"ikut" poems
Kailan ba akong pwede magalit?
Minsan tinitiis ko na lang talaga.
Hindi ko alam kung anong maaring mangyari
Pag nagtanim ako ng galit sa puso ko.
Kailan ba akong pwede magalit?
Kapag nasanay ka na nakangiti ako?
Yun pala, sinisira mo na rin ako,
Kailan ba akong pwedeng magalit?
Kapag alam ko na, "bes, ikaw na lang talaga nakikita ko...
I’ll always look up to you."
Hanggang sa ikaw na rin ang magpapabagsak sa akin.
Naniwala ako na totoo yung mga sinasabi mo sa akin.
Naniwala ako pero kasalanan kong maniwala sa'yo.
Paumahin kasi mali atang tao ang aking napuntahan.
Kasalanan kong gusto ko matuto tungkol sa'yo kasi ayaw ng iba.
Kasalanan ko na nagpakatotoo ako sa una pa lang.
Kasalanan ko na tayo ay naging magkaibigan.
Kasalanan kong makita kung gaano ka kabait sa akin
kasi ginusto kitang makasama.
Kailan ba akong pwedeng magalit?
Kapag ako ba'y patay na?
Kapag patay na ako,
Kaya mo ba ako buhayin pa?
“Oo”, o “baka”. Pero, ‘di mo na mabababalik
Ang dating kaibigan **** gusto kang samahan...
Kahit ilang segundo lamang o sandali.
Oo, nirerespeto kita dahil dapat lang.
Pero, ‘wag ka magsinungaling.
Dahil ‘di mo alam na ika’y nananakit.
Pinapatay mo na talaga ako, sakim.
Kaibigan? Sino ka nga ba talaga?
Ikaw ba talaga ay isa kong kilala?
O baka nasa mundo akong wala akong halaga.
Yung tipo na mas may halaga pa ang
Bente-sinko na sentimo kaysa sa akin.
Kaibigan nga ba? O napagtripan lang?
Kailan ba akong pwedeng magalit?
Nasanay ka na nga sa aking mga tawa’t ngiti...
Minsan rin pala ay ‘di mo na kilala ang aking mga labi.
Minsa’y parang totoo ang mga sinasabi.
Pero sana naman ay binasa mo ang aking mga mata,
At sana rin ay ika’y nakakakita.
Sana mabasa mo ako gamit ang iyong puso,
O, hanap ng hanap, yun pala’y wala.
Hays, huwag na at baka ako ay umasa pa.
Bakit naman ako maghahanap ng mga bagay na wala na?
Kasi magmumukha akong walang utak,
Na hindi tinatanggap ang katotohanan.
Hindi mo naman rin ako kayang ipapasok sa mundo mo,
Nakapagtataka, ngunit napakagulo at napakakomplikado.
May minamahal man akong kapatid mo,
Minsan ay nadadamay sa sakit dahil sa’yo.
Ang puso ko ay nasa bawat isa...
Nasaan naman ang sa’yo? Wala ba?
Oo, ang puso ko ay nag-aalab sa mga apoy,
Ngunit nagmamahal kahit naususunog at nawawala na.
Oo, galit na galit ako pero mahal pa rin kita,
Kaibigan ko, ikaw nga ba ay isa?
Kaibigan ko, kailan ko ba masasabi ang aking nadarama?
Oo, ako’y minsan walang utak pero nagmamahal.
Walang utak, bulag, pero may puso parin.
Ayoko na masaktan, at ‘wag mo na ako papasukin...
Sa mundo **** parang kathang-isip lamang.
Oo, mga sinungaling at ako’y iyong pina-ikut-ikutin.
Huwag mo na lang ako muling paniwalain
At ‘wag na ring pagud-pagurin...
Kaibigan, paumanhin, ika’y dapat respetuhin.
Kailan ba akong pwedeng magalit?
Feb 28, 2018
Feb 28, 2018 at 5:06 AM UTC
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang
gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama
gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia.
1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur.
2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak
3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang
pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua?
tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh
karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia.
Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih.
gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua.
cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia
meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba?
lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan.
*buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku.
jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu.
coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk
*buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu.
maapin aku
#sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya.
gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua
sangat.sangat btakut
Apr 19, 2012
Apr 19, 2012 at 5:16 AM UTC
Palembang, 25 Juli 2011
Ketika kita sangat mencintai seseorang,
kita akan melakukan apa saja untuk dia.
