Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"meja" poems
Sabtu, 14 Agustus 2010 Sekarang jam 1.21 pagi Ku masih di ruang TV yang sekaligus dapur Ku duduk di kursi meja makan Masih tak mau tertutup mata ini Ku membaca, membahas soal Sendiri... Terdengar suara-suara aneh Kicauan burung, gemuruh atap Cat cit cut tikus Suasana, uh, terasa seram Tapi aku tak peduli Karena bulan ini adalah Ramadhan Tak mungkin ada yang terlepas Namun, kapan aku bisa terlelap? Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:32 AM UTC
Elegi Pagi Buta
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Kuharap ingatanku tidak Berjalan mundur perlahan Dengan keteguhan Lalu berdiam Melebur Hancur Seperti Jam Jam Di Ran Ting Ranting Lukisan Dali Kuharap aku Disalib Melayang Tanpa Lihat Duka Mu Hantu-hantu Vermeer Dalam Ruang Ter Tutup Menjelma Meja Menopang Detik Demi Detik Dali, Mungkin begitu Seru dunianya Tanpa kau di dalam sana
0
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:06 AM UTC
Ingatanku Bukan Salvador Dali
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
0
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Anagram Sirnaksit di Ruang Ujung Koridor
1/ Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya. 2/ Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak. Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya. 3/ Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa. 4/ Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan. 5/ Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang. 6/ Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana. 7/ Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor. Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Continue reading...
16
Matanya yang kalap di kotak menghampas debur debu dari atap ke puncak dahan. Menutup temaram lampion. Berusaha menampik getar di dada yang telanjang. Itu-kini sampai kesekian lintas kelokan. Terlewati. Enam uang logam terbuai lendir lintah saat kududuki kursi tak ubahnya senjakala & engkau sadar. Berdiam & terus bungkam menunggu henti nyanyian puan nun sumbang berkaca daku yang terpasung, itu di abu letupan yang mencandu hujam asam & melulu jadi bisu-kita. Di renda setengah tertutup/ semua orang sudah tahu. Perihal hening yang memang tak pernah membuah harap. Hilangnya alkisah kemuning pala kambing yang enggan memerah. Walau bertumpu akan cita dalam almanak musnah-karam / tiada henti di jaga oleh wajah-wajah muram; di garis vertikal di persegi dua dimensi/ hitam pun segitiga/ jajar genjang & semut kita mengerubung oval. Seraya penonton menyilang dua lengan di dada di lingkar rafia sementara ini semakin terasa di Kursi. Meja. Cangkir. Jendela. Cat. Kuas & Tv. Lentera. Buku. Radio. Senter /beringin di jiwa.
0
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 3:46 PM UTC
menggiling mesin-mesin
Pertama, siapkan air mendidih Tuang sebungkus hidup dalam gelas Lalu, menurut anjuran para ahli Tambahkan satu sendok makan gula Berharaplah manis, jika dirasa kurang Luapkan hidupnya dalam gelas tinggi Cobalah amati lubernya, lihat saja Hidup mengalir keluar Cicipi luberan hidup yang tumpah, Hayati rasanya yang tajam, aromanya yang pekat, serta partikel-partikel yang asing Hingga kau tahu, bahwa rasa hidup yang tumpah sama dengan rasa meja Jika sudah, teguk hidup dalam gelas Murni, tanpa ada partikel asing di dalamnya Coba bedakan antara hidup yang murni dengan hidup rasa meja Aneh bukan? Memang, jika kau patuh Hidup akan lebih pahit jika diseduh.
0
Apr 8, 2018
Apr 8, 2018 at 3:24 PM UTC
Segelas
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
RAMPUNG
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Continue reading...
10
Ada hal yang terlalu indah. Tak bisa di jamah, Pembicaraan dengan mu yang mengusik kalbu , Menambah candu pada irama suaramu. Singkat , penuh arti. Kau yang terlalu pemalu, Aku yang begitu terpaku. Ingin bercakap hingga lupa waktu. Namun gengsi masih terbelenggu. Diam-diam menatap , Diam-diam bergejolak, Matapun saling menatap, Garis senyum mulai terkuak. Kita sama-sama saling Saling tahu, Saling ingin, Dan tak saling mengungkapkan,. Sore yang mnjadi saksi mata, Pada pembicaraan di meja kedua, akan sekeping hati yang kian pasrah, Rasa Ketidakpastian yang ditelan mentah, Menjadi tema pembicaraan yang kian membetah. Sejatinya, harapan kian menggersang, Mengikis hati tanpa bak diiris pedang, Dan semakin rasa ini mendalam, Semakin menumbuh renjana dalam diam. -Tan
0
May 30, 2020
May 30, 2020 at 6:15 AM UTC
Renjana