benakku meski aku terus hidup melampaui waktumu. Kedua lenganmu yang tak tertutupi apapun dan bersimbah darah masih terus menorehkan noktah pada hidupku. Dan kedua tangan kecilmu, sesekali gemetar, menggenggam erat keris ciptaanku seolah hidupmu bergantung padanya.

Seolah hidupmu bergantung padanya, kau menghunuskan keris buatanku pada dirimu sendiri.

Aku bangkit dari semadiku karena tawamu yang tak hentinya bergema ketika aku mengosongkan diriku, seolah angin yang murung, entah darimana, meniru suaramu untuk memanggilku. Semenjak kematianmu aku tak lagi dapat melakukan tapa lebih dari tiga purnama lamanya. Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama karena aku hanya dapat melukai bukan mencintai meski sesakti apapun aku di matamu, di mata mereka, di mata yang menangis.

Walau di tanah ini akhirnya didirikan lagi sebuah Pakuwuan dengan akuwu yang dahulu merupakan jelata, dunia ini tak berubah lepas kematianmu. Aku mengira suara tak akan lagi terdengar dan warna akan sirna sepenuhnya—nyatanya, tak ada yang berubah. Hanya hatiku yang kian mengeras, mengeras, dan mengeras.

Gemeresak daun tak lagi mengantarkan tubuhmu yang menguarkan wangi menyan. Ranting-ranting yang berserak tak lagi bergemeletuk karena langkahmu yang sembarangan. Dalam alamku masih terukir bagaimana kau mengeluh karena tak dapat melihat dengan jelas dan akhirnya tersesat sampai ke gubukku yang dipenuhi oleh benda-benda tajam; bagaimana dunia bagimu hanyalah segumpal warna-warna yang buram, hingga kau berujung nyasar menuju gubuk tempat belati penumpah darah dihasilkan.

Kau begitu terkejut melihatku sosokku yang di matamu pasti tak terlihat seperti apapun walau dahulu aku lebih gagah dan rambut hitamku begitu tebal. Kau hanya terkejut, itu saja. Orang lain akan membungkuk karena mereka takut pada, menurut mereka, kesaktianku—yang hanya dapat membawa kengerian pun kematian. Kukira sahabatku Bango Samparan kembali mengunjungi, nyatanya yang datang hanyalah seorang gadis yang kesusahan melihat.

Lelah berjalan, kau meminta izin untuk rehat di gubukku sejenak saja yang tanpa peduli apapun aku kabulkan. Aku tak ambil pusing atas kehadiranmu dan kembali merapal mantra serta menempa keris. Sayangnya kau membuyarkan konsentrasiku dengan balas merapal mantra serupa sebuah kidung yang dilantuntkan dalam suara yang sama sekali tidak merdu sembari memahat sebuah arca kecil di tanganmu.

Kubiarkan sudah segala baja, timah, dan tungku yang menyala. Kuambil kendi dan gelas selaku tuan rumah yang baik. Di antara air yang tertuang dan kedua wajah kita aku dapat menangkap bagaimana matamu kau sipitkan sedemikian rupa demi menangkap wajahku. Aku yakin kau tidak tahu aku tua atau muda, kau hanya tau aku seorang laki-laki dari suaraku. Aku tak ingin memberitahukan namaku, tidak perlu. Saat itu aku cukup yakin kita tidak akan bertemu lagi.

“Rapalan mantra apa yang kau lantunkan?”
“Doa yang aku rapal sendiri kala memahat.” Dan kau menunjukkan sekeranjang penuh arca-arca kecil dan hewan-hewan pahatanmu di bawah matahari yang dalam beberapa hembusan angin saja akan tenggelam. Kau memahat begitu dekat dengan matamu, dan itu menyakitkanku kala melihatnya.