Ketika kita tak bisa bertemu orang yang kita cinta,
rasanya sedih sekali hati kecil kita.
Ketika yang kita miliki terluka atau diambil orang lain,
pasti kita akan merasa sangat marah.
Ketika orang-orang yang kita cintai sedih,
kita pasti ikut menangis.
Ini bukan tentang mencintai satu orang saja.
Tetapi semua orang dan benda juga.
Perasaan itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang memahami arti cinta sesungguhnya
dan orang yang mencoba mengerti arti hidup sebenarnya
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 7:09 AM UTC
sekarang ini, aku itu sedang bermimpi
ada sebuah wajah yang namanya aku amini
ditiap bisikan doa kepada bulan dan matahari
hingga seluruh semesta berhenti bernyanyi
aku bahagia lagi—kan sekarang ini ada kamu
yang mencintai aku tiap hari Minggu
jika benar ini mimpi, jangan bangunkan aku
karena aku butuh lebih banyak waktu
untuk memeluk tubuhmu lebih lama
untuk buatmu jatuh cinta dihari lainnya
dan
untuk membawa kamu ikut jadi nyata
Mar 16, 2016
Mar 16, 2016 at 7:31 AM UTC
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut
Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka
Bekas-bekas kekalahan
Tidak berucap akan siapa yang mati
Dan siapa yang berhak hidup
Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini
Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati
Yang disayangi sudah tiada
Mereka jadi menyesal
Pergi jauh tak kunjung balik
Mendadak ditatapnya sebuah sumur
Tempatnya menimba air dahulu
Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu
Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur
Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup
Di atasnya.
Hantu-hantu wanita sejak dahulu
Kekal bersolek di atas sumur
Meskipun telah mengering airnya
Dan pantulan mereka fana adanya.
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut
Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka
Bekas-bekas kekalahan
Tidak berucap akan siapa yang mati
Dan siapa yang berhak hidup
Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini
Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati
Yang disayangi sudah tiada
Mereka jadi menyesal
Pergi jauh tak kunjung balik
Mendadak ditatapnya sebuah sumur
Tempatnya menimba air dahulu
Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu
Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur
Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup
Di atasnya.
Hantu-hantu wanita sejak dahulu
Kekal bercermin di atas sumur
Meskipun telah mengering airnya.
Konon karena mereka menyukai
Kehangatan yang dirasakan
Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan
Sesederhana bagaimana mereka tak lagi
Dapat hidup
Lantas mengapa lepas mereka pergi
Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa?
Hantu-hantu cuma pembohong
Pelindung tak berdaya
Mereka menghargai bising dan jerit tangis
Itulah alasan mereka
Terus tinggal dan bersolek
Menunggu sakit dalam sakit
Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi
Agar mereka dapat bercermin
Agar kekal bayang mereka
Air mata, menggenang bersama darah
Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya."
Jadi dipanggillah
Segenap jiwa gugup gelisah itu
Dalam kesunyian dan sesal mereka
Hantu-hantu wanita
Kembali besolek di atas sumur
Mereka melompat,
Untuk lebur
Dalam ketiadaan.
Menyusulmu
Mencarimu.
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
voice over: Atlas
Ketika langit mengubah rupanya menjadi senja sewarna matahari tenggelam, kuajak Venus duduk di kafe tak jauh dari stasiun. Perjalanan hari ini cukup lelah, meskipun pengamatan kami berjalan lancar. Tapi, aku selalu berharap anggota kelompok kami lainnya lebih sering ikut bergerak agar kami tidak selalu pergi berdua. Museum yang kami kunjungi kali ini adalah museum seni, yang kuduga salah satu hal yang amat Venus hargai. Ia penikmat karya seni. Matanya terus memandang takjub karya-karya yang kebanyakan orang tak pahimi apa maknanya, namun Venus menatapnya seolah barang yang dilihatnya ialah nyata. Kau tahu, memandangi seorang perempuan berambut gelombang sepunggung, yang bertinggi badan hanya sehidungmu, rahang tegas, alis yang tebal, memandangi karya-karya seni di hadapannya dengan tatapan antusiasmenya; bukankah ia definisi seni yang sesungguhnya? Yang paling nyata di depan mataku?
