Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"mesti" poems
Mata mana yang tak akan bersinar bila melihat cantik Tapi mata jangan dibutakan hati jangan digelapkan dek kerana cantik Kerana cantik itu tak akan kekal Kerana cantik itu tak menyuap mulut yang lapar Kerana cantik itu tidak mesti baik tidak mesti jujur tidak mesti ikhlas Tapi mata mana yang tak akan bersinar bila melihat cantik
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 12:16 PM UTC
Cantik
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Yet another in my "Barry Hodges" series O what a beautiful city is baroque and unspoiled Vilnius, A veritable rose in the greyness of Eastern Europe, And a centre of fierce Lithuanian pride and nationalism Where loathing of Russia comes as part of the national tapestry, Woven into the heart and soul of each true descendant of Gediminas: "Tik geras rusų yra miręs rusų!"[note 1] my Litvak lady love would cry out In moments of extreme and poetic ******** excitement, As she farted tunefully through purple quilted haemorrhoids. O dearest delightful Vilnius, where my obsessive adoration Of this rather plump but still juicy middle-aged lady Went unrequited when she was sober, despite the perpetual onslaught Of my tenderly whispered syllables of love and lust, Even when my mispronounced tirade of affirmations of desire Rose to a pointless crescendo, wasted on the midnight hour, As she shrieked: "Lietuvių valytojoms yra geriausias pasaulyje!" [note 2], In a desperate attempt to retain her composure post-climax. O how can I ever forget her egregiously insatiable ****** appetite or Her immense cantilevered ***** whose glorious silhouette I can still recall in the silvery moonlight shining through The toilet window, as I peeped at her through the keyhole, Watching her wipe between her gorgeous silken arse-cheeks, With an improvised corner of the unfurled bathroom curtain, Mysteriously muttering "Jei nėra silkių nereikia valgyti!" [note 3] As she reviewed the remains of half-digested Cepelinai [note 4] O woe! All is now finished and dear overweight Valerija is lost to me, Having fallen drunkenly down an open manhole on Pilies one evening, And I am left alone to wetly kiss the cryptic letter she left for me, Staring sadly at the tear-stained smudged ink of her illiterate scrawls. Yea, mate, her last words of warning and patriotic exhultation were: "Jei jūsų kūdikis turi imbiero plaukus, mesti jį į upę!" [note 5] Followed by "Valio už Lietuvos Vermachto karo didvyrių!" [note 6] And I think they were probably the sanest things she ever said.
0
Feb 25, 2015
Feb 25, 2015 at 1:45 PM UTC
Memories of Vilnius
Yet another in my "Barry Hodges" series O what a beautiful city is baroque and unspoiled Vilnius, A veritable rose in the greyness of Eastern Europe, And a centre of fierce Lithuanian pride and nationalism Where loathing of Russia comes as part of the national tapestry, Woven into the heart and soul of each true descendant of Gediminas: "Tik geras rusų yra miręs rusų!"[note 1] my Litvak lady love would cry out In moments of extreme and poetic ******** excitement, As she farted tunefully through purple quilted haemorrhoids. O dearest delightful Vilnius, where my obsessive adoration Of this rather plump but still juicy middle-aged lady Went unrequited when she was sober, despite the perpetual onslaught Of my tenderly whispered syllables of love and lust, Even when my mispronounced tirade of affirmations of desire Rose to a pointless crescendo, wasted on the midnight hour, As she shrieked: "Lietuvių valytojoms yra geriausias pasaulyje!" [note 2], In a desperate attempt to retain her composure post-climax. O how can I ever forget her egregiously insatiable ****** appetite or Her immense cantilevered ***** whose glorious silhouette I can still recall in the silvery moonlight shining through The toilet window, as I peeped at her through the keyhole, Watching her wipe between her gorgeous silken arse-cheeks, With an improvised corner of the unfurled bathroom curtain, Mysteriously muttering "Jei nėra silkių nereikia valgyti!" [note 3] As she reviewed the remains of half-digested Cepelinai [note 4] O woe! All is now finished and dear overweight Valerija is lost to me, Having fallen drunkenly down an open manhole on Pilies one evening, And I am left alone to wetly kiss the cryptic letter she left for me, Staring sadly at the tear-stained smudged ink of her illiterate scrawls. Yea, mate, her last words of warning and patriotic exhultation were: "Jei jūsų kūdikis turi imbiero plaukus, mesti jį į upę!" [note 5] Followed by "Valio už Lietuvos Vermachto karo didvyrių!" [note 6] And I think they were probably the sanest things she ever said.