“Kembalilah, gadis.” Kau hanya terdiam dan menggendong keranjangmu, lalu meletakkannya kembali sebelum meraba-raba tanah di depan gubukku untuk mencari ranting yang lebih besar.
“Matur nuwun, Kanda—?”
“Kau tak perlu tahu namaku.” Mata yang disipitkan, lalu kau menghilang di antara pepohon dan semak begitu saja. Aku menyukainya—aku menyukai bagaimana kau tak ambil pusing atas siapa diriku raib begitu saja dalam petang. Orang-orang biasanya begitu menakutiku dan wanita-wanita menjauh dariku. Mereka datang bila menghendaki senjata dalam bentuk apapun itu atau jimat sembari memohon padaku “Mpu, Mpu, tolonglah Mpu. Buatkan sekarang juga.”

Apa yang membuatku begitu menjauhkan diri dari kerumunan? Apa benar karena kesaktianku? Kesaktian ini sungguhkah mengalir dalam nadiku?

Pada petang esok harinya aku tak menyangka kau akan datang lagi dan membawakanku beberapa buah pahatan untuk kupajang sebagai tanda terimakasih. Aku tak paham bagaimana kau dapat kembali ke gubuk lusuhku dengan mata yang kau katakan tak dapat melihat dengan jelas itu. Meski mata hitam legam itu tak dapat melihat guratan pun pola yang begitu kecil, kau berusaha keras untuk menatap dan menggaris bentuk wajahku sedemikian rupa.

Lambat laun setiap hadirmu di gubukku, segala rapalan mantra serta kesaktianku luruh seluruhnya.

Penempaan keris serta tombak-tombak terhambat hanya karena kehadiranmu. Sungguh kau sumber masalahku. Entah mantra apa yang kau rapal selama berada di sebelahku. Kau sendiri juga tidak menghalangiku dari pekerjaanku—tak banyak kudengar kisah terlontar dari mulutmu jika aku tak bertanya. Hanya saja kala kau duduk pada undakan di depan gubukku, aku tak ingin melakukan hal lain selain duduk di sebelahmu. Tidak ada orang yang akan betah duduk berlama-lama dengan seorang empu yang meski menguasai kesaktiannya di kala muda, membuat senjata dengan sebegitu mengerikan dan buasnya. Hanya kawanku Bango Samparan yang kini entah kemana, aku tak tahu.

Keadaan wilayah ini sedang buruk-buruknya. Pemberontakan dan penjarahan terjadi di berbagai desa. Wanita diculik dan pria dibakar hidup-hidup, para pemberontak yang jadi membabi-buta karena terlena itu membawa senjata yang mata pisaunya berwarna merah. Aku mendengar desas-desus itu dan menatap kedua tanganku—haruskah aku berhenti dan kupotong saja dua tangan keparat ini?

Tanah sedang merah-merahnya, dan bertelanjang kaki, kau terus datang ke gubukku.
Di luar rapalan mantramu kau terbalut dalam kesunyian. Aku tak menyebutkan namaku dan kau tak menyebutkan namamu pula. Aku memanggilmu Sunya atas kesunyianmu itu lalu kau sama sekali tak mengajukan keberatan. Kau tak tahu harus memanggilku apa, dan aku dengan enggan serta waktu yang lama membuka mulutku, menimbang-nimbang apakah aku harus melafalkan namaku di hadapanmu atau tidak. Hembusan nafasmu terdengar pelan lalu kau tersenyum,
“Gandring,” satu cukilan kayu,
“Mpu Gandring yang tinggal terpencil dalam gubuknya di hutan desa Lulumbangan. Mereka bilang kau empu muda yang sakti namun begitu gila. Seluruh bilah mata pisau yang kau hasilkan berwarna merah karena kau mencampurkan sendiri darahmu di dalamnya.”
“Kenapa tidak kau katakan sedari dulu bila memang mengenalku?”
“Aku tidak mengenalmu, empu, aku hanya tahu soalmu setelah bertanya selepas tersesat.”
“Kau tahu tentangku dan terus datang tanpa kepentingan. Lihat segala kerusuhan di luar sana karena sekelompok orang dengan mata pisau berwarna merah.”
“Aku punya kepentingan untuk berterimakasih atas kebaikanmu memperbolehkanku beristirahat, Gandring.” Kau tak menggubris peringatanku di akhir.

