Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2016
Cerita Pendek Tentang Hantu*
Sebuah cerita pendek*

Anak-anak muda itu bilang bahwa Sundari cumalah hantu. Bagi mereka, Sundari sekedar cerita orang-orang tua zaman dahulu yang tak ingin anak lakinya pergi sampai larut malam. Parahnya lagi, mereka terkadang menganggap Sundari isapan jempol dan menggunakan namanya sebagai ejekan. Berbagai lelucon mereka buat untuk merendahkan Sundari,

Mereka pada saat tertentu menganggapnya seperti hewan kelaparan yang bersembunyi dan siap menerkam mereka,

Ketakutan sesaat.

Sayangnya, pada hari-hari berikutnya, Sundari malah terkadang lebih rendah daripada hewan.

Jika binatang buas dapat sewaktu-waktu muncul dan menyantap mereka dengan mudah, para pemuda justru berpikir bahwa mereka lebih tinggi dan mulia dibanding Sundari sehingga ia hanya akan menjadi segelibat penampakan.

Sundari cuma monster dan angan-angan, katanya, di zaman seperti ini mana ada hantu penculik jejaka. Pikiran anak muda memang berbeda dengan kebanyakan orangtuanya.

Padahal, Sundari sama seperti kita.

Sundari bukanlah siluman, hantu, atau makhluk mengerikan yang layak dijadikan lelucon semata.

Apalagi bahan cerita setan dan sarana menakut-nakuti bocah.

Dengar baik-baik, ia tidak terbang, ia tidak menghilang. Ah, Sundari bahkan tak punya kemampuan macam itu.

Sundari berjalan dengan dua kaki, melihat dengan dua mata, dan dapat memelukmu dengan dua tangan hangatnya. Yang mungkin berbeda adalah hati Sundari yang entah di mana sekarang. Inilah yang membuat ibu-ibu dengan anak lelaki begitu menakuti Sundari. Mereka yakin bahwa Sundari-lah yang akhir-akhir ini menculik buah hati mereka yang pergi malam, lalu menghilang selama satu minggu dan ditemukan gundul tanpa nyawa,

Tanpa hati,

Pada suatu sore yang hangat di padang ilalang dekat dusun.

Beberapa mengira bahwa Sundari adalah perwujudan pesugihan atau tumbal yang mengincar jawara-jawara muda, seperti andong-andong pocong yang dahulu sempat marak. Dahulu, pergantian kepala dusun di sini dilakukan dengan adu kekuatan. Para sesepuh percaya bahwa teh dari seduhan rambut pemuda dapat memperkuat diri dan meningkatkan kekebalan, ini menjadi salah satu spekulasi motif Sundari selain tumbal-tumbalan itu. Beberapa berpikir kalau Sundari menjual rambut lelaki muda di desa demi mendapatkan keuntungan baginya.

Kalau di antara gadis-gadis belia nan jelita yang bergelimang asmara, Sundari kerap digunakan sebagai sebutan untuk penyerebot kekasih orang. Terkadang huruf i di hilangkan, sehingga menjadi Sundar saja.

“Dasar, dia memang Sundari!”

“Padahal telah lama kita menjalin kasih, kenapa ia harus jatuh ke tangan Sundar macam dirinya!”

Apa Sundari begitu buruk hingga namanya lekat dengan orang serta kasih yang hilang?

Padahal dahulu Sundari hidup tenang,

Memang dahulu ia juga sumber perhatian,

Tapi ia hidup tenang dan dihujani kasih—

Yah, itu sebelum dusun ini akhirnya mengadili sendiri suaminya yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Menurut mereka, sangat tidak masuk akal seorang wanita pintar, seperti Sundari yang bekerja sebagai pendidik, memiliki suami yang lebih muda darinya. Pemuda berambut panjang itu hidupnya mungkin berkesan asal-asalan. Dandanannya serampangan, rambutnya berantakan dan panjang; padahal di dusun ini, sangat wajar bagi lelaki untuk memiliki rambut panjang. Banyak yang bilang tubuhnya bau tengik, dan ia jarang terlihat bekerja. Pada kedua tangannya, sering terdapat guratan-guratan warna. Berbeda dengan para petani pekerja keras yang terkadang tangannya diwarnai oleh tanah, warna-warna yang ada pada tangannya merupakan warna cerah yang tak mungkin didapatkan secara alami. Namun Sundari dan suaminya tetap dapat hidup dengan layak dan nyaman menggunakan upah mereka. Pasangan itu tak pernah meminjam uang, tak pernah mencuri.

Tak di sangka, orang-orang di dusun yang memandang bahwa agar dapat hidup berkecukupan harus digandrungi serta ditempa dengan kerja keras yang dapat dilihat oleh semua orang memandang bahwa dalam rumah tangga itu, hanya Sundari yang bekerja keras melayani suaminya. Sedangkan sang lelaki, menurut mereka, ambil enaknya saja dan kesehariannya sekedar leha-leha di teras rumah kayu mereka sambil merokok sebatang dua batang.

Mereka, terutama para bujangan, mencari-cari kesalahan pasutri bahagia itu.

Mereka kembali memanggil-manggil dan menggoda Sundari yang makin merapatkan kerudung hijau yang biasanya ia selampirkan apabila berjalan ke sekolah tiap pagi dengan kebaya sederhananya. Para bujang itu dipimpin oleh  Cak Topel yang istrinya lumpuh dan selalu ia tinggal sendiri dirumah. Mereka menungguinya tiap pulang, dan menghalangi jalannya kembali kerumah. Pernah sekali suaminya mengantarnya ke gedung sekolah reot itu, dan menungguinya sampai pulang. Sedihnya, ditengah perjalanan pulang ia babak belur dihajar  pemuda-pemuda berbadan besar itu—Setelahnya, Sundari melarangnya untuk sering menampakkan dirinya di depan warga dusun.

Yang harus dikagumi di sini adalah sifat pantang menyerah mereka. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjungkalkan Sundari dan suaminya dalam fitnah, sampai akhirnya mereka mencium sesuatu yang janggal dari rumah senyap mereka.

Bau tengik,

Ada yang bilang, jenis pesugihan macam tuyul sebagus apapun tetap akan mengeluarkan bau tengik atau busuk.

Mereka mulai menyambungkan hal ini dengan warna pada tangan suami Sundari,

“Itu tidak mungkin didapat dari bekerja di ladang.”

“Warna-warna itu pasti ramuan dukun.”

Dari situ, dapat dipastikan bagaimana Sundari dan suaminya dapat selalu hidup berkecukupan bahkan dengan uang mereka yang pas-pasan. Bujang-bujang berbadan besar itu segera menyebarkan cerita dan tuduhan-tuduhan yang membuat telinga panas. Sundari dan suaminya makin menarik diri dari warga dusun. Sundari bahkan berhenti mengajar setelah menemui kelas-kelas yang seharusnya ia ajar seringkali kosong, dan menemukan tatapan-tatapan sinis para ibu rumah tangga mengintipnya dari depan pagar kayu sekolah yang alakadarnya itu.

Entah kita harus bersyukur atau tidak, persembunyian itu tidak berlangsung lama. Pada sebuah malam bulan purnama yang lembab dan becek, Sundari melihat bola-bola cahaya dari jendela rumahnya yang ditutupi oleh anyaman jerami. Nyala api itu berasal dari berpuluh obor warga dusun yang berteriak-teriak dan menuntut Sundari dan suaminya agar mengaku bahwa mereka menggunakan pesugihan.

Sundari keluar sembari menyelampirkan kerudung hijaunya, diikuti suaminya yang rambutnya digelung tak rapih. Belum sempat mereka mengucapkan sepatah kata, para bujang menarik suami Sundari dengan menjambaknya dan melamparkannya ke tanah becek, menendangi pertunya, lalu menghajarnya seolah ia binatang peliharaan yang tak pernah patuh pada majikannya. Sundari hanya dapat menjerit dan menariki baju sejumlah laki-laki yang menghunuskan kepalannya pada tubuh kecil dan rapuh orang yang dicintainya. Setinggi apapun ia berteriak, suaranya seolah tenggelam dalam arus deras kebencian yang tak berdasar.

Jeritan untuk orang yang dikasihi itu lambat laun berubah menjadi jeritan untuk dirinya sendiri. Istri Cak Topel yang lumpuh rupanya merayap di tanah dengan sigap seolah laba-laba berkaki seribu, dan menarik bagian belakang kebaya Sundari sampai ia terjerembab ke tanah di mana ujung matanya menangkap sang suami yang rambutnya digunduli tanpa ampun dengan alat yang tak pantas. Saat menyaksikan adegan romansa sedih tersebut, wanita-wanita dusun menjambaki rambutnya, menampari pipinya dan menghajarnya tanpa ampun sambil menghujaninya dengan ludah-ludah mereka yang menasbihkan berpuluh hujatan menyayat hati. Setelah pasutri itu terkulai lemas di tanah musim hujan, barulah warga membumihanguskan mereka berdua yang tangannya tetap bergandengan.

Nasib naas, entah harus disyukuri atau tidak, menimpa suaminya yang terbakar hangus sepenuhnya. Sedangkan Sundari, dengan tubuhnya yang telah setengah terbakar, berhasil kabur dan hilang dari peredaran untuk beberapa saat.

Untuk beberapa saat,

Sampai lelaki yang menggoda, menghajar, membawa mereka pada keterpurukkan semuanya hilang satu persatu, termasuk Cak Topel.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau ronda, dan ditemukan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Orang-orang bilang bahwa ini Sundari yang menuntut balas. Meskipun entah di mana dirinya berada, ia masih tetap menghantui. Membayang-bayangi dengan perasaan bersalah yang menyakitkan bagi seluruh warga dusun,

Karena

Sundari dan suaminya tidak pernah melakukan pesugihan.

Dan, ah, itu cuma tipu muslihat para bujangan yang cemburu dan bersedih karena tak bisa mendapatkan Sundari dalam dekapan mereka sekeras apapun mereka berusaha. Entah sudah berapa lelaki dan lamarannya ditolaknya, ia justru jatuh hati pada pelukis bertubuh kecil yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

Bagaimana amarah mereka tidak tersulut?

Seandainya warga dusun lebih mengenal bau cat dan minyak untuk melukis, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk menuduh Sundari dan suaminya terkait pesugihan.

Ah, coba mereka masuk ke rumah kayu kecil itu sebelum main hakim sendiri. Mereka tak akan sekaget itu saat menemukan gubuknya penuh dengan cat dengan bau tengiknya, tumpukan kertas dan bahan bacaan, serta lukisan-lukisan yang masih dikerjakan.

Hilangnya para bujangan lalu diikuti dengan hilangnya murid-murid sekolah menengahnya, dan lelaki muda lainnya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ini.

Sundari tidak berhenti.

Mereka hilang kala malam, saat cangkruk atau berjalan di pematang sawah, saat menantang diri mengaku “tidak takut dengan Sundari itu!” lalu ditemukan dengan lebam sekujur tubuh, tak bernyawa, dan gundul tanpa sehelai rambut pun pada sore hari di tengah padang ilalang dekat dusun.

Sundari menyukai kerudung hijaunya yang hilang kala malam,

Kerudung tipis indah yang digunakan untuk menutupi kondenya—Yang direnggut paksa darinya lalu hangus rata dengan tanah.

Tapi Sundari lebih menyukai kehadiran,

Kehadiran suaminya dan tangannya yang bekerja melukis diam, kehadiran kerudung hijau yang melindunginya dari tatapan tajam, kehadiran murid-murid lelakinya yang dengan polos melontarkan lelucon serta godaan-godaan untuk Ibu Guru Sundari mereka, kehadiran anak-anakmu yang sombong.

Sundari menyukai kehadiran, dan itu merupakan alasan lain mengapa ia menggundul habis lelaki yang diculiknya, lalu mengupulkan rambut mereka yang ia sambung, anyam, serta kenakan dengan nyaman bak kerudung dan mantel bulu.

Maka dari itu, orang-orang yang melihatnya terkadang bilang kalau Sundari cumalah hantu; bayang-bayangnya selalu muncul dalam bentuk segumpal rambut menjelang malam.

Sundari lebih suka kehadiran,

Keadilan.

Tapi apa membalas dendam seperti ini juga salah satu bentuk keadilan?

Entahlah, ini pilihan hidup Sundari. Sudah kubilang kalau hatinya entah di mana.

Sekali lagi, Sundari bukanlah hantu. Ia manusia yang teraniaya sama seperti kita. Manusia yang disalahi.

Kalau dipikir lagi, bukannya setan terkejam adalah manusia sendiri?

Yah, itu sih sudah berpuluh tahun lalu. Entah apa jadinya Sundari sekarang. Sekarang lelaki cenderung berambut pendek, tak seperti dulu. Bayang-bayang Sundari kemungkinan tidak se beringas waktu itu, dan telah berkurang frekuensinya. Namun wanti-wanti mengenai dirinya terus ada dan berubah seiring berjalannya waktu, bervariasi.

Itu sudah
Berpuluh tahun lalu.
Mungkin sekarang ia telah jadi hantu sungguhan, atau ada perwujudan Sundari-Sundari lainnya?

Tidak masuk akal, ya?

Aneh, omong kosong, isapan jempol.

