Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"panjang" poems
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
INFO NYA DISINI GAN n’ SIST : PIN BB: 262878A6 Ukurannya 40×60 cm / Order 1-2 Pcs = Rp. 70.000,-…Order 5 Pcs Ke atas Rp. 65.000,- Bantal Nama Murah Bandung - Untuk menambah koleksi bantal kamu yang unyu-unyu, kayaknya ga cukup kalo cuma punya bantal donat, bantal Nama dan bantal leher aja. Nah, biar koleksi kamu tambah lengkap, siap siaga bikinin kamu Bantal Nama Bantal dengan tulisan nama kalian, nama pacar, nama sodara atau nama orang-orang yang kamu sayangi. Kamu bisa pilih warna warni kesukaan kamu dengan tulisan yang artistik banget. Buat kamu-kamu yang pada galau nyari kado yang cocok buat temen ultah, ponakan, adik atau pacar, pas banget deh kalo kamu pilihin kado Bantal Nama buat mereka. Mau tahu spesifikasi teknisnya? - Bahan dasar velboa - Tulisan velboa (bukan flanel jadi lebih lembut) - Isi silikon (bukan dacron jadi lebih kenyal dan ga kempes) - Waktu pengerjaan normal 14 hari kerja (Kalo lagi banjir order bisa molor dikit) - Ukurannya 40×60 cm (Yang mau panjang bisa request ukuran 40x90cm) - Berat sekitar 600 gram Ok bro and sist, yang blom jelas (ngacung!) invite aja PIN BB marketingnya 262878A6. Harga blom termasuk ongkir dari Bandung. Incoming Search Terms: Bantal Nama handmade Bantal Nama online Bantal Nama murah Bantal Nama Bantal Nama baby Bantal Nama lucu Bantal Nama bayi Bantal Nama bandung
0
Jan 7, 2015
Jan 7, 2015 at 8:49 PM UTC
[BOOMING NOW!!]Bantal Nama Murah | Bantal Nama Unik | Handmade in Bandung
Palembang, Sabtu 2 Oktober 2010 Hari ini terjadi lagi Kakak ku yang indah bertambah usia Kini ia berbeda dari 29 tahun kemarin Yang mana masih muda dan polosnya Tak bisa ku berikan apa-apa Kecuali doa yang tak henti ku panjatkan Supaya kakak ku panjang umur Sehat selalu dan cepat menikah Pesanku untuknya, adalah Teruslah ciptakan lirik indah Karena ku suka saat kau berkata Dalam bentuk nada yang indah Pesanku kan ku sampaikan Melalui sinyal-sinyal batin kita Semoga Allah SWT melindunginya Dan biarkan ia hidup bahagia Created By. Aridea Purple To Arlonsy M.
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:43 PM UTC
Doa Untuk Kakak
Aku terlalu kecil Sekecil titik di atas kertas kusut Aku hanyalah satu dari ribuan bahkan tak terlihat Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna Rumah pertamaku akhirnya aku terlahir sebagai sesuatu yang aneh Aku si buruk rupa Tubuhku dipenuhi bulu Merangkak lemah menyusuri ranting Menggerogoti daun disekitar membuatnya berlubang melarikan diri dari burung Bergulat dengan semut rangrang Membuat saya jatuh ke tanah Hingga buluku rontok berserakan Hanya cacing yang menyapa Mereka membenci saya sangat Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku sampai aku terjebak dalam dimensi lain Aku si  ulatbulu kesepian yang bersembunyi Bertapa di dalam kantung usang yang kecil Mencoba untuk membunuh waktu Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan Sudah cukup persinggahanku Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu Aku terlahir kembali menjadi berbeda dan mereka menyukaiku kebahagiaan berlimpah tiba terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik pergi ketempat yang indah yang kumau
0
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Metamorfosa
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
Palembang, 11 Juni 2012 Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra Angin sudah terlanjur tertiup Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup Petir sedari tadi mengamuk Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut Banjir belum juga surut Hujan tak pernah berhenti sedetikpun Lampu belum juga padam Padahal lilin dan api telah aku siapkan Aku sudah siap menekan tombol Stop Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan Aku belum juga tertidur Padahal aku sudah menentukan mimpiku Aku masih terjaga menunggu pagi Meskipun malam belum akan berakhir
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Menyesal
Jakarta, 29 April 2008 Ku langkahkan kaki ku Naik sesuatu yang akan membawa ku Roda berputar mengelilingi kota Yang panjang berkelok-kelok Di tengah jalan ku lihat dia Dengan lekuk senyum penuh sinar Sesaat saja aku melihatnya Aku pun berlalu lanjutkan perjalanan Roda berhenti, aku keluar Menghirup udara luar Kerlipan cahaya hiasi malam Langkahku mulai dekati pintu Aku keluar dengan perut kenyang Masuk kembali dan bawa ku pulang Di tengah jalan ku antusias Mencari dia lagi yang indah Tapi, tak terlihat senyum cahayanya Aku berlalu jauh dari dia Hatiku sedih tak memandangnya Aku pun pulang diantar roda