Dan, kemudian ia menoleh, tersenyum saat sadar aku memandanginya dari belakang. Ia mengatakan sesuatu, "Atlas, lihat sini! Lukisan yang satu ini benar-benar indah."
Dan, setelah 3 bulan meragukannya, sekarang aku yakin; aku menyukainya, sangat menyukainya, saat kurasakan Venus adalah seni yang lebih indah, terindah.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:51 AM UTC
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji"
Ke utara, selatan
kau ikut
kata kau, asal ada aku ada kau.
Ada waktu
naluri wanitaku meragui
setiap kata yang menari
di belahan mulutmu.
Namun
apalah daya kerak nasi
berlawan dengan air.
Dan saat aku
membuka seluas-luasnya pintu
kau jadi penghuni
setia
untuk sementara.
Sehingga tiba satu ketika
langkah kakimu dihayun
menapak keluar
dari ruang yang kau huni ini
Ingatlah
bukan aku yang menjemput kau
menghuni ruang ini
dan bukan aku juga lah
yang menghambat kau pergi.
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
AKHI, JIKA BENAR ENGKAU MENCINTAI
ISTRIMU...
Ijinkan dia berdakwah...
Berkumpul dengan akhwat seperjuangan....
Relakan kepergiannya ke berbagai majelis ilmu...
Sekalipun itu mengurangi waktunya, untukmu...
Banyak suami salah prioritas...
Istrinya boleh bekerja di luar rumah...
Bebas beraktivitas jika hasilnya menunjang
ekonomi keluarga...
Bahkan didukung untuk kuliah pascasarjana...
Tapi, minta ijin 2 jam saja dalam seminggu untuk
ngaji, TIDAK BOLEH?
Jangan egois, wahai saudaraku..
Suami memang punya "hak veto" dalam rumah
tangga...
Keputusannya adalah kewajiban istri
mentaatinya...
Larangannya adalah keharusan istri
meninggalkannya...
Maka, gunakanlah kewenangan itu dalam
PRIORITAS YANG BENAR...
Dakwah itu wajib, bagi pria juga wanita...
Doronglah istri ikut berjuang di jalan dakwah...
Sesekali ambil alih kerjaannya di rumah agar dia
bisa leluasa bergerak...
Sudah pasti ini mengurangi kebersamaanmu
dengannya...
Tapi, percayalah ini hanya sementara...
Kelak ada masa bebas bercengkerama dengan
yang tercinta...
Di dalam surga, dan kalian berdua akan terus
bergembira...
ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﺗُﺤْﺒَﺮُﻭﻥَ
"Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan
isteri-isteri kamu digembirakan".
(QS. Az-Zukhruf, 43: 70)
#women and sharia
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:48 AM UTC
Tuhanku pernah berbisik kepadaku
*"Berbahagia orang yang sudah mati,
karena tak ada beban untuk mereka.."*
*"Namun ingatlah..
Lebih bahagia orang yang belum ada didunia ini,
karena tak ada yang mereka berikan
atau tinggalkan didunia ini.."*
Aku terhentak dengan bisik itu
Dengung nya masih terasa dikuping hingga petang ini
Aku berfikir memang benar..
Semua yang hidup didunia begitu malang..
Mau atau tak mau
mereka harus memilih//
Jadi dermawan baik hati
atau
Penikam handal penghabis darah teman sendiri
Hai, teman..
Apakah tidak lelah menutup mata?
Berlagak bekerja..
Sengaja menyapu debu dan bangkai kedalam karpet
"Lihat sayang, kotoran itu tetap ada..
Hanya saja memang tak terlihat
Namun bekasnya terrcium jauh kesana"
***Lebih malangnya lagi
Kita masih berharap
Berharap menjadi pemenang
Padahal ikut lomba pun tidak..***
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 12:06 PM UTC
3..2..1..