Kalau dipikir lagi, bukannya dunia ini selalu penuh omong kosong dan tangis dalam gelak tawa?
entablature archetypal wrangle arguable arraign arrest ascribe arsenal article artificial artisan ascension austere askance obliquely aspire assail assault assay assert diligence obsequious assimilate stigma perspicacious astute asunder atman atrium attrition intrepid autonomous avarice avert avocation azimuth azure abbreviate aberrant abhorrent relinquish loathe abstinence abstention  abysmal accelerate accordance accoutrement accrue exasperate acquaintance baccalaureate bacillus backbite baggage ballistic baluster bandolier banister barrage barranca barrier bartizan basilica bastion batholiths bathyscaphe battalion batten battle bauble ***** beastly ******* beckon beacon bazaar bizarre Bedouin beguile behavior beleaguer belligerent belvedere berserk beseech bewilder bezant bicker bigamy bight bilk billet billiard billow biogenic biscuit bivouac blatancy blizzard bodacious boggle bollix bombardier boudoir bouquet butte boutique bower brassier mesa breach breech brochure brogue brooch broach bruise brusque buccaneer buffoon bureau buttress buxom caffeine cauldron calisthenics calligraphy callous camouflage campaign campanile cannery cannibal canny cantaloupe cantankerous cantilever capacity capillary capricious carbohydrate caricature carnivorous carouse carriage cartography casserole cassette cataclysm catastrophe cache categorical caterwaul cavalier cauliflower celerity alacrity cellophane cellulose cemetery centennial cereal cerebellum ceremonial cesarean cessation chaff challenge champagne chandelier changeable chaparral charade chargeable chassis chateau chauffer chauvinism Cheshire chiaroscuro chicanery chiffon chigger chrysanthemum cipher circuit citadel clairvoyant clastic clique coalesce coercible coincidental colloquial colossal column combustible communicable community commute complacency compulsory comradery conceit conceal concession confetti conglomerate conjugal connive connoisseur consensus constellation consummate continuity contrivance convalesce convenient convertible convolution copasetic copious corduroy coriolis cornucopia corollary corpse corpuscle correlate correspondent corridor corroborate corrosion corrugate corrupt costume counselor countenance counterfeit courageous courier courtesy covert covetous cranny crease credenza credulity crescent ******* criterion crochet crocodile croissant crotchety crucial cruel cryptic cuddle cuisine cul-de-sac culinary culpable culvert cumbrous cummerbund ******* cunning curare curiosity curtilage curtsy curvaceous custody cylindrical cymbal cynicism cyst dabble daffodil daiquiri damsel dastardly dazzle deceit debilitate debonair debris debutant decency decipher decimate deconcentrate decorum decrepit dedicate defamation defendable defensible deference deficient deficit definitive defoliate delectable deliberate delicatessen delinquent delirious demarcate dementia demolish demure denigrate dentil denunciation deplorable depreciate dereliction derisory derrick descent desirable despair desperate despicable despondent destine deterrent detonate deviance devisal devisor devour dexterous diabolicalness diagnosis dialogue diamond diaphragm diarrhea dichondra dawdle differentia difficulty diffuse dilapidate dilate dilemma diligent dilute diminutive dinghy dinosaur director  dirigible disadvantageous disastrous disperse disciplinary discomfiture discordant discotheque discreet discrete discrepancy disgust disguise dishevel dispersal dissect dissention dissertation dissident dissipate dissolve dissonant distillate distortion distraught disturbance divvy docile docket doctrinal dodder ***** eccentric linguistics domical dominate domineer dominion dossier doubloon douse drawl dreary dubious dulcet dungeon duodenum duress dwindle dynamism dynasty ebullition echinoderm eclectic ecliptic economist ecumenism edifice editor educe effervesce efficacious egalitarian elaborate elapsed eerie elegy eligible eliminate elite elixir elongate elucidate elusion eluviation emaciate embarrass embassy embellish embezzle embroidery embryo emissary emollient emphatic enchilada encore encumbrance endeavor endogenous endure engender ensemble enthusiast entourage entrepreneur epaulet epitome erratic erroneous escapade esophagus espionage esplanade etcetera ethereal etiquette eucalyptus eulogy exaggerate exacerbate excellency exhilarate expectant exquisite facetious Fahrenheit fallacy fanion fealty feisty frisky felicitous fenestration ferocious fertile fervent fickle fictitious fiery finesse finial fjord flaccid fledge flippant flirtatious flivver fluctuate follicle forbearance forbiddance forehand forebode forceps forfeit
forgo forlorn formidable foundry foyer fracas fraught frivolous frolic frontier funnel copious furrow fuselage fusillade futile forgone frivolity frolic galaxy galleon galoot galore galoshes gambit gangrene ganglion gargantuan gargoyle gardenia garret garrote gasolier gatling gawky gazebo gazelle gazette geezer geisha gendarme generosity genre genteel gentry genuine geodesic geranium gesticulate ghastly giggle ****** gimmick giraffe gizzard glacier glamour glimmer glimpse glisten glottis gluteus gluttony glyph gnarly gnaw goddess godling gorgeous gorilla gory gossamer gourd gouts gracious gradient granary grandeur granulation grapple gratify gratuitous gregarious grenade committee grievance griffin gristle grotesque gristly grotto grouch groupie grisly grovel grudge gruel gruesome gubernatorial guerrilla guffaw guidable guidon guile guillotine gullet gymnasium gyrate habitable hacienda haggard halibut halitosis hallelujah hallow halyard hammock harangue harass harried hasp hatred haughty hearth hedonism hegira heinous hegemony hemisphere hemophilia hemorrhage herbivorous hereditary heresy heritage heroine hesitate hibiscus hidden hideous hieroglyphic highfalutin high-rise hilarity hippopotamus hoarse holler holocaust holster homicidal horror hosiery hurricane hydrant hydraulic hydronic hyena hygiene hyphen hypnotize hypochondria hypocrisy hypocrite hypotenuse hysteria idiocy igloo ignoramus ignore illicit illiterate illustrate imbecile immaculate immaterial immature immersible immigrant immune impasse impeccable impedance impenetrable impervious imperfect implement implicate implicit important impressible innately inert impression impugn inadequate inanimate inauspicious incandescent incantation incarcerate incentive incinerator inclusion incoercible incompressible incontrovertible controversy indefatigable inconvertible inconvincible incorruptible indices indictment indigent indigestion digestible indignant indiscretion indiscreet indisiplined indiscernible inducible inebriate ineffable inefficacy ineludible inexorable inexpiable inextricable infallible infatuation inferior inflammatory inflexible infuriate inimitable iniquitous infuse infusion ingenuity ingratiate inimical innards innocence innovate innumerable inoculation insatiable insectivorous insincerity insinuation inspection inspirator instability installation insurance insufferable insufficiency insurrection insupportable integrity intellect intelligence intemperance intension interaction interception intercession interdiction interface interference interpolate interrogate interrupt intersperse intervene interstice intractable intergalactic intransigent intravenous intrepid intricate intrigue introductory introject intrude inundate invective invariable invertebrate investigate intuitive invertible investiture inveterate inviable invidious inviolate invigorate invincible invoke invocation invalidate involute invulnerable impregnable ionosphere ipso-facto irascible iridescent eradicable irrational irredeemable irrefragable irrefutable irregular anomalous irrelevant irreproachable irrepressible irresistible irrevocable irreverent irresponsible irritative irrigate irritability isolable isosceles isostasy  issuance isthmus italicize iterative itinerary interjection ******* jackhammer jackknife jackpot jackrabbit jaguar jai alai jalopy jalousie jamboree Japanese jacquerie Jacobin jargonize jaunt javelin jealous jehoshaphat jeopardy jocular jouncy journal jubilant jubilee judgment judicature judicious juggernaut jugular juke julep juncture junta jurisprudence juvenilia juxtaposition kahuna kalpa kamikaze kerf kangaroo karat ken katzenjammer katydid kempt kerosene kewpie khaki kibitz kibosh kilter kimono kinesiology kleptomaniac knell knowledge knuckle kook kowtow kulak kyrie labyrinth laccolith laceration lackadaisical laconic lacunar lacquer lagging laissez-faire lamprey languish lanyard lapidary laputan larceny lariat laryngeal larynx lascivious latent latter lattice latrine launderette lavatory laxity lechery legacy bequeath legend leister lei leisure lemming leniency lentic leopard lethal lethargy lettuce leviathan levitate lexical liable levity liaison libation liberate licentious lieutenant ligament lilac limnetic limousine limpid lineage lynchpin lineolate lingerie lingual liniment linoleum liquefy litany literacy lithesome littoral lizard loath local loiter longevous loquacity lottery louver lucidity lucrative ludicrous luminary lummox lurid luscious lyricism machinator machinelike machismo macrocosm besmirched machiavellian mackerel mademoiselle maelstrom maggoty magisterial magnanimous magnifico maintenance malaprop malarkey malediction malamute malicious malign malinger malleable mandarin maneuver mange maniacal mannequin manure manzanita maquette maraca maraschino marauder marbleize marbly marionette marmalade marquee marquetry marrow marshal marshmallow martyr mascara masochism massacre matriarchy maudlin mausoleum maxillary mayonnaise meager meandrous medial medieval megalith mediocre Mediterranean megalomania melancholy melee membrane memorabilia menagerie mercenary mendacity meritorious mesmeric mesquite metallurgy metaphor meticulous metronome metropolitan mezzanine micrometer midriff mien demeanor millennium minarets minion minuscule minutia misanthropic miscellaneous mistletoe moccasin modus operandi monaural mongrel monotony morgue morose morsel moribund mortgage mosaic mosque mosquito motley mottle mucous membrane mucus mullion multifarious munificent museum musketeer mutable mustache mutineer myopic myrmidon mystique naïve narcissism narcosis narrate nausea navigable Neanderthal necklace needle nefarious negligible nemesis neophyte nertsy  nerve-racking nestle nether newfangled nocturnal nonchalant non sequitur normative Norwegian nostalgic nuisance nullify obedient obeisance obelisk obese objectify oblate oblique obliterate oblivious obsess obsolete obsolescence obstacle obstinate occupy occurrence ocelot odious oedipal officiate ogle ogre oligarchy omelet omnificent omniscient ontological argument oodles oomph opaque operable operative opossum optimal orangutan orchard orchestra ordinance oregano orgiastic oriel oriole ornery orphan osculate ostensive ostrich osteology oust overwhelm overwrought oyster pachyderm pacific pageant painstaking palate palaver libel palette pallet palomino pamphleteer panorama pantheism parapet paradigm papier-mâché paraffin paralyze parishioner parliament parody parquetry parsimonious pasteurize pathogenic payola ******* pediment pendant pendentives penicillin pennant pentathlon perception percussion perennial parameter perimeter peripheral peristalsis permissible pernicious perron perseverance persistent persona persnickety personnel persuasion petite pertinacious pessimistic pestilent pestle petticoat petulant phallus phantasmagoria pharaoh pharmaceutical peasant philander phenomenal philosopher phlegm phoenix phooey phosphoresce physique picayune picturesque piety pilfer finagle pilaster pillage pineapple pinnacle piquant pique piteous pitiful pittance pizzazz placate placenta plagiarism plaintiff plateau platypus plausible plinth plunderous pluvial poinsettia pollutant polygamy pommel ponderous portico portiere portentous prairie precipitous predecessor predicate predilection preeminent preempt preferential premier preparation preposition prerogative presumption pretentious preternatural privilege proclivity prodigious proffer progenitor progeny promissory promontory propellant propensity propound proselyte prospectus protégé protocol protuberant pseudonym  ptomaine pulchritudinous pursuant pygmy pylon python qualm quarrel quarry quash queer quell querulous quibble quitter quixotic rabbet rabbit rabbi radiant rambunctious rancor rankle raspberry rethink rebellion recant recital reconcile redundant referral reglet relevant reluctant remiss reminiscent remnant rendezvous renegade repartee reprieve repertoire repetitious reprehensive reprisal repugnant rescind reservoir resistant resurgence resurrect revelry reverie retaliate reticent retrieve retrograde reveille reverberation reversible reversion rhapsody rhetoric rheumatism rhinoceros rhinoceri rhubarb ribaldry ricochet riddance rigmarole risqué rive rollick Romanesque Rosicrucian rotisserie rotunda rogue roulette rubato ruminate rusticate sabotage sabbat saboteur sacrilege sadomasochist salacious salmon salutatory samurai sapphire sarcasm sarcophagus sardonic sarsaparilla sassafras sassy satiate satirical saturate saunter savoir-faire savvy scabbard scaffold scalawag scarcity scathe scenario scenic schism sciatic nerve ******* scintillate scissor scourge scrawny scrimmage scribble scruffy scrounge scrumptious scrunch scrupulous scrutiny scurry scythe sedition seethe seismic self-applause seltzer semiporcelain seniority sensible sensual separate sepulcher sequel sequin sequoia serape serenade sheaves serendipity  servant settee shabby shackle shanghai shanty shellac shenanigan Sherlock shirk shish kebob shoulder shrapnel shriek shrubbery shtick shush shyster Siamese sibyl significant simile simplicity simultaneous sinewy siphon skeptic skiff skillet skirmish skullduggery slaughter ****** sleeve sleuth slither slough sluice smart aleck  smidgen  smithereens  smolder  smorgasbord snazzy sneer snide snivel snorkel sobriety socioeconomic sojourn solder soldier solemn solicit soluble solvent sombrero somersault soothe soprano sophisticate sophomore sortie soufflé sousaphone ***** spiel souvenir sovereign spaghetti spandrel sparrow spatter sphinx spatula species specific spectacle spectral spelt sphincter spinach spinneret spiritual splatter splitting splurge spry  splutter sporadic sprawl sprinkler spree sprightly squawk spurious sputter  squabble squalor squander squeak squeal squeamish squeeze squiggle squinch squirrel stable squoosh stabilizer stagnant stagnate stalactite stalagmite stammer stampede stationary stationery statue statuesque statute staunch stealthy stein stellar stench stencil stoic steppe sterile stickler stifle stimulant stingy stirrup stolid strafe straggle strangulate stratagem strategy strenuous stretch strident stringent strudel streusel strychnine studious stultify stupe stupefy stupendous special stylus stymie styptic sublimate subliminal submergible substitute submersible subpoena subsequent subsidiary substantiate suburb subversion success succession succinct succor succulent succumb sufferance suffocate suggest suicidal sully sultry sumptuous sundae sundry superfluous superior supersede superstitious surreal supplicate surrender surrogate survey surveillance suspension suspicion sustenance swarthy ******* swath swear sweaty swelter swerve swindle swivel swizzle sycamore syllable symphony symposium symptom syndicate syndrome synonym synonymous synopsis synthetic syphilis syringe syrup suffrage tableau tabloid tacit tambourine tandem tangible tarantula tarot taunt technique telekinesis temperamental temperance thence temporal temporary tenuous tequila terrace terrain terrific terrify tetanus tether thatch thistle thither through though throat throttle thwack thwart ticklish tiffany timbre tirade titillate toboggan tolerant tongue top-notch topography  tortoise trauma tortuous torturous tourist tracery tournament tourniquet trachea traffic tragedy tragic traipse traitor tranquility transcend travesty transcribe treachery treatise trellis trepidation trestle trinket triplicate triumphant trivial troglodyte troubadour  trousers truncate tumultuous tundra turbid turpitude turquoise tutelage twixt twiddle twitter tycoon tyke typhoon tyrannical tyrannize tyranny umbrella unfulfilled unanimous usury undulate unequivocally unguent urethra unprecedented unscrupulous untenable unwieldy utterance vaccinate vagary valance valiant vandal variety vehement veldt veneer vendetta venetian vengeance vernacular versatile version vertebra vicinity victual vigilante villain vincible vinyl violate vitality vivacious volition voluminous voluptuous ****** vulnerable wahine waiver wallaby warble warrant wayfarer weasel wheedle wheezy weird whilst whistle whither whittle whoopee whoopla wistful whither wizen wont worse worst xanadu yowl yucca zephyr zeppelin zucchini extraversion embezzlement euthanasia extortion obscure carousing marauder aptitude ribaldry rigmarole chicanery shenanigans capers antics escapade crafty cunning cleaver connive furtive sneaky stealthy plunderous pillaging usurper pilferous wheedling finagler longevous loquacity derisory deplorable critical decimations tithe cynic frivolity frolic derriere easel emasculate emaciate linguistic depravity berate scold scorn scoff rail rebukeness  brawl vapid hamster spleen sequiter sequacious sequesterous flatulence impressible herbaceous impropriety veneration ignoble fatuous phatic journey acrid pungent fetid fiendness gamut ire irascible graffiti irk tedium diminutive minutia iota iterative reiteration self inductive interpolations objectified interstitial extrapolation trepidation tumultuous tortuous adjunct turpitude salient viable seethe conflagration lexical etymology idolatrous affectionate ****** caress craw swell surge flow flux amorous enamor endear ardent ardor cajole piquant poignant prescient puissant presage apex crux citadel pinnacle vertex vortex matrix ****** peak languishing lurid larcenous licentious lascivious squanderous squaloring wallow in the furrow confluence wretched infelicitous trajectory sordid warp strong raw war resume quirkness ***** tinker **** fink stink ******* eccentric pinky suit idiomatic cognate somatalogy virtuoso concurrent intemperance obsessive habitual addicts psychosomatic pathological psychopaths diabolically maniacal dementia panoramic tableau tediously meticulous laboriously beleaguering excruciating exacerbation autonomous avarice oscillating ostracism adrenergic analeptic adumbrate obdurate aberrance genocidal xenophobic prospectus personification of sartorial perfection visage picturesque vision of spectral grace picture of positive prosthesis protractive analysis cyborg ebullition ne plus ultra monad cybernetics prognosis prognostication clambering clamorous clangor hectic mayhem pulverize annihilate pompous bombastic query squash squawk squish squirm sprocket squeal squelch staunch statuesque steadfast steep stench stint strategic logistical tactician stratum stolid stoic stodgy viscid tumult stray streaky stretch strenuous striated strident stringent strive structural strut subjugate subjective substratum substantiate subterfuge subvert sultry sulk sundry superlative superfluous superficial syllogism soliloquy superovulation superfluity superfetation superfecundation suspicion swig superstratum sycophant ingratiating surrogate suspension swindle swallow swanky swath swill sympathetic symbolic synapse synchronous syncopate synoptic synectics syndrome synonym syntax systematic larceny lecher oligarchy ribaldry rigmarole intoxicate tangential tectonics tantamount telepathy tantalize throng tactile taint talisman talesman squabble brash torment temerarious terminus thrall torpid torpor torque tousle  traduce transform transubstantiate transpire transmute transmogrify transport trapezium traverse treason tremulous trendy trivia trifles trounce turgor truculent tuft turf turbid turgid tussle twain twang twinge twerp twit twitch tweak **** procedure vernacular posthumous spasmolytic propagate prolific proliferative profusion profundity proliferate profligate cogent fecund secund secular thick trick quick mystical silhouette sojourn excursion genre engender jaunt pilgrimage prophet trek waver wrought waxy waylay weave weary web wedge ***** wend whang whet whimsical whir whinny whereupon whish whisk whoosh whizbang whoop whorl wield wile wilco wild whence wingspread wiry wiseacre wherewithal rapacity wolf whistle wrath wraith wrack worship wrest wretch wring wriggle wry shyster shylock phone roan tone zone bone hone loan drone known own moan cone done groan koan gnome dream gleam cream seam beam          team serene ravine green gene careen tellurian terrene quaff query quiescent radishes reciprocate raunchy raspy rascal rampant rampage ravage ****** ravish rebuke rebuff rend reave recourse reconnaissance reconnoiter rectify recompense rectitude reconcile regime reintegrate relegate rejuvenate remission remonstrance reparation replication reprieve reprisal nocturnal emission repose remunerate resonant retort revelation revision grandiloquence cleft fissure crevasse rift rill robust rouge niche
crack tromp stomp chasm crevice trudge rostrum rout roust row ruckus sagacious salacious sapient satiric sarcastic sartorial sartorius scalawag screed scrutable contemptible scurvy scuttlebutt seditious seduction sect segregant sequacious psychic reverie subterfuge serenade sequiter serendipity shuck shylock sibilant shush signet simulation siren skeptic sleek slick slinky snare ****** sneeze sneer snide smug intrados loquacity spandrel iambic sonorous spatial spatiotemporal telemetry spectral spry spectrum speculate solicitor sprout spoof specular splendiferous sporadic spurt binge spree ***** squalid forte fortitude Gumby emit war  time raw umbrage ultraism ultimatum unary unbridled uncanny unanimous ambiguous biased unabated uncharted articulate deviating undertow congenial feint feign unity predicate unprecedented paradigm unscrupulous brash dire unfathomable unlimited urchin usurp utmost utilize fluctuate vague vacuous vanity vanquish vantage veer vast advent veracity verbatim vertex vortex vertigo vestige vex vigor vitalize virile vicissitude viscous visceral virtuous virulence vital virago vivacious vivid livid splurgeness stag vituperatively vociferous volition void voracity waft vulturine wacky waifs wainscot waive wallah itinerant wand wane lavish wanton wonderlust warrantee warn warp warlock warren wastrel wastage warranty dicker insidiously sinister flagrant verity maniac pack mendacity abscissa ordinate yacht yearn yaw yare yen yelp yin yonder yoni yore yours yolk zany zest zeal  zenith zingy zooid treatise hyperbolic lingam blasphemous farcical fugueness and estranged ensemble orchestration rendition various assorted forms of related stranger weirdness traveling down this obtusely overt contusion in my vehicular contrivance convection convolution abalone absolute acceptance accurately acquiesce acquire actually adamant additional adequately adherence affiliation affinity against aggressive allegiance although allusions amendable analogous analysis anchor ancient animation annihilation appeared approach appropriately archaic assembler assimilation assuage attain attempts attendant attribute audience aura auspicious authoritarian authoritative barbeque before belligerent binary blazing Buddha bulwark carousel ceaselessly ceremony chaos character charisma Christmas chronological cite classification classify clutter cocoon cognation cognizant comment communal complete conceive conceptual conclusion conducive conquered consciousness constituent construction continuum contrarily convenient corporeal collage creates credibility crystalline culture curious curriculum decadent decide deferred deified deity deliberately delineate deluded delusion demagoguery democratically descriptions desire destroy destructively develop dialectic dictates difficult diffuse disappeared ecstasy ecstatic efficiency elaborate elliptical empathy endeavor engaging equipment escape especially essence eventually evolutionally excellence excitement expectorant expedience experience extraneous extremity façade facet fashions fever flatten forgotten frailty framework gapping glimpse grandiose graphically groan growing hedonistically hierarchy hobby holocaust homogenous hovering ideology imagination immaturity immediate imperative impertinence important inadvertency inapplicable indispensable individually infancy initiate innate interpreters intervene intricacy intrinsic irrelevance jagged kaleidoscope lit literally lose ludicrous macabre minstrel meld mischievous model monstrous mores myriad mystic necessity negativity Newtonian normalcy nuance nullify obnoxious obscure obvious occasional officiate ominous omnipotent oppose optimizes oscillating ostracism paradoxically partially participants pebbles perceive pervasive phenomena portrayal posses preceding pretty prevalent pregnant primitive prism processional progress prominent proprietor psychic psychological purpose pyramid quandary rational receptacle recumbent redemption refused reiterate relatively relativity relevant reminiscent renaissance revere schemes schizophrenia separately sequence serious severe socially spontaneous stalwart stimulus stomach struggle stunned succession superimpose supplement suppose surround swimming switch symmetry sync taubla tapestry tenacious tendency tyrant terrestrial torrential totally tomorrow transient turbulence tyrannical ulterior ultimate universally unwarranted vicious weather yankee whether soliloquy amenity ambivalence ameliorate aggrandize aghast agrapha barnacle gerrymander jasper jasmine obfuscate obdurate castigate metaphysique cyborg appliance intrepid intrigue mystique impetus volition gumption motivation inspiration metaphor parable leprechaun leniency secund hefty endogenous exogenous lozenge irrefragable recalcitrance fecund jaded seal ordinand obdurate aberrance ignominious interface consent imbroglio embroilment lethargy impressionism agitator treacherous lurid allure obstreperously abstruse subconscious squanderous squalid anomalous punitive incendiary infrangible extemporaneous incognito (succubus , incubus) incongruous incredulous indemnify indigenous infernal infidel iniquitous secular funky spunky Rosicrucian epicurean phlegm levity levee lubricious loath loathe frigid **** ******* lick fenestration dire ****** brash crass rash aggrandize tactile acuity bridge rude crude bandy randy monad positive indenture obnoxious obtrusive obtusely overt indemnities annuities cavalier dawdling gallivant bought naught fought caught ought dribble rip zip gig blond entropy catalyst cohort cavort chronological sublime purvey pander meandrous extravagant exorbitance ***** vicarious endear eccentric cognate frolic frivolity fawn agnate aggregate junction function conjunction conjecture conjugation adjunct contiguous constituency cohesive coercion covert maestro maitre d mastoid newel minx murk monad muss muggy mull mirador bartizan musky meager demonstrative anarchy iconoclasm misnomer mimicry minaret mimetic monocracy pungent mordant mnemonics mangle maim mutilate mesomerism morpheme nepotism nurture vexation anxiety vindictiveness vendetta moot void null meringue laconic obliterate papaya proboscis podiatry polemist porcupine palindrome pandemonium presumptive procureness ploy **** paltry pander paphian pummel puny presage felicity parley parturient potpourri partisan peccavi verity goad penumbral platitude platonic proxy photic pharos perdurable preemptory posh perfunctory perilymph phoneme phenetic phantom permeate proximity phantasm phalanstry delusory apparition pietism oviparous expiate vindicate extricate  exonerate absolve posthumous prehensile prerogative presumptive prestissimo preterite retroactive primacy prevaricate equivocate primordium primeval puissance  pristine prescience prompt prodigious protagonist prurient pyre lurid pshaw guffaw purlin purloin quirk pith quark ***** tip put temerarious userp asymptote pirate tiny hat  thief tine slow slide slim hide me effigy infinitesimal slink slick paw
flaw craw claw heuristic swum cuckold climb locuna live **** sly **** sequacious expeditious sequesterous glove glaive glade
don’t dale  otter glue equestrian gog rift cog gone lean had good gold ride ode *** house pine low law earth *** guilty slime negligent torrentially torrid tortuously tempestuous einzeln function truckness presumptive procureness ploy **** off the line cyborg cylon live antonym exogamous dimorphism pry rap gape homogeny gap dudely cruel incredulity ergo apropos ipso-facto pith tip push where keeky geek peek peep glib jive gawk talk dudely cruel off the line but off it !  pit ego colossal incredible fantastic great outrageous amazing fabulous terrific stupendous splendiferous glorious God grandiose orgiastic magnificent ne plus ultra astounding astonishing bodacious marvelous exuberantly ecstatic subliminal nostalgic allusions subordinate ancillary conjectures similar analogous configurations exotically ****** quixotic render proof orchestration rendition unicorn railway mainsail ebullition monad girdle thigh spasmolytic heuristic sartorious sartorial discrepancy amendment rip reave rive tear rend esoteric erudite beleaguer hype synch torque your ringer occipital sync ubiquitous eucharistic oblation obeisance oblate obelisk ubiquitous edifice ******* efficacious salacious lubricious sagacious expeditious grief  orgiastic paroxysmal orthogenesis overture repertoire quagmire quandary poshly plush lushly lustful longevous loquacity hunky-dory harbinger guzzle gyro gyre exult heuristic awkward humph haberdashery hauberk huarache bourgeoisie dichotomy greave zealot goatee cavalier humerus gumption hors d’oeuvres coalescent hysterically delirious coercion nullify correspondence corral coral architrave archaeology ardent ardor arduous awry askew asinine altruistic allure allude alluvium aloof egress effulgence ephemeral apathetic anxiety antonym existential exigency exodus expiate esoteric exacerbate evoke exact exult excerpt exorbitance cajole argent apriori arbitrate appliqué aqueduct presumptuous prestige precocious precursor preempt predilection premises premonition preoccupy preponderance prescient pretentious perineum peristyle perpetuity pervade pertinent portent elicit pursuance putrid quasi queasy quaver quarrel rampart ransack voracious rapport ratchet raucous ravenous reciprocal rectitude emanate imminent perdition erudite erogenous scarp lambent reticent vehement auspicious austere consternation construe contingent convection convolution convenient cocoon coerce collaboration collude vacuum vacillate vestibule vicarious recalcitrant repudiate resend resilient resonance purvey wreak writhe wreath fortuitous fulminate fuscous cudgel futurity gable gallivant gallant embellish gauntlet scavenge scandalous scarify scatter schlieren scholarly scoundrel scowl unmelodious scramble scrabble scraggly craggy cephalic fallacious fallible absurd cutaneous synthesis commission extreme  conscientious adherent proponent subtlety diligent receive interesting abhorred exorbitant arrangement intelligence surprisingly important encompass contributes asymmetrical excellent elliptical collaboration straddled collapsible spanned feasible oriented pervasive artistry instructor precursor innovate adrenergic adumbrate queasy acclimatize accommodate acceptive accordant accrue accusation acrimony actuarial acuity adduce adjective adjunct admonish adroit aerobic aesthetic prosaic affiliate affluence aggravate aggregate agnate agonize airy albeit alchemy allege allegiance allegorical alleviate allocution ambience ambivalence amenity amenable anaclitic analgesia anacrusis analeptic anathema subordinate ancillary anecdotist animism animosity annulet announce anomaly anonymity antagonize antecedent subsequent antefix antenna anterior pathos antipathy antithesis aperture appall adorn pertain appreciate aquifer arbiter arbitrage arboreal frantic pedantic febrile fanatic quixotic hegira to xanadu frenetic zealot zeal eucharistic oblation occipital ubiquitous omnipresence opulent effluent affluence larcenous overture orgiastic paroxysmal ornithology orthogenisis gleam sheen English bird treacherous lecherous asinine dumb foolish stupid inane ignoramus absurd idiotically imbecilic silly unintelligent dense dingy crazy insane quasi slow epos epitomize epochal era gemma schema lemma jargon idiom colloquialism vernaculars peer quay pier pair appearance insipid vapid insidiously insolent pompously bombastic blatant flagrant chaparral epopee pseudopodia actuator militantly mercenary covert adumbrate intimate obfuscate abet abeyance proxy fugue edict advocate détente anticipate angary amentia terse inabsentia expurgation imputation impugn exculpate eugenic euphenics incumbent incipient accidence acoustics acquittance amore malign asperse amok amuck allegorist pervert aspect aorist wrist expiate asylum epigynous anovulant antenatal antidote antiquity antitrust antithetical argufy apartheid apocalyptic apologist apothecary apomixis appreciate aposteriori apostrophe protractive analysis parabola avidity liberty concise tine albeit life still arrogance coherent abandon abate abash abase abdicate abduction abject abominable abominate abomination abound abrogation absolution absorption accentual accession accede accessible accommodate accomplice accomplish accrual accursed acerbity acrimony accredit accustomed actuality actuate addle adamant adjutant adventive adultery adulterate adventure adversity advertent adulteration venturesome advocacy eyrie aerie aerial affix affront aggressive agile acuity tactile nimble agnostic agog agonist aghast avid avarice agrarian curtilage Arian airhead peterbrain alacrity alchemize alibi allegation allegory gorge ally allocate aloof altercation ambition amatory prelude amaze amateur  ambidextrous ambient amble amiable amicable amorist amulet analeptic analgesia analytics anathema android amalgamated anemometry animism annals chronicles annex annul annoy anonymity antecedent arcade armature arson articulate ascension assiduity asperity asynchrony augmentation audible auger aural areola auspice austerity authenticate autonomic astronomical enumeration auxiliary avenge avert economist autonomist autonomy aviatrix axiom avow avouch bifurcate bigamy bend bind bent bisexual berate bereft hype due behave behaviorism ******* behest bereave beholden biologism bureaucratize circumvent conscribe bacchae backslide backswept badland baddy bagnio baize balky ball hawk balmy bambino bamboozle banal bandwagon baneful banishment bankruptcy banter bandy barbarism barbarous barratry base pay bang bash bastardy bawdry lewd obscene ***** bawl beamish beatitude ****** beat beautiful bedlam beggary begrudge befuddle perplex behalf beleaguer beneficiary benevolence benighted bequeath bequest berth betroth bevy birth bitchery bivouac blabber blandish coax blah blither blare blazon bleak blear blighter bliss bloomy blot blunder blotch blooper bludgeon gag blurt blush bluster bonkers bosh boulevard bout brat browse brunt brute buck passer buffet bungle bungalow bunk bunt buoyancy burglarize burnish burp belch burlesque bureaucratize sorrowful lamentation baleful caterwaul
true clench closet queen constitution provocative soap menagerie melee cirrus camorra caboodle cabotage cabriole cacophony
cadge cahoots cagey cairn calamitous calculate calibrate  caliginous caliper calyx callet cameo campestral canard candid candidacy candelabra candor canker can’t canter canteen canoe capitation captivate capture carapace caribous carnal carnival carny cartomancy casque castellated caste castle catacomb catatonic phonics caustic cavernous celibate censor centric centrifugal centripetal certify cervixes cestus chalet chalice chameleon changling chaperone charlatan chary chaste chastise chastity cheeky cherish chesty chide ***** chintzy chivalrous chinch chomp choose chortle chromatic chronic intrinsic chroma chump chutzpa chute cinch conciliatory ciliary ciliate citadel citation civility clank clammy clang clairaudience taciturn reticent classify inveterate claudication cloven cleft cliché click clinch clement clip clique ******* cloak & dagger clobber clog clone clonk cloth clothe clothier cloture redolent clout cluck clump clumsy clunk coadunate coalition coadjutor coaster brake coax cochlea chronology inundate **** coexist anachronism coercive coitus coincide collinear collateral collegiate collision collusion coma combinatorics comfy  commandeer  commensurate comensal commend commerce commence commodious commotion compatible compensatory competitive compile complexional complicity comply connotation compost composure compunction compulsory concatenate concoct catenary concubinage condolence condemn condescending conducive cavalcade confidant confession confirmatory confiscate conformity confrontation congruence congeal congenial conjure connection connivance connote conquest conscript consequence conservatism consistent console consolidate consort conspire contagium contention continuity controvert conveyor copulative cordial cordon cornucopia coup couth coy crag cranky craven cringe crud culminate cumulate cursive credulity credulous infidel gullible diatonic perturbed derogate edict delict rage tirade irate vehemence denouement denounce tire dervish dictatorial diction proof desolate deontology Kant indenture defray detinue douceur amuse disseminate eustachian daft dainty damnify dapper dastardly dauntless daymare dead heat dead horse debauch debacle decadent debauchee decamp declamatory declension decorticate deductive default defeasance defenestration defunct defrock deformacy degeneracy deft deforce hipster mesmeric deification deist deleterious delimit deltoid delve deluge delusion delirious demimonde demesne demiurge demoniac demonetize demonstrable denizen denegation denigration demur demure despot desperation destine despise detect determinative determinism detersive deterrent detest determinacy detectaphone devout devoid detract desultory detrimental detour deviate deviant devastate devotion devious devisee devolution devolve developer dialectic dharma diagnosis prognosis matriculate diacritical differentia diffraction digenesis dignitize dignitary dilly diligence ***** dilemma dilapidate diminution **** ding diphtheria diphthong dent dirge dirk disaffirm discontinuity disclaim discern discord disconsolate discourteous discredit discontinuance discretion discriminate distain disenfranchise disenchant disencumber disenthrall disembody disgorge disgrace dishonest disguise disengage disinfestant disjunct disillusion disinfectant dislodge dismal disloyal disoblige disobey disparity disparage dismantle dismay dispatch dispel dispersive disproof dispute disrupt dissertation disrepair dissipate distillate distort distract ditto ditty diverge divaricate divert divest divulge dominion doohickey dormer doss dowdy doughty dowry drastic douse drat dray dread drawl dreary drippy drifty drivel droll drown drowsy drudge plan dubious dude dudgeon dulcify duct ductile drakeness ducky duel dull dusky tawny dynamic dwelling dwindle derisive bombastic primordial integumence parenthetically pragmatically prosaically practically protractively portion premise portent pervasive perpitude phenomena hierarchy predicate metaphysique endoskeleton ectomorphic dour droll dismal dank dreary bleak stark Electra complex lore epigone epigraph epsilon epistaxis epilation earnest earthshaker earthward earwitness eclectic ebonize electroacoustics ciphony ebullience eccentricity echelon echoic eddy edgy edify edit educe edition eerie edacious effectuate effeminate effete efficient efflux effrontery effluent effusion ego defense eidetic ejecta elaborate elapse electioneer curtail elocution elucidate elegant eloquence Elysium emancipation manumission detinue osteopathy elucubrate emasculate emaciate embark embargo emanate emblazon emote embellish elusive enhance embracive embouchure emergent emendator embryology emit emissary emitine jacquerie empathy empennage emphasis emphatic emigrant empirical emulate emunctory encephalic enclitic yuck junk funky junkies enchant enchain enclosure encroach encrustation encumber endergonic endorse endowment enduro enfetter enforce energetic enemy enema enervate engender engage propensity preternatural proclivity prestidigitation gesticulation equilibrate equilibrium equilibrist preterite rendition retroactive engross engulf enhance enjoin enlightenment enlist impressed enormous ennoble enrich  ensheathe enshroud ensnare ensnarl entanglement enthrall enthusiasm entice entity enthuse entrap entreat entrance enunciate envoy envy envisage epigynous epigraphy cipher epilogue episodic epitaph epistolary epithet equate equestrian equity equivocal equivocate eradicate erosion eroticism errancy erratic erroneous ersatz erumpent erudition erythron epistemology espalier essentialism progressivism esprit espy estimator estrus estuary etcetera ethnic ethos ethic eternal ethereal eugenic euphenics eustachian tube salpinx euthenics euthanasia evacuate evaluate evasive eventuate evaporate evict evident evil evert evolve exact exaction exult exaggerate exasperate excel excerpt exception exclaim exclude exculpate excursion excuse execration execution exempt exhume exile exhaustive exhibitionism exhilarate exegesis exert exonerate expense expletive explicit exploitation exponent export exposition exserted exposure expound expurgate ubiquitous extemporize extenuate exterminate extensive externalize extinct extort extradition extrasensory extraordinary extol extract exuberate extrude foible fasciculation twitch flinch fenestra Fabian falchion falangist Phillip felly ferro falsie **** fess fink out festinate ***** bustle fourragrere fimbria feduciary fabricant fable fabulist façade facile facilitate facsimile facture faena fain fairing fallopian fallow fascinator fash fatalism fastidious fastuous fatidic fatigue Faustian fatuity faux pas feasible faze ******* facilitate feline feeler ferocity fertile fervid fervor fetor fetus fetology fetish feverish fester fetation fetch fiat fief fiasco feticide obnoxious fiacre figment fickle fictitious fiddling fidelity fidgety fierce fiesta  filch filly filthy finale finesse fingertip finicky fang finite firmament flabbergast fixation flak flashy flagitious ******
flashpoint paroxysmal retrograde flaunt flasher flask flat flap flaw fledge flee fleece fleet fleshy flighty flick flexible flimsy  
flimflam fling flinty florid flora ****** flourish flotsam  flub fluke flurry flush focalize foist footing foray forfeiture forgery foreign
forensic formalize format formica formulate fornication forsooth forswear perjurious fortify forte fortissimo fortuity forum abjure
abnegation fossil fosterling four flush frame up freaky frazzle frenulum fret frigidity frigate frill fringe fritter frontal fructify fruition frump frugal fuel fulcrum fulgurous fulham sable furor furring brazen furtive fustigate future perfect fuchsia find roan gauntlet gamut gatecrasher havoc glass jaw glare glass eye gabber gadzooks gaff gaga gage gaggle gag rule gainful gainsay gait gala gale gall gallery gallivant gallop galvanic gambrel roof gander gammon garb garish garble garnishment garrulous garter gasp **** gaudy gauge gaunt gavel gear fad gee haw gemma gender genealogist geotropism germinate gestation ghost writer ghoul gig gigantic gill gimmick gimp girlish gist gizzard glaive glamorize glance glaze glean glint glitch gloat globe gloomy glitter glom glob glop glorify gloss glower glutton glum slum glue hue gluteal gnash aphorism adage gnosticism gnome goggle gnomic gold digger psychic golem gore gorge gown gossipy gouge grasp greedy frigid gremlin greave grieve grin grime grim grind gripe ***** groom gross grit groin grove grout growl grumpy grunt guck gruntle guide guile guild guilty guise gull gulch gully gunk gushy gust gussy up gulp gusset gush gustatory gung ** gusto gutsy gyne gyre gynecocracy gyve guy  aceimnorsuvwx  bdfhklt  fgjpqyz atheist goblin Godiva grog hang up disinter gamet zygote hunks hunkers haunches black white life death lithe heart rending miserly greedy stingy frugal habitation propinquity habituate hackamore hagride hairbreadth halftrack hallucinosis hamstring handicapper handless hangin hand woven hanker hanky panky haphazardry hari kiri **** harangue harass harbinger harem oviparous residual harmonic harpy harsh hast hassle haggle hasty pudding haugh haunt haversack haversian canal hawk hazard heady heal headway heap hearing hearty heave heathen heavenly heavy duty heft heir heinous heifer heist helix enliven glue hellion helm hemlock hence heredity primitive anachronistic hangover heretical heritage hermit recluse heresy primordial integumence skull hernia hue hex heuristic hirsute hireling ally hint **** hoard hoax hitch hoist hokey hoot horizon hornswoggle horologist hostile hostage housebreak huckster hovel huff humeral hurtle hustle hutz pah homage homogeny exogamy hone honesty honkies hooky hutch hypercritical hypotaxis hysterics incoercible idiosyncrasy impugn idolatry ileum imagism idempotent ides ichor icky icon ics ictus ideational identity crisis matrix idea iffy ignescent illustrious immaterialize imitation inextremis immanentism immolation mollify impeach impedance impecunious impassion immutable retrograde recumbence inabsentia impious impenitence impinge implore impotent paroxysm impressment impute impromptu impoverish improvident imprudent improvise imputation inanely inanimate inauguration incorrigible inappreciative inconsequential irreverence inconsolably disconsolate irreparably irreconcilable incorporeity ideally ideogram inferential illicit incarnate incestuous inch incident converse incipient incite incognita incommodious incompliant incommunicado indagate incursion incus incumbent indecorous indecent exposure indecipherable indefeasible indenture indictable  indicative indignant indiscrete indite indolence indubitable induce indulgent industrious ineffectual inane inert inertia infamy infanticide infest infinitesimal inflect inflict infringe encroach infrastructure inflation influential informant inimical iniquitous innumerable innuendo inquisitor injunction injudicious inkling innocuous insolent insidious insipid inept phatic volatile instigate insinuate instinct intangible interdict intentional interject intimate intimidate intricacy intrigue intrinsic intrepid introspection introvert intrusive intuitive inviolate invade inundate invalid inventive inveigh inure defeasance foist isomorphic isthmus fistula jabber jackal jackleg jag jaunt jeer jerkin jest jetty jettison jiffy jig jilt jive job jack jolt josh jostle joust jovial judicious juggernaut jugglery jumble jumpy junctural jungle junk ****** jurisdiction justice justification jute jutty juvenile delinquency juxtaposition kale kalimba kangaroo court kaput karate karst kayo keel keep kempt kept keynesianism kick in **** kindle kinetic kink kist **** kleenex kismet kirtle kith kithe kitsch klaxon knack knavery **** knout kobold koan kneed king cogent adroit lollygag lummox languorous lanyard limbus lotic loquacious lesbian lam labial lambaste lampoon landmark bilk lang syne languish languid languor larder larky larvicide larynx lascivious lateral latent recumbent lapel laud lavish layette lecher leeward leer leech legacy legate lefty lest lewd avant-garde levant avaricious liaison libido libertarian lien ligature lilt list lisp liturgy livid loiter loom loophole lubricity lubric lucent lugubrious yuck lunkhead dolt lurk luscious luster luxury lynch lysis legerity lemma lickspittle limnetic ankh maverick mare liberum marabou machete machinate machiavelianism magniloquent macroevolution macrogamete Magdalene mantis mantra maniacal manubrium mare’s nest maenad majuscule maladjustive malfeasance maleficent malefactor malevolence mash malm malocclusion manipular manifesto mastectomy maw manacle manifest Manitou mana marrow pith manumission constitution marsupial mare nostrum masseur pervade perpitude quark master plan master race mastoid glitch exiguous skimpy scanty sparse masticate matriarchy matriculate escutcheon nombril mere mathematics matrix matinee impetus maxim axiom meatus minimax mediation mediocre medley metabolic meddle ménage a trios menagerie mendacity meroblastic menial meiosis meliorate memorandum memoir memento mori menace mesne menarche menorrhagia meninx mesh mesomerism mesne lord metal methodical meticulous mettle miasma microcosm militia mingy minion koan mirage mire misnomer modality mockery ****** mongrel monstrance morbid morose mortify mortise martingale motivity musky mushy murky muse mutuality muzzle myopia mystique mesomorphic nabob nadir narcosis nark native natty navaid necking pilaster neigh neuter neutrino nexus ****** nihilism nimbus nimiety nitty gritty noisome nominalism nonconformity non sequiter nooky noose nostalgia nostrum notch notion notorious noumenon nous nuance nubile nymph nympholepsy numinous ***** obliquity oblivion ubiquity eucharistic oblation obligee oasis oath obbligato obligatory obliterate obnoxious obscene obstreperously abstruse exude obviate ochlocracy odium odalisque ominous awesome omnivorous onerous onus opprobrium opprobrious optimal opulence orifice ornate orotund ostensible osteopathy oust outlier overawe overt **** ozone procurator pagan palingenetic pallid pallor paragon pagoda palpitate pander pandemic panhandling paraphrase paternoster pathetic paunch pavilion pawky peachy peculiar pedagog pedal pedantic peart peccant peeve perception intuition peremptory perdition perdurable detinue perfective
perfidy perforce periphery perjure perk permeate permute perorate perpetual perpetrate perpetuity perplexity persecute
perspicacious perspiration pertinent perturb ******* pesky perky pester pestilence petrify petrous phalanges juggernaut              
phenomenal phylogeny phobic phony photosensitize phrenic physicality ***** physicalism pick pictorial pious piety piffle pilgrimage pinion pithy placate placid plaint planetoid plasma platitude platonic plenipotentiary plucky plunderous poach plenary plummet polemic polyphonic postulate pouch polyandry polygamy populist pounce popsicle potentate pout practicable chatter prattle precarious precedence precess precious predetermined predicament preen prelusive premonition prefix preposterous prevail prevalent presumptuous **** prim priority depravation probity prodigious profane promulgate proffered prohibitive projective promiscuity propagandize propagate prophetic prosthetic propinquity prophylaxis protocol proprietous propitious haggard proxemics prosecutor prospectus protensive proximity pummel pundit prejudice piranha punitive purgatorial purificatory putschist kitsch quag quantum jump quarrelsome quarterstaff Quetzalcoatl quickie quirt quoit rescind reverb revile mnemonics retuse rabble rachis raconteur ratification radial radix raffish raft ragamuffin railroad raiment rake ramify ramet ramus rank rancid **** rapper rapt rapture rarefy rarified rave ravel raw raze razzle-dazzle razzmatazz realm ream reap rebuttal rebuff rebuke receptaculum recital recess reconcile recondite recourse recriminate rectilinear rectify rectitude recumbent recuperate recursive redeem redolent refer reek reeve reflective reflex refraction refulgence refuge refuse relativistic reliquiae remedy remorseless remnant repertory replicate reproach reptilian repugnant repulse repulsion rescissory residue resignation resolute restitution retraction restriction restraint resuscitate reticent retentive retinue retreat retribution revel reverberation reversal revert revulsion rhapsodic rhombus rhomboid rictus ridgy rifle riff rigorous ritzy rival roan roam roar rive robust rodent rodeo roguery rollick frolic romp rote rouge rout ******* rubble rubric rumpus rumor rural ruse rustle Ruth sitzkrieg superciliary supercilious surfeit suture bravo bravado seminal vesicle sacerdotalism sacroiliac sagacious saga safari saguaro salpinx salubrious salvo salve sanction sanctify sanguine sashay satchel satiate saucy savory scads scalpel scandalize scapula **** schmaltz schlep schnook scorn scour scoff scowl scow scram scrounge screak scud **** scuz seclude ****** seer selfish seminiferous senility sedition smear sycophant sensitize sensorium sentiment sequester sequential servile sham shindig shoddy singular screech situate skedaddle skew sketchy skittish skivvies slang slight slogan slovenly slouch sneaky snub soffit solvency sophistic spangle spar spawn spew squall squamous steeple logistical tactician strategy stupor subjunctive suborn subvert the clarity of criticism can create credibility comprehension can cause conducive consciousness supremacy surly burly squirrelly schema temporize tai pan tup trochlea ulna taboo taciturn tacit tacky tact talus tamper tang tamp tangible tangential tank tankard tassel tawny ****** telepathic temerity telos tenable tenet ternary terra-cotta testy topos tiercel theocracy tempting thew tizzy trite thirl throng thundering tantrum tonic torso topsy-turvy torus tour de force touristic **** tout tragus tractive trance tranquil traject transcend trample transducer transfix transgress transition transposition transude transpire treasure treason trek trenchant tremendous tributary trigeminal  trollop triumph tropic tropism troth trough tractable tract strumpet trove trump trustless tribunal twang tweeze twinge twirl twaddle tunic typecast tyrannical tyrannosaur traction padness tyrant tympanum twist ukase ultraism ultima ratio ultrastructure uglify umbilicus umbra umbrage unabridged unconditional unambiguous unanimity uncanny unceremonious uninucleat union unique unison unity farce sham unmannered unremitting unspeakable upsurge upstage urchin urbanist usherette usufruct travesty usury utensil ****** utmost ut uvea utter uvula utility uxorious usurp surreptitious vagabond vagarious vagile vagrant vagrancy vale valor validate vampire vanguard vas deferens vast vaunt vector venery venial veranda venture verbalist verboten verdant verdict verge vertebration verve vexatious fierce vigil vigorous vile vilify villainous vindicate violent virtue vitalist ***** vituperative vogue vomitus volunteer vouch vulcanization vulturous vulgarism weld **** volume decimate wahoo waive wangle wee weepy welch whammy war wharfage whereof whereupon wherein wherefore whereon wherewithal whine whopper wild goose chase wishy washy wisp woeful wrathy wrought wrong xenophile ******* fornication phantasmagoria fluent voluble yammer yelp yes man yummy zany zealotry zilch zing zombie zooidal zoom zounds zygomatic contiguous constituency confluence contiguity continuum concurrence conjunction conjugation métier quintessential
There was a motion on the floor for the nomination of a proxy to be my epigone.  I feared I didn't have enough votes to challenge so I filibustered.
ZZ Mar 2018
Dari mana kau tahu mawar itu merah
Dan melati itu putih?

