Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"mayat" poems
Yung akala mo kayo na Eh, part time kalang pala Ginawa ka lang palang pamaparaos Kahit katawan mo nay pinuno nya ng galos Ikaw naman tong si tanga Sabi mo sa sarili kaya mo pa Kahit damang dama **** ang sakit na Nagbabakasakali na kayo ay pwede pa Ano bang meron sa kanya? Na ang iwan siyay di mo kaya Samantalang para sa kanya Part time ka lang pala Tinatawagan ka lang kung may kailangan Binibisita lang pag walang mapaglilibangan Hahalikan ka, mayat maya ay uutangan Ganyan ba talaga ang iyong ideya nang pagmamahalan? Gayun may gusto ko sa iyoy ipa alala Na sa iyo may nagmamahal pa Hindi ka ginagawang part time, at tunay kang inaalala Sa iyong mga magulang na sa kanilay higit kapa sa ginto Sa mga kaibigan **** bukas lagi ang kanilang mga pinto Kaya kailan ka pa ba hihinto Tigilan ang pagpapakatanga at magpakatino
0
Feb 17, 2016
Feb 17, 2016 at 6:27 AM UTC
Part-time Gilfriend/ full-time TANGA
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
Patay sindi ang ilaw sa kwarto. Bawat pagsindi ay napuputol ang tulog na mga limang minuto pa lamang ang tinatagal. Kaluskos mula sa kisame ay pilit na sinasawalang bahala. Ang salamin sa aparador sa paahan ng aking kama ay mistulang naggiging larawan. Mayat maya'y nagkakaroon ng imahe ng isang babaeng naka trahe de boda. Balingkinitan ang katawan, bagsak ang balikat, bahagyang nakatungo't walang bahid ng kagalakan sa kanyang mukha. Ilang saglit lang ay mawawala. Dali-dali akong tumayo at binuksan na lamang ang pinto ng aparador. Ihinarap sa pader ang salamin, sabay balik sa aking kama. Ang loob ng aparador na lamang ang aking nakikita. Wala na ang babaeng nakaputi, di narin nagparamdam muli. Nawala narin ang nakakabahalang kaluskos sa kisame. Ang ilaw ay nanatiling nakasindi. Alas-tres na ng umaga nang ako ay nakatulog. Nagising ng alas-sais at nagmamadaling naligo't nagbihis. Iniligpit ang gamit sa bag, nagsuklay at napaharap sa salamin. Natigilan. Nakasara na ang aparador. - March 15, 2010, Vigan
0
Mar 16, 2010
Mar 16, 2010 at 1:34 AM UTC
Ang Aparador
Aku berdosa, Telingaku bunuh diri. Sudah baru-baru ini Aku sepenuhnya tuli Aku tak tahu lagi   Apa kata dedaunan Pada tanah yang terantuk lemas dibawah Atau ceracau yang diteriakkan Bunga keparat Untuk mayat dingin si kumbang. Bahkan di restoran tua Yang setiap sela kayunya berdarah dingin, Tempat rintihan musik bisumu selalu dialunayunkan Semuanya hanya tertawa hening lalu mati begitu saja. Dan meskipun duduk menghadapmu Aku masih tak dapat mendengar Suara mengaji jam setengah mati Yang kerap menceritakan Dongeng gelap kita Dari lampau sampai me— La lala la la       lala la lala La la la la la lala            La la la lalala la la La —Lampaui Pemakaman hati yang mati dipancung Di pekarangan rumah tiap senja gulana Yah, baru-baru ini aku tuli Bisu lagi, Mampunya cuma mengumpat dalam tulis. Dan dihadapkan denganmu, Sesekali dalam terkadang Aku anehnya dapat mendengar Serintikan isak tangis yang Sama sekali tidak kita cucurkan Lalu ini semua salah siapa, Kalau aku baru tuli Lalu kamu sudah bisu? Apa memang ini dosaku? Di palangnya tertulis; Nama: Siapapun yang menangis Di sela-sela pengakuan dosa Kematian telinga gila Dan kelumpuhan bibir hambar Kita tiba-tiba melongo, Tuhan tertawa Sabar lagi bahagia, Mengisyaratkan untuk Sudah, ya, Simpul mati saja senyum satu sama lain.
