Hello PoetryVoting

Vote

Voting-Boards

Home

HomeFollowingInboxNotifications

Read

ReadLiftedFeedsHeartedHistoryMy poemsNew poem

Explore

ExploreOrbitsWordsTagsClassics
Log in
0
Stars
0
Embers
0
Alerts
0
Inbox

Vote

Voting-Boards

Home

HomeFollowingInboxNotifications

Read

ReadLiftedFeedsHeartedHistoryMy poemsNew poem

Explore

ExploreOrbitsWordsTagsClassics
Log in
0
Stars
0
Embers
0
Alerts
0
Inbox

Ketaton

Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi.

Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi.

Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda.

"Kurang kuat iman sih"

Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang.

"Mungkin cuma ada di kepalamu saja."

Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari.

"Memang penyebab depresimu apa?"

Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup.

"Apakah kau gila?"

Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi.

Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu.

Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku.

"Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan"

Kalau kau tak paham, tak mengapa.

Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati.

"Kau mirip banteng ketaton"

Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila.

Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri.

Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.

Request permission to use this poem
Written by
stellaluna
Published
May 30, 2018
Lines·Words
20·252
Notes

Untuk mereka, korban kebiadaban depresi.

Kalian tidak sendiri.

Tags
#indonesian#poetry#self#harm#depression#original
Permission

Request to use this poem

Tell stellaluna how you would like to use it. We review requests before forwarding them.

AboutBlogFAQPrivacyTermsContact
© 2009-2026 Hello Poetry/v27.0 by @eliotyork
Explore
Hello PoetryVoting
Write