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 9:56 AM UTC
Senyum Cahaya
Ulang tahun singkat ku Ingin ku rayakan di Surga-Mu Yang indah penuh warna pelangi Yang panjang, ku harap bagai usia ku Ku yakin kamu tak kan tau Hari ulang tahun ku Namun, melihat senyummu dari jauh Adalah hadiah terindah di Hari Ulang Tahun ku Kue tinggi tidak ada Lilin pun tak menyala Hanya ku tusuk di atas tanah Ku ucapkan harap ku selamanya
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:58 PM UTC
Ulang Tahun Ku
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
Kekasihku telah meninggal Tak ada lagi yang tersisa dari Rambut panjangnya Bahkan sekarang Senyumnya berbau masam Kekasihku telah meninggal Sudah tak dapat lagi ia ucap Sajak-sajak getir Laut di ufuk Apalagi senandung bintang atas kita Kekasihku telah meninggal Sentuhannya dingin Tubuhnya kaku Kelembutannya menjadi pisau Dan gurauannya antarkan duka Ia tetap tertawa dalam kematiannya Karena jasadnya dapat terus hidup Sebagai manusia lain Yang bagiku, entah siapa Yang bahkan tak kukenali danurnya Jika bisa Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya Akan kugali kuburan dalam hatinya Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, Dalam sebuah peluk dan angan Akan kubiarkan ia merasuk Pada tubuh tak berhati Tak berjiwa itu Tubuh budak Peradaban lama Akan kubiarkan ia merasuk Panjang rambutnya yang fana Senyumnya yang binar Hatinya yang murni Harus ku kembalikan Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
0
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
Menemukanmu layaknya menemukan sebuah oase di gurun pasir Bagai ilusi, bagai khayalan Sangat aneh, juga sangat nyata Setelah perjalanan yang panjang Setelah mendamba akan air Setelah mendamba akan cinta Akhirnya kutemukan dirimu Penghilang kehausan Penyejuk jiwa
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 1:36 AM UTC
oase
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana. Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki. Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang. O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita. Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya. Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali. Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
0
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Nyanyian Kesedihan dan Patah Hati
Bangsa pribumi di era modern Memaksa batin untuk jadi keren Sudah lewat aku di zaman batu Ku langkahkan kaki di zaman baru Aku tidak tahu cara naik bus Yang aku tahu adalah kursi bertikus Oh jarak.. Jarak yang membuatku berpisah Aku rindu suasana desa yang indah Oh jarak.. Sampai kapankah aku gelisah Aku gundah tidak tahu arah Oh jarak.. Selamatkanlah aku Selamatkan aku dari rasa putus asa Aku takut.. Aku takut pada gedung besi berasap Aku takut pada mesin yang berjalan Aku takut pada benda panjang beruap Siapakah aku disini? Siapapun tolong bantu aku Siapapun keluarkan aku dari sini Siapapun tuntunlah aku Oh Tuhanku.. Berikanlah Petunjuk-Mu Tidak ada yang lain selain Diri-Mu Aku disini hanya pencari Ridho-Mu -Kediri, 19 Maret 2018-
0
Mar 25, 2018
Mar 25, 2018 at 11:39 PM UTC
Jarak
Tak perlu pergi ke tengah hutan belantara tak bertuan Atau tempat semak belukar tumbuh dengan liarnya Alam bawah laut dimana air udaranya Untuk merasa kesepian Coba bercokol di tempatmu berpijak Satu bulan dan ribuan bintang bertabur layaknya salju di musim dingin Satu surya dan semburat awan yang bergerak pelan serta tenang Angin tak lagi mampu menemani Satu persatu hilang Orang, cinta, mimpi, juga impian Betapa inginnya terbangun dari alam bawah sadar yang panjang Namun takdir tidak dapat diubah Layaknya kesepianmu yang tidak berubah.
0
Jun 2, 2018
Jun 2, 2018 at 3:13 AM UTC
Ranah Hampa
Biarkan aku bercerita, tentang anggun nya malam kala kita bersama. Dua insan yang terlihat saling suka. Tertawa lepas tentang angan yang berkelana. Menyanyikan lagu kesukaan yang ternyata sama. Berbaring dan saling tatap. Biarkan aku bercerita, Tentang isak tangis sang wanita kala rindu menyergap. Penantian panjang pesan yang tak dibalas. Lagu yang tak lagi terdengar menyenangkan. Berbaring dengan harapan sang pujangga kembali datang.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 11:09 AM UTC
Biarkan aku bercerita
Bukan saatnya, kawan, Kau tertunduk dengan tangisan Seakan dunia sudah kiamat. Mungkin hatimu sedang tertusuk Oleh buaian para pemberi harapan Dan setan pembisik di telingamu. Tapi ingat, Ceritamu hanya sebatas koma, Masih ada kalimat panjang Yang menantimu sampai akhir hayat.
