"benang" poems
Palembang, 18 Desember 2011
Pernahkah kamu berada di Padang Pasir dan tak tahu arah pulang?
Pernahkah kamu kehabisan bekal sebelum sampai ke tujuan?
Aku pernah
Pernahkah kamu tidur di atas rumput duri dan punggungmu tak terluka?
Pernahkah kamu merasa sakit setelahnya tetapi hati yang terluka?
Aku pernah
Tapi pernahkah kamu selalu memiliki tabungan ketika uang mu habis?
Pernahkah kamu membeli makanan ketika kamu lapar?
Pernahkah kamu menelpon Ibu mu ketika kamu sedih?
Pernahkah kamu ditemani orang yang kamu cintai saat kamu butuh?
Aku tidak pernah
Pernahkah kamu kehilangan jarum padahal hampir berhasil memasukkan benang?
Pernahkah kamu terjatuh dari tebing dan tidak pakai tali pengaman?
Aku pernah
Dan pernahkah kamu berfikir tuk bertemu dengan Sang Pencipta?
Pernahkah kamu berfikir tuk selalu berbuat hal baik seumur hidupmu?
Pernahkah kamu merasa kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua?
Dan pernahkah kamu mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri?
Aku, kamu, pasti pernah
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:17 AM UTC
Pernah aku melihat sebuah keikhlasan
dari gugurnya daun pohon jati itu
Relakah dia meranggas untuk menghargai
waktu.
Pernah aku melihat sebuah kerahasiaan
dari kata-kata manis seorang ibu
Matikah dia menangis untuk menjadi
hantu.
Tapi seumur hidup aku baru melihat
sebuah kejujuran, dari ujung jarimu
Yang membelai untaian benang biru
kusut, tanpa keluh
Berpeluh namun tak mengenal sendu
Lalu apa artinya ikhlas tanpa rela
ditengah rahasia tanpa kata
dibasuh hujan air mata yang tak jatuh
Membasahi rona merahmu
*Doa kita sampaikan pada awan Nimbus
dan bintang Polaris
Berharap, berdua kita mendapati senyap
Bersama nyala lilin.*
Oct 9, 2016
Oct 9, 2016 at 3:30 PM UTC
Yang jalang meloncat telah tiba & kita merangkak menjauh sutera & kau melihat pada selangkang merebak dedaunan riba.
Kini menjalin kepada alang-alang, merayu kepada segala buangan.
Yang terbuang kemudian terjerembab ke-Esa-an/ pertolongan/ makian/ gelak ketidak sudian.
Semua bajing meloncat-loncat kala malam tiba & aku tidak menemui dirimu menjalin asmara, pada bantal dan kerangka bunga & batok-batok kelapa bersumpah pernah bersimfoni di gedung tua bangka.
Katakan semua yang terlihat menemukan artinya, berbalik dan melenggok tiada suka. Aku merusak gelanggang samudera, dan menemukan orang-orang bercumbu di dalamnya.
O Gayung merambah kepada sujud-sujud La beruja. Melirik kepada hampa & tau kah, dirimu mencintai duka.
Semua manusia kemudian melambat
Gedung-gedung berselimut jas pekat
/kini duka melihat rembulan siang
Merajut benang & diam-diam melempar bebatuan.
3/7/19
Jul 6, 2019
Jul 6, 2019 at 10:59 AM UTC
ku tau ini tak mudah,
kau yg membuat ini sulit
seperti benang yg terlilit
tak ada alasan,
namun kau datang
tak ada penjelasan,
namun kemudian kau pergi
apa harus ku biarkan saja?
ah tidak!
sudah muak rasanya
begini saja terus rasa hatiku
membelit-belit
seperti benang,
yang jika dipaksakan untuk ditarik,
akan mati
—f.r
Feb 19, 2018
Feb 19, 2018 at 3:46 AM UTC
Untaian yang kusut
Saat sedang belajar mengenalimu
Kembali terurai dengan sendirinya
Bersama perasaan yang pernah berharap
Kini berganti seiring waktu
Karena aku tau
Aku bukan sosok yang kamu mau
Aku juga tidak ingin jadi sosok itu
Dan aku sudah tidak mau berjuang sendirian lagi
Bukannya tidak mau kenal denganmu
Menghindar darimu
Karena takut timbul rasa lagi
Hanya itu yang hinggap di pikiranku
Dan aku tidak mengharapkan kamu kembali, sayang
Jadi tolong untuk kali ini saja, mengertilah
May 31, 2019
May 31, 2019 at 2:10 PM UTC
Aku jatuh cinta kepada apapun yang bebas.
Bebas yang bukan seperti layangan-layang di langit lapangan. Terlihat bebas namun angin dan benang tak terlihat oleh mata. Menggerakkan yang apa ada di udara.
Bebas yang bukan seperti para ikan. Mereka berenang di dalam lautan, menyusuri lautan yang sepertinya tak terbatas. Mereka berenang ke air mana pun yang mereka mau. Mereka berenang tanpa tanpa tahu, terdapat langit di atas lautan, yang merampas dan mengembalikan air laut mereka.
Bebas bukan seperti aku. Menulis ini dengan bahasa, yang katanya bahasa dari bangsa yang telah merdeka. Kemerdekaan bukan sembarang kemerdekaan. Bangsa yang merebut kemerdekaan, namun rasanya kemerdekaan ku hanya berpindah lengan.
Jun 30, 2022
Jun 30, 2022 at 2:30 AM UTC