Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Loveeyta
Loveeyta
22/F/ID Tidak pandai bermain dan menyusun kata. Maka ia terus belajar melalui tulisannya.
Bulan malam ini hampir mirip dengan senyumku. Melengkung, tidak sempurna, hanya setengah saja. Kalau bulan memiliki fase yang pasti, aku rasa aku tidak seperti bulan. Namun, malam ini berbeda, aku ingin menyamakan diriku dengan bulan sabit yang sedang kita tatap melalui tempat yang berbeda. Hey, bulan! Tolong buat lengkungan yang indah, sebab, dia bisa melihatmu, dan aku sedang berkamuflase menjadi kamu! Jangan sampai matanya mengecil untuk memperjelas lengkungmu, jangan sampai jidatnya mengerut heran karena sinarmu tidak seterang biasanya. Hey, bulan! Aku sedang berkamuflase menjadi kamu! Pastikan dia melihat bulan yang indah malam ini, karena dia ingin aku baik-baik saja.
0
Sep 21, 2021
Sep 21, 2021 at 3:36 PM UTC
Bulan belum bulat
She loves you whole, But you, "i can't feel it, even a half". Ah, Even the moon doesn't know that the sun gives its light just to make the moon shines at night. She loves you whole, "Pardon?", She loves you whole, "What did you say?", I'm keeping myself up all night, Just to make sure you're home. But my nose is bleeding, I need some sleep. No, no, you're not home yet. She loves you whole, "No you're not". She loves you whole, "You never listen". Yet she always cry at night to sleep, Got so much things in her head, But, she didn't make a call, Not even a text. Because you're having a lot of fun out there. She loves you whole, While you don't love her whole, Not even a half.
0
Feb 10, 2021
Feb 10, 2021 at 1:44 PM UTC
Whole.
Bagaimana bisa, Berjalan diselimuti keresahan, Dibalut dengan beludru kekhawatiran yang cukup tebal, Bagaimana bisa, Berjalan dengan kaki beralaskan keserakahan, Dan kaus kaki kemunafikan sebagai pelindungnya, Bagaimana bisa, Melanjutkan hidup Dengan perjalanan penuh asap kebohongan? Tentu kau bisa terus berjalan, Tentu kau bisa terus hidup, Walau harus memikul Ketidaknyamanan dalam perjalanan, Namun, Siapa peduli? Peduli dengan ketidaknyamananmu, Kau bilang? Mereka bahkan tidak sadar, Mata mereka, Buta akan kesengsaraanmu Kecuali, Dengan kekalahanmu
0
Jan 1, 2021
Jan 1, 2021 at 4:22 PM UTC
Nahas
Basah, ku lihat pipimu. Katanya kau kelelahan, Tapi yang ku lihat bukan keringat. Kata nenekku, itu air mata, Karena matamu merah. Mana mungkin, kau berkeringat dengan mata merah dan sedikit bengkak? Lusuh, ku lihat mukamu. Katanya kau tak menyentuh air seharian. Debu yang kemarin kau dapatkan ketika menjemputku di Taman Kota masih menempel, katamu. Lusuhmu bukan karena debu, Kata Ibuku, itu karena lapar. Ternyata kau sudah berhenti makan, Sejak dua hari sebelum kita bertemu. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak tahu kalau kau sedang tidak baik saja? Alih-alih kau tidak ingin menambah bebanku, Kau selalu mengatakan kalimat-kalimat yang tidak benar adanya. Kenapa memang? Memang aku tidak berhak untuk paling tidak, membuat mu merasa lebih baik? Ah benar saja, Aku kan tidak pernah mampu, Sebab, siapa aku? Hanya tempat pelampiasan nafsu.
0
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 12:46 AM UTC
Salatiga
Kerap kali kita bertanya, Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua? Waktu, umur, nominal saldo, nilai, Jarak, kecepatan, durasi, ***** Apakah angka pengukur semua? Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan? Apakah angka mampu, Mengukur segala nikmat dan bahagia, Yang kita jumpai setiap harinya Lalu, bagaimana dengan ketepatan? Apakah waktu yang tepat untukku, Tentu tepat untuk orang lain? Kembali aku menoleh ke cermin Kadang aku berlari, Namun orang lain terhenti, Resah aku dibuat, Lalu aku ikut berhenti Orang lain mulai berlari, Aku masih nyaman di sini, Resah aku dibuat, Aku pun masih berhenti Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan? Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan? Mengapa aku selalu dituntut stigma, Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
0
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 11:48 AM UTC
Pesan untuk sahabatku.