Kulihat kakimu yang penuh guratan merah serta telapak dan pergelangan tanganmu yang dipenuhi sayat, lalu kau meninggalkanku dengan arca-arca kecilmu yang kau atur sedemikian rupa.
“Untuk melindungimu.”
Dan kau mengukir sebuah mantra pada pintu gubukku, yang aku tak tahu ditujukan pada bathara atau bathari manapun. Aku tidak tahu apa kepercayaanmu, tapi saat itulah aku mengetahui bahwa aku mempercayai kesunyian yang ada padamu.

Dalam terpejamnya mataku aku dapat mendengar arca-arca kecilmu terus menyanyi dalam suaramu. Menyanyi, merapal, dan berdoa; menarikku dari keinginan untuk lelap dan menempa lagi sebilah keris merah yang kubuat sembari merapalkan ulang doa-doa yang terlontar dari ranum bibirmu.

Pada petang yang semestinya, kau tetap datang menemuiku dengan keranjangmu yang penuh pahatan. Kau tak peduli pada pemberontak dan dedengkot penjahat di luar sana, kau terus menemuiku dalam senandika sunyimu.
“Malahan tak ada yang akan dapat menemukanku selama aku bersamamu.”
Saat itulah pertamakali, dengan abu dan darah kering di sekujur tanganku serta helai kasar rambut terpapar panas yang menjuntai terjulur dari ikatannya, itulah kali pertama aku mendekapmu dan membawamu masuk ke gubukku. Aku tak akan membiarkanmu menjejakkan kaki telanjang di tengah api membara dan tanah tergenang darah.
Kau tetap diam dalam tawananku sampai nyaris dua purnama lamanya. Aku pun terheran bagaimana warga desa dikata hidup dalam kesengsaraan di bawah tangan dedengkot itu.

Kau menatap nyala api ketika aku masuk ke dalam gubuk, kau tak memperhatikanku dan tak dapat melihatku dengan jelas,

“Sunya,” dan seiring dengan tolehanmu kusodorkan sejajar dengan dadamu sebilah keris bermata merah yang sama dengan milik para pemberontak itu. Kau melindungiku dengan secara arcamu dan kini aku yang harusnya lanjut melindungimu dengan sebilah mata pisauku.
“Kita saling membalas rasa terima kasih, Gandring?”
kau merenggut keris itu dariku, membungkusnya dengan selendang yang tergantung di pinggangmu sebelum tanpa kata-kata kau undur diri.

Dalam tidurku dapat kudengar jeritan serta lolongan dan kepanikan yang jauh dari tempatku. Aku terbangun mengusap mata dan tak menemukanmu di manapun dalam gubukku. Untuk pertamakalinya aku tak memperdulikan tatapan ngeri orang-orang yang kulalui. Tubuhku yang tinggi dan rambut yang terurai saat itupun tak menanamkan rasa iba di hati orang yang berpapasan denganku atau permintaan untuk pertolongan, namun hanya kengerian, ngeri, ngeri, dan ngeri.

Aku sampai pada pemandangan di mana segala yang ada dijilati oleh api sedemikiannya. Di antara reruntuhan kau menunduk meraih-raih dua orang wanita yang diboyong pergi oleh sesosok pria bertubuh besar namun kurus. Pria yang di elu-elukan sebagai “Ametung!” oleh kanca-kancanya. Aku masih terus melangkah mendekatimu saat sesosok pria lainnya menjambakmu tanpa ampun tan menengadahkan paksa kepalamu. Kesunyianmu berubah menjadi kepedihan dan untuk pertamakalinya di depanku kau berteriak sejadinya.

Aku masih terus melangkah mendekatimu
Dan kau tak dapat melihatku.
Aku hanya bayangan buram di matamu.
Mungkin kau mengiraku sebagai salah satu dari mereka saat itu,
Karena yang kulihat selanjutnya adalah merah mata keris yang kuberikan padamu, kau tusukkan sendiri pada perutmu dan membuat merahnya makin gelap dengan darahmu.

Mereka semua, yang membunuh dan merampas, berlarian kala melihat sosokku mendekat. Kau tetap terkulai dengan rambut berantakan, gemetar dan kedua tanganmu berlumuran darah. Aku meletakkanmu di pangkuanku dan mendekapmu sembari menekankan tanganku pada perutmu untuk menghentikan darahmu.