Dari mana kau tahu ruby itu merah
Dan kapur itu putih?

Dari mana kau tahu api itu merah
Dan awan itu putih?

Dari mana kau tahu berani itu merah
Dan suci itu putih?

Darimana kau tahu darah itu merah
Dan tulang itu putih?

Dari mana aku tahu hatimu merah
Jika tiada hitam diatas putih?
3 Februari 2015

juga diterbitkan di https://tintaqabila.wordpress.com/2015/02/03/dari-mana-merah/
Noandy Jan 2017
sebuah ingatan*

Aku tak mungkin mampu bersanding denganmu dalam segala warna dan wangi. Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, hanya dua warna yang dapat kukenali: Merah bara meranggas dan hitam abu mengapur. Sedang wangi yang membekas dan meracuni paruku tak jauh dari getir arang serta harum menyan di sekujur tubuhmu.

Sampai usiaku berpuluh, beratus, beribu tahunpun, lelehan baja akan tetap mengalir dalam nadiku—leleh baja pula yang telah membekukan
mematikan
menyayati
Segala rasaku padamu. Tanpa warna; tanpa wangi; tanpa harap; tanpa pinta; tanpa ampun—tanpa apapun.

Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya. Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Helai rambutmu yang menggantung dan perlahan terurai enggan meninggalkan benakku meski aku terus hidup melampaui waktumu. Kedua lenganmu yang tak tertutupi apapun dan bersimbah darah masih terus menorehkan noktah pada hidupku. Dan kedua tangan kecilmu, sesekali gemetar, menggenggam erat keris ciptaanku seolah hidupmu bergantung padanya.

Seolah hidupmu bergantung padanya, kau menghunuskan keris buatanku pada dirimu sendiri.

Aku bangkit dari semadiku karena tawamu yang tak hentinya bergema ketika aku mengosongkan diriku, seolah angin yang murung, entah darimana, meniru suaramu untuk memanggilku. Semenjak kematianmu aku tak lagi dapat melakukan tapa lebih dari tiga purnama lamanya. Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama karena aku hanya dapat melukai bukan mencintai meski sesakti apapun aku di matamu, di mata mereka, di mata yang menangis.

Walau di tanah ini akhirnya didirikan lagi sebuah Pakuwuan dengan akuwu yang dahulu merupakan jelata, dunia ini tak berubah lepas kematianmu. Aku mengira suara tak akan lagi terdengar dan warna akan sirna sepenuhnya—nyatanya, tak ada yang berubah. Hanya hatiku yang kian mengeras, mengeras, dan mengeras.

Gemeresak daun tak lagi mengantarkan tubuhmu yang menguarkan wangi menyan. Ranting-ranting yang berserak tak lagi bergemeletuk karena langkahmu yang sembarangan. Dalam alamku masih terukir bagaimana kau mengeluh karena tak dapat melihat dengan jelas dan akhirnya tersesat sampai ke gubukku yang dipenuhi oleh benda-benda tajam; bagaimana dunia bagimu hanyalah segumpal warna-warna yang buram, hingga kau berujung nyasar menuju gubuk tempat belati penumpah darah dihasilkan.

Kau begitu terkejut melihatku sosokku yang di matamu pasti tak terlihat seperti apapun walau dahulu aku lebih gagah dan rambut hitamku begitu tebal. Kau hanya terkejut, itu saja. Orang lain akan membungkuk karena mereka takut pada, menurut mereka, kesaktianku—yang hanya dapat membawa kengerian pun kematian. Kukira sahabatku Bango Samparan kembali mengunjungi, nyatanya yang datang hanyalah seorang gadis yang kesusahan melihat.

Lelah berjalan, kau meminta izin untuk rehat di gubukku sejenak saja yang tanpa peduli apapun aku kabulkan. Aku tak ambil pusing atas kehadiranmu dan kembali merapal mantra serta menempa keris. Sayangnya kau membuyarkan konsentrasiku dengan balas merapal mantra serupa sebuah kidung yang dilantuntkan dalam suara yang sama sekali tidak merdu sembari memahat sebuah arca kecil di tanganmu.

Kubiarkan sudah segala baja, timah, dan tungku yang menyala. Kuambil kendi dan gelas selaku tuan rumah yang baik. Di antara air yang tertuang dan kedua wajah kita aku dapat menangkap bagaimana matamu kau sipitkan sedemikian rupa demi menangkap wajahku. Aku yakin kau tidak tahu aku tua atau muda, kau hanya tau aku seorang laki-laki dari suaraku. Aku tak ingin memberitahukan namaku, tidak perlu. Saat itu aku cukup yakin kita tidak akan bertemu lagi.

“Rapalan mantra apa yang kau lantunkan?”
“Doa yang aku rapal sendiri kala memahat.” Dan kau menunjukkan sekeranjang penuh arca-arca kecil dan hewan-hewan pahatanmu di bawah matahari yang dalam beberapa hembusan angin saja akan tenggelam. Kau memahat begitu dekat dengan matamu, dan itu menyakitkanku kala melihatnya.

“Kembalilah, gadis.” Kau hanya terdiam dan menggendong keranjangmu, lalu meletakkannya kembali sebelum meraba-raba tanah di depan gubukku untuk mencari ranting yang lebih besar.
“Matur nuwun, Kanda—?”
“Kau tak perlu tahu namaku.” Mata yang disipitkan, lalu kau menghilang di antara pepohon dan semak begitu saja. Aku menyukainya—aku menyukai bagaimana kau tak ambil pusing atas siapa diriku raib begitu saja dalam petang. Orang-orang biasanya begitu menakutiku dan wanita-wanita menjauh dariku. Mereka datang bila menghendaki senjata dalam bentuk apapun itu atau jimat sembari memohon padaku “Mpu, Mpu, tolonglah Mpu. Buatkan sekarang juga.”

Apa yang membuatku begitu menjauhkan diri dari kerumunan? Apa benar karena kesaktianku? Kesaktian ini sungguhkah mengalir dalam nadiku?

Pada petang esok harinya aku tak menyangka kau akan datang lagi dan membawakanku beberapa buah pahatan untuk kupajang sebagai tanda terimakasih. Aku tak paham bagaimana kau dapat kembali ke gubuk lusuhku dengan mata yang kau katakan tak dapat melihat dengan jelas itu. Meski mata hitam legam itu tak dapat melihat guratan pun pola yang begitu kecil, kau berusaha keras untuk menatap dan menggaris bentuk wajahku sedemikian rupa.

Lambat laun setiap hadirmu di gubukku, segala rapalan mantra serta kesaktianku luruh seluruhnya.

Penempaan keris serta tombak-tombak terhambat hanya karena kehadiranmu. Sungguh kau sumber masalahku. Entah mantra apa yang kau rapal selama berada di sebelahku. Kau sendiri juga tidak menghalangiku dari pekerjaanku—tak banyak kudengar kisah terlontar dari mulutmu jika aku tak bertanya. Hanya saja kala kau duduk pada undakan di depan gubukku, aku tak ingin melakukan hal lain selain duduk di sebelahmu. Tidak ada orang yang akan betah duduk berlama-lama dengan seorang empu yang meski menguasai kesaktiannya di kala muda, membuat senjata dengan sebegitu mengerikan dan buasnya. Hanya kawanku Bango Samparan yang kini entah kemana, aku tak tahu.

Keadaan wilayah ini sedang buruk-buruknya. Pemberontakan dan penjarahan terjadi di berbagai desa. Wanita diculik dan pria dibakar hidup-hidup, para pemberontak yang jadi membabi-buta karena terlena itu membawa senjata yang mata pisaunya berwarna merah. Aku mendengar desas-desus itu dan menatap kedua tanganku—haruskah aku berhenti dan kupotong saja dua tangan keparat ini?

Tanah sedang merah-merahnya, dan bertelanjang kaki, kau terus datang ke gubukku.
Di luar rapalan mantramu kau terbalut dalam kesunyian. Aku tak menyebutkan namaku dan kau tak menyebutkan namamu pula. Aku memanggilmu Sunya atas kesunyianmu itu lalu kau sama sekali tak mengajukan keberatan. Kau tak tahu harus memanggilku apa, dan aku dengan enggan serta waktu yang lama membuka mulutku, menimbang-nimbang apakah aku harus melafalkan namaku di hadapanmu atau tidak. Hembusan nafasmu terdengar pelan lalu kau tersenyum,
“Gandring,” satu cukilan kayu,
“Mpu Gandring yang tinggal terpencil dalam gubuknya di hutan desa Lulumbangan. Mereka bilang kau empu muda yang sakti namun begitu gila. Seluruh bilah mata pisau yang kau hasilkan berwarna merah karena kau mencampurkan sendiri darahmu di dalamnya.”
“Kenapa tidak kau katakan sedari dulu bila memang mengenalku?”
“Aku tidak mengenalmu, empu, aku hanya tahu soalmu setelah bertanya selepas tersesat.”
“Kau tahu tentangku dan terus datang tanpa kepentingan. Lihat segala kerusuhan di luar sana karena sekelompok orang dengan mata pisau berwarna merah.”
“Aku punya kepentingan untuk berterimakasih atas kebaikanmu memperbolehkanku beristirahat, Gandring.” Kau tak menggubris peringatanku di akhir.

Kulihat kakimu yang penuh guratan merah serta telapak dan pergelangan tanganmu yang dipenuhi sayat, lalu kau meninggalkanku dengan arca-arca kecilmu yang kau atur sedemikian rupa.
“Untuk melindungimu.”
Dan kau mengukir sebuah mantra pada pintu gubukku, yang aku tak tahu ditujukan pada bathara atau bathari manapun. Aku tidak tahu apa kepercayaanmu, tapi saat itulah aku mengetahui bahwa aku mempercayai kesunyian yang ada padamu.

Dalam terpejamnya mataku aku dapat mendengar arca-arca kecilmu terus menyanyi dalam suaramu. Menyanyi, merapal, dan berdoa; menarikku dari keinginan untuk lelap dan menempa lagi sebilah keris merah yang kubuat sembari merapalkan ulang doa-doa yang terlontar dari ranum bibirmu.

Pada petang yang semestinya, kau tetap datang menemuiku dengan keranjangmu yang penuh pahatan. Kau tak peduli pada pemberontak dan dedengkot penjahat di luar sana, kau terus menemuiku dalam senandika sunyimu.
“Malahan tak ada yang akan dapat menemukanku selama aku bersamamu.”
Saat itulah pertamakali, dengan abu dan darah kering di sekujur tanganku serta helai kasar rambut terpapar panas yang menjuntai terjulur dari ikatannya, itulah kali pertama aku mendekapmu dan membawamu masuk ke gubukku. Aku tak akan membiarkanmu menjejakkan kaki telanjang di tengah api membara dan tanah tergenang darah.
Kau tetap diam dalam tawananku sampai nyaris dua purnama lamanya. Aku pun terheran bagaimana warga desa dikata hidup dalam kesengsaraan di bawah tangan dedengkot itu.

Kau menatap nyala api ketika aku masuk ke dalam gubuk, kau tak memperhatikanku dan tak dapat melihatku dengan jelas,

“Sunya,” dan seiring dengan tolehanmu kusodorkan sejajar dengan dadamu sebilah keris bermata merah yang sama dengan milik para pemberontak itu. Kau melindungiku dengan secara arcamu dan kini aku yang harusnya lanjut melindungimu dengan sebilah mata pisauku.
“Kita saling membalas rasa terima kasih, Gandring?”
kau merenggut keris itu dariku, membungkusnya dengan selendang yang tergantung di pinggangmu sebelum tanpa kata-kata kau undur diri.

Dalam tidurku dapat kudengar jeritan serta lolongan dan kepanikan yang jauh dari tempatku. Aku terbangun mengusap mata dan tak menemukanmu di manapun dalam gubukku. Untuk pertamakalinya aku tak memperdulikan tatapan ngeri orang-orang yang kulalui. Tubuhku yang tinggi dan rambut yang terurai saat itupun tak menanamkan rasa iba di hati orang yang berpapasan denganku atau permintaan untuk pertolongan, namun hanya kengerian, ngeri, ngeri, dan ngeri.

Aku sampai pada pemandangan di mana segala yang ada dijilati oleh api sedemikiannya. Di antara reruntuhan kau menunduk meraih-raih dua orang wanita yang diboyong pergi oleh sesosok pria bertubuh besar namun kurus. Pria yang di elu-elukan sebagai “Ametung!” oleh kanca-kancanya. Aku masih terus melangkah mendekatimu saat sesosok pria lainnya menjambakmu tanpa ampun tan menengadahkan paksa kepalamu. Kesunyianmu berubah menjadi kepedihan dan untuk pertamakalinya di depanku kau berteriak sejadinya.

Aku masih terus melangkah mendekatimu
Dan kau tak dapat melihatku.
Aku hanya bayangan buram di matamu.
Mungkin kau mengiraku sebagai salah satu dari mereka saat itu,
Karena yang kulihat selanjutnya adalah merah mata keris yang kuberikan padamu, kau tusukkan sendiri pada perutmu dan membuat merahnya makin gelap dengan darahmu.

Mereka semua, yang membunuh dan merampas, berlarian kala melihat sosokku mendekat. Kau tetap terkulai dengan rambut berantakan, gemetar dan kedua tanganmu berlumuran darah. Aku meletakkanmu di pangkuanku dan mendekapmu sembari menekankan tanganku pada perutmu untuk menghentikan darahmu.

Kesaktianku,
Kesaktianku tak ada artinya.
Kesaktianku hanya dapat mematikan.

Kau kembali dalam kesunyian setelah merapal namaku berulang kali dan terbata-bata berkata,
“Berhentilah beriman pada kehancuran dan kematian, gunakan kesaktianmu untuk kebajikan. Janganlah kau hidup dalam kesendirian dan kesengsaraan, Gandring.”
Dan sungguh kau telah kembali pada kesunyianmu.

Setelah itu tak ada lagi kesunyian tiap aku bertapa. Setelah itu tak ada sunyi pada sepi hidupku. Hatiku yang sempat membara laksana kobar api kembali padam dan mengeras sekeras leleh baja yang telah membeku. Aku tak dapat mempersembahkan apapun selain mata pisau setajam akhir cerita di mana kita tak kekal di dalamnya. Mata pisau yang akan membawa kemenangan tapi tidak atasmu. Mata pisau sejeli jarum yang menjahit dendam pada hati penggunanya.

Darah dan daging yang merah merekah tak akan mungkin menggantikan mawar, bukan? Dan kilau yang dipancarkan oleh keris ataupun tombak bukanlah ganti yang sesuai atas emas dan berlian. Maka tak akan pernah lagi aku belah dadaku dan kucabik-cabik hatiku karena luka sayat berpedih abulah yang akan menguar darinya, bukan cinta serta kasih yang dapat membelai kulitmu tanpa hasilkan borok bernanah.

Leleh baja akan terus mengalir dalam tubuhku, lalu membeku, hingga aku tak dapat lagi bergerak. Akan menjelma pisau dan dipotongnya diam-diam tubuhku dari dalam, akan dicabiknya segala kasih purbawiku padamu. Hingga ia tak lagi berbentuk dan mengeras dalam timbunan tanah yang merasuk melalui hitam kukuku. Dan timah serta mata pisau yang terlahir dari kedua tanganku, tak ada dari mereka yang akan peduli pada segala macam kesaktian di jagat raya ini.

Maka bila kelak aku bercermin pada ciptaanku, kesaktianku kusumpahi akan luruh seluruhnya.
Dan dengan itu, hidupku akan berakhir di liku keris yang kubentuk sebagaimana lelehan baja mematikan kasihku.


                                                      ­ //////////////////

“Empu, aku datang untuk mengambil keris yang aku pesan.”
“Arok, keris yang kau pesan masih jauh dari sempurna.”

Aku masih duduk bersila membelakangi pria muda yang mendatangiku, berusaha bertapa dan merapal mantra yang terukir pada pintu gubukku, sembari terus menggenggam keris yang dahulu pernah memasuki tubuhmu; merasakan hangatnya kedalamanmu.

Arok, menyambar kerismu dari tanganku,

“Empu tua bangka!”

Darahmu yang mengering pada keris itu
Bercampur dengan darahku.
Kita tidak pernah bersama dan hanya dapat bermimpi untuk bersama
Tapi kini darahku dan darahmu akhirnya dapat menyatu padu.
Aku tak perlu lagi hidup melampaui waktumu.


Januari, 2017
Untuk seseorang yang akan memerankan Mpu Gandring di pagelaran esok Maret.
Zien Kartika Jul 2014
Dear Nakama...
      Kau tenang saja, mulai sekarang aku tak kan marah, kesal, sedih, cemburu, iri, ataupun jengkel saat kau berhubungan dengan Dia. Aku tak apa-apa. J

Dear Nakama...
      Sekarang, kau bisa melakukan apa saja sesuka hatimu padanya. Toh, Aku sudah melupakan semua perasaan itu, Aku sudah bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tak ada lagi alasan untuk mu menjauhkan?

Dear Nakama...
      Aku merindukanmu, Tak ingin melihat kau seperti ini, mengapa kau seperti ini? L

Dear Nakama...
      Bukankah, kita sudah saling berjanji takkan pernah saling menyakiti,  akan terus menghubungi dan jangan sampai hilang hubungan? Dan sekarang, Aku ingin menagih janji itu...

Dear Nakama...
      Aku di sini sedang sedih. Tapi semoga, Kau baik-baik saja...

Dear Nakama...
      Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu? Tapi, bukankah itu suatu hal yang wajar di antara hubungan persahabatan? Aku tak mau kehilangan “TEMANKU”, aku tak mau kehilangan “SAHABATKU”, dan Aku tak mau kehilangan “KAKAKKU”...  :’(

Dear Nakama...
      Selama ini hanya Kau orang yang bisa mengerti Aku, mempercayaiku, dan menyayangiku dengan setulus hati. Akupun Selalu berusaha agar bisa menjadi seperti itu...

Dear Nakama...
      Setiap hari aku menimbun sedih, menyembunyikan sakit, menampung rindu, menabung kekecewaan, mengumpulkan kegelisahan, dan terus menelan air mata hanya untukmu...

Dear Nakama...
      Pandanganku kabur, pergerakanku kaku, kakiku lesu, tanganku beku, lidahku kelu, air mata terus jatuh, dan sesaat aku merasa duniaku runtuh ketika mengetahui kau sedang berusaha menjauh...

Dear Nakama...
      Apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali seperti dulu? Saat-saat di mana Aku belum mengenalnya, saat-saat di mana aku masih menjadi gadis kecil yang polos dan tidak mengenal cinta, saat-saat di mana kita sering berbincang tentang kartun kesukaan kita!

Dear Nakama...
      Aku minta maaf, jelas-jelas ini salahku. Dan bodohnya lagi, Aku baru menyadarinya sekarang. Maafkan Aku jika Aku melakukan kesalahan yang membuatmu tersakiti. Kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja...
Semoga kau berkenan untuk memaafkanku...
Sahabatmu : Haruna J
Gue gak tau nakama itu siapa (/////_////)
Aridea P Oct 2011
Palembang, 22 Juni 2011

Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut

Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba

Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah

Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku

Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi

Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara

Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova

9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Sissy Gunawan Jun 2017
Bagiku, kamar adalah satu ruangan persegi yang paling krusial di antara ruangan-ruangan lainnya. Magis, nyaman, penting, dan pribadi. Kamar tak hanya berisi tentang selimut dan bantal-bantal yang dilapisi kain bercorak bunga-bunga atau selimut berbulu yang lembut. Tidak juga tentang tumpukan baju sekali pakai yang dilipat di atas nakas dan kursi roda meja belajar. Tidak juga tentang jendela yang selalu terbuka lebar setiap pagi, mengajak udara segar untuk memasuki rongga hidung, membawa masuk lantunan burung-burung. Terlepas dari karpet cokelat muda yang selalu tergelar di tengah-tengah ruangan, yang dihuni berbagai remah-remah makanan—keripik kentang, biskuit, roti kering—ruangan berukuran 4x4 ini menyimpan dan menyembunyikan banyak hal.

Cerita, rahasia, asa.

Bagiku, kamar adalah saksi bisu. Saksi bisu atas upaya yang pernah ditempa, semangat yang tak pernah padam untuk membara, diri yang selalu kembali bangkit setiap kali jatuh ditampar dunia, serta doa-doa yang mulai dibisikkan dengan lembut sejak fajar menyingsing. Meja belajar yang tak pernah rapi, rak buku yang ditinggali berbagai macam buku; novel, buku puisi, buku pelajaran, buku latihan soal, tempat pensil yang berantakan, cahaya dari lampu meja belajar yang hampir rusak, serta mading yang tak pernah sepi dari berbagai kertas target dan to-do-list yang ditempel.

Kamar juga mata bagi segala perasaan; marah, kecewa, putus asa, sendu. Inilah tempat di mana sepi terpelihara dengan baik, yang anehnya, terasa menyenangkan dan bersahabat. Tenggelam dalam kesibukan sendiri, menulis seorang diri, membaca dengan latar musik indie, yang barangkali hanya satu dari sepuluh orang pernah mendengarnya. Ruangan persegi ini merupakan tempat di mana lagu The Trial of the Century – French Kicks diputar, selalu bergandengan dengan kekecewaan yang perlahan merekah di bilik dada. Tempat di mana Fall Harder – Skyler Spence diputar bertepatan dengan lamunan, ide-ide abstrak, membayangkan hal-hal manis yang misterius. She'll lose herself in bright-lit skies, she watches the sun go by, and even if her love runs dry, she'll be there for the summertime. Ialah sesuatu yang terasa cukup magis dan menyihir, bagaimana lagu tersebut selalu membawaku ke dalam lamunan dan gambaran yang muncul seketika di benak, lalu terbitlah ide-ide dan keinginan untuk membuat sesuatu.