0
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 6:39 AM UTC
Titik
Aku termenung pasrah Menunggu lelah Mendapat kabar tak indah Membuat hati gundah Waktu pasti akan mengobati hati Hidup akan terus di jalani Semakin pahit kehidupan Semakin banyak perjuangan Semakin panjang waktu kehidupan Semakin dalam pengorbanan Aku hanya akan menatap ke depan Tanpa memperdulikan masalah kehidupan Aku hanya akan terus melangkah maju Tanpa menoleh lagi padamu, wahai masa lalu Aku tidak melupakanmu Aku hanya sedikit menapak satu langkah di depanmu Aku hanya sedikit sibuk dengan dunia baruku Bukan berarti melupakanmu, wahai masa lalu Kau guru terbaikku Mengajarkanku untuk lebih baik di masa depan Memberiku pengalaman yang tak mungkin terlupakan Membekaliku dengan keikhlasan dan kesabaran Kata semoga dariku takkan pernah lekang untukmu Walau mungkin kau takkan pernah tahu itu, wahai masa lalu
0
May 5, 2018
May 5, 2018 at 7:59 AM UTC
Wahai Masa Lalu
kadang, waktu yang panjang pun tak cukup untukku menceritakan kepadamu apa-apa yang terjadi padaku waktu yang tak cukup atau kadang bibir yang terasa kelu? entah apa alasannya, aku buuh waktu yang lebih panjang! dua, satu, empat, sembilan jam saja tak cukup untuk ku. seberapa jahatnya engkau terhadapku, terhadap orang yang menyayangimu, aku selalu memiliki kata 'nyaman' sehingga aku selalu suka bercengkrama bersamamu.
0
Dec 10, 2016
Dec 10, 2016 at 9:13 AM UTC
bercengkrama
ku katakan pada kau, jika pada akhirnya tidak akan berjalan lurus seperti yang di damba-damba kan. ingatlah bahwa kau dan aku telah terjatuh didalam perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, dan jika kau meminta ku untuk memutar balik agar tidak lagi berjalan bersama, bagaikan sama saja dengan bunuh diri, walaupun akhirnya akan mati, setidaknya kita mati berdua, setidaknya kita pernah bahagia.
0
Jan 8, 2019
Jan 8, 2019 at 12:46 AM UTC
setidaknya aku mati bahagia
Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu pergi menikmati angin malam sambil melihat gemerlap cahaya dari gedung tinggi ibu kota Ayo, pergi bersamaku. Kita akan menyanyikan lagu indie sambil berteriak lirik yang salah, menatap jalanan besar yang kosong dan tertawa bersama Ayo, pergi bersamaku. Aku akan mengajakmu menikmati senja jauh dari kerumunan ibu kota diantara rerumputan liar dan kehangatan sentuhan telapak tanganku yang kasar. Ayo, pergi bersamaku. Aku akan membelikanmu baju bekas dengan brand ternama dan memakaikanmu kacamata hitam untuk perjalanan yang panjang nantinya Ayo, pergi bersamaku. Sini, ke mobilku. Tapi, kenapa kamu hanya menatapku?
0
Oct 28, 2018
Oct 28, 2018 at 2:35 PM UTC
Ayo
Tulisan tanganmu Surat darimu Membuat ku terbangun dari mimpi indah yang panjang Kutarik simetris bibir ini Tak sanggup Ketika kucoba menampakkan raut bahagia Tak bisa Hati ini terus menjerit Menangisi segalanya Menerjang batas logika Emosi seorang wanita
0
Jan 5, 2017
Jan 5, 2017 at 3:00 PM UTC
RASA
Setelah lihat status temanku, aku tersadar . Begini tulisan di status nya "Karena takdir tak selalu sesuai rencana, itulah mengapa di setiap do'a ada semoga." Semoga panjang umur, semoga sehat selalu, semoga cepat sembuh, semoga bahagia, dan semoga yang lainnya. Kita semua itu berharap pada satu hal, yaitu berharap agar sesuatu yang kita inginkan bisa terwujud sesuai rencana. Terlepas dari adanya takdir yang sudah mengatur semuanya menjadi sedemikian rupa. Semoga kata semoga yang dipanjatkan bisa terwujud tanpa ada kendala di perjalanan nya. Semoga bahagia.
0
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 10:27 AM UTC
self reminder
bulu mata lentik, cantiknya. rambut panjang, diurai atau diikat aku bisa gila. kontur wajah boleh halus atau tegas, asal selalu sayang mama papanya. enggan untuk beranjak dari kata kata yang ia keluarkan, indah betul isi otaknya. dapat terlihat garang namun manis seperti semangka melon apel. aku suka. ditambah cara melucunya yang bisa kuberi nilai 100, sungguh aku bisa melemah. sialan.
0
Aug 23, 2019
Aug 23, 2019 at 10:48 PM UTC
6merasa ? jangan jangan...
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia. Dipesannya air penghambat kantuk, Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno. Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang. Penat benar hatinya... Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan. Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain. Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri B_A 30 Januari 2019
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
+20