Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"guntur" poems
Hati sedih nan gelisah Tak tau apa yang harus diperbuat Kaki bagai lari ke ujung dunia Peluh terasa lengket bercucuran Seakan hanya mengikuti jejak Tak tau arah yang benar Mata sayup ingin terpejam Terhalang Guntur yang menggelegar Menggelegarkan nadi meretakan hati Serpih-serpih peluh yang menjadi-jadi Seakan lari menggapai dunia Melawan angin yang amat kencang Sambil berpegang kawat besi tembaga Berjalan di atas angin yang bergoyang
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:01 AM UTC
Hati Ku
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut Menghangatkan malam yang dingin Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan, setiap detik yang kulewatkan, setiap nafas yang kuhembuskan, setiap detak dari jantungku, Untuk kau kuasai Malam-malam yang membelaiku dengan lembut Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman Namun kau datang meretas mimpiku Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur, menggema dalam kepalaku Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar Memaksaku terbangun seketika dan menyadari Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku Kau memutar badai pada lautku yang tenang Kau memancing senyum saat hari-hari kelam Kau bara apiku yang terus meradang Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
0
Aug 28, 2018
Aug 28, 2018 at 9:26 AM UTC
Mimpi Yang Tak Ingin Kusudahi
Langit memberi kesan Bahwa kesedihan membawa Warna ungu pucat di pipinya Tanpa seorang teman Tanpa awan kelabu untuk Berkabung dengan kesendiriannya Hujan dikenal sebagai pembawa sendu Namun dia tak datang untuk bersyair diantara gemuruh guntur yang berkilat Diantara gemerlap air yang ditangisinya Langit tetap merindu Bersedu sedan dan menderu Memanggil-manggil nama yang tidak diketahui oleh siapapun Meninggalkan ruam ungu Diantara pucat pasi di pipinya
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:27 PM UTC
Kala Langit Ungu Pucat
Putih disela-sela huruf Mengabur jadi abu Berhambur diantara buku-buku Awan dan guntur menyuarakannya Manusia mengartikannya Menjadi suatu substansi Abadi.
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:29 PM UTC
Amerta