Menulis.

Ruangan persegi ini adalah ruangan kecil yang paling setia menaungi ide-ideku yang seringkali tumpah-ruah tak tahu waktu dan tempat, yang kadang dapat direalisasikan menjadi sebuah karya, kadang juga hanya duduk diam tak mau bergerak di dalam kepala. Ialah ruangan persegi yang dengan sabar mendukungku untuk selalu bergerak mengikuti dinamika inspirasi yang datang, memberontak minta dikeluarkan dari kepala, memintaku untuk selalu menjadi produktif. Tentang menulis cerita singkat dan puisi (karena penulis hebat tidak pernah kehilangan inspirasi, menulis dan bermain dengan kata-kata, bercanda ria dengan rima adalah asupan hariannya layaknya menghirup oksigen). Membaca banyak buku dan terus belajar. Melepaskan tangisan dan emosi yang lelah dipenjara di dalam hati, membiarkan mereka menghujani kertas kosong dalam bentuk kata-kata yang bebas. Mengevaluasi diri, membuat target-target.

Membuat prakarya-prakarya sederhana. Menyanyi lepas dan menari mengikuti irama musik. Menjadikan musik indie sebagai latar musik yang membuat semua komponen di ruangan persegi ini menjadi lebih menyatu, saling melengkapi, menciptakan ide baru, lagi.
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
Sissy Gunawan Jan 2017
Aku tahu mengapa dari jutaan perempuan yang ada di dunia ini, matamu memilih hanya untuk memandangi satu perempuan berambut gelombang sedada dengan kaos polos berbahan nyaman berwarna abu-abu muda yang kamu sebut ia sebagai perempuan indie.

Dia perempuan yang kau beri label indie karena ia mendengarkan musik-musik aneh yang tidak masuk di telinga pendengar musik-musik mainstream yang biasa mendapatkan lagu kesukaannya diputarkan di radio mobil. Bukan jenis selera musik yang biasa ada di playlist tim pemandu sorak. Selera musiknya ialah tak lain sejenis musik rock yang ringan, lagu-lagu dari tahun 90-an, lagu-lagu dengan sentuhan retro beat tahun 80-an, dan musik elektro santai yang biasanya kamu dengar di toko baju. Selain selera musiknya, kau beri perempuan itu label indie karena ia bersifat eksentrik, tak terduga dan penuh kejutan, sedikit tertutup, dan bersemangat. Ia jenis seseorang yang bisa kamu dapatkan dirinya menatapi permukaan jendela yang basah dihinggapi bulir-bulir rintik hujan, sibuk memikirkan sesuatu. Ia juga jenis perempuan yang bisa kamu dapatkan kadang menarik diri dari keramaian, lebih suka membaca atau menulis seorang diri. Juga, ia seorang perempuan yang bisa kamu temukan sedang tertawa lepas bersama teman-temannya, mengobrol dengan terbuka dan hangat, menebar senyum sambil menyapa ramah, berteman baik dengan semua orang. Ia jenis perempuan yang tak akan kau sangka-sangka, apalagi dapat kau tebak tindak-tanduk akan ia perbuat selanjutnya. Kau pikir ia jenis perempuan yang kuat, sesungguhnya ia katakan bahwa dirinya cengeng. Setelah itu, kau pikir selanjutnya ia bukan tipikal perempuan mandiri yang mampu membawa dirinya sendiri ke mana pun, tapi nyatanya kau lihat kadang ia berjalan sendiri – ke kantin, ke mushola, bahkan kadang kau mendapati dirinya berjalan pulang seorang diri dengan kedua telinga ditancapi earphone putih. Ia perempuan berperawakan kecil dan seorang pemimpi besar, yang mimpi-mimpinya membuatnya bekerja keras demi menghilangkan ketakutannya akan pikiran ketidakmampuan mewujudkannya. Ia dianggap secerah mentari bagi orang-orang di sekitarnya, selalu tertawa dan melisankan kata-kata positif, tapi sesungguhnya, ia hanyalah mentari bagi dirinya sendiri. Setiap kali ia jatuh, ia yang membuat dirinya kembali bangun − hingga akhirnya, ia tanamkan pada benaknya bahwa begitulah proses dari kehidupan. Kehidupan adalah siklus yang adil. Kehidupan berbuat tidak adil pada semua orang dan itulah saat yang paling tepat di mana ia harus bangkit dan mekar, hanya untuk dirinya sendiri.

Aku tahu kemudian mengapa perempuan yang kamu sebut sebagai perempuan indie itu menarik perhatianmu, bahkan sampai membuatmu rela melakukan apapun untuknya. Ia benar-benar membuatmu seolah bangun dari tidur lama di ruang kedap cahaya, pandangan matamu seolah mengatakan bahwa perempuan itulah matahari baru dalam kehidupanmu. Tentang bagaimana tindak-tanduknya yang tak mampu kau reka dan kau prediksi, perempuan itu membuatmu seperti melihat sebuah misteri dan keajaiban yang melebur jadi satu.

Sebut saja, sederhananya,
kamu benar-benar (akan) mencintainya.
Budding Dirt Oct 2017
Osogo chiewa gokinyi tula ruto e wi tado,chunya penjoree nyakwar kibiere ang’o ma dwa yudowa ma awinjo duond jachein machiegni ni? Achiewo amanyo ang’uolana mane agolo ka pok adonjo e od nindo.Awuok oko agoyo ****’a koni gi koni ,aneno minwa oa turo bando e puodho ma path ot,’minwa oyaore?’ amose gi luoro apenje ni,to ma winy ochiewa gi ruto modhuroni to kare ang’o madwa timore,”Nyathina ing’eyo ni asebedo ka aleko lek moko mag tho chalo ni masira nyalo yudowa machiegni ni.”Wewuoyo kamano minwa nyoro ka koko ayiko nyabila osiepa mabuonjo mos to ong’eyo rito nyikwayo ,omwolo nyakamaye,ok adwa winjo wach tho kata matin.Ne, we keta gi wach tho gokinyi chiew owadu ma ababa mondo udhi e puodho ridho bando, wuoyi ber machiewo to yudo gi matimo ka chieng pok obedo makech,awuok achiko e od steve omera kuma ababa tinde nindoe karito ’ ,Ababa pok ichiewo,? mama wacho ni en nindo manade ma sani pod ng’ama dichwo ninde?Bro,nyoro ne anindo modeko nadhi e thum kaseda loka aduogo saa apar ga riyo asayou weya uru anind matin okatamora puodho to adhi.Ababa we tugo koda dalaka. kwani wan ema ne wakoni ni idhi e thum? Chung na malo ka pok achopo kanyo apami.Awera kode Awuok Oko Tiego Kwer ,nyundo pisore to goyo lweta malit ‘Uwi Uwi ****’,Fred en ang’o? Minwa goyo koko,Ta ang'ise gi lit ni " ok nyundoni ema dwa bamo lweta yawa',Ababa nyiera ‘Hehe mama nakoni ni jo town gi bure kata tiego kwer gikia’.Omera we losona kaka ilosonano idhi ****’o iya gokinyi.Mama to nyathini kamaye ekaka tinde onindo dalaka ? Saani dekoro wasechopo e puodho? Fred, in to ema ihero lungo wach,Nyoro donge nang’isi ni aseda mawuon Erick ne onindo e bade? D.O Misiani ne biro goyo ngolo kanyo gi joka shirati band,makoro imedo chumvi e wach dhina e thum ni? Ne ok awinjo maber ababa yawa,yani "Aseda ne osewewa ? To nyaka ne bi dalaka asebedo mana ka awuotho to shemecha gi ok kona ni wuod awino ratego osewewa,mayie we adhi sani agone gi mos puodho ok ringi pod an dala ka.Mama? Ababa ng’isa ni aseda kare ne ong’ielo orengo? We adhi agone gi mos mondi? Fred Okadwa Walo Ochuno Ni Nyaka Idhi Sani ? Dhi nenore marach ni asebet odieng' ariyo dalaka to pok adhi gonegi mos,we adhiya adhiya mama asayi?Kare dhi to kik ibudh kono,Aneno wuonu ma ngoto kono ohero minoni mang’eny gi penjo mag pimo wich,Tang' kode? Awinji minwa.Omera ? Mano fred maneno kalo e rangach kanyo no? Adwoke gi gero,'Mano ng’a magoyo koko gi nyinga E gweng’ no?An bena omera kwani ikia dwonda ? Omera kare in e gweng’ ka ? An Nabiro nyoro. Achopo ka owad gi baba u ma aseda kagoyo mos.Mano ber ,yaani freddy eldoret ka omiyo ok unenru, chakre john ma wuonu tho yawa,uweyo nyauyoma ema puro dalaka  kapunda? Ok kamano baba “nyaka wamany omera, piny oidho ma  ka ok imanyo toinyalo inindo kech kata kwelo.We an achop ago mos koka aduogi,Kapok idhi  Freddy miya gimoro kanyo adonjgo kisii ka amorgo chunya? Omera Benah, sani to atwo ok awuotho gi wallet lakini mak mia moro nikaa ikwe go wiyi, abiro neni maber godhiambo.Erokamano wuod baba, in gi chuny mana ka wuonu ma john. Sasawa Bena we an Aweyi.Hodi ka? Karibu! Karibu !  Freda,To in Dalaka? Antiye min akoth nabiro nyocha neno nyara matin gi minwa ,Mos  kuom gimoyudi ni? Nyathi john,mae e yo manyaka ji duto te nelu,nitie kinde nyuol gi kinde tho, wante wan jokalo e piny ma mwalo ka,mano adier min akoth.To ne  odhi nade ? " Kik iwach nyathi nyieka,an nachiewo gi sime koa kisumo ni wuon akoth wakoche ne oyang’o ng’ute gotieno koa tich.Gichinje matindo tindo." Mos yawa, pinyni  ne waresre nade? En mana kamano nyathi nyauyoma,to piny majan kono udhiye nade ? Siasa awinjo ni liet kono mapek piny otur ji dwaro lokruok? Nandi, dhi maber lakini nasewuok kono an eldoret tinde.'oh nisewuok kono ? Mano ber tek ni iyudo kamoro ma chumbi wuoke."Min Akoth ok awuotho machwe ahinya lakini mak rupia moro matin ni, iyudgo kata sukari moro ne nyithindo."Erokamano nyathina nyasaye ogwedhi,to pok iyudo min ot nyaka nya min nyathini wewa? Hahhahaha ! Naseyuto,Nyasaye ogwedha gi jaber kendo achano mana harus.Pod apime ka en miyo manyalo pur ma kojwach ka.Pod Antiye Dalaka Wabiro Wuoyo Kayudo Kinde. We an aweyi? Erokamano nyathi nyieka.
Maa ki mamta ko dekh maut v
aage se hat jati hai
gar  maa apmanit hoti
dharti ki chaati fat jaati hai
ghar ko pura jeevan dekar
bechari maa kya pati hai
rukha sukha kha leti hai
paani *** kar soo jati hai

Jo maa jaisi devi ghar ke
mandir me nahi rakh sakte hai
wo lakho punya bhale kar le
inshan nahi ban sakte hai
maa jisko v jal de-de
wo paudha sandal ban jata hai
maa ke charno ko chukar paani
Gangajal ban jata hai

Maa ke anchal ne yugo-yugo se
Bhagwano ko pala hai
maa ke charno me jannat hai
Girijaghar aur Shivala hai
Himgiri jaisi unchai hai
sagar jaisi gahrai hai
dunia me jitni khushboo hai
maa ke anchal se aaye hai

Maa kabira ki sakhi hai
maa tulsi ki chaupai hai
meerabai ki padawali
khusru ki amar rubai hai
maa angan ki tulsi jaisi
pawan bargad ki chaya hai
maa ved richao ki garima
maa mahakavya ki maya hai

Maa maansarovar mamta ka
maa gomukh ki unchai hai
maa parivaro ka sangam hai
maa rishto ki gahrai hai
maa hari dubh hai dharti ki
maa keshar wali kyari hai
maa ki upma kewal maa hai
maa har ghar ki phulwari hai

Saato sur nartan karte jab
koi maa lori gaati hai
maa jis roti ko chu leti hai
wo prasad ban jati hai
maa hasti hai to dharti ka
jarra-jarra muskata hai
dekho to dur kshtiz ambar
dharti ko sheesh jhukata hai

Mana mere ghar ki deewaro me
chanda si murat hai
par mere man ke mandir me
bas kewal maa ki murat hai
maa saraswati lakshmi durga
ansuya mariyam sita hai
maa pawanta me ramcharit
manas me bhagwat geeta hai

Amma teri har baat mujhe
vardaan se badhkar lagti hai
he Maa teri surat mujhko
bhagwan se badhkar lagti hai
saare teerath ke punya jaha
mai un charno me leta hu
jinke koi santan nahi
mai un maawo ka beta hu

Har ghar me Maa ki puja **
Aisa sankalp uthata hu
Mai dunia ki har maa ke
Charno me ye sheesh jhukata hu.....
Copyright© Shashank K Dwivedi
email-shashankdwivedi.edu@gmail.com
Follow me on Facebook - https://www.facebook.com/skdisro
Pada suatu hari yang kejam.
Budi mau ke sekolah.
Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi.
“Buk, Budi berangkat dulu ya.”

Ibu pertiwi tidak menjawab.
Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi.
Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab.
Budi marah.
Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih !
Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing !

Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih?
Apakah si bangsat itu adalah mereka?
Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa?

Atau apakah si bangsat itu adalah kalian?
Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan?

Atau apakah si bangsat itu adalah dia ?
Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ?
Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan!

Atau apakah si bangsat itu adalah saya ?
Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong!
Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ?

Pada suatu hari yang kejam,
Budi tidak berangkat ke sekolah.
Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi.
Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat.
Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa.
Lihat itu,
Asap hitam pekat bergerak mendekat.
Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat!

Pada suatu hari yang kejam,
malam datang dan manusia mulai buta.
Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah.
Apa perlu listrik untuk buka mata?
Atau cukup hanya sepercik bara?
Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
untuk pertama kali saya bacakan tanggal 22 Juni 2019 dalam acara “Diskusi Panel: Dimulai dari Kita kepada Lingkungan” oleh Light Up Indonesia, Weston Energy.
rashi gupta Jan 2012
manzil humari hume pata nahi
phir bhi chale ja rahe hai,kisi raah pe

ajnabee kaun,kaun humsafar hai
bhulte ja rahe hai is rah pe

akele the akele hai
akele hi chale ja rahe hai is raah pe

kaha kisine kiya humne
manzil mili nahi is raah pe

manzil na sahi, koi thikana to **
jaha ruk kr samye bita sake is raah pe

kathin hai pana is manzil ko mana
par sabbra hi to hum kho rahe hai is raah pe

chale ja rahe hai, chale ja rahe hai
hum is ajnabee si raah pe

dikhai di hume manzil humari
chalte chalte is raah pe

jab pahuche hum us manzil pe
dikhai di ek aur raah is raah pe.........
Sissy Gunawan May 2017
Hari itu hari Sabtu. Dan, aku sedang ulangtahun.

Sepi. Hanya terdengar suara tetesan air dari keran yang lupa ditutup rapat di wastafel dapur. Desiran angin yang menggesek dedaunan di halaman belakang. Bambu angin yang bersiul di teras rumah tetangga sebelah. Jalanan beraspal yang kosong. Terpaan sinar matahari. Mangkuk beling yang diketuk penjual makanan keliling. Suara jarum detik jam dinding.
Dalam diam aku menunggu. Mahesa belum juga datang. Duduk di atas sofa, perlahan kulahap sekantung keripik kentang, suara iklan di televisi kini menjadi musik latar yang mengisi siang terikku yang sepi ini. Lupakan fakta bahwa kakakku, Mas Kekar, adalah satu-satunya orang yang mengingat hari ulangtahunku. Ucapan ulangtahunnya tiba tadi pagi pukul tujuh lewat pesan suara. Kalau ada Nenek, ia pasti akan membuat kue tar dan nanti malam kami akan duduk melingkar di atas meja makan, menyantapnya bersama-sama sambil minum teh lemon. Sayangnya, sekarang rumahnya jauh; di surga.
Tiba-tiba, telepon genggamku berbunyi. Satu notifikasi baru, ada satu pesan masuk. Dari Mahesa, katanya ia akan sampai lima menit lagi. Baiklah, akan kutunggu dengan sabar. Walaupun ia bilang akan menjemput pukul setengah dua belas ― aku sudah menunggunya sejak pukul sebelas lewat, sekarang pukul satu, dan lima menit lagi ia akan datang. Menghabiskan waktu seharian bersama Mahesa selalu menjadi momen istimewa bagiku, membuat jantung jumpalitan tak karuan, dan berakhir tersenyum-senyum sendiri setiap kali sebelum memejamkan mata di atas tempat tidur pada malam hari. Singkatnya adalah orang ini selalu membuatku bahagia, sadar atau tidak sadar dirinya, ialah sumber kebahagiaanku. Bulan dan bintang bagi malamku.
OK. Kubalas pesannya, lalu kubuka pesan-pesan lain yang mungkin belum kubuka. Tidak ada pesan lain atau telepon. Belum ada telepon dari Ayah ataupun pesan singkat. Entah kapan ia akan pulang. Entah kapan ia akan menyempatkan diri membuka kalender, teringat akan sesuatu, dan mengucapkan, “Selamat ulangtahun.”.
Aku berjanji tidak pernah ingin jadi orang yang hidup tanpa memiliki waktu.
Bel berbunyi dan pintu diketuk. Spontan, aku merapikan rambut, memakai tas selempang, dan bangkit. Kusiapkan senyum terbaik untuk menyambut Mahesa. Setelah pintu kubuka, senyumku langsung sirna. Mang Ijang, tukang pos daerah kami yang malah muncul.
“Siang Mbak Maura, ada tiga surat buat Bapak,” dia menyerahkan tiga surat berbentuk persegi panjang yang sangat familiar bagiku. Sudah berpuluh, bahkan mungkin ratusan kali aku menerima surat macam ini sejak lima tahun terakhir. Kubaca nama perusahaan yang tertera di kop surat itu. Masih sama seperti biasanya; bank, perusahaan listrik, perusahaan telepon.
“Tandatangan di sini dulu, Mbak,” Mang Ijang menyerahkan pulpen dan sebuah kertas tanda terima surat. Setelah kutandatangani, ia pergi.
Kubuka surat itu satu per satu sambil duduk di kursi teras. Surat-surat tagihan, seperti biasa. Hampir dua bulan rupanya Ayah tidak membayar tagihan telepon. Aku bahkan tidak berselera lagi membaca nominalnya. Aku menghela napas dan memandangi jalanan kosong di depan rumah. Kuputuskan untuk memakai earphone, memilih playlist di aplikasi musik, menunggu Mahesa di kursi teras sambil ditemani angin semilir.
5 menit.
Everything is Embarrassing – Sky Ferreira.
10 menit.
Please, Please, Please, Let Me Get What I Want – The Smiths.
15 menit.
Love Song – The Cure.
Dua puluh menit kemudian, Mahesa datang. Senyumku seketika merekah, walaupun ia terlihat begitu lelah. Kaos polo abu-abunya basah oleh keringat, dahinya dibanjiri keringat, napasnya terengah-engah dengan ritme yang tak beraturan. Aku duduk di sampingnya yang memegang kemudi dan masih bisa mencium wangi parfumnya samar-samar, meskipun tujuh puluh persennya sudah bercampur dengan semerbak peluh. Tapi, siapa peduli? Menurutku, ia tetap mengagumkan.
“Maaf lama, Ra. Tadi ada urusan penting yang mendadak,” katanya sambil memilih-milih saluran radio. 19.2, saluran radio yang khusus memutarkan musik-musik indie dan jadul. Mungkin ini salah satunya mengapa sejak awal aku tertarik dengan manusia yang satu ini dan berujung benar-benar mengaguminya, kami menyukai jenis musik yang sama. “Jadi, ke mana kita hari ini? Dan, akan mengobservasi apa?”
Kubuka catatan jadwal terakhir kami, “Hmm. Hari ini jadwal kita ke galeri seni kontemporer yang ada di sebelah balai kota dan pameran seni di hotel Metropolite. Kita bakal mengobservasi lukisan kontemporer supaya bisa membandingkan dengan jenis lukisan yang lain.”
Kamu benar, sesungguhnya ini hanyalah sekadar tugas kelompok bahasa Indonesia. Mungkin bagi Mahesa begitu, tapi bagiku bukan sama sekali. Kuanggap ini sebuah kebetulan yang ajaib. Kebetulan kami sekelompok. Kebetulan kami berdua sama-sama tidak masuk di hari ketika guru Bahasa Indonesia kami membagikan kelompok dan kami masuk ke dalam kelompok terakhir, kelompok sisa. Kebetulan kami memilih tema seni lukis dan belum ada kelompok lain yang mengambil topik itu. Kebetulan dua anggota kelompok kami yang lainnya tidak bisa diandalkan, yang satunya sakit berat dan yang satunya lagi sudah dikeluarkan dari sekolah sejak bulan lalu. Kebetulan hanya aku dan Mahesa yang tidak bermasalah. Maka, hanya kami berdua yang selalu jalan ke tempat-tempat untuk mengobservasi. Sejak saat itu, aku percaya akan keajaiban.
---
Semuanya berawal dari pertemuan singkat kami di minggu keempat kelas sebelas. Oke, ralat, bukan sebuah pertemuan lebih tepatnya, melainkan hanya aku yang memandanginya dari jauh. Namun, itu satu-satunya kejadian yang mungkin dapat memberi jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana perasaan ini bisa muncul. Bukan secara tidak sengaja dan spontan seperti yang biasa kau dapatkan di adegan jatuh cinta pada film-film romansa norak, tetapi adeganku sederhana, penuh kehati-hatian, dan perlahan.
Kelas sebelas adalah tahun yang cukup sulit bagiku. My dad was busy more than ever—well, until now dan itu tahun pertama Mas Kekar menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Dia diterima di salah satu universitas negeri ternama di Bandung, jadi hanya pulang ke rumah setiap akhir bulan. Aku punya waktu sendirian di rumah dengan jumlah yang berlebih.
In that year, my friends left me. Ghia pindah ke luar kota dan Kalista bergabung dengan anak-anak populer sejak mendaftar sebagai anggota baru di tim pemandu sorak. Kami hanya makan siang bersama pada beberapa hari di minggu pertama sekolah, setelah itu dia selalu dikelilingi dan menjadi bagian dari kelompok cewek-cewek pemakai lip tint merah dan seragam yang dikecilkan. Aku mengerti, barangkali dia memang menginginkan posisi itu sejak lama dan citra dirinya memang melejit pesat, membuat semua leher anak cowok melirik barang beberapa detik setiap ia berjalan di tengah koridor. Lagipula, jika ia sudah mendapatkan status sosial yang sangat hebat itu, mana mungkin dia masih mau berteman dengan orang sepertiku? Maura, the average one, yang selalu mendengarkan musik lewat earphone, yang lebih banyak menyantap bekal di dalam kelas pada jam istirahat. Aku hanya masih tidak paham bagaimana seseorang yang semula kau kenal bisa berubah menjadi orang lain secepat itu.
Tapi, hal lainnya yang cukup melegakan di tahun itu adalah aku bertemu dengan Indira. Kami berkenalan pada hari Senin di minggu kedua kelas sebelas, hari pertama dia masuk sekolah setelah seminggu penuh dirawat di rumah sakit karena DBD. Begitu melihatku duduk sendirian di baris paling belakang, dia buru-buru menghampiri sambil bertanya, “Sebelahmu kosong?”. Sejak itulah kami berteman.
Indira dan teman-temannya biasa menghabiskan makan siang di bangku koridor lantai satu yang menghadap ke lapangan, bukan di kantin. Walaupun secara harfiah aku bukan salah satu bagian dari kelompok pertemanan mereka, Indira selalu mengajakku bergabung dan orang-orang baik itu rupanya menerimaku.
Di bangku koridor itu kali pertama aku memerhatikan anak laki-laki yang bermain bola setiap jam istirahat kedua. Hanya ada dua-tiga orang kukenal, itu juga karena mereka teman sekelasku sekarang atau di kelas sepuluh, sementara selebihnya orang asing bagiku. Di antaranya ada yang berperawakan tinggi, rambut tebal, rahang yang tegas. Aku hanya belum tahu siapa namanya waktu itu.
Selanjutnya, aku bertemu dengan laki-laki itu di kantin, sedang duduk bersama beberapa cowok yang tidak kukenal, tertawa lepas. Mungkin karena aku jarang ke kantin, aku baru melihatnya di sana waktu itu. Pada acara demo ekskul, aku melihat dia lagi. Bermain bass di atas panggung. Anggota klub musik rupanya. Pemain bass. Pada hari-hari berikutnya, aku lebih sering melihatnya berjalan di koridor depan kelasku, kadang sendirian dengan earphone, kadang ada beberapa temannya. Anak kelas sebelas juga rupanya, jurusan IPS juga. Hari-hari berikutnya, selalu kutengokkan kepala ke jendela setiap kali ia lewat di depan kelasku. Aku penasaran, kenapa mataku tidak pernah melihat orang semenarik dia sebelumnya? Dan, kenapa dia hanya muncul di tempat dan saat-saat tertentu, seperti saat istirahat, masuk sekolah, dan jam pulang? Hari-hari berikutnya, berpapasan dengannya membuatku senang sekaligus semakin penasaran. Dia anggota klub fotografi juga, aktif, sering memimpin rapat anggota di kantin sepulang sekolah, dan ternyata karyanya banyak dipublikasikan di majalah sekolah. Dari situ aku tahu namanya, Mahesa.
---
“Geser ke kanan sedikit. Bukan, bukan, sedikiiit lagi. Sedikiiit, oke, pas!”
Sebagai dokumentasi, Mahesa memotret beberapa lukisan dari berbagai angle dan beberapa kali memintaku untuk berpose ala-ala tak sadar kamera. Tentu saja aku pasti bersedia, selalu bersedia. Dia juga merekam keadaan sekitar dalam bentuk video, yang katanya, bakal dia edit menjadi super artsy.
“Percaya sama gue, kita bakal jadi tim paling keren yang menghasilkan dokumentasi paling berseni, Ra,” kata Mahesa sambil tersenyum sendiri melihat hasil jepretannya.
Destinasi terakhir kami—pameran lukisan yang sedang digelar selama seminggu di hotel Metropolite—akan tutup sepuluh menit lagi, tepat pukul tujuh malam. Setelah terakhir kalinya Mahesa merekam keadaan pameran dan beberapa pengunjung yang masih melihat-lihat, baterai kameranya habis. Sebelum pulang, Mahesa bilang dia tahu tempat makan enak di sekitaran sini. Jadi, kami mampir untuk mengisi perut dengan soto ayam dan berbincang-bincang sebentar, setelah itu baru benar-benar pulang.
Di perjalanan pulang, derai hujan turun perlahan. Karena rumah kami terletak di pinggiran kota, jadi kami harus melalui jalan tol atau kalau tidak, akan lebih jauh. Mahesa memencet-mencet tombol radio, mencari saluran nomor 19.2, tapi setelah mendengar acara yang dibawakan penyiar radio, dia langsung mengganti asal saluran radio yang lain. Saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu pop kekinian yang sedang hits.
“Sekali-kali dengerin genre lain, ya, Ra,” katanya sambil menginjak rem. Jalanan seketika padat merayap di depan kami. Mungkin karena hujan mulai deras, jalanan mulai tergenang, orang-orang mengemudi dengan lebih hati-hati.

(bersambung.)
to be continued.
Noandy Jan 2016
Hotel Saudade*
Sebuah cerita pendek*

“Ceritakan padaku,”
Aku yakin semua orang pernah mendengar perintah, atau permintaan itu; diikuti dengan waktu senyap dan getir setelah diminta untuk bercerita dan mencoba menata tutur sedemikian rupa. Menata tutur untuk menyanyikan, dan menuliskan (jika dalam surat,)  pengalaman, senda gurau, romansa, kehilangan,
Rindu, yang entah bagaimana caranya,
Sepi.

Beberapa mengakui bahwa setelah bercerita, mencurahkan isi hati, mereka merasa lega seolah ada beban yang terangkat. Tapi, cerita tidak hanya dapat diutarakan hanya dalam bentuk sepatah kata, sepanjang tangis, pun dalam tawa. Pada sebuah perjalananku (pertamakalinya aku berpergian sendiri, menggantikan ayahku untuk merancang dan menggambar iklan salah satu perusahaan kenalannya.) Aku bertemu seseorang yang memutarbalikkan pandanganku mengenai cerita pengalaman pribadi.
Aku tak tahu siapa dirinya,
Aku belum tahu siapa dirinya—
Namun pria ini mengaku bahwa ia tak memiliki cerita,
Cerita apapun.