aku hitung tempat pijak cakrawala
tapi tidak pada tempu jejak awan
mereka pinta benah kala diri
diacung pangkal lusa berpayung tangguh
metronom berdecak habis sabar
bagai waktu berkecimpung ikut mengawasi
tanda memaafkan kabarnya
kamu boleh lihai bersembunyi,
tetapi gelombang muara mimpi tetap pilih rasa hujan
hujan rindu katanya
karena dinginnya menggigit menyebar
hentikan kata buat tercekat,
ke seluruh tubuh buat menggigil
aku sudah bangun dari terkejut
terimakasih terutama kamu,
ciptaan di penghujung hari
karen satu dan lain hal
Mar 18, 2017
Mar 18, 2017 at 1:53 AM UTC
Aku ikut tertawa
Aku ikut tersenyum
Tapi rasanya berbeda
Aku bersama mereka
Tapi aku tidak bisa menggapai
Dan tidak ada yang menggapai..ku
Ku kira aku air
Ternyata aku hanya embun
Ku kira aku cahaya
Ternyata aku hanya bayangan
Aku berada di kotak ilusi
Berdinding fatamorgana
Bersama tapi terpisah
Hanya aku
Hanya aku yang dipisahkan
Haruskah ku pergi?
Atau mereka yang ternyata berbeda?
Nov 3, 2018
Nov 3, 2018 at 12:10 AM UTC
Pelipur datang menyapa Lara
"lihat aku" bisiknya,
ia datang tepat ketika Lara ingin mengalihkan mata
muak melihat Bara
"sini, ikut aku" bisiknya,
ia datang membawa nada
Lara ingin berdansa!
boleh kah?
"boleh!" teriaknya,
"dansa!" dansa hingga Pelipur menyatu dengan Lara,
menjadi sebuah asa,
bahagia
Apr 16, 2018
Apr 16, 2018 at 3:25 PM UTC
Kutarik secarik kertas putih
Kutumpahkan tinta hitam
Kutulis namamu
Kuceritakan segalanya
Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong
Hingga menjadi sebuah kupu-kupu
Terbang melintas dunia
Berakhir dengan kematian
Tetes demi tetes tinta
Menyusun kata per kata
Membentuk sebuah kalimat yang ramai
Mewakilkan mulutku yang membisu
Untuk siapa kubuat tulisan ini?
Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian
Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat
Putih suci ditimpah hitam penuh dosa
Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. "
Jemari bergerak melipat surat itu
Berbentuk perahu
Perahu kertas.
Raga berjalan ke tepi laut
Seakan jiwa yang menggerakkan
Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa
Tangan melepaskan surat itu
Perahu kertas,
Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu
Berlabuhlah di neraka
Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Pada suatu hari yang kejam.
Budi mau ke sekolah.
Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi.
“Buk, Budi berangkat dulu ya.”
Ibu pertiwi tidak menjawab.
Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi.
Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab.
Budi marah.
Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih !
Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing !
Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih?
Apakah si bangsat itu adalah mereka?
Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa?
Atau apakah si bangsat itu adalah kalian?
Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan?
Atau apakah si bangsat itu adalah dia ?
Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ?
Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan!
Atau apakah si bangsat itu adalah saya ?
Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong!
Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ?
Pada suatu hari yang kejam,
Budi tidak berangkat ke sekolah.
Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi.
Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat.
Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa.
Lihat itu,
Asap hitam pekat bergerak mendekat.
Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat!
Pada suatu hari yang kejam,
malam datang dan manusia mulai buta.
Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah.
Apa perlu listrik untuk buka mata?
Atau cukup hanya sepercik bara?
Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
Jun 22, 2019
Jun 22, 2019 at 12:10 PM UTC
sudah kuceritakan pada senja
tentang hari yang kulewati
bersama mentari bahkan hujan
dan aku merangkai kisahku
tapi kadang aku bercerita pada malam
malah, bulan dan bintang juga ikut bercengkrama
iya, jika hari tak hujan
mereka berani menemuiku
aku mencoba mengerti bahasa mereka
sama hal nya yang mereka lakukan
tapi kuakui mereka pendengar yang baik
aku masih berdiri didekat jendela
memahami gestur dan menunggu jawaban mereka
atas pertanyaan yang kuajukan tentang seseorang
dan menitip pesan rahasia untuknya
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:27 AM UTC
Aku lihat wajah sugul dia
Yang sedang duduk di sofa empuk kegemaran arwah abah
Tengah merenung nasib tuanya
Terkenangkan sikap anak-anak yang endah tak endah terhadapnya
Terngiang-ngiang lagi suara tua itu berkata pada aku
' Tak kisah lah orang nak campak mak ke mana, Mak ikut aje '
Begitulah ayat yang keluar dari mulut si nenek tua itu sambil ketawa perlahan
Riak mukanya begitu sedih
Sayu dan redup wajah tua itu
Sep 20, 2014
Sep 20, 2014 at 4:43 PM UTC
Kerap kali kita bertanya,
Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua?