0
Aug 30, 2015
Aug 30, 2015 at 8:46 AM UTC
Pengakuan Dosa Penyair Tuli Pada Sebuah Film Bisu
Palembang, 30 Desember 2013 Ini terjadi lagi, tuk yang kesekian kali Jiwaku terbentur batu, keras sekali Retak, hampir pecah berapi Gesekan kemarahan dan penyelesaian hati Menjadi mayat tak berhati Tak mampu berfikir lagi Menahan diri tuk bertahan dalam raga ini Meski kaki ini tak mampu berdiri Nafas ini tak mampu berhembus lagi Hanya satu yang aku yakini Keajaiban yang benar ada di dunia ini Rencana indah Tuhan yang lain Yang tak pernah bisa dihindari Hidup tidak selalu buruk atau baik Perubahan kecil sangatlah berarti Tuk hidupku yang sunyi Aku memang sendiri Tapi ku tak ingin sembunyi Apapun yang kan terjadi akan ku hadapi aku yang memilih aku yang jalani Ini bukanlah janji Ini adalah curahan hati Keinginan yang tak mampu ku raih Namun ku jua tak lelah berlari Meraih keingnan di hidup ini Jika kalian membaca ini Tolong, hargai dan temani Aku di sini sendiri ...
0
Dec 30, 2013
Dec 30, 2013 at 2:09 AM UTC
Curahan Hati
Setoples garam, sejumput di jarinya Dikulum masa mudanya, berani. Bukan hanya menembak, menusuk Melayangkan doa istri yang merindu Menghapus sosok bapak, dari sang anak Dikenangnya pandangan serdadu itu Jarinya adalah maut, matanya adalah bidik Senapannya adalah kubur, pelebur semua cinta Juang adalah bahan bakar seruannya, Merdeka! Bambu itu simbol perjuangan, ibu Namaku akan seharum sukma bapak! Saat kawannya berkawin, bunting, mati Dia tetap bersolek layaknya gadis Gincunya dari belanda, mengucur langsung dari lubang pelornya tepat di jantung Bedaknya dari tanah desa bapaknya dulu bergundu Parfumnya alami dari pori-pori semangatnya berlari Belum lagi perhiasannya, Antingnya dari granat, meledak tepat di sisinya Kalungnya adalah medali sebagai pengingat maut, bergurau dengan nyawanya Tiba saatnya dia berbaring, lelah, terluka dan pusing Menjadi guling yang dicengkramnya Berselimut lumpur dan mayat sebagai kasurnya, lelap. Senja itu angin semilir bergema Kenangan atau mimpi, dia berandai Namun pecah ketika aku berteriak Ibu! Sudahkah? Aku lapar!
0
Aug 13, 2016
Aug 13, 2016 at 10:51 AM UTC
Sepanci Kenangan dan Perjuangan
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
0
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
OMAR SELALU MENGELUH
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza Saat bangun tidur badanku terasa lemas. Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur. Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal. Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif. Memposting apapun yang sedang dia alami. Omar mengeluh susah tidur. Kedinginan berselimut kain tipis usang. Banyak nyamuk masuk ke tendanya. Sementara di luar suara zanana mengganggu. Diselingi ledakan bombardir pesawat jet. 10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai. Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh melihat banyak belatung. Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.   Dia tak bisa lagi membuat roti. 11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza Aku menunggu ojek online di tepi jalan. Sambil merokok kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo. Sementara air untuk mandi dan mencuci. Hanya tersisa setengah ember. 01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza Aku sedang makan siang di Peneleh. Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh saat mengantri di toko. Menghabiskan waktu dan tenaga. Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti. 04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza Saat sore aku nongkrong di Wonokromo. Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah belanja di pasar. Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai. Harganya semakin naik tak terjangkau. 06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza Aku sedang duduk di beranda masjid. Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah berjalan jauh. Merasakan kepanasan dan kelelahan. Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai. 08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza Aku masih makan malam di Tunjungan. Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar. Ternyata di Gaza sedang hujan deras. Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran. Barang barangnya basah terkena air hujan. 09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza Temanku mengajak minum kopi di kafe. Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam. Lalu menaruhnya di atas piring kosong. 10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza Aku sedang menonton sepakbola. Saat jeda kubuka lagi akun Omar. Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme. Hampir seminggu tak mendapat donasi. Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel. 01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza Tengah malam aku bersiap tidur. Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar. Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir. Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi. Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah. 03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza Aku merasa kesulitan tidur. Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar. Ternyata dia masih tetap mengeluh. Merasa lelah terus menerus mengeluh. Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh. Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh. Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh. Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh. Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan. Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh. November 2024 By Alvian Eleven
Continue reading...
78