Inilah cerita yang kupunya untukmu, cerita yang aneh,
Bukan aneh dalam artian mengerikan.
Malam itu kereta sampai terlalu larut, dan niatanku untuk mencari penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota telah lenyap; aku sudah lelah. Sebenarnya aku dapat datang besok, tapi aku memilih untuk datang 2 hari lebih awal dari hari yang dijanjikan agar dapat bersantai.

Aku menjinjing tasku keluar stasiun dan membenarkan topiku, melihat kanan dan kiri dengan was-was sebelum bertanya pada orang-orang sekitar apakah ada penginapan di sekitar sini. Kau tahu betapa canggungnya aku bila bertanya ini dan itu, aku tak biasa berpergian sendiri! Namun karena keadaan mendesak, ya beginilah jadinya. Aku mendapat rujukan bahwa dengan berjalan kaki (sedikit jauh, tapi tak sejauh bila harus menjelajah malam atau menjadi angkutan untuk ke pusat kota) aku dapat sampai ke sebuah penginapan yang namanya terlalu puitis—Hujung Malam.
Apa maksudnya? Penghujung malam?
Apalah yang ada dalam sebuah nama, yang penting aku dapat tidur tenang malam ini, dan berganti penginapan keesokan harinya!

Dinginnya malam kala itu membuat mantel dan bajuku yang berlapis mejadi tidak berguna. Aku sedikit berlari melintasi trotoar yang digenangi beberapa kubangan air kecil, terlihat bak emas disinari pantulan lampu jalan. Sesekali menggosok lensa kacamata bulatku dengan sarung tangan hitam yang kukenakan. Ranting-ranting gemeretak, seolah merasakan juga dingin yang menusuk tulang. Setibanya di sana, aku tidak menyangka bahwa bangunan penginapan satu lantai ini terlihat lebih tua (tapi sangat terawat) dan lebih besar dari kelihatannya. Aku diantar ke kamarku yang terletak pada lorong yang tepat mengelilingi sebuah taman besar.

Setelah mempersilahkan keluar pegawai penginapan yang terlalu ramah bagiku, aku membuka pintu dan memperhatikan keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja kecil. Sebuah pohon besar berdiri gagah di sudut taman, pada bagian tengahnya terdapat air mancur yang dikelilingi patung-patung pualam kecil; malaikat, anak-anak, dan bidadari tak berhati.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekitar (yang tak biasanya kulakukan) dan barulah aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Tidak, tak ada hantu.

Hanya ada sayup-sayup suara harmonika tak sumbang, yang dimainkan dengan tepat dan sedih pada pedihnya malam dingin.
Aku tahu lagu ini,
Greensleeves.
Lagu zaman Tudor itu, lagu orang-orang yang ditinggalkan.

Aku menoleh seolah digiring oleh angin yang baru saja berhembus, beberapa kamar kosong (kupikir itu kamar kosong, lampunya dindingnya tak menyala) duduk seorang pria berambut panjang, digelung rapi ke belakang, hanya mengenakan kemeja dan rompinya.

Ia ramping, namun pakaiannya tidak lebih besar dari tubuhnya dan justru terpasang pas pada tubuhnya. Rambut bagian depannya yang panjang dan tak ikut terikat rapi ke belakang berjatuhan, membingkai tulang pipinya yang terlihat jelas. Pria itu sibuk dengan alat musiknya dan memejamkan matanya tanpa menyadari kehadiranku. Aku juga sibuk, sibuk memperhatikannya bermain dan mengingat bagaimana Greensleeves selalu menyayat hatiku. Ini kali pertamanya aku mendengar lagu itu dimainkan pada harmonika.

Setelah ia menyelesaikan musiknya, aku menyapa dari kejauhan sambil memegangi gagang pintu kamarku,
“Greensleeves?”
Ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh atau menjawab, duduk di kursi depan kamarnya dengan kaki kanan disila pada lutut kaki kirinya. Aku hanya dapat melihat hidungnya yang mancung dan matanya yang dibayangi gelap, ia terlihat cantik, dan sepi. Setelah menunggu sedikit lama dan masih tetap diabaikan, aku menghangatkan diriku di kamar. Aku akan berpindah penginapan besok siang.

Ternyata esok berkata lain.
Aku membuka pintu kamarku untuk sarapan dan mendapatinya lagi di tempatyang sama, seolah ia tidak beranjak semalam suntuk.
“Selamat pagi,” sapaku canggung.
“Kau selalu di sini?”
Ia tidak menjawab, hanya menatapku, dan saat itulah aku melihat matanya yang tidak lebih redup dari matahari senja di laut kala mendung.

Ia tidak menjawab, dan aku malah menggeret kursi dari depan salah satu kamar kosong untuk kutempatkan disebelahnya. Kami duduk bersebelahan dalam diam, hanya ditemani rintik hujan yang tak hentinya menghujat; ia mulai memainkan harmonikanya.

Aku beranjak untuk sarapan, dan memperpanjang masa sewa kamarku sampai beberapa hari ke depan.

Setelah aku kembali, ia masih tetap duduk disana, benar-benar tak berpindah dan terus memainkan harmonikanya. Aku tak dapat memperhatikannya lebih lama, aku harus beristirahat dan bersiap-siap untuk besok.

Hari berikutnya tidak banyak yang berubah, pagi masih tetap dirundung hujan dan pria itu masih duduk termenung menghadap taman. Aku bergegas untuk sarapan sebelum pergi ke kota dan menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pria yang tak beranjak dari tempatnya. Ada yang bilang bahwa ia dulunya buronan, teman pemilik penginapan yang lalu diberi tempat tinggal disini. Yang lainnya mengatakan bahwa ia dahulu pelancong yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam penginapan setelah diberi kamar oleh bapak pemilik penginapan yang terkesima olehnya.

Sepulang dari kota aku mengeringkan payungku yang basah kuyub dan mantel yang bagian depannya basah karena terkena air dari kereta kuda yang mendadak lewat didepanku. Bagian bawah gaunku penuh lumpur, dan aku tak tahu apa jadinya sepatuku ini. Aku tak ambil pusing dan kembali keluar kamar untuk sekali lagi mencari tahu tentangnya.
Entahlah, ada hal yang membuatku merasa tertarik. Mungkin karena lagu Tudor itu, mungkin karena ia sama sekali tidak berbicara dan beranjak dari kursi kecil itu. Hanya sesekali melepas ikatan rambutnya, dan membuka jam kantungnya.

Aku sekali lagi menduduki kursi yang kuletakkan di sebelahnya, dan langsung melontarkan pernyataan dan pertanyaan,
“Mereka bilang kau dulunya buronan,” ia terus memandangi jam kantungnya,
“Kenapa kau selalu duduk di kursi ini?”
Aku kira ia takkan menjawabnya, namun malah sebaliknya.
“Memangnya kau tahu kalau aku selalu di sini?”
“Karena aku selalu melihatmu di sini.”
“Itu hanya sebagian bukan keseluruhan.” Ia mengangkat bahunya. “Karena kau selalu melihatku duduk memandangi taman bukan berarti aku selalu melakukannya.”

Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik yang biasa kita lihat, jarum jamnya berputar secara terbalik.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” aku mencoba mengajaknya berkenalan.
“Aku membuatmu teringat akan apa?”
“Apa? Entahlah.”
“Bukannya kau berlagak seolah mengenalku? Mengatakan aku selalu di sini.”
“Kau mengingatkanku pada senja di laut saat mendung.”
“Kalau begitu, namaku Laut. Aku selalu di sini seperti laut, kan? Ia tidak berpindah dari tempatnya.”

Percakapan kami terhenti di situ karena hujan makin deras dan aku harus kembali ke kamar untuk menyegerakan gambarku. Aku tidak ke kota lagi esok hari, dan menghabiskan waktu menggambar iklan itu di kursi kecil yang menghadap taman tanpa sepatah katapun, disamping orang yang mengakui dirinya sebagai Laut dan dibawah lindung hujan deras. Kami tidak berbicara pun berbincang, tapi aku menikmati kesepiannya seolah ada rindu yang belum dilunasi.
Tapi entah mengapa aku justru memulai pembicaraan,

“Ada yang bilang kau pelancong, apa kau mau bercerita sudah pergi ke mana saja?”
“Kau jarang berpergian?”
“Sangat.”
“Kau jarang berpergian, dan aku tak punya cerita.”
“Tak punya cerita?”
“Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak akan ada yang merasakan sebuah cerita seperti penuturnya.”
Aku menyelesaikan gambarku, dan bersiap untuk menyetorkannya keesokan harinya.

Sore hari setelah aku kembali ke penginapan dengan keadaan yang sama, basah, terguyur hujan. Senja dalam hujan kembali ku habiskan bersamanya tanpa sepatah kata dan ia kembali memainkan nada-nada pada harmonikanya. Lagu yang sama dengan yang diputar oleh jam kantungnya. Lagu soal sunyinya malam ditengah laut, menunggu rintik dan bulan yang tak kunjung datang.

“Lagu apa itu? Sama seperti di jam yang kemarin.”
“Pesan Malam.”
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Aku yang membuatnya, wajar kau tidak tahu.”
“Sayang lagunya pendek, lagu yang indah.”
Ia hanya mengangguk,
“Aku akan pulang besok. Terima kasih telah menemaniku disini.”
Ia tak menjawab, dan terus memainkan harmonikanya tanpa menoleh. Seperti suara rintik hujan yang tak tentu, bingung akan apa yang ia tangisi, pria disebelahku tak memiliki cerita, tak bisa bercerita. Namun ia dapat berkisah, kisahnya tertuang pada lantunan nada dan lagu-lagu yang ia mainkan. Aku memejamkan mata, mendengarnya fasih menyihir suara menjadi sebuah fabel dan parabel, berharap dapat menyisihkan kisah-kisah yang tak diutarakan secara tersurat dan harfiah.

Aku undur diri untuk tidur lebih awal, dan menulis sebuah pesan dalam secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mengingat dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Dalam hening tidur malamku, ada sebuah lagu yang berulangkali dimainkan tanpa henti. Lagu di penghujung malam, lagu sunyi laut. Aku terbangun, dan dentingnya masih berputar dalam kepalaku.
Sayangnya aku harus kembali sebelum jam 12 esok hari, dan ketika terbangun, aku sayup-sayup sadar akan ketukan halus di pintu kamarku. Aku membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata pada keadaan yang sama sambil meluruskan gaun malamku. Hujan masih rintik, malam masih gelap, lampu-lampu menyala beberapa saja, dan hanyalah satu perbedaan; pria itu tak duduk pada kursi kecilnya.

Aku kembali masuk, linglung. Siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Tanganku meraba gagang pintunya yang sudah menghitam dan saat itulah aku melihat sebuah jam kantung tergantung lesu pada lampu dinding didepan kamarku. Jam kantung yang selalu ia lihat, yang jarum jamnya berputar terbalik.

Tidurku tak kulanjutkan. Aku mengutak-atiknya sesperti yang ia lakukan tadi, dan menyadari bahwa bukan hanya ada satu lagu di situ, namun beberapa lagu pendek. Tiap lagu memiliki suasanya dan warna nada yang berbeda, membangkitkan berbagai macam bentuk ingatan dan kisah-kisah yang dapat kita bayangkan sendiri tanpa dipacu cerita dari siapapun. Hanya sebuah lagu, dan seuntai suasana.

Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan. Aku ingin berpamitan padanya dahulu, mengembalikan jam kantungnya, dan berterimakasih atas kisah-kisah yang ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman. Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari taman serta koridor untuk mencari tanda-tanda kehadirannya untuk hasil yang nihil.

Ketika aku menuju serambi depan penginapan barulah aku melihatnya lagi, di ujung koridor, menatap kosong kearahku lalu tersenyum simpul. Senyum yang tak lama langsung sirna. Ia dibalut jas yang biasanya hanya ia selampirkan di kursi kecil dan ia mengurai rambutnya. Aku menyematkan secarik kertas kecil pada telapak tangan kiri beserta jam kantungnya, namun ia enggan menerima jam kantung yang kukembalikan.
“Simpan, dan jaga baik-baik.”
“Aku akan kembali.”
“Kembali kemana?”
“Ke tempat ini.”
“Untuk apa?”
“Bertemu denganmu. Lagi.”
“Bagaiamana kalau aku sudah pergi?”
“Aku akan tetap datang kesini.”
“Terserahmu.”
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan.
“Aku tidak paham puisi.”

Aku tak menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Sebagaimana ia memberi pesan di malam hari, aku mengirimkan secarik surat dalam bentuk sajak;

Untuk pesan malammu,
Yang tiap barisnya menari
Perih dalam benak,
Biarkan tanyaku dirundung rindu
Dan menjadi alasan
Untuk tertawa pada angan yang terlalu luluh
Mereka berhantu,
Dan akan kembali—
Sebagai sesayat serpih
Untuk melabuhkan kisah yang lain
Dalam seuntai surat malam

Memang tidak ada perlunya aku kembali, sayangnya lagu itu berputar-putar terus di kepalaku. Seolah nada-nadanya nyata mengirimkan pesan dan kisah yang berubah pada tiap bunyinya; fana, hanya dalam benak.

Mungkin cerita memang tidak selalu harus diutarakan secara tersurat begitu saja; akan banyak emosi yang terkikis habis, tidak tersalur secara utuh dalam penyampaiannya. Kisah yang disampaikan akan mati. Namun dalam lagu-lagu yang ia pahat abadi dalam jam itu, dan yang ia lantunkan dengan alat musiknya, ia menggiring hati yang tersesat dalam imaji untuk menguraikan kisah-kisah sendiri berdasarkan benak serta pedih. Dan tiap lembaran kisah itu,
Mereka membara,
Dalam kasih dan hidup yang belum pernah kita jalani,
Bahkan sekalipun.

Aku akan kembali, setelah membawa kidung-kidungnya pulang bersamaku. Bukan kembali pulang, namun kembali menemuinya di kemudian hari. Aku yakin, percaya, ia akan tetap disana—Menatap taman dan hujan. Entah bermimpi, entah bercerita dalam asa. Karena ia seperti laut, yang selalu disana dalam gelagap rindu, selalu ada dalam dahaga dan dan sejuknya malam. Juga seperti hujan, yang datang kala sepi dan tak kunjung pulang jua. Menemani dengan gesit suaranya, dalam tiap rintih fana.

Aku akan kembali,
Dan ia akan ada di sana.
Eshan Mar 2011
Kagaz ki kashtiyon mein kai bar safar kar liya,
ab ek lambi udan bhar lene do.
Aj in bandhe hue pankhon ko khuli hava mein sans le lene do,
kyunki ab girne ka khauff nahin raha.

Daudne mein ab koi maza nahin hai,
kyunki yahan to hava jaise tham si gayi **.
Ab rukne ka bilkul man nahin raha,
aj to toofanon mein sair karne lene do.

Dayron mein rehte hue adhi zindagi guzar gayi,
aj to un hadon ko par kar lene do.
Dar dar ke kab tak khamosh rahoge dost,
zameen par jeet jane mein kuch nahin rakha ,
aj to uchaiyon par jashn mana lene do.

Unke chale hue raston ko kai bar nap liya,
aj mujhe bhi apni pehchan bana lene do.
Kismat ka rona to sabhi rote hain,
aj mujhe bhi apne naseeb ka kora kagaz rang lene do.

Kabhi kabhi to man karta hai ki
un azad parindon ki tarah hava mein bas tairta hi reh jaoon.
Asan to kuch nahin par sochta *** ki
aj namumkin ko hi apna dost bana loon.

Kitabon ke panne kafi palat liye,
aj mujhe bhi do shabd likh lene do.
Hans lene do jinhe hansna hai mere in mazboot iradon par.
Kya samjhenege who is khuli udan ki masti ko,
jinhe kabhi bharosa nahin hua khud par,
aur hamesha rakha tha apne armanon ko pinjre mein kaid kar.

Khule asman mein aj ek bar ud lene do,
kya pata kal wahan bhi zaroorat se jyada bheed **.
Kai dinon ke bad aj ek bar fir azad hone ka man kiya hai
Tod do in bediyon ko, kyunki aj ek lambi udaan bharne ka iraada hai
Noandy Jan 2016
Pondok Pancawarna*
Sebuah cerita pendek*

Apa aku harus menyesal pindah rumah? Tak ada anak seumuranku di sini. Tak ada penjual susu yang lewat tiap pagi, atau gelak tawa dari permainan sore hari. Aku sedih, tapi itu bukan masalah besar, mungkin. Toh tahun depan usiaku beranjak 15 tahun, aku tak punya waktu untuk banyak bermain. Rambut keritingku yang dipelihara ibu ini juga nantinya akan kupotong, aku tak mau berulangkali dikira sebagai perempuan di tempat tinggalku yang baru.

Tahun depan usiaku 15 tahun, dan aku takkan punya waktu untuk banyak bermain lagi. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku dengan bermain di jalanan sampai sore hari. Sayangnya lingkungan ini terlalu asing untukku. semua jalannya terlihat sama dan terlalu besar, terlalu banyak rumput liar dari rumah-rumah kosong yang jaraknya terlalu jauh, dan dedaunan pohon menjuntai bak rambut kasar nenek tua.

Sayangnya lingkungan ini terlalu asing,

Dan aku tak punya pilihan lain selain menjelajahinya
Dengan senang hati.
Jangan bilang ibuku.

Ibu dan mbah selalu melarangku berjalan sendirian di luar saat pagi-siang-sore-malam semenjak pindah ke rumah yang terlalu besar ini, terlalu sepi ini. Mungkin untuk alasan keamanan. Aku tidak sebodoh itu untuk harus bertanya kenapa. Dan karena aku tidak sebodoh itu, aku tidak menyukai cara mereka—Wanti-wanti dari mereka agar aku tak berkeliaran sendiri.

Mereka bilang dahulu jalan besar di depan sana adalah tempat tengkorak para jawara-jawara pembela negara dikuburkan, dan tiap sore akan terlihat pria-pria muda dengan baju berlumur darah merokok serta makan-makan daun sambil bermain catur di pinggiran jalan.

Mbah tambah berkata kalau di perempatan sebelah rumah ini, apabila aku bermain sendirian, aku akan dikejar-kejar oleh serdadu kompeni tak berkepala yang akan menebas kepalaku, atau membawaku untuk disembunyikan.

Aku tak takut pada hantu-hantu bekas perang itu, aku juga tak tertarik pada mereka.
Kesalahan ibu dan mbah, dalam menakut-nakutiku, adalah menceritakan sebuah kisah yang, entah benar atau tidak, justru membuatku tertarik untuk mendekati sumbernya.

Di ujung gang, yang jalannya sedikit menurun, terdapat sebuah rumah kayu yang dijuluki oleh warga sekitar sebagai Pondok. Padahal, menurutku bentuknya tidak seperti Pondok. Rumah itu tidak buruk, justru didepannya terdapat taman besa. Sebuah gerbang mawar besar memagarinya; di taman indah itu, hanya terdapat lima jenis bunga bermekaran. Aku tak tahu jenisnya apa saja, yang kuingat dari cerita itu, pokoknya terdapat warna merah, ungu, biru, kuning, dan yang paling aneh, sebuah mawar hitam. Aku tak tahu bagaimana mawar hitam dapat tumbuh di tempat seperti ini. aku bahkan tak tahu kalau ada mawar yang berwana hitam.

Mereka menyebut rumah itu Pondok,
Pondok Pancawarna.
Pondok milik seorang pelukis yang kata orang-orang kakinya buntung.

Karena tak memiliki objek untuk dilukis, dan tak bisa keluar mencarinya, mereka bilang pelukis itu menarik gadis-gadis kecil dengan bunga yang indah di tamannya, lalu menyekap mereka dalam Pondok itu sampai ia puas melukisnya. Hal ini diceritakan setelah aku mendengar pembicaraan ibu saat membeli sayur pagi hari 2 minggu lalu, setibanya dirumah aku langsung menanyakannya soal cerita itu.
Seram?

Aneh, bukan seram. Memangnya seorang pelukis baru bisa melukis bila ada objeknya?

Kalau ingin membuatku berhenti berkeliaran dan bermain sampai larut malam di daerah baru, seharusnya mereka memberi alasan yang bagus dan masuk akal. Bukan malah menakut-nakutiku dengan sesuatu yang ditakuti anak perempuan.

Nah, malam ini aku akan menyelinap. Aku ingin mencari tahu mengenai pelukis itu; lumayan, aku dapat mencari kesenangan disela malam-malam yang selama ini selalu jenuh.

Setelah aku yakin ibu dan mbah terlelap dengan memperhatikan apa semua lampu sudah mati, aku melepas baju tidurku dan mengambil kemeja lengan pendek putih yang kupakai tadi pagi, celana pendek hitam, dan suspender yang biasanya kupakai setiap hari. Aku keluar lewat—Ini sebenarnya jendela atau pintu, sih? Bentuknya seperti jendela, terlalu besar, dan memiliki gagaing pintu—Aku keluar lewat jendela-pintu di kamarku yang langsung mengantarku ke serambi kanan rumah yang terlalu besar ini. Tanpa sepatu, aku berlari-lari kecil ditemani lampu jalan yang remang-remang dan rambut pohon yang menjuntai menuruni jalanan lebar nan sepi, menuju Pondok Pancawarna di ujung jalan.

Aku sampai didepan pagaarnya. Pagar besi hitam yang ditengahnya terdapat gerbang dari semak-semak mawar. Aku mendorog pagar yang ternyata tidak terkunci itu, berderit pelan, dan perlahan masuk. Kenapa tidak dikunci? Apa memang ia bertujuan untuk menarik anak-anak yang penasaran kemari? Dan sekarang, sejauh mata memandang dibawah bulan sabit yang temaram, aku hanya melihat hamparan taman bunga yang indah didepan sebuah rumah kayu tua yang mulai berlumut. Seperti kata mereka, dalam remang aku dapat melihat bahwa bunga didalam sini hanya memiliki 5 warna—mawar, yang jelas, bunga sepatu, lavender, violet—Entah apa lagi, aku hanya mengenali itu. taman ini terlihat makin gelap karena tak ada bunga yang berwarna putih. Aku mengambil sebuah ranting panjang yang patah, dan mengibas-ngibaskannya seolah itu adalah pisau untuk memotong dahan-dahan yang menghalangi jalan, aku seorang penjelajah.

Aku melihat taman dari ujung-ke-ujung, sampai akhirnya berhenti ketika aku mencoba untuk mencari jalan menuju belakang Pondok—
Di sana lah aku melihatnya,
Dengan sebuah lampu ublik yang ia letakkan di sebelah cagak kanvasnya,
Ia duduk pada sebuah kursi roda kayu,
Sambil terus melukis dan menoleh ke arahku.
“Nak?”
Ia memutar kursinya,
Dan kakinya tak ada—Tak ada dalam artian, benar-benar tak ada. Seolah tak ada apa-apa lagi setelah bagian bawah perutnya.
“Sedang apa kau kemari? Tak ada yang berani kesini, lho.”
Ia tidak tua seperti yang kubayangkan, tidak setua mbah, dan mungkin hanya beberapa tahun di atas ibu. Kemeja biru bergarisnya terlihat kusam di bawah mata sabit rembulan.
Aku terus mengayun-ayunkan ranting yang kupegang.
“Tak apa, aku hanya penasaran. Kukira bapak cuma sekedar cerita. Ibu dan mbah biasanya menakut-nakutiku.”
“Apa menurutmu aku terlihat seperti orang jahat?”
“Tidak. Bapak terlihat seperti—”
“Ya?”
“Orang sedih, pak.”
“Lho, mengapa?”
“Karena bapak melukis  sendirian jauh dari orang. Aku punya teman yang selalu menggambar sendirian saat sedih.”
Bapak itu hanya tertawa. Dan memanggilku untuk melihat lukisannya lebih dekat.
“Ada apa dengan kakimu, pak?”
“Ini Memento Mori. Kau tahu apa itu?”
“Apa itu?”
“Pengingat kematian.”
Aku melihat lukisannya—Seperti tamannya, aku hanya mengenali lima warna pada lukisannya.
“Datanglah lagi bila kau mau. ”

Ketika aku datang esok pagi, setelah beli sayur bersama ibu dan mbah, (aku menyelinap setelah mereka masuk ke rumah) ia tak ada disana. Aku mencoba kembali malam hari, dan saat itulah aku sadar bahwa ia selalu melukis tiap malam, dan entah berada di mana saat pagi. Aku mulai mengunjunginya tiap hari, tiap minggu, sewaktu kesepian dan suntuk melandaku.

Aku mulai hafal pola-pola lukisannya, gurat-guratan garisnya yang abstrak. Ia tidak pernah menggunakan warna yang tidak ada pada tamannya, seolah cat yang ia dapat berasal dari bunga-bunga yang ia tanam. Yang ia hancurkan, dan renggut warnanya.
Pada suatu malam yang anehnya tidak dingin, justru sedikit hangat, ia bertanya,
“Apa yang kau lihat di lukisan-lukisanku, nak?”
“Hmm.. Apa ya.. Warna yang dicampur-campur.. Lima warna.. Garis putus-putus..”
“Ini warna-warna dan suara masa lampau.”
Aku menatapnya penasaran,
“Kau masih ingat Memento Mori?”
“Pengingat kematian?”
“Kakiku yang hilang ini bukan hanya pertanda agar aku selalu mengingat kematian. Tapi agar aku tak bisa melupakan, dan meninggalkan masa lampau.”
“Maksud bapak, agar tak bisa meninggalkan tempat ini juga?”
“Ya, ini tempat dimana aku kehilangan banyak hal, kehilangan orang-orang yang kukasihi. Aku ingin tetap bersama jiwa mereka di Pondok ini. Rumah tua reot kami yang sudah lumutan.”
“Apa ini ada hubungannya dengan bunga yang hanya memiliki lima warna?”
Ia meletakkan kuasnya dan memutar kursi rodanya menghadapku, lalu melonggarkan kerah kemeja putih lusuhnya; aku lebih suka kemejanya yang biru bergaris.
“Aku dahulu tinggal dengan empat orang anakku, dan istriku. Ia sangat suka berkebun, dan menanam enam bunga sesuai warna kesukaanku kami. Ia sangat cantik, tak banyak memikirkan soal dirinya. Pada suatu hari, nak, ketika ia pergi ke pasar pagi buta, mendung semilir, dan aku masih menemani anak-anak yang belum terbangun—Badai terjadi. Kami lindung didalam rumah sedangkan—Entah apa jadinya pada istriku dan ibu-ibu yang ke pasar pada pagi hari. Yang kutahu, ketika hujan mulai reda dan semuanya kembali seperti sedia kala, taman kami sudah tak berbentuk, kacau. Pepohonan semua tumbang, jalan-jalan dipenuhi lumpur, dan entah berapa lamapun aku menunggu,
Ia tak kembali dari pasar pagi itu.
Cuaca sangat buruk, dan untuk keluarga di daerah terpencil seperti ini, flu bukanlah penyakit yang mudah, nak.”
“Kau kehilangan keempat anakmu karena flu, pak?”
“Tepat sekali, dan setelahnya, aku mencoba menghidupkan mereka dalam warna-warna yang mereka sukai. Lima warna yang mereka gemari di pekarangan kasih ini. Tapi entah bagaimanapun, mawar putih yang kutanam untuk istriku, di tanah hitam yang sedih dan lembab ini, mendadak menunjukkan bercak-bercak hitam yang makin menyebar ke seluruh kelopaknya. Seolah alam bahkan tak mengizinkanku untuk mengenang dan bertemu lagi dengannya,
Seolah kami takkan pernah bersatu lagi.”
“Aku tak tahan, nak. Aku ingin pergi dari sini. Tapi jika aku pergi, siapa yang akan merawat bunga-bunga ini dan mengenang, mengasihi mereka di gelap sana? Aku berusaha keras mengurungkan niatku, dan untuk memaksa diriku agar tak pergi,
Aku memotong kedua kakiku.”
“Apa tetangga-tetanggamu tak berpikir kau gila, pak?”
“Tentunya. Hal terakhir yang kuingat dari mereka hanyalah kursi roda kayu ini.”
“Mereka menuduhmu menculik anak-anak.”
“Aku tak pernah menculik mereka, mereka datang sendiri, dan aku memperlakukan anak-anak itu sepantasnya.”
“Dasar, gosip ibu-ibu.”
Cerita mengerikan itu terus menghantuiku. Tapi aku tak dapat berhenti mengunjunginya. Aku kasihan padanya, bapak itu pasti kesepian;

Sama sepertiku.