Waktu, umur, nominal saldo, nilai,
Jarak, kecepatan, durasi, *****
Apakah angka pengukur semua?
Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan?
Apakah angka mampu,
Mengukur segala nikmat dan bahagia,
Yang kita jumpai setiap harinya
Lalu, bagaimana dengan ketepatan?
Apakah waktu yang tepat untukku,
Tentu tepat untuk orang lain?
Kembali aku menoleh ke cermin
Kadang aku berlari,
Namun orang lain terhenti,
Resah aku dibuat,
Lalu aku ikut berhenti
Orang lain mulai berlari,
Aku masih nyaman di sini,
Resah aku dibuat,
Aku pun masih berhenti
Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan?
Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan?
Mengapa aku selalu dituntut stigma,
Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 11:48 AM UTC
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal
Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya
Tak peduli jika doaku belum juga dijabah
Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah
Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah
Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat.
“Sampai ketemu.”
Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat
Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat
Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu?
Aku bersumpah, tak ada yang tahu.
—
Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing
Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya.
Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa,
Hati ini hanya bisa berkata;
“Akhirnya aku kembali melihat matanya.”
Setengah sayup setengah berbinar,
Sepasang bola mata itu menatap milikku,
Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita;
“Aku lelah.”
“Aku tahu.”
Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku,
Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk
Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian.
Saat pakaianku dilempar ke lantai,
Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya.
Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama
Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak
Aku bergegas mengambil seribu jejak,
Di jalan pulang aku menerima pesan;
“Terima kasih.”
“Kembali.”
Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki.
Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Pasal I; tentang mengikhlaskan dan melepaskan.
- kau harus tau, bahwa dirimu yang telah kulepaskan dengan ikhlas, adalah dirimu yang sekarang. bukan dirimu dahulu, ketika ku pertama mengenalmu.
-kau harus tau, bahwa melepasmu bukan tentang rasa yang kian hari berubah, namun, melepasmu adalah jalan terbaik setelah mengikhlaskan dirimu berbahagia dengannya.
-sekali lagi, kau juga harus tau, bahwa melepas dirimu bukan berarti berlepas diri dari segala luka, namun aku paham, bahwa segala sesuatu yang terpaksa dan dipaksakan, justru semakin memperdalam luka. semoga mengikhlaskanmu tak sesulit melepasmu.
-perlu diingat, sebagai penegasan bahwa melepasmu bukan karna egoku semata, bisa kau temukan, semua proses melepaskan dan mengikhlaskanmu adalah demi kebahagiaanmu semata, karena dengan bersamanya (semoga) kau bisa benarbenar berbahagia, dan kuharap, diriku ikut andil sebagai pembawa bahagia bagimu.
prdks.
Aug 4, 2017
Aug 4, 2017 at 3:09 PM UTC
Dikatakan berdampingan
bagai langit dan laut.
Dibatasi garis,
mengiris miris.
Dipisahkan antara,
membawa lara.
Kemudian
akankah
diamnya langit dan laut
teralih dengan ramainya
ombak dan pasir?
Pada akhirnya mereka bedebur.
Akankah kita juga ikut melebur?
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 9:10 AM UTC
Menuju Maret, pagi-pagi matahari meninggi sambil menyeduh minuman penolak kantuk.
Sesekali ia aduk minuman di gelas melawan arah jarum jam.
Katanya agar berbeda,
Padahal sedari dulu ia sudah berbeda.
Pagi-pagi matahari cepat meninggi
Mungkin membawa kabar dari Bapak menyertakan terimakasih.
'Terimakasih' suara bapak dari ponsel genggam buatan negara berkelopak mata monolid.
Menuju Maret hati yang disini berduka. Menolak umur ditambah dengan satu angka,
Belum lagi kalau dia ingat suara pintu pagar besi yang dimainkan anak-anak tetangga.
Rindu katanya,
Ia belum pulang, sebagian jiwanya sedang bermain pasir di masa lalu.
Tapi ia malah lari mengejar lagi. 'Sudah cukup, aku mau ikut' katanya
Sekarang ia siap, menuju Maret dan segala kebaikan di dalam dan setelahnya.
B_Art
07-Feb-2019
Feb 6, 2019
Feb 6, 2019 at 10:36 PM UTC
Sepuluh berkumpul,
Yang tujuh berganti.