Kesaktianku,
Kesaktianku tak ada artinya.
Kesaktianku hanya dapat mematikan.

Kau kembali dalam kesunyian setelah merapal namaku berulang kali dan terbata-bata berkata,
“Berhentilah beriman pada kehancuran dan kematian, gunakan kesaktianmu untuk kebajikan. Janganlah kau hidup dalam kesendirian dan kesengsaraan, Gandring.”
Dan sungguh kau telah kembali pada kesunyianmu.

Setelah itu tak ada lagi kesunyian tiap aku bertapa. Setelah itu tak ada sunyi pada sepi hidupku. Hatiku yang sempat membara laksana kobar api kembali padam dan mengeras sekeras leleh baja yang telah membeku. Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya.

Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Leleh baja akan terus mengalir dalam tubuhku, lalu membeku, hingga aku tak dapat lagi bergerak. Akan menjelma pisau dan dipotongnya diam-diam tubuhku dari dalam, akan dicabiknya segala kasih purbawiku padamu. Hingga ia tak lagi berbentuk dan mengeras dalam timbunan tanah yang merasuk melalui hitam kukuku. Dan timah serta mata pisau yang terlahir dari kedua tanganku, tak ada dari mereka yang akan peduli pada segala macam kesaktian di jagat raya ini.

Maka bila kelak aku bercermin pada ciptaanku, kesaktianku kusumpahi akan luruh seluruhnya.
Dan dengan itu, hidupku akan berakhir di liku keris yang kubentuk sebagaimana lelehan baja mematikan kasihku.


                                                      ­ //////////////////

“Empu, aku datang untuk mengambil keris yang aku pesan.”
“Arok, keris yang kau pesan masih jauh dari sempurna.”

Aku masih duduk bersila membelakangi pria muda yang mendatangiku, berusaha bertapa dan merapal mantra yang terukir pada pintu gubukku, sembari terus menggenggam keris yang dahulu pernah memasuki tubuhmu; merasakan hangatnya kedalamanmu.

Arok, menyambar kerismu dari tanganku,

“Empu tua bangka!”

Darahmu yang mengering pada keris itu
Bercampur dengan darahku.
Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama
Tapi kini darahku dan darahmu akhirnya dapat menyatu padu.
Aku tak perlu lagi hidup melampaui waktumu.


Januari, 2017
Untuk seseorang yang akan memerankan Mpu Gandring di pagelaran esok Maret.
Zien Kartika Jul 2014
Dear Nakama...
      Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J

Dear Nakama...
      Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan?

Dear Nakama...
      Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L

Dear Nakama...
      Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu...

Dear Nakama...
      Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja...

Dear Nakama...
      Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’(

Dear Nakama...
      Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu...

Dear Nakama...
      Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu...

Dear Nakama...
      Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh...

Dear Nakama...
      Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita!

Dear Nakama...
      Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja...
Semoga kau berkenan untuk memaafkanku...
Sahabatmu : Haruna J
Gue gak tau nakama itu siapa (/////_////)
Aridea P Oct 2011
Palembang, 22 Juni 2011

Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut

Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba

Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah

Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku

Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi

Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara

Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova

9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Sissy Gunawan  Jun 2017
Kamar
Sissy Gunawan Jun 2017
Bagiku, kamar adalah satu ruangan persegi yang paling krusial di antara ruangan-ruangan lainnya. Magis, nyaman, penting, dan pribadi. Kamar tak hanya berisi tentang selimut dan bantal-bantal yang dilapisi kain bercorak bunga-bunga atau selimut berbulu yang lembut. Tidak juga tentang tumpukan baju sekali pakai yang dilipat di atas nakas dan kursi roda meja belajar. Tidak juga tentang jendela yang selalu terbuka lebar setiap pagi, mengajak udara segar untuk memasuki rongga hidung, membawa masuk lantunan burung-burung. Terlepas dari karpet cokelat muda yang selalu tergelar di tengah-tengah ruangan, yang dihuni berbagai remah-remah makanan—keripik kentang, biskuit, roti kering—ruangan berukuran 4x4 ini menyimpan dan menyembunyikan banyak hal.

