Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
benarbenartanto
22/M/Medan Im ok, so I write poems
Jika Tuhan tidak pernah sampai Lalu aku ada dimana? Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan Lalu aku bercerita dimana? Pada kerumunan isi kota yang melenakan Padat, riuh semua ingin berbicara Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga Kemudian bagaimana dengan kebebasan? Ia ada, tanpa diminta. B_A 24 Agustus 2022
0
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Jika
Hari ini orang-orang pulang-- bukan fisiknya Sedari sembilan lebih tiga menit, mereka berangkat Badannya duduk tegap, melihat layar Orang-orang sudah sampai, mereka dijemput setahun, tiga, bahkan dua bulan lalu. Matanya kosong tapi angannya kembali ke belakang Hari ini orang-orang pamit tanpa pernah bersalaman. BA 9/6/2022
0
Jun 11, 2022
Jun 11, 2022 at 7:22 PM UTC
Untitled
Mana mungkin aku marah Pada jalan-jalan yang memang telah kita lewati Untuk gunung-gunung dingin yang ditawarkan Sepatumu sudah sesuai, jaketmu sudah lengkap Mana mungkin aku mengeluh Pada jalan-jalan lain yang ada di hadapan Untuk lalu lalang siapapun yang akan datang menjemputmu, atau aku Tas mu sudah tersandang, bajumu sudah cantik Kita berangkat, tapi kali ini stasiunnya berbeda Sengaja, kataku Penutup jendela bus yang kutumpangi dibiarkan menutup, kau juga sama Kata penulisku untuk sesuatu, Kabar-kabar baik katanya Mana mungkin aku tak mengikutinya, besok kita bangun, sepagi mungkin Apakah kita berhenti di stasiun yg sama? BA 31 Mei 2022 18:19 WIB
0
May 31, 2022
May 31, 2022 at 7:20 AM UTC
Beberapa mungkin
Hari ini tidak ada pukul tujuh lewat sepuluh Semua langsung tergeser ke siang hari Pikirmu menyayangi adalah hal yang sering ku lakukan? Tidak, Kemudian bagaimana dengan aku? 'Kau pantas mendapat lebih' katamu Kita pulang saja ya, bersamaku. 16 Mei 2021 _BA_
0
May 16, 2021
May 16, 2021 at 7:50 PM UTC
Kita pulang saja, ya?
Dik, tidak ada yang salah dari 6 tahun yang berlalu Harapan dan batasan-batasan yang kau buat sendiri melalui ketikan pada ponselmu Tidak ada yang bisa melawan garis-garis pada telapak tanganmu Jangan tunggu yang tidak menemui ayahmu Berhentilah memikirkan sepeda biru yang pernah kita bahas Tidak ada yang salah pada garis tanganmu Jilatlah, Ia kumpulan garis-garis yang membentukmu 26 April '20 _BA
0
Apr 26, 2020
Apr 26, 2020 at 6:51 AM UTC
Menjilat Tangan Sendiri
Terang bulan, padahal ini tertulis di pukul enam yang masih berembun setelah fajar Ntah bagaimana yang muncul adalah terang bulan. Bukan mengenai kisah anak-anak yang dipaksa meminta-minta, menjual kerupuk tiga ribuan. Hari ini terang bulan muncul lebih awal, dua belas jam lebih awal. Siapa yang tau isi kepala yang ditutupi rambut hitam orang-orang? Seperti apa terang bulan yang ada di dalam pikirannya? Terang bulan diisi dengan ketakutan-ketakutan bertambahnya angka pada umur. Merasa ada yang salah dengan putaran waktu, Ia belum siap ternyata. Sementara hari tidak menunggu apapun, bahkan detiknya. Terang bulan tidak benar-benar ada, ia hanya muncul saat orang-orang sedang bahagia yang serupa. Selebihnya adalah sabit di ujung bulan yang kadang muncul sekadarnya. B_A 11 Maret 2020
0
Mar 10, 2020
Mar 10, 2020 at 8:11 PM UTC
Bukan Terang Bulan
Pada langit-langit Tuhan yang menampung gaduh pemaksaan kita. Dari riuh ramai yang dipanjatkan di pertiga malam-malam yang kantuk. Pada kumpulan awan yang menerima laga dari setiap doa. Kita semua akan bertambah, Ntah kali ini, ntah melalui yang lainnya. Medan 27 Januari 2020
0
Jan 27, 2020
Jan 27, 2020 at 5:42 AM UTC
-
Mestinya kita paham dengan pergantian warna lampu di persimpangan jalan. Sebagian tergesah-gesah ketika kuning menyala, sebagian lagi pasrah menunggu. Ntah bagaimana caranya hidup tanpa tapi, Ntah bagaimana cara bernafas tanpa eluh mengeluh. Menjadi seperlima abad adalah keharusan katamu, 'aku akan bersyukur jika mendapat itu' Hari ini kita dapat semua, lebih dari yang kau bataskan agar bersyukur Kita telah ingkar, nafas bercampur ketidaksyukuran Menjadi bertambah adalah kebingungan Sebab apa yang menjadi musabab tak pernah kami sendiri tau. Mestinya kita paham. 13 Januari 2019
0
Jan 13, 2020
Jan 13, 2020 at 10:19 AM UTC
Abu-abu
Tepat di hari kedua sebelum akhir Agustus, entah repetisi yang keberapa kali--aku bertanya pada aku. Sedang aku meninggalkan apa yang aku tunggu, sebagian lain dari aku membiarkan apa yang datang menuju. Tepat di peralihan pagi dan khotbah Jumat, ia datang lagi. Yang harusnya kubiarkan pergi sendiri dengan maunya Ntah akan kusambut kembali atau nanti menjadi babak tercanggung. Ntah, kali ini jawaban entah telah ditolak sepersekian lebih awal sebelum ditanyakan. Aku menolak mengikhlaskan apa yang aku sendiri tidak tau apa inginnya. Melalui percakapan rutin beberapa kali sehari, seminggu dan sudah masuk separuh tahun. Tepat menuju penghujung hari, aku membiasakan apapun ia boleh lakukan. Aku biarkan semaunya menghirup-hirup apa yang sudah dilewati. Agar jika pada bagian akhir yang awal nanti ia tak salah langkah, kembali kesini atau mengantar kabar lain yang lebih ia senangi. 30 Agustus 2019 B_A
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:17 AM UTC
-
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia. Dipesannya air penghambat kantuk, Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno. Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang. Penat benar hatinya... Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan. Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain. Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri B_A 30 Januari 2019
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
+20