Dunia ini masih sangat gila.
Kehidupan tak boleh berbaik hati
Sedang kematian mati dimutilasi
Oleh segregasi manusia waras tak tahu diri
Dunia ini berakhir gila.
Saking gilanya,
Yang berhimpun terkapar mati.
Tergeletak dipenggal, meninggal
Akal dan luhur budi berganti
Jadi,
Sekumpulan gila mengibarkan selebaran selamat tinggal
Yang lain menggasak grafiti dan vandal
Begundal disisakan termarjinal
Kewarasan mewabah ganas tak terbantahkan
Lalu muncul manusia
Bergerombol berebut botol-botol alkohol
Berharap ikut gila sedikit saja,
jadi mereka tak ikut menderita
Sepuluh gila beraliansi
Yang tiga bertumbuh
Tujuh lainnya berempati
Oct 27, 2017
Oct 27, 2017 at 4:22 PM UTC
Pergi lagi ia keluar rumah, mencari spasi di kerumunan manusia.
Dipesannya air penghambat kantuk,
Dituangkan pada gelas putih bercorak ayam kuno.
Ia ceritakan kesenangannya menemukan tempat itu, diajaknya orang lain mengingat masalalu yang pahit untuk mengangkat bahak yang panjang.
Penat benar hatinya...
Dipaksanya mereka guyon tapi pikirannya kebingungan.
Sesekali lamunan anak mudanya dibaca orang lain.
Pura-pura ia ikut tertawa lagi; dan ia menyendiri
B_A
30 Januari 2019
May 14, 2019
May 14, 2019 at 6:07 PM UTC
pasal V: tentang rasa sesal; dan sebuah penyesalan.
-sebenarnya bukan salahku semua ini terjadi, hanya saja, memang benar aku juga ikut andil membiarkan semua ini terjadi. dan dikarenakan semuanya telah terjadi begitu saja, maka kini yang tersisa dan muncul ada lah rasa sesal. penyesalan.
- faktanya, kau juga turut andil dalam permasalahan ini, apapun itu, yang jelas, semua yang terjadi diantara kita, kau juga bertanggung jawab. sebab ketika dahulu hal itu pernah terjadi, kau dan aku dulu, adalah kita.
-dan tentu seperti tadi yang telah kukatakan, tidak hanya dirimu yang salah, nyatanya diriku juga turut ikut dalam masalah ini. walau tentu saja, tak bisa sepenuhnya kukatakan bahwa hanya satu orang yang bertanggung jawab di antara kita. sebab sekali lagi, kau dan aku, pernah terikat satu sama lain.
- sebab penyesalan selalu diakhir, maka kau harus tau salahku, yang mana salahku adalah membiarkan semua itu terjadi begitu saja, sementara entah merasa sungkan ataupun malu, hanya kutatap semua itu terjadi, kau mundur perlahanlahan, sementaraku masih ingin menggenggammu.
-dan kau juga hars tau kesalahanmu, walau dari sudut pandangku. adalah ketika aku masih ingin menggenggammu, kau justru merenggangkan genggamanku, melepasnya dengan lembut, kemudian pergi dengan perlahan. kau seolaholah melihatku sebagai bukan lagi prioritasmu, namun tetap saja, masih tak kuikhlaskan kepergianmu setelah semua ini. dan rasa sesal ku yang teramat sangat adalah, ketikaku pernah memilih berbahagia; denganmu.
prdks.
Sep 26, 2017
Sep 26, 2017 at 11:58 AM UTC
Bagaimana kalau surga dan neraka itu tidak ada,
dan kau
aku
kita
berlomba untuk hidup paling abadi berdampingan semestinya ?
Namun sekarang aku bercermin dengan realita.
mungkin kita berada di ruang yang sama, sibuk bercerita hari kemarin dan besok.
lalu kau harus pergi,
sehingga hanya jejak senyum hari ini yang tersisa dalam perjalanan sendiri-sendiri.
Jadi izinkan aku mengucapkan:
“Hati - hati di jalan ya.
Semoga selamat dan menemukan tujuan. Semoga pula sampai jumpa.
Semoga semua semoga karena 1000 doa ikut serta.
Aku pamit.”
Oct 3, 2019
Oct 3, 2019 at 4:31 PM UTC