Cerita, rahasia, asa.

Bagiku, kamar adalah saksi bisu. Saksi bisu atas upaya yang pernah ditempa, semangat yang tak pernah padam untuk membara, diri yang selalu kembali bangkit setiap kali jatuh ditampar dunia, serta doa-doa yang mulai dibisikkan dengan lembut sejak fajar menyingsing. Meja belajar yang tak pernah rapi, rak buku yang ditinggali berbagai macam buku; novel, buku puisi, buku pelajaran, buku latihan soal, tempat pensil yang berantakan, cahaya dari lampu meja belajar yang hampir rusak, serta mading yang tak pernah sepi dari berbagai kertas target dan to-do-list yang ditempel.

Kamar juga mata bagi segala perasaan; marah, kecewa, putus asa, sendu. Inilah tempat di mana sepi terpelihara dengan baik, yang anehnya, terasa menyenangkan dan bersahabat. Tenggelam dalam kesibukan sendiri, menulis seorang diri, membaca dengan latar musik indie, yang barangkali hanya satu dari sepuluh orang pernah mendengarnya. Ruangan persegi ini merupakan tempat di mana lagu The Trial of the Century – French Kicks diputar, selalu bergandengan dengan kekecewaan yang perlahan merekah di bilik dada. Tempat di mana Fall Harder – Skyler Spence diputar bertepatan dengan lamunan, ide-ide abstrak, membayangkan hal-hal manis yang misterius. She'll lose herself in bright-lit skies, she watches the sun go by, and even if her love runs dry, she'll be there for the summertime. Ialah sesuatu yang terasa cukup magis dan menyihir, bagaimana lagu tersebut selalu membawaku ke dalam lamunan dan gambaran yang muncul seketika di benak, lalu terbitlah ide-ide dan keinginan untuk membuat sesuatu.

Menulis.

Ruangan persegi ini adalah ruangan kecil yang paling setia menaungi ide-ideku yang seringkali tumpah-ruah tak tahu waktu dan tempat, yang kadang dapat direalisasikan menjadi sebuah karya, kadang juga hanya duduk diam tak mau bergerak di dalam kepala. Ialah ruangan persegi yang dengan sabar mendukungku untuk selalu bergerak mengikuti dinamika inspirasi yang datang, memberontak minta dikeluarkan dari kepala, memintaku untuk selalu menjadi produktif. Tentang menulis cerita singkat dan puisi (karena penulis hebat tidak pernah kehilangan inspirasi, menulis dan bermain dengan kata-kata, bercanda ria dengan rima adalah asupan hariannya layaknya menghirup oksigen). Membaca banyak buku dan terus belajar. Melepaskan tangisan dan emosi yang lelah dipenjara di dalam hati, membiarkan mereka menghujani kertas kosong dalam bentuk kata-kata yang bebas. Mengevaluasi diri, membuat target-target.

Membuat prakarya-prakarya sederhana. Menyanyi lepas dan menari mengikuti irama musik. Menjadikan musik indie sebagai latar musik yang membuat semua komponen di ruangan persegi ini menjadi lebih menyatu, saling melengkapi, menciptakan ide baru, lagi.
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
Sissy Gunawan Jan 2017
Aku tahu mengapa dari jutaan perempuan yang ada di dunia ini, matamu memilih hanya untuk memandangi satu perempuan berambut gelombang sedada dengan kaos polos berbahan nyaman berwarna abu-abu muda yang kamu sebut ia sebagai perempuan indie.