Setahun hampir berlalu, dan minggu depan usiaku akan menginjak 15 tahun. Aku akan dikirim untuk tinggal bersama ayah di ibu kota, dan harus meninggalkan tempat ini.
Aku mengkhianati keinginanku untuk tidak banyak bermain dan mulai menjadi anak yang serius,
Aku tidak ingin kehidupan dewasa yang terlihat sepi dan penuh sesak serta hambar,
Aku masih ingin bermain.

Semalam sebelum ulang tahunku, aku melesat ke Pondok Pancawarna. Aku bersembunyi diantara semak bunga biru sampai pak pelukis menemukanku.
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Sembunyikan aku, pak! Sampai dua hari ke depan?”
“Apa? Mengapa? Mbah dan ibumu akan mencarimu!”
“Aku tak ingin jadi orang dewasa yang sedih dan membosankan, aku masih ingin bahagia dan bermain! Besok lusa ayah akan menjemputku, dan aku harus ikut dengannya untuk belajar di ibu kota—Dengan seragam yang pucat dan kehidupan yang ketat.”
“Bukannya kau pernah bercerita akan memotong rambut keritingmu itu dan berhenti bermain-main.”
“Itu hanya untuk menghibur sepiku—”
“Jangan membohongi dirimu, nak.”

Aku menoleh melihat lukisannya—Lukisan yang biasanya abstrak. Meskipun tidak jelas, aku dapat melihat bahwa itu adalah lukisan Pondok ini, dengan hamparan taman harum dan 4 anak yang bermain riang bersama orangtua mereka, berlarian di pekarangan.

“Kuharap aku dapat bersenang-senang seperti yang lukisanmu itu.”
“Hei, ayolah, jangan murung. Kau harus senang dapat bersama orangtuamu.”
Aku hanya membenamkan wajahku dalam lututku.
“Baiklah, kau boleh menginap untuk dua hari ke depan.”

Pak pelukis menggiringku masuk sambil memutar roda kursinya; ia mempersilahkanku untuk tidur di kamar anaknya, dan minum teh malam sebelum terlelap. Aku biasa melakukannya dengan ibu, mbah, dan ayah; tapi semenjak pindah kemari dan ayah harus berada di ibu kota, ibu dan mbah tidak lagi mengajakku minum teh sebelum tidur

Keesokan harinya aku terbangun, cahaya matahari menyinari jendela kamar yang sedikit berdebu ini, namun terlihat lebih indah dan menarik daripada tadi malam. Mainan dan buku berserakan dibawahnya. Kakiku sedikt nyeri saat tak sengaja menginjak empat batang krayon yang tergeletak di karpet. Aku mencari pak pelukis, tapi sebelum menemukannya aku mendengar tawa riang anak-anak.

Aku berlari ke pintu depan yang letaknya kuraba-raba; aku tak tahu. Tadi malam kami masuk lewat pintu belakang. Pintu depan berhasil kucapai, dan dengan melindungi mataku dari sinar matahari pagi, aku beranjak keluar untuk melihat sebuah keluarga bahagia; empat orang anak dan sepasang suami istri bermain, berlari riang pada sebuah pelataran mengenakan mahkota bunga.
Sang ayah, dengan kemeja biru bergarisnya dengan mudah kukenali,
Itu pak pelukis, tapi ada yang berbeda dengannya.
Ia berdiri pada kedua kaki, dan berdansa dengan riang bersama istri serta anak-anaknya,
Tangannya terulur, ia mengajakku untuk bergabung dengannya,
Dan aku menyambutnya.

Kami berdansa, berdendang, dan makan enak sepanjang hari. Saat malam, aku mencoba untuk melewati gerbang mawar dan mengintip keadaan rumahku; tapi tak bisa. Yang kulihat selepas gerbang mawar adalah hamparan taman yang sama, lebih besar dan luas dari ini.

Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, tapi tak bisa.
Seolah ada kain kasar tebal yang membatasi antara aku dan taman selanjutnya.

Keesokan harinya kami masih bermain, bersenang-senang. Aku semakin akrab dengan empat orang anak yang pakaiannya berwarna sesuai dengan kesukaan mereka, dan dapat dengan mudah mengambil hati istri pak pelukis.
Tapi, malam ini,
Saat aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, di depan tirai kain tebal itu;
Yang kulihat adalah wajah ibu.
Wajah ibu, mbah, dan ayah yang panik serta berteriak seolah memukul-mukul tirai kain.
Aku menoleh ke belakang,
Istri pak pelukis memanggilku untuk makan malam.
Pagi hari setelahnya kami masih terus berdendang, dan berbahagia bersama. Tapi ini sudah esok lusa, dan aku harus pulang karena pasti ayah sudah kembali ke ibu kota dan tak akan ada yang mengambilku lagi.
Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, didepan tirai kain tebal itu;
Aku masih tak dapat melewatinya,
Tapi sekarang aku tak melihat taman bunga, ataupun wajah ibu dan mbah yang terlalu dekat—
Aku melihat ruang tamu rumahku,
Dengan ibu, mbah, dan ayah duduk termenung menundukkan kepalanya.
Aku menoleh ke belakang,
Pak pelukis mengajakku bermain lagi; empat anaknya, serta beberapa anak lain, berlari mengejar, menarik tanganku untuk tinggal bersama mereka.

Tinggal dan berbahagia di Pondok Pancawarna untuk selamanya.
Sorry for writing in my native language lately ^^
Sissy Gunawan Jan 2017
Di ujung jalan Merbabu III, ada sebuah bangunan tua berwarna cokelat muda berlantai satu dengan sebuah taman yang dipenuhi semak bunga Gardenia dan sebuah pohon pinus. Itu adalah rumah kami. Sebuah gunung berdiri tegak di depan kami. Teh beraroma melati yang disajikan dalam cangkir putih membiarkan asapnya mengepul memenuhi udara dan menghangatkan atmosfer di sekitar kami hanya untuk sepersekian detik. Ditemani sepiring pisang goreng atau roti bakar berisi selai cokelat yang meleleh, bersama ibuku, kami berbincang tentang banyak hal di atas kursi kayu di teras rumah berlatar gunung.

Kami banyak membicarakan tentang masalah pendidikkan dalam negeri, masalah keluarga, hobi masing-masing, masa depan, pelajaran di sekolah, pekerjaan lainnya, dan mengeluh bagaimana hal-hal tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi kami. Ibuku adalah sahabat terbaikku. Bisa dibilang dia merupakan orang terfavoritku walaupun aku lebih mengidolakan band-band asal Inggris yang jaya di pertengahan era 90-an. Tapi, ibuku adalah pendengar terbaik selain secarik kertas HVS putih yang biasa kutulisi dengan rangkaian kata menggunakan pulpen biru Faster. Dia mendengar, benar-benar mendengar. Dia mengerti apa maksud dari seluruh ucapanku, bukan hanya sekedar menyimak cerita-ceritaku.

Setiap kali aku mengeluh tentang suatu hal, Ibu menghujaniku dengan nasihat-nasihat dan pepatah-pepatah hebat. Ia selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur.

“Bu,” panggilku pada suatu siang di tengah bulan Juni yang sangat panas.

Kami sedang membersihkan sayur kangkung dan ikan Gurame di dapur dengan jendela yang terbuka lebar di hadapan kami sehingga kami bisa melihat jelas isi dari taman belakang rumah sebelah.

“Aku heran mengapa bunga-bunga liar ini bisa tumbuh. Maksudku dari mana mereka berasal dan bagaimana bisa mereka tumbuh begitu saja?" tanyaku.

Ibuku tersenyum. “Penyebaran bibit itu bermacam-macam. Lewat serangga, bisa jadi?” jawabnya sambil terus membersihkan sisik ikan. “Lagi pula, bunga rumput itu sangat cantik. Setuju dengan Ibu?”

Aku mengangkat sebelah alis, kemudian menggeleng. “Cantik apanya? Mereka berantakan, ya, kan? Bagaimana bisa Bu Jum betah melihatnya tanpa merasa gatal untuk segera mencabutnya?”

“Mereka adalah bunga yang kuat,” katanya, “mereka tumbuh di mana saja, kapan saja. Mereka tidak peduli seperti apa rupa lingkungan sekitarnya dan bagaimana lingkungan sekitarnya bersikap pada mereka, menampar atau menerima. Mereka tetap tumbuh, bertahan, dan hidup. Bunga rumput adalah bunga liar yang sering diacuhkan banyak orang, tapi mereka adalah bunga yang kuat dan mereka terlihat cantik dengan cara mereka sendiri.”

Aku tertegun.

“Itu hanya pandangan Ibu saja. Semacam filosofi, kamu paham, kan?”

Sejak saat itu, aku percaya pada kecantikan di setiap kesederhanaan. Hal-hal yang biasa tidak diperhatikan atau dilupakan banyak orang sesungguhnya memiliki keindahannya sendiri. Meneguk secangkir kopi panas di malam hari ketika tiada satu pun suara dan bintang berkedip di langit tinggi, cahaya matahari yang mengintip dari balik dedaunan dan ranting pohon atau jendela kamar, mendengar dan melihat bagaimana tetes-tetes hujan turun dari genting ke permukaan tanah. Jalanan kelabu yang basah dan sepi, suara dan kilatan petir, kabut yang memenuhi ruang udara setiap Subuh. Suara deburan ombak yang berujung mencium garis pantai atau suara aliran sungai yang mengalir dengan tenang. Hal-hal seperti itu, selain mereka cantik dengan caranya masing-masing, mereka juga indah tanpa pernah sekalipun menyadari bahwa mereka indah. Dan, itu adalah kecantikan yang paling murni dari segala hal yang nyata.
An Batingaw Mar 2013
She saw the face of Judas in him.
The bearded kiss festered no truth
and the metallic breath
exhaled putrid faithfulness.
The trampled petals spoor no lusting stares,
redolent no more
even as the tongue creeps by the shoulders.

The razors have summoned from the stinking room!
A slit in the neck
could rhythmically go by the thrusts unnoticed
But the chorus of the beasts
as shrill as the gongs of hell
maiming vengeance yet
not in the loss of blood will you die.
Not in my hands.

His demonic pleasures went on as the voodoo doll
resurrected in the beat of my own gongs.
Keep stirring as this spindle rouses my anathema!
his chest hairs
pint of blood
vulture’s beak
stallion’s tails
bobcat’s eye
dead evergreen
Deborah’s tears.
Stir and stir and stir!
Murmur satan’s prayer
mana mana mana boo!
ruba ruba ruba hoo!
Count the sands of the transient hourglass
expiring ‘fore tic tac sound.
Now her man froze,
bulging eyes, blackened pulse!


‘tis freedom, Deborah!

Free.

Doomed.




© Glenn Sentes
03-06-13
Harshit Jain Apr 2017
Seetaro mai akela chaand si thi wo
Foolon ka mehekta guldan si thi wo
Thi nadi jaisi aviral,chanchal
mere dil ka haal si thi wo

Ghani dhoop mai chav si thi wo
Kisi geet ki addaon si thi wo
Thi hava si mehekti, komal
Mere dil ka bhav si thi wo

Beech majhdhaar mai nav si thi wo
Khusian ka pura gaon si thi wo
Thi koyal si meethi,nishchal
Mere man ka abhiman si thi wo

Paido par wo patto waali hari bhari koi daal si thi wo
Holi ke rango mai sabse saadi ek akeli gulaal si thi wo
Thi wadi kasmiri koi
Mere geeton ka sur aur taal si thi wo

Mandir mai wo shankhnaad si,pooja ka prasad si thi wo
Baarish mai mitti ki khushboo,badal ka dharti se sanvaad si thi wo
Thi meri wo beti pyari,usse hi ghar 'harshit' tha
Mere ghar mai sooraj si,Mere ghar ki shaan si thi wo

Thi ab wo jo nahi rahi,aakhir khata kya thi ki usne
mana hi to kia tha na beta shaadi se,
Par dosti ka haath bhi to badhaya tha
Teri Bezatti toh nahi thi ki usne
Fir kyun tune usko har ghar badnaam kia
Dushman na kare,dost hokar tune aisa kaam kia
Chali gayi ab chhod ke mujhko,wo akele jeevan ki saanjh mai
Meri khushiyan,meri duniya,meri pyari jaan si thi wo
Meri pyari jaan si thi wo
Shrivastva MK May 2015
Hum us desh ke vashi hain.....
Jaha sabhi ka samman kiya jata hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha sabhi logo me ekta hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha atithi ko bhagwan ka darja diya jata hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha aurato ko devi kaha jata hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha hindu muslim sikh esai sabhi bhai bhai hain,
Hum us desh ke vashi hain.....
Jaha mata pita ko dharti ke bhagwan mana jata hain,
Hum us desh ke vashi hain.....
Jaha sabhi log desh ke liye marte hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha mahatma gandhi, Bhagat singh, Subash chandra bose jaise beero ne janam liya tha,
Hum us desh ke vashi hain.....
Jaha par sanchai aur ekta mishal hain,
Hum us desh ke vashi hain....
Jaha ki nadiya sudha jal deti hain,
Hum us desh ke vashi hain.....
Jise log bharat ya india kahte hain...
      JAY HIND
               JAY BHARAT
Hindi
aviisevil Oct 2016
Jo wahan hai wo yahan hai
Jo yahan hai wo wahan hai
Par-e-dil gumshuda
Na Jane kahan hai
Ek chota sa to ye jahan hai
Hum to isse bhi bant chale
Dil to ek chota sa makam hai

A us ***** ko bhi sath le chalein
Jispe uska kudha mehrban hai
Ye to ek aeine ki zaban hai
Jane teri ankhein kahan hai
apne ko hi kyu karta hai khafa
Tujse zada insan to asman hai
Koi lakeer zisko na bant sake
Usse bant diya tune jahan hai

ab to diwaron me hi tu fanaa hai
agar ek dusre ke liye hi marna hai
to pyar me marne me kya gunha hai ?

rok na sake koi usse
jisko khaboien ki panaa hai
Jo pyar me bana hai
lakeeron ke uss par bhi to ek sapna hai
udhar bhi to koi shayad apna hai

agar ek dusre ke liye hi marna hai
to pyar me marne me kya gunha hai ?


ye jo rasta tumne chuna hai
akele pad jaoge tum beete kal
ye jo hai tumhari addat
ki ab to ibadat bhi gunha hai
kya tumne kabhi dheere se suna hai
wo ek muskaan ki shararat
jiska arth bhi tumko mana hai
dekh le us fakeer ki nazakat
jo tere mere khoon ki milawat
us lakeer ki ahat pe kurban hai


agar ek dusre ke liye hi marna hai
to pyar me marne me kya gunha hai ?
Sarah Nov 2013
mau sampai kapan kau begini?
terpenjara dalam sangkar
tersedu, merintih, menangis dalam hati

mau sampai kapan kau begini?
terkubur dalam tanah
sesak, megap, gerah, tapi tak berani berteriak

mau sampai kapan kau begini?
bertopeng ayu nan rupawan
padahal semuanya hanya polesan belaka

mau sampai kapan kau begini?
mulut ditutup kain, mata dibutakan langit
mana dirimu yang katanya menjunjung kebebasan?

mau sampai kapan?
hidup ini takkan sampai seribu tahun
Noandy Dec 2016
Sebuah cerita pendek

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.

                                                     ­            ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi. Tapi kau tidak selalu terbangun. Kadang hanya ragamu saja yang terbangun, sedang jiwamu entah di mana.  Kadang juga aku merasakan adanya dirimu, tapi kau tak dapat ditemukan di sekitarku. Aku dapat menemukanmu, sepertinya, dalam Wiegenlied milik Brahms yang biasanya mengantarmu menuju tidur yang lelap—sebagaimana acara anak-anak mengalunkan lagu itu menjelang pukul delapan malam.

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Kau ingin selamanya tertidur. Pernah suatu saat, di antara kepulan bau thinner dan cat kayu yang tak kunjung hilang, kau mendekatiku dan berkata,

“Aku tahu sekarang kenapa kau ingin mati.”
“Aku ingin mati?”
“Aku tahu, aku ingin mati—juga.”

Aku bergurau,

“Ya sudah. Nantinya juga kita semua akan mati.”

Aku tidak tahu kenapa kau meninggalkan biolamu dan lebih memilih tertidur, kenapa kau memilih meninggalkan kita semua dan mengunci dirimu, kenapa kau hanya terbangun sesekali di jam dan waktu yang tidak umum. Semua orang mencarimu, dan tak ada yang tahu apakah kau adalah kau ataukah sekedar tubuh tanpa jiwa—mayat yang hidup. Kurasa kau sudah menjadi mayat hidup sejak kau katakan hal itu padaku. Kuharap kau juga memberi tahu alasan mengapa kau ingin tak bertubuh dan tak berjiwa.

Kau menggerogoti dirimu dari dalam, Dis. Kau melantunkan nina-bobo yang mengerikan untuk dirimu sendiri. Sebuah lagu pengantar tidur yang musik dan liriknya berisi pemujaan pada kematian yang kau dambakan. Berapa kali harus kukatakan kalau kita akhirnya nanti mati juga?

Minggu lalu kita berbincang panjang—tak jauh dari perihal tubuh, jiwa, dan takdir. Kau terlarut pada sekumpulan cerita H.P. Lovecraft yang kau pinjam dariku, dan senantiasa kau bawa tidur karena baunya mengingatkanmu padaku. Sepertinya bukan hanya bauku yang meracunimu tapi kisah-kisahnya pula. Herbert West: Reanimator, dan Hawa Dingin. Kau berpikir dan berandai jika tubuh yang tak lengkap dan seluruh organnya tak berfungsi, masih memiliki kemungkinan untuk bertahan apabila diawetkan dan jiwanya ada. Bagaimana kita tahu jika jiwa itu ada, Dis? Apa bedanya dengan roh? Apa pertandanya?

Tapi aku tetap saja larut dalam lamunanmu. Lebih baik kau terus berbicara daripada tertidur atau teler karena hal-hal yang kau teguk sembarangan di malam sebelumnya saat tak dapat terlelap. Lebih baik kau terus berbicara, aku suka mendengarkanmu berbicara karena derap suara yang kau lantunkan berjalan selangkah sama dengan milikku.

Entah apa akhir pembicaraan kita tentang roh dan jiwa itu, aku tak dapat mengingatnya. Yang samar-samar kuingat adalah, kau secara tidak langsung mengatakan bahwa yang terpenting dari sebuah kehidupan bukanlah tubuh—selama jiwa itu ada.

Lalu semenjak itu aku tak melihatmu mendatangi latihan lagi. Memang aku tak selalu memperhatikan latihan aktor yang bukan merupakan porsiku dalam pagelaran ini, tapi saat istirahat menggarap properti dan menjelajah kantin atau intip-intip para aktor yang latihan, tak juga kutemukan ragamu di sana. Apa kau ada di sana, mengikuti latihan  tapi tak ada yang dapat melihatmu? Memangnya ini cerita supernatural dan kau sedang melakukan proyeksi astral?

Semua orang membutuhkanmu untuk terus melanjutkan peran yang kau mainkan, Dis. Tapi apakah mereka peduli padamu? Aku tak seberapa yakin. Aku merasa mereka hanya memperdulikanmu atas dasar kepentingan itu, dan tak sepenuhnya menelisik masalah yang menggerogotimu dari dalam. Memang beberapa kali kau merasa malas, tapi aku yang bekerja di belakang panggung dengamu sejak tahun lalu ini percaya kalau kau tidak ingin tidur karena malas. Kau ingin tidur karena ingin jiwamu saja yang hidup, tubuhmu sudah terlalu lelah atas luka-luka dan lebam yang sudah sejak lama bersarang padanya, dan atas sesuatu yang menghabisinya dari dalam.

Malam itu, saat semua orang mengutuk namamu dan ketidakhadiranmu, aku tertunduk dan menyembunyikan mata di bawah topi hitamku—sesekali mencuri pandang ke jendela. Ada perasaan yang menyiratkan padaku bahwa kau juga sedang menoleh ke arah jendela, dan entah kenapa, aku mendadak berdiri  menuju balkon lantai dua—tiba-tiba aku takut jika kau sedang memiliki pikiran untuk lompat dari jendela kamarmu.

Mereka terus mengutuk namamu dan bagaimana kau mengecewakan, serta menyulitkan mereka. Tapi mereka tak pernah berusaha menghubungimu. Mereka hanya mengandalkanku dan Erma untuk terus mencarimu. Tidak ada yang peduli, Dis, tidak ada. Semua menyendirikanmu. Kau pun seolah tak peduli dengan mereka, sulit dihubungi melalui apapun.

Itulah yang membuatku bergegas menuju tempatmu—menaiki tangga darurat yang pengap tanpa jendela itu sampai ke lantai sepuluh. 1007, kamarmu. Setelah beberapa kali ketukan lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras pintu kamarmu sampai akhirnya kau bukakan dengan enggan. Celana pendekmu, kaus merah tidak karuan, kakimu yang terluka dan matamu, membara merah menyambutku. Jendela terbuka, angin menyelonong masuk dan menghantarkan bau alkohol serta asap rokok yang tersisa sedikit saja. Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummu—parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.

Aku tidak tahu kau habis menangis atau tidak, tapi aku menangis. Dan aku juga tidak tahu jelas mengapa tiba-tiba menangis. Bisa jadi karena aku begitu lega bisa bertemu denganmu, mungkin juga karena semua beban untuk mencarimu dibebankan padaku serta Erma sehingga emosiku lepas begitu saja saat bertemu denganmu. Aku tidak tahu. Aku langsung mendorong pundakmu untuk menyingkir dari pintu dan masuk tanpa izin. Alih-alih menghentikanku karena masuk tanpa permisi kau membiarkanku dan mengikutiku. Aku melihat buku Lovecraft-ku tergeletak di samping bantalmu dan seantero ruangan kacau balau.

Kita saling terdiam, dan tanpa mengucapkan sepatah kata, aku mencari sapu dan membereskan tempat tinggalmu.
Aku tak keberatan, kita sesama orang berantakan yang terserak dan sudah diatur untuk menata satu sama lain.

Angin terus berhembus dari jendela  dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau ambil beberapa batang lilin dan nyalakan mancis sehingga deretan lilin itu terjejer membatasi kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah lilin dan kau lakukan hal yang serupa.

“Tubuh yang sempurna bukanlah hal yang berarti untuk kehidupan.”
“Tanpa roh dan jiwa tubuh tak akan bisa bergerak, begitu?”
“Ya. Makanya, yang terpenting adalah jiwa. Bahkan dalam tubuh yang tidak sempurna seseorang dapat hidup—seperti para penyandang disabilitas.”
“Lantas mengapa orang-orang meregang nyawa karena tubuhnya terluka hebat?”
“Karena tubuh itu memberi celah bagi jiwa untuk merembes keluar.”
“Berarti jiwa butuh tubuh untuk dapat terus bertahan, kan?”
“Tubuh ini bukanlah cuma badan. Bisa saja sebuah benda lain yang mampu menampung jiwa. Lagipula roh dan jiwa dapat mengembara kemanapun.”

Aku, belum sepenuhnya paham hubungan antara tubuh dan jiwa dan roh versimu, memilih diam dan mengalihkan topik dengan membujukmu untuk kembali ke kampus dan datang latihan untuk pagelaran yang akan kita tampilkan, semua orang mencarimu.

Kau mendorong jauh mancismu sehingga masuk ke kolong laci lalu mengangguk lemah. Melihat tubuhmu menjadi jauh lebih kurus, aku tak tega mendesakmu terlalu jauh. Aku berniat mengambilkan mancismu dan menyadari bahwa kau menyembunyikan tas biolamu di bawahnya sehingga aku turut mengambilnya. Kala aku merogoh, aku ingat mendengarmu berkata lirih “bagaimana jika kita hidup tanpa tubuh?” sehingga aku menyahut,

“Maksudnya tanpa tubuh?”
“Tubuh dan jiwa sebagai dua hal yang terpisah. Tapi jiwa dan roh tetap satu.”
“Tapi kalau terpisah, menurutku jiwa atau roh akan hilang sepenuhnya karena tidak ada yang menahannya. Seperti wangi yang lambat laun menguap.”
“Bagaimana jika kubilang  kita sedang dikerumuni oleh jiwa-jiwa tak bertubuh?”
“Hah, apa, Dis?”
“Seolah jiwa dan tubuh itu terpisah saat sedang tidur. Aku ingin tahu apa kondisi itu juga bekerja pada kematian. Aku ingin tahu mati itu seperti apa rasanya—apakah seperti tidur—dan lebih lagi, aku ingin membuktikan apabila yang dibutuhkan bukanlah tubuh yang sempurna. Jiwaku yang penuh sesal ini menggerogotiku dari dalam. Waktu demi waktu. Perlahan-lahan.”
“Sudah, Dis. Tidur saja, kamu terlalu penat. Jangan ingin mati dulu, nanti kita juga akan mati kok.”
“Bersama-sama?”

Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur. Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku.

00.57

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,
Kau terbangun.

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Lalu kau kembali tertidur.
Aku mematikan perekam suara pada ponselku, dan entah kapan, aku tertidur. Jendela masih terbuka karena dapat kurasakan semilir anginnya. Langit hitam tak menyegarkan. Hitam bak tidurku tanpa mimpi.

03.40

Aku kedinginan dan terbangun. Lilin-lilin sudah memendek dan mati tertiup angin, kau tak ada di sebelahku. Jalan menuju jendela kuraba dengan memegangi perabot, aku memegangi jendela dengan kedua tanganku untuk ditarik ke bawah. Kepalaku otomatis kukeluarkan sejenak untuk melihat pemandangan sekitar dan apa yang sedang terjadi di dunia bawah.

Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak. Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun.

Bercucuran keringat dingin aku menyeka luka di dahimu agar tak lagi terlihat darahnya dan aku dapat naik kembali ke kamarmu tanpa perlu dicurigai.

Sesampainya di kamarmu aku terduduk dan menggerayangi lantai mencari mancismu. Aku menyalakan semua lilin dalam bentuk lingkaran mengelilingi kita. Kupeluk jasadmu dan kubiarkan darah dari kepalamu terus mengucur di tanganku.

Tuhan, jangan biarkan ia mati.
Aku tahu tak akan mungkin ia dapat kembali ke dalam tubuhnya yang telah memberi celah bagi jiwa untuk keluar ini.
Aku tak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Dan akhirnya tertidur kekal sebelum waktunya. Jangan tidur dulu, Dis,
Jangan tidur dahulu sebelum waktunya.
Sungguh aku tak paham apakah kau masih di dalam ruangan ini atau sudah hilang, sirna sepenuhnya. Seperti wangi seperti wangi seperti wangi.

Darahmu
Darahmu
Darahmu
Memenuhi tanganku.

Jangan pergi, jangan pergi.
Aku membersihkan lukamu dan membalut perban yang kudapat dari kotak P3K dengan meraba-raba wastafel di dekat dapur.
Aku membersihkan lukamu meski tak dapat rasakan nafasmu lagi.

Ponselku menyala, dan memutar sebuah rekaman tanpa aku menyentuhnya.

04.44

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan dengan biola secara gusar dan takut,

“Kalau kamu sudah hafal notasinya, percepat temponya. Seharusnya seperti itu.”
“Aku tidak mau,”
“Seharusnya seperti itu.”

Akhir rekaman.*
Aku tertidur memeluk jasadmu.

08.23

Angin masih masuk dari  jendela yang tak jadi kututup. Aku melepaskan jasadmu dan mengambil biola yang tergeletak dengan tangan berlumur darah. Memainkan Wiegenlied—Lullaby.

Dalam alunan Wiegenlied milik Brahms, dimainkan secara resah dan basah,

“Sudah kubilang, percepat temponya.”

Aku terkesiap, namun tak menoleh ke arah jasadmu. Kuteruskan bermain dengan peluh bercucuran dan gesekan tak karuan, menghapus darah yang mengering di tanganku.

“Ternyata memang sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku. Bahkan  setelah terlepaspun, ia masih saja merintih penuh sesal dan tanya.”

Not terakhir,
Aku menoleh,

Mulutmu menganga dan mengatup seolah mencari nafas, menganga, menganga
Matamu tak berkedip menatapku, terlentang, memandang lurus ke arahku.
Ke arah jendela, langit yang biru, angin, nyanyi,
Lalu kau kembali tertidur.