Continue reading...
33
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:02 AM UTC
RAMPUNG
Akhir memaksa hadir di sela-sela kisah yang sementara kita bangun dengan asa—tanpa aba-aba. Bersamanya getir, menetapkan takdir dari apa yang tak pernah kau dan aku amini sebelumnya. Mengaburkan fungsi intuisi, hilang arah semua kata demi kata dalam kepala. Membekukan imaji, runtuh semua rasa dan karsa. Ditengah terombang-ambingnya alur cerita yang kita garap, kau tetiba menyerah dan berhenti berharap. Menanggalkan semua mimpi dan asa, biar berserakan di atas meja tanpa perduli akan masa depan cerita. Meninggalkan aku, yang pernah menjadi ruang bagimu menuangkan ide perihal apa saja yang kau cinta. Adalah karenamu, duniaku kembali berputar. Adalah karenamu, aku belajar menulis tentang rasa. Adalah karenamu pula, aku mencoba mengartikan perihal cara mengikhlaskan. Dan mungkin itu sebabnya—tanpa sadar, kau juga mengajarkan soal kedatangan dan kepergian. Hadirmu menghentakkan semestaku untuk bergerak dan mesti beradaptasi. Tanpamu semestaku berusaha untuk terus berjalan tanpa harus kembali berhenti. Aku mencoba bertanggungjawab atas apa yang telah kita mulai. Mencoba menantang badai meski hanya berteman bayangan diri sendiri. Peran menulis naskah cerita kini sepenuhnya milikku, yang dulunya adalah tugas kita bersama. Terus melanjutkan dan memikirkan penyelesaiannya—meski tak ada lagi peleburan ide kita didalamnya. Semua yang rumpang akan rampung, sedih akan berbalas bahagia pada akhirnya. Waktu adalah saksi, upaya dan sabar akan menjawabnya. Belajar bangkit dari keterpurukan, hadapi dan rangkul baik segala kenyataan.
Continue reading...
10
rindu bukan sekedar intensitas tapi juga identitas tak mesti selalu tiba tetapi jelas untuk siapa
0
Feb 7, 2020
Feb 7, 2020 at 8:22 AM UTC
intens
Già li vedevo gli occhi tuoi, soavi seguirmi sempre per il mio cammino, chinarsi mesti sul mio capo chino, volgersi, al mio dubbiar, dubbiosi e gravi. Come col dolor tuo mi consolavi, come, o cuore vivente oltre il destino! Come al tuo collo ti tornai bambino piangendo il pianto che su me versavi! Or che rivivo alfine, or che trovai ah! Le due parti del tuo cuore infranto, ora quell'occhio più che mai materno... No: tu con gli altri, al freddo, all'acqua, stai, con gli altri solitari in camposanto, in questa sera torbida d'inverno.
0
409
Anniversario (1891)
Bun, susah sekali menjadi orang tengah. Tahu kanan dan tahu kiri, tapi tidak menganan, tidak mengiri. Menengah adalah stagnan, Bun. Menengah artinya mesti mau tahu banyak. Menengah artinya pasrah. Menengah dah. Menengadah. Meneng.
0
Mar 5, 2020
Mar 5, 2020 at 10:07 AM UTC
Akiwa Atengen.
Ikatan ini tak bisa mengontrol segalanya, Ikatan ini tak harus tau setiap detiknya "aku sedang apa", Ikatan ini tak mesti cemburu dengan teman lelakiku, Ikatan ini tak berhak mengatur pakaian yang kan ku gunakan, Ikatan ini sebaiknya berikan aku kebebasan, karena bisa saja ku gunting ikatan ini dan akan benar-benar bebas. -lhm
0
Oct 23, 2020
Oct 23, 2020 at 10:51 PM UTC
Ter-ikat