Dia perempuan yang kau beri label indie karena ia mendengarkan musik-musik aneh yang tidak masuk di telinga pendengar musik-musik mainstream yang biasa mendapatkan lagu kesukaannya diputarkan di radio mobil. Bukan jenis selera musik yang biasa ada di playlist tim pemandu sorak. Selera musiknya ialah tak lain sejenis musik rock yang ringan, lagu-lagu dari tahun 90-an, lagu-lagu dengan sentuhan retro beat tahun 80-an, dan musik elektro santai yang biasanya kamu dengar di toko baju. Selain selera musiknya, kau beri perempuan itu label indie karena ia bersifat eksentrik, tak terduga dan penuh kejutan, sedikit tertutup, dan bersemangat. Ia jenis seseorang yang bisa kamu dapatkan dirinya menatapi permukaan jendela yang basah dihinggapi bulir-bulir rintik hujan, sibuk memikirkan sesuatu. Ia juga jenis perempuan yang bisa kamu dapatkan kadang menarik diri dari keramaian, lebih suka membaca atau menulis seorang diri. Juga, ia seorang perempuan yang bisa kamu temukan sedang tertawa lepas bersama teman-temannya, mengobrol dengan terbuka dan hangat, menebar senyum sambil menyapa ramah, berteman baik dengan semua orang. Ia jenis perempuan yang tak akan kau sangka-sangka, apalagi dapat kau tebak tindak-tanduk akan ia perbuat selanjutnya. Kau pikir ia jenis perempuan yang kuat, sesungguhnya ia katakan bahwa dirinya cengeng. Setelah itu, kau pikir selanjutnya ia bukan tipikal perempuan mandiri yang mampu membawa dirinya sendiri ke mana pun, tapi nyatanya kau lihat kadang ia berjalan sendiri – ke kantin, ke mushola, bahkan kadang kau mendapati dirinya berjalan pulang seorang diri dengan kedua telinga ditancapi earphone putih. Ia perempuan berperawakan kecil dan seorang pemimpi besar, yang mimpi-mimpinya membuatnya bekerja keras demi menghilangkan ketakutannya akan pikiran ketidakmampuan mewujudkannya. Ia dianggap secerah mentari bagi orang-orang di sekitarnya, selalu tertawa dan melisankan kata-kata positif, tapi sesungguhnya, ia hanyalah mentari bagi dirinya sendiri. Setiap kali ia jatuh, ia yang membuat dirinya kembali bangun − hingga akhirnya, ia tanamkan pada benaknya bahwa begitulah proses dari kehidupan. Kehidupan adalah siklus yang adil. Kehidupan berbuat tidak adil pada semua orang dan itulah saat yang paling tepat di mana ia harus bangkit dan mekar, hanya untuk dirinya sendiri.

Aku tahu kemudian mengapa perempuan yang kamu sebut sebagai perempuan indie itu menarik perhatianmu, bahkan sampai membuatmu rela melakukan apapun untuknya. Ia benar-benar membuatmu seolah bangun dari tidur lama di ruang kedap cahaya, pandangan matamu seolah mengatakan bahwa perempuan itulah matahari baru dalam kehidupanmu. Tentang bagaimana tindak-tanduknya yang tak mampu kau reka dan kau prediksi, perempuan itu membuatmu seperti melihat sebuah misteri dan keajaiban yang melebur jadi satu.