                                                      ­           ///

Aku tidak tahu kenapa kau terus tertidur, Dis. Aku selalu berharap agar kau dapat bangun, membuka jendelamu, dan membiarkan angin yang masuk dari jendela lantai sepuluh kamarmu itu mengawetkan matamu yang jarang sekali terbuka. Sudah selayaknya biru langit menghidupkanmu. Sudah sepatutnya suara sunyi pagi memenuhi telingamu yang selalu mengharapkan nyanyi.
Untuk.. Kau tahu untuk siapa.
Favian Wiratno Oct 2018
Orang gila mana yang rela memberi semuanya untuk cinta?
Orang gila mana yang rela menangis setiap malam hanya untuk satu wanita?
Orang gila mana yang rela menunggu cinta untuk datang kembali dengan perempuan yang sama?
Aku tau jawabanya,
.
.
Akulah jawabanya.
fatin May 2016
mana mungkin rindu aku terasa
jika diungkap dengan bait bahasa

sayang
dakaplah aku
rasakan rindu aku
kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini
andai kau rasa perit dan pahit ini,
lepaskan lah.
biar aku bebas terokai dunia
tanpa rasa sekat dalam raga

aku penat
-menunggu sesuatu yang tidak pasti
dalam hal ini, adalah kamu

jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi
dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran
entah
bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu
tapi
bagai aku tersekat

sayang
andai kau rindu
andai kau rasa perit dan pahit ini
lepaskan lah aku

*agar aku bebas teroka dunia
Aridea P Apr 2015
Palembang, 26 April 2015

Dear Mama,
Aku ingin bercerita
Aku seperti orang buta, Mama
Aku tidak bisa melihat mana hal yang baik, mana hal yang buruk
Aku tidak bisa membedakan di antara keduanya, Mama

Mama Sayang,
Aku ingin bercerita
Aku seperti orang lumpuh, Mama
Aku tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri
Bahkan aku memilih berdiam diri daripada menghadapinya

Mamaku yang Cantik,
Aku ingin bercerita
Aku seperti orang tuli
Aku sedikitpun aku tidak menghiraukan dunia sekitar
Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri

Mama,
Aku ingin bercerita
Aku pembuat onar di sini, aku ingin pulang ke pelukanmu
Aku ingin jadi anak baik
Seperti saat masih di dalam pengasuhanmu

Mama, aku rindu Mama
Àŧùl Apr 2013
Transliteration:

Jana-gaṇa-mana adhināyaka jaya he
Bhārata bhāgya vidhātā
Pañjāba Sindhu Gujarāṭa Marāṭhā
Drāviḍa Utkala Baṅga
Vindhya Himāchala Yamunā Gaṅgā
Uchhala jaladhi taraṅga
Tava śubha nāme jāge
Tava śubha āśhiṣa māge
Gāhe tava jaya gāthā
Jana gaṇa maṅgala dhāyaka jaya he
Bhārata bhāgya vidhāta
Jaya he, jaya he, jaya he
Jaya jaya jaya, jaya he.


Translation:

Thou art the ruler of the minds of all people,
Dispenser of India's destiny.
Thy name rouses the hearts of Punjab, Sindhu,
Gujarat and Maratha,
Of the Dravida and Odisha and Bengal;
It echoes in the hills of the Vindhyas and Himalayas,
mingles in the music of Yamuna and Ganges and is
chanted by the waves of the Indian Ocean.
They pray for thy blessings and sing thy praise.
The saving of all people waits in thy hand,
Thou dispenser of India's destiny.
Victory, victory, victory to thee.
This is Jan Gana Mana - The Indian National Anthem as composed by Rabindranath Tagore and as translated in English by Tagore along with the Irish poet James H. Cousins' wife, Margaret who was an expert at English language.
It is addressed to the Bharat Bhagya Vidhata (India's Destiny Dispenser God) contrary to the popular belief that it is addressed to a person particular.
It is known that the Sanskritized Bengali version of the same, called Jana Gana Mana has been hugely popular worldwide. Listen to it on YouTube now and feel something in your heart for India.
© Rabindranath Tagore 27th December, 1911 originally in Bengali
© Rabindranath Tagore, Margaret H. Cousins who together translated it in 1919 at Besant Theosophical College, Madanapalle where Margaret's husband James H. Cousins was the principal who invited Rabindranath Tagore to sing the anthem in front of an assembly of people.
Aridea P Dec 2011
Palembang, 18 Desember 2011

Ku tak ingat pertama kali aku membuka mata tuk melihat dunia
Yang ku ingat aku hidup bersama keluarga kecil yang bahagia

Semasa hidup dunia tak pernah berubah
7 samudera, 7 benua
Tetap
Bukti kecintaan Sang Pencipta kepada manusia

Cinta itu penipu
Bisa berperan menjadi apa saja dan siapapun

Ombak di laut lepas, itulah cinta
Sinar mentari pagi, itulah cinta
Tetes embun pagi, itulah cinta
Dingin angin malam, itulah cinta


Cinta itu tirta
Sama seperti air, tak dapat disentuh, hanya bisa dirasakan

Cinta itu air sungai yang mengalir
Cinta itu jalanan berkelok di pegunungan
Cinta itu pepohonan di kaki gunung
Cinta itu butiran pasir di Sahara

Cinta mampu hidup di mana saja
Bak parasit yang mengikuti kemana manusia

Cinta itu suci di Mekkah
Cinta itu tinggi di Everest
Cinta itu luas di Pasifik
Cinta itu dingin di Antartika

Namun terkadang cinta bisa menjadi liar
Tak mau disentuh, pantang diucap

Cinta bagaikan Viranha di Amazon
Bagaikan Voldemort, The Dark Lord
Bagaikan Troll di pedalaman
Bagaikan kota hilang di Peru
Cinta bagaikan mumi di Mesir
Bagaikan terowongan di Jalur Gaza
Bagaikan Titanic yang tenggelam
Bagaikan laut mati di Yugoslavia

Aku merenung,, diam
Memandang jam,, terus berdetak
Ku akan tinggal di Laguna indah
Jauh dari semua,, jauh dari cinta
Mateuš Conrad Jan 2017
that's 3 weeks without a keyboard,
that's 3 weeks on a dual-detox -
         that's that: roughly: antagonism
of: once upon a time...
           there can only be one Hans Andersen,
and as the story goes: ol' granny
   passed on the tales, without which:
no talk of posterity, and seances at
the theatre; alternatively: what if Kierkegård
opted for opera, rather than theatre?
    well: horrid is the task of dropping names,
as if being a village idiot, in that
capacity: giving directions... no such thing!
  nonetheless: a horrid task...
3 weeks... without this horrid world-entanglement...
amphetamines in the wild west,
                   and yet... everything slows down...
that's 3 weeks without such ''luxury''...
    and would you believe it?
3 weeks went by: in a blink of an eye.
             strange, or what 21st century writers
fail to recognise: the ******* canvas has changed!
any-single-one-of-them bothered to scrutinise
this new canvas? anyone?
     ah yes, it's still in its adolescence -
it's still: Dostoyevsky, scuttering in the grand
dungeon: that's the Moscow underground.
             the canvas! the canvas!
                             and indeed, if this be some
bellowing horn, from the depths of some forsaken
place... i'll go into the street, and sabotage
civilisation with graffiti...
                     then again: i have the least
expectations, such that capitalism works...
poetry... and what investment have you made?
nil, or almost nil... evidently: zilch!
      ah, but to have invested in canvases,
a studio, paints, brushes... see... no one sees
investment in poetry: primarily because the poet
has done the minimal...
            unless of course it turns out to ****
with a hot poker something once resembling
nations... which now resides in the insane asylum
(even though those, have been abolished)
                           , nation - ooh! what a ***** word!
the left irksome sometimes uses it:
in theory: the nation-state...
                        and then there's the resurgence of
ancient Greece... in a sing-along:
maybe 'cos i'm a Londoner... brother! brother!
Athenian! Athenian!
                                       but we are born into
a Spartan wedlock... no one really bothers to
**** our gob with Shakespeare...
    then again that is the schizophrenia (alias
dualism) in humanity... thus, to be frank,
psychiatry can be congratulated, it has provided
one useful term... and i will use it, over and over again,
in a non-symptomatic way, because, i find,
it stands, as if the Olympic Graeae (Zeus, Poseidon
and Hades) eating the carcass of some inhabitant
of Tartarus...
                               evidently: tartar steak...
doubly evident: tartars, or the remnants of mongols,
settled in crimea, and elsewhere in the Ukraine...
   tartar                      tra-ta-ta-ta... ku ku ryku!
a ja fu! krecha! a ja znow... fu!       radowitą
uprzejmość... skłaniam...  
    or what i call: rising spontaneously from the depths...
polymaths applauded, the tribunal resides in
bilingualism... trenches... history... perspectives
and current affairs... wicker man media...
                        so... an example of pedantry?
ó....               that's an orthographic dignitary -
        an aesthetic muddle... as is
c-ha                               contending with samo-ha...
     ch                            came from antagonism of
cz                                   which was later antagonised
by č               in česka.... say that: hen party
bound to Prague... in the Czech republic...
                                          ch      k..­.
i am, quiet frankly... standing at the feet of the tower
of babel... and i'm looking up, and i see
correlations, and i see decimal marks,
which, when given enough geography,
can seem like England and the isles,
       and central Europe...
    Iberia? phantom of Seneca...
  eureka! let's begin, once again...
  why is there a continuum beginning with
Plato and Aristotle?
                                           we could become
reasonable people... told to deal with madmen...
we could claim beginnings with Seneca...
and Cicero...
                      and why? the Romans loved poetry...
the Greeks antagonised Homer...
            the Romans loved Horace, Virgil,
                           Ovid... perhaps we should really forget
beginning with Plato and Aristotle...
       the former has become a church,
the latter a dentist's assistant (minus the ancients'
concept of a joke).
                      evidently i have to finish off reading
Seneca... his educational letters to Lucilius....
      moralising ******* that he was, thus, perhaps
a nibble at Cicero? but i must say:
                           it has to begin somewhere,
so not necessarily in stale-bread Athens...
                      and having such perspectives helps
in claiming casual conversation?
   assuredly - if it doesn't involve talking about
the weather...
                                which is always a great mystery
   if it's given enough aurora.
   onto the mystery of dialectics,
as discovered by Alfred Jarry in his Faustroll
Pataphysics contraband...
                                                nag­ging agreement...
nodding without approval... (chapter 10) -
beginning with αληθη λεγεις εφη
        (you speak the truth, he replies) -
   and ending with ως δoκεì
                              (how true that seems)...
and then some dub-step...
        know nothing dROP! boom! jiggy jiggy,
get the rhythm.
   as i always find it hard to look at
    diacritical arithmetic...
                                  given the following
represent a prolonging: hangman:
       å, ā and ä...
                             esp. in Finnish -
stratum: hedningarna täss on nainen.
                        rolling yarn, plateau, two dips;
and i will never say something profound...
i'll just say something no one else has said,
benefit of the doubt? somewhere, someone,
                                      kneels at the same altar.
  such are the distinction - invaders from the
north, and invaders from the south...
                                           even with
crusading Golgotha mann -
the times? many bats, supers, spiders,
but not enough readings of thomas mann...
                              easily befallen into prune-nosed
high-airs... it comes with the diet of literature...
   unfortunately.
                              and with yet another book:
i have burried yet another living person
i could have had a beer with, and conversed.
it always happens, every time i read a book
i have to attend a funeral... by reading a book
i have burried someone alive...
                          shame, in all frankness...
    i will sit in a congested train, touch a breathing
body, and consecrate the touch with
a warring genuflect - harbringer of a Teutonic
passion for initiation: a komtur's slap across the cheek.
   chequers played with passions...
           and some have to be approached like
caged animals, their vocabulary as cages,
                and the whole world before them:
cageless!
             some have indeed become so encrusted in
their daily: routine, that it would take a zoologist
(thrice oh, begs some sort of diacritical marking)
rather than a psychologist to understand them...
    like the darting dupes they are, enshrined in
20% gratis! smile! have a nice day! boxing day sales!
all but pleasantries, fathoming the grave.
   stiff vocab and all other kinds of perfume...
                           a king and his charlatan knights,
who are merely ditto-heads.
                  and not of this world, afresh -
among the nimble hands prior to birth -
surely there is: more grandeour in birth
   that entry via a ******...
                            the greatest pain of ****...
and when the ancient treaty was signed
under the name: Augustus Cesarean - or
recommended for a need of aristocracy -
    it was, for a time, the mana magnetism:
and such was the rule of poetry:
rather than a crown, donned the laurel leaves...
donned the laurel leaves...
    and such was the covenant from ancient
foes when trying to assimilate the Jew...
three kings from Babylon,
                         the child in Egypt...
          no good tides from Nazareth...
         a crown of myrrh - later overshadowed
by dogmatic sprechen, simpler: thorns...
yella things... or rzepak, Essex is filled with it...
rzepak... so why bother adding a dot above
the z, when you get capricious and use rz to
denote the same?! thus a science:
voiced retroflex fricative... Stalingrad!
                       can you really stomach this kind
of jargon? if it wasn't for science fiction:
science would be twice removed from gott ist tot,
*******' worth of pondering, given the close
proximity rhyme... nothing that rhymes should
ever be taken seriously, it should be hymnal!
                         Horatio! mein lyre!
   mein Guinness leier! rabbi krähe -
     and they deem that ****** white when talking:
thinking? i'd prefer Cezanne in real life -
   maggot wriggling and all...
                                          as much eroticism
as bound to a dog slobbering its testicles:
which means ****-all in an almighty stance
   for a dollop of halleluyah in Nepal.
well: pretty talk, pretty pretty pretty: i feel pretty,
oh so butter-fly-e.
                                    2 week stance,
***** in autumn... but so many Swiss hues
coming from the same concentration of decay!
shweet!  zeit-ser!        and that's me talking
kindergarten german: innovation begins with
a fork and a spoon, should the tongue come to it...
            i see a poem,
i see something worth bugging... c.i.a.,
f.b.i., hannibal's lecture in Florence, Venice for
the rats... bugging... shoving...
  shovelling... necro grounding, rattling...
    windy via north... Icelandic...
drums along incisors of abstract gallop:
violins... fringes of the mustang... airy airy...
all regresses toward the Vulgate...
         like ****, like said, and the only pristine
stress comes with vanilla ice-cream,
or a medium-rare beef ****! hmph!
                         fa fa fa excesses with that hurling
puff...
                      and i did finish Kant's
critique of pure reason... minus two calendars...
but, so help me god, the 2nd volume was hiding
under some corner...
                           thus, from transcendental methodology
came plump apricots, plums and pears...
             sweet decay fruit baron...
              and it's called sugars in the intricacy of pulp...
lazily grown, dangling on that caricature of
a formerly known: full crop of wheat-crude fringe.
    2 years... honest to god!
         but so many books in between...
i was given a recommendation...
i cited it already... kraszewski's magnum opus...
29 books...
                       although that's history fictionalised...
but nonetheless, it really was about
     the cossack uprising in the 17th century...
   and it was, as i once said, something i can forgive
sienkiewicz - the film version,
as in: i will not read a book once it has been adapted
to a movie... it's self-evident that too many
people have read a piece of work and are gagging
for a conversation... but where's the playground?
           ******* cherades!
  chinese whispers and a Manchurian candidate!
  i thought as much.
                          and whenever it's not a preplaned
escapade, what becomes of the day?
     was it always about a stance for carpe diem?
  syllables: di                em.
                            carpe is said with more lubricant.
corpus diem. well, that's an alternative, however
you care to think about it.
                and whenever you care to think about,
the proof is there: mishandling misnomers:
poets as tattoo artists... although no one sees the ink,
signatures on a reader's brian (purposively altered,
toward a Michael Jackon he-he, and other:
albino castratos the church venerates!)...
   that's 3 weeks in a catholic country...
  3 weeks... if only the football was better,
      i'd be called Juan Sanchez...
               but, evidently, the football is bad...
     so it's catholicism on par with a sleeping inquisition...
no one really expected Monty Python to conjure
that one... because it never really took place,
not until a trans-generational exodus
postscript 2004... once western brothels were exhausted,
and the Arab started ******* a hippo...
              then it was all about lakes and rivers
and Las Vegas 2.0 in Dubai!
                     you say quack... i say:
                                                    easy target.
and they did receive a blessing from Allah...
enough ink to write out Dante's revision of the Koran,
and some Al-Sha'ke'pir to write a play called:
the Merchant of Mecca.
  last time i heard, when the reformation was
plauging Christendom, no one invited the Arabs...
these days i think the little Lutherans of Islam
watched too many historical movies...
me? pick up a crucifix and march to Jerusalem?
  and is that going to translate into:
   blame the populists! blame the nationalists!
it's like watching a circus... why is the Islamic
reformation asking for third party associates?
                  i was happy listening to
the klinik... albums: eat your heart out...
time + plague...
                             once again: the world narrative
gags for enough people to conjure up
     a placebo solipsism... and that's placebo
with a squiggly prefix (meaning? how far
that ambiguity will take you) - ~placebo...
well: since existentialists were bores...
it's about time to head for Scandinavia
   and ask: is that " ''                 for passing on
an inheritance, or better still: ripe for
acknowledging ambiguity?
                          and if you can shove this
  into your daily narrative... you better be
a connaisseur of chinese antiques...
                frailty... then again, theres: ******;
well hell yeah *****'h, it's a murky underwold
after all.
                     and yes: that's called a petting word...
some say hombre, and we'll all be amigos
and muskateers at the end of the story.
                                    finally... i feel like i'm writing
a poem that i'll never end...
              why? it was supposed to be about
how John Casimir of Sweden championed
  the crown away from his brother Prince Charles
(volume 1)...
                      the bishop of Breslau...
a recluse... couldn't ride a horse...
    then again: nothing worthy imitation...
beginning with a donkey...
                               the transfiguration of palms
into whips... 2000 years later
talk of Hercules is madness... that other bit?
complete sanity.
                              well... if that be the case...
the book is there... i signed it, 2nd volume of
Kant's critique...
  
| | | | | | | | | | | | | | | | | |
| | | | | | | | | | | | | | | | | |
| | | | | | | | | | | | | | | | | |
| | | | | | | | | | | | | | | | | |
| | | | | | | | | | | | | Y| | | |
| | | | | | | | | | | | | | | | | |
| | | | | | | | | | | | | | | | | |

        an oak... in a forest of pine...
an oak in pine wood...

then onto the wood of sighs:

aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
aH aH aH aH aH aH aH aH
          (somehow the surd escapes,
and later morphs into, but prior to)

a short script: variation on MW...

      pears' worth of blunting runes:
opulance s and ᛋ - versus z,
    congregation minor: the interchange, ß,
buttocks and *****, minus phantoms of erotica.
yet, taking into account trigonometry...
sine (genesis 0), and cosine (genesis 1),
or            M                                   W
(no Jew would dare believe the Latins have
the second 'alf of the proof: that loophole of all
things qab-cannibal-mystic - cravat donning
mystique - a flit's worth of sharpening,
or dental grit... flappy tongue,
flabby oyster, lazing for a crab's palette)...
so?

1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0

of course there's an
Sissy Gunawan Jan 2017
Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melepas seikat rindu
Untuk seseorang berpandangan sayu
Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu
Seberat langit mendung yang sendu
Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan
Sembari menanti hentinya rintik hujan
Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah
Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah

Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melekatkan seikat harapan
Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan
Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi
Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi
Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri*

-------------------------------------------------------­------------------------------------

Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat
Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah
Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah

Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah,
Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya,
Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku,
Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu,
Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu,
Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
Loveeyta Jul 2017
Malam itu hujan,
Entah Tuhan ingin membuatku semakin sedih karena suasana yang mendukung,
Atau  Tuhan tidak ingin semua mengetahui kalau aku menangis.

Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu membuat aku bertanya,
Apakah kamu benar-benar orang yang pernah aku sayang dahulu?
Apakah kamu benar-benar orang yang selama ini aku perjuangkan?

Karena malam itu ketika hujan,
Aku seperti tidak mengenal dirimu.

Malam itu hujan,
Ketika semua perkataan yang keluar dari mulutmu tidak lebih hanya membuat aku merasa sakit,
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita baik-baik saja?
Apakah benar ini balasan dari semua usahaku untuk membuat kita tidak bertemu kata perpisahan?

Tapi tidak dengan malam itu ketika hujan,
Kamu bersikap seperti orang asing yang tidak aku kenal,
Kamu mendorongku untuk pergi dari kehidupanmu,
Kamu itu siapa?
Aku yakinkan diriku sekali lagi,
Apa kamu benar-benar orang yang selama ini aku sayang?

Malam itu hujan,
Aku tidak bisa berkutik kecuali meneteskan air mata,
Semudah itu untukmu?
Ketika selama ini aku bertahan dengan alasan yang mengharuskan diriku untuk pergi,
Semudah itu untukmu?
Ketika aku harus menahan rindu setiap malam,
Bertanya-tanya apakah dirimu baik saja di sana,
Semudah itu untukmu?

Tapi aku tidak menyalahkan malam itu ketika hujan,
Kepergianmu malam itu membuat aku sadar,
Kenapa aku terlalu takut untuk pergi sebelumnya,
Sedangkan kamu bisa melakukan dengan semudah itu?

Pergilah, aku merelakanmu.
Pergilah, bawa hujan di malam itu sebagai simbol akhir dari segalanya,
Pergilah, jangan pernah kau menoleh ke belakang untuk melihatku,
Aku yakin akan baik-baik saja,
Walau kini aku masih menangis bersama hujan.
emisahida Oct 2014
Hentian tak bermakna tiba
kegelapan tak semestinya hiba
keindahan tunjang sehingga pucuknya
bukanlah anugerah dalam sekilat cahaya
sambungan cerita kita yang punya
tapi beza adaptasinya
terkadang patah renyuk tak disangka
terkadang wangi semerbak bunga
terkadang terik memancar sinar
terkadang kaku kelu membisu
namanya perjuangan masihkan kekal
entahkan wujud entahkan binasa
menggapai semua mampukah kita
menyelongkar hingga tak ketemu jua
masakan diri menongkah jaya
moga memijak di alam nyata
agar sempurna gambaran selamanya....
Bintun Nahl 1453 Mar 2015
Hinanya Kematian Mustafa Kemal Attatürk yang Dikenal sebagai ‘Bapak Modernisasi Turki’ dari perspektif Barat, dia sebenarnya adalah tokoh yang meng’sekuler’kan dan ‘membunuh’ syiar Islam di Turki. Siapa lagi jika bukan Mustafa Kemal Attatürk yang diberi gelar Al-Ghazi (orang yang memerangi). "Attatürk" berarti "Bapak Orang Turki". Attatürk adalah orang yang bertanggung jawab meruntuhkan Khilafah Islam Turki pada tahun 1924. H.S. Armstrong, salah seorang pembantu Attatürk dalam bukunya yang berjudul Al-Zi’bu Al-Aghbar atau Al-Hayah Al-Khasah Li Taghiyyah telah menulis: "Sesungguhnya Attatürk adalah keturunan Yahudi, nenek moyangnya adalah Yahudi yang pindah dari Spanyol ke pelabuhan Salonika". Golongan Yahudi ini dinamakan dengan Yahudi "Daunamah" yang terdiri dari 600 keluarga. Mereka mengaku beragama Islam hanya sebagai identitas, tetapi masih menganut agama Yahudi secara diam-diam. Ini diakui sendiri oleh bekas Presiden Israel, Yitzak Zifi, dalam bukunya Daunamah terbitan tahun 1957. Attatürk mengubah ucapan Assalamualaikum menjadi Marhaban Bikum (Selamat Datang), melarang menggunakan busana Islam dan sebaliknya mewajibkan memakai pakaian ala Barat. Dalam tempo beberapa tahun saja, dia berhasil menghapuskan perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha serta melarang kaum muslim menunaikan ibadah Haji, melarang poligami dan melegalkan perkawinan wanita muslim dengan non muslim. Dia membatalkan libur pada hari Jum'at, melarang adzan dalam bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa Turki. Tindakan yang dilakukan oleh Attatürk ini nyata sekali telah memisahkan budaya Turki dari akar agama Islam dan menghapuskan Islam sebagai agama resmi negara Turki. Attatürk berusaha keras untuk menghancurkan para penentangnya. Dia membakar majelis-majelis, menangkap para pimpinan majelis dan juga mengawasi para ulama. Attatürk pernah menegaskan bahwa “negara tidak akan maju kalau rakyatnya tidak cenderung kepada pakaian modern”. Dia menggalakkan minum arak secara terbuka, mengubah Al-Quran yang kemudian dicetak dalam bahasa Turki. Bahasa Turki sendiri diubah dengan membuang unsur-unsur Arab dan Parsi. Attatürk mengubah Masjid Besar Aya Sofia menjadi gereja dan setengahnya untuk musium, menutup masjid serta melarang shalat berjamaah, menghapuskan Kementerian Wakaf dan membiarkan anak-anak yatim dan fakir miskin. Dia membatalkan undang-undang waris, faraid secara Islam, menghapus penggunaan kalendar Islam dan mengganti huruf Arab ke dalam huruf Latin. Attatürk mengganggap dirinya tuhan sama seperti firaun. Ketika itu ada seorang prajurit ditanya “siapa tuhan dan di mana tuhan tinggal?” karena takut, prajurit tersebut menjawab "Kemal Attatürk adalah tuhan”, dia tersenyum dan bangga dengan jawaban yang diberikan. Saat-saat menjelang kematiannya, Allah mendatangkan kepadanya beberapa penyakit yang membuatnya tersiksa dan tak dapat menanggung azab yang Allah berikan di dunia, diantaranya penyakit kulit dimana dia merasakan gatal di sekujur tubuh. Dia juga menderita penyakit jantung dan darah tinggi. Kemudian rasa panas sepanjang hari, tidak pernah merasa sejuk sehingga pompa air dikerahkan untuk menyirami rumahnya selama 24 jam. Attatürk juga menyuruh para pembantunya untuk meletakkan kantong-kantong es di dalam selimut untuk membuatnya sejuk. Maha Suci Allah, walau telah berusaha keras, tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mengusir rasa panas itu. Oleh karena tidak tahan dengan panas yang dirasakan, dia menjerit sangat keras hingga seluruh istana mendengarnya. Karena tidak tahan mendengar jeritan, para pembantunya membawa Attatürk ke tengah lautan dan diletakkan dalam kapal dengan harapan beliau akan merasa sejuk. Maha Besar Allah, panasnya tak juga hilang!! Pada 26 September 1938, dia pingsan selama 48 jam disebabkan panas yang dirasakannya dan kemudian sadar tetapi dia hilang ingatan. Pada 9 November 1938, dia pingsan sekali lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia. Ketika itu tidak ada yang mau mengurus jenazahnya sesuai syariat. Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuannya datang meminta ulama-ulama Turki untuk memandikan, mengkafankan dan menshalatkannya. Tidak cukup sampai disitu, Allah tunjukkan lagi azab ketika mayatnya akan dimakamkan. Sewaktu mayatnya hendak ditanam, tanah tidak menerimanya (tak dapat dibayangkan bagaimana jika tanah tidak menerimanya). Karena tidak diterima tanah, mayatnya diawetkan sekali lagi dan dimasukkan ke dalam musium yang diberi nama EtnaGrafi selama 15 tahun hingga tahun 1953. Setelah 15 tahun mayatnya hendak dikuburkan kembali, tapi Allah Maha Agung, bumi sekali lagi tak menerimanya. Sampai akhirnya mayat Attaturk dibawa ke satu bukit dan disimpan dalam celah-celah marmer seberat 44 ton. Lebih menyedihkan lagi, ulama-ulama yang sezaman dengan Attatürk mengatakan bahwa jangankan bumi Turki, seluruh bumi Allah ini tidak akan menerimanya. Naudzubillah.
Noandy Jan 2017
Sebuah cerita pendek*

Saat itu mereka sering menonton Mak Lampir di televisi, dan mulai memanggil wanita yang merupakan nenek kandungnya dengan nama yang sama.

Nenek itu punya nama, dan jelas namanya bukan Lampir. Tapi apa pedulinya anak-anak itu dengan nama aslinya? Mereka tak pernah mendengar nama nenek disebut. Mereka sendiri yatim-piatu, dan dahulu, orangtuanya tak pernah mengajarkan nama nenek mereka. Tapi begitu melihat Mak Lampir di teve, mereka langsung mendapat ide untuk memanggil nenek sebagai Mak Lampir. Rambutnya nenek putih panjang dan tiap malam dibiarkan terurai, ia sedikit bungkuk dengan kedua tangan yang terlihat begitu kuat dan cekatan. Matanya senantiasa melotot—bukan karena suka marah, tapi memang bentuknya seperti itu. Yang terbaik dari nenek, meski giginya menghitam sudah, nenek selalu berbau harum karena suka meramu minyak wanginya sendiri. Mereka tidak takut melihat Mak Lampir—mereka justru kagum karena sosok itu mengingatkan pada nenek yang selalu menjaga mereka.

