Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bertumbuh" poems
*Bila cinta sungguh hadir tanpa disadari Siapa pemegang kuasa, maha pemberi cinta, yang seenaknya beri dan ambil? Aneh benar bualan ini. Yang kupercaya cinta hadir dengan ijin sang tuan Bila ya, tinggalah ia, bertumbuh bahkan berbiak Berpupukan gombalan manis atau sedikitnya senyuman sipit Berbuahkan gelak tawa atau jika sedang sial mungkin tuaianmu sesal dan air mata Sungguh malang memang.. Ingat teman, Kau adalah tuan Bukan kau mengemis mencarinya, ia yang bertandang menumpang.. Kau cuma perlu mengenangkan, menikmati cinta..*
0
Jul 29, 2016
Jul 29, 2016 at 12:30 PM UTC
Mandat Cinta
aku tak ingin tak berbahagia karena cinta tapi... bukanlah cinta bertumbuh sebagai dua? pagi dan malam duka dan suka tangis dan tawa kemudian, datang lalu hilang
0
Jun 4, 2021
Jun 4, 2021 at 5:44 AM UTC
aku tak ingin, namun tak bisa
Sepuluh berkumpul, Yang tujuh berganti. Dunia ini masih sangat gila. Kehidupan tak boleh berbaik hati Sedang kematian mati dimutilasi Oleh segregasi manusia waras tak tahu diri Dunia ini berakhir gila. Saking gilanya, Yang berhimpun terkapar mati. Tergeletak dipenggal, meninggal Akal dan luhur budi berganti Jadi, Sekumpulan gila mengibarkan selebaran selamat tinggal Yang lain menggasak grafiti dan vandal Begundal disisakan termarjinal Kewarasan mewabah ganas tak terbantahkan Lalu muncul manusia Bergerombol berebut botol-botol alkohol Berharap ikut gila sedikit saja, jadi mereka tak ikut menderita Sepuluh gila beraliansi Yang tiga bertumbuh Tujuh lainnya berempati
0
Oct 27, 2017
Oct 27, 2017 at 4:22 PM UTC
Liga Manusia Gila
Aku menyusuri jalan, kembali ke tempat itu, memesan kopi yang sama, mengulangi rutinitas kecil yang entah kenapa terasa menenangkan. Kadang aku terjebak hujan, di perjalanan berangkat, atau saat hendak pulang. Tapi aku tak benar-benar sendiri, selalu ada kisah-kisah kecil yang menemani, seperti sore itu: sebuah keluarga kecil menepi di tengah derasnya hujan, anak mereka bersembunyi di antara dua tubuh yang hangat. Aku terdiam, menunduk, berdoa dalam hati: “Semoga rezekimu dilapangkan Dek. Semoga orang tuamu suatu hari bisa membawamu pulang dengan nyaman tanpa perlu basah seperti ini.” Aku jadi ingat, aku pun pernah berdiri di tempat yang sama. Hujan membasahi tanah yang sebelumnya tandus, bersama seorang anak sekolah, dan beberapa orang asing yang memilih meneduh, diam-diam berbagi waktu di bawah atap yang sama. Kala itu, jas hujan ada di sepedaku, tapi aku tetap memilih tinggal. Entah kenapa, terasa penting: melihat hujan membasahi tanah yang dulu kering. Karena aku percaya, kering tak selamanya, dan kita semua di waktu yang sama, sedang bertumbuh.
0
Apr 29, 2025
Apr 29, 2025 at 2:55 AM UTC
Ketika Waktu Menumbuhkan Semua yang Pernah Kering
Bermekaran bunga mengiringi senyummu Harum mewangi semanis madu Rendahkan sedikit sekuntum kelopakmu Tak ayal kumbang bergemuruh Semanis madu kau mengundang Aku terbuai layaknya kumbang Indah gemulai tak kunjung lekang Kau ratuku bukan sembarang Tak kusadar burung berkeciap Gagah benar paruh mengkilap Hebat benar kepakkan sayap Kumbang limbung terbangnya kalap Bunga indah harum mewangi Ternyata pandai bermain api Tak disangka membakar janji Batang indah bertumbuh duri Kumbang sesak terbangnya lirih Perihnya hati dusta sang terkasih Berharap terang hujanpun masih Berharap lekang sayangpun masih
0
Nov 8, 2017
Nov 8, 2017 at 12:19 AM UTC
Si Malang Kumbang