Sebut saja, sederhananya,
kamu benar-benar (akan) mencintainya.
Budding Dirt Oct 2017
Osogo chiewa gokinyi tula ruto e wi tado,chunya penjoree nyakwar kibiere ang’o ma dwa yudowa ma awinjo duond jachein machiegni ni? Achiewo amanyo ang’uolana mane agolo ka pok adonjo e od nindo.Awuok oko agoyo ****’a koni gi koni ,aneno minwa oa turo bando e puodho ma path ot,’minwa oyaore?’ amose gi luoro apenje ni,to ma winy ochiewa gi ruto modhuroni to kare ang’o madwa timore,”Nyathina ing’eyo ni asebedo ka aleko lek moko mag tho chalo ni masira nyalo yudowa machiegni ni.”Wewuoyo kamano minwa nyoro ka koko ayiko nyabila osiepa mabuonjo mos to ong’eyo rito nyikwayo ,omwolo nyakamaye,ok adwa winjo wach tho kata matin.Ne, we keta gi wach tho gokinyi chiew owadu ma ababa mondo udhi e puodho ridho bando, wuoyi ber machiewo to yudo gi matimo ka chieng pok obedo makech,awuok achiko e od steve omera kuma ababa tinde nindoe karito ’ ,Ababa pok ichiewo,? mama wacho ni en nindo manade ma sani pod ng’ama dichwo ninde?Bro,nyoro ne anindo modeko nadhi e thum kaseda loka aduogo saa apar ga riyo asayou weya uru anind matin okatamora puodho to adhi.Ababa we tugo koda dalaka. kwani wan ema ne wakoni ni idhi e thum? Chung na malo ka pok achopo kanyo apami.Awera kode Awuok Oko Tiego Kwer ,nyundo pisore to goyo lweta malit ‘Uwi Uwi ****’,Fred en ang’o? Minwa goyo koko,Ta ang'ise gi lit ni " ok nyundoni ema dwa bamo lweta yawa',Ababa nyiera ‘Hehe mama nakoni ni jo town gi bure kata tiego kwer gikia’.Omera we losona kaka ilosonano idhi ****’o iya gokinyi.Mama to nyathini kamaye ekaka tinde onindo dalaka ? Saani dekoro wasechopo e puodho? Fred, in to ema ihero lungo wach,Nyoro donge nang’isi ni aseda mawuon Erick ne onindo e bade? D.O Misiani ne biro goyo ngolo kanyo gi joka shirati band,makoro imedo chumvi e wach dhina e thum ni? Ne ok awinjo maber ababa yawa,yani "Aseda ne osewewa ? To nyaka ne bi dalaka asebedo mana ka awuotho to shemecha gi ok kona ni wuod awino ratego osewewa,mayie we adhi sani agone gi mos puodho ok ringi pod an dala ka.Mama? Ababa ng’isa ni aseda kare ne ong’ielo orengo? We adhi agone gi mos mondi? Fred Okadwa Walo Ochuno Ni Nyaka Idhi Sani ? Dhi nenore marach ni asebet odieng' ariyo dalaka to pok adhi gonegi mos,we adhiya adhiya mama asayi?Kare dhi to kik ibudh kono,Aneno wuonu ma ngoto kono ohero minoni mang’eny gi penjo mag pimo wich,Tang' kode? Awinji minwa.Omera ? Mano fred maneno kalo e rangach kanyo no? Adwoke gi gero,'Mano ng’a magoyo koko gi nyinga E gweng’ no?An bena omera kwani ikia dwonda ? Omera kare in e gweng’ ka ? An Nabiro nyoro. Achopo ka owad gi baba u ma aseda kagoyo mos.Mano ber ,yaani freddy eldoret ka omiyo ok unenru, chakre john ma wuonu tho yawa,uweyo nyauyoma ema puro dalaka  kapunda? Ok kamano baba “nyaka wamany omera, piny oidho ma  ka ok imanyo toinyalo inindo kech kata kwelo.We an achop ago mos koka aduogi,Kapok idhi  Freddy miya gimoro kanyo adonjgo kisii ka amorgo chunya? Omera Benah, sani to atwo ok awuotho gi wallet lakini mak mia moro nikaa ikwe go wiyi, abiro neni maber godhiambo.Erokamano wuod baba, in gi chuny mana ka wuonu ma john. Sasawa Bena we an Aweyi.Hodi ka? Karibu! Karibu !  Freda,To in Dalaka? Antiye min akoth nabiro nyocha neno nyara matin gi minwa ,Mos  kuom gimoyudi ni? Nyathi john,mae e yo manyaka ji duto te nelu,nitie kinde nyuol gi kinde tho, wante wan jokalo e piny ma mwalo ka,mano adier min akoth.To ne  odhi nade ? " Kik iwach nyathi nyieka,an nachiewo gi sime koa kisumo ni wuon akoth wakoche ne oyang’o ng’ute gotieno koa tich.Gichinje matindo tindo." Mos yawa, pinyni  ne waresre nade? En mana kamano nyathi nyauyoma,to piny majan kono udhiye nade ? Siasa awinjo ni liet kono mapek piny otur ji dwaro lokruok? Nandi, dhi maber lakini nasewuok kono an eldoret tinde.'oh nisewuok kono ? Mano ber tek ni iyudo kamoro ma chumbi wuoke."Min Akoth ok awuotho machwe ahinya lakini mak rupia moro matin ni, iyudgo kata sukari moro ne nyithindo."Erokamano nyathina nyasaye ogwedhi,to pok iyudo min ot nyaka nya min nyathini wewa? Hahhahaha ! Naseyuto,Nyasaye ogwedha gi jaber kendo achano mana harus.Pod apime ka en miyo manyalo pur ma kojwach ka.Pod Antiye Dalaka Wabiro Wuoyo Kayudo Kinde. We an aweyi? Erokamano nyathi nyieka.
Maa ki mamta ko dekh maut v
aage se hat jati hai
gar  maa apmanit hoti
dharti ki chaati fat jaati hai
ghar ko pura jeevan dekar
bechari maa kya pati hai
rukha sukha kha leti hai
paani *** kar soo jati hai