Si nenek sama sekali tidak keberatan dengan julukan itu, ia malah merasa nyaman. Disebut sebagai Mak Lampir membuatnya merasa seperti orang tua yang sakti, hebat, dan serba bisa. Nenek adalah Mak Lampir baik hati yang selalu mengabulkan permohonan cucu-cucunya, serta memberi mereka wejangan. Jenar dan Narsih sayang dan berbakti pada nenek. Nenek—yang sekarang berubah panggilan menjadi Mak—adalah dunia mereka. Dua gadis itu dapat menghapal tiap lekuk pada keriput Mak, menebak-nebak warna baju apa yang akan dipakai Mak pada hari mendung, bahkan mereka ingat betul kapan saja uban-uban Mak mulai bermunculan.

Mak awalnya tidak menyukai, bahkan hampir membenci, dua anak gadis yang harus diurusinya. Ia terlalu tua untuk melakukan hal ini lagi. Wanita  yang sudah tak ingat dan tak ingin menghitung usianya lebih memilih kembang-kembang di taman ketimbang Jenar dan Narsih.  Mak lebih memilih segala tanaman yang ada di rumah kaca sederhananya ketimbang dua cucunya.

Tapi saat sedang menyirami bunga matahari dan membiarkan Jenar serta Narsih bergulingan tertutup tanah basah, Mak merasa seolah ada yang membisikinya, “Sama-sama dari tanah, sama-sama tumbuh besar. Dari tanah, untuk tanah, kembali ke tanah.” Wangsit itu langsung membawa matanya yang sudah sedikit rabun namun tetap nyalang pada sosok dua cucunya yang sudah tak karu-karuan, menghitam karena tanah.

Sejak saat itulah Mak menganggap Jenar dan Narsih sebagai kembang. Sebagai kembang. Sebagai kembang dan seperti kembang yang ia tanam dan kelak akan tumbuh cantik nan indah. Harum, subur, anggun, lebur. Perlahan Mak mulai meninggalkan kebun dan rumah kacanya, perhatiannya ia curahkan untuk Jenar dan Narsih, yang namanya Mak singkat sebagai Jenarsih saat ingin memanggil keduanya sekaligus. Jenarsih dijahitkannya baju-baju berwarna, diberi makanan sayur-mayur yang sehat, diajarkannya meramu minyak wangi, bahkan diberi minum jamu secara terjadwal sebagaimana Mak menyirami bunga.

Kebun Mak perlahan-lahan melayu dan makin sayu. Saat matahari mengintip, tidak ada bebunga yang tergoda untuk mekar. Semuanya redup dan meredup, mentari pun meredup pula di kebun Mak. Karena sirnanya kembang dan embun, Mak tak lagi bisa memetik dari kebunnya untuk membuat wewangian khasnya. Mak jadi sering menyuruh Jenarsih untuk memborong bunga.

Tapi sebagaimana ada gelap ada terang, selepas kebun yang muram, kau akan memasuki beranda rumah di mana matahari tak henti-hentinya bersinar. Bagian dalam rumah yang ditinggali seorang nenek ranum dan cucu-cucunya itu melukiskan hari cerah di musim penghujan.

Di musim penghujan
Di musim penghujan
Musim penghujan
Membawa mendung dan kabut yang menyelubungi mentari.

Narsih jatuh sakit, ia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah
Darah merah
Darah
Merah
Jenar selalu di sisinya dan melarang Mak untuk mendekat karena takut tertular.

Mak, meski tak lagi dapat menghitung umurnya, mati-matian menawarkan Jenar agar mau digantikan oleh Mak saja. Umur Mak tak bakal sebanyak Jenar, mending Mak saja yang di sisi Narsih, katanya. Tapi Jenar tak mau tahu, ia lebih memilih berada di sisi kembarannya ketimbang menuruti perkataan Mak yang biasanya tak pernah ia bantah. Semenjak itu mentari tak lagi menyembul. Kebun telah mati, rumah kaca tak lagi rumah kaca, beranda dingin, dan setiap hari adalah penghujan yang tak pernah mau pergi.

Hijau dan jingga hangat berubah menjadi rona kehitaman dalam hijau pucat. Ranting-ranting serta daun memenuhi jalan. Sesekali Mak mengantarkan makanan ke depan pintu kamar Jenarsih, tapi sebagian besar usia senjanya kini dihabiskan mengurung diri di kamarnya setelah Jenar ikut membatukkan darah.

Di suatu sore Mak tidak memperdulikan apapun lagi. Ia menghambur masuk ke kamar Jenarsih dan bersimpuh di bawah kasur kedua cucunya. Jenarsih tak punya tenaga lebih untuk menghalangi Mak, mereka hanya punya satu permintaan. Satu keinginan yang kira-kira dapat membuat mereka merasa lebih baik.

Dengan tersengal-sengal,
“Mak Lam, Jenar dan Narsih ingin bunga matahari.”
“Akan Mak belikan segera di pasar kembang.”
“Ndak mau, Mak. Ingin yang Mak tanam seperti dulu.”
“Nanti menunggu lama,”
“Kami ingin itu, Mak.”

Mak tak membalas berkata. Hanya mengangguk lemas dan bergegeas meninggalkan kamar kedua cucunya, bunga yang telah layu. Di tengah hujan, dengan punggung sedikit bungkuk, tangan yang kuat, wanginya yang digantikan oleh bau tanah, dan gigi yang menghitam meringis menahan tangis, Mak Lampir berusaha menghidupkan kembali kebunnya yang mati. Mak Lampir seolah mau, dan dapat membangkitkan yang mati.

Tapi Mak Lampir tak dapat menyembuhkan.

Segera dibelinya bibit bunga matahari, dan di tanam dalam rumahnya yang kini sunyi.

Mak Lampir sudah tak dapat mengolah minyak bunga yang membuatnya selalu harum,
Sudah tak dapat meminta Jenarsih untuk membeli bunga yang mewarnai rumah mereka,
Sudah tak dapat melihat warna selain hijau, hitam, dan coklat.

Mak Lampir, menangisi kebun yang dahulu ditinggalkannya.

Apa untuk mendapatkan sesuatu selalu harus ada yang dikorbankan? Dan kini kebun, kembang, ranting, dan rumah kaca menuntut balas?
Diam-diam Mak menyelinap ke kamar Jenarsih, diambilnya darah cucu kesayangannya dan ia gunakan untuk menggantikan wewangian yang kini tak dapat ia buat lagi—salah satu cara yang ia gunakan untuk mengingatkannya bahwa Jenarsih masih ada bersamanya.

Mak Lampir sudah tak tahu berapa lama waktu berlalu selama ia hanya memperhatikan bunga matahari milik Jenar dan Narsih. Bunga itu, entah karena apa, tak dapat tumbuh. Mungkin Mak telah kehilangan tangan hijau dan kemampuannya untuk berkebun. Mak kembali ke rumah dan melihat Jenar serta Narsih masih terlelap tak bergerak, lalu ia ambil lagi sebotol kecil darah untuk menjaga wangi tubuhnya.

Ia tahu itu akan membuatnya sakit, dan hal ini akan dapat membuatnya merasakan penderitaan Jenarsih. Wanita tua yang rambut putihnya memerah karena darah kedua cucunya itu terheran-heran mengapa ia tak merasakan sakit di manapun kecuali di hatinya. Pedih di hati saat melihat Jenarsih.

Dibelinya lagi lebih banyak tanah dan bibit bunga matahari. Mak Lampir harus menemukan ramuan yang tepat untuk menumbuhkan bunga matahari yang sempurna. Bunga matahari hasil tanamnya sendiri yang akan membuat Jenarsih baikan. Mak tidak membawa jam, apalagi kalender. Mak hanya mengandalkan matahari untuk menyirami bunga mataharinya sendirian di rumah kaca kecil kumal sambil memakan dedaunan kering.

Di tengah malam, Mak yang kuat menitikkan air mata pada ***-*** bunga matahari di hadapannya. Berbotol-botol kecil minyak wangi dari darah Jenar dan Narsih perlahan ia teteskan pada *** yang tak kunjung berbunga juga. Perlahan, perlahan, perlahan. Lalu lambat laun menyesuaikan dengan jadwal menyiram bunga matahari yang seharusnya.

Dari tanah kembali ke tanah,
Dari tanah untuk tanah,
Dari tanah kembali ke tanah.

Desir angin menggesekkan dedaunan, membuat Mak mendengar bisikan itu lagi dan terbangun.
Mak mengusap matanya yang seolah mencuat keluar dan melihat bunga-bunga matahari berkelopak merah menyembul, mekar dengan indah pada tiap potnya. Hati mak berbunga-bunga. Bunga matahari merah berbunga-bunga. Matahari Jenarsih berbunga-bunga.

Tangan kuat Mak segera menggapai dan mencengkram dua *** tanah liat dan ia berlari memasuki beranda rumah yang pintunya telah reot. Dari jauh sudah berteriak, “Jenar, Narsih, Jenarsih!!”
Mak seolah mendengar derap langkah dari arah berlawanan yang akan menyambutnya, tapi derap itu tak terdengar mendekat. Maka berteriaklah Mak sekali lagi,

“Mak bawa bungamu Jenarsih! Bunga matahari merah yang cantik!”

Lalu Mak dorong dengan pundaknya pintu kamar Jenarsih yang meringkik ringkih,
Mak terdiam memeluk *** bunga,
Jenarsih terlelap seperti terakhir kali Mak meninggalkannya,

Sebagai tulang belulang semata.

                                                            ///

Aku menutup laptop setelah menonton ulang episode Mak Lampir Penghuni Rumah Angker yang aku dapat dari internet—episode yang membawaku kembali ke masa kecil saat Misteri Gunung Merapi masih ditayangkan di teve, dan aku menonton dengan takut. Di tengah kengerianku, ibu malah menceritakan kisah tentang Mak Lampir dan bunga matahari yang diyakininya sebagai kisah nyata.

Sekarang episode sinetron itu tak lagi membuatku bergidik, malah tutur ibu yang masih membekas. Kisah itu seringkali terulang dalam alam pikirku, terutama saat melirik rumah reot tetangga di ujung jalan yang dipenuhi dengan bunga matahari merah.


Januari, 2017
Aridea P Nov 2011
Palembang, Sabtu 8 Januari 2011

Please ... Dont!
Jangan buat hidupku rumit lagi, Cinta
Cukup! Sudah cukup aku mengenal mu
Sekarang aku mau sendiri dulu

Yang aku mau hanya memiliki 1000 Sahabat
Soal jodoh, tunggulah hingga umur ku 23
Please ... Aku mohon ...
Ku lelah memikirkannya terus
Aku lelah tuk berlagak sok sempurna
Kau kan tahu bahwa aku manusia terbodoh sedunia

Tolonglah, cinta
Jangan bikin rumit lagi hati ku
Sudah cukup yang kemarin
Di mana karena ikatan
Aku berubah menjadi orang lain

Cinta, bila kali ini kau bersungguh
Sampaikan pada Tuhan
Bahwa aku ingin kembali menjalin cinta
Jika Dia memudahkan jalannya
Coop Lee Dec 2014
she’s the girl who sets a room on fire with laughs or real flame,
         and she stands in that same flame; ranting about herself
         with blissful intention:
                        aries.
she’s the girl who mows the lawn all day to throw a memorable party
          on perfectly pitched grass; but then spends the entire party
          with that one guy on that one roof, just the two of them:
                        taurus.
she’s the girl who ***** you fiercest only to then display sudden and
          crippling bouts of madness; she’s one of a kind, or two of a kind,
          and she means some kind of love:
                        gemini.
she’s the girl who you fall for so easily, and she falls for you so easily,
          and everything is a dream; but a dream transforms, seasons transform,
          and the peopled cities with them:
                        cancer.
she’s the girl who steals the show every time, and she leans on you
          when  she’s tired and lonely; she reads science fiction books
          and tells you all the endings, strange planets fixtured in her dreams:
                        leo.
she’s the girl who thinks too much, drinks too much, and weighs you for all
           your words; but words are her demise as she digs her arms deeper
           into the dirt to catch that feeling:
                        virgo.
she’s the girl who piles a shrine of shiny occult objects and spools through
          men like shiny other objects; she has a beautiful heart, holy or not,
          but without a doubt, entirely stylish:
                        libra.
she’s the girl who doesn't believe a ******* thing you say but kisses you
          harder when you say it; she takes you up the hill to her folks
          and they sacrifice you for blood mana:
                        scorpio.
she’s the girl who knows you best and knows even better she’s far beyond
         the depths of your league; she has deafening dreams, with or without
         you in them; for ruins she will climb or create:
                        sagittarius.
she’s the girl who buys the popcorn and eats the popcorn and sulks on
         the couch while tonguing kernels out of her teeth; she will never
         truly love you, just the idea of you:
                        capricorn.
she’s the girl who saves your life with a tracheotomy when you nearly die
         on that plum street seed; she will leave you for a another man, a man
         with a good rifle and a warm little tent:
                        aquarius.
she’s the girl who sees synchronicity in all things, all life, all dreams
         and emanations; she will love you until the smell of mexico drags her
         away upon a neverending weekend:
                        pisces.
dengan apa aku harus mencintaimu?

bertahun-tahun aku habiskan untuk
mencari namamu
entah pada do'a yang mana atau
pada ayat ke berapa

dengan apa aku harus mencintaimu?

bertahun-tahun aku lewatkan demi
menemukanmu
entah pada sunyi yang mana atau
pada sepi di mana

dengan apa aku harus mencintaimu?

bertahun-tahun aku arungi dengan
menyusuri jejakmu
entah pada dzikir yang bagaimana
atau sujud yang mana

dengan apa aku harus mencintaimu?

bertahun-tahun aku membayangkan
wajahmu pada
setiap entah dan setiap langkah yang
ngungun lalu

aku bertanya:

dengan apa aku harus mencintaimu?
2017
Bintun Nahl 1453 Mar 2015
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.
Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.
Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja.
Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari..
Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat..
Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!!
Maka telah tertutuplah pintu taubat..
Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi..
Bismillahirrahmanirrahim.
¿Por qué volvéis a la memoria mía,
Tristes recuerdos del placer perdido,
A aumentar la ansiedad y la agonía
De este desierto corazón herido?
¡Ay! que de aquellas horas de alegría
Le quedó al corazón sólo un gemido,
Y el llanto que al dolor los ojos niegan
Lágrimas son de hiel que el alma anegan.

¿Dónde volaron ¡ay! aquellas horas
De juventud, de amor y de ventura,
Regaladas de músicas sonoras,
Adornadas de luz y de hermosura?
Imágenes de oro bullidoras.
Sus alas de carmín y nieve pura,
Al sol de mi esperanza desplegando,
Pasaban ¡ay! a mi alredor cantando.

Gorjeaban los dulces ruiseñores,
El sol iluminaba mi alegría,
El aura susurraba entre las flores,
El bosque mansamente respondía,
Las fuentes murmuraban sus amores...
ilusiones que llora el alma mía!
¡Oh, cuán suave resonó en mi oído
El bullicio del mundo y su ruido!

Mi vida entonces, cual guerrera nave
Que el puerto deja por la vez primera,
Y al soplo de los céfiros suave
Orgullosa desplega su bandera,
Y al mar dejando que sus pies alabe
Su triunfo en roncos cantos, va velera,
Una ola tras otra bramadora
Hollando y dividiendo vencedora.

¡Ay! en el mar del mundo, en ansia ardiente
De amor velaba; el sol de la mañana
Llevaba yo sobre mi tersa frente,
Y el alma pura de su dicha ufana:
Dentro de ella el amor, cual rica fuente
Que entre frescuras y arboledas mana,
Brotaba entonces abundante río
De ilusiones y dulce desvarío.

Yo amaba todo: un noble sentimiento
Exaltaba mi ánimo, Y sentía
En mi pecho un secreto movimiento,
De grandes hechos generoso guía:
La libertad, con su inmortal aliento,
Santa diosa, mi espíritu encendía,
Contino imaginando en mi fe pura
Sueños de gloria al mundo y de ventura.

El puñal de Catón, la adusta frente
Del noble Bruto, la constancia fiera
Y el arrojo de Scévola valiente,
La doctrina de Sócrates severa,
La voz atronadora y elocuente
Del orador de Atenas, la bandera
Contra el tirano Macedonio alzando,
Y al espantado pueblo arrebatando:

El valor y la fe del caballero,
Del trovador el arpa y los cantares,
Del gótico castillo el altanero
Antiguo torreón, do sus pesares
Cantó tal vez con eco lastimero,
¡Ay!, arrancada de sus patrios lares,
Joven cautiva, al rayo de la luna,
Lamentando su ausencia y su fortuna:

El dulce anhelo del amor que guarda,
Tal vez inquieto y con mortal recelo;
La forma bella que cruzó gallarda,
Allá en la noche, entre medroso velo;
La ansiada cita que en llegar se tarda
Al impaciente y amoroso anhelo,
La mujer y la voz de su dulzura,
Que inspira al alma celestial ternura:

A un tiempo mismo en rápida tormenta
Mi alma alborotaban de contino,
Cual las olas que azota con violenta
Cólera impetuoso torbellino:
Soñaba al héroe ya, la plebe atenta
En mi voz escuchaba su destino:
Ya al caballero, al trovador soñaba,
Y de gloria y de amores suspiraba.

Hay una voz secreta, un dulce canto,
Que el alma sólo recogida entiende,
Un sentimiento misterioso y santo,
Que del barro al espíritu desprende;
Agreste, vago y solitario encanto
Que en inefable amor el alma enciende,
Volando tras la imagen peregrina
El corazón de su ilusión divina.

Yo, desterrado en extranjera playa,
Con los ojos extático seguía
La nave audaz que en argentado raya
Volaba al puerto de la patria mía:
Yo, cuando en Occidente el sol desmaya,
Solo y perdido en la arboleda umbría,
Oír pensaba el armonioso acento
De una mujer, al suspirar del viento.

¡Una mujer!  En el templado rayo
De la mágica luna se colora,
Del sol poniente al lánguido desmayo
Lejos entre las nubes se evapora;
Sobre las cumbres que florece Mayo
Brilla fugaz al despuntar la aurora,
Cruza tal vez por entre el bosque umbrío,
Juega en las aguas del sereno río.

¡Una mujer!  Deslizase en el cielo
Allá en la noche desprendida estrella,
Si aroma el aire recogió en el suelo,
Es el aroma que le presta ella.
Blanca es la nube que en callado vuelo
Cruza la esfera, y que su planta huella,
Y en la tarde la mar olas le ofrece
De plata y de zafir, donde se mece.

Mujer que amor en su ilusión figura,
Mujer que nada dice a los sentidos,
Ensueño de suavísima ternura,
Eco que regaló nuestros oídos;
De amor la llama generosa y pura,
Los goces dulces del amor cumplidos,
Que engalana la rica fantasía,
Goces que avaro el corazón ansía:

¡Ay! aquella mujer, tan sólo aquélla,
Tanto delirio a realizar alcanza,
Y esa mujer tan cándida y tan bella
Es mentida ilusión de la esperanza:
Es el alma que vívida destella
Su luz al mundo cuando en él se lanza,
Y el mundo, con su magia y galanura
Es espejo no más de su hermosura:

Es el amor que al mismo amor adora,
El que creó las Sílfides y Ondinas,
La sacra ninfa que bordando mora
Debajo de las aguas cristalinas:
Es el amor que recordando llora
Las arboledas del Edén divinas:
Amor de allí arrancado, allí nacido,
Que busca en vano aquí su bien perdido.

¡Oh llama santa! ¡celestial anhelo!
¡Sentimiento purísimo! ¡memoria
Acaso triste de un perdido cielo,
Quizá esperanza de futura gloria!
¡Huyes y dejas llanto y desconsuelo!
¡Oh qué mujer! ¡qué imagen ilusoria
Tan pura, tan feliz, tan placentera,
Brindó el amor a mi ilusión primera!...

¡Oh Teresa! ¡Oh dolor! Lágrimas mías,
¡Ah! ¿dónde estáis que no corréis a mares?
¿Por qué, por qué como en mejores días,
No consoláis vosotras mis pesares?
¡Oh! los que no sabéis las agonías
De un corazón que penas a millares
¡Ay! desgarraron y que ya no llora,
¡Piedad tened de mi tormento ahora!

¡Oh dichosos mil veces, sí, dichosos
Los que podéis llorar! y ¡ay! sin ventura
De mí, que entre suspiros angustiosos
Ahogar me siento en infernal tortura.
¡Retuércese entre nudos dolorosos
Mi corazón, gimiendo de amargura!
También tu corazón, hecho pavesa,
¡Ay! llegó a no llorar, ¡pobre Teresa!

¿Quién pensara jamás, Teresa mía,
Que fuera eterno manantial de llanto,
Tanto inocente amor, tanta alegría,
Tantas delicias y delirio tanto?
¿Quién pensara jamás llegase un día
En que perdido el celestial encanto
Y caída la venda de los ojos,
Cuanto diera placer causara enojos?

Aun parece, Teresa, que te veo
Aérea como dorada mariposa,
Ensueño delicioso del deseo,
Sobre tallo gentil temprana rosa,
Del amor venturoso devaneo,
Angélica, purísima y dichosa,
Y oigo tu voz dulcísima y respiro
Tu aliento perfumado en tu suspiro.

Y aún miro aquellos ojos que robaron
A los cielos su azul, y las rosadas
Tintas sobre la nieve, que envidiaron
Las de Mayo serenas alboradas:
Y aquellas horas dulces que pasaron
Tan breves, ¡ay! como después lloradas,
Horas de confianza y de delicias,
De abandono y de amor y de caricias.

Que así las horas rápidas pasaban,
Y pasaba a la par nuestra ventura;
Y nunca nuestras ansias la contaban,
Tú embriagada en mi amor, yo en tu hermosura.
Las horas ¡ay! huyendo nos miraban
Llanto tal vez vertiendo de ternura;
Que nuestro amor y juventud veían,
Y temblaban las horas que vendrían.

Y llegaron en fin: ¡oh! ¿quién impío
¡Ay! agostó la flor de tu pureza?
Tú fuiste un tiempo cristalino río,
Manantial de purísima limpieza;
Después torrente de color sombrío
Rompiendo entre peñascos y maleza,
Y estanque, en fin, de aguas corrompidas,
Entre fétido fango detenidas.

¿Cómo caiste despeñado al suelo,
Astro de la mañana luminoso?
Ángel de luz, ¿quién te arrojó del cielo
A este valle de lágrimas odioso?
Aún cercaba tu frente el blanco velo
Del serafín, y en ondas fulguroso
Rayos al mando tu esplendor vertía,
Y otro cielo el amor te prometía.

Mas ¡ay! que es la mujer ángel caído,
O mujer nada más y lodo inmundo,
Hermoso ser para llorar nacido,
O vivir como autómata en el mundo.
Sí, que el demonio en el Edén perdido,
Abrasara con fuego del profundo
La primera mujer, y ¡ay! aquel fuego
La herencia ha sido de sus hijos luego.

Brota en el cielo del amor la fuente,
Que a fecundar el universo mana,
Y en la tierra su límpida corriente
Sus márgenes con flores engalana.
Mas ¡ay! huid: el corazón ardiente
Que el agua clara por beber se afana,
Lágrimas verterá de duelo eterno,
Que su raudal lo envenenó el infierno.

Huid, si no queréis que llegue un día
En que enredado en retorcidos lazos
El corazón con bárbara porfía
Luchéis por arrancároslo a pedazos:
En que al cielo en histérica agonía
Frenéticos alcéis entrambos brazos,
Para en vuestra impotencia maldecirle,
Y escupiros, tal vez, al escupirle.

Los años ¡ay! de la ilusión pasaron,
Las dulces esperanzas que trajeron
Con sus blancos ensueños se llevaron,
Y el porvenir de oscuridad vistieron:
Las rosas del amor se marchitaron,
Las flores en abrojos convirtieron,
Y de afán tanto y tan soñada gloria
Sólo quedó una tumba, una memoria.

¡Pobre Teresa! ¡Al recordarte siento
Un pesar tan intenso!  Embarga impío
Mi quebrantada voz mi sentimiento,
Y suspira tu nombre el labio mío.
Para allí su carrera el pensamiento,
Hiela mi corazón punzante frío,
Ante mis ojos la funesta losa,
Donde vil polvo tu bondad reposa.

Y tú, feliz, que hallastes en la muerte
Sombra a que descansar en tu camino,
Cuando llegabas, mísera, a perderte
Y era llorar tu único destino:
¡Cuando en tu frente la implacable suerte
Grababa de los réprobos el sino!
Feliz, la muerte te arrancó del suelo,
Y otra vez ángel, te volviste al cielo.

Roída de recuerdos de amargura,
Árido el corazón, sin ilusiones,
La delicada flor de tu hermosura
Ajaron del dolor los aquilones:
Sola, y envilecida, y sin ventura,
Tu corazón secaron las pasiones:
Tus hijos ¡ay! de ti se avergonzaran
Y hasta el nombre de madre te negaran.

Los ojos escaldados de tu llanto,
Tu rostro cadavérico y hundido;
único desahogo en tu quebranto,
El histérico ¡ay! de tu gemido:
¿Quién, quién pudiera en infortunio tanto
Envolver tu desdicha en el olvido,
Disipar tu dolor y recogerte
En su seno de paz? ¡Sólo la muerte!

¡Y tan joven, y ya tan desgraciada!
Espíritu indomable, alma violenta,
En ti, mezquina sociedad, lanzada
A romper tus barreras turbulenta.
Nave contra las rocas quebrantada,
Allá vaga, a merced de la tormenta,
En las olas tal vez náufraga tabla,
Que sólo ya de sus grandezas habla.

Un recuerdo de amor que nunca muere
Y está en mi corazón: un lastimero
Tierno quejido que en el alma hiere,
Eco suave de su amor primero:
¡Ay de tu luz, en tanto yo viviere,
Quedará un rayo en mí, blanco lucero,
Que iluminaste con tu luz querida
La dorada mañana de mi vida!

Que yo, como una flor que en la mañana
Abre su cáliz al naciente día,
¡Ay, al amor abrí tu alma temprana,
Y exalté tu inocente fantasía,
Yo inocente también ¡oh!, cuán ufana
Al porvenir mi mente sonreía,
Y en alas de mi amor, ¡con cuánto anhelo
Pensé contigo remontarme al cielo!

Y alegre, audaz, ansioso, enamorado,
En tus brazos en lánguido abandono,
De glorias y deleites rodeado
Levantar para ti soñé yo un trono:
Y allí, tú venturosa y yo a tu lado.
Vencer del mundo el implacable encono,
Y en un tiempo, sin horas ni medida,
Ver como un sueño resbalar la vida.

¡Pobre Teresa!  Cuando ya tus ojos
Áridos ni una lágrima brotaban;
Cuando ya su color tus labios rojos
En cárdenos matices se cambiaban;
Cuando de tu dolor tristes despojos
La vida y su ilusión te abandonaban,
Y consumía lenta calentura,
Tu corazón al par de tu amargura;

Si en tu penosa y última agonía
Volviste a lo pasado el pensamiento;
Si comparaste a tu existencia un día
Tu triste soledad y tu aislamiento;
Si arrojó a tu dolor tu fantasía
Tus hijos ¡ay! en tu postrer momento
A otra mujer tal vez acariciando,
Madre tal vez a otra mujer llamando;

Si el cuadro de tus breves glorias viste
Pasar como fantástica quimera,
Y si la voz de tu conciencia oíste
Dentro de ti gritándole severa;
Si, en fin, entonces tú llorar quisiste
Y no brotó una lágrima siquiera
Tu seco corazón, y a Dios llamaste,
Y no te escuchó Dios, y blasfemaste;

¡Oh! ¡cruel! ¡muy cruel! ¡martirio horrendo!
¡Espantosa expiación de tu pecado,
Sobre un lecho de espinas, maldiciendo,
Morir, el corazón desesperado!
Tus mismas manos de dolor mordiendo,
Presente a tu conciencia lo pasado,
Buscando en vano, con los ojos fijos,
Y extendiendo tus brazos a tus hijos.

¡Oh! ¡cruel! ¡muy cruel!... ¡Ay! yo entretanto
Dentro del pecho mi dolor oculto,
Enjugo de mis párpados el llanto
Y doy al mundo el exigido culto;
Yo escondo con vergüenza mi quebranto,
Mi propia pena con mi risa insulto,
Y me divierto en arrancar del pecho
Mi mismo corazón pedazos hecho.

Gocemos, sí; la cristalina esfera
Gira bañada en luz: ¡bella es la vida!
¿Quién a parar alcanza la carrera
Del mundo hermoso que al placer convida?
Brilla radiante el sol, la primavera
Los campos pinta en la estación florida;
Truéquese en risa mi dolor profundo...
Que haya un cadáver más, ¿qué importa al mundo?

— The End —