Aku selalu suka caramu menceritakan dunia, dengan barisan kata yang asing, membuatku harus memutar otakku yang rendah kapasitasnya ini. Aku selalu suka caramu bahagia, bahkan kamu tidak tersenyum ketika bahagia. Hebatnya kamu, bahagiamu bisa sampai ku rasa tanpa senyumanmu yang hadir. Aku selalu suka caramu bersedih, kamu selalu kehabisan kata. Melampiaskannya dengan hal yang bisa mematikanmu, namun pada akhirnya kamu juga butuh pelukanku. Aku selalu suka caramu marah, kamu selalu terdiam. Sampai pada akhirnya kata maaf terucap, karena kamu takut aku akan terganggu dengan marahmu. Aku selalu suka caramu optimis, membanggakan dirimu sendiri sampai lupa kalau di dunia ini ada orang sehebat Pak Habibie. Aku selalu suka caramu pesimis, tidak henti menyalahkan diri sendiri, tapi tidak memakan waktu lama. Setelah itu kamu bangkit lagi. Tapi satu yang tidak aku suka, caramu yang selalu mematikan rasa. Kamu tidak pernah membiarkan rasa-rasa dalam dirimu menyala. Kamu benci rasa. Sama seperti aku membenci diriku sendiri. Tapi tidak apa, Nanti kita sama-sama belajar untuk merasa lagi, ya? Namun, akan lebih baik jika pada akhirnya kita yang bisa saling menumbuhkan rasa.
0
Feb 26, 2020
Feb 26, 2020 at 2:16 PM UTC
02.16
Hembusan angin menderu rayu, Tak henti aku mendengar cerita tentang bagaimana kau sangat mencintai hidupmu, Bagaimana kau selalu melihat kebaikan dalam segala keburukan. Bagaimana kau selalu memaafkan dalam segala kecerobohan. Sial, bagaimana ada orang seperti kamu hadir di dunia? Tidak pernah mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, Tidak seperti aku. Kembali aku menoleh ke matamu, Yang katanya bintang pun tidak bisa bersinar se terang itu. Ku pertajam lagi tatapku, Meyakinkan diri bahwa bintang pasti menang, Dia pasti menang atas dirimu. Sial, aku salah lagi. Kamu menang atas segalanya. Termasuk atas diriku.
0
Sep 24, 2019
Sep 24, 2019 at 3:27 PM UTC
Kamu.
Ketika kamu tak bisa melihatku, itu bukanlah kuasa ku. Aku serahkan itu kepada mu. Ketika kamu tak bisa menghargaiku, itu pun juga bukan kuasa ku. Sepenuhnya pilihanmu. Namun, tahukah kamu? Kamu pun tidak memiliki kuasa ketika kaki ini sudah beranjak pergi meninggalkan. Kamu punya pilihan untuk melihatku atau tidak, menganggapku atau tidak. Namun tidak ketika aku sudah beranjak pergi. Kamu tak punya kuasa apapun.
0
Jul 11, 2018
Jul 11, 2018 at 12:37 PM UTC
Semua pilihanmu.
Satu, Aku harap kau mengerti mengapa argumen-argumen kita tidak dapat mengalahkan ego ku untuk terus bertahan bersamamu. Dua, Aku harap, kau pun juga mengerti bahwa semua yang aku lakukan tidak sedikitpun bertuju untuk menyakiti hati mu. Tiga, Aku sangat berharap kau mengerti, rasa yang lebih dari sepasang sahabat akan merusak segalanya. Kini kau lihat, bukan? Aku kehilangan cintaku, begitu pula sahabatku.
0
Mar 13, 2018
Mar 13, 2018 at 3:17 AM UTC
Barisan kata untuk sahabatku.
Bukan yang pertama, Diriku seakan terjebak di ruang waktu yang entah ada di mana jalan keluarnya. Bukan yang pertama, Hatiku seakan tercabik-cabik ketika semuanya terulang. Bukan yang pertama, Mata ini selalu meneteskan kesedihan yang sama ketika semua berhenti. Bukan yang pertama, Seharusnya aku sudah tahu akan bagaimana akhirnya. Mengapa aku terus kembali? Bukannya seharusnya aku sudah membencimu?
0
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 2:32 PM UTC
Kamu bukan yang pertama.