Jo maa jaisi devi ghar ke
mandir me nahi rakh sakte hai
wo lakho punya bhale kar le
inshan nahi ban sakte hai
maa jisko v jal de-de
wo paudha sandal ban jata hai
maa ke charno ko chukar paani
Gangajal ban jata hai

Maa ke anchal ne yugo-yugo se
Bhagwano ko pala hai
maa ke charno me jannat hai
Girijaghar aur Shivala hai
Himgiri jaisi unchai hai
sagar jaisi gahrai hai
dunia me jitni khushboo hai
maa ke anchal se aaye hai

Maa kabira ki sakhi hai
maa tulsi ki chaupai hai
meerabai ki padawali
khusru ki amar rubai hai
maa angan ki tulsi jaisi
pawan bargad ki chaya hai
maa ved richao ki garima
maa mahakavya ki maya hai

Maa maansarovar mamta ka
maa gomukh ki unchai hai
maa parivaro ka sangam hai
maa rishto ki gahrai hai
maa hari dubh hai dharti ki
maa keshar wali kyari hai
maa ki upma kewal maa hai
maa har ghar ki phulwari hai

Saato sur nartan karte jab
koi maa lori gaati hai
maa jis roti ko chu leti hai
wo prasad ban jati hai
maa hasti hai to dharti ka
jarra-jarra muskata hai
dekho to dur kshtiz ambar
dharti ko sheesh jhukata hai

Mana mere ghar ki deewaro me
chanda si murat hai
par mere man ke mandir me
bas kewal maa ki murat hai
maa saraswati lakshmi durga
ansuya mariyam sita hai
maa pawanta me ramcharit
manas me bhagwat geeta hai

Amma teri har baat mujhe
vardaan se badhkar lagti hai
he Maa teri surat mujhko
bhagwan se badhkar lagti hai
saare teerath ke punya jaha
mai un charno me leta hu
jinke koi santan nahi
mai un maawo ka beta hu

Har ghar me Maa ki puja **
Aisa sankalp uthata hu
Mai dunia ki har maa ke
Charno me ye sheesh jhukata hu.....
Copyright© Shashank K Dwivedi
email-shashankdwivedi.edu@gmail.com
Follow me on Facebook - https://www.facebook.com/skdisro
Pada suatu hari yang kejam.
Budi mau ke sekolah.
Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi.
“Buk, Budi berangkat dulu ya.”

Ibu pertiwi tidak menjawab.
Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi.
Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab.
Budi marah.
Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih !
Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing !

Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih?
Apakah si bangsat itu adalah mereka?
Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa?

Atau apakah si bangsat itu adalah kalian?
Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan?

Atau apakah si bangsat itu adalah dia ?
Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ?
Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan!

Atau apakah si bangsat itu adalah saya ?
Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong!
Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ?

Pada suatu hari yang kejam,
Budi tidak berangkat ke sekolah.
Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi.
Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat.
Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa.
Lihat itu,
Asap hitam pekat bergerak mendekat.
Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat!

Pada suatu hari yang kejam,
malam datang dan manusia mulai buta.
Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah.
Apa perlu listrik untuk buka mata?
Atau cukup hanya sepercik bara?
Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
untuk pertama kali saya bacakan tanggal 22 Juni 2019 dalam acara “Diskusi Panel: Dimulai dari Kita kepada Lingkungan” oleh Light Up Indonesia, Weston Energy.

— The End —